Mendadak Cuti Bersama

Jumat lalu , kami beraktifitas sejak pagi seperti biasa, sama sibuknya meskipun itu menjelang akhir pekan. Tidak ada perubahan kesibukan yang signifikan, yang membedakan antara rutinitas awal pekan maupun menjelang akhir pekan. Pun halnya gejala, isu, atau pertanda bahwa akan ada informasi cuti bersama. Mengingat, berdasarkan Keputusan Bersama 3 Menteri : Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara & Reformasi Birokrasi RI, Nomor : 2 Tahun 2010, KEP.110/MEN/VI/2010, dan SKB/07/M.PAN-RB/06/2010 tentang Hari Libur dan Cuti Bersama Tahun 2011 yang ditetapkan sebagai cuti bersama tahun 2011 adalah hanya untuk tanggal 29 Agustus 2011, 1 – 2 September 2011 sebagai cuti bersama Idul Fitri 1 Syawal 1432 H, dan tanggal 26 Desember 2011 sebagai cuti bersama Hari Raya Natal.

Sejak siang kami juga santai saja, tidak ada yang meributkan tentang rencana cuti bersama, tidak ada yang membahas akan kemana hari Selasa mendatang yang bertepatan dengan libur Hari Raya Waisak, kecuali bagi yang sudah merencanakan untuk mengambil cuti tahunan di hari Senin, karena bertepatan dengan Harpitnas (Hari Kejepit Nasional) :p.

Namun, menjelang pulang kantor sekitar pukul 16.00 wib, mendadak ada teman kantor yang kasak-kusuk karena baru saja menerima sms isu cuti bersama dari teman di kantor sebelah. Berhubung sejak pagi tidak ada selembar surat/pengumuman/fax-pun yang saya terima, saya hanya menanggapi ringan :

“Ah, cuma isu aja kali. Buktinya kita belum terima surat edaran atau fax apapun tuh sampai jam segini. Kalau nggak ada hitam di atas putih sih mending nggak usah percaya dulu deh..”

Namun, semakin sore gosip cuti bersama itu terdengar makin santer. Saya yang berencana pulang tepat waktu pun tiba-tiba menjadi petugas callcentre dadakan. Wajar kalau semua telepon mengarahnya ke biro kami, karena kebetulan kami di Biro Kepegawaian, jadi mungkin dianggap tahu lebih dulu ketimbang biro lainnya, walaupun ada biro yang seharusnya lebih tahu terlebih dahulu yaitu Biro Tata Usaha dan Hubungan Masyarakat. PING dan bbm pun tak henti-henti saya terima. Saya tetap menginformasikan standar saja :

“Mbak, Mas, Jeng, Dek, Kak, berhubung kita belum dapat informasi apapun soal isu cuti bersama, jadi sementara informasi yang bisa kita berikan Senin tetap masuk saja ya, kalau pun toh nantinya kita jadi libur ya sudah kita pulang. Yang penting kan kita nggak terpotong TK-nya (tunjangan kerja) :p”

Nah, aman kan? Tapi, ternyata setelah menerima berondongan pertanyaan senada itu, saya akhirnya jadi penasaran sendiri. Libur beneran nggak sih hari Senin nanti? Walaupun sudah diinformasikan di internet tentang Keputusan Bersama 3 Menteri : Menpan danΒ  RB, Menteri Agama, dan Menakertrans, SKB Nomor 2/2011/KEP/ Men/V/2011 dan SKB/01/M.Pan-RB/05/2011 yang menyatakan hari Senin tanggal 16 Mei 2011 sebagai Cuti Bersama, tapi tetap saja kalau tidak baca dan terima langsung surat atau arahan dari atasan ya masa sih kita mau ambil keputusan sendiri kalau Senin cuti bersama?

