Rupiah Diantara Seblakan Sampur ..

penari

Penari-penari itu melenggak-lenggokkan pinggulnya di tengah iringan gamelan jawa sambil sesekali menyibakkan sampur (selendang) ke kiri & kekanan. Make up-nya sedikit tebal mirip make up panggung, rambutnya disasak lengkap dengan sanggul & sunggar, pakaiannya terdiri dari kemben & kain panjang. Ditengah terik matahari & dinginnya malam mereka terus menari diiringi gamelan yang dibunyikan oleh tape dengan gerakan seadanya. Mereka cantik & luwes.. Namun sayangnya mereka bukan seniman tobong yang sedang mementaskan tari di sebuah panggung. Panggung mereka bahkan terlalu luas & besar. Panggung mereka adalah jalan raya yang berdebu, penonton mereka adalah orang yang tengah makan di pinggir jalan, tukang ojek, kenek & sopir bus kota, penumpang yang menunggu bus di halte, tukang becak, mbok jamu, dan berbagai kelas masyarakat lainnya. Panggung yang berkelas? Pasti bukan..

Tak jarang bukan uang yang mereka dapatkan, melainkan sindiran, cemoohan, atau tatapan sinis. Hujan, panas, siang, malam, mereka lalui dengan konsisten. Mereka jalani kehidupan mereka sebagai seorang penari jalanan. Melihat mereka berjuang, bergulat dengan lenguh napas metropolitan ini rasanya terlalu naif jika tidak menghargai keberadaan mereka. Sama halnya dengan kaum pendatang di Jakarta, mereka ingin tetap survive. Apapun akan mereka jalani selama itu halal. Menari dengan kostum ribet, tak masalah jika memang itu yang harus mereka lakukan untuk menyambung hidup. Siapa suruh datang Jakarta, begitu syair sebuah lagu. Jika memang hidup di tengah belantara Jakarta sebagai sebuah pilihan, survive adalah sebuah jawaban.

Sebagai seorang (mantan) penari saya sedikit banyak paham dengan gerakan-gerakan mereka. Kadang memang sangat jauh dari pakem, sekedar goyang, seblak sampur, pacak gulu, sudah itu saja. Tapi apalah arti pakem jika toh orang yang menontonnya tidak banyak yang tahu tentang apa itu pakem tari tradisonal Jawa, bagaimana & berapa ketukan ketika mereka harus membawakannya. Tahunya penonton ya mereka dihibur dengan lenggokan tubuh penarinya & irama gamelan. Itu saja. Syukur-syukur kalau endingnya dikasih uang, kalau tidak.. ya sudah, life must go on, kan? So, masih pentingkah gerakan sesuai pakem itu? Ada segelintir orang yang berkedok sebagai penari tradisional jalanan tapi ternyata hanya sebatas “bungkusnya” saja namun gerakannya sangat erotis, nyata-nyata malah melecehkan busana tradisional yang dikenakannya. Sedih nggak sih? Tapi semoga itu hanya sebagian kecil saja yang mengatasnamakan penari tradisional jalanan padahal tarian mereka erotis.. *sigh*

Jika melihat mereka yang tampil secara berkelompok, kemana-mana berduyun-duyun kesana kemari dengan kostum yang eye catching, apa yang ada di pikiran Anda? Kalau saya jujur kasihan sekaligus salut. Kasian karena saya yakin mereka tidak punya pilihan & kemampuan lain untuk bisa terus bertahan hidup di Jakarta. Kalau mereka punya keahlian lain pastinya mereka akan memilih untuk tidak hidup dijalanan seperti itu. Salut karena semangat hidupnya yang harus mengalahkan gengsi & rasa malunya untuk menangguk rupiah guna bertahan hidup di ibukota.

Uniknya saya seringnya justru menikmati “tontonan” itu sebagai hiburan tersendiri, hiburan batin mungkin ya. Walaupun banyak yang komentar sinis,  

“halaah, tarian begitu apa bagusnya sih Dev? Mending kalo bisa menghibur. Ngeliatnya aja gue eneg, lenggok sana, lenggok sini. kalau sekedar kaya begitu sih gue juga bisa. Kalo lo mau liat yang lebih bagus mending ke daerah aslinya aja sana ke Jawa Tengah, atau kalau mau yang jaipong mending ke Jawa Barat sana. Atau kalo mau yang deket bisa ke Taman Mini..”.

Oh, emang harus begitukah? Oke kamu juga bisa kalau hanya sekedar lenggak lenggok badan. Masalahnya, mau nggak? berani nggak menjalani hidup seperti mereka? Kok saya lebih melihat jauh daripada hanya sekedar lenggak-lenggok tubuh ya.. Apapun, bukan hal yang mudah untuk mengalahkan gengsi, apalagi untuk berjuang & bertahan hidup di Jakarta. Semua serba multiple choice. Soal pekerjaan apa yang akan dipilih itu juga salah satu pilihan hidup. Mau jadi kriminal, orang baik-baik, kuli, pekerja kantoran, wiraswasta.. whatever,  it’s all about choice..

 

gambar dari sini

Comments (10)

  1. bandit pangaratto

    Saya memang bukan penikmat dan peminat tari Bu (terlebih tarian erotis, saya sama sekali bukan peminat maupun penikmatnya… hoeksss)…
    Tapi yah, saya menghargai org yg dengan tekun belajar menari,
    saya tahu, di setiap lenggokan, gerakan, dsb terkandung makna yg berharga buat pelajaran hidup..

