Blessing in Disguise

blessing

Di sebuah siang yang terik, saya memenuhi janji temu dengan seorang teman lama. Kebetulan dia sedang ada dinas di Jakarta, jadi ya ketemuan saja, lepas kangen sambil ngobrol-ngobrol ringan dengan topik random. Namun obrolan jadi lebih serius ketika kami membahas salah satu teman baik kami yang sedang melalui titik nadir dalam kehidupan berumah tangga.

Selama ini saya selalu menilai teman-teman saya baik-baik saja dengan kehidupan masing-masing, begitu juga dengan hubungan personal dengan teman-teman yang lain. Kalau pun iya ada masalah rumah tangga ya wajar, namanya hidup berumah tangga pasti ada saja masalahnya, kan? Kalau sekadar salah paham, beda sudut pandang, selama itu bukan hal yang prinsip dan masih discussable sepertinya masih wajar-wajar saja ya.

Pun halnya dengan teman yang diam-diam saya kagumi sosoknya ini. Bagaimana tidak jadi idola, di mata saya dia adalah sosok yang nyaris sempurna. Memiliki pasangan yang sempurna, selalu terlihat harmonis, rumah tangga mereka terasa lengkap dengan 3 anak yang lucu-lucu, karier suami isteri yang cemerlang, kehidupan yang agamis, pokoknya pasangan yang serasi luar dalam. Setidaknya itu yang ada di mata saya. Hingga akhirnya saya dengar kalau rumah tangga sang teman idola ini sedang berada di ujung tanduk. Kaget dan sedih itu pasti. Layaknya sebuah tamparan keras di siang bolong. Betapa kadang yang terlihat sempurna di luar itu belum tentu sempurna di dalam, vice versa.

Belum selesai keterkejutan saya, masih dikejutkan lagi dengan cerita teman-teman lainnya di komunitas lama, yang mengalami masalah tak kalah peliknya. Tentang masalah keuangan, hutang piutang, dan bahkan ada yang terjerat kasus penipuan. Hiks… sedih

Tapi ada hal yang perlu saya bold, underlined, dan stabilo tebal-tebal. Mungkin saya selama ini terlalu sederhana dalam menilai seseorang, atau terlalu naif ya? Tidak selamanya penampilan luar itu berbanding lurus dengan yang ada di dalamnya. Banyak orang yang terlihat jauh lebih baik dari kita tapi sebenarnya tidak lebih dari kita. Banyak orang yang terlihat lebih bahagia belum tentu merasa bahagia sebagaimana diperlihatkan.

Kalau boleh saya mengambil istilah psikologi, semacam Eccedentesiast, orang yang mampu menyembunyikan rasa sakit dan kesedihan mereka di balik senyum atau wajah yang baik-baik saja, sehingga terlihat tidak sedang mengalami masalah, demi menjaga hubungan dengan orang lain. Pendek kata, semacam bukan tipe pengeluh.

Dari dialog siang itu, ada banyak perenungan di pikiran saya. Bahwa bahagia itu bukan berarti segala sesuatunya serba sempurna, tapi justru ketika kita bisa melampaui segala ketidaksempurnaan yang kita miliki.

Hidup itu kadang penuh dengan kejutan dan guncangan, pasti ada yang namanya suka dan duka, ada sahabat, ada musuh, ada senyum, ada air mata. Tapi hidup itu kan sejatinya bukan membahas tentang siapa kita, tapi bagaimana kita menjalaninya; how we live it. Hidup juga bukan melulu membahas tentang kapan/bagaimana kita jatuh, tapi tentang bagaimana kita bangkit berdiri setelah diterpa berbagai masalah.

Selalu percaya bahwa, segala sesuatu itu terjadi karena suatu alasan. Seperti kata Marylin Monroe,

“People change so that you can learn to let go, things go wrong so that you appreciate them when they’re right, you believe lies to you eventually learn to trust no one but yourself, and sometimes good things fall apart so better things can fall together.”

Tidak selalu yang namanya musibah, ketidakberuntungan, ketinggalan kesempatan, dan berbagai masalah itu pasti buruk. Karena bisa saja segala hal yang buruk itu justru akan membawa kita ke hal-hal yang jauh lebih baik, menjadikan kita jauh lebih kuat, atau setidaknya ada sebuah pembelajaran yang bisa kita ambil. And that is always a good thing. Often times, it is for the best; we might just not know it.