Bersama beberapa gelintir teman yang waktu itu masih belum pulang, kami pun mencari tahu informasi resminya. Sampai akhirnya, menjelang pukul 17.00 wib salah satu Kabag kami menerima telepon dari Deputi Bidang SDM yang telah melakukan konfirmasi ke Sekretaris Menteri PAN & RB yang menyatakan bahwa Senin positif cuti bersama (meskipun konon, suratnya sendiri waktu pengumuman itu di-release ke publik belum ditandatangani, dan baru akan ditandatangani malam harinya. Apa jadinya kalau surat itu ternyata batal ditandatangani padahal informasi sudah tersebar kemana-mana, ya?). Serentak kami berhora-hore dan pasang status serempak di BBM : “Senin cuti bersama! \m/”

Sebenarnya apa yang melandasi adanya cuti bersama dadakan ini juga kurang jelas. Karena kalau sudah terencana dengan matang seharusnya libur tanggal 16 Mei 2011 ini juga diikutkan dalam daftar Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama SKB 3 Menteri yang sudah ditetapkan sejak tahun 2010 dong, bukan dadakan dan serba mepet seperti ini. Dengan adanya kebijakan dadakan kemarin jelas menimbulkan pro dan kontra. Ada yang pro, karena akhirnya bisa merasakan long weekend dengan keluarga, dan bagi yang rumahnya dekat (plus ada dana lebih) bisa mudik dadakan. Tapi tak sedikit pula yang kontra, karena dengan adanya cuti bersama itu jadi merusak rencana kerja yang sudah disusun sebelumnya. Memang tidak semua kantor mengikuti instruksi cuti bersama hari Senin nanti. Banyak kantor yang tetap masuk dan menjalankan aktifitas seperti biasa, tak terkecuali kantor suami saya, dan kantor adik saya yang mengikuti aturan BI :|.

Semoga bisa jadi masukan buat Bapak-bapak diatas sana yang membuat keputusan, ini murni curhatan saya ya, Pak :

“Mohon nanti ke depannya bisa lebih terencana lagi untuk menetapkan kapan kita akan cuti bersama ya, Pak. Supaya kita lebih enak dalam membuat rencana kerja gitu. Biar nggak ada teman yang uring-uringan karena batal sosialisasi, batal rapat terbatas, batal bimbingan teknis, karena sudah mempersiapkan bahan dan materi serta acara secara matang dari jauh-jauh hari sebelumnya. Bukannya saya nggak seneng karena bisa merasakan libur lebih panjang ya Pak, tapi nggak ada untungnya juga sih buat saya,. Jatah cuti tahunan saya tetap terpotong secara otomatis kalau ada cuti bersama, padahal tahun ini saya belum ngambil cuti lho, Pak, mosok sudah berkurang 5 dari jatah 12 hari. Saya rencananya mau ambil cuti panjang buat pulang ke Surabaya karena hanya sempat pulang kalo lebaran aja, Pak. Lha tapi apa asiknya cuti bersama kalau tetap memotong jatah cuti saya.. :|.

Semoga tidak ada lagi kejadian seperti ini ya, Pak. Kan penghitungan Waisak bukan berdasarkan ru’yatul hilal, atau berdasarkan posisi bulan seperti halnya penetapan Hari Raya Idul Fitri yang bisa saja dalam prakteknya berbeda dengan yang tercantum di kalender. Ini Waisaknya nggak kemana-mana lho Pak, sudah fix sejak kalender awal tahun baru dicetak. Nah, kalau hari Senin mendadak libur begini padahal suami saya nggak libur, terus hari Senin saya ngapain, coba? Oh ya, Pak.. coba lihat kalender bulan Juni 2011 deh. Tanggal 3 Juni kan hari kejepit nasional lagi tuh.. rencananya mau ada SKB ajaib yang dadakan lagi kaya sekarang, gitu? Ih, saya mah ogah bener dah ah.. :|”

Nah, apa pendapat kalian tentang cuti bersama dadakan ini?
Selamat Hari Raya Waisak dan have a nice (long) weekend bagi yang merayakan, ya..
πŸ™‚

[devieriana]

 

ilustrasi : http://bisnis-jabar.com

Continue Reading

Rape is not a joke!

