Dongeng, kemewahan masa kecil

Surat untuk Takita @IDcerita 🙂

Dear Takita,

Apa kabar, Sayang? Maafkan Kak Devi yang baru bisa menulis surat balasan buat kamu, ya. Tapi Kak Devi senang sekali mendapat undangan untuk menulis surat buat kamu.

Jauh sebelum Takita lahir, dongeng sudah menjadi salah satu hal yang akrab di masa kecil kakak dan kedua adik kakak. Bukan hanya dongeng yang diceritakan secara langsung oleh Papa, tapi juga melalui buku-buku dongeng untuk anak yang dibelikan oleh papa dan mama Kak Devi secara berkala. Ada buku dongeng cerita nusantara sampai dongeng anak sedunia. Mulai buku dongeng yang banyak tulisannya sampai yang banyak gambarnya. Bukan itu saja, papa/mama juga sering membelikan kaset Sanggar Cerita yang secara rutin akan diputar setiap hari Minggu pagi untuk membangunkan kami. Unik ya cara membangunkannya? ;))

Ada satu kebiasaan yang selalu papa lakukan sebelum kami berangkat tidur. Papa selalu menyempatkan diri untuk mendongeng. Padahal kakak tahu Papa juga pasti capek habis kerja seharian, bahkan kalau sudah capek banget kakak sering melihat papa ketiduran di kursi :(. Kasian sih, suka nggak tega kalau mau minta didongengi :(. Tapi ketika melihat semua usaha papa yang sedemikian rupa itu, akhirnya kakak sekarang mengerti bahwa mungkin itulah salah satu bentuk kasih sayang orang tua ke anaknya. Secapek apapun mereka, demi membahagiakan anaknya, mereka rela melakukan apapun :-s

Dongeng yang diceritakan pun bermacam-macam. Biasanya sih Papa baca dulu cerita yang mau diceritakan, tapi tak jarang juga mengarang indah ;)). Bahkan mengarangnya pun kadang terlalu kreatif. Uniknya, kalau sudah terlalu kreatif dan muncul pertanyaan-pertanyaan aneh dari kakak, pasti ending-nya menggantung. Dan kalau sudah menggantung itu artinya Papa kehabisan ide. Kalau sudah kehabisan ide biasanya muncul kata-kata begini, “ya udah kamu bobo dulu, lanjutannya besok, ya.” Lah, berasa nonton sinetron stripping, ya? ;))

Bukan hanya orangtua Kak Devi saja yang suka mendongeng, guru agama di SD kakak dulu juga sangat suka mendongeng. Sosok yang ramah, humoris, dan agamis itu menjadikan beliau sosok idola yang dekat dengan anak-anak namun juga disegani. Jam pelajaran beliau selalu menjadi jam pelajaran terfavorit, karena bukan hanya materi belajar mengajar saja yang akan kami dapatkan, tapi juga bonus dongeng mendidik sekaligus menghibur.

Entah ada hubungannya atau tidak, karena kesukaan kakak pada cerita/dongeng, membuat kakak berimajinasi ingin menulis cerita sendiri. Apalagi dulu papa/mama cuma membelikan buku dongeng sebulan sekali atau maksimal dua kali. Itu pun dalam waktu yang tidak terlalu lama sudah habis kakak baca. Itulah kenapa Kakak akhirnya ingin membuat cerita sendiri, salah satunya supaya imajinasi kakak tersalurkan. Kakak tulis saja cerita di dalam buku tulis bergaris (biar tulisannya lurus, kalau nggak ada garisnya tulisan kakak suka naik-naik ke puncak gunung).

Cerita yang kakak tulis jenisnya bermacam-macam, ada yang cerita biasa, tapi ada juga yang jenisnya legenda. Kalau diingat-ingat aneh juga ya, masa legenda kok diciptakan sama anak usia 6 tahun? ;)). Masih ingat salah satu judul buku ciptaan kakak judulnya “Legenda Danau Semendung Rampang”, bhihihik ;)). Ceritanya tentang seorang anak yang dikutuk orangtuanya menjadi penghuni danau karena dia nggak nurut sama orangtuanya. Nggg… ya baiklah, nggak perlu dibahas 😐

Biasanya kalau sudah jadi buku, kakak suka minta teman-teman kakak untuk membaca. Komentarnya ada yang bilang bagus, ada yang bilang aneh, ada juga yang nggak komentar aoa-apa. Mungkin karena saking ajaibnya cerita kakak, ya? ;)). Tapi justru dari situlah kakak belajar yang namanya apresiasi.

