#indonesiajujur : Tip of An Iceberg

A lie may take care of the present, but it has no future ~ Unknown

—–

“Dek, kamu nggak belajar? Kan besok ujian..”
“Tenang aja, Pa… Aku udah tahu jawabannya, kok..”
“Maksudnya kamu sudah dikasih kisi-kisi soal sama gurumu?
“Bukan kisi-kisi, Pa.. Tapi jawaban. Kita semua udah dikasih tahu jawabannya apa aja, jadi besok tinggal jawab aja…”

Kawan saya bercerita dengan ekspresif tentang jawaban anaknya yang akan menjalani ujian. Mungkin zaman memang sudah berubah, dan perkembangan aktivitas contek menyontek yang klasik itu dalam prosesnya sudah sudah mengalami metamorfosa. Demi sebuah nilai bagus, peringkat/ranking, kredibilitas, dan adanya pengakuan tentang kemampuan diri, akhirnya anak didik dan sekolah pun menghalalkan segala cara untuk meraihnya.

Membahas tentang kasus Ny. Siami yang sedang heboh itu, alih-alih ingin mengungkap praktik kecurangan selama berlangsungnya Ujian Nasional di SDN Gadel II Surabaya nyatanya malah berbuntut panjang. Ny. Siami sekeluarga justru diusir dari lingkungan tempat tinggalnya oleh warga setempat, dituduh tidak punya hati nurani, dan dianggap terlalu membesar-besarkan masalah. Ujung-ujungnya dia yang harus meminta maaf kepada pihak sekolah dan warga karena dianggap telah mencemarkan nama baik sekolah. Ironis, pihak yang seharusnya mendapat dukungan dan pembelaan malah diperlakukan dengan semena-mena dan diintimidasi.

Kemarin, saya mendapatkan kisah yang nyaris sama dari salah satu teman saya yang ternyata juga mengalami kejadian yang hampir sama dengan si Al, bedanya dia tidak sampai mengalami pengusiran seperti Ny. Siami dan keluarga.

“Jaman waktu masih sekolah dulu aku juga pernah ngalamin kejadian kaya gitu, Dev. Aku diminta guruku untuk berbagi jawaban sama temen-temen yang lain. Jujur, aku ngasih contekannya antara ikhlas nggak ikhlas. Tapi mau gimana lagi, lha wong disuruh.. :|”

Sebaliknya ada juga yang dengan sukarela memberikan contekan untuk teman-temannya dengan alasan setia kawan, teman seperjuangan, dan solidaritas. Ada yang terang-terangan, “nih, contek nih..”. Tapi ada juga yang memberikan inti jawabannya saja, kalimat selebihnya silakan dikembangkan sendiri sesuai dengan ‘imajinasi’. Tapi itu hanya bisa dilakukan kalau jawabannya berupa soal dengan essay, lha kalau pelajaran matematika apa yang bisa diimajinasikan? Atau multiple choice misalnya, masa iya jawaban berdasarkan hitungan kancing baju? Jujur, dulu saya juga pernah mencontek kok; menconteknya pas dalam keadaan kepepet. Tapi deg-degannya juga ampun-ampunan. Takut ketahuan guru, takut kalau nilainya bakal dikurangi kalau ketahuan mencontek, dan jauh dalam hati kecil ada rasa bersalah karena sudah berlaku tidak jujur. Akan beda tingkat kepuasannya ketika kita mendapat hasil bagus hasil kerja sendiri dibandingkan dengan hasil mencontek. Mempersiapkan diri dengan belajar sendiri itu jauh lebih menenangkan saya daripada harus bergantung pada  jawaban pada orang lain. Untuk menghindari menyontek, kadang saya lebih memilih menjawab dengan menggunakan feeling, pilih saja jawaban yang masuk akal atau yang lebih mendekati. Atau kalau misalnya jawaban A, B, dan C sudah banyak mungkin ini adalah saat yang tepat untuk melingkari/menghitamkan jawaban D atau E! \m/. Jangan lupa sambil berdoa semoga yang mengoreksi sedang mengantuk atau alat scanner-nya error sehingga meloloskan jawaban yang seharusnya salah menjadi benar! Ngawur kok bangga! ;))

Kasus Ny. Siami yang berusaha membuka kecurangan pihak pengajar di SDN Gadel II Surabaya ini sebenarnya just a small evident part of something that largely hidden. Apa yang sengaja diungkapkan oleh Ny. Siami ini hanyalah sebagian kecil pengungkapan fakta di lapangan yang jauh lebih besar. Semacam tip of an iceberg.

