Curhat sama facebook?

facebook

 

 

Masih pokok bahasan yang sama : FACEBOOK.. rasanya situs 1 yang lagi hip bin booming ini tidak ada habis-habisnya untuk dibahas, diulik, diomongin, dikecam, sekaligus dicintai, hehehe..  Dari facebook bisa merembet ke arah gosip, cerita seru, cerita nyata, intrik (halah), maupun cerita bersambung (maksudnya nunggu kelanjutan status & obrolan wall to wall apa yang akan ditulis berikutnya, hehehe..)

 

Berawal dari obrolan saya bersama 4 orang teman sebelum pulang tadi tentang facebook & para penggunanya (kebetulan hanya tinggal saya & 4 orang itu yang masih ada di kantor, selebihnya sih udah stress pulang duluan, hehehehe… Enggaklah, ya emang kerjaannya udah selesai). Nah mulai deh tuh dibahas yang namanya facebook. Mulai perseteruan antar  teman, gosip terhangat antar karyawan, sampai curhatan wall to wall yang lumayan bisa dibuat baca-baca, mulai yang hangat romantis sampai mengarah ke konflik tajam menuju putus, hahahaha..  :D.  Kidding 😀

 

Heran aja sebenernya, emang penting ya curhat aja sampe ditulis di wall? Sudah tidak ada tempat yang lain yang lebih private-kah untuk curhat selain di facebook yang notabene pengikutnya sudah berjuta-juta & tidak menutup kemungkinan bisa dibaca oleh orang yang punya hubungan “mutual friend”. Ccckk..ccck…ccckkk.. geleng-geleng kepala saya jadinya. Kalau memang sifatnya private mbok ya mending jangan posting di wall-lah, apa fungsinya private message kalau postingnya di wall-wall juga, yang pasti bisa dibaca orang lain juga kan..

 

Seperti halnya tadi pagi ketika saya iseng buka facebook, terpampanglah itu curhatan seorang istri ke suaminya. Kebetulan saya tahu & kenal mereka berdua. Curhatan kekecewaan seorang istri kepada suaminya, curahan hati istri tentang (dari apa yang saya tangkap di wall to wall itu ya) adanya kebosanan, kejenuhan dalam hubungan mereka. Cerita tentang perbedaan perlakuan suami ke istri yang beda jauh ketika masih pacaran dulu dengan kehidupan rumah tangga  (udah ga romantis gitu ceritanya, hehe). Waduh, apa itu bukan termasuk golongan masalah rumah tangga ya? Kenapa dibawa-bawa ke facebook sih? Apa mereka gak sadar kalau “percakapan” mereka itu dibaca banyak orang? Emangnya udah ga tinggal serumah ya kok sampai komunikasi aja harus lewat facebook? Emang HP-nya kemana, kenapa ga sms/teleepon aja? Emang ga ada teknologi yang namanya email yang bisa dibaca si penerima secepat kita mengirimnya? Kadang mikir, masyaallah.. kemana sih logikanya orang-orang ini?  🙁

 

Itulah kenapa saya kemarin posting shoutout : “emang penting ya semua kegiatan dilaporkan ke facebook”. Sudah bisa ditebak , yang komentar banyak. Maksudnya banyak yang protes gitu, intinya sih : “ya suka-suka guelah Dev, facebook-facebook gue”. Ok, facebook-facebook kalian tapi nyadar ga sih postingan kalian itu kan biasanya mostly disesuaikan dengan apa yang tengah kalian lakukan sekarang, apa yang tengah kalian rasakan. Ya syukur-syukur kalau postingan statusnya positif. Lha kalo pas moodnya lagi marah-marah sama orang terus ditulis di status terang-terangan, lanjut ke omongan kasar yang menyinggung pihak tertentu, apa ya gak jadi rame tuh? (ini kisah nyata, ada lho yang kaya gini di sekitar saya saking emosinya). Makanya di beberapa kantor situs 1 ini sudah ada yang mulai di banned. Bahkan sudah ada yang di pecat karena facebook. Nah lho, serem juga kan?  🙁

 

Ok, facebook memang jitu bin powerful utamanya buat menemukan teman-teman lama yang udah spreading ga tau kemana rimbanya (isi facebook saya padahal temen-temen SMA, kuliah, kantor, sama temen-temennya temen, hehe.. Rehoming dari friendster ke facebook semua..). Tapi ingat facebook juga ada negatifnya. Bisa menyebarkan informasi apapun secepat kita menulisnya, entah positif maupun negatif. Sebenernya sih bukan cuma facebook, situs lainnya pun juga sama, bisa menyebarkan info apapun secara cepat hanya dengan sekali tekan tombol send/enter. Jadi, berhati-hatilah. Secanggih apapun , seasyik apapun, segaul apapun situs pertemanan yang kita ikuti jangan terlalu open juga. So,  just be wise, & be careful dear ..  🙂

 

 

Continue Reading

Kok kaya laporan sama facebook?