Bagi yang sudah sering bermain di ranah social media pasti familiar dengan yang namanya twitter, kan? Tempat dimana kita bisa berceloteh dan menceracau tentang apa saja. Tempat berbagi hal positif sekaligus negatifnya.

Pasti kita juga sudah tidak asing dengan hashtag memetwit atau twit memedi, atau twit horor, atau twit menyeramkan yang kerap ‘disajikan’ tiap malam Jumat, kan? Kisahnya sendiri ada yang berdasarkan pengalaman nyata, atau hanya cerita rekaan belaka. Tapi yang jelas pasti bertema horor. Namun dalam perkembangannya, #memetwit mengalami penyimpangan ide, mungkin maksudnya untuk mengubah timeline malam Jumat menjadi tidak melulu berisi cerita horor ya, sehingga ada yang memodifikasinya dengan memberikan tweet-tweet lucu walaupun dengan tetap menggunakan tema dan tokoh seram.

Tapi, ketika menyimak timeline twitter dengan hashtag #hororgagal beberapa minggu yang lalu kok rasanya itu adalah timeline dengan tema horor komedi yang paling nggak lucu. Apa lucunya kalau yang dijadikan bahan lelucon adalah perkosaan?

“Bang.. Ingatkah kau yang telah memperkosaku? | Perkosa apaan sih Neng, masuk aja enggak! #eaaaa”

“Bang, ingatkah kau telah memperkosaku? | Se-se-setan! | Apa? Jadi gue dulu diperkosa sampai mati??? #hororgagal #barunyadar

“Bang , kau telah memperkosaku | m4caa ce3hhh | iya bang | 0u9hT c3muN9udht eaaa | (?_?’!l) #diperkosa ababil #hororgagal”

Itu adalah sebagian kecil contoh tweet yang dibuat untuk lucu-lucuan, yang awalnya di-tweet oleh seseorang dan lalu menyebar dalam bentuk retweet oleh banyak orang, termasuk oleh para selebtwit yang memiliki ribuan follower pun ikut ‘khilaf’ menge-tweet dengan tema yang sama.

Ok, katakanlah saat itu saya yang sedang tidak berada dalam frekuensi kelucuan yang sama dengan mereka. Atau, mungkin saya yang waktu itu lagi sensi sehingga merasa sangat kurang nyaman menyimak timeline malam itu. Kalau memang perkosaan adalah hal yang lucu dan pantas dijadikan bahan becandaan, kok sampai sekarang saya belum bisa menemukan di mana letak kelucuannya, ya? Bukankah perkosaan itu adalah musibah yang seharusnya disikapi dengan empati, tapi mengapa malah dijadikan bahan lelucon, ya? πŸ˜•

Bersyukurlah, karena keluarga dan orang-orang terdekat kita masih dijaga keselamatannya oleh Tuhan sehingga terhindar dari berbagai tindak kriminal, termasuk salah satunya perkosaan. Tapi coba deh sejenak kita lihat di luar sana, ada berapa banyak perempuan korban perkosaan; rape survivors & sexual abuse yang bukan hanya terluka secara fisik, namun juga psikis, dan bahkan ada yang harus menanggung hasil perkosaan yaitu kehamilan yang tidak dikehendaki. Bagaimana perjuangan mereka untuk tetap survive, dan berusaha melupakan kejadian pahit yang pernah dialaminya? Ibaratnya, merekaΒ  sedang menyimpan sebuah kotak pandora di dalam sebuah ruang rahasia yang tidak ingin mereka buka, tidak ingin mengeluarkan isinya, apalagi memamerkannya sebagai benda istimewa pelengkap mebel. Kebanyakan mereka tidak punya teman untuk bertukar cerita; kalau ada teman pun belum tentu mereka sanggup untuk bercerita; cenderung menjadi sosok yang introvert, dan memilih untuk menyimpan lukanya sendiri. The silent cry!

