Do you love me too?

 

love

 

Lucu nih, hari ini baca posting blog seorang teman yang cerita kejadian masa lalu yang temanya tentang “mengungkapkan perasaan kepada lawan jenis”. Pantas ga sih, wajar ga sih seorang perempuan menyatakan perasaannya lebih dulu a.k.a nembak ke lawan jenisnya? Secara ya, itu masih dianggap hal yang kurang biasa beerlaku di masyarakat kita.. halaah.. masyarakat.. 😀

 

Ya menurut saya sih masih wajar-wajar aja tuh, buktinya banyak kok yang bilang suka duluan sama cowoknya. Banyak juga yang akhirnya berujung bahagia (halaah..). Ya masalah diterima/gak ya itu pasti ada lah ya.. namanya juga resiko. Analoginya, ketika kita melamar pekerjaan, pasti kan belum tentu diterima kalau kita dianggap belum memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan. Nah, sama halnya ketika seorang pria/wanita menyatakan perasaannya ke wanita/pria idamannya ya pasti harus siap menghadapi resiko penolakan dari “objek penembakan” itu kalau kebetulan si objek ternyata ga punya rasa yang sama. Cuman tingkat sakit hatinya emang bisa beda-beda, tergantung seberapa besar rasa yang dipendam, tingginya harapan, dan mental yang dimiliki si pria/wanita. Kalau misal di tolak secara halus dengan argumentasi yang tepat kenapa sampai menolak, mungkin sakit hatinya beda dengan ketika mendapatkan penolakan secara , “HAH, APAA? lu suka ama gue? gila lo ya, berani-beraninya lu nembak gue. Emang siapa lo? Ngaca dong.. ngacaa..!!”, hehehe.. Ini sebenernya subyek sama obyeknya saling kenal gak sih, kok sampai tanya “siapa elo?”. Kenalan dulu deh kayanya 😀 .  Ya maksud saya, kalau nolaknya kasar kan juga udah dapetnya sakit hati, plus dendam kesumat bisa-bisa berujung santet nih.. 😀

 

Kalau yang menyatakan perasaan ini seorang pria, wajar deh. Tapi kalau yang menyatakan ini seorang wanita, yang notabene mentalnya ga sekuat pria (syukur-syukur kalau wanitanya bermental baja, bermuka tembok, dan berhati besi..  Ini orang apa bunker sih sebenernya?). Pria juga banyak yang gak kuat mental kok kalau ditolak sih sebenernya :p . Nah kalau wanita yang nembak, trus ternyata ditolak, stress, terus mulai nyanyi-nyanyi sendiri, ketawa-ketawa sendiri gimana? Makanya itu, saya bilang melakukan “penembakan” itu butuh waktu yang tepat, mental yang cukup kuat, hati yang lapang ditambah ikhlas kuadrat pangkat dua. Take it easy ajalah, namanya juga perasaan, ga bisa dipaksa. Kalau memang suka ya diomongin, toh gak bakalan masuk neraka kok. Soal ditolak mah anggap aja biasa, manusiawilah. Gak mungkin kan kita harus maksa-maksa orang mesti terima cinta kita padahal dianya biasa aja sama kita. Emang kalau kita di posisi itu nyaman?

 

Mungkin yang perlu diolah adalah cara penolakannya kali ya. Tidak perlu malu jika pada akhirnya jawaban yang kita peroleh tidak sesuai harapan. Tapi seandainya kita di posisi sebagai “objek penembakan” jangan sekali-sekali menunjukkan arogansi & besar kepala yang membuat si “penembak” merasa menyesal telah “menembak” sasaran yang kurang tepat & ternyata tak patut diberi hati..  🙂

 

 

[devieriana]

Continue Reading