Asli atau Bayar?

Beberapa waktu yang lalu saya sempat ngobrol dengan seorang teman lama di YM. Teman waktu saya masih tinggal di Surabaya. Lumayan lama kami tidak tahu kabar masing-masing sejak masing-masing dari kami menikah. Setelah akhirnya dia menjawab ucapan selamat ulang tahun yang saya kirimkan di YM akhirnya kami lanjutkan dengan saling bertukar kabar.

Saya kabarkan kalau saya sekarang berkarir sebagai PNS. Dia kelihatan tidak terlalu terkejut. Justru meminta saya bercerita apa motivasi saya, dll. Ya sudah saya ceritakan apa adanya. Saya bilang sama dia, kalau mau diceritakan prosesnya dari awal ya terlalu panjang. Akhirnya saya kasih link runtutan ceritanya di sini. Itulah salah satu keuntungan punya blog, punya arsip tentang cerita hidup ;))

Berhubung dia juga waktu itu lagi sibuk jadi sepertinya link yang saya kasih itu belum di baca. Ya iyalah, untuk baca “cerita berseri” yang panjang begitu kan butuh waktu :). Eh, mendadak dia menanyakan sesuatu sama saya dan itu pertanyaan yang cukup “makjleb”. Halah,lebay banget deh ;))

Teman : “aku mau nanya tapi jangan tersinggung ya..”

Saya : “Apa? :-?”

Teman : “kamu kok bisa masuk PNS di situ, bayar apa ikut tes?”

Makjleb! #-o Duh, sumpah nih ya, pertanyaan itu kok ya ditanyakan pas saya PMS ya. Kalau aslinya ya jujur saya pengen jitak-jitakin dia deh, “tuk-tuk-tuk!” ~X( . Tapi untung waktu itu saya lagi dikelilingi malaikat yang baik hati semua, jadi pas di tanya seperti itu hati saya adem ayem kaya ada angin semilir sepoi-sepoi gitu. Dia lagi beruntung aja mood saya pas lagi bagus :p . Jadi ya saya jawabnya juga santai aja gitu, kaya di pantai.. :-” *kipas-kipas*

Saya : “ya ikut teslah, sama kaya yang lain.. Asli!”

Teman : “Asli bayar apa asli ikut test”

Wah, mulai nyari gara-gara nih >:)

Saya : “Ya asli ikut test-lah. Maksudnya gimana sih? Kalau nggak percaya baca aja di situ

Teman : “Ya kali aja ada yang off the record, yang nggak kamu ceritakan”

Saya : “yaelah, kalau mau bayar, aku mau jual sawahnya siapa? Aku kan bukan orang berada :(( “

Teman : “ya kan kamu orang berada..”

Saya : “berada apa? berada di Jakarta? ;)) “

Teman : :))

Dia lalu membandingkan (bercerita) kalau masuk PNS ditempat dia bekerja itu ada yang melalui “jalan belakang”. Biayanya pun sampai ratusan juta. Saya cuma bisa melongo. Memang bukan rahasia lagi sih kalau sistem KKN itu mau gimana-gimana juga masih tetap ada. Tapi saya nih ya, kalau iya syarat menjadi PNS harus mengeluarkan biaya sedemikian banyak sampai ratusan juta rupiah, ya mending saya bekerja jadi pegawai swasta tho, lha wong nggak pakai bayar, malah saya yang dibayar. Ya kan?

Tapi alhamdulillah, Allah memberi saya kesempatan untuk menjadi PNS melalui jalan yang murni dari hasil seleksi. Kalau temen-temen baca cerita saya dari awal, malah yang ada isinya deg-degan melulu. Nggak berani posting blog sebelum ada hasilnya. Malu kalau sudah terlanjur cerita sana-sini nggak tahunya gagal :(( . Teman-teman kantor aja cuma sedikit yang tahu kalau saya ikut seleksi CPNS, padahal awalnya saya yang emoh-emoh ;)). Tapi ya mungkin sudah rejeki ya, jadinya jalannya alhamdulillah mulus.

