Momentum Sakral : Menghafal Jalan

Baru saja saya ngobrol dengan salah satu teman sambil nunggu jemputan. Ngobrol tentang kebodohan menghafal jalan. Kalau soal menghafal jalan jangan tanya saya deh, pasti bakal nyasar berjamaah. Beda dengan suami yang hanya dengan melihat peta sekali lihat aja udah pasti nyampai ke tujuan.. Lah kalau saya? Bisa nyasar tujuh puteran, tujuh belokan, tujuh pengkolan, tujuh turunan..

Kalau ngobrol soal alamat rumah, saya bisa jawab. Lha kalau sampai rute? Bisa tanya-jawab seperti ini deh :

“rumah kamu dimana sih Dev?”
“Mampang..”
“Mampang itu sebelah mana sih? kalo dari arah mana kemana?”
“kayanya kamu tanya sama orang yang salah deh.. Aku tuh paling bodoh menghafal jalan tau’. Aku hanya hafal jalan menuju kantor & pulang ke rumah..”, jawab saya inosen. Pasrah deh mau dikatain apa..

“HAA??”

Nah kan bener kan dugaan saya kan? Dia pasti mau ngetawain saya deh..

Continue Reading

:: Kosong ::

Mendadak saya kurang fokus hari ini. Perasaan & pikiran saya melayang kemana-mana. Seperti ada yang sedang bergulat tak tentu arah. Terlalu banyak yang harus dikerjakan tapi waktu rasanya terlalu singkat. Tanpa terasa waktu sudah bergulir melewati tengah hari. Haduh sebenarnya saya sedang tidak ingin curhat. Cuma bingung yang gak jelas..

Semuanya serba nggak jelas. Seperti ada beban yang berat yang sudah menunggu. Antara kebutuhan cuti panjang bersama keluarga yang sudah saya tinggalkan hampir 2 tahun, meninggalkan anak buah saya dengan pekerjaannya, pekerjaan saya yang menumpuk, dan rencana-rencana yang berkeliaran mendadak fashion show di kepala saya.. Sumpah lagi mellow & sensitif berat..  🙁

Tiba-tiba kok saya blank ya :(( ..

[devieriana]

Continue Reading

Sandhy Sondoro : Berkilau Di Negeri Orang

Saya mengenal nama Sandhy Sondoro sekitar tahun 2007 lalu ketika salah satu sahabat saya yang tinggal di Jerman “mengenalkan” Sandhy pada saya akan  kedahsyatan suaranya. Mengenalkan bukan saya kenalan langsung ya, tapi mulai sedikit meracuni telinga saya pelan-pelan. Sandhy who? Sempat mengernyitkan dahi. Kenapa sih teman saya ini getol banget mempromosikan si Sandhy. Mempromosikan dalam arti mengenalkan suaranya via website pribadinya. Ya okelah, saya dengerin dulu ya.

Oh My God.. suaranya bikin saya langsung merinding. Bukan karena suaranya mirip kuntilanak lagi ketawa ya..  Tapi suaranya itu lho megang banget! James Morrison sih lewat…. :p

Eerrr.. reaksi berlebihankah? Saya rasa tidak. Siapapun yang mendengar suara adorable macam punya Sandhy ini pasti komentarnya sama seperti saya kok.. 🙂

Banyak yang terkejut ketika pertama kali mendengar suara “rockige rauhe Stimme” atau serak-serak nge-rock milik mantan penyanyi kafe di Berlin ini. Begitu pula dengan dewan juri New Wave 2009 (ajang kompetisi bakat internasional di kawasan Eropa Timur). Siapa sangka kalau kontestan berperawakan mungil ini ternyata memiliki suara sekelas Rod Steward, Michael Bolton, Lenny Kravitz, dan dari Indonesia pula, karena daratan Eropa kurang percaya kalau orang Asia bisa punya suara semantap Sandy. Walau gaya menyanyinya si Sandhy ini ‘flummy’ (gaya si bola bekel yang mental-mental nggak bisa diem) tapi suara dia memang bagus & hampir semua juri mengaku sangat menikmati penampilan Sandy.

atau disini :

Ssndy sempat dijuluki oleh para musisi hitam di Jerman ‘Indo-Nigger’ lantaran suaranya yang begitu ‘black’ & jarang dimiliki oleh penyanyi Asia. Suaranya juga ‘pure’ (tidak diutak-atik mixer studio) & jernih,  tidak seperti penyanyi-penyanyi dadakan yang sering wira-wiri di acara tv kita akhir-akhir ini

Pria dalam rentang usia yang terbilang matang ini ternyata harus melalui hidup yang penuh lika-liku sebelum akhirnya dia mulai banyak dikenal banyak orang seperti sekarang. Kecintaannya pada musik & keharusannya menyambung hidup di kota hi-tech Berlin sambil menyelesaikan kuliah membuatnya harus menjalani hidup sebagai musisi jalanan, menyanyi dari kafe ke kafe, mengamen di Metro & di subway. Namun ternyata semua kesulitan itu berbuah hasil yang manis.

