:: Kosong ::

Mendadak saya kurang fokus hari ini. Perasaan & pikiran saya melayang kemana-mana. Seperti ada yang sedang bergulat tak tentu arah. Terlalu banyak yang harus dikerjakan tapi waktu rasanya terlalu singkat. Tanpa terasa waktu sudah bergulir melewati tengah hari. Haduh sebenarnya saya sedang tidak ingin curhat. Cuma bingung yang gak jelas..

Semuanya serba nggak jelas. Seperti ada beban yang berat yang sudah menunggu. Antara kebutuhan cuti panjang bersama keluarga yang sudah saya tinggalkan hampir 2 tahun, meninggalkan anak buah saya dengan pekerjaannya, pekerjaan saya yang menumpuk, dan rencana-rencana yang berkeliaran mendadak fashion show di kepala saya.. Sumpah lagi mellow & sensitif berat..  🙁

Tiba-tiba kok saya blank ya :(( ..

[devieriana]

Continue Reading

Take Me Out Indonesia

Ok, mungkin saya terlambat banget bahas acara (yang katanya reality show) ini. Jujur pertama kali lihat :

“wuiidih, ini acara apaan sih? norak semua pesertanya. Mana dandanannya menor, belum lagi gaya pesertanya ada yang bitchy-bitchy gimana gitu”.

Maafkan saya ya pemirsa kalau ngomongnya agak pedes  *sambil nguleg cabe*.  Tapi ya itulah komentar jujur  saya tentang acara ini.. 😉

Acara yang menampilkan 30 perempuan single usia 20-40 dengan berbagai status. Ada yang single, ada juga yang sudah pernah menikah. Mereka akan memilih 7 pria yang akan diajukan. Kalau the ladies merasa cocok, nyalakan lampu, kalau tidak cocok ya tinggal matikan lampu. Calon yang diajukanpun tidak semua pria dengan fisik sempurna, ada yang ganteng ada juga yang superduper biasa saja. Ganteng itu mutlak, namun tampan relatif, bukan? *disambit uleg-uleg* .

Yang sering bikin saya geleng-geleng kepala itu reaksi perempuan-perempuan ini ketika diminta memilih. Ada saja alasan untuk mematikan lampu atau menyalakan lampu. Kalau yang mematikan lampu mulai dari alasan fisik/dandanan yang kurang OK, bisa juga karena pekerjaan & latar belakang sang pria. Tapi ada juga kok yang sudah sedemikian settle tapi tetap ga ada yang milih. Alasannya pun beragam & kalau menurut saya malah kesannya mengada-ada. Ada di salah satu episode yang menayangkan kebolehan sang pria bermain samurai, ga dipilih dengan alasan  :

“nanti kalau saya menikah trus dipedang gimana dong?”

Hyaelah.. shallow banget sih alasannya bu? Ya masa iya pria-pria itu niatnya mencari jodoh untuk diiris-iris sama samurai sih.. Ga make sense deh.. *jeburin sumur*

Kadang ngeliatnya juga “kasian” sama yang pria. Belum sempat kasih info apa-apa, eh semua sudah langsung mematikan lampu.. Omaigat..  Terus, suka gerah juga sama dandanan para wanitanya. Menor banget, belum lagi bajunya yang seringkali terlalu seksi & terbuka. Episode minggu kemarin malah ada yang keliatan nampang banget. Badan ga begitu langsing tapi roknya udah sepangkal paha, belahan dada juga kemana-mana.. Belum lagi pas di akhir acara dia pakai nari-nari sambil menghentak-hentakkan badannya.. maksudnya apa sih jeng? *bantuin nutupin badannya si mbak itu pakai taplak* .Ya ampun, elegan dikit dong ladies.. Kalian memang berusaha menarik lawan jenis, tapi mbok ya yang classy-lah.