Kemarin saya juga sempat berdiskusi ringan dengan teman saya Wong Iseng. Beliau mengatakan begini :

“Kasus contek-menyontek yang ‘dihalalkan’ ini lebih dari sekadar masalah kejujuran, Dev. Ada semacam ‘kesepakatan’ tidak tertulis yang menyatakan bahwa siswa yang berhasil melewati (baca: mengakali) ujian suatu mata pelajaran sama dengan berhasilnya siswa itu menguasai mata pelajaran tersebut. Makanya ada yang namanya SKS (Sistem Kebut Semalam), contek menyontek, dan pendidikan  yang tanpa hasil karena intinya hanya bagaimana mengakali ujian tanpa mengerti apa yang diajarkan…”

Ada semacam paradigma yang berkembang di Indonesia, lulus/tidaknya siswa dalam ujian nasional itu sama seperti seorang yang akan menghadapi vonis kematian. Tampak begitu menyeramkan bukan hanya bagi siswa tapi juga bagi sekolah. Karena jika pada kenyataannya ada banyak siswa yang tidak lulus ujian nasional, maka akan menyebabkan jatuhnya peringkat dan kredibilitas sekolah di mata masyarakat. Semakin tinggi nilai yang diraih siswa dan besarnya prosentase kelulusan siswa, akan menjadi salah satu parameter keberhasilan guru dalam mendidik siswanya. Nah, adanya tuntutan untuk mengusahakan agar siswa bisa lulus semua inilah yang menyebabkan siswa dan sekolah ‘menghalalkan’ segala macam cara untuk menghadapi Ujian Nasional.

Seperti halnya make up yang berfungsi untuk memperindah dan mengoreksi wajah, sekolah yang sebenarnya tidak sanggup mendidik anak untuk  mampu menjawab UAN ikut memakai make up. Anak didik bisa lulus dengan nilai bagus tapi dari hasil menyontek, sehingga hasil pendidikan yang bisa dibawa anak setelah lulus tetap  tidak terpecahkan, karena orientasinya masih berkutat pada kisaran angka (baca: nilai yang bagus). Jadi, selama root cause-nya tetap sama,  selamanya akan tetap ada usaha untuk mengakali ujian demi nilai bagus dan terbentuknya citra pendidikan yang berhasil. Walaupun mungkin pada kenyataannya tidak demikian.  

Memang tidak semua yang ikut ujian nasional itu lulus karena mencontek. Masih banyak siswa yang lulus dengan nilai memuaskan dari hasil usaha sendiri. Tapi belajar dari kasus Ny. Siami kemarin akhirnya membuka mata kita lebar-lebar, pun menyadarkan kita bahwa kejujuran di Indonesia ternyata baru sebatas wacana. Kita masih harus belajar banyak untuk menghargai arti kejujuran yang terlanjur disikapi secara salah kaprah.

Kembali lagi ke hati nurani sih kalau menurut saya. Bagaimana menurut Anda?
🙂

 

[devieriana]

 

ilustrasi dari sini

Continue Reading

Rape is not a joke!

Bagi yang sudah sering bermain di ranah social media pasti familiar dengan yang namanya twitter, kan? Tempat dimana kita bisa berceloteh dan menceracau tentang apa saja. Tempat berbagi hal positif sekaligus negatifnya.

Pasti kita juga sudah tidak asing dengan hashtag memetwit atau twit memedi, atau twit horor, atau twit menyeramkan yang kerap ‘disajikan’ tiap malam Jumat, kan? Kisahnya sendiri ada yang berdasarkan pengalaman nyata, atau hanya cerita rekaan belaka. Tapi yang jelas pasti bertema horor. Namun dalam perkembangannya, #memetwit mengalami penyimpangan ide, mungkin maksudnya untuk mengubah timeline malam Jumat menjadi tidak melulu berisi cerita horor ya, sehingga ada yang memodifikasinya dengan memberikan tweet-tweet lucu walaupun dengan tetap menggunakan tema dan tokoh seram.

Tapi, ketika menyimak timeline twitter dengan hashtag #hororgagal beberapa minggu yang lalu kok rasanya itu adalah timeline dengan tema horor komedi yang paling nggak lucu. Apa lucunya kalau yang dijadikan bahan lelucon adalah perkosaan?