Kesuksesan itu justru berawal dari negara si Adolf  Hitler ini. Lagu yang cukup terkenal adalah Down On The Street, boleh dikatakan sebagai detail soundtrack kehidupannya sebagai penyanyi & pengalamannya ber-jam session dengan musisi-musisi Jerman.

Tak hanya menyanyi, kemampuannya menulis & mengaransemen lagu membuatnya menjadi salah satu musisi yang disegani di Jerman. Sangat menarik jika mengikuti perjalanan karirnya di jagad hiburan yang justru membuatnya lebih dikenal di negeri orang. Layaknya Anggun yang juga menjadi salah satu diva Internasional karena perjuangannya menjadi penyanyi yang cukup diperhitungkan di Perancis. Lalu Wisnu yang jadi salah satu finalis Norwegian Idol. Kini disusul Sandhy Sondoro.. Ah, makin bangga saya sama kalian 🙂

Kadang justru rasa nasionalisme itu muncul lebih kuat ketika kita jauh di negeri orang ya. Ikut bangga rasanya ketika ada anak bangsa yang bisa maju & mengharumkan nama Indonesia di negeri orang seperti mereka. So, who will be the next?  😉

gambar dari sini

Continue Reading

Seleb Juga Manusia

Marshanda & video-video youtube-nya spontan jadi perbincangan minggu ini. Tak heran karena serangkaian video “gak penting” dia menghiasi youtube. Reaksinya beragam, tapi tak sedikit yang berkomentar miring/negatif. Apalagi video response-nya yang juga tak kalah lucu & dibuat-buat. Whatever. Itu hak kalian..

Ketika semua sedang ramai memberitakan, menertawakan, menggunjingkan, mencaci maki Marshanda, saya kok miris ya. Saya melihat dari sudut pandang yang berbeda. Ada apa dengan Marshanda? Kenapa dia berbuat seperti itu, mencaci maki teman SD-nya, menampilkan sosok lainnya sebagai seorang artis dari image kalem, lemah lembut & manis, berubah seketika menjadi sosok yang bisa membuat banyak orang terperangah. What? Itukah Marshanda?

Selebritis juga manusia. Punya sisi aneh, unik, gila, bejat, bodoh, tolol, alpha, sama seperti manusia lainnya. Wajar, namanya juga manusia,  bukan malaikat. Kalau malaikat ngapain juga upload-upload video gak penting kaya begitu di youtube, iya kan? Yang ada juga pada sibuk nyatet amal ibadah kita di dunia.

Sama halnya dengan Marshanda, dia pasti juga punya sisi sewajarnya manusia. Gak mungkin selamanya bisa tampil sempurna. Wong sudah berusaha tampil sempurna aja masih dicacatin, dicari-cari sisi buruknya. Iya  kan? Capek lho kalau harus menuruti image & tuntutan publik bahwa seorang selebritis itu wajib & harus selalu tampil sempurna. Mereka juga ingin dikenal sebagai sosok pribadi apa adanya, bukan figur artisnya. Berbahagialah kita yang bisa hidup bebas tanpa kuntitan kamera & wartawan infotainment. Jangankan masalah upload video di youtube, kalian jalan ke warung pakai daster doang bisa-bisa besoknya masuk infotainment & dinarasikan

“artis Z diketahui hanya bisa belanja di warung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Apakah ini seiring dengan turunnya popularitasnya di kancah dunia hiburan sehingga dia sudah tidak mampu lagi memenuhi standar hidup layaaknya seorang selebritis?”.

Mbook, ini cuma gara-gara ketahuan belanja diwarung buat beli vetsin doang, narasinya bisa jadi seenak imaginasi sang script writer ya? Masa iya sih cuma beli vetsin doang mesti dandan dengan make up lapis 7 kaya Krisdayanti?