Sejak wabah facebook melanda dunia, mengakibatkan banyak orang mengalihkan sebagian waktunya untuk membuka situsnya Mark Zuckerberg ini. Bahkan ada lho yang menjadi situs wajib buka setiap hari . Mending ga makan daripadaga buka facebook.. oh salah ya? Lebay kayanya kalau begitu, hehehe.. . Padahal sebenarnya facebook fungsinya tak ubahnya dengan beberapa situs pertemanan lain yang sudah ada sebelumnya, macam friendster, flixter, hi5, plurk, dan lainnya. Sekarang ini siapa sih yang ga punya account facebook? mulai kalangan pelajar,ibu rumah tangga, artis, bahkan politikuspun memiliki account di facebook. Katanya kalau ga punya dibilang “jadul banget sih kamu? bikin doong..”  😀

 

Memang sih diakui facebook cukup powerfull untuk utamanya menemukan teman-teman lama yang sudah lost contact, ga ketahuan dimana rimbanya. Tapi ada juga sisi negatifnya : facebook itu “nyandu”, bos. Saya katakan nyandu ya karena rasanya kalau ga bukan facebook sehari tuh mungkin buat sebagian orang berasa udah ketinggalan info banget. Padahal kenyataannya dulu ga punya facebookpun juga gapapa kan? Inget deh, jaman dulu ga ada friendster, apalagi facebook kita juga santai-santai aja kan.. Tapi kenapa sejak ada”mainan baru” itu kita jadi kaya dicanduin ya?

 

Contohnya aja nih soal status. Kan di facebook kita sering lihat teman-teman kita nulis status di facebooknya tuh . Mulai kegiatan “penting” sampai “gak penting”. Oh maaf, atau mungkin semuanya penting kali ya, kan kita tidak tahu ukuran penting/tidaknya sebuah status buat sebagian orang ya.. . Tapi kok kesannya malah jadi kaya “laporan” sama facebook ya.. Apa-apa ditulis, ngapa-ngapain diinfokan ke semua orang. Kayanya the whole world need to know kegiatannya itu apa saja. Itu kesan yang saya tangkap ya. Saya ngerti, tahu, paham banget kalau facebook itu cuma mainan, cuma buat seru-seruan, cuma buat situs pertemanan, cuma buat hiburan.. mmh, tapi emang penting ya semua kegiatan harus ditulis? Misal nih : “lagi nemenin anakku bobo” (ya kalau lagi nemenin bobo ngapain juga fesbukan.. nemenin bobo mah nemenin aja.. hehehe ), “malam minggu ada di kantor teman” (kalau bapak di kantor teman terus kita mau ngapain pak?), “lagi makan sate ayam.. hmmm.. yummy..” (emang kalau sudah ditulis di facebook terus aromanya bisa nyampe ke temen-temen yang ada di friendlist-nya gitu? Mending kalau di kasih , kalau cuman dipamerin ya kesannya kok jadi kaya ga pernah makan sate ayam, heheh), “lagi mimik susu” (yaelah, ini apa lagi.. wah.. bener-bener status yang sok imut.. hahahaha ).

 

Status, memang facebook menyediakan kolom untuk kita bisa posting shoutout/status dengan kolom komen di bawahnya. Yang menandakan bahwa apapun kegiatan kita bisa/boleh dikomen oleh orang lain. Buat lucu-lucuan sih seru, tapi ada yang sampai ganti status lebih dari 3x sehari.. Beuuh.. lagi ga ada kerjaankah? Kebutuhan untuk diakui keberadaannya di dunia maya a.k.a eksis, rasanya itu sebutan yang lebih tepat ditujukan untuk orang-orang yang sangat rajin update status di dunia maya via facebook. Berhubung situs 1 itu yang lagi hip sekarang, makanya setiap waktu, setiap saat, pasti rajin update status, posting komen di statusnya orang-orang. Pokoknya tiada hari tanpa update statuslah.. hidup facebook !! Ampun deh..