Seringkali terjadi, walaupun mereka sudah diberikan layanan medis, psikologis, dan pendampingan hukum, namun tetap saja luka dan ingatan tentang kejadian buruk itu tidak bisa serta merta hilang begitu saja bersama waktu. Tak jarang kelebatan kejadian masa lalu yang buruk itu mendadak berlompatan muncul silih berganti. Belum lagi jika ada trigger yang mengingatkan kembali pada kejadian itu. Coba bayangkan, apa yang akan kita lakukan jika yang menjadi korban perkosaan itu adalah orang terdekat kita? Naudzubillah mindzalik, ya. Kalau sampai seperti itu, apa iya kita masih sanggup menggunakan kata perkosaan sebagai bahan becandaan?

Pernah baca tentang kisah nyata siswi SMA di Jepang berusia 17 tahun yang bernama Junko Furuta yang meninggal di tahun 1988 setelah diperkosa beramai-ramai selama 44 hari, disiksa secara biadab, dan akhirnya dimutilasi oleh teman-temannya sendiri? Kalau belum, silakan search di google, baca sendiri kisahnya hingga selesai, dan rasakan feel penderitaan Junko Furuta hingga menjelang ajal. Fakta lain yang juga tak kalah menyakitkan adalah para pembunuh Furuta sekarang adalah manusia-manusia yang bebas dari jeratan hukum dengan alasan kurang adanya bukti kuat yang mendukung bahwa mereka adalah pelakunya. Lagi, setelah membaca kisah sedih itu, masih layakkah perkosaan menjadi bahan lelucon/becandaan?

Jika dulu kita mengenal adagium “mulutmu harimaumu”, sekarang di era social media ada istilah “tweet-mu, harimaumu”, “postinganmu harimaumu”, atau “statusmu, harimaumu”. Sekali saja kita menerbitkan postingan/status/tweet dan lalu menekan tombol publish/enter, seketika itu juga orang lain akan melihat, membaca, mengomentari, dan bahkan menyebarluaskannya sampai dengan batas yang tidak mampu kita tentukan. Mungkin saja kita tidak bermaksud buruk, namun toh tetap saja bisa diterima secara berbeda oleh orang lain. Itulah saat dimana kita sudah kehilangan kendali terhadap efek apa yang akan timbul kemudian. Sekalipun kita berkomunikasi secara tidak langsung di ranah maya, namun perlu diingat bahwa yang kita ajak berkomunikasi, yang membaca statement kita itu juga manusia, yang punya punya perasaan, martabat, dan harga diri. Bukan berarti tidak boleh mengeluarkan pendapat, akan tetapi lebih berhati-hati ketika akan mengeluarkan statement, apalagi yang sifatnya pribadi.

Think before you post!

Jika Anda peduli dengan para korban perkosaan dan sexual abuse, silakan support dan follow @lenteraID. Atau jika berkenan untuk menjadi relawan atau sekedar ingin berbagi cerita silakan mengirim email ke lenteraid[at]gmail[dot]com. Semoga kita bisa saling menguatkan.. πŸ™‚

 

[devieriana]

 

ilustrasi dari sini

Continue Reading

Tentang (Lomba) Mendongeng Itu..

Seperti yang pernah saya ceritakan di sini , tidak pernah terbayangkan bahwa saya akan masuk dalam dunia dongeng mendongeng. Kalaupun akhirnya saya suka mendongeng itu juga karena hanya bermaksud untuk membantu teman saya yang mengelola situs dongeng Kisah Anak, sebelum akhirnya saya diperkenalkan kepada founder situs dongeng format baru Indonesia Bercerita .

