Membawa Alea Ke Kantor Itu…

Jadi ceritanya hari Selasa minggu yang lalu sampai dengan hari Senin kemarin, Eyangnya Alea (Mama saya) pulang ke Surabaya karena Eyang Kakungnya Alea (Papa saya) lagi kurang sehat. Alhasil, karena selama ini yang menjaga Alea sehari-hari itu Mama saya, jadilah selama 3 hari kemarin Alea ‘ngantor’ bareng saya.

Ini pengalaman kedua, mengajak Alea ngantor seharian. Sedikit ribet memang, tapi sejauh ini saya masih menikmatinya, walaupun ada rasa kasihan karena jadwal anak yang biasanya tertib jadi kurang tertib karena ada part-part yang terpaksa harus di-skip. Tapi ya itulah yang namanya hidup, tho? Selalu saja ada adjustment yang harus kita lakukan, termasuk dengan mengajak anak ke tempat kerja.

Untuk sementara waktu lupakanlah soal busana yang modis, hijab yang tertata rapi seharian. Memilih baju pun yang penting breast feeding friendly, karena Alea masih ASI. Risiko mengajak bayi/batita ke tempat kerja itu yang pasti barang bawaan jadi jauh lebih banyak. Barang bawaan Alea saja bisa satu tas sendiri. Isinya baju ganti, pampers, perlengkapan mandi, perlengkapan setelah mandi, jaket, topi kupluk, boneka, snack, dan jeruk. Kebetulan Alea sudah bisa makan segala, sehingga saya tidak perlu membawa makanan khusus bayi, Alea bisa berbagi makanan dengan saya, yang penting tidak spicy/pedas karena lidahnya masih sensitif.

perlengkapan Alea yang harus dibawa selama ikut ke Mama ke kantor

Untunglah lingkungan kerja memungkinkan saya dan teman lainnya yang kebetulan juga tidak punya pengasuh, bisa membawa anak ke kantor. Jadi membawa anak ke kantor itu sudah jadi pemandangan yang biasa. Membawa anak ke kantor sudah jadi risiko ibu bekerja ketika para support village atau yang biasa menjaga anak sedang berhalangan mengasuh. Ndilalah, dalam minggu kemarin atasan sedang banyak tugas/dinas di luar kantor, sementara pekerjaan juga sedang tidak terlalu hectic; hanya pekerjaan yang sifatnya rutin saja.

Membawa bayi/batita yang lagi senang-senangnya jalan juga tidak mudah. Alea adalah anak yang tidak betah diam, ada saja yang ingin disentuh, dipegang, diutak-atik, dan ditarik ke sana-sini. Jadi sambil bekerja, saya juga harus tahu di mana ‘titik koordinat’ Alea saat itu dan sedang apa, karena dia suka jalan-jalan sendiri ke kubikel lainnya dan lalu asyik mainan sendiri di sana, misalnya kertas, printer, atau apapun yang menarik perhatiannya. Disetelkan film kartun di youtube pun kadang suka tidak betah. Jadi untuk amannya, kadang suka saya alihkan perhatiannya dengan cara menggendong dan menyetelkan Big Hero, film favoritnya di youtube, terutama di jam-jam dia seharusnya istirahat. Sejauh ini sih, it works, bahkan sampai ngantuk sendiri.

Untungnya di ruangan ada juga teman yang selalu membawa balitanya ke kantor, jadi Alea punya teman main. Dia seorang anak laki-laki berusia 4 tahun yang sudah bersekolah di TK. Alea jadi lumayan terhibur karena ada teman main, tapi tetap saja harus diawasi, karena teman mainnya pun masih kecil.

Alea dan teman baru
Alea dan teman baru

Ada sisi positif/negatifnya membawa anak ke kantor. Negatifnya, konsentrasi bekerja jadi kurang maksimal karena harus berbagi perhatian ke anak dan pekerjaan. Positifnya, ada bonding yang jauh lebih kuat antara ibu dan anak karena ibu bekerja yang biasanya baru bertemu anak di sore/malam hari sepulang kantor, sekarang mulai anak bangun tidur sampai dengan tidur malam menjadi tugas dan tanggung jawab ibu. Sedikit lebih capek memang, tapi sejauh ini saya merasa fun kok.

