James Cameron : Avatar

 

Avatar, salah satu film “sejuta umat” yang saat ini sedang menjadi box office, membuat saya juga harus rela mengantri di studio XXI di Plaza Semanggi kemarin sore. Awalnya saya nggak begitu tertarik dengan film ini. Lanataran saya juga sebenarnya bukan yang movie freak banget yang setiap ada keluaran film terbaru pasti harus nonton. Malah saya pikir film Avatar yang kartun itu, yang suka tayang di TV :mrgreen:. Ternyata Avatar yang ini beda.. *tepok jidat*.

Film yang dibintangi oleh Sam Worthington, Zoe Saldana, Sigourney Weaver, Michelle Rodriguez, Stephen Lang & Joel David Moore ini disutradarai oleh James Cameron. Pasti masih ingat juga dengan film Titanic yang juga dibesut oleh James Cameron 12 tahun yang lalu. Ngomong-ngomong tentang Sigourney Weaver, kenapa dia selalu bermain dengan film-film bertemakan alien ya? Film ini dibuat dengan spesial effect yang dahsyat, hidup & digarap secara detail banget. Durasinya sendiri termasuk panjang, sekitar 2.5 jam. Jadi buat yang takut pulang kemaleman, mending pilih jam yang agak siang atau sore kali ya 🙂 .

Film Avatar ini mengambil setting masa depan, tepatnya di tahun 2154 di sebuah planet seukuran bumi yang bernama Pandora. Manusia bumi “menjajah” planet ini untuk menambang sumber daya alam mineral yang sangat mahal, disebut Unobtanium. Jake Sully (Sam Worthington) adalah seorang mantan angkatan laut cacat yang terpilih untuk berpartisipasi dalam program Avatar, program ini memungkinkannya dia bisa berjalan kembali. Pandora, sebuah planet yang mirip bumi yang didalamnya tumbuh hutan yang subur & indah, namun berisi kehidupan yang masih primitif. Jangan membayangkan kehidupan layaknya kehidupan di bumi dengan ukuran makhluk hidup yang normal seperti manusia, hidup dengan oksigen, tampilan & ukuran flora & fauna yang “wajar”, atau gunung yang sewajarnya menancap di tanah. Ukuran mereka serba raksasa, baik flora, fauna, orang-orangnya, gunung & tebingnyapun “terapung” di awang-awang. Jangan pula mengira mereka yang akan disebut alien, justru manusialah yang disini jadi alien. Iyalah kan manusia yang “numpang” mendarat & mengadakan penelitian disana.

Suku yang tinggal di planet Pandora bernama suku Na’vi, makhluk mirip manusia primitif Indian yang berkulit biru. Mereka hidup alami layaknya manusia zaman dulu yang belum tersentuh peradaban, kerjaannya berburu (masih menggunakan panah dan pisau), berambut panjang dikepang, berekor dan setengah telanjang. Mereka tinggal di bawah akar pohon raksasa & menyembah Eywa (semacam dewa-dewa & roh suci).

Berhubung planet indah itu tidak ada kandungan oksigen sehingga manusia tentu tidak bisa hidup dengan semena-mena & meneliti seenak udel disana, maka dibentuklah Avatar, sebutan untuk Na’vi buatan (hibrida) & tanpa nyawa yang dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan manusia dengan menggabungkan DNA Na’vi original dengan DNA manusia. Salah satu yang ditugaskan untuk “mengisi nyawa” Avatar tersebut adalah Jack Sully. Tentu saja dengan kendali dari ilmuwan manusia. Caranya bagaimana? Tinggal tidur telentang di sebuah kapsul yang diatur dengan tombol-tombol yang bisa menggabungkan otak avatar dengan manusianya.

Apakah setelah semua serba terukur & terencana lalu semua berjalan dengan lancar? Tentu tidak. Butuh banyak penyesuaian untuk bisa diterima menjadi seorang Na’vi, mengingat Jack dkk kan Na’vi “jadi-jadian”. Bukan hanya menyesuaikan dengan lingkungan alamnya yang serba raksasa tapi juga dengan kehidupan suku asli yang ada disana. Pokoknya ribet. Setelah menjalani proses kehidupan yang panjang, berganti-ganti & rumit (manusia-avatar-manusia-avatar) akhirnya Jack bisa juga jatuh cinta dengan anak kepala suku Na’vi yang tiap harinya mentraining dia menjadi seorang Na’vi. Ternyata di planet Pandora mengenal juga istilah “witing tresna jalaran saka kulina” , suka karena terbiasa.. :mrgreen:. Kirain cuma manusia bumi aja 😀

