Fantasi Haute Couture ala Emily Cooper

Saat pertama kali memutuskan untuk marathon Emily in Paris, saya benar-benar tidak memasang ekspektasi tinggi. Niat saya sederhana, sekadar mencari tontonan saat makan siang atau selingan waktu santai yang bisa dinikmati tanpa harus membedah plot, atau menebak siapa tokoh antagonisnya. Dan benar adanya, tak butuh waktu lama untuk jatuh hati pada komedi romantis ini. Sejak awal, visual Paris yang cerah dan fotogenik langsung menyihir mata. Kita diajak mengiringi langkah perempuan Amerika usia 20-an yang tengah menyesuaikan diri dengan budaya kerja baru di negara baru.

Namun, tentu saja keindahan yang kita konsumsi di layar Netflix ini adalah Paris versi ‘kartu pos’ yang sudah difilter sedemikian rupa, yang sudah mengeliminasi realitas sumpeknya stasiun Metro, aroma kota yang tak seharum parfum, hingga masalah tikus di taman-taman kota yang sengaja diluputkan dari bidikan kamera. Sebuah ‘Paris Syndrome’ terbalik sengaja diciptakan untuk menjaga fantasi audiens global agar tetap utuh, sembari meredam kekacauan metropolitan yang sesungguhnya.

Meski demikian, justru di situlah letak kekuatannya. Sebab, siapa yang bisa menolak pikat jalanan Paris yang penuh warna, hamparan bangunan Haussmann dengan balkon besi tempa yang ikonik, hingga deretan adibusana dari rumah mode ternama? Di balik segala ketidakrealistisannya, Emily in Paris menjadi comfort watch bagi banyak orang. Ia adalah pewaris takhta dari tradisi hiburan fashion-centric yang memang selalu kita cintai.

Pola serupa sangat terasa jika kita menengok kembali film-film ikonik seperti The Devil Wears Prada, Sex and the City, hingga Confessions of a Shopaholic. Dalam semesta sinematik ini, busana bukan semata atribut fisik, melainkan bahasa visual yang mempertegas ambisi dan kepribadian sang tokoh utama. Kemiripan ini kian nyata saat kita menyandingkannya dengan beberapa serial modern seperti Younger, Gossip Girl, atau The Bold Type. Semuanya berbagi DNA yang identik yaitu merayakan persahabatan perempuan, jatuh-bangun karier, dan keberanian mengekspresikan diri lewat mode.

Emily Cooper, yang dihidupkan dengan apik oleh Lily Collins, hadir sebagai personifikasi gadis Amerika yang percaya diri. Ia menjejakkan kaki di Paris sebagai seorang eksekutif pemasaran Savoir. Menariknya, Emily memiliki ketahanan mental yang luar biasa. Ia tidak mudah tersinggung meski atmosfer kantor cenderung dingin dan sinis. Di saat yang sama, karakter ini tampak memiliki plot armor yang terlalu tebal. Selain keberuntungannya nyaris tanpa batas, ide-idenya pun selalu diterima mulus oleh klien. Sepanjang serial saya sering bertanya-tanya sendiri, di era yang serba kompetitif ini kok orang yang memiliki garis nasib seutopis dan semulus Emily? Jujur saja, kalau ada lowongan pekerjaan yang menawarkan keberuntungan nasib seperti Emily, saya pasti berdiri di antrean paling depan!

Lalu, mari kita tengok urusan asmaranya yang fenomenal itu. Dalam semesta yang ia huni, Emily memegang privilese mutlak untuk menaklukkan atensi barisan pria tampan rupawan. Emily sendiri memang secara lahiriah sudah berparas jelita, modis, dan smart. Dan tentu saja ada konvensi visual di layar kaca, kalau protagonis yang menarik memang idealnya bersanding dengan pasangan yang selaras agar estetika bingkainya tidak timpang. Jadi memang antara Emily dan lawan-lawan mainnya itu sengaja dipasangkan untuk memenuhi definisi eye candy yang maksimal. Sebab kesempurnaan visual adalah sebuah keniscayaan.

Nah, ada satu hal lagi yang saya perhatikan di sepanjang serial. Di tengah pakaian warga lokal yang setia pada prinsip Parisian Chic yang cenderung low-key dan didominasi palet warna bumi yang tenang, Emily justru hadir dengan estetika tabrak warna yang sangat berani. Pilihan outfit-nya pun serba ekstra, diametral dengan pakem understated yang selama ini menjadi identitas mode di kota tersebut.