My two cents…

 

PS: hasil kontemplasi selama berhari-hari yang ditulis sambil ngopi di sore hari, pas jam kosong

 

 

picture source: here

Continue Reading

A Self Reminder: Allah Sang Mahasutradara

-----

“Sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik di depan Allah, begitu pula sebaliknya, sesuatu yang kita anggap buruk belum tentu buruk di depan-Nya. Dialah Sang Mahatahu akan segala sesuatu…”

—–

Buat saya, hidup itu seperti layaknya sebuah film. Kita adalah aktor-aktor yang sedang menjalani sebuah script atau skenario, sedangkan Tuhan adalah sutradaranya. Film (kehidupan) saya dan film (kehidupan) kamu, pasti berbeda. Tapi, meski berbeda bukan berarti kita tidak pernah ada dalam satu frame yang sama. Mungkin saja kita yang berada di belahan bumi yang berbeda dipertemukan oleh-Nya untuk menjalani sebuah skenario; misalnya saling bertemu, mengerjakan sesuatu bersama, atau cuma sekadar saling sapa satu sama lain. Tapi sebaliknya mungkin saja kita yang duduk bersebelahan justru tidak saling mengenal satu sama lain karena kita lalu pergi begitu saja tanpa ada percakapan/perkenalan sama sekali. Bisa saja, kan? 🙂

Sesekali dalam hidup, kita pasti akan tertawa. Dan sebagai penyeimbang, kita pun pasti pernah menangis. Walau demikian hidup harus tetap berlanjut, kan? Dalam skenario itu mungkin kita harus beradegan berlari, terjatuh, berjalan, merangkak, bahagia, terluka, menangis dan tertawa, begitu seterusnya untuk menggenapkan skenario yang sudah ditulis oleh-Nya.

Saya adalah salah satu yang telah menjalani sebagian skenario-Nya. Hidup saya tidak selalu bahagia, tapi juga tidak selalu sedih. Namun apapun itu saya syukuri tiap sesi dalam hidup saya, karena saya yakin bahwa Allah punya rencana mahaindah yang tidak saya ketahui. Saya juga yakin dengan janji Allah, bahwa Dia tidak akan memberikan suatu cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya. Dan, Dia menepatinya. Saya adalah salah satu ‘korban’ ketakjuban betapa indah skenario yang telah dibuat Allah bagi hamba-hamba-Nya.

Sebagai manusia yang punya banyak sekali kekurangan, saya juga sering melakukan perbuatan dosa, baik sengaja atau tidak. Dan selama itu pula Allah masih bersabar melihat tingkah laku saya. Hingga akhirnya Allah menegur saya dengan sebuah kejadian yang menjadi sebuah turning point dalam hidup saya. Kejadian yang sempat membolak-balikkan hati saya, menjungkirbalikkan nalar saya, me-roller-coaster-kan hidup saya. Di titik itulah saya sadar bahwa Allah sedang menegur saya dengan cara yang radikal; sekaligus menyapa saya dengan lembut.

“Kalau sudah begini, kamu mau minta tolong sama siapa? Manusia?”

Tuhan memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Sejak itulah kehidupan spiritual saya berubah 180 derajat, karena sejatinya dengan dekat dengan-Nya-lah hidup saya jauh lebih tenang. There’s a blessing in every disguise. Saya yang dulu sering meninggalkan shalat, saya yang jarang bersedekah, saya yang jarang mengingat Allah, saya yang pecicilan sana-sini, pelan-pelan berubah. Saya luruh dalam tangis memohon ampun hampir di setiap sujud di sepertiga malam. Padahal sebelumnya, jangankan untuk tahajud, menggenapkan shalat 5 waktu saja rasanya enggan. Shalat hanya saya lakukan ketika ingin, ketika sempat, ketika ada maunya. Ya, saya pernah berada dalam fase sejahiliyah itu. Keimanan saya masih sangat tipis di usia saya yang sudah lebih-lebih dari seperempat abad ini 🙁

Seringkali kita menyebut sebuah kejadian itu cuma sebuah kebetulan, padahal tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Kalau (iseng) kita tengok lagi ke belakang tentang film kehidupan kita, pasti ada episode di mana kita mengalami adegan-adegan layaknya sebuah kebetulan, padahal semuanya adalah hasil campur tangan Allah.

Ya Allah, terima kasih untuk semua reminder-Mu. Terima kasih untuk semua peristiwa yang terjadi dalam hidup saya. Apapun itu. Terima kasih karena masih berkenan mengingatkan hamba-Mu yang suka bertingkah semau-maunya ini.