Ada perasaan haru ketika malam hari melihat Alea tidur nyenyak setelah seharian ikut saya bekerja. Di usianya yang baru menginjak 15 bulan dia ternyata bisa menyesuaikan diri dengan cepat, pun halnya dengan fleksibilitas. Seolah dia tahu mamanya sedang sibuk, jadi dia tidak pernah rewel, kalau pun menangis sesekali wajarlah, paling kalau ngantuk atau tidak sengajak jatuh/kepentok sesuatu, ya namanya juga masih bayi. Tapi secara keseluruhan dia anak yang lovable.

Hari ini Alea tidak ikut ke kantor lagi seperti 3 hari yang lalu, sekarang dia ada di rumah bersama Eyangnya, dan sudah kembali menjalani aktivitas dan rutinitas seperti biasa.

To my lovely Alea, I love you dearly and always…

Buat para ibu bekerja di luar sana, tetap semangat ya! 🙂

[devieriana]

Continue Reading

Imaginary Friends

bing bong

Minggu lalu saya baru nonton Inside Out. Kebetulan Alea sedang senang-senangnya menonton film animasi. Tapi berhubung Eyangnya Alea agak kurang setuju kalau Alea menonton film ini, dengan alasan ada muatan film yang belum pas kalau ditonton Alea di usianya yang sedang senang-senangnya meniru apapun yang dia lihat. Jadi, ya sudahlah, saya tonton sendiri dulu kali ya.

Di sepertiga film itu itu ada adegan yang mengingatkan saya ke masa kecil dulu. Ketika tokoh Joy dan Sadness terlempar ke daerah Ingatan Jangka Panjang; saat mereka bertemu dengan sesosok makhluk yang bentuknya merupakan gabungan antara permen kapas, kucing, gajah, lumba-lumba dan memperkenalkan dirinya sebagai Bing Bong . Dia adalah teman khayalan masa kecil Riley, tokoh utama film ini.

Bicara tentang teman khayalan, dulu saya juga punya teman khayalan yang bernama Vikung. Vikung ini adalah sosok yang punya kepribadian abu-abu. Tidak selamanya baik, tapi juga tidak selalu jahat. Pokoknya manusiawi, walaupun lebih banyak ngeselinnya daripada menyenangkannya. Tapi di balik ‘ngeselinnya‘ itu Vikung tetap sosok yang baik, suka menemani saya main dan ngobrol. Sosok Vikung itu saya ‘gambarkan’ sebagai anak perempuan yang seusia saya. Rambutnya sebahu, suka dikuncir dua, berponi, agak kurus, pipi kiri kanannya masing-masing ada jerawat 3 biji, dan suka pakai kaos kaki panjang, sepintas mirip sosok Pippi Longstocking. Entah kenapa sosok Vikung mirip dengan Pippi Longstocking, apakah karena waktu itu saya lagi suka-sukanya baca buku-buku fiksi anak, macam Lima Sekawan, Pippi Si Kaus Kaki Panjang, dan sejenisnya ya?

teman khayalan - Pippi Longstocking
teman khayalan versi saya

Kurang pasti kapan Si Vikung ini hadir menemani hari-hari saya, tapi yang jelas seiring dengan semakin bertambahnya usia saya, semakin sibuknya saya di sekolah, dan semakin banyaknya teman yang saya miliki, lambat laun sosok Vikung ini ‘menghilang’ dengan sendirinya. Dulu sempat mikir, apa saya saja ya yang punya teman khayalan? Saya aneh nggak sih karena punya teman khayalan? Gimana nggak ‘aneh’ kalau saya main sendiri, ngobrol sendiri, ‘berantem-berantem’ sendiri, kadang seolah berebut sesuatu dengan ‘seseorang’ padahal ya saya sedang sendiri. Ngeri, ya? Hahaha…

manfaat-teman-imajinasi

Tapi sebenarnya sebagian besar anak kecil yang berusia antara 3-5 tahun wajar kalau memiliki teman khayalan dengan bentuknya masing-masing. Usia di mana mereka mulai membentuk identitas diri dan mulai tahu batas mana dunia khayal dan dunia nyata.