Nah, berhubung saya juga mulai jarang membuka twitter, saya jadi kurang update kalau ternyata ada kontes podcast cerita anak yang diselenggarakan oleh Indonesia Bercerita bekerjasama dengan Klik Hati. Kalau saja @IDcerita tidak me-mention saya di twitter dan mengajak saya untuk berpartisipasi di kegiatan kontes podcast cerita anak itu, mungkin saya juga tidak akan ikut :D.

Saya mendaftar tepat di hari terakhir pendaftaran kontes podcast cerita anak, karena hari sebelumnya yang awalnya saya rencanakan akan merekam suara saya, ternyata terbentur oleh kesibukan dan waktu, sehingga baru sempat “memproduksi” dongeng di hari terakhir. Itu pun hanya satu dongeng saja, sementara ada peserta yang lain yang mendaftarkan lebih dari 5 podcast :-o. Ya sudah pasrah saja, tidak ada salahnya untuk dicoba. Kalau nantinya menang ya alhamdulillah, kalau kalah ya sudah biasa, berarti ada yang lebih bagus daripada saya kan? ;). Menurut panitia, penilaian akan terbagi dalam 2 bagian. Penilaian materi oleh dewan juri sebesar 65%, sedangkan sisanya sebanyak 35% ditentukan oleh jumlah vote (likes di facebook dan tweet/RT di twitter). Itu juga ada yang likes-nya mencapai seribu likes, lho! Wow banget yah? :-bd

Kalau penilaian dewan juri sudah pasti sifatnya mutlak, tidak mungkin diganggu gugat atau diintervensi. Sedangkan untuk mendongkrak hasil penilaian via RT dan likes tentu juga tidak bisa dipaksakan. Kalau sekedar mempromosikan dan mengajak teman-teman menyumbangkan likes dan RT sih sudah saya lakukan. Tapi soal nantinya di-likes dan di-RT beneran oleh teman-teman ya tentu kembali lagi ke keikhlasan teman-teman saya dong ya :D. Namanya juga minta tolong, minta dibantu :). Kalau soal ikut lomba, ini tentu bukan yang pertama buat saya, tapi kalau lomba bercerita/mendongeng ini memang yang perdana. Tapi tetap saja, seperti biasa, yang namanya lomba pasti akan ada yang kalah dan menang, yang tentunya harus didika.

Ada hal menarik ketika menunggu waktu pengumuman tiba (jika tidak ada perubahan jadwal pengumuman pemenang tanggal 14 Mei 2011), tiba-tiba Mas Bukik (founder Indonesia Bercerita) menghubungi saya via twitter dan meminta saya agar bersedia diinterview oleh KBR68H Jakarta sebagai Bunda Pencerita dalam rubrik feature. Tentu kesempatan langka ini tidak saya sia-siakan, walaupun masih setengah tidak percaya ya. Karena sejak diinterview oleh majalah TEMPO sekitar tahun 2009 lalu tentang kemunculan berbagai situs vertikal, setelah itu tidak ada aktivitas lain lagi yang menjadikan saya layak untuk diwawancarai ;)). Hingga akhirnya kemarin sore, tepat pukul 15.45 wib datanglah Mbak Dede Riani dari KBR68H ke kantor saya untuk mengadakan interview seputar aktivitas mendongeng. Butuh “perjuangan” untuk mendapatkan hasil rekaman yang maksimal, ya Mbak Dede? Karena interviewnya dilakukan di kantor, jadi berbagai macam suara (noise) ada yang masuk ke rekaman, padahal seharusnya sunyi senyap, sedangkan kalau harus menunggu sampai sesepinya kantor juga tidak mungkin. Tapi syukurlah, tepat pukul 17.00 wib interview selesai, dan Mbak Dede harus melanjutkan perjalanan ke rumah narasumber dongeng yang lain di daerah Kelapa Gading dan Tangerang (kalau tidak salah).