Makin kesini kakak merasakan ternyata ada banyak sekali manfaat dongeng. Apalagi setelah kakak ikut langsung dalam kegiatan @IDceritaJKT. Dongeng bukan hanya bertujuan untuk menghibur dan menjadi media pengantar tidur bagi anak semata. Tapi lebih dari itu, dongeng bermanfaat untuk mengasah imajinasi dan daya pikir anak, sentuhan paling manusiawi untuk menjalin komunikasi dan kedekatan emosional antara anak dan orang tua. Dan satu lagi dalam dongeng bisa diselipkan pesan moral dan etika tanpa anak merasa digurui.

Tapi terlepas dari itu semua, menurut kakak, peran serta orang tua dalam memilah materi dongeng juga sangat disarankan, lho. Karena tidak semua dongeng itu memiliki muatan cerita dan moral yang bagus.

Takita sayang, cukup sekian kisah kakak hari ini. Semoga nggak bosen bacanya, ya ;).

Teruntuk para ayah dan bunda, pertanyaan sederhana saja, sudahkah mendongeng untuk si kecil hari ini? 😉

ilustrasi Takita diambil dari

Continue Reading

Jiwa-Jiwa Yang Tulus

Remember, if you ever need a helping hand, you’ll find one at the end of your arm….
As you grow older you will discover that you have two hands. One for helping yourself, the other for helping others.

– Audrey Hepburn –

Pernahkah kalian berada dalam sebuah keadaan panik, “sibuk” menyelamatkan nyawa seseorang yang tidak pernah kalian kenal sebelumnya? Jangankan kenal, bertemu face to face pun juga belum pernah. Kalian ikut panik, ikut deg-degan, seolah-olah ikut berada dalam sebuah ruangan ICU bersama orang yang akan kalian tolong itu, menunggu detik demi detik terlewati, menyaksikan seseorang yang barangkali saja saat itu tengah berjuang melawan maut.

Saya pernah, dan mungkin itu juga yang dirasakan oleh sebagian besar anggota milis Blood For Life.  Kepanikan itu terjadi terutama ketika mencarikan pendonor yang memiliki golongan darah langka, misalnya yang memiliki rhesus negatif (golongan darah yang banyak dimiliki oleh ekspatriat). Merasakan betapa sulitnya mencari pendonor yang darahnya sesuai dengan kebutuhan pasien. Ikut panik karena ternyata calon pendonor yang sudah stand by dan dijagakan bisa memenuhi kebutuhan darah si pasien ternyata kualitas darahnya kurang memenuhi syarat. Panik ketika pasien mengalami masa kritis karena belum mendapatkan donor darah. Ikut menangis ketika orang yang akan kami bantu ternyata harus diambil oleh-Nya dan kami belum sempat membantu secara maksimal.

Namun ada kalanya ikut bahagia ketika stok darah yang dibutuhkan terpenuhi, atau pasien bisa pulang kembali ke rumah dalam kondisi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Ikut terharu ketika ada keajaiban-keajaiban yang terjadi secara misterius di saat-saat kritis dan itu berujung dengan terselamatkannya si pasien.

Lebih dari itu, sebenarnya bukan itu inti yang ingin saya bagikan hari ini. Saya akan berbagi tentang sebuah kisah mengharukan yang datang dari seorang penyandang tuna netra bernama Pak Iwa.

Pak Iwa adalah seorang tuna netra. Dia sudah rutin mendonor sejak masih berusia masih 18 tahun. Namun sayang pada tahun 2001, tepat dua minggu menjelang pernikahan dilangsungkan, Pak Iwa terkena glaukoma (tekanan pada bola mata). Setelah mereka menikah, ternyata sang isteri lebih memilih untuk tidak melanjutkan pernikahan, salah satu penyebabnya karenaglaukoma yang diderita oleh Pak Iwa itu. Sang isteri kemudian memilih untuk menikah lagi dengan pria yang memiliki kondisi fisik lebih normal.