Tapi memang menikmati serial ini menuntut kita untuk melakukan suspend disbelief tingkat tinggi. Secara logika, agak sulit diterima bagaimana seorang staf junior pemasaran bisa mengoleksi busana harian dari rumah mode sekelas Versace, Balmain, hingga Fendi. Di dunia nyata gaji di levelnya seharusnya mustahil menunjang gaya hidup semewah itu, apalagi jika menilik huniannya yang bersahaja. Namun, uniknya lagi, di balik keterbatasan chambre de bonne-nya, lemari Emily seolah memiliki kemampuan untuk melakukan regenerasi otomatis, yang terus menerus mengeluarkan koleksi desainer terbaru. Sepertinya sebuah hal tabu jika Emily terlihat mengenakan busana yang sama dua kali.

Serial ini didukung oleh jajaran tokoh pendukung yang kuat. Ada Sylvie Grateau (Philippine Leroy-Beaulieu) direktur sekaligus pemilik agensi pemasaran mewah Savoir, lalu ada sahabat Emily yaitu Mindy Chen (Ashley Park) seorang penyanyi berbakat dengan latar belakang keluarga superkaya di Tiongkok, yang memilih menjauh dari kehidupan lamanya setelah konflik dengan keluarganya dan hidup mandiri di Paris. Di awal cerita, Mindy bekerja serabutan, termasuk sebagai pengasuh anak dan penjaga toilet di kelab malam, sebelum perlahan kembali ke dunia musik dan tampil sebagai penyanyi profesional. Sementara Julien (Samuel Arnold) dan Luc (Bruno Gouery) adalah dua rekan kerja Emily yang sering memberi warna satir di dunia kerja mereka yang glamor. Antoine Lambert (William Abadie) adalah seorang pengusaha kaya raya yang memiliki perusahaan parfum ternama bernama Maison Lavaux. Dia adalah klien emas bagi Savoir, karena kesuksesan dan pengaruhnya yang besar.

Seiring bergantinya musim, konflik yang hadir pun mulai berlapis. Urusan pekerjaan, dinamika pertemanan, hingga benang kusut percintaan datang silih berganti. Emily kini bukan lagi sekadar ‘anak baru’ di Paris. Ia telah bertransformasi menjadi sosok yang kerap terperangkap dalam dilema yang ia ciptakan sendiri. Ironisnya, urusan asmaranya pun seolah hanya berputar-putar di lingkaran orang yang itu-itu saja. Kisah asmara Emily dimulai dari cinta pandangan pertama dengan Gabriel (Lucas Bravo), chef Prancis berbakat dengan pesona yang sulit ditolak. Kemudian hadir Alfie (Lucien Laviscount), eksekutif keuangan asal Inggris yang membawa dinamika dunia investment banking ke dalam hidupnya, dikenal Emily di kelas kursus bahasa Perancis. Memasuki musim keempat, daftar ini semakin panjang dengan kehadiran Marcello Muratori (Eugenio Franceschini), pewaris takhta bisnis cashmere keluarga di desa Solitano, Italia, yang belakangan menjadi klien Agence Grateau.

Namun, meski kota berganti dan daftar pria tampan bertambah, pola ceritanya seolah jalan di tempat. Paris yang seharusnya luas terasa begitu sempit karena konflik antar-pemeran terus berulang dalam pairing yang itu-itu saja. Bahkan saat memasuki penghujung Season 4 (Part 2), tiba-tiba sinyal-sinyal kedekatan antara Mindy dan Alfie mulai terendus. Nah, loh. Teori mengenai hubungan rahasia mereka ini dipicu oleh rapuhnya hubungan Mindy dengan Nicolas de Léon (Paul Forman), putra pemilik konglomerat barang mewah JVMA (Joint Ventures Maurice de Léon), menjadi love pentagon yang absurd.

Satu hal lain yang tidak bisa diabaikan adalah kemampuan bahasa Emily yang jalan di tempat. Meski sudah menetap lama di Paris, ia tampak enggan keluar dari zona nyaman bahasa Inggrisnya. Seolah-olah justru seluruh dunialah yang harus berkompromi dan menyesuaikan diri dengannya. Egoisme ini akhirnya memuncak menjadi titik didih bagi karakter lain. Gabriel bahkan secara gamblang meluapkan rasa frustrasinya saat mereka bersitegang:

Gabriel: “J’ai l’impression de m’être fait avoir. Je me suis laissé rêver d’un futur heureux avec toi. Une étoile Michelin, un bébé. Mais en fait, j’ai passé tellement de temps à essayer de te convaincre que toi et moi, ça en valait la peine. Pendant que toi, tu n’as même pas essayé. Aujourd’hui je suis vide. Je ne crois plus en rien, je ne crois plus en personne, et je dois quand même passer à la télé pour essayer de convaincre les Français d’en avoir quelque chose à foutre de mes coquilles Saint-Jacques. Alors oui, on a des problèmes de communication. Je ne te dis pas le contraire, mais c’est certainement pas de ma faute.”

