The Proposal – Here Comes The Bribe

Ahaa.. akhirnya semalam keturutan nonton film komedi romantis The Proposal. A good romantic comedy only has to tick two boxes : depict two people falling in love and be funny about it. Simple as that. Film genre komedi romantis yang bisa membuat saya terpingkal-pingkal sekaligus terharu sepanjang film ini diputar. Nangis lagi? ahahay, you know me well-lah 😉 . Kegiatan dadakan di akhir minggu yang sama sekali di luar rencana lantaran tujuan utama ke Plangi hanya buat buka puasa, akhirnya “tarawih” di mall juga. Begitu masuk 21 langsung “jatuh hati” sama posternya The Proposal dimana Sandra Bullock berlutut meminang Ryan Reynolds dengan sebuah cincin di kedua belah tangannya. Sandra Bullock,  tampak begitu prima di usianya yang ke 44 dengan stelan jas pas badan & rok pensil membalut tubuhnya yang sangat langsing. Siapa yang mengira kalau usianya sudah mendekati setengah abad kalau melihat begitu sempurnanya penampilan dia di film ini?

Sebenarnya ada banyak film yang mengambil tema tentang pernikahan pura pura ala Hollywood. Contohnya What Happen In Las Vegas dan While You Were Sleeping. Dan sekarang, The Proposal. Film ini diperankan oleh Sandra Bullock dan Ryan Reynolds. Digarap oleh sineas wanita bertangan dingin, Anne Fletcher dengan porsi drama komedi yang ringan. The Proposal mengisahkan kehidupan Margareth Tate (Sandra Bullock) , seorang executive editor in chief  sebuah perusahaan penerbitan buku – Colden Books. Seorang perempuan mandiri, cekatan sekaligus keras hati. Karena sikapnya yang suka semena-mena itu dia dibenci oleh hampir semua karyawan. Termasuk asistennya yang charming yaitu Andrew Paxton (Ryan Reynolds). Adegan awal di film ini sempat mengingatkan saya pada adegan awal The Devil Wears Prada : seorang asisten editor in chief  yang bangun kesiangan & harus berlari-lari ke sebuah kedai kopi untuk memesan kopi buat bossnya & dirinya sendiri.

Karena sesuatu hal, Margaret terancam dideportasi ke Canada karena masalah visa. Tentu saja itu membuat dia panik dan berusaha mencari jalan keluarnya. Di tengah-tengah kekalutannya ini mendadak dia menemukan ide untuk mendeklarasikan pertunangan (secara sepihak) dengan asisten pribadinya, Andrew, yang kebetulan seorang warga Amerika. Kaget? Jelas, karena masalahnya mereka ini tidak pernah saling cinta. Hubungan mereka hanya sebatas profesionalisme bos – asisten, tanpa melibatkan rasa samasekali. Tentu saja bukan hal mudah, utamanya bagi Andrew untuk langsung menyetujui “pertunangan” dadakan ini. Jikalau pun akhirnya Andrew setuju terlibat dalam sandiwara ini namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh Margareth, termasuk salah stunya harus berlutut untuk melamarnya. Lantas apakah semudah itu mereka menikah? Tentu tidak, ditengah keraguan pihak dinas imigrasi yang sangat menyangsikan “cerita cinta” mereka berdua yang terkesan mendadak & pasti maksud tertentu mengingat masalah visa Margareth Tate yang bermasalah itu, mereka harus sibuk bersandiwara untuk meyakinkan semua orang bahwa, yes they’re really couple.

Cerita dibangun ketika keduanya harus pergi ke Sitka – Alaska untuk menemui kedua orangtua Andrew sekaligus merayakan ultah neneknya yang ke 90. Disini Margareth menemukan kenyataan bahwa keluarga Paxton adalah keluarga kaya dengan bisnis yang berderet-deret. Menarik, saat bagaimana Andrew & Margareth harus bersandiwara & menceritakan kisah cinta mereka di depan semua keluarga & tetangga. Ada banyak kejadian lucu sekaligus mengharukan yang berawal dari Alaska ini. Utamanya ketika mereka diminta harus menikah secepatnya oleh keluarga Andrew. Lantas akan semudah itukah mereka menjalankan pernikahan? Toh hanya sebatas “pernikahan berlatar belakang bisnis” ini (mereka sepakat akan bercerai beberapa tahun kemudian setelah masalah visa ini mereda). Dilematis. Satu sisi yang bertabrakan dengan sisi lainnya. Apalagi kalau bukan hati nurani. Margareth yang akhirnya menyadari bahwa dia sesungguhnya tidak bisa memaksakan kehendak semaunya ketika ketulusan keluarga Paxton begitu menyentuh hatinya.