Tapi ada kelegaan juga, karena kalau merujuk pada salah satu artikel di Parents Indonesia, menyatakan:

“Penelitian menyebutkan bahwa anak yang memiliki teman khayalan punya kemampuan berempati lebih baik dibandingkan teman sebaya yang tidak punya sahabat imajiner. Studi lain juga menyatakan anak-anak tersebut memperoleh nilai tes bahasa yang lebih tinggi, mampu bersosialisasi dengan baik, dan yang paling penting punya lebih banyak teman.”

Begitu juga ketika saya iseng baca di The Verge :

“children who keep imaginary friends, eventually develop better internalized thinking, which separately has been found to help children do better with cognitive tasks like planning and puzzle solving.”

Jadi, kalau kebetulan kita punya anak yang punya teman imajiner, jangan terburu-buru mengecap anak kita aneh. Karena justru dari situlah perkembangan emosi dan cara berpikir anak dimulai. Anak yang punya teman khayalan akan tumbuh menjadi anak yang penuh rasa ingin tahu, mudah berteman, kaya kosakata, dan kreatif.

Menurut saya, selama anak tidak banyak menghabiskan waktunya setiap hari berbicara dan bermain dengan teman khayalannya, dalam artian dia masih mau berbicara dan bermain dengan teman nyata (non-imajiner), berarti masih dalam taraf normal. Tapi kalau ternyata sebaliknya, anak lebih suka menghabiskan kesehariannya untuk ngobrol dan bermain dengan teman khayalannya dibandingkan dengan teman nyatanya, mungkin ada baiknya orang tua mulai berkonsultasi dengan ahli perkembangan anak.

Kalau kalian, dulu pernah punya teman khayalan nggak?

 

[devieriana]

sumber ilustrasi: Disney dan TemanTakita

 

Continue Reading

Different Angle

different angle

Sudah sifat alamiah manusia selalu merasa kurang, entah kurang bahagia, kurang beruntung, kurang kaya, dan berbagai kurang lainnya. Melihat ke arah yang ‘sepertinya’ lebih bagus, padahal kenyataannya belum tentu. Kalau kata orang Jawa, “urip iku mung sawang sinawang”, secara harafiah berarti saling memandang terhadap (hidup) orang lain. Ketika kita memandang kehidupan orang lain yang sepertinya jauh lebih baik, ternyata pada kenyataannya mereka justru melakukan hal yang sama, melihat kehidupan mereka tidak seberuntung kehidupan kita. Vice versa.

Seperti sebuah obrolan dengan seorang sahabat, di sebuah sore di akhir pekan, sambil menunggu jam pulang kantor. Dia baru diterima kerja di tempat yang baru, dan baru dijalani selama beberapa bulan. Tapi dia sudah mengeluh bosan dengan pekerjaannya yang sekarang dengan alasan klise: kurang tantangan, kurang greget, beda dengan tempat kerja sebelumnya.

Dia bercerita, dulu dia adalah staf andalan, sekarang staf ‘biasa’, tidak ‘seistimewa’ di tempat kerjanya yang dulu. Pekerjaannya dulu menuntut ketelitian dan hal-hal yang detail, sekarang kadang sibuk, kadang tidak ada yang harus dikerjakan sama sekali. Sampai suatu ketika dia memutuskan untuk pindah ke tempat kerja yang sekarang dengan berbagai alasan. For your information, tempat kerja yang sekarang jauh berbeda jenis, bentuk, dan core business-nya dengan perusahaan yang lama.