“Bang.. Ingatkah kau yang telah memperkosaku? | Perkosa apaan sih Neng, masuk aja enggak! #eaaaa”

“Bang, ingatkah kau telah memperkosaku? | Se-se-setan! | Apa? Jadi gue dulu diperkosa sampai mati??? #hororgagal #barunyadar

“Bang , kau telah memperkosaku | m4caa ce3hhh | iya bang | 0u9hT c3muN9udht eaaa | (?_?’!l) #diperkosa ababil #hororgagal”

Itu adalah sebagian kecil contoh tweet yang dibuat untuk lucu-lucuan, yang awalnya di-tweet oleh seseorang dan lalu menyebar dalam bentuk retweet oleh banyak orang, termasuk oleh para selebtwit yang memiliki ribuan follower pun ikut ‘khilaf’ menge-tweet dengan tema yang sama.

Ok, katakanlah saat itu saya yang sedang tidak berada dalam frekuensi kelucuan yang sama dengan mereka. Atau, mungkin saya yang waktu itu lagi sensi sehingga merasa sangat kurang nyaman menyimak timeline malam itu. Kalau memang perkosaan adalah hal yang lucu dan pantas dijadikan bahan becandaan, kok sampai sekarang saya belum bisa menemukan di mana letak kelucuannya, ya? Bukankah perkosaan itu adalah musibah yang seharusnya disikapi dengan empati, tapi mengapa malah dijadikan bahan lelucon, ya? 😕

Bersyukurlah, karena keluarga dan orang-orang terdekat kita masih dijaga keselamatannya oleh Tuhan sehingga terhindar dari berbagai tindak kriminal, termasuk salah satunya perkosaan. Tapi coba deh sejenak kita lihat di luar sana, ada berapa banyak perempuan korban perkosaan; rape survivors & sexual abuse yang bukan hanya terluka secara fisik, namun juga psikis, dan bahkan ada yang harus menanggung hasil perkosaan yaitu kehamilan yang tidak dikehendaki. Bagaimana perjuangan mereka untuk tetap survive, dan berusaha melupakan kejadian pahit yang pernah dialaminya? Ibaratnya, mereka  sedang menyimpan sebuah kotak pandora di dalam sebuah ruang rahasia yang tidak ingin mereka buka, tidak ingin mengeluarkan isinya, apalagi memamerkannya sebagai benda istimewa pelengkap mebel. Kebanyakan mereka tidak punya teman untuk bertukar cerita; kalau ada teman pun belum tentu mereka sanggup untuk bercerita; cenderung menjadi sosok yang introvert, dan memilih untuk menyimpan lukanya sendiri. The silent cry!

Seringkali terjadi, walaupun mereka sudah diberikan layanan medis, psikologis, dan pendampingan hukum, namun tetap saja luka dan ingatan tentang kejadian buruk itu tidak bisa serta merta hilang begitu saja bersama waktu. Tak jarang kelebatan kejadian masa lalu yang buruk itu mendadak berlompatan muncul silih berganti. Belum lagi jika ada trigger yang mengingatkan kembali pada kejadian itu. Coba bayangkan, apa yang akan kita lakukan jika yang menjadi korban perkosaan itu adalah orang terdekat kita? Naudzubillah mindzalik, ya. Kalau sampai seperti itu, apa iya kita masih sanggup menggunakan kata perkosaan sebagai bahan becandaan?

Pernah baca tentang kisah nyata siswi SMA di Jepang berusia 17 tahun yang bernama Junko Furuta yang meninggal di tahun 1988 setelah diperkosa beramai-ramai selama 44 hari, disiksa secara biadab, dan akhirnya dimutilasi oleh teman-temannya sendiri? Kalau belum, silakan search di google, baca sendiri kisahnya hingga selesai, dan rasakan feel penderitaan Junko Furuta hingga menjelang ajal. Fakta lain yang juga tak kalah menyakitkan adalah para pembunuh Furuta sekarang adalah manusia-manusia yang bebas dari jeratan hukum dengan alasan kurang adanya bukti kuat yang mendukung bahwa mereka adalah pelakunya. Lagi, setelah membaca kisah sedih itu, masih layakkah perkosaan menjadi bahan lelucon/becandaan?