Sekedar cerita nih, dulu banget waktu saya baru saja tinggal di Jakarta & diajak jalan-jalan sama suami, pertama kali saya lihat gedung dengan halaman luas yang masih satu komplek sama Istana Negara ini cuma bisa kagum sambil dalam hati bilang, “Ya ampun keren banget ya kantor ini. Kapan aku bisa bekerja di sana ya..”. Eh, lha kok ndilalah Allah mengabulkan bisikan hati saya itu 2 tahun kemudian šŸ™‚

Banyak jalan untuk mencari rezeki. Mau berkarir sebagai pegawai swasta atau pegawai negeri semuanya sah-sah saja, tergantung Allah ngasih rejekinya kemana. Ada yang lebih senang berkarir sebagai pegawai swasta karena secara penghasilan jauh lebih besar, syaratnya pun lebih mudah ;). Ada juga yang lebih memilih berkarir menjadi PNS seperti saya yang harus memulai lagi dari awal & menyesuaikan diri lagi, mencuci otak saya yang masih terlalu swasta itu untuk menjadi PNS ;))

Sebenarnya waktu ikut ujian saya nggak terlalu ngoyo. Saya cuma ikut ujian satu saja di satu kementrian saja & alhamdulillah lolos, walaupun ujiannya berlapis-lapis (seleksi dokumen, test tulis, psikotest & interview). Mungkin salah satu kuncinya karena kemarin saya tidak terlalu ngoyo ya, jadi ketika ikut test tidak ada beban sama sekali.:)

Jadi buat teman-teman yang akan berjuang di seleksi CPNS tahun ini, selamat mempersiapkan diri ya dan nggak usah terlalu ngoyo, santai saja. Kalau sudah rejeki nggak akan kemana-mana kok. Berkarir juga tidak harus menjadi PNS kan? Yang sukses di jalur swasta atau bahkan membuka usaha sendiri juga banyak yang sukses kok. Ok, darling? šŸ™‚

Good luck! :-bd

[devieriana]

Continue Reading

[Suara] Dengarkanlah Aku..

Nggak, postingan ini nggak ada hubungannya dengan grup band Hijau Daun yang tenar dengan lagu berjudul Suara, itu kok. Cuma mau pinjem syairnya doang :p

Pernah menjadi bagian dari callcentre (baca : customer service) merupakan hal yang menyenangkan sekaligus menguntungkan. Bete-betenya sih pasti ada, tapi lebih dari itu saya jadi tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan orang lain, setidaknya untuk pekerjaan saya yang sekarang. Emang ada hubungannya? AdaĀ  šŸ˜‰

Ah, jadi pengen cerita sedikit tentang hal lucu-lucunya kerja di callcentre nih. Kebanyakan dari kita ketika pertama kali online, pasti di minggu-minggu pertama akan terserang sindrom “online terbawa mimpi” atau jadi mendadak aneh waktu terima telpon di handdphone/rumah. Kalau sampai nggak mengalami kayanya kurang seru ya. Jadi, kalau di callcentre biasanya begitu callmaster berdering langsung kita angkat (maksimal di dering ketiga), nah itu bisa terbawa sampai ketika menjawab telepon di handphone atau rumah.

Seperti misal kasus iniĀ  :

Kriing..
“Selamat pagi. Mohon maaf dengan siapa saya bicara? Ya, baik. Ada yang bisa dibantu? Begitu ya, baik nanti akan saya sampaikan. Ada lagi yang bisa dibantu? Baik, terimakasih telah menghubungi Telkomsel, selamat pagi..”

Aslinya : terima telpon dari bengkel, yang menginformasikan kalau perbaikannya sudah selesai.

AtauĀ  :

“Selamat pagi. Dengan siapa saya bicara? Oh Ibu RT, ada yang bisa dibantu? mama sedang ke pasar. Mungkin ada pesan? Oh begitu ya, baik.. Ada lagi yang bisa dibantu? Terimakasih, selamat pagi..”

Aslinya : terimaĀ  telepon dari bu RT lagi nyari si Mama, mau tanya jadwal arisan ;))

Atau ada yang sampai ngelindur, “online” dengan mata terpejam, langsung menekan tombol kipas angin & langsung greeting pembuka :

“Telkomsel selamat pagi dengan Nia bisa dibantu? Halo.. Halo? Mohon maaf suara Anda tidak terdengar, terimakasih telah menghubungi Telkomsel, selamat pagi..”