Terima kasih, karena masih Engkau izinkan kami untuk meneruskan film kehidupan kami di planet bumi yang merupakan panggung termegah kami ini…

 

 

sumber ilustrasi: clipartbest.com

Continue Reading

Bahagia Itu Sederhana

Tadi pagi, di kantor kedatangan teman yang sekarang sudah pindah tugas ke Malang. Kebetulan dia sedang tugas di Jakarta dan disempatkanlah untuk mampir. Ada banyak kisah yang dia ceritakan selama kurang lebih 2 jam (sejak saya datang pukul 07.00 sampai dengan pukul 09.00), ya pekerjaan, ya keluarga, ya lingkungan sekitarnya. Jadi selama 2 jam itu khusus buat dengerin dia cerita. Untungnya belum ada kerjaan yang turun atau perlu dinaikkan ke atasan ;))

Ada banyak perubahan drastis yang terjadi dengan si teman ini sejak menikah dan tinggal di Malang, mulai dari penampilan sampai dengan gaya hidup. Yang dulunya “apa sih yang nggak bisa kubeli?”, sekarang kalau mau beli apa-apa mikir dulu, bahkan sekarang pakai nawar. Kalau dulu nelepon bisa lama-lama, sekarang, “eh, udah dulu yak, pulsa gue mau abis nih…” Yang dulunya kalau handphone rusak tinggal beli lagi yang baru dan yang rusak nanti setelah diperbaiki tinggal dijual, sekarang mikir seribu kali mau beli gadget baru. Tas dan sepatu dengan brand apa sih yang nggak bisa dibeli? Sekarang, tasnya ya itu-itu melulu, dan hei… dia sekarang udah mau lho pakai sepatu yang harganya 80-100 ribuan. Intinya dia sudah berubah banget, lebih sederhana >:D<

Secara materi dia sangat jauh berkecukupan, semua perubahan yang terjadi sekarang karena semata-mata karena dia ingin menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal dan kantornya. Saya justru melihat semua perubahan ini sebagai hal yang positif  karena semua perubahan itu berasal dari keinginannya sendiri, bukan atas permintaan suami atau orang lain. Dan yang lebih penting adalah, dia terlihat jauh lebih bahagia, lebih tenang, lebih menikmati kehidupan dan perannya sekarang 🙂

Kebetulan di hari yang sama kok ndilalah saya juga sempat ngobrol dengan sahabat yang berbeda tapi dengan topik yang hampir sama. Benarkah kebahagiaan seseorang itu bisa diukur hanya dari materi? Topik yang sedikit berat kalau dibahas pagi-pagi, ya? Tapi toh tetap kami bahas juga.

Teman: “Aku ngerasa high society di Indonesa tuh emang rada aneh. Kalau di Jepang, high society itu sibuk dengan donasi, menjadi volunteer, atau ikut philantropic group. Well, they are rich, tapi nggak norak. Di TV juga nggak ada tuh yang namanya acara yang membahas top to toe fashion kaya disini. Kadang pengen tahu juga, gimana sih rasanya pakai semua barang branded, top to toe gitu. Berasa kaya manekin nggak, sih? Suka iseng sinis juga, emang harus dipakai semua ya, biar orang tahu itu mahal dan asli, gitu? Emang kalo nggak dipake takut dibilang KW? ;))

Saya: “hahaha, nggak kaya gitu juga kali. Tapi setahu aku memang di sini ada kaum-kaum yang bukan artis tapi gaya hidupnya memang mewah. Biasa disebut kaum “socialite”. Barang yang dipakai hampir semuanya high end. Kesibukannya selain berkegiatan sosial juga hadir di acara peresmian ini, gathering itu, arisan ini, seminar itu, dan beberapa kegiatan sejenislah… :D”

Ngomong-ngomong tentang barang bermerk dan mahal, pernah suatu ketika saya ngobrol dengan seseorang. Dia dan isterinya memang hobby beli barang-barang branded. Alasannya bukan untuk pamer, tapi justru untuk menghemat. Untuk beberapa alasan tertentu, dia bilang kalau umumnya, barang branded itu berkualitas dan lebih awet. Itulah alasan dia tidak pernah melarang isterinya membeli barang bermerk karena dia memperhatikan dari sisi kualitas dan daya tahannya. Daripada beli barang yang kualitas dan harganya dibawah itu tapi mudah rusak dan nantinya harus beli-beli lagi.