Jika dulu kita mengenal adagium “mulutmu harimaumu”, sekarang di era social media ada istilah “tweet-mu, harimaumu”, “postinganmu harimaumu”, atau “statusmu, harimaumu”. Sekali saja kita menerbitkan postingan/status/tweet dan lalu menekan tombol publish/enter, seketika itu juga orang lain akan melihat, membaca, mengomentari, dan bahkan menyebarluaskannya sampai dengan batas yang tidak mampu kita tentukan. Mungkin saja kita tidak bermaksud buruk, namun toh tetap saja bisa diterima secara berbeda oleh orang lain. Itulah saat dimana kita sudah kehilangan kendali terhadap efek apa yang akan timbul kemudian. Sekalipun kita berkomunikasi secara tidak langsung di ranah maya, namun perlu diingat bahwa yang kita ajak berkomunikasi, yang membaca statement kita itu juga manusia, yang punya punya perasaan, martabat, dan harga diri. Bukan berarti tidak boleh mengeluarkan pendapat, akan tetapi lebih berhati-hati ketika akan mengeluarkan statement, apalagi yang sifatnya pribadi.

Think before you post!

Jika Anda peduli dengan para korban perkosaan dan sexual abuse, silakan support dan follow @lenteraID. Atau jika berkenan untuk menjadi relawan atau sekedar ingin berbagi cerita silakan mengirim email ke lenteraid[at]gmail[dot]com. Semoga kita bisa saling menguatkan.. 🙂

 

[devieriana]

 

ilustrasi dari sini

Continue Reading

Berani Bermimpi!

Siapa yang tak kenal Agnes Monica, artis muda multi bakat dengan segenap atribut dan idealismenya? Seorang artis lokal yang berani bermimpi dan mencanangkan dengan lantang bahwa kelak suatu hari nanti dia akan go international. Tentu saja perlu kepercayaan diri yang tinggi untuk berani mengeluarkan pernyataan“go international” itu ya, karena go international yang dimaksudkan publik tentu saja bukan hanya “sekedar” manggung dan terkenal (di sekitaran) negara tetangga, tapi lebih dari itu, go international yang dimaksudkan oleh publik adalah yang benar-benar mendunia, dikenal oleh publik secara internasional.

Bukan hal yang mudah pula bagi Agnes untuk menyakinkan banyak pihak bahwa dia kelak mampu mewujudkan mimpinya. Mengingat statement untuk go international sudah digembar-gemborkan beberapa tahun yang lalu dan sampai sekarang pun tak juga go international. Berbagai komentar positif dan negatif silih berganti menyambut idealisme “gilanya” itu. Tak sedikit pula yang menilai Agnes terlalu ambisius untuk menjadikannya sebagai artis internasional.

Pengertian penyanyi internasional kalau dalam kacamata saya adalah ketika seorang artis yang tidak hanya dikenal secara baik di negaranya sendiri, namun juga dikenal dan diakui oleh dunia. Ibaratnya, begitu kita menyebut nama artis A, orang akan langsung mengenali kalau dia adalah penyanyi yang mempopulerkan lagu X. Dia juga akan mengeluarkan album yang diproduksi dan diedarkan untuk konsumsi publik internasional. Sekali lagi, bukan hanya untuk konsumsi publik lokal, Asia dan tetangga-tetangganya ya. Itu kalau menurut saya ya. CMIIW.

Well, saya memang bukan fans Agnes Monica. Saya juga tidak pernah memperhatikan Agnes secara mendetail. Tapi ketika dia mengeluarkan album/video klip baru yang saya lihat adalah selalu ada saja yang baru dan berani Agnes tampilkan untuk penikmat musik Indonesia. Agnes adalah salah satu artis yang total. Bukan hanya total dalam menggarap album-albumnya, namun juga total menjaga idealisme, kondisi fisik dan penampilan yang selalu berbeda dengan artis lainnya. Memang ini tak lepas dari peran serta manajemennya yang kuat dan sangat mendukung hampir setiap jengkal langkah idealisme Agnes.