Bicara dengan posisi tangan menekan tombol kipas angin lagi & kembali tertidur tanpa dosa. Giliran teman sekamar yang bengong & setelahnya tertawa cekakakan =))

Nah, itu sebagian kecil cerita lucu di callcentre. Kalau mau bicara tentang hal lucu dan menakjubkan lainnya sih banyak. Tapi lebih dari itu sejak kerja di callcentre kebanyakan dari kita jadi tahu cara mengatur suara & berkomunikasi utamanya via telepon. Jadi tahu cara memilih padanan kata, tata bahasanya jauh lebih terarah & terstruktur (halaaah..) dibandingkan dengan sebelum jadi callcentre officer. Eh itu terutama buat saya yah, hihihi.. ;))

Sekarang saya memang bukan lagi menjadi bagian dari callcentre, tapi sisa-sisa pendidikan & ilmu selama saya bekerja disana masih terpakai sampai sekarang. Apalagi sekarang menjawab telepon menjadi salah satu tugas saya. Kalau kemarin-kemarin menerima telepon hanya sebatas untuk kepentingan koordinasi internal dengan rekan sekantor, kalau sekarang ya dari mana-mana & sepanjang hari suara saya harus tetap terdengar cerah, merdu, segar & smiley.. Halah, lebayatun.. *ditimpuk elpiji* ;))

Sebenarnya tidak ada aturan tertulis yang mengharuskan saya begitu. Mmh, improvisasi aja, saya yang mengatur suara saya sendiri. Sadar kalau pekerjaan saya sekarang banyak berhubungan dengan orang lain, jadi salah satu modalnya ya suara :p *nyisir poni*. Bukankah suara juga jadi “first impression” (baca : image) seseorang/perusahaan kan? Contohnya penyiar deh. Kalau “body” suaranya gagah atau renyah, terdengar utuh, gaya komunikasi yang dibangun mengalir lancar & nggak gagap (iyalah mana ada penyiar gagap?), pasti yang denger juga seneng kan? Nggak heran kalau banyak yang terkiwir-kiwir dengan penyiar, walau kadang ketika kopdar, tidak seindah yang diimajinasikan ;)) *diulek sama mikropon*

Begitu pula ketika dulu saya memberikan materi training buat temen-temen calon agent callcentre. Selalu saya tekankan untuk menjaga intonasi & suara (smiling voice). Caranya : salah satunya dengan merekam sendiri suara kita di handphone trus kita dengerin sendiri. Dari situ kan kita akhirnya bisa mengukur, kira-kira sudah ok belum ya suara kita? Sudah cukup ramah belum terdengarnya? Kalau suara saya aslinya (kalau sedang tidak on duty) persis kaya ember ditepuk-tepuk kok.. ;)) *nyuci*

Ya sebenarnya lebih ke menempatkan diri jadi orang lain sih, yang pasti juga akan sebel ketika kita menghubungiĀ  sebuah instansi/perusahaan tapi nada suara penerima teleponnya galak atau kurang helpful. Yang awalnya kita menelepon dengan suara ramah, jadi ikutan sebel. Selain bikin takut juga bikin males kan? :p

Jadi, seberapa tersenyumkah suara Anda? šŸ˜‰

[devieriana]

Continue Reading

Makanya, Jadi Orang Yang Sabar!

Sore ini seperti biasa saya dan sahabat saya pulang kantor menyusuri jalanan Thamrin, Sudirman dan sekitarnya menuju Gatot Subroto. Seperti biasa pula yang namanya macet nggak mungkin bisa dihindari, apalagi menjelang long weekend seperti sekarang ini. Semua orang pasti pikirannya sama, ingin lebih cepat sampai dirumah. Ya iyalah kapan lagi bisa kumpul lebih lama dengan keluarga apalagi besok libur. Ya kan? šŸ™‚

Nah, seperti biasanya pula kami selalu ada “ritual” pilih jalur ketika akan memasuki daerah Sudirman. Ya kan pilih jalur yang nggak terlalu macet, biar lebih cepat sampainya. Dan herannya, ko ya selalu salah ;)) . Feeling kalau jalur sebelah kiri bakal lebih sepi & lebih cepat ternyata kena macet-macetnya bis yang segede-gede gaban itu. Pas ngira kalau jalur kanan jauh lebih sepi, eh malah kena sistem buka-tutup jalur sama polisi, yang bukanya lamaa banget. Alhasil kita stuck di jalan juga kan? Jadi ya begitulah, sama aja kayanya