Tadi sore, ternyata Paman Tyo, salah satu dedengkot situs Dagdigdug, yang juga sering komen-komenan di posterous kami masing-masing, ternyata juga memasang link dongeng saya di facebook beliau dan mulai ngobrol dengan komentator lainnya seputar dongeng anak. Ada salah satu komentar yang membuat saya terkagum-kagum, yaitu tentang Sri Mulyani :

“Aulia A Muhammad : “bertahun lalu, aku pernah menelpon Sri Mulyani sekitar jam 08.30 malam, bermaksud wawancara, dan jawaban dia sungguh mengejutkan, “satu jam lagi ya Mas, saya baru saja membacakan dongeng untuk anak saya…”. Sesibuk itu, dan dia wajibkan dirinya! Benarlah kata Dian Sastro, “Ibu yang cerdas akan melahirkan anak yang cerdas juga..” :D. Tapi kata Raam Punjabi, ibu-ibu rumah tangga sudah terlalu lelah untuk berfantasi, meski hanya memodifikasi kisah dari bacaan kecil mereka, dan sinetron adalah jalan keluar dari kelelahan itu :-p”

Bayangkan, untuk orang sesibuk Sri Mulyani ternyata masih menyempatkan diri untuk mendongeng bagi putra/putrinya. Masa kita yang “belum” sesibuk beliau tidak sempat? Ya kalau saya sih wajar, karena belum ada momongan :). Tapi kalau nanti saya sudah punya momongan, insyaallah akan saya tularkan kebiasaan mendongeng kepada putra-putri saya. Seperti saat Papa menyempatkan sedikit waktu sebelum tidur beliau untuk mendongengi saya dan adik-adik saya.

Nah, bagaimana dengan Anda, masih sempatkah Anda meluangkan waktu untuk mendongeng untuk Si Kecil? πŸ˜‰

[devieriana]

 

ilustasi dari sini

Continue Reading

A Whiter Shade of Pale vs Suite No.3 in D Major

Kemarin sore, ketika langit Jakarta masih cerah, jalanan masih lumayan lengang karena belum banyak yang pulang kantor, saya sedang dalam perjalanan menuju pulang ke rumah. Seperti biasa, saya pulang bersama dengan teman yang membawa kendaraan pribadi dan kebetulan rumah kita searah, hanya saja kami berpisah di Jl. Gatot Subroto karena saya harus berbelok ke arah Mampang.

Seperti biasa, saya melanjutkan perjalanan yang tinggal sejengkal itu dengan naik Kopaja P-20. Namun kali ini tak seperti biasanya, bus yang hampir selalu penuh sesak penumpang itu kemarin hanya ada beberapa penumpang saja dengan sepasang pengamen didalamnya. Kalau biasanya kita akrab dengan tampilan pengamen yang tampil dengan gitar, kali ini sedikit berbeda. Yang satu (berambut cepak) memang masih menggunakan gitar sebagai alat musik andalan, sedangkan yang satu lagi (berambut gimbal rasta sepanjang pinggang dengan lengan penuh tato) memainkan biola dengan penuh penghayatan. Tampilan keduanya memang terkesan kumuh. Iyalah, mereka mungkin sudah seharian di jalanan, berpindah dari bus yang satu ke bus lainnya, jadi ya wajar kalau penampilannya sudah kusut dan kumal.

Ketika saya naik, mereka tengah memainkan sebuah lagu yang “tak biasa”, dan seketika membuat penilaian saya terhadap mereka langsung berubah. Seberubah apa, sih? Cuma duet pengamen yang memainkan gitar dan biola saja, kan? Entah ya, saya selalu memberikan poin plus setiap melihat orang yang mahir meminkan biola. Buat saya biola itu alat musik “ekslusif”, yang tidak semua orang mampu membawakannya. Mama saya pernah cerita kalau dulu, jaman Mama saya masih remaja, suka melantai/dansa dengan diiringi lagu dansa “wajib” yang berjudul “A Whiter Shade of Pale” (dipopulerkan oleh Procul Harun bukan Procol Harum). Nah, mereka berdua ini tengah memainkan lagu “A Whiter Shade of Pale” itu dengan versi mereka :-bd.