Hal lain yang diam-diam saya kagumi dari sosok seorang Agnes adalah keberaniannya untuk bermimpi jauh diatas mimpi lainnya. Mimpi yang out of the box, mimpi yang menurut saya gila dan luar biasa. “Lah, bukannya kalau jadi artis memang seharusnya bercita-cita untuk go international yah?”. Ah, kalau saya seorang artis dan sekedar bermimpi dan bercita-cita untuk go international mungkin saya juga bisa ya. Tapi soal kemampuan untuk mewujudkannya jadi nyata itulah yang masih dipertanyakan. Seleksi alam pasti akan ikut bermain menentukan siap tidaknya seorang artis untuk go international. Publik jugalah yang akan menilai sejauh apa dia sudah bekerja keras, sekeras apa dia sudah berusaha, dan seberapa besar kemampuan dia untuk menuju kesana. Saya melihat Agnes lihat tidak hanya sekedar bermimpi. Dia benar-benar berlari untuk mengejar dan mewujudkan mimpi besarnya itu. Dia tidak ingin omongannya hanya akan menjadi bualan kosong yang tiada hasil.

Diluar reaksi pro dan kontra, dukungan dan cibiran, serta perang komentar positif dan negatif tentang Agnes, sebenarnya ada beberapa hal positif yang bisa menginspirasi saya dan mungkin juga bagi yang lain :
1. jangan pernah takut untuk bermimpi;
2. jangan hanya berani bermimpi, namun yakini bahwa mimpi itu akan jadi nyata suatu hari kelak;
3. tetap berusaha untuk mewujudkannya menjadi nyata.

Btw, saya suka dengan video klip Agnes Monica – Paralyzed ini deh. Diluar komentar tentang beberapa scene video klipnya mirip (terinspirasi) dengan film atau artis ini/itu, buat saya video ini ratingnya adalah “megang banget” \m/. Selain masih menampilkan sisi ke-Indonesiaan-nya, taste internasionalnya dapet banget!

Hei, bukankah pesawat terbang juga adalah wujud dari sebuah mimpi besar? Mimpi yang juga out of the box. Mimpi tentang bagaimana manusia bisa melayang di udara layaknya burung, atau bagaimana rasanya terbang di atas permadani bak kisah dongeng seribu satu malam. Duet jenius Wilbur dan Orville Wright-lah yang berani mewujudkan mimpi gila itu menjadi nyata. Tentu wujudnya bukan terbang dalam arti harfiah mengepak-ngepakkan tangan (sayap) layaknya burung, atau bukan hanya sekedar duduk bersila di atas permadani menyibak kerumunan awan layaknya Aladdin dan Jasmine. Namun benar-benar terbang di dalam sebuah benda yang bisa kita kendalikan, terbang dengan aman dan nyaman. Jika mimpi untuk terbang yang tadinya tidak mungkin akhirnya menjadi mungkin, kenapa kita tidak berani mewujudkan mimpi-mimpi lainnya yang mungkin jauh lebih “gila” dari itu? Yang jelas, keberhasilan bukan didapatkan dari mengayunkan tongkat ajaib atau mengucap mantra kan? 😉

So, keep on moving. Dream, Believe, and Make It Happend! :-bd

[devieriana]

 

Continue Reading

Haruskah Berkebaya?

 

“Dear All, dalam rangka memperingati hari Kartini, maka seluruh karyawati pada tanggal 21 April nanti wajib menggunakan busana nasional (kebaya). Akan ada penilaian karyawan dengan busana terbaik.”

*****

 

Demikian bunyi salah satu pengumuman di salah satu web intranet sebuah perusahaan beberapa tahun lalu. Seperti peringatan hari Kartini di tahun-tahun sebelumnya, perayaan hari Kartini tahun itu pun tak jauh dari kegiatan karyawan berbusana nasional, mungkin yang membedakan hanyalah tema peringatannya saja.

Maka tak pelak, hari itu hawa centil dan taburan wajah-wajah cantik memenuhi seluruh kantor. Yang biasanya hanya tampil kasual atau berbusana kantor mendadak terlihat lebih feminin dengan balutan busana kebaya dalam berbagai model dan gaya. Gelak tawa cekikikan dan ajang foto-foto hampir dipastikan ada di setiap kubikel. Ya, khusus di hari itu kantor sementara berubah menjadi studio foto dadakan.

“Lo, dandan mulai jam berapa?”
“Mulai subuh gue udah nyalon, Cyin..”
“Untung deh rambut gue cepak gini, jadi nggak seberapa ribet..”
“Ya, sekali-kali dandan rempong kaya begini gapapalah ya, toh nggak tiap hari ini. Eh, lo belum foto sama gueee..”