 

Saya termasuk orang yang sangat jarang update status facebook. Bukan apa-apa , selain kebetulan kerjaan saya padat banget (kasian sih sebenernya) , ya karena menurut saya ga semuanya penting untuk diinfokan atau di share ke orang lain. Misal : “lagi banyak kerjaan nih, sibuk bangeeet” –> kalau sibuk kenapa masih sempat mainan facebook? . Atau : “lagi ngantuk berat” –> ya tidurlah, ngapain masih buka facebook juga?Istirahat.. Itu cuma contoh lho ya.. . Eit, ini bukan berarti semua orang harus sama kaya saya ya. Terserahlah mau update status per 5 menit sekali, silahkan. Per 2 hari sekali monggo, atau ga update status samasekali juga tidak ada yang melarang kok. Semua orang pasti punya pendapat yang beda-beda masalah posting status di facebook. Lepas dari masalah eksistensi diri, setiap orang punya maksud, kepentingan & tujuan tersendiri dengan account facebooknya & itu hak masing-masing orang kok.. Saya hanya sekadar pengamat dunia pencak fesbuk tercinta ini kok ..

 

.. PEACE ..

 

 

 

Continue Reading

Mrs. Grumpy & her teamwork ..

Mungkin benar ya jaman dulu eh bukan jaman dulu saja, sekarang juga masih kok. Kalau anaknya punya hajat, orangtuanya pasti ikut ribet. Ini juga terjadi pada saya. Bukan dalam kehidupan rumah tangga saya ya, tapi justru dalam lingkungan kerja saya. Kebetulan kita bekerja dalam team, saya membawah 12 orang quality assurance yang harus saya maintain setiap harinya. Nnah, dalam rangka ulang tahun Telkomsel yang ke-14 seperti biasa pasti ada event pemilihan best employee gitu. Kategorinya pemilihannya sih banyak, mulai best callcentre agent, best complaint handling officer,  best teamleader, best QA, dan beberapa kategori lainnya.

Karena saya membawahi Quality Assurance, salah satu anak buah saya ada yang jadi kandidat best QA. Mulailah saya sebagai “emak”, kepala suku, pemimpin gank, ketua kelas (kebanyakan ya gelarnya, hehehe) ikut ribet mengurus yang namanya persiapan menjelang hari H tepat di ulang tahun Telkomsel bulan depan tanggal 26 Mei 2009. Sibuk emailing, sibuk bikin power point, sibuk koordinasi sana-sini. Pokoknya jadi (sok) sibuk banget deh.. :p

Phew, alhamdulillah sejauh ini beban kerja saya satu-persatu mulai terurai, sudah tidak benang kusut lagi. Team saya alhamdulillah kooperatif banget. Itu yang saya suka dari mereka. Ada kalanya saya marah sama mereka lantaran mungkin terlalu manja, apa-apa pengennya disediain, apa-apa pengen dibantu, bikin laporan tiap periode kurang rapi. kalau lagi suntuk sama kerjaan, liat laporan yang acak adul selain bisa bikin mata sepet juga bikin saya bisa menghela napas berkali-kali untuk menenangkan diri (ya iyalah meenghela napas berkali-kali, kalau tidak ya matilah..). Tapi alhamdulillah, setelah saya tegur by email disertai contoh laporan yang benar & rapi akhirnya periode ini saya meenerima email laporan hasil kerja mereka dalam format yang rapi, seragam, tanpa warna-warni pelangi. Senangnya, ternyata anak-anak benar-benar  menjalankan saran saya 🙂 .