Pak Iwa sebenarnya sudah tidak mempermasalahkan hal tersebut. Dia sudah pasrah akan kondisi dirinya. Hanya satu yang dia rasakan, yaitu kesedihan yang mendalam karena tidak ada lagi yang akan mengantarnya ke PMI untuk mendonor.

Beruntung ada seorang tukang ojeg yang bersedia mengantarkan Pak Iwa ke PMI, dan akhirnya menjadi tukang ojeg langganan. Namun lagi-lagi malang bagi Pak Iwa, tukang ojeg ini harus pindah sehingga tidak bisa lagi mengantarkan Pak Iwa ke PMI.

Saat ini Pak Iwa sudah menikah lagi. “Alhamdulillah, sekarang saya sudah bertemu isteri yang baik.” Namun ketika ditanya mengapa sang isteri tidak ikut mengantarkan ke PMI untuk mendonor? Dia menjawab :

“Isteri saya juga buta, Mbak. Kami sama-sama tuna netra. Biasanya kami mendonor berdua, sekarang isteri saya sedang hamil muda, saya takut dia keguguran kalau kecapekan. Lagipula orang hamil kan tidak boleh mendonor… “

Airmata saya langsung menggenang. Subhanallah, ternyata ada ya orang yang punya hati semulia Pak Iwa? Bayangkan, disela-sela kekurangan fisiknya ternyata Pak Iwa masih memikirkan nasib sesamanya yang membutuhkan. Dia masih meluangkan waktu untuk menyumbangkan darahnya secara rutin ke PMI.

Ketika ditanya apa motivasinya rutin melakukan donor darah, dia hanya menjawab dengan kalimat sederhana namun luar biasa artinya. “Saya hanya ingin menikmati hidup, dan salah satu kenikmatan yang saya rasakan adalah ketika saya diizinkan berbagi dalam keterbatasan saya.”

Teman-teman, hal paling berharga yang bisa Pak Iwa sumbangkan untuk orang lain itu tak lain adalah darahnya.

Pak Iwa saat ini bekerja di Metro TV sebagai seorang operator. Namun demikian dia mengaku sangat menikmati pekerjaannya. Selain berkomunikasi dalam bahasa lisan, Pak Iwa juga mampu berkomunikasi via tulisan.

“HP saya menggunakan software pembaca layar (untuk HP namanya Talks untuk PC/laptop namanya JAWS dan itu yang paling umum). Tapi untuk HP syaratnya harus HP dengan operating system Symbian sehingga tidak terlalu banyak pilihan. Karena hanya Nokia yang menyediakan handset dengan OS Symbian, saya menggunakan Nokia 5320.”

Tuhan menciptakan makhluknya dengan segenap kelebihan dan kekurangan. Namun tidak semua yang diciptakan kurang sempurna itu lantas sama sekali tidak bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya, contohnya adalah Pak Iwa (dan mungkin masih banyak Pak Iwa-Pak Iwa lainnya yang tidak kita ketahui profilnya). Sejatinya, bagaimanapun kondisi dan keterbatasan yang dimiliki oleh seseorang, mereka masih ingin merasakan bahwa hidup mereka bisa bermanfaat untuk orang lain.

Jika kita terlahir sebagai manusia yang dikaruniai kesehatan dan kelengkapan fisik, apakah tidak sewajarnya kita lebih mampu membantu sesama secara lebih maksimal? Kita tidak pernah tahu kapan kita akan membutuhkan bantuan orang lain. Jika Pak Iwa saja sanggup menolong sesama, mengapa kita tidak? 🙂

When you are working not for reward but only for love, then everything will go very smoothly..