Klimaks cerita ini adalah ketika para ilmuwan dengan memanfaatkan pengetahuan yang didapat melalui Avatar Jake, mulai berencana menyerang daerah-daerah pertahanan para Na’vi dengan teknologi canggih & kekuatan militer penuh. Disinilah pergulatan batin terjadi dalam diri Jake. Dia yang awalnya hanya ditugaskan untuk meneliti, masuk dalam kehidupan Na’vi akhirnya menyadari adanya kedekatan emosional antara dirinya dengan mereka. Jake ingin menyelamatkan planet Pandora tapi juga sekaligus misi kelompoknya berhasil. Namun disini  Jake tetap harus memilih. Tidak bisa menggabungkan 2 misi sekaligus & berhasil dua-duanya. Melihat misi kelompoknya yang nyata-nyata ingin mengambil keuntungan mineral di planet ini dengan merusak habitat makhluk-makhluk yang tinggal didalamnya memaksa Jake harus berbalik arah menyerang rasnya sendiri. Jake tidak ingin planet tersebut beserta isinya luluh lantak karena project ilmuwan manusia. Jake yang awalnya ditolak keberadaannya oleh suku Na’vi lantaran ketahuan dia aslinya seorang manusia yang nyawanya dipinjam dalam bentuk Na’vi hibrida akhirnya dipercaya menjadi pemimpin suku tersebut untuk melawan serangan manusia bumi karena ternyata dia bisa menaklukkan Toruk Machto (burung raksasa yang hanya bisa ditaklukkan oleh 5 orang Na’vi saja).

Pesan moral yang (mungkin) ingin disampaikan di film ini  :

1. Keserakahan tidak akan membawa kehidupan jadi lebih baik, bahkan seringkali keserakahan mengakibatkan korban di pihak orang lain.

2. Ketika si Jake berhasil menaklukkan Toruk Machto yang paling ditakuti bangsa Na’vi ingin mengisyaratkan bahwa sebenarnya kita bisa menaklukkan hal-hal besar & luar biasa, tergantung dari keberanian & kemauan diri kita sendiri.

3. Di setiap kelemahan pasti tersimpan kekuatan, tinggal bagaimana kita mengolah kelebihan & kekurangan itu menjadi sebuah kombinasi unik pada masing-masing pribadi.

Selamat menonton 🙂

 

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=aVdO-cx-McA&hl=en_US&fs=1&rel=0]

 

gambar dari sini

 

 

Continue Reading

He’s Just Not That Into You

hes_just_not_that_into_you

Berbeda dengan film-film sebelumnya yang juga diangkat dari sebuah novel (chicklit) macam Confession of A Shopaholic & Devils Wears Prada film ini adalah hasil adaptasi dari buku self-help yang ditulis oleh Greg Bendhart dan Liz Tuccillo dengan judul yang sama yaitu He’s Just Not That Into You. Namun sebenarnya buku tips hubungan dengan judul yang sama ini mendapatkan namanya dari dialog di salah satu episode serial TV Sex and the City.

Sebuah film yang bagus untuk perempuan yang (katanya) suka mencari-cari alasan untuk tetap mempertahankan hubungan dengan pria, bahkan saat berada di posisi yang kurang menguntungkan & menderita. Padahal si prianya sendiri malas memberikan penjelasan kenapa melakukan tindakan yang sudah menyakiti hati kita. Mungkin film yang menelanjangi realita yang terjadi di sekitar kita ini bisa jadi semacam “wake up call” ketika kita menyadari bahwa hubungan kita sudah tidak berjalan harmonis & menyenangkan.

Melihat banyaknya bintang tenar yang bermain dalam film ini tidak mungkin hanya menjadikan mereka sebagai cameo semata kan? Pasti mereka akan bermain sesuai dengan bagian & porsi cerita masing-masing. Ada Jennifer Connelly, Ginnifer Goodwin, Justin Long, Bradley Cooper, Scarlett Johannson, Jennifer Aniston, Ben Affleck, Drew Barrymore, Kevin Connolly.  Film ini menceritakan tentang  9 orang yang memiliki cerita love-life berbeda, but somehow connected to each other. Namun secara garis besar cerita dalam film ini terbagi dalam tiga kisah cinta.