Sependek yang saya pahami, ada barang-barang yang memang sengaja dibuat untuk memenuhi kebutuhan dan fungsi tertentu. Pertama, biasanya barang-barang high end memang terbuat dari material berkualitas tinggi dengan proses pembuatan yang rumit, jadi tak heran kalau akhirnya barang-barang tersebut dapat bertahan hingga puluhan tahun tanpa berubah bentuk. Kedua, barang tersebut memang sengaja dicitrakan sebagai barang mewah, jadi dengan menggunakan barang tersebut secara otomatis akan menaikkan status sosial atau gengsi penggunanya. Jadi yang dijual selain dalam fisik barang juga psikologis (calon) pembeli 😀

Teman: “Aku boleh tanya, nggak? Pernah nggak sih kamu punya mimpi jadi salah satu mereka? Jadi mereka itu enak lho. Kamu bisa jalan-jalan kemana aja, bisa pake baju dan aksesoris mahal yang selama ini cuma bisa kamu lihat di halaman majalah fashion, mau kemana-mana tinggal dianter driver, mau beli apa-apa tinggal gesek. Kamu pasti senenglah, kan apa-apa serba keturutan :p”

Saya: “Mimpi jadi kaya mereka, bener-bener sosialita, gitu? Hmm, jujur belum pernah. Tapi kalau iseng-iseng berkhayal jadi orang superkaya sih pernah ;)) Eh, tapi emang kalau jadi orang superkaya itu menjamin kita pasti akan bahagia nggak sih?”

Nah, dari sini topik bahasan kami pun lama-lama makin berkembang. Dari urusan brand, berlanjut ke mimpi, dan lalu kebahagiaan yang hakiki. Beuh, beraaat… ;))

Memang, nggak ada orang yang bercita-cita jadi orang miskin. Semua pasti pengen punya kehidupan yang baik, layak, tercukupi seluruh kebutuhan hidupnya. Tanpa disadari sekarang pun manusia berlomba-lomba mengejar ke arah sana, but is it really promise you a complete happiness? Is it your true happiness?

Teman: “Eh, kalo nggak salah Prince Edward, kakaknya Ratu Elizabeth, menolak menjadi raja karena ingin menikah dengan orang biasa. Hei, ternyata ada ya yang nggak mau jadi raja, dan pengen cuma jadi rakyat biasa aja. Apa mungkin karena dia merasa kebahagiaan sejatinya adalah dengan menikmati kehidupan sebagai rakyat biasa, bukan menjadi raja, ya?”

Ada kalanya kebahagiaan manusia itu bukan melulu datang dari materi yang berlimpah ruah atau jabatan yang tinggi. Terkadang kebahagiaan hakiki itu justru lahir dari hal-hal kecil yang sederhana, bukan dari hal-hal yang sophisticated. Nah, terus apa sih sebenarnya inti tulisan panjang saya kali ini? ;))

Jadi teringat dengan salah satu scene My Best Friend’s Wedding:

A: “Okay, you’re Michael, you’re in a fancy French restaurant, you order… Creme Brulee for dessert, it’s beautiful, it’s sweet, it’s irritatingly perfect. Suddenly, Michael realises he doesn’t want Creme Brulee, he wants something else…”

B: “What does he want?”

A: “Jell-O”

B: “Jell-O?! Why does he want Jell-O? :-o”

A: “Because he’s comfortable with Jell-O! Jell-O makes him… comfortable. I realise, compared to Creme Brulee it’s… Jell-O, but maybe that’s what he needs!”

Mungkin kebahagiaan itu justru lahir ketika kita bisa makan nasi goreng kampung pinggir jalan bersama teman/keluarga, bukan steak dan makanan mahal di restaurant yang eksklusif. Mungkin kebahagiaan itu justru hadir ketika kita masih diberikan kesehatan dan umur panjang sehingga kita masih berkesempatan berkumpul dengan orang-orang tercinta. Bahagia itu mungkin ketika Anda pulang ke rumah disambut dengan tawa dan pelukan hangat sang buah hati. Atau mungkin ketika bisa kembali ke rumah dalam kondisi jalanan yang lancar dan tidak terjebak macet? 😉

Bahagia itu (sebenarnya bisa lahir dari hal-hal yang) sederhana, dan tiap orang bisa saja berbeda versi 😉

Apa sih bahagia menurutmu?