CEKREK! Dan mereka pun berfoto dalam berbagai pose.

“Bah, malas kali aku dandan beginian. Bikin ribet aja. Tadi pagi aja, baru mau pake bustier eh anakku udah kejer minta disuapinlah, digendong. Gimana dong aku mau mulai dandan? Untung kagak tiap hari mesti dandan begini…”

Peringatan Hari Kartini setiap 21 April, nyaris selalu diidentikkan dengan penggunaan kebaya. Itu lantaran banyak sekolah, instansi/kantor yang masih memperingatinya dengan berkebaya. Tentu saja banyak respon beragam mengenai hari Kartini dengan segala aktivitas “kekartiniannya” itu. Namun ternyata tidak semua perempuan yang diminta untuk menggunakan busana kebaya rela begitu saja :D. Karena tak sedikit yang komplain karena menganggap kegiatan semacam ini kurang efektif dan kurang ada manfaatnya. Tapi bagi sebagian yang lain, kegiatan semacam ini merupakan hal yang fun, toh nggak setiap hari dilakukan jadi sekali-kali bolehlah, itung-itung rekreasi, biar nggak stress. Kapan lagi tampil lain daripada biasanya, kan? :p

Entah bagaimana awalnya hingga tradisi menggunakan kebaya di setiap peringatan Hari Kartini ini dimulai. Apakah karena R.A. Kartini adalah perempuan keturunan bangsawan Jawa yang (pada jaman itu) memang identik dengan busana kebaya? Sehingga seolah-olah, kesan yang tertangkap Hari Kartini memang patut “dirayakan” dengan acara-acara yang berbau perempuan. Nah, pertanyaannya adalah : “Apa iya harus seperti itu? Apakah kegiatan semacam ini tidak sedikit melenceng dari pikiran-pikiran asli tokoh emansipasi perempuan itu? Apakah tidak terlalu dangkal untuk menerjemahkan arti emansipasi itu sendiri dengan cara menggunakan baju nasional, lomba kecantikan, lomba memasak, dan atau yang bersangkutan dengan domestic issue?”. Ah, namanya saja “merayakan”, “memperingati”, caranya boleh apa aja dong. Begitukah?

Yuk kita baca lagi penggalan surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902 berikut ini :

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami  yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban  yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.

Atau potongan surat R.A. Kartini kepada Ny. Abendanon, tertanggal 10 Juni 1902 berikut ini :

“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa atau orang Jawa yang kebarat-baratan.”

Sama halnya seperti peringatan Hari Ibu yang salah kaprah, sepertinya selama ini pun kita juga sudah salah mengartikan perjuangan Kartini. Kesalahannya adalah dengan menjadikan Kartini sebagai icon bagi perjuangan kesetaraan gender antara perempuan dengan laki-laki, hanya lantaran dia adalah sosok seorang perempuan yang berani menentang adat turun temurun, dan ingin memodernisasi kaum perempuan. Nah, lalu salahnya dimana?

Selama ini kita sudah keblinger/salah menerjemahkan arti emansipasi. Emansipasi jaman sekarang diartikan sebagai era dimana perempuan ingin memasuki hampir semua bidang kehidupan yang sebelumnya hanya diperuntukkan untuk laki-laki. Kalau laki-laki bisa, kenapa perempuan tidak? Perempuan ingin terlihat “lebih” daripada laki-laki dalam segala hal, atau minimal samalah. Bahkan ada yang menafsirkan bahwa kalau ada perempuan yang “hanya” berprofesi sebagai ibu rumah tangga justru dianggap sebagai pengekangan terhadap kebebasan dan potensi sebagai perempuan. Duh, kok saya yang miris ya? :|. Sekarang logikanya, kalau semua jadi wanita karir, semua ingin punya hak, pekerjaan yang sama dengan pria lalu yang murni jadi ibu rumah tangga siapa? Yang nanti akan mendidik dan mengasuh anak-anak di rumah siapa? Yang akan setia mendampingi peran suami dalam rumah tangga lalu siapa?

Coba deh kita baca ulang surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya diatas, sebenarnya yang diinginkan Kartini sejak awal itu bukan kesetaraan dimana perempuan mampu “mengalahkan” laki-laki atau ketika perempuan dengan bangga masuk dalam dunia laki-laki. Namun justru memperjuangkan bagaimana caranya supaya perempuan bisa mendapatkan pendidikan yang maksimal sehingga nantinya bisa mengoptimalkan perannya sebagai ibu dalam mengawal generasi (putra-putrinya).