    Dan sayangnya, manusia jaman sekarang (untungnya saya bukan.. heheheh) lbh suka tarian erotis yang sedikitpun tak mengandung pelajaran hidup itu… (miris)

  2. devieriana

    sebenernya bukan masalah belajar menarinya dear.. Di Jakarta ada yang namanya penari jalanan.. mereka mengamen lewat tarian.. Bisanya mereka berkelompok terdiri dari 2-4 orang, 1 orang sebagai pengatur “sound system” (bawa tape), selebihnya mereka menari. Ga banyak yang kasih apresiasi, ibarat kaya orang ngamen (nyanyi), ada yang ngasih & ada yang enggak.. Saya justru salut sama mereka. Pernah malem2, gerimis, saya lagi makan nasgor di pinggir jalan, mereka datang, nyamperin & menari di depan saya. Gerakan memang seadanya, tapi mereka kostumnya niat, pake sanggul & kemben plus kain panjang & selendang. Seorang gadis & (entah) bapaknya (sudah tua pula). Dia menari untuk sekeping dua keping receh.. Dan mereka jalan kaki lho, kadang naik bus kota dengan kostum itu. Berat banget perjuangannya untuk bisa survive di Jakarta..

    Sebenernya sudaah lama saya pengen nulis itu, cuman timingnya belum tepat. Ketika D’massive meluncurkan lagu dengan konsep viklip penari jalanan itu barulah saya tergerak untuk menulis tentang mereka.. Gitu darling :)
    *kok panjangan komen gue ya?heheheh..

  3. Introverto

    Mang orang kadang cuma nyeblak ngomong ga mikir…ya tho ya mbak?

    Kapan kopdaran?

  4. devieriana

    yup.. bener banget jeng.. Yang ndengerin itu lho yang ikut nelongso..

    Btw, simbok kemarin bilang minggu depan ya.. Dimana itu jadinya? Citos? Mboookk.. pucuk ke pucuk itu :mrgreen:. Napa ga di Plaza Senayan gitu, deketan..

  5. warm

    perjuangan mereka itu, sungguh menampar saya..
    sekalian berkaca, bahwa hidup ini tidaklah mudah.
    tapi juga bukan satu alasan untuk menyerah
    nice post,
    nice song
    salam !

  6. devieriana

    “hidup ini tidaklah mudah” –> setuju banget mas.. Itulah kenapa saya begitu menghargai mereka yang mempertahankan hidupnya dengan tersengal-sengal di ibukota..

    Makasih mas. Salam jugah :)

  7. Revan

    Pertama kali nonton video clip D’masive Judul Jangan menyerah. Aku berfikiran yg sama. Semua itu adalah pilihan. Apakah kita bisa menjalani hidup seperti mereka. setiap hari harus dandan utk mendapatkan beberapa rupiah. Mungkin tak banyak, tapi dapat membantu kehidupan ekonominya. Digambarkan pula, anaknya yg sukses dan memberikan hadiah terbesar utk jerih payah ibunya pada saat mengamen dulu.

    JAngan menyerah !!! kalimat yg harus di tanamkan. Nice posting. Salam kenal

  8. devieriana

    kalo aku justru udah dapet ide penulisannya duluan cuman gak nulis-nulis :mrgreen:. Tapi begitu viklipnya muncul, langsung dapet inspirasi & nulis dengan lancar seolah ada energi yang bikin saya harus nulis itu..

    Salam kenal juga ya Revan :)

  9. markus ap

    Ada sisi kehidupan yang kadang tak pernah kita tengok, saat kita melihatnya ada plus minus yang ada pada pikirkan kita dalam benak, penari jalanan memang jauh dari penari keraton yang menari dengan pakem dan menari penuh dan dengan upaya mengagungkan estetika, karena memang bertujuan estetika…”keindahaan”, sedang penari jalan lebih sering ke urusan perut daripada estetika, kerurusan hidup dan menyambung nyawa sehari daripada estetika, dibalik itu kita yang menyaksikan penuh dengan plus minus dalam benak, plus saat kiat bisa menyadari betapa mereka berat menjalani kehidupan dan harus panas panas mencari penghidupan dan kita bisa mengsyukuri kehidupan yang kita punya karena melihat kehidupan mereka, minusnya bisa jadi kita sama dengan penonton yang mencibir, mengoda dan kadang melecehkan…balik-baliknya seperti yang mbak dev bilang, “pilihan hidup”, mereka memilih profesi untuk prnghidupan, kita memilih untuk menangapi hal itu dengan positif atau negatif…

    Saya suka tulisan ini…

    :D

  10. devieriana

    kadang sisi itu justru kita temukan secara tidak sengaja lho mas Markus. Kebetulan saya orang yang sering menemukan by ketidaksengajaan itu. Hidup di kota besar macam Jakarta ini kalau nggak kuat bisa tergilas sama kehidupannya sendiri. Beruntunglah bagi mereka yang masih memilih jalan halal untuk mengisi perut dibanding dengan cara instant, misal (maaf) menjual diri.

    Makasih banyak apresiasinya mas Markus.. Seneng deh ada tamu yang mau baca tulisan saya yang panjang-panjang ini, hehehehe.. :D

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>