what is a name?

whats my nameNama, apa sih nama itu? apa gunanya, apa pengaruhnya? Kenapa nama bisa mempengaruhi tingkat pe-PD-an seseorang? Tulisan ini saya buat karena saya beberapa waktu ini sering mencermati hubungan antara nama & kepercayaan diri seseorang, plus hubungannya dengan bidang pekerjaan seseorang. Hah? ! Bidang pekerjaan? Apa hubungannya? Kalau misal namanya Ngatini apakah tidak boleh menjadi seorang manager? Atau jika namanya Catherine tidak layak jika harus menjadi office girl, misalnya?

 

No, no, bukan begitu. Begini awalnya, beberapa waktu yang lalu saya sempat ngobrol dengan teman-teman saya pas makan siang. Obrolan ringan seputar pasangan, anak, artis dan sejenisnya. Sampai kita akhirnya membicarakan seputar nama kita & artinya. Mostly mereka cukup pede dengan nama pemberian orangtua masing-masing. Hanya ada 1 yang kebetulan tidak bernafsu membicarakan namanya sendiri karena namanya dinilai terlalu singkat & biasa-biasa saja. Namanya Holilah (lah kan, nyebut merk kan..). Menurut saya sih ga ada masalah, nama yang cukup cantik kok. Alasan kenapa dia tidak begitu suka adalah karena namanya terlalu singkat, cuma itu saja, tanpa embel-embel nama tengah atau nama belakang. Walaupun buat saya sih sama saja, toh gak mungkin juga kita memanggil dengan nama lengkap saat kita ngobrol kan, misalnya : “Eh, Raden Ayu Holilah Setyaningtyas Manohara Suryosumarno Hadikusumo Djayadiningrat Tralalatrilili, kita ke toilet yuk”. Belum selesai sebut nama sudah nyampe toilet duluan kali ya.. hi5x

 

Kenapa saya bilang bahwa nama bisa berpengaruh pada tingkat kepedean seseorang karena banyak orang yang karena tidak percaya diri dengan namanya sendiri akhirnya mengganti namanya supaya terdengar lebih gaul, lebih modern, kalau dia artis supaya bisa lebih “menjual”. Tidak perlu  jauh-jauh deh, teman saya sendiri ada kok yang seperti itu. Namanya sebenarnya cukup bagus, nama muslim (saya sengaja tidak sebut aja yah..). Tapi dia lebih senang dipanggil dengan nama udara dibandingkan dengan namanya sendiri, kebetulan dia mantan penyiar di salah satu radio swasta di Surabaya. Atau ada yang karena lebih bagus nama baptisnya dia lebih suka dipanggil dengan nama baptisnya dibandingkan dengan nama asli pemberian orangtuanya sebelum dibaptis. Malah sekarang berhubung dia sudah menikah digabunglah nama baptis itu dengan nama fam keluarga suaminya. Jadilah makin jauh dengan nama realnya.Saya sendiri alhamdulillah cukup pede dengan nama pemberian orangtua saya, malah justru gak pede kalau diubah-ubah, seems not me anyway. Pernah menggunakan nama ayah dibelakang nama saya saat saya masih SD, dan itu hanya digunakan untuk kepentingan ijazah ujian tari saya saja, karena mengikuti “trend” mama saya yang kebetulan juga seorang penari Jawa yang dikenal di Sekolah Tari Wilwatikta karena menggunakan nama kakek saya dibelakang nama beliau. Mungkin karena itu ya.. mama pengen someday jika saya sudah dikenal sebagai penari saya akan menggunakan nama itu sebagai nama “artis” saya.. Jiaah, artis * disepak ke Timbuktu* .

 

Sekarang sih saya kemana-mana menggunakan nama saya sendiri, pun halnya ketika saya sekarang sudah menyandang status istri. Kebetulan suami juga tidak menuntut saya harus menggunakan nama dia dibelakang nama saya sebagai satu paket ikatan pernikahan. Lagipula saya malah merasa aneh kalau nama saya ada embel-embel nama suami, karena kebetulan kurang pas kalau maksa digabungkan. Sedikit kurang nyambung aja. Mungkin beda kalau nama suami saya agak panjang sedikit kali ya.. misalnya Yudhoyono.. eh itu mah nama presiden ya? maaf bu Ani.. *sungkem*. Lagipula dalam agama juga tidak di state ada kewajiban untuk mencantumkan nama suami dibelakang nama istri, yang ada tetap nama ayah yang boleh dicantumkan dibelakang nama kita. Itu kalau agama ya. Sekarang sih banyak kok wanita yang sudah menikah & menggunakan nama suami dibelakang namanya. Saya sih terserah ya, itu kan hak masing-masing, I have no problem with that, at all.