“Jadi sekarang ceritanya kamu nyesel?”, tanya saya.
“Hmmm, gimana ya, Mbak. Abisnya kok kayanya kerjaan yang sekarang itu ternyata cuma gini-gini aja…”

“Maksudnya, kurang ‘susah’, gitu? Kurang ada gregetnya? Kurang cetar? Kurang hype? Hehehe…”
“Ummm, a little bit, jadi kesannya agak ngebosenin gitu, Mbak. Pernah aku curhat sama kakakku kalau kerja di sini itu lama-lama bisa bikin otakku beku, hahaha…”

Saya jadi cengengesan. Dejavu dengan ketika pertama kali bekerja dan menginjakkan kaki di tempat kerja yang sekarang. Sempat mengalami culture shock, karena apa yang saya kerjakan dulu sangat berbeda dengan yang sekarang. Sering tiba-tiba blank, lost focus karena tidak tahu apa yang harus dikerjakan, dan suka mendadak loading lama. Akibatnya jadi salah melulu kalau kerja. Parahnya lagi, itu terjadi hampir setengah semester. Lama banget, kan?

Sempat merasa khawatir dengan diri sendiri, sampai akhirnya curhat kepada seorang teman untuk meminta pencerahan supaya tidak jadi bego berkepanjangan. Jangan sampai saya salah memilih karier yang salah, padahal itu pilihan saya sendiri.

Sampai akhirnya dia bilang sesuatu yang ‘makjleb’, dan membuat saya berpikir.

“Ok, sebenarnya sederhana saja. Coba deh, mulai sekarang kamu berhenti membandingkan, karena bagaimana pun jenis pekerjaanmu yang dulu dan sekarang jauh berbeda. Yang kedua, mulai sekarang coba turunkan sedikit saja egomu. Jangan pernah meremehkan pekerjaan sekecil dan seremeh apapun itu, karena sedikit saja kamu remehkan, dia akan jadi sesuatu yang tidak seremeh yang kamu kira. Dan, lihat pekerjaanmu dari sudut pandang yang berbeda…”

Benar juga, ya. Sejak saat itu saya mulai introspeksi diri. Mungkin saja waktu itu saya sudah merasa sok bisa, dan sok pintar, sehingga tanpa sadar saya tidak mau belajar, dan meremehkan pekerjaan saya, membanding-bandingkan jenis pekerjaan yang dulu dengan yang sekarang, melihat karier orang lain yang sepertinya jauh lebih mengasyikkan ketimbang pekerjaan saya sendiri. Akhirnya yang ada bukan pekerjaan yang selesai dengan sempurna, tapi malah berantakan karena saya tidak fokus dalam bekerja.

Bersyukur, karena akhirnya pelan-pelan sindrom gegar budaya kerja tadi menghilang seiring dengan waktu dan mulai enjoy-nya saya dengan suasana, lingkungan, dan pekerjaan yang saya jalani. Kalau saya ditanya apakah selama bekerja di sini pernah merasakan jenuh. Jujur, pasti pernah. Tapi ternyata yang dibutuhkan adalah ‘trik’ untuk menyiasatinya.

Ketika kita masuk ke dunia kerja, tanpa sadar ada hal dan etika yang kita lupakan. Kita ‘lupa’, bahwa ada aturan main dan pakem-pakem yang telah ditetapkan oleh perusahaan yang harus kita taati dan sepakati sebagai code of conduct. Terkait dengan job description, perusahaan bebas melakukan modifikasi dalam menerapkan sebuah ilmu yang tujuannya justru untuk mempermudah pekerjaan kita.

Hidup dan bekerja itu kalau tidak pintar-pintar menyiasati ya pasti ada saja trigger jenuhnya. Kalau memilih pekerjaan sekadar melihat besaran gaji atau faktor lain yang bisa membuat sebuah pekerjaan itu lebih ‘keren’ secara title atau gaji, mungkin saya akan memilih pekerjaan lainnya. Tapi, lebih dari itu ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan saya dalam memilih karier, dan itu membuat saya bersyukur bekerja di kantor yang sekarang.

Perasaan jenuh itu manusiawi dan bisa datang dari mana saja. Bisa dari dalam diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar. Ketika jenuh tiba-tiba datang, coba bangun sugesti positif terhadap pekerjaan dan apapun yang kita kerjakan. Bersyukur atas segala hal yang kita terima, termasuk pekerjaan, karena di luar sana ada banyak orang yang masih sibuk mencari pekerjaan tapi belum mendapatkannya.