Saya sering lho dibilang galak, ha5x. Tidak cuma sama suami, sahabat, atau anak buah saya, bahkan teman suami yang belum pernah ketemu sayapun bisa komentar hal yang sama.. hahaha.. “gua tau istri lu tuh galak, Ndre. Tapi galaknya dia itu maksudnya baik..” 😀 .  Okelah, “galak” in positive way, tapi tetep aja galaknya kesebut ya.. hyuumariiii.. 😀 .  Tapi buat yang sudah mengenal saya lebih dekat akan kelihatan kok how care I am, how fun I am, how neat I am, how nice I am, & of course.. how grumpy I am.. 😀 . Tapi pengalaman yang sudah-sudah, saat di Surabaya misalnya, walaupun saya dibilang galak, anak-anak suka sungkan tanya sama saya tapi tetep saya-saya juga yang dicari sama mereka, sayaa resign tetep aja mereka nangis minta saya jangan pindah, hahahaha.. Galak tapi ngangeni ya? apa siiihhhhh.. Kok jadi narsis gini ya saya pagi-pagi.. 😀

 

Ya Allah, semoga hari ini menyenangkan, semua berjalan lancar  sesuai rencana & schedule kerja saya ya..
.. Amien ..

 

*sambil ditemani secangkir cappucinno hangat*

 

[devieriana]

 

 

Continue Reading

Transformasi ..

melamun

 

Wah, hari ini jadwal ngobrol saya termasuk lumayan padat. Sebenarnya bukan sengaja menjadwalkan ya, tapi entah bagaimana awalnya pokoknya hari ini mendadak banyak yang ngajak ngobrol, diskusi & reunian. Memang kebetulan semuanya virtual ya, tapi yang membuat saya excited adalah yang mengajak ngobrol semua temen-temen saya di masa lalu. Mulai teman SMA, teman jaman masih saya di Surabaya, mantan anak-anak saya di callcentre Surabaya. Wah rasanya kembali ke masa lalu.. tapi menyenangkan.. 🙂

 

Mulai curhat karena ditolak (atau menolak?), diskusi tentang statusnya teman-teman di facebook (terutama yang rajin lapor sama facebook lagi ngapain aja hari itu :  menidurkan anak, mengantar anak sekolah, bikin paper yang gak selesai-selesai, belajar memasak, lagi menikmati sate ayam, jogging, dan status-status lainnya), diskusi tentang filosofi hidup (nah kalau yang ini agak berat, saking beratnya sampai facebook saya sempat error, hehehe..), sampai compliments tentang tulisan-tulisan saya di wordpress/facebook (kalau yang ini bikin tersanjung deh, hehehe.. makasih yaaa..).

 

Ada 1 komentar yang cukup inspiring buat saya, datang dari salah seorang teman di multiply yang juga seorang supervisi visual di Trans TV, mas Hidayat S Gautama.. terimakasih banget buat compliments & masukan buat tulisan saya. Sebenarnya saya masih belum PD disebut blogger nih, tapi berhubung julukan ini ditasbihkan oleh seorang jurnalis senior sekelas mas Dayat yah apa boleh buat, saya gaberani nolak deh, hehehehe..  Tapi saya seneng banget sama opini mas Dayat yang menyebutkan saya :

 

“Jarang ada perempuan blogger disini yg punya kemampuan menulis dari hal apa saja yang ada disekelilingnya lalu mencernanya dengan spektrum yang lebar dicurahkan ke dalam tulisan yang renyah. Biasanya sih blogger cewek isinya curhatan soal pribadi saja seperti berantem sama cowonya, putus, dll. Strukturnya jelas dan mengalir mudah dicerna. Kamu beda dari kebanyakan blogger itu.. “.

 

Waaaahhh.. mantab surantab banget nih, udah berasa kaya ditulis di blurb buku, hehehe.. *GR mode : ON*. Soal kritikannya saya mau simpan sendiri  ya, insyaallah berusaha memperbaiki.  Nanti kapan-kapan saya pengen belajar banyak secara khusus sama Anda deh mas Dayat.  Makasih banyak yah 🙂

 

Salah satu diskusi saya tentang hidup berasal dari salah satu partner diskusi & guyon saya yang sudah lama ga pernah ngobrol. Awalnya saling curhat masalah keturunan, ujung-ujungnya saling support tetap semangat bikin anak 🙂 . Kedua, dia ternyata juga sempat mengkritisi tulisan-tulisan saya. Bukan mengkritisi secara langsung tapi mempertanyakan apakah saya sudah seperti apa yang saya tulis dalam blog-blog saya? Sejak kapan saya bertransformasi dari “kepompong jadi kupu-kupu”, apakah ada suatu turning point yang sudah membuat saya banyak berubah? Sudah sampai mana tingkat achievement-nya.