Pertama, Beth dan Neil adalah pasangan yang sudah tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan selama tujuh tahun. Sebagai wanita pada umunya, Beth juga pasti menginginkan kejelasan status dalam hubungan mereka yang sudah
dikatakan lebih dari cukup untuk sebuah hubungan “pengenalan calon pasangan hidup”. Beth mulai khawatir kenapa Neil tak kunjung melamarnya. Namun sayangnya Neil tidak percaya pada konsep pernikahan dan merasa bahwa asalkan mereka bisa tinggal bersama, saling mengerti dan saling mencintai, itu sudah cukup. Lantas apakah itu juga cukup bagi Beth?

Berikutnya adalah Ada Janine & Ben, pasangan yang not-so-happily married. Ketika Ben mulai selingkuh dengan Anna, seorang penyanyi & instruktur yoga yang ditemuinya saat berbelanja, Ben menyadari bahwa ia sebenarnya tidak siap untuk menikah. Tanpa diketahui oleh Ben, Anna juga tengah menjalin hubungan tanpa status dengan seorang pria lain bernama Conor. Conor mencintai Anna – tetapi Anna hanya menganggapnya sebagai teman baik. Ketika kita menjadi Janine, kita tidak bisa menyalahkan Anna yang percaya dengan keyakinan bahwa cinta sejati atau jodoh bisa datang kapan saja termasuk ketika seseorang sudah menikah. Sementara ketika kita di posisi Anna, kita juga tidak bisa menyalahkan Janine karena dia adalah istri resmi dari Ben meskipun perkawinan mereka sebenarnya sudah “dingin”. Ben disini tidak dihitung karena dia laki laki. Dialah yang membuat buku ini tercipta.

Terakhir adalah Gigi dan Alex. Gigi adalah gadis yang tidak pernah jatuh cinta. Berulangkali ditolak & dipermalukan oleh para pria, tetapi setiap kali juga ia berhasil bangkit dan kembali berjuang mencari cinta yang baru. Alex, sahabat Conor yang juga seorang bartender,  merasa kasihan kepada Gigi dan berusaha memberinya tips-tips mengenai perasaan & bahasa tubuh pria saat berhubungan dengan wanita. Tanpa sadar, Gigi yang pertama menganggap Alex sebagai teman curhat kini mulai jatuh hati padanya. Tapi apakah Alex juga merasakan hal yang sama?

He’s Just Not That Into You tergolong film komedi romantis yang durasinya tergolong  panjang. Total waktu putarnya hampir 130 menit. Tapi bagus kok, karena sang sutradara (Ken Kwapis) tidak hanya melulu berkutat pada pergantian karakter tapi juga memberi semua skenario waktu yang cukup bagi masing-masing tokoh untuk berkembang secara proporsional sehingga penontonnya bisa bersimpati dengan konflik yang mereka alami.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=NCn7WYYaCAc&hl=en_US&fs=1&rel=0]

Pesan beberapa moral yang saya tangkap disini adalah  :
1. Kebahagiaan bukan hanya tergantung pada status apakah kita “menikah” atau “single”. Tapi semua kembali ke hati & pikiran. Happiness is entirely a state of mind.

2. Pria dan wanita ditakdirkan untuk memiliki “alam” yang berbeda. Walaupun pria sudah mencari berbagai macam cara untuk bisa memahami wanita namun akhirnya tetap saja mereka tak pernah bisa benar-benar mengerti wanita dan begitu pula sebaliknya.

2. Jodoh adalah masalah waktu, someday you will meet a wonderful guy and get your very own happy ending. Every movie we see, every story we’re told implores us to wait for it. Saat seorang memang ditakdirkan untuk kita, dia akan datang dengan sendirinya tanpa diundang & kita rencanakan.