Mari lebih peduli. Mari berbagi.. 🙂

 

 

sumber gambar : tighenthoughtstogether

Continue Reading

Setengah Windu

Sebenarnya postingan istimewa ini terlambat satu hari. Ya, seharusnya postingan ini saya buat kemarin, tepat di hari ulang tahun pernikahan saya yang ke-4 :D. Tapi apa daya, kemarin adalah hari yang sibuk untuk saya. Mulai jam 08.00 – 11.00 harus sudah stand by untuk mempersiapkan sekaligus bertugas sebagai MC pada acara pelantikan pejabat eselon II dan IV di lingkungan Sekretariat Wakil Presiden (berdiri kelamaan itu pegel :-s). Sesampainya di kantor berkas sudah menggunung untuk menunggu penanganan. Sore/malamnya pun jadwal lain sudah menunggu. Meeting bersama @IDceritaJKT di Anomali Coffee sekaligus penyerahan hadiah yang kemarin \:D/. Pffiuh.. Sedikit capek sih, tapi menyenangkan.. 🙂

Seperti tahun-tahun sebelumnya, sms ucapan pertama datang dari Mama mewakili Papa dan adik-adik. Ucapannya walaupun nyaris sama dengan tahun-tahun sebelumnya tapi selalu bisa bikin saya mewek terharu. Biasalah, saya kan emang orangnya gampang terharu :D.

Di usia pernikahan saya yang telah memasuki setengah windu ini saya melihat ada banyak perubahan nyata dalam diri saya maupun Hubby. Semoga sih mengarah ke yang lebih baik ya. Tapi kami masih terus saling belajar memahami diri masing-masing.

Memang benar apa yang orang sering katakan. Tuhan bekerja dengan cara dan bahasa yang misterius. Kadang apa yang kita inginkan belum tentu itu yang akan diberikan. Tapi Dia selalu tepat ketika memberikan apa yang sesungguhnya kita butuhkan. Nah, apakah itu juga terjadi pada saya? Sepertinya iya..

Kalau diperhatikan, saya dan Hubby sekarang lebih saling melengkapi. Tuhan memberikan keseimbangan buat kami, diantaranya :

1. Si Hubby aslinya pendiam dan serius. Nah (seharusnya) dia merasa beruntung mendapatkan saya yang suka becanda, konyol dan yang senang menularkan hal-hal absurd, ya :p. Terbukti dia sekarang sudah tidak sependiam dan seserius dulu lagi. Sekarang dia tumbuh menjadi hubby yang lucu dan tertular absurd \m/. Dulu nih ya, kalau dia lagi berdiri/duduk dekat tembok, tembok aja sampai minder karena kalah diem sama dia. Nah sekarang tembok sudah boleh berlega hati karena saingannya sudah berkurang satu ;)). Ah ya, semoga Hubby nggak baca postingan ini.. *ngaduk semen*

2. Buat saya yang buta jalan peta dan tukang nyasar merasa beruntung mendapatkan dia yang mirip peta. Bukan, bukan mukanya! Tapi pengetahuan dan ingatannya tentang jalanan. Kalau mukanya yang kaya peta, berasa saya menikahi buku atlas dong. Nah, gara-gara saya bego banget soal jalanan dia nggak pernah bosen buat menginstalkan google maps di setiap handphone saya. Hasilnya? Saya sudah jarang nyasar dong.. \:D/. “Jarang” itu dalam artian sesekali masih nyasar ya.. ;))

3. Hubby orangnya sangat well organized, ketika akan membuat keputusan atau sedang merencanakan sesuatu benar-benar disusun secara hati-hati dan penuh perhitungan. Sementara saya orangnya agak-agak slonong boy, on the spot aja gitu. Jadi untuk hal ini saya merasa beruntung karena bisa belajar keteraturan dari dia. Contohnya saja rencana mudik lebaran ke Surabaya. Saya cenderung mikir cari tiket nantilah sebulan atau dua bulan sebelum hari raya. Kalau dia, sudah direncanakan sejak awal tahun. Dia juga sudah tahu kapan dia akan mulai mengambil cuti, berapa biaya yang kira-kira akan kita butuhkan, dll. Saya? Eerrr.. Boro-boro 😐 *milin-milin karpet*

4. Hubby termasuk orang yang telaten. Sementara saya adalah kebalikannya. Dia cenderung menikmati alur sebuah proses. Sementara saya orangnya suka gradak-gruduk. Maunya serba instant, serba cepat, nggak pakai lama. Tapi makin kesini saya melihat ternyata ketelatenan dia justru yang ada hasil konkretnya. Sepertinya saya harus banyak belajar sabar dan telaten sama dia 😀 Hubby termasuk juga yang sabar menunggu saya ketika saya sedang ada kegiatan di luar, misal meeting dengan komunitas saya. Dia juga mau mengantar dan menjemput bahkan pernah dia pulang kantor dan langsung menjemput saya trus menunggu di mobil sampai ketiduran, hihihi.. >:D<.