Biasanya, para pengamen kan koleksi lagunya ya dari itu ke itu, memainkan “chart Top 40-nya” Indonesia. Kalau nggak lagunya Ungu, ya Wali, Kangen Band, ST12, atau Armada, dan sejenisnya. Apalagi kalau naik Kopaja P-57 dari arah Cililitan, sepanjang jalan bisa gonta-ganti pengamen. Ada sih salah satunya favorit saya di Kopaja P-57. Seorang bocah perempuan yang usianya sekitar 5-6 tahunan, suaranya melengking tinggi (tapi dia sudah tahu nada lho), dan yang lebih menarik adalah ekspresi dan gayanya sewaktu perform di dalam bus. Total sekali. Di sebelah tempat duduk sopir bis biasanya ada space yang agak menonjol (tempat mesin), nah bagi dia itulah panggungnya. Bocah berperawakan kecil dan berkulit legam itu pun mulai bergaya dengan diiringi petikan gitar kakak pengamen seniornya. Kalau dia sudah mulai menyanyi dengan urat-urat yang bertonjolan di leher itu, tinggal kami yang senyum-senyum geli melihat aksinya. Oh ya, suaranya lumayan bagus lho.

Ketika saya masih di Surabaya dan selalu naik bus menuju kantor, hampir dipastikan sering bertemu dengan beberapa personil Klanthing yang waktu itu masih belum dikenal seperti sekarang. Kalau mereka menyanyi pasti menghibur, disela-sela permainan mereka pasti ada celetukan-celetukan khas Suroboyo yang sering mengundang tawa. Kalau kitanya juga terhibur pasti tidak akan sayang untuk memberikan tips lebih buat mereka, bukan? πŸ™‚

Kembali lagi ke pengamen “A Whiter Shade of Pale” tadi ya. Buat saya penampilan mereka istimewa, karena mereka berani tampil beda daripada pengamen-pengamen lainnya. Pilihan lagunya pun bukan yang pasaran dan tidak banyak orang yang kenal. Lagu nostalgia jaman orangtua saya masih remaja gitu lho. Meskipun pernah dibuat versi remake-nya oleh Annie Lennox dan Sarah Brightman.

Yang tak kalah menakjubkan, adalah ketika mereka masuk lagu kedua, membawakan lagu klasiknya Johann Sebastian Bach yang intronya mirip dengan A Whiter Shade of Pale yang tadi, berjudul Suite No.3 in D Major . Saya sempat bengong. Apa?! Pengamen yang biasanya membawakan lagu-lagu Indonesia populer, mampu membawakan lagu klasik macam Suite No.3 in D Major dengan baik? Wow! Mungkin penumpang lain tidak mengenal itu lagu siapa, judulnya apa, masih dalam satu lagu atau sudah ganti lagu karena intro kedua lagu itu memang mirip dan kebetulan juga dibawakan secara medley oleh mereka. Saya yang berdiri persis dekat kedua pengamen itu sampai tak mampu berkata-kata. Mereka memang luar biasa!

Usai membawakan kedua lagu tersebut, mereka pun mengedarkan bekas kantong permen, yang tak perlu memakan waktu lama sudah terisi beberapa lembar ribuan. Ya, sepertinya semua penumpang merasa terhibur dengan penampilan mereka berdua.

Oh ya, seberapa istimewanya kedua pengamen itu, kok sampai saya buatkan postingan khusus di blog seperti ini? Mungkin bagi sebagian orang menilai, “Ah, biasa aja kali, gue juga sering ketemu pengamen yang bisa main biola. Ya emang sih dengan biola penampilan mereka terlihat jadi lebih istimewa karena terlihat nggak biasa, tapi berhubung sudah keseringan jadi ya biasa aja. Trus, kenapa?”