Terlepas dari pro kontranya acaranya Fremantle ini, ratingnya bagus lho. Acara yang banyak menuai komentar sinis ini ternyata masih banyak juga yang nonton ya. Karena apa, ada sesuatu yang bikin penasaran sama acara itu. Tiap minggu pasti ada pemain-pemain baru yang akan dipilih dengan berbagai status & latar belakang pribadi.  Minggu depan malah katanya bakal dibalik, akan ada 30 pria yang akan memilih & beberapa perempuan yang akan diajukan sebagai calon. Kalau saya nih ya.. yang menarik cuma satu..

Choky Sitohang doang.. 😀

choky sitohang

*cipika cipiki sama Choky*

[devieriana]

Continue Reading

Metamorfosis & Buku Usang Masa Lalu

Pagi  ini buka facebook ada 1 email (lagi) dari teman lama jaman SMP. Beneran teman lama yang enggak pernah samasekali kontak sejak lepas SMA. SMA-pun kami beda sekolah walaupun masih sama-sama SMA tugu di daerah Malang. Dia SMA 1, saya SMA 3 Malang. Ketemu lagi di facebook dengan kondisi masing-masing sudah jauh berbeda (pastinya).

Teman saya ini menurut kacamata saya yang minus ini samasekali gak ganteng, tapi heran dulu kenapa banyak banget yang ngefans ya. Di tiap kelas ada. Saya dulu sampai mikir, “ah, apa menariknya sih? ganteng juga enggak.. Biasa aja deh perasaan. Kalau sok cool sih.. err.. iya. Jangan-janagn dia pakai susuk, lagi..” *dijeburin sumur*. Tapi anehnya dia ibarat magnet yang siap menarik perhatian wanita manapun. Jiaah, lebay sangatlah.. 😀 . Nah ketemulah kita di dunia pencak facebook ini. Komen pertama pasti “caci maki” diri masing-masing. Maksudnya, saling meledek perubahan masing-masing & membandingkan dengan moment terakhir ketemu. Hyaiyalah beda jauh, udah hampir 13 tahun yang lalu gitu, pastinya sudah ada metamorfosisnya. Masa iya seumur hidup mau terlihat keling, tengil & culun terus? Ulat aja berubah dari kepompong terus jadi kupu-kupu, masa iya kita berubah dari ulat bulu jadi ulat daun, kan ya gak mungkin.. 😀

Iseng dong kita kangen-kangenan.. eh, in positif way ya, kagak ada itu yang namanya tepe-tepe. Ngobrol punya ngobrol akhirnya saya punya ide bikin reuni SMP. Pasti bakalan seru tuh. Lha kok jawabannya gak disangka-sangka :

“ah, aku tahu kenapa kamu pengen reuni SMP.. Pasti kamu penasaran sama gebetanmu waktu itu kan?”, tebakan menyelidik ..
“hah, gebetan yang mana?”, ngeles
“jangan sok gak ngaku deh.. :p “

Saya tertawa :)). Jujur, saya malah gak kepikiran kearah sana lho. Justru saya membayangkan yang seru-serunya reunian setelah sekian lama nggak ketemu. Let me tell you, iya memang ada seseorang yang pernah susah banget dilupakan. Butuh waktu hampir 6 tahun untuk bisa bener-bener lupa sama sosoknya. Bayangkan, itu mulai jaman SMP lho, xixixi.. Centil banget deh saya ya  *sambil bedakan*

Boleh dibilang dia adalah sosok pertama yang bikin saya “ngimpi” bakal hidup happily ever after sama dia *toyor-toyor kepala sendiri*. Sosok yang sederhana, hitam manis, kurus, tinggi. Jaman dulu nih, namanya masih cinta munyuk (baca : monyet) pasti masih melihat lawan jenis dalam batasan fisik, ganteng atau cantik. Tapi seiring dengan bertambahnya usia pasti dong ada yang namanya pergeseran sosok ideal dari segi fisik ke segi-segi lainnya, misalnya kepribadian, background edukasi, intinya yang berhubungan dengan masa depanlah. Eh, tapi bukan berarti kalau saya akhirnya ngga jadi sama “si mas” ini lantaran dia tidak punya masa depan lho ya. Tapi saya lebih memandang karena memang dia bukan jodoh saya, itu aja. Toh sejak SMP-SMA kami hampir tidak pernah ketemu lagi, sampai sekarang..