 

Wah, kalau apakah saya sudah seperti yang saya tulis dalam tulisan-tulisan saya ya pastinya sedang berusaha menuju ke arah sana. Berusaha menjadi seperti apa yang saya tulis, atau paling tidak mendekati. Ya menulis hal “ideal” seperti itu kan mengandung beban moral juga. Masa saya yang menulis & mengajak orang berbuat kebaikan seperti apa yang saya tulis, masa sayanya sebagai author malah melenceng dari itu. Apakah ada turning point yang membuat saya banyak berubah jadi seperti sekarang? Saya jawab iya, pasti ada. Dalam hidup gak mungkin kita menjalani serba mulus-mulus saja, pasti  ada yang namanya cobaan, kerikil-kerikil tajam, atau kesandung batu. Dalam hidup ga ada yang namanya manusia selalu melewati jalan tol. Suatu saat dia pasti akan  melewati jalan berlubang, jalanan becek, jatuh, atau kesandung batu. Sama, saya juga seperti itu. Suatu ketika saya juga pernah mengalami yang namanya melewati jalan yang terjal & berliku, kesandung batu, kaki saya berdarah & saya jalan terpincang-pincang sebelum saya menuju ke tempat yang saya tuju. Tapi saya percaya ya itulah yang namanya proses. Tuhan ingin saya melewati itu dulu sebelum saya sampai di tempat yang sesuai. Tidak perlu dirincilah apa saja sentilan yang sudah Tuhan berikan buat saya. Yang jelas proses transformasi itu masih berlangsung hingga sekarang, dan Tuhan masih menggodok saya menjadi cangkang telur yang kuat ketimbang ketika dia masih mentah.

 

Saya juga heran kenapa sejak banyak yang baca blog saya jadi banyak banget yang curhat sama saya akhir-akhir ini ya?  Bukan sok GR, sok bijak, sok laku, sok tua, sok ngasih nasehat, sok psikolog, atau sok-sokan lainnya ya, wong saya juga belum sama benarnya kok. Ini juga bukan keinginan saya minta dijadikan tempat curhat. Teman-teman yang datang sendiri & langsung cerita begini-begini-begini. Ya saya kan cuma pendengar, kalau bisa saya bantu ya saya bantu, kalau diluar kemampuan saya ya pasti saya bilang gak mampu. Memangnya kasih pendapat itu gak beban? Menyarankan seseorang untuk mau menjalankan saran kita itu itu juga ga mudah. Pasti yang namanya pembelaan & penolakan dengan berbagai sanggahan & alasan itu pasti ada. Ya namanya dimintai pendapat ya saya kasih, tapi kalau sekiranya kurang sesuai ya jangan dijalankan.  Simpel kan? 🙂 . Tenang, saya juga masih jauh dikatakan sempurna kok, masih terus bertransformasi seperti yang saya katakan tadi, sama seperti kalian.. 🙂

 

Tulisan-tulisan disini hanya buah pikiran & perenungan sederhana tentang saya, manusia-manusia disekitar saya, tentang kejadian-kejadian yang silih berganti menghampiri hidup saya. Semua yang saya tulis disini sifatnya nyata, murni dari apa yang terjadi dalam diri saya.  Apa yang saya ingin tulis ya langsung tulis secara spontan. Soal persepsi orang nantinya menangkap tulisan saya secara berbeda ya itu hak masing-masing. Tetapi saya anggap sebagai komplimen kok.. hehehehehe.. 🙂

 

 

Cita-cita saya bukan yang muluk-muluk Tuhan, saya hanya ingin tetap bisa terus menulis secara jujur  & bertransformasi menuju kearah yang lebih baik..

.. Amien ..

 

Continue Reading

Stop complaining !!

anger

Pagi ini sudah  di kantor lagi setelah semalam terpaksa harus pulang malam karena dituntunt untuk menyelesaikan tugas sebagai leader project pemenangan pemilu.. eh bukan.. pemenangan best callcentre se-Indonesia. Kalau bisa nolak nih, saya orang yang bakal nolak tambahan kerjaan ini pertama kali. Bukan apa-apa, saya juga harus mempertimbangan kemampuan team saya menerima load kerjaan yang lebih dari biasanya dong. Ya bukannya mau sok pahlawan membela anak buah saya ya. Hanya mencoba menyesuaikan antara load kerja yang tinggi yang saya harus share ke team saya, plus mengukur kemampuan mereka lengkap dengan tingkat akurasi penilaian, konsentrasi & kecepatan penyelesaian target.