Kalau saya sedang jenuh, saya ‘rekreasi’ saja dengan mengerjakan hal lain yang sementara bisa mengalihkan rasa jenuh, misalnya mendengarkan lagu favorit, membereskan file yang berantakan di meja kerja, atau menulis di blog yang saya yakini bisa jadi terapi untuk jiwa. Psst, sebagian besar tulisan di blog ini hasil produksi di meja kerja lho, kadang saya lakukan di jam kerja, kadang di jam pulang kerja sambil menunggu jemputan. Tapi bukan berarti kalau saya sering posting itu indikator saya sering mengalami kejenuhan lho ya, hahaha… Itu sih karena mumpung sedang ada ide saja, sebelum mood-nya hilang mending idenya diselamatkan dulu dalam bentuk postingan di blog.

Meja kerja adalah dunia kecil kita selama di kantor. Jadi buat senyaman dan se-homy mungkin karena sejak pagi hingga sore hari akan kita habiskan di kantor. Jadi, kalau meja kerja kita saja sudah ‘nggak asik’, bagaimana mau asik dalam bekerja?

Masih jenuh juga? Coba curhat dengan teman, siapa tahu bisa sedikit lega atau malah punya inspirasi, motivasi, dan semangat baru dalam bekerja. Masih jenuh juga? Kenapa tidak ambil cuti atau berlibur ke mana gitu yang bisa membuat kembali fresh dan semangat dalam bekerja.

Sudah melakukan segala cara tapi masih jenuh juga? Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk kembali mengevaluasi diri. Apakah masih memungkinkan untuk bertahan di tempat kerja yang sekarang atau mulai mencari pekerjaan lain yang sesuai dengan jiwa dan passion kita?

Hidup itu kita sendiri yang menentukan akan menjadi bagaimana, pun halnya pekerjaan. Kalau hidup kita mulai terasa kurang asyik, mengapa tidak mencoba me-refresh-nya dengan melihat segala sesuatunya dari sudut yang berbeda demi mendapatkan rasa syukur. Hidup itu cuma sekali, jalani dengan penuh syukur dan bahagia.

Seperti kata Tadashi Hamada di film Big Hero 6,

“Listen up! Use those big brains of yours to think your way around the problem! Look for a new angle!”

Have a good day!

 

 

[devieriana]

ilustrasi dari pxleyes.com

Continue Reading

Demam, Mau Pinter?

Sebenarnya saya kurang percaya sama yang namanya mitos. Ada hal-hal yang selama masih bisa dilogikakan, saya akan cenderung lebih percaya logika ketimbang mitosnya. Seperti mitos-mitos kehamilan dan perawatan anak, selalu saya usahakan untuk membandingkannya dengan opini dokter atau pakar yang lebih paham, bukan apa-apa, supaya kita tetap menjadi orangtua yang logis, smart, dan tetap aware. Namanya juga orangtua yang anaknya lahir dan hidup di era internet jadi mau tidak mau kita juga harus menyesuaikan diri.

Seperti misalnya ketika Alea tiba-tiba demam tinggi, ada yang bilang, “Udah, gapapa. Tenang aja, itu berarti anak kamu mau pinter…” Saya sih mengamini, semoga begitu adanya. Memang, konon, kalau anak tiba-tiba demam tinggi tandanya mau pinter, atau ada kebisaan baru, atau ada suatu perubahan yang terjadi dalam tubuhnya. Mitos ini sudah ada sejak zaman nenek moyang kita. Tapi apa iya seorang anak yang ‘mau pinter‘ itu harus didahului dengan demam/sakit?

Alea selama ini alhamdulillah jarang sakit. Ketika akan bisa tengkurap atau tumbuh gigi pun biasa saja, tidak disertai demam terlebih dahulu. Memang ada, bayi-bayi yang ketika akan tumbuh gigi badannya demam karena terjadi radang di gusinya. Kalau Alea demam/flu sih pernah, namanya kondisi badan manusia pasti ada up and down-nya, seperti orang dewasa kan juga begitu. Apalagi kondisi badan bayi/balita yang masih rentan terhadap virus, kondisi lingkungan yang tidak selamanya bersahabat, dan aktivitas bayi/balita yang cenderung meningkat. Jadi kalau bayi/balita mulai demam/batuk/pilek itu bagian dari tumbuh kembang mereka.