Sampai disindir-sindir nih sama teman yang tadi di YM :

“emang kamu gak penasaran? gak pengen tahu kabarnya kaya gimana?”
“apaan sih? 😀 ”
“dia udah sukses lho sekarang.. Mau nomer HPnya ga? xixixi..kali aja bisa CLBK-an”
“hush..kamu belum pernah diiris tipis-tipis trus diperesin jeruk nipis ya?!”
“hahahahaha.. iya deh kagaaakk..”

Ya saya yakin dia juga sudah lupa sama saya, sudah berubah, sudah berkeluarga juga pastinya. Ya sutrah.. whatever & wherever you’re now.. err.. apakabar? long time no see. Semoga baik-baik aja, salam buat keluarga ya.. 🙂
*standar* :))

[devieriana]

Continue Reading

what is a name?

whats my nameNama, apa sih nama itu? apa gunanya, apa pengaruhnya? Kenapa nama bisa mempengaruhi tingkat pe-PD-an seseorang? Tulisan ini saya buat karena saya beberapa waktu ini sering mencermati hubungan antara nama & kepercayaan diri seseorang, plus hubungannya dengan bidang pekerjaan seseorang. Hah? ! Bidang pekerjaan? Apa hubungannya? Kalau misal namanya Ngatini apakah tidak boleh menjadi seorang manager? Atau jika namanya Catherine tidak layak jika harus menjadi office girl, misalnya?

 

No, no, bukan begitu. Begini awalnya, beberapa waktu yang lalu saya sempat ngobrol dengan teman-teman saya pas makan siang. Obrolan ringan seputar pasangan, anak, artis dan sejenisnya. Sampai kita akhirnya membicarakan seputar nama kita & artinya. Mostly mereka cukup pede dengan nama pemberian orangtua masing-masing. Hanya ada 1 yang kebetulan tidak bernafsu membicarakan namanya sendiri karena namanya dinilai terlalu singkat & biasa-biasa saja. Namanya Holilah (lah kan, nyebut merk kan..). Menurut saya sih ga ada masalah, nama yang cukup cantik kok. Alasan kenapa dia tidak begitu suka adalah karena namanya terlalu singkat, cuma itu saja, tanpa embel-embel nama tengah atau nama belakang. Walaupun buat saya sih sama saja, toh gak mungkin juga kita memanggil dengan nama lengkap saat kita ngobrol kan, misalnya : “Eh, Raden Ayu Holilah Setyaningtyas Manohara Suryosumarno Hadikusumo Djayadiningrat Tralalatrilili, kita ke toilet yuk”. Belum selesai sebut nama sudah nyampe toilet duluan kali ya.. hi5x

 

Kenapa saya bilang bahwa nama bisa berpengaruh pada tingkat kepedean seseorang karena banyak orang yang karena tidak percaya diri dengan namanya sendiri akhirnya mengganti namanya supaya terdengar lebih gaul, lebih modern, kalau dia artis supaya bisa lebih “menjual”. Tidak perlu  jauh-jauh deh, teman saya sendiri ada kok yang seperti itu. Namanya sebenarnya cukup bagus, nama muslim (saya sengaja tidak sebut aja yah..). Tapi dia lebih senang dipanggil dengan nama udara dibandingkan dengan namanya sendiri, kebetulan dia mantan penyiar di salah satu radio swasta di Surabaya. Atau ada yang karena lebih bagus nama baptisnya dia lebih suka dipanggil dengan nama baptisnya dibandingkan dengan nama asli pemberian orangtuanya sebelum dibaptis. Malah sekarang berhubung dia sudah menikah digabunglah nama baptis itu dengan nama fam keluarga suaminya. Jadilah makin jauh dengan nama realnya.Saya sendiri alhamdulillah cukup pede dengan nama pemberian orangtua saya, malah justru gak pede kalau diubah-ubah, seems not me anyway. Pernah menggunakan nama ayah dibelakang nama saya saat saya masih SD, dan itu hanya digunakan untuk kepentingan ijazah ujian tari saya saja, karena mengikuti “trend” mama saya yang kebetulan juga seorang penari Jawa yang dikenal di Sekolah Tari Wilwatikta karena menggunakan nama kakek saya dibelakang nama beliau. Mungkin karena itu ya.. mama pengen someday jika saya sudah dikenal sebagai penari saya akan menggunakan nama itu sebagai nama “artis” saya.. Jiaah, artis * disepak ke Timbuktu* .