 

Kembali lagi ke nama. Kenapa para artis ada kecenderungan mengubah nama ketika mereka sudah menginjak dunia keartisan? Misal ya, wajah bule tapi nama Jawa, kenapa harus diubah supaya lebih hip & barat? Misal namanya Yuli Rachmawati harus diubah supaya lebih latin dengan Julia Perez (Perez kebetulan nama suaminya, Damian Perez. Yuli jadi Julia yah masih mirip-mirip, tak apalah), Siti Tuti Susilawati Sutisna jadi Sania? (jauh bener melesetnya?), Utami Suryaningsih jadi Uut Permatasari (permatasarinya dari mana coba?), dan banyak nama artis lainnya. Memang “nama artis” itu penting karena mereka harus “jualan”, entah jual akting, jual suara, jual tampang, dan sejenisnya. Tidak hanya di Indonesia kok, di luar negeripun juga melakukan hal yang sama & itu tidak aneh, bahkan mungkin sudah menjadi syarat yang tidak tertulis jika ingin jadi artis. Tapi kalau yang diluar dunia keartisan terus pengen ganti nama juga lantaran namanya kurang keren & modern? Wah gak tahu deh motivasinya apaan. Padahal nama itu kan doa, nama yang berasal dari orangtua sudah patut kita hargai. Mau sesingkat atau sepanjang apapun nama kita, whatever, itu adalah nama dari orangtua kita. Kita yakin bahwa dibalik nama itu ada doa & harapan orangtua untuk kita.

 

Sekalian tips buat para orangtua atau calon orangtua, nanti kalau kasih nama putra/i-nya berilah nama yang bagus & akan membuat mereka percaya diri dengan namanya. Terserah mau kasih nama apaan asal tidak sulit diucapkan & ditulis diatas akte..  😀

 

 

[devieriana]

gambar ngambil dari sini

 

Continue Reading

Child Labour

Enggak tahu kenapa saya selalu tertarik membahas tentang pekerja anak, arahnya mungkin lebih ke prihatin sebenernya ya. Selain saya adalah pencinta anak (eh bukan yang suka ama anak kecil kaya fedofilers ya ;))), juga mungkin naluri wanita, naluri seorang ibu ya.. Sedih dengan kehidupan anak-anak yang terpaksa harus menjadi pekerja dibawah umur. Anak – anak yang seharusnya masih harus menempuh pendidikan, masih menikmati masa anak-anaknya terpaksa harus menjadi tumpuan hidup bagi keluarganya. Di negara kita Indonesia tercinta ini tidaklah sulit menemukan pekerja anak.. & bahkan cenderung meningkat dari tahun ke tahun..

Salah satunya adalah anak-anak yang bekerja di atas jermal. Jermal adalah semacam tempat penjaringan ikan yang dibangun di atas tonggak-tonggak kayu di tengah lautan. Jermal tersebut terpencil dan sulit dijangkau. Saya pertama kali mengenal istilah jermal saat saya membaca buku Readers Digest beberapa tahun yang lalu & sampai sekarang masih membekas. Dari situlah saya mengetahui bahwa jermal-jermal ini mempekerjakan anak dibawah umur (dibawah usia 15 tahun). Jermal sering ditemui di perairan di Sumatera Utara, perairan selat Malaka. Mending sih kalau mereka dibayar dengan upah yang layak & jam kerja yang layak pula. Beberapa waktu yang lalu sempat melihat tayangan Kick Andy yang membahas tentang peekerja anak (anak jermal) , kok mendadak saya jadi trenyuh ya. Mereka (anak-anak yang bekerja di jermal) ini hanya dibayar Rp 200.000/bulan, dengan libur hanya 2x selama sebulan, jam kerja yang tidak pasti (subuhpun mereka masih bekerja. Kurang jelas antara masih bekerja atau sudah mulai bekerja) . Kasihan banget saya liatnya..  🙁

Padahal, seharusnya anak-anak seusia mereka yang masih usia sekolah mereka juga memiliki : hak hidup, hak tumbuh & berkembang, hak untuk mendapatkan perlindungan, dan hak untuk berpartisipasi (didengarkan pendapatnya). Namun memang tidak bisa dipungkiri bahwa akar semua ini adalah :  kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, pola pikir yang keliru tentang menjadikan anak sebagai tumpuan nafkah keluarga, serta masih belum maksimalnya law enforcement (undang-undang yang benar-benar melindungi hak-hak anak).

Suka sedih melihat mereka harus berpeluh-peluh diantara sampah, hujan, & rawannya kriminalitas kota besar. Padahal seharusnya mereka menikmati masa kanak-kanaknya dengan indah ya.. Semoga sih kedepannya jumlah pekerja anak di Indonesia bisa makin turun ya.. Amin..
Bisa enggak sih? .. Wallahualam.. 🙁

Bersyukurlah kita & anak-anak kita yang bisa melalui masa kecil dengan indah & mengalami tumbuh kembang sesuai usianya..   🙂

 

Selamat Hari Anak Nasional.. We do love you..