Memang, banyak yang menyoroti sisi etika Marshanda ketika menyebut nama-namateman SD di video itu seolah dia benci banget dengan orang-orang yang disebutkannya itu. Tapi teman, coba deh lihat lebih dalam ke kehidupan Marshanda. Background kehidupannya gak semulus karirnya didunia hiburan. Ketika sekarang dia berubah total dari sosok yang kalem menjadi sosok yang lebih “berani”, saya melihat itu sebagai proses dari sosok polos & manisnya anak-anak menjadi sosok yang lebih dewasa. Itu pertama. Kedua,  dia seorang anak korban bullying semasa sekolah dulu. Saat itu dia hanya bisa diam & tidak berani melawan. Ketiga, dia besar dalam keluarga yang broken home. Praktis, perhatian & kasih sayang keluarganya tidak semaksimal anak yang hidup ditengah keluarga yang utuh. Bisa jadi diapun tidak punya tempat untuk berbagi senyaman kita. Dia tidak tahu harus share ke siapa, kemana, bagaimana cara menyelesaikan masalahnya. Bisa jadi she trusts no one now. Keempat, karirnya sekarang juga ga sebagus kemarin-kemarin, mulai sedikit redup. Bisa jadi dia stress karena banyak hal. Memikirkan karir, sekolah, masalah keluarga.

Maaf kalau saya kesannya sok tahu ya temans.. Cuma ingin berbagi, cuma ingin share apa yang ada di pikiran saya saja. Ketika semua mulai membicarakan, mentertawakan, mencaci maki. Cuma 1 yang terlintas di pikiran saya. Kasihan. Ya karena saya melihat dia beyond all those things. Itulah kenapa saya tidak ingin ikut mentertawakan kekonyolan dia ataupun video-video responses-nya. Even dia sendiri santai menanggapi respon publik.

Saya bukan & tidak pernah menjadi bagian dalam dunia selebritis, tapi saya tahu betapa beratnya menyandang gelar selebritis itu. Kalian pikir nyaman keluyuran di mall/cafe dengan paparazzi ada di kiri kanan kalian, kamera infotainment nyolong-nyolong menyorot kalian dari kejauhan, atau tiba-tiba ada yang mendadak menyodorkan microphone menyodorkan pertanyaan untuk konfirmasi padahal kalian lagi pengen santai dengan keluarga?

Ada satu hal yang bisa saya ambil sisi positifnya disini, kalau kita tidak ingin menjadi bahan tertawaan & bahasan publik, mulai pilah & bedakan mana area pribadi & mana area publik. Apapun itu jika area pribadi sudah menjadi konsumsi publik itu juga kurang bagus. Pintar-pintar memilih objek untuk di share ke masyarakat luas. Jika Anda adalah publik figur berarti apapun yang Anda lakukan (baik/buruk) sudah pasti akan disorot oleh masyarakat. Dan jika itu adalah keburukan… selamat, Anda akan menjadi topik pembicaraan masyarakat (meskipun bisa saja Anda ngeles dengan mengatakan, “I don’t care.. Go to hell !!” ). Sekalipun Anda selebritis, pikirkan juga untuk tetap menjaga nama baik keluarga. Karena, apapun yang Anda lakukan keluarga pasti akan tersangkut-paut.

Jadi, siapa bilang jadi selebritis itu selamanya enak? Masih mau jadi selebritis? 😉
*dilempar mikropon & kamera infotainment*

 

 

[devieriana]

 

Continue Reading

Maafkan aku mencintai suamimu..

forbidden love

Wanita cantik itu seperti biasa, selalu terlihat bersemangat di tengah aktivitas paginya. Senyum cerah mengembang diantara kedua pipinya. Sapaan hangat pada setiap orang yang berpapasan dengannya meluncur disela bibir yang tersapu lipstik nude warna pink. Stiletto Manolo Blahnik & stelan Michael Korrs pagi itu membalut tubuhnya dengan sempurna. Ah, cantik sekali dia pagi ini. Aura wajahnya bersinar-sinar bagai gadis yang tengah jatuh cinta..

Ya, dia sedang jatuh cinta.. Bak seorang remaja yang baru mengenal cinta, love is in the air.

Semerbak segar aroma Gucci – Envy Me langsung menghembus ke seisi ruangan. Sesaat kemudian jemarinyapun dengan lincah menyalakan laptop & mulai mengetikkan sandi di yahoo messengernya. Tak lama , dia sudah terlihat asyik dalam perbincangan maha mesra dengan seseorang diujung sana.

Lelaki itu, seorang eksekutif muda yang tinggal di benua Eropa untuk menyelesaikan studinya di Jerman. Terpikat pesona wanita cantik itu dari situs pertemanan. Tak perlu waktu lama bagi mereka untuk saling bertekuk lutut diujung anak panah sang cupid. Ya, sampai kini mereka masih jatuh cinta. Cinta seorang wanita & lelaki dewasa.

Ah, saya lupa bercerita..

Continue Reading