4. Maybe some women aren’t meant to be tamed. Maybe they need to run free until they find someone just as wild to run with them (Carrie Bradshaw)

Hmm, satu hal yang juga menarik disini.. Ada salah satu lagu favorit saya yang jadi soundtrack di film ini  : If I Never See Your Face Again – Maroon 5 😀

So, lets enjoy the movie guys..  🙂

[devieriana]

sumber gambar dari sini

Continue Reading

Final Destination 4 : Death Trip

Akhirnya kesampaian juga nonton sub horor movie yang sebenarnya kategorinya bukan “aku banget”, Final Destination. Awalnya gara-gara pas nonton The Proposal kan salah satu trailer filmnya Final Destination ini. Dengan sok pengen nonton saya bilang ke suami, “wah gila keren, kayanya kita musti nonton nih film “. Suami cuma ngeliatin gak percaya, “yakin mo nonton film thriller kaya begitu? Bukannya kamu spesialis rom-com & drama?”. Saya (lagi-lagi) dengan sok yakin bilang, “yeee, masa musti lihat yang jenisnya begitu terus. Sekali-kali ganti kategori bolehlah. Kayanya spesial efeknya dahsyat tuh..”. Suami manggut-manggut sambil senyum-senyum gak yakin karena dia tahu saya orangnya ngerian & penakut, hihihihihi. “Ok, we’ll see then”, sahutnya.

Nah akhirnya, kesempatan itu ada. Selesai bukber kemarin langsung meluncur ke arah Plangi buat nonton Final Destinaation. Berhubung jam mainnya baru pukul 21.10 sedangkan kami beli tiketnya pukul 19.15 makanya kita thawaf dulu keliling Plangi sampai gempor baru nangkring di bioskop 😀 . Film ini dibuat dengan 2 versi, 3D & 2D. Tapi berhubung yang versi 3D nggak available di semua bioskop jadi ya sudah kita nonton yang versi 2D-nya di bioskop terdekat. Nggak masalah sih, yang penting kan menikmati filmnya. Bioskop lumayan rame (hyaiyalah, kalo sepi mah kuburan), maksud saya untuk pertunjukan ini hampir semua seat terisi penuh sampai bangku A. Utamanya sih datang berombongan karena habis bukber juga lanjut nonton. Kayanya sih gitu ya. Hmm, ternyata banyak juga yang suka nonton film thriller kaya begini ya (atau karena sayanya yang sengaja selalu menghindari nonton film serem macam ini ya?).

Film ini diawali dari arena balap mobil dimana 2 pasang remaja : Nick, Lori, Janet & Hunt berkumpul untuk menyaksikan balap mobil maut. Awalnya semua berjalan lancar sampai suatu waktu Nick merasakan aroma kematian di sekitar mereka. Selintas Nick diperlihatkan sebuah kejadian kecelakaan dahsyat yang akan merenggut nyawa semua orang di tempat itu. Antara percaya & tidak Nick menyampaikan firasat itu ke teman-temannya. Tentu saja tidak smeudah itu mereka percaya karena memang sebelumnya Nick tidak punya kemampuan melihat kejadian yang akan datang. Sampai ketika Nick bisa menebak semua kejadian satu persatu secara detail & menyarankan semua orang keluar dari area penonton karena akan ada kejadian kecelakaan dahsyat yang akan menimpa semua orang disitu diabaikan.. BOOM!! Semuanya terlambat.. semua penonton tewas dalam kecelakaan mobil balap yang jungkir balik saling bertabrakan & rubuhnya tribun penonton. Hanya orang-orang yang mau ikut bersama Nick keluar arena saja yang selamat.

Ternyata itu baru awal dari serentetan kejadian kematian yang akan terjadi. Sang kematian mengincar korbannya berdasarkan urutan tiket masuk & urutan tempat duduk. Susah payah Nick berusaha memperingatkan orang-orang terdekatnya untuk berhati-hati, namun semua tak mengindahkan peringatannya. Walapun orang-orang termasuk 2 sahabatnya yang lain menganggap Nick sudah mulai sinting & terlalu paranoid dengan kejadian yang belum tentu terjadi itu namun Nick & Lori keukeuh berusaha menghentikan rantai kematian dengan berusaha menyelamatkan nyawa orang-orang yang dianggap akan jadi sasaran berikutnya. Dalam penglihatannya, sepandai apapun mereka berusaha mencurangi maut cepat atau lambat semuanya akan terenggut satu persatu. Yang membedakan hanya waktu, kapan mereka akan mati. Itu saja.