Sore inipun kami menjalani “ritual pilih jalur” dan kali ini kami memilih jalur kanan. Apakah pilihan kami sore ini benar? Oh tentu, Maria! Tentu tidak! Karena pas kita lihat dijalur kiri jalanan begitu lengang, kendaraan dengan kecepatan sedang melaju dengan santai. Dengan hiperbola kami membayangkan mereka melambaikan tangan sambil daddah-dadah pada kami berdua. Coba bandingkan dengan kami yang jejeritan nggak jelas karena lagi-lagi salah pilih jalur & terpaksa harus berhenti ditempat. Sampai akhirnya ketika jalan merambat menimbulkan ide untuk pindah ke jalur kiri yang lebih lengang, menuju ke arah Plaza Semanggi. Berhubung memang tampak lengang sekali, maka pindahlah kita kesana. Tapi kita tidak tahu kalau sebenarnya disisi jalanan itu, diujung sana tepatnya, sedang macet-macetnya! Dan yak, bagus.. kita gantian terkurung dalam kemacetan di sisi lainnya.. :((

Kesel? Jelas. Gondok? Pasti. Lha wong niatnya pindah jalur biar nggak kena macet, ini malah nggak bisa gerak. Seolah-olah mencari kemacetan yang lain gitu.Ya bagus deh ~X( . Tapi justru disitu kita jadi menertawakan diri sendiri. Andai kita tadi sabar buat menunggu jalanan terbuka, pasti kita nggak akan malah stuck ditengah jalan kaya begini, dihimpit, bis dan mobil-mobil (iyalah, masa dihimpit sama ongol-ongol?). Tapi ya itulah, kan tadi kita yang milih sendiri, jadi ya tanggung resikonyalah ya ;)) .

Yang biasanya waktu tempuh sekitar 30 menit sampai ke Gatot Subroto, kali ini hampir satu jam. Tapi ada yang lucu pas kita sudah hampir berhasil melewati kemacetan dan mulai masuk kawasan Gatot Subroto (depan Plaza Semanggi), mendadak mobil hitam yang kami naiki dihentikan oleh seorang petugas polisi. Aduh, iya.. masih jamnya three in one yah? Padahal kita biasanya lempeng aja lho jam segitu, nggak pakai acara cegat-cegatan begitu. Ah, ya sudahlah, kita minggir dulu yah..


PolisiĀ  :
“Selamat sore, ..”
TemanĀ  : “Selamat sore pak. Ada apa ya?” *(sok) polos*
PolisiĀ  : “mohon maaf ada berapa orang dalam mobil?”
*sambil melongok ke dalam mobil* .

Eh, sumpah ya, kita pengen boneka ayam-ayaman di jok belakang itu mendadak hidup dan duduk manis terus senyum sambil benerin kacamata sama polisi itu. Biar kita nggak ditilang karena jumlahnya kan udah 3 orang.
PolisiĀ  : “cuma berdua ya bu? Boleh saya lihat kelengkapan surat-suratnya?”
TemanĀ  : “oh, boleh pak.. Emang jam berapa sih three in one-nya pak? Bukannya mulai setengah lima?”
PolisiĀ  : “iya bu, memang benar ini kan sudah jam lima kurang seperempat..”
TemanĀ  : “lho, bukannya mulainya setengah lima?”, tanya temen saya ngotot sambil buka dompet.

Nggak nyadar apa sama pertanyaannya barusan. Ini udah jam lima kurang seperempat Neng, three in one itu mulainya setengah lima. Ya jelas kita kenalah.. ;))


PolisiĀ  : “iya bu, ini sudah jam setengah lima lebih, jadi ya sudah mulai yah.. Bisa minta tolong mobilnya dipinggirkan?”
TemanĀ  : “oh iya ya? Udah setengah lima ya? “, dia terkekeh sendiri.

Tuh kan, lola jangan dipelihara dong ah.. *plaak!*

Sementara teman saya turun, saya lihat dari dalam mobil sambil terus memperhatikan mereka berdua. Eh, tapi kok saya, dia, dan bapak polisi itu jadi cengengesan ya? Kalau saya sih geli aja melihat ekspresi teman saya sama polisinya. Tapi kalau temen saya sama polisinya ngapain coba? Saya lamat-lamat mendengar percakapan mereka dari balik kaca yang sudah saya buka.