Sebenarnya ada banyak cara yang lebih esensial untuk memperingati Hari Kartini tanpa harus melupakan kodratnya sebagai seorang ibu dan isteri. Ada banyak kegiatan yang jauh lebih emansipatif ketimbang sekedar ikut serta dalam lomba kecantikan atau tampil dalam balutan kebaya. Salah satu contoh emansipasi wanita adalah seperti yang pernah saya tulis beberapa waktu yang lalu disini . Itu baru salah satu contoh yang menurut saya adalah sosok Kartini jaman sekarang. Atau coba baca cerita ini , kisah sosok seorang Ibu yang berjuang untuk mendidik putra-putrinya supaya sukses.

Jadi siapa bilang kalau menjadi seorang ibu rumah tangga bukan tugas mulia dan kurang emansipatif? Emansipasi wanita itu tidak hanya melulu menuntut persamaan hak antara perempuan dan laki-laki saja, atau bahkan ekstrimnya adalah untuk “mengalahkan” laki-laki, bukan? Karena oleh Tuhan secara kodrati kita memang diciptakan berbeda dan itu bertujuan untuk menjalankan fungsi kodrati masing-masing.

Seperti potongan surat Kartini kepada Ny. Abendanon yang ditulis pada bulan Agustus 1900 :

“Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya.”

 

Selamat Hari Kartini! 🙂

[devieriana]

 

sumber gambar dari inioke.com

 

Continue Reading

Cantik Itu Tidak Harus Putih..

Katanya kalau bayi waktu lahir kulitnya kemerahan, nanti gedenya pasti berkulit putih/kuning langsat. Tapi kalau baru lahir kulitnya putih, nanti besarnya akan berkulit coklat/sawo matang. Entah benar atau tidak. Saya nggak tahu kulit saya waktu bayi dulu warna putih atau merah. Tapi kalau lihat foto-foto masa kecil saya sepertinya saya keling (hitam) banget deh waktu balita dan TK. Makanya sering dibilang seperti Dakocan , padahal dulu saya paling takut sama Dakocan sekalipun itu hanya berbentuk boneka balon :-s.

Nah ngomong-ngomong tentang kulit, sepertinya standar (orang Indonesia) tentang definisi kulit yang indah dan cantik itu sudah bergeser dari sawo matang ke kulit putih bersih ya, karena faktanya memang sebagian besar orang berpandangan bahwa perempuan yang cantik itu adalah perempuan yang berkulit putih. Jadi jangan heran kalau produk pemutih kulit jadi laku keras, salon-salon kecantikan yang menawarkan program pemutihan badan juga ramai pengunjung.

Jujur, dulu jaman masih kuliah, sekali saya pernah tergoda menggunakan obat pemutih kulit. Sekali coba ternyata kulit saya nggak cocok, iritasi, karena ternyata kulit saya sensitif. Bukannya kulit putih yang saya dapat tapi justru kulit yang kemerahan seperti habis digampar penggilesan :-s. Endingnya justru saya tekor keluar biaya buat ke dokter, dan yah.. diomelin dengan sukses sama dokternya, “kamu habis pakai produk pemutih apa ini? kulit kamu jadi..bla..bla..bla..”. Ya pemutih kulitlah dok, masa iya pemutih pakaian.. :|. Sejak saat itulah saya nggak berani coba-coba lagi pakai produk selain pelembab. Saya juga tidak lagi terlalu ngoyo untuk memutihkan kulit karena lama-lama sadar kalau untuk jadi menarik itu bukan karena berkulit putih. Terlihat menarik itu akan terlihat dengan sendirinya kalau kulit kita terlihat terawat, bersih, dan sehat.. *insap*

