Asli atau Bayar?

Beberapa waktu yang lalu saya sempat ngobrol dengan seorang teman lama di YM. Teman waktu saya masih tinggal di Surabaya. Lumayan lama kami tidak tahu kabar masing-masing sejak masing-masing dari kami menikah. Setelah akhirnya dia menjawab ucapan selamat ulang tahun yang saya kirimkan di YM akhirnya kami lanjutkan dengan saling bertukar kabar.

Saya kabarkan kalau saya sekarang berkarir sebagai PNS. Dia kelihatan tidak terlalu terkejut. Justru meminta saya bercerita apa motivasi saya, dll. Ya sudah saya ceritakan apa adanya. Saya bilang sama dia, kalau mau diceritakan prosesnya dari awal ya terlalu panjang. Akhirnya saya kasih link runtutan ceritanya di sini. Itulah salah satu keuntungan punya blog, punya arsip tentang cerita hidup ;))

Berhubung dia juga waktu itu lagi sibuk jadi sepertinya link yang saya kasih itu belum di baca. Ya iyalah, untuk baca “cerita berseri” yang panjang begitu kan butuh waktu :). Eh, mendadak dia menanyakan sesuatu sama saya dan itu pertanyaan yang cukup “makjleb”. Halah,lebay banget deh ;))

Teman : “aku mau nanya tapi jangan tersinggung ya..”

Saya : “Apa? :-?”

Teman : “kamu kok bisa masuk PNS di situ, bayar apa ikut tes?”

Makjleb! #-o Duh, sumpah nih ya, pertanyaan itu kok ya ditanyakan pas saya PMS ya. Kalau aslinya ya jujur saya pengen jitak-jitakin dia deh, “tuk-tuk-tuk!” ~X( . Tapi untung waktu itu saya lagi dikelilingi malaikat yang baik hati semua, jadi pas di tanya seperti itu hati saya adem ayem kaya ada angin semilir sepoi-sepoi gitu. Dia lagi beruntung aja mood saya pas lagi bagus :p . Jadi ya saya jawabnya juga santai aja gitu, kaya di pantai.. :-” *kipas-kipas*

Saya : “ya ikut teslah, sama kaya yang lain.. Asli!”

Teman : “Asli bayar apa asli ikut test”

Wah, mulai nyari gara-gara nih >:)

Saya : “Ya asli ikut test-lah. Maksudnya gimana sih? Kalau nggak percaya baca aja di situ

Teman : “Ya kali aja ada yang off the record, yang nggak kamu ceritakan”

Saya : “yaelah, kalau mau bayar, aku mau jual sawahnya siapa? Aku kan bukan orang berada :(( “

Teman : “ya kan kamu orang berada..”

Saya : “berada apa? berada di Jakarta? ;)) “

Teman : :))

Dia lalu membandingkan (bercerita) kalau masuk PNS ditempat dia bekerja itu ada yang melalui “jalan belakang”. Biayanya pun sampai ratusan juta. Saya cuma bisa melongo. Memang bukan rahasia lagi sih kalau sistem KKN itu mau gimana-gimana juga masih tetap ada. Tapi saya nih ya, kalau iya syarat menjadi PNS harus mengeluarkan biaya sedemikian banyak sampai ratusan juta rupiah, ya mending saya bekerja jadi pegawai swasta tho, lha wong nggak pakai bayar, malah saya yang dibayar. Ya kan?

Tapi alhamdulillah, Allah memberi saya kesempatan untuk menjadi PNS melalui jalan yang murni dari hasil seleksi. Kalau temen-temen baca cerita saya dari awal, malah yang ada isinya deg-degan melulu. Nggak berani posting blog sebelum ada hasilnya. Malu kalau sudah terlanjur cerita sana-sini nggak tahunya gagal :(( . Teman-teman kantor aja cuma sedikit yang tahu kalau saya ikut seleksi CPNS, padahal awalnya saya yang emoh-emoh ;)). Tapi ya mungkin sudah rejeki ya, jadinya jalannya alhamdulillah mulus.