Sebenarnya sih ada beberapa hal lainnya yang ternyata saling menyeimbangkan diantara kami. Memang pernikahan kami baru seumur jagung. Masih banyak hal yang perlu kami benahi. Ada banyak rencana dan mimpi yang sedang berusaha kami wujudkan satu persatu. Semoga ada jalan terbuka yang mengarah kesana. Aamiin..

 

Dear Hubito, thanks for all experiences we did (happy and sad). Thanks for your acceptance and support on my undertakings. Thanks for the shoulder to cry on defeats. Thanks for filling my shortcomings. Thanks for the cheer on triumph and success. Last but not least, thanks for growing and learning each day with me.

 

 

I love you.. :-*

 

 

ilustrasi : disini dan koleksi pribadi

Continue Reading

Lebaran di Jakarta ..

Lebaran ini adalah lebaran pertama tanpa mudik :((. Sedih sedikit, tapi ya mau bagaimana lagi, kondisi belum memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh terkait banyak hal. Insyaallah nanti walau bukan lebaran saya sempatkan buat pulang deh, karena hak cuti saya masih komplit 12 hari. Nggak tau nih, dari dulu saya itu jarang banget ambil cuti. Bukan sok nggak mau ambil jatah cuti, saya malah sampai lupa kalau punya hak cuti :p. Lho?! Anehlah pokoknya 😀

Lebaran di kampung orang ternyata sedikit berbeda. Kalau di Surabaya biasanya kita yang dikunjungi, baik oleh tetangga atau keluarga. Karena kebetulan kalau dalam keluarga saya, mama anak paling tua di keluarganya, jadi om & tante yang berkunjung ke rumah. Kalau di keluarga papa biasanya nanti akan ada hari sendiri buat kumpul-kumpul dengan keluarga besarnya, biasanya tetap di rumah almarhum kakaknya Papa di Malang. Tapi kalau di Jakarta, justru kitalah yang berkeliling, tidak peduli siapa yang paling tua.

Berhubung saya nggak ikut shalat akhirnya pas semua pada shalat saya yang bersih-bersih rumah mertua sambil menyiapkan diri/rumah kalau ada yang datang nanti. Ada kejadian lucu ketika keluarga habis pulang shalat Ied. Si mama mertua pas lihat saya lha kok malah bengong, dikirain ada tamu dirumahnya lagi nyapu2..  . Aneh banget dah mama mertua saya itu. Gara-gara apa coba? Gara-gara nggak pernah lihat saya pakai jilbab! Menantu sholehah gitu.. ;))

Agak siangan saya menjenguk almarhumah anak saya di makam. Beuh, penuuh banget yang nyekar. Kata orang, kalau pas puasaan arwah orang-orang yang meninggal itu pulang ke rumah masing-masing, kalau pas hari raya begini mereka “kembali” ke rumah mereka di makam. Itu katanya lho  . Di sebelah makam anak saya Sophie ada makam anak kecil juga yang sepertinya kurang terurus, disana hanya ada penanda sebatang tonggak kayu, makamnya sendiri udah rata sama tanah. Disana-sini sudah ditumbuhi rumput juga. Andai ini bukan tanah makam mungkin orang pada nggak ada yang tahu kali kalau itu ada makamnya. Kasian & trenyuh juga liatnya. Kira-kira kemana ya orang tua/keluarganya? Kenapa nggak mengurus “rumah” si kecil mereka? Padahal kalau memang bener yang ada di makam itu adalah bayi, bisa jadi “tabungan” buat orang tuanya di surga kelak. Saya kemarin jadi membayangkan di saat keluarga-keluarga mereka berkunjung, arwah-arwah mereka pada suka cita. Tapi saya membayangkannya “tetangga” makam si kecil kaya ada anak kecil yang sedih karena nggak ada sanak keluarga yang mendoakan atau mengurus makamnya..

Hari ini, saya sudah ngantor lagi. Masih agak kurang sehat sejak 2 hari yang lalu, kaya mau kena flu tapi belum keluar flunya, jadi masih ngumpul pusing di kepala gitu deh..  . Ini juga masih agak demam badannya. Tapi tuntutan kerjaan & karier , demi segenggam berlian.. ya mau gimana lagi ya? ;))

Continue Reading

Aku Ikhlas Ya Allah ..