Ah, saya selalu suka dengan gaya Sandra Bullock di tiap filmnya. Sekarang ditambah dengan kepiawaian Ryan Reynolds dalam memainkan mimik mukanya, makin tambah bikin klop akting mereka berdua. Soal perbedaan usia antara mereka yang cukup jauh (Bullock 44, Reynolds 33) sepertinya nggak ada masalah deh. Toh orang lebih melihat isi filmnya dibanding dengan kehidupan asli pemerannya bukan? Fletcher juga pandai dalam mengarahkan dan menempatkan humor-humor di saat dan posisi yang pas. Jika menonton film ini, maka dari menit-menit awal maka film ini telah mampu memberikan rasa humor yang baru, dengan suasana lingkungan kantor. Tak hanya itu, permasalahan yang menjadi inti dari film ini pun dibuat dengan cara menghibur sehingga dapat dikatakan kalau film ini tidak membosankan dari menit awal hingga menit terakhir. Alurnya sendiri sangat enak diikuti dan selalu bikin penasaran, meskipun ujung-ujungnya juga gitu karena memang sudah jadi pakemnya romantic-comedy. Singkat kata : nggak ada yang mengecewakan.

Pesan moral yang saya catat & agaknya ingin disampaikan di film ini adalah just be nice & respect to anyone, kita tidak pernah tahu kapan kita justru akan membutuhkan mereka. Cinta juga bisa muncul kapan saja, dimana saja & melalui jalan yang tak terduga.

 

gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Opera Van Java

operavanjava

Apakah Anda termasuk penggemar  tayangan komedi slapstik Opera Van Java di Trans7 ? Kalau “ya” berarti sama seperti saya :D. Tayangan yang running di prime time  ini memang menyajikan konsep humor segar berlatar belakang legenda, cerita rakyat atau sejenisnya yang dikemas secara ringan dengan iringan gamelan modern/kontemporer.

Pemain tetap di acara ini : Sule, Azis Gagap, Andre Stinky, Nunung Srimulat, Parto, ditemani oleh 2 sinden & para pengrawit (pemain gamelan & instrumen lainnya). Kemampuan melawaknya sangat merata karena mereka sebenarnya bukan orang baru di dunia lawak (kecuali Andre Stinky karena dulu dia lebih dikenal sebagai penyanyi). Walaupun begitu, Andre yang sudah terbiasa bermain di tayangan komedi Ngelenong Yuk di TransTV celetukan-celetukannya lumayan berpotensi memancing kelucuan.

Yang saya perhatikan disini, gaya lawakan mereka sejak tayangan pertama sampai dengan sekarang tetep sama, slapstick. Hampir di setiap episode pasti ada adegan timpuk-timpukan sterofoam, adegan ‘makan’ styrofoam, ngejorokin lawan mainnya ke set properti panggungyang terbuat styrofoam. Sesekali memang masih terlihat lucu, tapi ketika porsi adegan itu terlalu sering kok jadinya malah kasar, ya? 😕

Ada yang sedikit berbeda sejak tayangan sahur 2-3 hari yang lalu. Tepat ketika Azis (yang hampir selalu menjadi bulan-bulanan teman-temannya) mendadak melakukan aksi protes dengan mogok tampil karena habis ditimpuk kepalanya sama Andre. Nggak tahu apakah marahnya beneran atau cuma akting, yang jelas memang Azis sempat mogok main selama beberapa menit, sengaja tidak mau tampil & seketika lawakan di OVJ mendadak garing dan salah tingkah. Ironisnya itu adalah tayangan live yang tidak mungkin diedit. Andre yang menjadi ‘tersangka’ ngambegnya Azis memang jadi melawak dengan sedikit kikuk walaupun kesan ditutupi itu masih terlihat.

Entah apakah ada pengaruh atau tidak, sejak tayangan itu tampaknya tim kreatif memberlakukan hal yang sedikit berbeda terhadap materi tayangan di OVJ. Porsi adegan perusakan properti panggung yang terbuat dari styrofoam, timpuk-timpukan, atau saling menjorokkan temannya sudah mulai banyak dikurangi. Entah berawal dari ngambegnya Azis atau memang kesadaran tim kreatif Opera Van Java.

Mungkin mereka akhirnya menyadari kalau tayangan hiburan itu tidak cuma ditonton oleh orang dewasa, tapi juga anak-anak; mengingat jam tayangnyapun di prime time & apalagi sekarang ditambah dengan tayangan live sahur. Kalau dilihat dari segi edukasi juga kurang bagus apalagi kalau sampai sampai ditiru oleh penonton anak-anak yang notabene masih belum bisa membedakan mana akting dan mana beneran. Apa jadinya kalau sampai tingkah laku mereka di TV ditiru oleh anak-anak. “Oh, ternyata mukul temen pakai kayu atau pipa iu gapapa…”, “oh ternyata ngejorokin temen sampai terjerembab jatuh ke belakang itu ternyata lucu…”

Above all, tayangan ini masih jadi salah satu tayangan favorit Trans7 yang ratingnya lumayan bagus. Sebuah tayangan komedi seyogyanya tidak cuma sekadar beradegan lucu yang memancing tawa penonton, tapi sebaiknya juga mempertimbangkan unsur kelayakan tayang, dan juga unsur-unsur lainnya mengingat penonton mereka datang dari berbagai usia. Jika memang ada materi yang kurang sesuai disaksikan oleh semua kelompok umur ada baiknya jika tim kreatif juga menyertakan disclaimer yang menyatakan keterangan tentang tayangan tersebut.

Semoga ada perhatian dari pihak Trans7 untuk lebih bijak mengolah semua tayanganya, mengingat media televisi adalah media yang paling mudah diserap informasinya oleh semua umur.

gambar diambil dari sini

Continue Reading