 

foto posterous saya

Continue Reading

Sebuah Teguran

Beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah komentar panjang di salah satu tulisan lama saya, di blog yang lama. Komennya bukan tentang isi postingan sih, tapi justru tentang ilustrasi yang saya gunakan di postingan itu. Menurut beliau, ilustrasi yang ada dalam tulisan saya itu adalah foto miliknya ketika ada pementasan tari di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada tahun 2008. Yang membuat sedikit kurang nyaman adalah kata-kata:

“Saya tahu ini adalah postingan lama tapi soal tata krama penggunaan karya orang lain rasanya perlu diperhatikan. Saya hanya kecewa saja dan mari kita belajar dari hal ini.”

Jadi, saya dianggap tidak punya tata krama karena tidak meminta izin pada beliau dan langsung mempergunakan gambar tersebut di blog saya yang abal-abal itu, meskipun saya sudah menyertakan link ke flickr beliau.

Menanggapi statement itu saya jadi gamang sendiri. Mau marah kok ya saya sama sekali tidak punya energi untuk marah, tapi kalau saya diam saja kok sepertinya mengiyakan kalau saya tidak paham etika berinternet 🙁

Jadi, ada sebuah postingan di Kompasiana yang diunggah oleh seorang blogger. Nah, kebetulan salah satu ilustrasi di sana mempergunakan ilustrasi yang juga (pernah) saya pergunakan di blog saya untuk tulisan dengan topik tarian. Bedanya adalah, saya menyertakan link dari mana gambar itu berasal  (yang gambarnya sudah di-remove oleh pemiliknya) , yaitu di flicker milik siapa waktu itu saya lupa karena sudah lama sekali (dan baru saya ketahui ketika pemilik aslinya komplain kalau itu adalah miliknya) . Credit  itu  saya letakkan di bagian paling bawah postingan saya. Sedangkan penulis di Kompasiana tersebut menyertakan link blog saya sebagai sumber ilustrasi.

Sebenarnya sama-sama memperhatikan etika memposting tulisan dan gambar ya, tapi ada sesuatu yang missed disini hingga menyebabkan saya disebut sebagai orang yang tidak tahu tata krama penggunaan karya orang lain, walaupun sudah menyertakan backlink dari mana saya ambil gambarnya pertama kali. Saya tidak menyalahkan sepenuhnya si penulis di Kompasiana, hanya saja dia kurang jeli melihat bahwa sebenarnya ada sumber awal gambar yang saya jadikan ilustrasi, yang seharusnya dia juga kutip sebagai credit. Jadi bukan blog saya yang langsung di-refer. Tapi justru disitulah kesalahpahaman ini bermula. Kalau saya dianggap salah karena tidak meminta izin kepada pemilik gambar aslinya, baiklah saya akan terima. Saya sudah meminta maaf langsung ke pemiliknya, dan dengan inisiatif saya sendiri saya hapus gambar tersebut dari blog saya.

Di dunia blogosphere memang umur blog saya terbilang masih sangat muda (jika dibandingkan dengan yang sudah ngeblog sejak tahun 1996). Saya juga terbilang blogger baru, karena saya baru ngeblog sekitar awal 2007, jadi baru 5 tahun. Selama 5 tahun ngeblog itu apa ya lantas saya hanya diam pasif tidak mempelajari netiket? Apakah saya lantas grubyak-grubyuk asal bikin tulisan dan klik publish tanpa mempedulikan etika penulisan blog?

Selama kurun waktu 5 tahun itu tulisan saya bertransformasi dan mengalami perombakan di sana-sini. Dari yang dulunya belum terarah, sedikit demi sedikit mulai saya arahkan. Yang dulu tata bahasanya kacau balau, pelan-pelan saya benahi. Yang dulunya saya tidak tahu bagaimana etika penulisan blog, sedikit demi sedikit saya pelajari dan saya up date. Intinya sampai sekarang saya masih dalam proses belajar.