Emily: “Please, I don’t understand.”

Gabriel: “Exactly..”

Dalam bahasa Indonesia, luapan perasaan Gabriel yang menyakitkan itu kurang lebih berarti:
“Rasanya aku seperti dibodohi. Aku membiarkan diriku bermimpi tentang masa depan yang bahagia bersamamu, bintang Michelin, seorang bayi. Tapi kenyatannya, aku menghabiskan begitu banyak waktu hanya untuk meyakinkanmu bahwa ‘kita’ itu layak diperjuangkan, sementara kamu? Kamu bahkan tidak pernah mencoba untuk mencoba. Sekarang aku hampa. Aku tidak percaya pada apa pun lagi, tidak pada siapa pun. Dan di tengah kehancuran ini, aku masih harus bersandiwara di televisi, berusaha membuat orang Prancis peduli pada masakan kerangku. Ya, kita memang punya masalah komunikasi, aku tidak membantahnya. Tapi untuk yang satu ini, aku tahu pasti bahwa ini bukan kesalahanku.”

Secara teknis, Emily in Paris memang didesain sebagai produk global yang ramah di telinga audiens internasional dengan dominasi bahasa Inggris di hampir setiap interaksi. Namun, ada lapisan emosi yang hanya bisa tersampaikan ketika karakter-karakter asli Paris seperti Sylvie, Julien, Luc, atau Gabriel berdialog dalam bahasa ibu mereka. Penggunaan bahasa Prancis dalam serial ini bukanlah bumbu pelengkap agar dialog-dialognya terdengar seksi/estetik semata, lebih jauh menjadi instrumen untuk membedah emosi yang kadang tidak selalu tersampaikan ketika diucapkan dalam bahasa Inggris.

Sebagaimana ketika Gabriel meluapkan amarahnya dalam bahasa Prancis, kemarahan dan kerapuhannya itu terasa jauh lebih purba dan menyakitkan saat didialogkan dalam bahasa Prancis. Di titik inilah kita menyadari bahwa bahasa bukan semata alat komunikasi. Sikap Emily yang tetap memegang teguh bahasa Inggrisnya di tengah ledakan emosi Gabriel menunjukkan sesuatu yang lebih dalam dari perbedaan bahasa. Ketidakmampuannya berempati berakar dari ego yang terlalu kuat, di mana ia enggan membuka diri untuk benar-benar memahami apa yang sebenarnya dirasakan oleh lawan bicaranya.

Jika kita menempatkan Emily in Paris murni sebagai produk hiburan, serial ini jelas berdiri di podium paling atas. Ia adalah gabungan sempurna antara kemegahan visual, parade adibusana, dan drama ringan yang mudah dicerna. Tapi kalau boleh jujur, serial ini terlalu bermain di zona nyaman lewat alur yang terasa repetitif, banyak plot hole, dan kedalaman karakter yang dangkal. Paris yang begitu luas serta bersejarah seolah direduksi menjadi sekadar latar belakang estetik bagi konten Instagram Emily.

Tapi pada akhirnya, serial ini kembali pada ekspektasi masing-masing penonton. Kalau kamu butuh hiburan ringan untuk melepas penat lewat visual yang estetik, Emily in Paris adalah pilihan yang tepat. Tapi, kalau kamu mencari film dengan naskah yang berat dengan riset mendalam, karakter dan penokohan yang kuat, Emily In Paris bukan sebuah pilihan. Anggap saja serial ini sebagai guilty pleasure, ibarat makan macaron yang warnanya cantik, rasanya manis dan menyenangkan di lidah, tapi tidak benar-benar bikin kenyang. Selama kita sadar bahwa film ini hanyalah cerita fiksi, petualangan Emily di Paris tetap menjadi hiburan yang asyik untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari.

Jadi, setelah parade mode yang panjang ini, kamu tim Gabriel, Alfie, Marcello, atau malah sudah bosan?

Btw, kalau saya pribadi sih, tetap tim Gabriel, ya!

Devieriana

photo courtesy Netflix, US Magazine, Business Insider, Prime Timer, Prestige Online, Destination Dreamer Diaries

Continue Reading