Nah, ceritanya saya ada dinas ke Bogor. Sepulang dinas, ketika Alea sedang memeluk saya, kok agak badannya terasa agak ‘anget‘ ya? Ketika saya ukur dengan termometer, memang benar ada sedikit kenaikan suhu badan, menjadi 38 derajat celcius. Tapi berhubung Alea tidak mengalami penurunan aktivitas, tetap semangat merangkak ke sana-ke mari, dan makannya pun lahap seperti biasa, jadi saya tidak seberapa khawatir. Jadi treatment-nya hanya saya beri minum air putih yang lebih sering, plus ASI kapan pun dia minta, plus sedia obat penurun demam anak yang diberikan oleh dokter just in case demamnya makin tinggi.

-----------Alea memang tidak rewel, tapi dia jadi lebih manja. Maunya dekat dengan saya. Hingga tidur pun dia tidak mau tidur di tempat tidur, maunya tidur di gendongan. Hingga akhirnya semakin malam, saya rasakan kok suhu tubuhnya semakin tinggi, dan puncaknya sekitar pukul 12 malam suhu tubuhnya mencapai 39.3 derajat celcius. Jujur, saya mulai panik. Tidak biasanya Alea demam setinggi ini. Paniknya karena obat penurun panasnya tidak bereaksi, dan suhu tubuhnya semakin tinggi, sementara dokter spesialis anak pasti tidak ada yang buka kalau Sabtu/Minggu. Masa iya harus ke UGD? Jangan dulu deh. Selain mengompres dahinya dengan air hangat suam-suam kuku, saya juga mencoba metode skin to skin, untuk menurunkan demam pada bayi. Hingga akhirnya saya ikut tertidur dalam kondisi duduk setelah berjaga sampai hampir pukul 4 pagi.

Ketika saya bangun, Alea masih dalam keadaan tidur pulas. Saya raba dahi, badan, dan telapak kakinya. Alhamdulillah suhu badannya mulai turun. Ketika saya ukur, suhu badannya sudah turun menjadi 37.9 derajat celcius. Sedikit lega, walaupun badannya masih terasa agak panas.

Hari itu Alea menjalani aktivitas seperti biasa. Dia makan dengan porsi seperti biasa, minum vitamin seperti biasa, tapi untuk air putih saya berikan lebih sering supaya dia lebih sering pipis jadi demamnya bisa lebih cepat turun lagi. Dan siangnya suhu badannya berangsur-angsur menjadi normal, terakhir saya ukur suhunya 36.7 derajat celcius. Alhamdulillah. Keesokan harinya saya sengaja ambil cuti dadakan untuk stand by, jaga-jaga kalau suhu badannya naik lagi. Tapi syukurlah suhu badannya stabil, jadi hari Selasa saya bisa kembali ngantor.

Percaya/tidak percaya, seminggu setelah kejadian demam tinggi itu dia mulai bisa jalan. Awalnya 1-3 langkah, lalu jatuh. Hari berikutnya menjadi 5 langkah, dan seterusnya hingga akhirnya lancar dengan sendirinya. Ah, saya jadi terharu… *kecup Alea*.

----------Jadi entahlah, ada hubungannya atau tidak antara demam dan ‘mau jadi pinter‘ itu tadi kok ndilalah pas habis demam dia bisa jalan. Padahal sih kalau menurut pemeriksaan dokter, waktu demam kemarin dikarenakan oleh virus. Tapi berhubung daya tahan tubuhnya bagus, jadi demamnya tidak terlalu lama.

Kalau yang pernah saya baca, demam itu semacam alarm dalam tubuh yang ‘menginformasikan’ bahwa sedang terjadi ‘sesuatu’ dalam tubuh (anak) kita. Jadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan ‘mau pinter‘. Kalau memang habis demam kebetulan dia nambah kebisaan ya memang sudah waktunya.