PolisiĀ  : “iya ini tilangnya 500 ribu ya bu..”
Teman : “oh gitu ya pak? Wah, saya bener-bener nggak tahu pak. Biasanya saya bertiga, kali ini aja saya cuma berdua.. Aduh, maaf ya pak..”
PolisiĀ  : ” Baik,Ā  ibu rumahnya dimana?”
TemanĀ  : “saya di Halim, Pak..”
PolisiĀ  : “Lho, ibu istrinya anggota?”
TemanĀ  : “iya..”
PolisiĀ  : “Polri atau TNI?”
TemanĀ  : “TNI, pak..”
PolisiĀ  : “yah, kenapa ibu nggak bilang dari tadi Kalau saya tahu ibu istrinya anggota, mana mungkin saya tilanglah bu..”
Teman : “lah ya masa saya mau pamer-pamer kalau saya istrinya anggota. Ya kalau memang saya salah ya tegur aja pak, nggak apa-apa. Nggak usah sungkan apakah saya istri anggota apa bukan.. ”
PolisiĀ  : “ya tapi saya yang nggak enaklah bu, masa istrinya anggota saya tilang juga..Ya sudah, silahkan dibawa kembali surat-suratnya. Salam buat bapak ya bu.. Hati-hati dijalan..”
TemanĀ  : “baik pak terimakasih sudah diingatkan..”

Ah, untung polisinya baik hati. Salam buat komandannya ya Pak.. ;))

Begitu kita jalan, kita berdua ngakak-ngakak. Menyadari kebloonan kita, keteledoran kita, ketidaksabaran kita. Tentu saja menertawakan dengan lega kejadian yang baru saja kita alami. Nggak jadi ditilang gitu lho #:-s. Kayanya si pak polisi itu juga sempat melirik foto di dompet teman saya, plus “ngeh” dengan kata-kata “Halim” yang identik dengan pangkalan Angkatan Udara.

Ah, ya.. sore yang unik. Tapi justru dari situ ada sebuah pesan moral yang bisa kita ambil. Jadi orang itu mbok ya yang sabar. Karena kalau saja tadinya kita sabar, bertahan di jalur kanan, pasti nggak akan kena macet berkali-kali gara-gara tergiur pindah jalur yang lebih sepi yang akhirnya macet-macet juga bahkan lebih parah :)) . Sering-sering lihat jam, apalagi kalau niat masuk jalur three in one dengan penumpang kurang dari 3 orang.. ;))

[devieriana]

gambar dari situ

Continue Reading

Kangen Jadi Trainer

Tidak pernah seklipun dipikiran saya terbersit untuk menjadi trainer. Kecemplungnyapun juga nggak disengaja. Kebetulan saya lepas kontrak dari perusahaan telco terbesar di Indonesia itu & langsung ditawari menjadi trainer di anak perusahaan Telkom, untuk menangani pembukaan callcentre Infomedia (eh saya kok jadi sebut merk ya). Ceritanya “babat alas” gitu.

Perasaan waktu jadi pengajar pertama kali? Ah, jujur saya deg-degan :-ss . Wong saya nggak pernah ngajar sebelumnya. Saya juga biasanya dihajar.. eh diajar ;)) . Duduk dengan manis, mendengarkan materi training, berjuang melawan kantuk ketika harus mendengarkan materi training yang panjang & membosankan, apalagi jika ditambah dengan trainer yang..ya sudahlah ;)). Kini saya harus berbalik posisi menjadi sosok yang saya kantuki itu, yang harus saya perhatikan itu, yang harus saya dengarkan omongannya, yang kadang bikin saya setengah ngerti setengah enggak (apalagi kalo load otak nggak nambah-nambah, segitu-gitu aja, tapi muatan yang harus dimengerti banyak, hiks.. :(( ).

Kelas yang saya ajar waktu itu tidak terlalu besar, saya lupa jumlahnya, tapi mereka satu angkatan kurang lebih 20 orang. Materi waktu itu tentang prepaid. Total ngomong selama kurang lebih 8 jam, terpotong istirahat & coffee break. Deg-degan itu pasti. Namanya juga baru pertama kali memberikan materi. Tidak ada yang bisa mengendalikan diri kita kecuali kita sendiri kan? Akhirnya.. setelah dibuka dengan prakata (alaah.. kaya pidato), perkenalan singkat, mulailah masuk ke materi. Satu persatu saya jelaskan, saya kupas, saya kasih kesempatan buat bertanya, alhamdulillah berhasil sampai selesai. Perjuangan terberat adalah jam 13.00-14.00, pas mata lagi kantuk-kantuknya habis makan siang. Tapi trainer jangan mau kalah sama kantuknya trainee dong ya ;)) . Alhamdulillah bisa melek semua tuh. Gimana mau nggak melek kalau jam-jam segitu saya kasih kuis dadakan :))