Sekedar cerita nih, dulu banget waktu saya baru saja tinggal di Jakarta & diajak jalan-jalan sama suami, pertama kali saya lihat gedung dengan halaman luas yang masih satu komplek sama Istana Negara ini cuma bisa kagum sambil dalam hati bilang, “Ya ampun keren banget ya kantor ini. Kapan aku bisa bekerja di sana ya..”. Eh, lha kok ndilalah Allah mengabulkan bisikan hati saya itu 2 tahun kemudian 🙂

Banyak jalan untuk mencari rezeki. Mau berkarir sebagai pegawai swasta atau pegawai negeri semuanya sah-sah saja, tergantung Allah ngasih rejekinya kemana. Ada yang lebih senang berkarir sebagai pegawai swasta karena secara penghasilan jauh lebih besar, syaratnya pun lebih mudah ;). Ada juga yang lebih memilih berkarir menjadi PNS seperti saya yang harus memulai lagi dari awal & menyesuaikan diri lagi, mencuci otak saya yang masih terlalu swasta itu untuk menjadi PNS ;))

Sebenarnya waktu ikut ujian saya nggak terlalu ngoyo. Saya cuma ikut ujian satu saja di satu kementrian saja & alhamdulillah lolos, walaupun ujiannya berlapis-lapis (seleksi dokumen, test tulis, psikotest & interview). Mungkin salah satu kuncinya karena kemarin saya tidak terlalu ngoyo ya, jadi ketika ikut test tidak ada beban sama sekali.:)

Jadi buat teman-teman yang akan berjuang di seleksi CPNS tahun ini, selamat mempersiapkan diri ya dan nggak usah terlalu ngoyo, santai saja. Kalau sudah rejeki nggak akan kemana-mana kok. Berkarir juga tidak harus menjadi PNS kan? Yang sukses di jalur swasta atau bahkan membuka usaha sendiri juga banyak yang sukses kok. Ok, darling? 🙂

Good luck! :-bd

[devieriana]

Continue Reading

Urip Iku Sawang Sinawang (II)

Tadi pagi saya chat dengan salah satu mantan teman sekantor pas jaman di Telkomsel dulu. Dia sekarang sedang menempuh pendidikan S2-nya di UGM Yogyakarta. Perbincangan ringan ala ibu-ibu (tsaahh…) dan teman lama yang sekian lama nggak ketemu 😀 . Share tentang keadaan terbaru masing-masing, cerita tentang keluarga, pendidikan, pekerjaan, dll.

Obrolan ringan sih, tapi justru dari situlah saya jadi ingat sama tulisan saya sendiri tahun lalu, yang juga sempat di-publish di buku Berbagi Cerita Berbagi Cinta , yang judul artikelnya Urip Iku Sawang Sinawang. Ya memang begitu ternyata. Duh saya sampai senyum-senyum sendiri. Bukan apa-apa, berasa kena sama tulisan sendiri aja ;)) . Dulu saya memposisikan diri sebagai orang lain yang curhatnya saya tulis disitu. Sekarang saya harus menelan mentah-mentah tulisan saya karena sekarang.. sayalah objeknya :)) .

Ada perbincangan yang kena banget ke saya, begini  :