 

Sekarang sih saya kemana-mana menggunakan nama saya sendiri, pun halnya ketika saya sekarang sudah menyandang status istri. Kebetulan suami juga tidak menuntut saya harus menggunakan nama dia dibelakang nama saya sebagai satu paket ikatan pernikahan. Lagipula saya malah merasa aneh kalau nama saya ada embel-embel nama suami, karena kebetulan kurang pas kalau maksa digabungkan. Sedikit kurang nyambung aja. Mungkin beda kalau nama suami saya agak panjang sedikit kali ya.. misalnya Yudhoyono.. eh itu mah nama presiden ya? maaf bu Ani.. *sungkem*. Lagipula dalam agama juga tidak di state ada kewajiban untuk mencantumkan nama suami dibelakang nama istri, yang ada tetap nama ayah yang boleh dicantumkan dibelakang nama kita. Itu kalau agama ya. Sekarang sih banyak kok wanita yang sudah menikah & menggunakan nama suami dibelakang namanya. Saya sih terserah ya, itu kan hak masing-masing, I have no problem with that, at all.

 

Kembali lagi ke nama. Kenapa para artis ada kecenderungan mengubah nama ketika mereka sudah menginjak dunia keartisan? Misal ya, wajah bule tapi nama Jawa, kenapa harus diubah supaya lebih hip & barat? Misal namanya Yuli Rachmawati harus diubah supaya lebih latin dengan Julia Perez (Perez kebetulan nama suaminya, Damian Perez. Yuli jadi Julia yah masih mirip-mirip, tak apalah), Siti Tuti Susilawati Sutisna jadi Sania? (jauh bener melesetnya?), Utami Suryaningsih jadi Uut Permatasari (permatasarinya dari mana coba?), dan banyak nama artis lainnya. Memang “nama artis” itu penting karena mereka harus “jualan”, entah jual akting, jual suara, jual tampang, dan sejenisnya. Tidak hanya di Indonesia kok, di luar negeripun juga melakukan hal yang sama & itu tidak aneh, bahkan mungkin sudah menjadi syarat yang tidak tertulis jika ingin jadi artis. Tapi kalau yang diluar dunia keartisan terus pengen ganti nama juga lantaran namanya kurang keren & modern? Wah gak tahu deh motivasinya apaan. Padahal nama itu kan doa, nama yang berasal dari orangtua sudah patut kita hargai. Mau sesingkat atau sepanjang apapun nama kita, whatever, itu adalah nama dari orangtua kita. Kita yakin bahwa dibalik nama itu ada doa & harapan orangtua untuk kita.

 

Sekalian tips buat para orangtua atau calon orangtua, nanti kalau kasih nama putra/i-nya berilah nama yang bagus & akan membuat mereka percaya diri dengan namanya. Terserah mau kasih nama apaan asal tidak sulit diucapkan & ditulis diatas akte..  😀

 

 

[devieriana]

gambar ngambil dari sini

 

Continue Reading

Suatu sore di belakang Setiabudi Building

Sore itu jalanan di belakang Setiabudi Building itu lengang, basah setelah diguyur hujan sejak siang tadi. Lelaki renta yang bungkuk itu berdiri di pinggir jalan di samping plastik besar yang berisi barang pulungannya. Kakinya telanjang, bajunya kumal & berlubang. Usianya mungkin sekitar 70an. Badannya kecil, tulang belulang & tubuhnya yang ringkih mengintip di sela bajunya yang compang-camping. Dia diam sambil tertunduk, bertahan dengan penyangka tongkat ditangan kirinya, menggigit bibir bawahnya seolah sedang menahan sakit yang luar biasa. Ya, kaki kanannya dibebat perban warna coklat, kakinya timpang. Badannya seolah ingin menumpu pada tongkat yang dipegang di tangan kanannya. Dia sendirian. Dia kesakitan. Entah apa yang sedang dirasakannya. Nyeri? Perih? Ngilu?