Itu jaman saya masih aktif jadi team leader callcentre beberapa tahun yang lalu. Kalau sekarang-sekarang sudah hampir nggak pernah menyentuh dunia training lagi. Jadi kangen ngecipris di depan kelas lagi saya. Padahal dulu kalau pas ada jadwal ngajar saya selalu antara seneng dan huufft ~X( .. ya sudahlah :)). Tapi setelah lama nggak ngasih materi kok saya jadi kangen ya.. 8->

[devieriana]

Continue Reading

Berbagi Cerita Berbagi Cinta

Judul Buku : Berbagi Cerita Berbagi Cinta
Penulis : Sahabat Ngerumpi
Penerbit : Inspiring
Jumlah Halaman : 166 Halaman

Sebenarnya buku ini sudah beberapa waktu yang lalu beredar di pasaran. hanya saja sayanya yang belum kepikiran bentuk reviewnya kaya apa. Padahal buku-buku saya sendiri lho, hasil menulis secara berjamaah maksudnya ;))

Kalau perempuan lagi ngerumpi biasanya isinya rumpiannya tentang apa sih? Arisan, gosip, cowok, keluarga, curhat, trus apa lagi? Banyaklah pastinya ya. Tapi pernah kebayang nggak bagaimana menyatukan rumpian para perempuan itu untuk dijadikan dalam satu buku? Belum kepikiran tho? Sama, saya juga dulunya nggak pernah mikir bahwa rumpian & tulisan saya disitu bersama teman blogger yang lain bakal dibukukan.. ;;)

Berawal dari situs http://www.ngerumpi.com, situs berkumpulnya tulisan dari para blogger yang berbasis web 2.0, dimana penulisnya bisa memposting & mengelola artikel-artikelnya. Dari sanalah lahir banyak tulisan seru yang pastinya selalu segar karena selalu saja ada tulisan baru yang di-publish disana. Topiknya pun bermacam-macam. Ada tema yang dikelompokkan dalam kategori living single, relationship, family, x&y, dan oot. Gaya penulisannya pun bermacam-macam. Jelas. Karena ditulis oleh banyak kepala & hati.

Ternyata menulis dengan hati itu tidak selamanya mudah (karena seharusnya pakai tangan? *eh*) ;)). Artikel-artikel yang di-publish disini merupakan sebagian tulisan yang (dianggap) mewakili pikiran perempuan (walaupun penulisnya ada yang lelaki juga lho). Tapi setidaknya akan membuat banyak orang yang sadar bahwa isi kepala perempuan itu kurang lebih ya sama kaya yang ada di buku ini.

Endorsment

“Yang remeh, yang enteng, yang cemen, juga bisa mencerahkan. Dari
kegamangan setiap akan mendatangi pesta reuni, soal klasik status
jomblo, sampai ledekan bahwa perempuan masa kini masih percaya mitos
superioritas lelaki. Potret sosial kita ada di sini. Potret yang
merekam sikap dan perilaku warga Ngerumpi dalam menjalani kehidupan
pada suatu masa. Kita lihat apakah sepuluh tahun mendatang masyarakat
kita sudah berubah. Pembandingnya ya ada di Ngerumpi hari ini.”

Antyo Rentjoko, blogger, antyo.rentjoko.net


“Unik. Personal. Inspiring. Tentang perempuan, cinta, dan lelaki:
trilogi yang tak ada habis-habisnya ditulis. Kumpulan senandika yang
menghadirkan cakrawala baru tentang relasi Mars dan Venus.

Wicaksono, wartawan Majalah Tempo, narablog (www.ndorokakung.com), penulis buku “Ngeblog dengan Hati”

“Bukan perempuan, gak masalah, yang penting ngerumpi. Begitulah, ngerumpi ternyata tak cuma wadah bagi perempuan. Lelaki pun bisa berbagi pengalaman pribadi yang nyenggol hasrat, sakit hati sampai berpuisi. Saya menduga inilah salah satu inidikasi hadirnya sebuah
“peradaban” baru. Pertemanan, persahabatan, keterikatan emosi,
persetruan, umpatan sampai “rasa” yang sama, tak cuma di dunia maya,
tapi juga terbawa di dunia nyata. Seseorang akan mempunyai “saudara”
begitu banyak secara nyata bukan maya. Dan di ngerumpi itu bisa
ditemukan dan dibangun.”

Ventura Elisawati ,Blogger (www.vlisa.com), digital communication specialist.

Jadi, tunggu apa lagi? Segera dapatkan bukunya di toko buku terdekat yah.. :).
Makasiiih.. šŸ˜‰

[devieriana]

Continue Reading