Sepanjang film ketegangan sangat terasa, terutama buat saya (bisa ditebak kan? Yaah, you know me well-lah yaa.. 😉  ). Yang lain kayanya santai-santai aja nontonnya. Saya malah sibuk sendiri, yang nutupin matalah, jejeritan gak jelas, remas-remas tas, untung gak sampai salah pegang tangan mas-mas sebelah kanan saya *digampar pake gilesan* (mungkin dia juga ngebatin : d’ooh mbak satu ini ribut bener sih!”, hahaha..). Sampai pas lagi tegang-tegangnya nonton adegan berdarah-darah & gencet-gencetan, mendadak.. PET! Filmnya berhenti, layarnya gelap. Mati! Innalilahii.. Tepat pas lagi tegang-tegangnya.. Bagus kan? *gemes*. Langsung moment itu saya pakai buat napas (d’ooh.. kok kesannya selama pertunjukan saya nggak napas ya..). Untung semua penontonnya sopan & sabar menunggu sampai filmnya nyambung lagi. Woalah, masa iya tadi itu petugasnya lagi ganti CD atau dibalik dulu ganti side B? (Hwee.. emang lu pikir kaset lagu?  😀 ). Gak tahu juga kenapa saya lantas jadi parno setelah liat film ini ya. Pas pulang nonton trus liat orang bawa las benerin atap mall, parno (takut atap mallnya ambruk, atau alat lasnya jatuh). Liat pekerja ngebenerin tegel dengan kabel menjuntai sana-sini, parno (takut tiba-tiba nyetrum). Pokoknya jadi parno-parno bodoh & nggak jelas gitulah. Ya semoga hanya efek sementara setelah lihat film horor aja ya. Moga-moga sih gak keterusanlah :D. Maafin ya, noraak.. :mrgreen:

Ada beberapa pesan moral yang saya ambil dari film ini, menyadarkan kita bahwa kematian tidak datang tiba-tiba. Ada satu proses panjang menuju titik ini. Ada sebuah skenario hingga seorang manusia menemui ajalnya. Buat mereka yang religius, ini disebut takdir sementara yang lebih memilih jalan logika mungkin melihatnya sebagai sebuah proses alami. Ketika maut sudah diambang nyawa tak ada seorangpun yang bisa menyelamatkan diri. Selagi masih ada kesempatan, hidup, & umur kenapa tidak kita manfaatkan sebaik-baiknya? Boleh dibilang Final Destination ini semacam film tentang safety. Artinya, sekecil apapun kecerobohan atau ketidakhati-hatian kita, bisa jadi akan membahayakan nyawa kita atau orang lain. Kita tidak pernah tahu sampai kapan kita akan hidup di dunia ini kan? So, be careful, gunakan waktu & kesempatan sebaik-baiknya guys 🙂

[devieriana]

Continue Reading

The Proposal – Here Comes The Bribe

Ahaa.. akhirnya semalam keturutan nonton film komedi romantis The Proposal. A good romantic comedy only has to tick two boxes : depict two people falling in love and be funny about it. Simple as that. Film genre komedi romantis yang bisa membuat saya terpingkal-pingkal sekaligus terharu sepanjang film ini diputar. Nangis lagi? ahahay, you know me well-lah 😉 . Kegiatan dadakan di akhir minggu yang sama sekali di luar rencana lantaran tujuan utama ke Plangi hanya buat buka puasa, akhirnya “tarawih” di mall juga. Begitu masuk 21 langsung “jatuh hati” sama posternya The Proposal dimana Sandra Bullock berlutut meminang Ryan Reynolds dengan sebuah cincin di kedua belah tangannya. Sandra Bullock,  tampak begitu prima di usianya yang ke 44 dengan stelan jas pas badan & rok pensil membalut tubuhnya yang sangat langsing. Siapa yang mengira kalau usianya sudah mendekati setengah abad kalau melihat begitu sempurnanya penampilan dia di film ini?

Sebenarnya ada banyak film yang mengambil tema tentang pernikahan pura pura ala Hollywood. Contohnya What Happen In Las Vegas dan While You Were Sleeping. Dan sekarang, The Proposal. Film ini diperankan oleh Sandra Bullock dan Ryan Reynolds. Digarap oleh sineas wanita bertangan dingin, Anne Fletcher dengan porsi drama komedi yang ringan. The Proposal mengisahkan kehidupan Margareth Tate (Sandra Bullock) , seorang executive editor in chief  sebuah perusahaan penerbitan buku – Colden Books. Seorang perempuan mandiri, cekatan sekaligus keras hati. Karena sikapnya yang suka semena-mena itu dia dibenci oleh hampir semua karyawan. Termasuk asistennya yang charming yaitu Andrew Paxton (Ryan Reynolds). Adegan awal di film ini sempat mengingatkan saya pada adegan awal The Devil Wears Prada : seorang asisten editor in chief  yang bangun kesiangan & harus berlari-lari ke sebuah kedai kopi untuk memesan kopi buat bossnya & dirinya sendiri.