Nah, iklan yang selalu bikin saya gemas itu adalah iklan-iklan yang menggambarkan sebelum dan sesudah menggunakan produk pemutih kulit. Kalau sebelum pakai pemutih dia nggak percaya diri kalau mau ketemu sama cowok idamannya. Si cowok jangankan naksir, noleh aja enggak :|. Tapi setelah si cewek pakai produk pemutih, cowok  itulah yang ganti mengejar dia, dan endingnya terus mereka jadian deh.. So, kalau kulitnya nggak putih susah dapat cowok gitu ya? Edukasi yang aneh.. 😕 Belum lagi iklan produk pemutih kulit pun kebanyakan menggunakan model wanita (yang sudah) berkulit putih, tinggi, seksi, dengan bentuk wajah menarik sehingga kulit putih makin terkesan bagus. Padahal logikanya, model seperti mereka tanpa memakai produk pemutih pun mereka sudah putih, karena ya memang sudah putih dari sononya. Iklan-iklan seperti inilah makin menunjang anggapan bahwa kulit coklat/hitam itu kurang cantik, terlihat dekil, dan dianggap kurang menarik sehingga perlu pakai pemutih kulit.

Dengan fenomena maraknya produk whitening ini sepertinya sedikit melupakan kenyataan bahwa kita hidup di daerah tropis, di negara dengan banyak sinar matahari dan memang mayoritas penduduknya berkulit coklat/sawo matang. Bule saja banyak yang jatuh cinta sama warna kulit kita. Mereka bahkan rela berlibur ke tempat tropis dengan biaya mahal agar bisa berjemur lama-lama untuk mendapatkan warna kulit yang mereka idamkan, yaitu cokelat. Sekarang juga sudah ada salon yang menyediakan jasa pencokelat kulit. Karena dalam pandangan mereka warna kulit yang kecoklatan itu akan terlihat jauh lebih indah dan seksi. Fakta yang lain adalah kulit orang Asia yang kecoklatan lebih sehat ketimbang kulit pucat ras Kaukasia. Fakta lainnya adalah kulit coklat juga lebih tahan terhadap paparan sinar ultraviolet, jadi resiko terkena kanker kulit juga jauh lebih kecil.

Tidak ada yang salah dengan warna kulit apapun. Mau kulit coklat sekali pun kalau sehat dan juga akan terlihat indah kan? Kalau memang kulit coklat/gelap itu kurang cantik lalu kenapa Tuhan menciptakan ras Negroid yang berkulit legam dan berambut keriting? Kalau katanya orang yang berkulit coklat itu terlihat kurang cantik coba kita lihat Tyra Banks, Iman Abdulmajid, Jennifer Lopez, Beyonce Knowles, Halle Berry yang tetap percaya diri dengan kulit coklat mereka, dan tetap terlihat cantik elegan tanpa harus memaksakan diri untuk berkulit putih.

Dulu teman saya saking pengen putihnya ada yang sampai rela mengeluarkan bugdet ratusan ribu rupiah untuk sekali suntik vitamin C, supaya kulit terlihat lebih putih. Berhasil sih, tapi hanya bersifat sementara. Jadi kalau ingin terlihat putih terus ya harus rajin suntik. Bikin kecanduan sih, karena kalau nggak rutin ya lama kelamaan akan kembali ke warna kulit awal. Saya pernah dikasih tips begini, “kamu kalau mau tahu dia putih alami atau putih hasil pakai krim pemutih, coba kamu bandingkan warna kulit wajah, tangan, sama kaki. Sama nggak tone warna kulitnya?”. Saya manggut-manggut aja sih :-?. Tapi ya masa saya mau iseng buka-buka celana/rok mbaknya cuma untuk membuktikan warna kulitnya sama apa enggak sama kulit wajah. “Mbak, Mbak.. ini kulitnya kok belang-belang begini? Mbak pakai pemutih ya?” *PLAK!!*

Banyak orang dari negara 4 musim -yang kebanyakan berkulit putih pucat- iri dengan kulit kita yang keren, seksi, and eksotis ini :-“. Jadi kita yang sudah dianugerahi warna kulit yang wokeh sangat ini lebih baik rajin-rajin merawat diri aja deh. Karena kalau kulit kita terjaga kelembabannya, bersih, dan sehat, secara otomatis akan terlihat lebih cerah. Soal tingkat kecerahannya tentu masing-masing orang tidak sama karena tergantung pigmen kulit masing-masing. Kalau dulu waktu kecil saya keling banget, sekarang entah kenapa jadi berubah sendiri jadi nggak seberapa keling, padahal saya sudah pasrah lho.. ;))

Jadi gimana? Masih berminat pakai pemutih pakaian wajah? 😉

 

 

[devieriana]

 

sumber gambar : http://www.beboldnbrazen.com

 

 

Continue Reading