Koreksi jika saya salah, sependek yang saya ketahui, jika memang kita ingin mengutip pernyataan orang lain dan atau ingin mempergunakan karya orang lain sebagai ilustrasi di blog kita, sebaiknya minimal mencantumkan backlink ke sumber asal, atau bisa juga dengan meminta izin langsung kepada pemilik tulisan/gambar aslinya. Bukan apa-apa, saya juga pernah mengalami tulisan di blog saya di-copy paste oleh orang lain tanpa menyebutkan sumber dari mana dia mengambil kata-kata di blognya, jangankan izin, ngelink juga enggak (saya juga heran, lha wong blog abal-abal kaya gitu kok ya di-copy paste). Berhubung saya tidak ingin hal yang  sama terjadi pada saya, maka saya juga berusaha memperlakukan hal yang sama kepada karya orang lain. Kalau tidak meminta izin secara langsung, alternatifnya/minimal dengan mencantumkan credit link dari mana sumbernya. Jadi, kalau saya dibilang nggak punya etika atau tata krama mengunggah postingan di blog kok ya agak gimana, ya 😕 Tapi ya sudahlah…

Saya memang hampir selalu mempergunakan ilustrasi dalam setiap postingan saya. Entah itu hasil dokumentasi pribadi, atau mengambilnya dari mesin pencari, Google. Kita pasti sadar bahwa sebuah gambar/postingan yang sudah diunggah via internet dan telah tersimpan/terbaca dalam database google akan dengan mudah ditemukan oleh kita sebagai pengguna internet, kecuali memang postingan itu sengaja tidak dibuka untuk umum, ya (private setting). Soal nanti gambar/postingan yang kita unggah itu dimanfaatkan seperti apa oleh penggunanya ya itu sudah di luar batas kemampuan kita. Disinilah diperlukan kesadaran akan pentingnya etika berinternet.

Utamanya untuk gambar, terjadinya kemungkinan duplikasi juga sangat besar. Jika sudah terjadi hal semacam ini, kita hampir tidak bisa memastikan dari mana sumber asal gambar tersebut, dan kemana kita harus meminta izin menggunakan gambar tersebut untuk diunggah ke dalam website kita. Bisa saja gambar yang sama kita temui dari satu website ke website yang lain.

Itulah sebabnya saya lebih memilih menggunakan cara paling sederhana dengan menyertakan backlink dari mana saya mengambil gambar tersebut. Tapi setelah kejadian kemarin saya jadi mendapatkan pelajaran bahwa terkadang menyertakan backlink saja tidak cukup, karena preferensi pemberian izin terhadap penggunaan karya pribadi yang akan dipergunakan oleh orang lain bisa saja berbeda bagi masing-masing orang. Ada yang cukup menyertakan backlink, ada juga yang selain  backlink juga wajib izin dari pemilik aslinya. Saya jadi membayangkan,  gimana ya kalau aturan itu dipukul rata secara zaakelijk, dan ternyata pemilik sumber aslinya sudah meninggal dunia. Kemana saya harus meminta izin padahal butuh buat ilustrasi di blog ini aja? Masa harus ke kuburannya? Mending saya nggak usah pakai ilustrasi deh. Ini misalnyaa…  😀

Kalau saya pribadi, selama itu hanya untuk postingan di blog semata, bukan untuk tujuan komersil, apalagi untuk tindakan negatif/kriminal, saya masih memperbolehkan orang lain mengutip tulisan asli saya, atau meminjam dokumentasi pribadi yang saya unggah ke internet, dengan  menyertakan sumber dari mana tulisan atau gambar itu berasal. Tidak zaakelijk harus meminta izin kepada saya, walaupun saya juga sudah menyediakan contact page yang bisa dihubungi kapan saja.

Jadi, soal apakah hasil karya yang sudah kita unggah di internet itu akan bermanfaat atau tidak bagi orang lain, atau apakah nantinya akan dipergunakan secara positif atau negatif semua terpulang pada niat penggunanya, karena kita tidak mungkin mengawasi pergerakan dan aktivitas yang dilakukan orang lain ke web kita selama 24 jam penuh. Sekali lagi, jangan bosan-bosan untuk tetap berada dalam koridor etika berinternet. Itu sih menurut saya.

Bagaimana menurut kalian? Let’s discuss! 🙂

 

Continue Reading

Pencari Amal

Pernahkah pertanyaan dan doa kalian dijawab Tuhan hanya dalam beberapa jam saja sejak kalian mengucapkannya? Saya, kemarin malam..

Malam itu, saya bersama suami akan makan malam di daerah Tebet. Baru saja kami memarkir kendaraan di seberang tempat makan yang kami tuju, persis di samping pintu mobil sudah berjajar 3 bocah lelaki usia tanggung yang salah satunya menyodorkan kotak mirip kotak semir sepatu. Saya yang saat itu hanya menggunakan sandal jepit terpaksa menolak halus karena memang tidak butuh semir.

“Ya sudah Tante, kami boleh minta tolong belikan nasi sebungkus aja? Biar nanti kami makan bertiga…”, tutur anak lelaki yang paling kecil.