Karena sesuatu hal, Margaret terancam dideportasi ke Canada karena masalah visa. Tentu saja itu membuat dia panik dan berusaha mencari jalan keluarnya. Di tengah-tengah kekalutannya ini mendadak dia menemukan ide untuk mendeklarasikan pertunangan (secara sepihak) dengan asisten pribadinya, Andrew, yang kebetulan seorang warga Amerika. Kaget? Jelas, karena masalahnya mereka ini tidak pernah saling cinta. Hubungan mereka hanya sebatas profesionalisme bos – asisten, tanpa melibatkan rasa samasekali. Tentu saja bukan hal mudah, utamanya bagi Andrew untuk langsung menyetujui “pertunangan” dadakan ini. Jikalau pun akhirnya Andrew setuju terlibat dalam sandiwara ini namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh Margareth, termasuk salah stunya harus berlutut untuk melamarnya. Lantas apakah semudah itu mereka menikah? Tentu tidak, ditengah keraguan pihak dinas imigrasi yang sangat menyangsikan “cerita cinta” mereka berdua yang terkesan mendadak & pasti maksud tertentu mengingat masalah visa Margareth Tate yang bermasalah itu, mereka harus sibuk bersandiwara untuk meyakinkan semua orang bahwa, yes they’re really couple.

Cerita dibangun ketika keduanya harus pergi ke Sitka – Alaska untuk menemui kedua orangtua Andrew sekaligus merayakan ultah neneknya yang ke 90. Disini Margareth menemukan kenyataan bahwa keluarga Paxton adalah keluarga kaya dengan bisnis yang berderet-deret. Menarik, saat bagaimana Andrew & Margareth harus bersandiwara & menceritakan kisah cinta mereka di depan semua keluarga & tetangga. Ada banyak kejadian lucu sekaligus mengharukan yang berawal dari Alaska ini. Utamanya ketika mereka diminta harus menikah secepatnya oleh keluarga Andrew. Lantas akan semudah itukah mereka menjalankan pernikahan? Toh hanya sebatas “pernikahan berlatar belakang bisnis” ini (mereka sepakat akan bercerai beberapa tahun kemudian setelah masalah visa ini mereda). Dilematis. Satu sisi yang bertabrakan dengan sisi lainnya. Apalagi kalau bukan hati nurani. Margareth yang akhirnya menyadari bahwa dia sesungguhnya tidak bisa memaksakan kehendak semaunya ketika ketulusan keluarga Paxton begitu menyentuh hatinya.

Ah, saya selalu suka dengan gaya Sandra Bullock di tiap filmnya. Sekarang ditambah dengan kepiawaian Ryan Reynolds dalam memainkan mimik mukanya, makin tambah bikin klop akting mereka berdua. Soal perbedaan usia antara mereka yang cukup jauh (Bullock 44, Reynolds 33) sepertinya nggak ada masalah deh. Toh orang lebih melihat isi filmnya dibanding dengan kehidupan asli pemerannya bukan? Fletcher juga pandai dalam mengarahkan dan menempatkan humor-humor di saat dan posisi yang pas. Jika menonton film ini, maka dari menit-menit awal maka film ini telah mampu memberikan rasa humor yang baru, dengan suasana lingkungan kantor. Tak hanya itu, permasalahan yang menjadi inti dari film ini pun dibuat dengan cara menghibur sehingga dapat dikatakan kalau film ini tidak membosankan dari menit awal hingga menit terakhir. Alurnya sendiri sangat enak diikuti dan selalu bikin penasaran, meskipun ujung-ujungnya juga gitu karena memang sudah jadi pakemnya romantic-comedy. Singkat kata : nggak ada yang mengecewakan.

Pesan moral yang saya catat & agaknya ingin disampaikan di film ini adalah just be nice & respect to anyone, kita tidak pernah tahu kapan kita justru akan membutuhkan mereka. Cinta juga bisa muncul kapan saja, dimana saja & melalui jalan yang tak terduga.

[devieriana]

 

gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

If Only It Were True

Semalam saya baru selesai membaca novelnya Marc Levy – If Only It Were True. Novel romantis yang didalamnya ternyata ada banyak sekali istilah kedokteran. Awalnya saya kira penulisnya pasti seorang dokter atau paramedis gitulah karena banyaknya penggunaan istilah-istilah kedokteran di novel itu. Knowledge tentang istilah-istilah yang sering digunakan oleh paramedis dan arsitek ditulis dengan begitu mengalir & lancar.