Ada hal istimewa yang lebih dari sekedar permainan mereka :

Mereka telah mengantarkan ingatan saya kepada kenangan orangtua saya, dan satu lagi.. jangan pernah menilai seseorang dari penampilan luarnya saja. Penampilan mereka boleh saja kumal, tapi taste dan bakat musikalitas mereka memang luar biasa! πŸ™‚

Have a nice weekend, Guys!

[devieriana]

 

ilustrasi : I Wanna Be A Musician

Continue Reading

Kaki King : Guitar Goddess

Sebenarnya saya pernah menulis tentang Kaki King di blog saya sebelumnya beberapa tahun yang lalu. Tapi rasanya tak apalah jika saya repost disini πŸ˜‰

Pernah dengar nama gitaris perempuan asal Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, bernama Kaki King? Nama yang unik ya? Terlahir dengan nama Katherine Elizabeth King, tanggal 24 Agustus 1979. Nama yang cantik, secantik orangnya ;). Jarang-jarang kan ada gitaris perempuan yang cantik, yang tak hanya mahir memainkan gitar, namun mahir pula mengolah musik dengan menggunakan teknik bermain gitar yang juga unik. Orang mengenal dia dengan julukan dewanya slapping guitar atau ada juga yang menyebutnya dengan tapping guitar.

Pertama kali saya jatuh hati dengan penampilan cool Kaki King adalah ketika menonton film musikal “August Rush” (kebetulan saya adalah penggemar film-film musikal)Β  sekitar 5 tahun yang lalu. Iya, masih ingat kan dengan kisah seorang anak yang terlahir tanpa tahu siapa ayahnya, dan lalu bertemu dengan ayahnya kembali secara tidak sengaja ketika dia tengah ngamen di pinggir jalan, dan ternyata lawan duet main gitarnya tak lain adalah ayah kandungnya sendiri. Demi untuk mengetahui siapa orang yang menggarap music score film August Rush itu saya bela-belain menunggu hingga filmnya usai dan membaca satu persatu personil yang bekerja di belakang layar :D.

Kalau ada artis yang main gitar saja mungkin sudah banyak dan biasa. Tapi kalau mainnya dengan menggunakan cara tertentu yang tidak biasa, baru luar biasa. Tapi apa iya cuma sekedar tepuk-tepuk senar gitar dan lalu terkenal? Tentu saja tidak sebodoh itu dong ;)). Ya, kalau sekedar tepuk-tepuk gitar terus jadi terkenal sih saya juga bisa. Lah, tapi nanti lama-lama gitar jadi alat musik pukul, dong? ;)). Ada beberapa teknik bermain gitar yang dia coba pakai dan populerkan, tapi ternyata salah satu yang berhasil diterima oleh penggemar musik dunia dan menjadikannya lebih terkenal adalah dengan cara slapping guitar atau tapping guitar. Kalau setahu saya gitaris pria yang juga sering menggunakan teknik yang sama adalah Andy McKee (silakan cari sendiri video klipnya di youtube ya) πŸ™‚

Tak heran ketika pada bulan Februari 2006, majalah Rolling Stone memasukkannya dalam daftar “The New Guitar Gods”. Prestasi yang sangat menakjubkan, mengingat saat itu masih jarang ada artis perempuan dengan permainan gitar yang unik, apalagi saat itu dia masih berusia 26 tahun. Dia bukan hanya menangani project August Rush saja, namun dia juga menggarap music score untuk beberapa film televisi. Dia, bersama Eddie Vedder dan Michael Brooks juga pernah dinominasikan dalam Golden Globe Award untuk kategori Best Original Score, lho. Keren yah..

Atau coba simak penampilan cool-nya di video klip Playing With Pink Noise diΒ sini . Keren yah? It is more than just cool, she is pretty retarded! She is beyond amazing!

:-bd

[devieriana]

 

ilustrasi : sini

Continue Reading
1 5 6 7 8 9 11