 

lavender-necklaces

 

 

Entah kenapa akhir-akhir ini Allah menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku dengan caranya secara tidak langsung.. Kadang kalo aku punya pertanyaan dalam waktu yang tak terlalu lama (dalam hitungan hari) Allah “menjawab”-ku.. Entah dalam bentuk tindakan, perbuatan, atau melalui orang lain yang seolah seperti sengaja dihubungkan ke arahku..

Subhanallah.. Apakah ini artinya Allah sayang sama aku ya?

Seperti beberapa bulan yang lalu ketika aku bertanya-tanya kenapa sih Allah memberikan pasanganku bukan dengan si A, si B, atau si C.. atau kenapa sih tidak semua manusia diberikan kebahagiaan, kenapa harus ada si miskin & si kaya, kenapa harus ada kesedihan & kegembiraan, atau kaya kejadian yang aku alami beberapa waktu yang lalu.. Sampe merinding aku kalo mengingat jawaban-jawaban pertanyaanku sendiri.. karena apa? jawabannya ga pake lama.. dalam hitungan hari langsung terjawab.. Subhanallah..

(related to this post : http://devi123.multiply.com/journal/item/95/Friday_Learning)

 

Seperti saat aku masih berduka karena kehilangan my beautiful baby girl Sophie beberapa waktu yang lalu, aku sempat bertanya.. “kenapa Engkau memanggil dia secepat itu? saat kami mulai merasakan kebahagiaan & mulai menyayanginya ya Allah..”

Dan .. ternyata Allah menjawabku melalui renungan berikut ini.. Sampe nangis aku bacanya..

 

*****

Ini cerita tentang Anisa, seorang gadis kecil yang ceria berusia lima tahun. Pada suatu sore, Anisa menemani Ibunya berbelanja di suatu supermarket. Ketika sedang menunggu giliran membayar, Anisa melihat sebentuk kalung mutiara mungil berwarna putih berkilauan, tergantung dalam sebuah kotak berwarna pink yang sangat cantik. Kalung itu nampak begitu indah,sehingga Anisa sangat ingin memilikinya.

 

Tapi… Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji: Tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli.  Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik. Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya :

 

“Ibu, bolehkah Anisa memiliki kalung ini ? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi… ” Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa.  Dibaliknya tertera harga Rp 15,000. Dilihatnya mata Anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas. Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten…

 

“Oke … Anisa, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?” Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya.”Terimakasih. .., Ibu”.

 

Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya.  Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya.  Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab, kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau…

 

Setiap malam sebelum tidur, Ayah Anisa akan membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya

 

“Anisa…, Anisa sayang ngga sama Ayah ?”

“Tentu dong… Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah !” 

“Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu…”

“Yah…, jangan dong Ayah ! Ayah boleh ambil “si Ratu” boneka kuda dari nenek… ! Itu kesayanganku juga”

“Ya sudahlah sayang,… ngga apa-apa !”. Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa.

 

Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi,

 

“Anisa…, Anisa sayang nggak sih, sama Ayah ?”

“Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah ?”. 

“Kalau begitu, berikan pada Ayah kalung mutiaramu.”

“Jangan Ayah… Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini..” Kata Anisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain. Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk kekamarnya, Anisa sedang duduk diatas tempat tidurnya.

 

Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam.  Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. Dari matanya, mengalir bulir-bulir air mata membasahi pipinya…

” Ada apa Anisa, kenapa Anisa ?” Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangannya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya

 

” Kalau Ayah mau… ambillah kalung Anisa”  Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa.

 

Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih… sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa…

 

“Anisa… ini untuk Anisa. Sama bukan? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau” Ya…, ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Anisa.

 

Demikian pula halnya dengan ALLAH. Terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Anisa : Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga,dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan.. . baik itu berupa barang/harta ataupun orang yang kita kasihi..

 

Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena yakinlah bahwa ALLAH tidak akan mengambil sesuatu dari kita jika Dia tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik.

 

 

.. Ya Allah, maafkan aku.. sekarang aku udah ikhlas kok. .

 

 

Continue Reading