Mau dibilang berat ya namanya pekerjaan ga mungkin kita menerima pekerjaan yang ringan melulu. Pasti suatu waktu kita bakal menerima pekerjaan dengan load yang lebih tinggi & high pressure. Dibilang ringan ya sebenarnya sih ringan, wong ini juga sudah pekerjaan kita sehari-hari, hanya saja loadnya di tambah. Itu saja sih. Jadi sebenarnya berat atau ringan tergantung dari sudut pandang mana kita menerimanya sih. Itu kalau menurut saya ya..

Pulang jam 21.00 dengan otak yang seharusnya sudah harus di-defrag satu  persatu & di susun ulang membuat saya juga sempat membuat kesalahan pembuatan distribusi, padahal emailnya sudah disebar & sudah sampai di email spv..  🙁  . Hiks, ya maklumlah namanya juga dipaksa harus selesai malam itu padahal saya baru mengerjakan sekitar pukul 18.00 karena memang meetingnya baru selesai jam segitu. Dan pagi ini.. taraaaa.. saya kembali ada di kantor dengan wajah yang.. berseri-seri.. Ya jelas gak mungkinlah, pulang jam segitu & pagi-pagi sudah harus di kantor. Kalau wajah kecapekan sih iya banget  🙁 . Selain untuk mengerjakan laporan yang tertunda, juga sekalian menemai anak buah saya kerja. Ya just in case kalau mereka butuh saya atau tanya seputar kerjaan. halaaaahh.. sok dibutuhin banget ya? hehehehe.. 😀

Setiap pagi di kantor, “ritual” yang saya lakukan setelah input login absen yaitu membuka email. Langsung mendidih nih membaca email keluhan dari salah seorang Quality Assurance Officer (kebetulan bukan team saya langsung sih tapi dalam project ini dia under supervisi saya).

“aaah.. bingung, pusiing, BT, capeekk!! “

Kalau mau ngeluh kaya gitu saya juga bisa kirim email ke spv saya :  “BT, capek, pusiiing, bingung.. saya ga mau ngerjain project ini ah, mbak.. Nyusahin !!”. Gampang kan kalo sekedar ngomong kaya gitu. Tapi apa gak besoknya saya langsung terima SP3?  Duh, kalau mau ngomongin bingung, pusing, BT, capek.. sama.. saya jugaaaa…. !! Pulang malem terus kaya gini samasekali bukan cita-cita saya.  Sumpah deh. Tapi tolonglah jangan tambahi saya dengan keluhan gak penting kaya gitu. Saya sendiri juga beban tau’, apalagi harus sharing kerjaan tambahan seperti ini ke kalian. Maunya sih ga usah nambah-nambah kerjaan kalian deh, walaupun dibayar lembur, di kasih merchandise atau entertain apa kek yang lain. Yang penting bisa pulang tepat waktu, kerjaan selesai tepat pada waktunya, kita juga ga terlalu penat. Udah itu aja cita-cita saya. Tapi masalahnya kan kita kerja sama perusahaan, bukan sama nenek saya yaaa.. Ya sudahlah ikuti dulu rules yang ada, kerjakan dulu sebisanya, toh kerjanya juga bareng-bareng ini.. Kemarin saya juga sudah habis-habisan bargaining jumlah distribusi kerjaan kalian ke spv biar jumlahnya lebih sedikit, kerjaan lebih ringan. Jadi tolong banget, jangan sampai saya juga ikut emosi nih.. (asli saya kesel banget). Untung saya masih bisa menguasai emosi untuk tidak membalas emailnya dengan ketus, walaupun kata anak buah saya “ah, kamu kurang keras mbak negurnya, bahasamu terlalu halus buat dia.. Kerasin aja sekalian, rese banget sih tuh anak !!”. Ya kalau mau main keras-kerasan saya juga bisa.. tapi kembali lagi, apakah itu menyelesaikan masalah? apakah itu sudah tindakan yang sesuai & cukup bijak? Menyelesaikan masalah sih enggak, bakal nambah masalah iya..   🙁

AARRRGGGHH …. (andai saya bisa digambarkan dalam bentuk anime, mungkin ada gambar api-apinya nih)

– twisted –

Sabaaar.. sabaaaaarr … !!

(hwaaaa… padahal udah pengen jejeritan nih)

Continue Reading