 

[devieriana]

Continue Reading

When you thought I wasn’t looking

Children_Painting_4

MOMMY…

When you thought I wasn’t looking,…
I saw you hang my first painting on the refrigerator,..
you looked so-so-so proud…
and I immediately wanted to PAINT another one…

When you thought I wasn’t looking,…
I saw you feed a Stray cat, and show your love to the cat…
and from that, I learned that it was GOOD to Be KIND to animals….

When you thought I wasn’t looking,…
I saw you make my Favorite cake for me… and from that I learned,
the LITTLE things can be THE SPECIAL things in life.

When you thought I wasn’t looking,…
I heard you say a Prayer,…
and I knew THERE is GOD I could always TALK TO
and I learned to TRUST in HIM

When you thought I wasn’t looking,…
I saw you make a Meal and take it to a friend who was sick,…
and I Learned that we ALL have to HELP to take CARE of each other…

When you thought I wasn’t looking,…
I saw you give of Your time and money to help people who had nothing…
And I learned that those who have something
SHOULD GIVE to those who don’t…

When you thought I wasn’t looking,…
I saw you take Care of our house and everyone in it…
and I learned that We have to take care of what we are GIVEN.

When you thought I wasn’t looking,…
I saw how you handled your responsibilities, even when you didn’t feel good…
And I learned that I would have to BE RESPONSIBLE when I grow up.

When you thought I wasn’t looking,..
I saw your tears falling down from your eyes,..
And I learned that sometimes things HURT, but it’s all right to CRY…

When you thought I wasn’t looking,…
I saw that you Cared…
And I wanted
to BE EVERYTHING that I could be..

When you thought I wasn’t looking,…
I learned most of life’s lessons that I need to know…
TO BE GOOD and PRODUCTIVE person when I grow up…

When you thought I wasn’t looking,…
I looked at you…
and wanted to say…

“Mommy… Thank you for ALL the THINGS I saw,..

When you thought I wasn’t looking…”

[devieriana]

 

picture taken here

Continue Reading

Aku mau jadi selebriti ..


“kalau sudah besar mau jadi apa?”

…..

Waktu masih kecil kita pasti sering medapat pertanyaan seperti itu kan? Itu pertanyaan sekitar 20 atau 30 tahun yang lalu kali ya (berasa tua banget nih). Mungkin kita juga pernah menjawab, “pengen jadi dokter”, “aku mau jadi insinyur”, “aku kepingin jadi guru..”

Tapi coba sekarang ulangi dengan pertanyaan yang sama ke anak tentangga, keponakan, atau anak Anda sendiri (buat yang sudah berputra) yang kira-kira menjelang remaja atau ABG gitu. Mereka akan dengan “lihai” menjawab, ingin menjadi artis, bintang sinetron, penyanyi, atau model. Intinya jadi seorang pesohor alias selebriti deh. Oke deh tidak semua.. :mrgreen:

Coba lihat kalau pas di tv ada acara pemilihan calon miss apa, atau bintang apa, atau model apa, pasti dibanjiri ribuan peserta. Bahkan mereka sampai  rela berpeluh-peluh mengantri untuk ikut audisi. Stars are not born, they are created. Pernah dengar kalimat itu? Ya, itulah fenomena yang marak di masyarakat kita..

Istilah selebriti sendiri berasal dari kata celebrate yang berasosiasi kehidupan meriah, glamor, seksi. Nah, bagi anak muda, jadi selebriti itu suatu “profesi” yang mengasyikkan karena inilah jalan termudah & tersingkat untuk dikenal & dipuja orang, sering muncul di media massa, punya harta berlimpah ruah. Kenapa ya anak-anak sekarang lebih suka jadi selebriti? Apa karena lebih gampang cari duitnya?

Kenapa mereka tidak memilih jadi dokter? “Yah, ini sih profesi yang gak seksi..”  . Selain “tua” di laboratorium (karena sekolahnya tahunan), begitu luluspun mesti mulai dari nol lagi. Belum lagi mesti menjalani dinas PTT di daerah-daerah terpencil. Katanya, di salah satu majalah yang saya pernah baca, kalau dihitung-hitung, penghasilan seorang dokter baru mungkin hanya setengah honor seorang bintang sinetron ABG. Intinya sih profesi artis bisa mengubah from “zero to hero..”.

Bener gak sih? Bukan saya ngiri lho ya :mrgreen: . Ya kalau saya sih sudah ketuaan ikut-ikutan kontes-kontes kaya begitu.. 😆 . Wong gak jadi artis aja tiap bulan pasti dimintain tanda tangan kok…
*nyisir poni*

Tanda tangan BAST buat ke supervisor saya..

[devieriana]

Continue Reading