Teman  : “aku tuh baru tahu lho mbak, sebenarnya kalau obsesi terbesar suamiku adalah menjadi PNS”
Saya  : “hah, seriuss? kok.. bisa? :O “
Teman  : “iya, pas aku cerita kalo mbak ketrima jadi PNS, dia tuh pengen banget. Dulu sih dia pernah nyoba, sekali doang, tapi gagal. Ya sudah daripada hancur harga martabak, akhirnya milih kerja di luar negeri aja sekalian, hehehe.. “
Saya  :  “eh, mosok sih kerjaanku ini diobsesiin sama suamimu? Padahal aku dulu ngira kalian sudah enak kehidupannya. Suami kerja di luar negeri, minyak pula. Kamu dengan kehidupan S2-mu. Mikir, what a perfect life you both gitu..”
Teman  : “apanya yang perfect sih mbak? Hidup terpisah dengan suami, akunya dimana, dianya dimana. Tapi jujur suamiku kalau disuruh milih,  pengen berkarir jadi PNS kaya mbak yang kerjanya nggak sengoyo sekarang, punya banyak lebih banyak waktu buat keluarga. Ah, mbak tuh yang ekarang udah settle, tinggal melangkah-melangkah doang.. Suami istri kerja, salah satunya PNS.. Ah, sempurnalah..”
Saya  : *masih bengong :O*  “ya sudah coba aja tar tahun ini pasti kan ada penerimaan CPNS lagi. Nah kamu ikut aja jeng..”
Teman  : “ya sih kayanya gitu. Tapi bingung mau kerja atau ikut suamiku ke Dubai ya?”
Saya  : “ya, apapun untuk saat ini yang menurut kalian bagus sih nggak masalah. asal nanti pas balik ke Indonesia usia kalian salah satu masih cukup daftar CPNS ya monggo..”

Ah, jujur saya terpana lho dengan percakapan simple itu. Bukan apa-apa, saya dulu sempat menganggap mereka memang nggak pernah sekalipun bermimpi jadi PNS seperti saya. Wong salah satunya sudah kerja di oil company,  yang notabene semua orang juga tahu prospeknya seperti apa tho? Ya saya shock dong ketika dikasih tahu kalau obsesi terbesar suaminya adalah justru menjadi PNS seperti saya.

Sekarang saya yang bingung nih. Saya mesti bangga, kagum, heran atau gimana ya? ;)) . Saya yang sudah terlanjur “silau” sama kehidupan mereka, lha kok malah mereka “ngiri” sama kehidupan saya yang alakadarnya begini? 😀

Manusia itu memang susah ditebak ya. Ada saja ketidakpuasannya. Yang rambutnya lurus pengen punya rambut ikal/keriting, begitu juga sebaliknya. Yang kulitnya putih pengen kecoklatan, begitu juga sebaliknya, yang kerja di oil company pengen jadi PNS, yang PNS pengen kerja di oil company. Yang jelek pengen cakep, yang sudah cakep pengen lebih cakep lagi (nggak mungkin pengen jadi jelek kan? ;)) ).

Ah, kalau menuruti nafsu, dunia ini isinya cuma orang-orang yang hidup dalam tolok ukur kesempurnaan orang lain. Jadi, daripada kitanya yang capek  kenapa kita nggak mulai mensyukuri apapun yang sudah diberikan Allah sama kita ya? Karena hanya Dialah yang mengetahui pantas tidaknya kita memiliki apa yang juga dimiliki/tidak dimiliki oleh orang lain.
Only God knows.. 🙂

[devieriana]

Continue Reading

Ini Soal Kebiasaan

Sebenarnya ini cerita guyonan antara teman-teman kantor. Awalnya gara-gara beli sarapan kebetulan kok ya pikiran & moodnya sama pengen sarapan indomie rebus pake sayur sama telur. Ealah, kok ya sarapannya indomie-indomie juga ya. Rombongan kami berjumlah 5 orang. Sambil menunggu sarapan kami matang, ngobrollah sana-sini, becanda ini itu & setelah menunggu selama 15 menit akhirnya sarapn kami yang terlihat sangat yummy itu tiba (padahal cuma indomie, dirumah juga sering bikin). Kenapa ya kalau dibikinin selalu terlihat & terasa lebih enak dibanding kalau bikin sendiri? ;)) . Gak ah, saya bikin sendiri juga enak kok. Apalagi kalau nggak ada makanan lain, ya wis mau nggak mau makannya ya itu :))

Kalau soal menyantap makanan mungkin saya yang (selalu) paling cepat, sejak jaman jadi callcentre kayanya. Waktu, menjadi hal yang sangat diperhitungkan saat itu. Betapa tidak, semua serba terukur & terjadwal, mau makan, istirahat, shalat ad jadwalnya dan bergantian dalam jumlah tertentu supaya service level tetap terjaga. Ya itulah kalau kita bekerja di bidang pelayanan pelanggan.