Kalau kata dokter, penyebab demam anak itu banyak sekali, tetapi kalau demam yang terjadi pada bayi/balita/anak kebanyakan disebabkan oleh infeksi virus atau flu yang disertai batuk/pilek. Kebetulan waktu itu Alea memang juga pilek. Pada umumnya, penyakit yang disebabkan oleh virus ini bersifat self limiting disease, atau akan sembuh dengan sendiri oleh kekebalan/pertahanan tubuh dirinya. Jadi memang tidak perlu obat khusus. Ketika ada virus/kuman yang masuk ke dalam tubuh, secara otomatis tubuh akan memberikan reaksi dengan cara menghasilkan zat yang menyebabkan suhu tubuh naik. Dengan suhu tubuh yang naik ini akan membuat sel pertahanan tubuh dapat bekerja lebih optimal. Begitulah penjelasan dokter yang menangani Alea waktu itu.

Mitos itu antara percaya dan tidak percaya sih. Ada teman yang ketika hamil sama sekali tidak diperbolehkan makan lele, karena lele dipercaya dapat membuat kepala bayi membesar sangat cepat sama seperti kepala ikan lele sehingga akan menyulitkan proses persalinan. Dia juga tidak makan belut karena belut kan licin, khawatir anaknya tidak bisa diatur. Padahal belut dan lele itu kandungan nutrisinya bagus, kolesterolnya rendah, mengandung lemak baik yang bisa mencegah kelelahan pada ibu hamil, dan juga mengandung protein dan mineral yang baik untuk pertumbuhan janin. Dulu, oleh dokter saya malah disuruh makan apa saja yang enak-enak, hehehe…

Jadi, ini tips dari dokternya Alea, kalau anak tiba-tiba demam, selama dia masih riang, masih beraktivitas seperti biasa, orang tua tidak perlu terlalu panik. Level aktivitas anak kita adalah indikator yang jauh lebih akurat daripada angka pada termometer. Kecuali dia mengalami dehidrasi dan kejang, itulah saat kita mulai waspada.

Jadi, benarkah demam itu tanda anak mau pinter?

 

 

[devieriana]

Continue Reading

Nikmati Saja

IMG-20150902-WA009

Jadi sebenarnya hari ini saya itu tiba-tiba saja galau. Di week end kemarin saya total di rumah menemani Alea mulai pagi dia bangun tidur sampai malam hari dia tidur. Buat saya yang seorang ibu bekerja kebersamaan bersama Alea termasuk dalam daftar me time. Kalau ibu-ibu lain yang kesehariannya sudah bersama bocah mungkin me time-nya akan berkebalikan dengan saya, misalnya dengan nyalon-nyalon lucu atau sekadar meluangkan waktu khusus untuk diri sendiri. Ya kan namanya mengasuh anak sekaligus mengurus rumah kan lumayan PR ya, Bu… Jadi maklumlah kalau ada waktu khusus buat refreshing. Nah, berhubung saya cuma ketemu sama Alea setelah jam pulang kantor dan week end jadilah saya menyebut kebersamaan saya bersama Alea adalah termasuk me time.

Di usia balita saya yang bulan ini menginjak 14 bulan, saya lagi jatuh cinta banget sama dia. Jatuh cinta karena Alea sedang lucu-lucunya, mulai bisa menirukan omongan orang, lagi suka menonton film animasi dan mendengarkan lagu-lagu anak, suka menari, dan sedang suka bersosialisasi dengan anak-anak lain baik yang sebayanya maupun yang jauh lebih besar daripada dia. Pokoknya dia sedang seperti sebuah spons besar yang menyerap sebanyak-banyaknya air. Tapi bukan Spongebob, hehehe…

Kalau saya sedang ada di rumah, apapun aktivitas Alea maunya sama saya. Mulai makan, minum, pup, main, sampai bobonya. Seolah meminta ‘kompensasi’ dari ketidakhadiran di setiap hari kerja. Jadi, begitu ada mamanya, dia girang banget. Setelah sekian lama, oh.. ternyata begini ya rasanya punya ‘buntut’. Ke mana-mana ada yang mengikuti.