Setelah dibaca lebih lanjut.. oh ternyata si Marc Levy ini seorang arsitek, sodara-sodara. Eh, padahal biasanya penulis novel itu tulisannya nggak jauh-jauh dari profesinya. Itu bisaanya lhooo.. Tapi banyak juga kok penulis yang berusaha keluar dari comfort zone-nya, keluar dari rutinitas sehari-harinya. Berubah jadi sebuah karakter yang beda samasekali atau bahkan jauh dengan karakter aslinya. Hyaa.., kenapa jadi membahas si Marc Levy sih? Padahal saya mau bahas tentang isi bukunya lho.. 😀

Hmm.. coba ya bayangkan, jika sebuah tiba-tiba sebuah bank memberikan kalian uang sebesar $ 86.400 setiap hari. Catet ya.. setiap hari. Dan jumlah tersebut harus dihabiskan dalam satu hari. Setiap sore uang yang tersisa akan dihapuskan dari account jika kalian gagal untuk menggunakannya sepanjang hari. Apa yang akan kalian lakukan ? Tentunya kalian akan menggunakan uang tersebut setiap sen yang ada, bukan?

Selintas saya memang benar-benar membayangkan bahwa itu adalah real “uang”, $ 86.400. Waduh, buat apa aja ya nantinya? Kontan menari-nari di kepala saya rencana ini itu, beli ini itu, kasih si A, si B, si C, dan segudang rencana lainnya. Lah, kok jadi serius amat saya ngebayanginnya ya.. :mrgreen:  .Setelah bosen ngebayangin, lanjut baca lagi. Oalah, ternyata yang dimaksud  $ 86.400  itu adalah.. WAKTU.. Iya, Sang Waktu..
Lho, kok bisa?

Kita semua memiliki bank seperti itu, temans. Namanya WAKTU. Setiap pagi, kita diberikan waktu 86.400 detik. Setiap malam akan dicatat sebagai kehilangan jika kita gagal untuk menginvestasikan dengan tujuan baik. Jumlah tersebut tidak akan dipindah-bukukan untuk keesokan harinya, juga tidak dapat dilakukan penarikan lebih dari jumlah yang telah ditentukan. Setiap hari akan dibuka sebuah account baru untuk kita dan setiap malam account tersebut akan dihapuskan. Jika kita gagal untuk menggunakan simpanan pada hari itu, it means kita akan kehilangan. Hal ini tidak akan pernah kembali. Tidak akan pernah ada penarikan untuk hari esok. Kita harus hidup pada saat ini, untuk simpanan hari ini . Investasikan hal ini untuk memperoleh dari investasi tersebut kesehatan, kebahagiaan dan keberhasilan yang sepenuh-penuhnya …

Untuk menyadari nilai SATU TAHUN, tanyakan pada seorang pelajar yang gagal naik tingkat. Untuk menyadari nilai SATU BULAN, tanyakan pada seorang ibu yang melahirkan seorang bayi prematur. Untuk menyadari nilai SATU MINGGU, tanyakan pada editor dari majalah mingguan. Untuk menyadari nilai SATU JAM, tanyakan seorang kekasih yang menanti untuk bertemu. Untuk menyadari nilai SATU MENIT, tanyakan seorang yang ketinggalan kereta api.. Untuk menyadari nilai SATU DETIK, tanyakan pada seseorang yang baru saja terhindar dari kecelakan. Untuk menyadari nilai SEPERSERIBU DETIK, tanyakan pada seseorang yang baru saja memperoleh medali perak dalam Olimpiade..

So, tunggu apa lagi? Mulai hargai setiap waktu yang kita miliki. Dan hargailah waktu itu lebih baik lagi, karena kita juga membagikannya dengan seseorang yang khusus, cukup khusus untuk membuang waktu kita. Dan ingatlah bahwa waktu tidak akan menunggu seseorang pun.

Kemarin adalah sejarah …
Hari esok adalah sebuah misteri dan hari ini adalah suatu hadiah
Itulah yang disebut dengan berkat …
Waktu terus berjalan …
Jadi, lakukanlah yang terbaik untuk hari ini..

🙂

[devieriana]

sumber gambar dari sini

Continue Reading