Nah kebetulan ada teman yang ketika semua sudah selesai dia belum selesai dan kalau dilihat kok kaya masih utuh ya ;)) .
Teman 1 : ” Pak, kok makannya lama sih?”

Bapak : “yaa.. saya itu kalau makan harus saya kunyah 33x. Devi tuh, diliatin doang sama dia udah ilang lho makanannya..”

Saya : “jangankan makanan Pak, coba bapak periksa di saku bapak, dompetnya masih ada apa nggak?;)) ”

Bapak : “ah bisa aja kamu :)). Lho, iya’i.. dompet saya mana Dev? Tapi iya ya, mungkin Devi dulu karena orang callcentre ya, jadi makan serba terjadwal waktunya..” *sambil mengunyah & keseretan. Ambil minum*

Saya : “ah ya nggak gitu juga kok Pak, awalnya saya dulu pas kecilnya juga makannya lama. Trus tante saya yang suka nggertak-nggertak saya katanya makan itu cepet dikunyah, nanti biar giginya nggak rusak. Nggak tau ya hubungannya apa, tapi ya saya nurut tuh.. ;)) ”

Bapak : “pantes gigi saya item-item, gara-gara makannya lama ya?”

=)) . Itu sih karena bapak jarang sikat gigi aja kayanya :))

Sarapan yang penuh gelak tawa. Belum lagi si bapak itu masih cerita lagi ditengah kunyahan dan tampang kita yang menunggu dengan tidak sabar karena ditengah kunyahan itu diinterupsi dengan tergigitnya cabe rawit yang membuat muka si bapak itu merah kuning ijo menahan pedas :))

Bapak : “kita itu ya.. beda sama pegawai swasta. Kalau swasta kan waktunya sama kaya kita, tapi kerjaan banyak. Jadi makan tuh mesti cepet. Telat dikit aja kerjaan bisa nggak selesai. Nah kalau kita kan waktunya sama tapi kerjaannya kurang, jadi jangankan makan.. minum aja kalau bisa dikunyah 33x..” =))

Aduh ngakak saya dengernya. Konyol banget nih si Bapak. Itu guyonan ala PNS ya. Padahal kenyataannya ya nggak gitu-gitu amatlah. Wong saya aja kerjanya sudah muter kaya gasing kok. Belum selesai ini, sudah datang itu. Belum lagi yang ini urgent minta didahulukan karena mau tandatangan ke pejabat negara. Jadi ya nggak ada diemnya. Siapa bilang PNS (kaya saya) bisa kelayapan ke mall di jam kerja? Nggak bisa :(( . Ah tapi saya nggak jadi PNS atau pegawai swasta juga nggak pernah ngelayap ke mall di jam kerja kok. Serius :D. Karena menurut saya semua itu ada waktunya sendiri. Kapan mesti ke mall, kapan mesti dikantor. Bukan berarti kalau jam pelajaran..eh jam kerja lagi kosong trus main kabur ke mall. Kan semua itu masih bisa dilakukan pas jam pulang kantor.

“ah males lagi Dev, kalo pulang kantor bawaannya pengen pulang, istirahat, ketemu sama anak.. Kalau bisa ke kantor sambil belanja gitu kan enak..”
“ya kenapa nggak kerja di mall aja sekalian? kan enak tiap hari bisa ke mall, hehehe..”

Bukan mau sok tertib sih. Basilah ya kalau saya ngomong tentang ketertiban, hari gini gitu lho. Yang sudah bekerja pasti umurnya juga bukan anak-anak lagi, seharusnya sudah tahu mana yang bagus mana dan mana yang enggak kan? Nggak perlu lagilah didoktrin masalah ketertiban. Semuanya terpulang pada diri sendiri kok. Inget kan, dulu pas kita masih nganggur, ngoyo pengen banget dapat kerjaan. Sekarang sudah dikasih pekerjaan kok bawaannya pengen kabur melulu :p .