Kalau soal drama pascalahiran sudah berlalu, kini beralih ke drama sebelum ngantor. Setiap pagi, kalau dia sudah bangun dia pasti maunya ikut saya membikin sarapan. Padahal dapur itu kan kurang aman buat bayi/balita. Tapi ya bagaimana lagi, dia maunya ikut ke mana pun saya melangkahkan kaki, jadi kadang ya terpaksa kalau sudah tidak bisa dibujuk oleh papa atau eyangnya ya dia ikut saya membuat sarapan di dapur.

Kalau tiba waktunya saya berdandan, dia pun ikut sibuk ‘berdandan’. Mengusapkan kuas blush on ke wajahnya secara random dengan ekspresi kegelian. Usai mengeluarkan seluruh isi tas make up saya, biasanya kalau sudah menemukan barang yang disukai, Alea pasti langsung memojokkan diri dan asyik dengan barang ‘temuannya’ itu. Contohnya kuas blush on yang sudah dipreteli atau lipstik. Lipstik saya yang sudah hampir habis jadi belepotan ke mana-mana karena dicolek-colek Alea. Lucunya, kalau saya tanya, “siapa yang nakal mainan lipstik Mama?”. Dengan lucu dia menjawab, “Aea…”. Alea.

Kalau sudah selesai dandan, aktivitas berikutnya adalah seterika. Saya selalu menyeterika baju yang akan dipakai hari ini sebelum berangkat ke kantor. Biasanya untuk membuat dia ‘sibuk’ adalah dengan menyetelkan video film animasi kegemarannya atau video lagu anak. Tapi kalau dia sedang ‘drama’ pasti ada saja caranya meminta perhatian. Misalnya tiba-tiba minta menyusu atau minta pangku di tengah aktivitas saya menyeterika. Jadi, kadang eyangnyalah yang suka membujuk dengan mengajak main sesuatu di ruang tamu, atau apapun yang bisa mengalihkan perhatiannya sementara saya menyeterika.

Kalau lagi mellow, ada juga perasaan iba melihat begitu inginnya saya ada buat dia, menemani dia setiap hari. Melihat tangan mungilnya memeluk saya erat sembari dia menyusu dan menonton film favoritnya (Baymax, Frozen, Penguin of Madagascar, Barney, dan Gazoon); melihat dia makan dengan lahap ketika saya suapi, atau tertidur lelap di pelukan saya, itu precious banget…

Mama saya pernah bilang begini, dulu…
“Nikmati saja setiap waktu bersama anak-anakmu. Karena masa kecil tidak akan pernah kembali. Hidup juga tidak akan pernah berulang dan begitu-begitu saja karena pasti akan ada perubahan.”

Diam-diam saya merenung. Iya juga ya, nikmati saja setiap detik kebersamaan bersama Alea. Membayangkan bahwa dalam beberapa bulan ke depan Alea akan mulai sekolah playgroup. Dia akan mulai bersosialisasi, punya teman, punya lingkungan baru. Dan tanpa terasa dia akan memulai kehidupannya sebagai anak sekolah, dan seterusnya sampai akhirnya dia dewasa dan punya kehidupan sendiri.

Sederhana saja, saya dan suami ingin memberikan Alea kasih sayang semaksimal mungkin yang kami bisa, dan harapan kami semoga Alea memiliki masa kecil yang bahagia, di tengah kehidupannya sebagai seorang anak yang kedua orangtuanya bekerja.

Btw, tadi pagi agak sepi nih, nggak ada yang ngegrecoki aktivitas pagi, soalnya Alea masih tidur pulas sampai waktunya kami berangkat kerja…

****

– ditulis dalam multitasking mode (smsan, watsapan, mengoreksi berkas, input ke aplikasi, dan kegiatan clerical lainnya, sambil mengejar waktu mendekati jam pulang kantor –
[devieriana]

Continue Reading