Mereka nampak kurus, kumal dan lusuh, mungkin karena sudah seharian di jalanan. Masing-masing memegang kotak kayu seukuran kardus sepatu, dengan baju yang sudah tidak jelas warnanya. Diam-diam saya merasa iba. Sudah berapa banyak orang yang menyemirkan sepatunya pada mereka hari ini? Sudah berapa lembar rupiah yang mereka dapatkan untuk menyambung hidup mereka hari ini? Tanpa berpikir lama, saya pun mengiyakan permintaan mereka untuk membelikan makan.

Suami saya lalu mengajak mereka untuk duduk, menanti nasi goreng yang kami pesankan untuk mereka. Saya belajar dari suami untuk tidak selalu memberi anak-anak jalanan itu uang. Kalau memang alasannya adalah untuk beli makan dan mereka lapar, belikanlah mereka makan. Karena kalau uang kadang belum tentu dibelikan makanan beneran.

Sesekali saya melihat mereka dari tempat duduk saya. Kebetulan mereka duduk terpisah dari kami lantaran tempat duduk yang ada di dalam sudah penuh, sehingga hanya tersisa tempat duduk di luar saja. Tapi tak apa yang penting mereka bisa menikmati makan malam dengan layak.

Ketika pesanan datang, mereka langsung menyantapnya dengan lahap sambil sesekali bergurau. Ya Allah, ternyata mereka lapar beneran.

Seusai makan, saya menghampiri mereka. “Kalian sudah selesai makannya?” tanya saya. “Sudah, Tante, terima kasih. Makan malamnya, enak…” jawab salah satu dari mereka dengan wajah sumringah. Saya tersenyum, mengangguk, sambil melirik ke arah piring mereka yang bersih.

Sambil menunggu suami saya selesai makan, saya mengambil duduk di samping mereka.

Saya : “kalian sekolah, nggak?”
Mereka : “sekolah, Tante. Tapi lagi libur..”
Saya : “oh, iya, lagi libur sekolah, ya? Kalian kelas berapa aja?”
Anak 1 : “saya kelas 2 SMP, Tante..”
Anak 2 : “kalau saya kelas 3 SMP, Tante..”
Anak 3 : “saya baru lulus SMP, Tante..”
Saya : “kamu nerusin sekolah, nggak?”
Anak 3 : “nerusin, Tante.. :)”
Saya : “wah, kalian hebat deh, masih ada semangat buat sekolah… Jarang-jarang lho ada anak-anak yang hidupnya di jalanan kaya kalian tapi masih punya semangat buat menuntut ilmu. Eh, bentar ya, Tante bayar ke kasir dulu. Kalian tunggu disini..”

Selesai membayar di kasir saya pun kembali ke meja mereka. Mendadak yang paling kecil berkata:

Anak 1 : “Tante, kami boleh minta tolong lagi, nggak?”

Dua anak lainnya duduk menunduk mendekap kotak kayu masing-masing sambil menyenggol kaki anak yang yang paling muda itu. Mungkin maksudnya mencegah dia bilang sesuatu. Tapi yang dikode sepertinya tidak sadar atau mungkin tidak mengacuhkan kode kedua temannya itu.

Saya : “Ya, apa?”
Anak 1 : “Mmmh, Tante, boleh nggak kami minta tolong dibelikan buku tulis buat sekolah?”

Keharuan langsung menyeruak dalam hati saya. Ya Allah, baru saja tadi sore ketika saya menyusuri beberapa linimasa Twitter yang concern dengan masalah sosial, saya mengucapkan sebuah pertanyaan sekaligus doa:

“Ya Allah, kapan ya saya bisa ikut membantu anak-anak yang kurang mampu tapi masih punya semangat untuk sekolah?”

Ternyata dalam waktu yang tak berapa lama Tuhan langsung menghadirkan ke hadapan kami bukan hanya 1, tapi 3 anak yang masih punya semangat sekolah tapi kurang ada biaya. Tanpa menunda waktu lagi, saya langsung mengiyakan permintaan mereka. Kami pun langsung menuju ke salah satu supermarket terdekat dan membiarkan mereka memilih apa yang mereka perlukan.

Namun sesampainya kami di tempat tujuan, mereka justru saling berpandangan ragu.