Saya berlalu. Walau sejurus kemudian saya kembali menoleh, jauh setelah saya meninggalkannya sendiri. Aduh, kenapa sih saya ini? Lambat sekali otak saya bereaksi. Kenapa setelah jauh saya baru ingin kembali?

“mas, kamu lihat bapak yang tadi gak?”, tanya saya pada suami yang menjemput saya sore tadi
“kenapa? kamu mau ke bapak itu?”, tanyanya. Ah dia bisa membaca pikiran saya rupanya..
“iya.. kasian dia mas, kaya orang kesakitan gitu. Sudah tua, sendirian pula. Mas keberatan gak kalau kita berbalik arah?”
“ya udah kita balik ke bapak tadi yuk..”

Ketika saya sampai di tempat bapak tua itu, posisinya ternyata masih sama. Menunduk dengan salah satu kaki setengah diangkat bertopang pada kayu yang dipegangnya sambil menahan sakit. Tas plastik besar itu masih teronggok di samping trotoar belakang Setiabudi Building. Saya turun dari motor, menghampiri dia. Saya raih pelan tangannya ..

“Pak, ini buat Bapak.. buat beli makan ya pak..”, saya menggenggamkan beberapa lembar uang ke tangannya yang dingin. Dia menatap saya seolah tak percaya. Mendadak matanya berkaca-kaca, dia menangis..Ya menangis, tergugu, sambil mengucap alhamdulillah berkali-kali.. Airmata saya meleleh pelahan. Dia menggenggam tangan saya, tulus dia berkata, “terimakasih banyak Neng, alhamdulillah, Allahu akbar.. Alhamdulillah ya Allaah..Neng, ..”, dia masih menggengam tangan saya. Saya meraih bahunya, menepuknya perlahan, “maaf ya pak, saya mungkin ngasihnya ga banyak.. “, bisik saya pelan, bingung & tak mampu lagi berkata-kata..
“Ya Allah.. terimakasih banyak Neng. Bapak doakan Neng dapat berkah yang banyak ya.. Semoga Allah memberikan segala kemudahan buat Neng.. Alhamdulillah ya Allah”, serunya parau sambil tak henti-henti  mengucapkan alhamdulillah & mendoakan kami. Kali ini airmatanya meleleh deras..

Saya menangis, kami bertiga menangis di pinggir jalanan yang sepi. Entah kenapa tidak ada seorang pun yang melintas saat itu. Mungkin salah satu cara Tuhan menyampaikan rezeki untuk bapak itu melalui kami ya.

Ini bukan cerita fiksi atau rekayasa. Pengalaman pribadi saya sore tadi selama beberapa menit bersama seorang bapak tua yang miskin & (sepertinya dia sedang) sakit 🙁 . Belum pernah sekalipun selama hidup saya mengalami kejadian seemosional ini dengan orang asing yang entah itu pemulung atau pengemis.  Selama ini kalau pengen ngasih ya sekedar ngasih, ngga pakai nangis, mewek, apalagi sampai meninggalkan kesan yang mendalam seperti tadi. Sepanjang jalan sampai di rumah saya masih menangis. Cengeng banget ya? Sedikit menyesal karena saya hanya bisa memberinya uang sekedarnya, mungkin nilainya tak seberapa.. 🙁

Jujur saya jadi malu pada diri saya sendiri. Seolah barusan Allah menyadarkan saya, betapa beruntungnya saya telah diberi kemudahan dalam mencari rezeki, kesehatan, kesempatan baik, keluarga & teman-teman yang menyayangi saya. Seperti merasa ditampar, ketika saya banyak mengeluh, terlalu banyak menuntut, kok sepertinya kurang bersyukur sekali saya ini..

Ah, jadi kangen sama kedua orangtua saya nih .. 🙁

[devieriana]

Continue Reading