Saya : “lho, kok malah bengong? Kalian pilih apa saja yang kalian butuhkan. Buku, alat tulis?”
Anak 3 : “ini aja, Tante. Satu pak buku tulis aja udah cukup, nanti kami bagi bertiga..”
Saya : “lah, satu pak kan cuma isi 10, kalau dibagi bertiga kalian masing-masing hanya akan dapat 3 buku tulis. Ya nggak cukup dong, Sayang. Ya udah ambil buat masing-masing, gih..”

Saya mengambilkan masing-masing 1 pak buku tulis, alat tulis, dan sebuah buku gambar ukuran A3 buat anak yang paling kecil, karena katanya dia sangat suka menggambar. Ketika saya menawarkan untuk membeli keperluan sekolah lainnya, jawaban mereka, “sudah Tante, terima kasih, ini saja sudah cukup kok. Kami sebenernya cuma butuh buku tulis saja..”

Seusai membayar semuanya di kasir, ketika akan menuju ke parkiran, sambil merangkul bahu anak yang paling kecil:

Saya : “nama kamu siapa?”
Anak 1 : “Dindin, Tante..”
Saya :“kalau yang 2 itu siapa aja namanya?”
Anak 1 :“itu Adis sama Firman..”
Saya :“kalian satu sekolah?”
Dindin :“iya, mereka kakak kelas saya..”
Saya :“oh.. kalian sekolah dimana?”
Dindin : “di Perguruan Rakyat 1, Tante..”
Saya :“masuk pagi atau siang?”
Dindin :“siang..”
Saya :“Kamu tiap hari nyemir sepatu?”
Dindin :“Kami bukan nyemir sepatu, Tante..”
Saya :“lha, kotak yang kalian bawa itu tadi apa?”
Dindin :“itu kotak amal buat musala, Tante. Kami mencari infaq dan sedekah untuk musala kami..”

Mak jleb! Ya Allah, ternyata kotak yang semula saya pikir itu adalah kotak semir sepatu adalah kotak amal untuk musala yang mereka edarkan untuk diisi oleh siapa saja yang mau bersedekah? Mata saya menghangat. Air mata saya langsung menggenang.

Tahu nggak sih bagaimana rasanya ketika di akhir-akhir peristiwa kalian baru tahu kalau yang kalian bantu itu ternyata anak-anak mulia yang bergerak di jalan agama, bukan meminta uang untuk mengemis?

Firman : “Oom, Tante, nanti kami turun di tempat yang tadi aja ya. Karena kami harus mencari 1 orang teman yang lain sebelum kami pulang, dia terpisah dari kami tadi…”
Suami: “rumah kalian di mana? biar sekalian kita anter..”
Mereka : “di daerah Kampung Pulo, Oom.. Terima kasih, Oom. Nggak usah. Nanti kami pulang naik ojek saja.”

Berhubung mereka masih harus mencari teman yang lain, terpaksa mereka kami turunkan persis di tempat kami bertemu tadi. Sebelum berpisah, satu persatu mereka berpamitan dan mencium tangan saya. Wajah mereka terlihat sumringah walaupun ada gurat lelah yang tak mampu mereka sembunyikan.

Saya menggenggamkan beberapa lembar rupiah ke tangan Dindin. Ini buat kalian pulang ya. Hati-hati di jalan. Salam buat teman kalian yang satu lagi ya…”, bisik saya sambil setengah mati menahan air mata supaya tidak jatuh.

Setelah sesi perpisahan yang mengharukan itu, tangis saya pun akhirnya tak terbendung lagi. Tak disangka bahwa Allah mendengar dan mengabulkan doa saya begitu cepat. Allah bekerja melalui jalan yang benar-benar misterius, karena awalnya kami sempat berniat akan makan di daerah Megaria, tapi entah kenapa justru mengarahkan tujuan kami menuju Tebet, sehingga mempertemukan kami dengan 3 pengedar kotak amal bernama Dindin, Adis, dan Firman tadi.

Sambil mengelus kepala saya, suami berkata, “bersyukur bahwa kita masih diberikan kesempatan berbagi. Kalau soal rezeki insyaallah masih bisa kita cari. Semoga apa yang sudah kamu berikan malam ini berkah buat mereka ya…”

Saya mengangguk pelan sambil menyeka air mata yang tak henti-henti mengalir. Kami pun menyusuri jalanan yang mulai lengang dalam keheningan masing-masing.

Dalam hati saya berdoa, “semoga Allah melindungi kalian bertiga hingga sampai dengan selamat di rumah dan bertemu kembali dengan keluarga, ya. Aamiin…”

 

Continue Reading