Eh, beneran ini nggak nyindir lho 😉 . Saya cuma ingin menggarisbawahi bahwa peraturan memang harus dibikin biar kita punya batasan dan aturan main yang jelas. Tapi soal nantinya setelah peraturan itu dibuat lalu kita mau patuh atau melanggar peraturan ya monggo, terserah pribadi masing-masing aja 🙂 . Toh nantinya reward & punishment juga pasti akan diberlakukan kan? 🙂

[devieriana]

Continue Reading

Masa Inkubasi

Judul postingan ini nggak ada hubungannya sama isi tulisannya. Ngasal aja, seolah mengumpamakan saya sedang dalam masa inkubasi. Berasa jadi virus sama kuman nggak sih? :D. Hmm, ternyata lama juga saya nggak update blog yah? Maklumlah ya, sejak saya memutuskan resign mendadak kemarin (hanya dalam tempo seminggu sejak pemanggilan di Setneg) saya kejar setoran, kerja ngebut, paling tidak menyelesaikan 90% kewajiban sayalah. Kasian leader pengganti saya nanti kalau kerjaan masih banyak yang belum selesai. So, pikiran , energi, konsentrasi semua tercurah ke penyelesaian kerjaan yang seharusnya selesai tanggal 4 jadi dikebut harus selesai tanggal 31 Januari 2010.

Jadi ya begitulah, selama beberapa hari ini saya memasuki masa inkubasi. Halah kok malah kaya virus :)) . Penyesuaian dengan pekerjaan & status yang barulah intinya. Karena selama lebih dari 6 tahun saya bekerja di perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia itu membuat mindset, kultur & cara bekerja saya sangat swasta. Kalau saya sekarang bekerja jadi PNS tentunya ya jauh berbeda. Sempet agak kaget sedikit. Apalagi berhubungan dengan surat menyurat tingkat tinggi. Dulunya kan saya cuma pegang urusan surat menyurat internal antar bagian aja. Kalau sekarang sudah antar instansi & departemen. Bayangkan betapa stressnya saya di awal hari kerja saya.

Tapi untungnya disana semua baik & helpful. Sebagai PNS newbie (walaupun sudah sekian tahun bekerja sebagai pegawai swasta tentu buat mereka jelas saya newbie, wong masih nggak tahu apa-apa). Untungnya banyak anak mudanya, gaul pula. Jadi ya nggak berasa dalam lingkungan PNS jaman dulu, berasanya fun. Eh ya sebenernya belum fun-fun amat juga sih Gimana mau fun, wong hari ini saya dikasih kabar yang bikin hati saya meloncat kaget  :

teman  : “nanti kamu juga bakal kaya saya, nanganin ini sendirian..”

saya  : “hah, apa? sendiriaaaan? kapan?”

teman  : “sekitar bulan Juli paling..”

saya  : “kamu mau kemana mas?”

teman  : “aku pindah bagianlah..”

saya  : *stress, pengen pingsan*

Saya khawatir? Takut? Paranoid? Jelas. Tapi kalau saya seperti itu terus pasti bukan hal yang positif buat saya juga kan? Khawatir, takut menghadapi sesuatu yang baru & belum kita kenal, takut keluar dari zona nyaman itu hal yang lumrah & sering dialami oleh semua orang. Lha kalau kaya begitu terus ya nggak bakal maju-maju. Jalan ditempat.

Khawatir dan takut adalah dua hal yang berbeda, sekalipun nyaris mirip. Rasa takut punya objek yang jelas, contoh : saya takut sama kucing, saya takut sama bos saya yang galak, saya takut sama hantu. Tetapi khawatir  tidak, lebih abstrak. Ada perasaan tak menentu terhadap sesuatu yang tak jelas. Ketakutan, paranoid terhadap sesuatu yang asing, sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah dijalani sebelumnya itu pasti pernah dirasakan semua orang. Punya rasa seperti itu wajar-wajar saja. Tapi jika berlebihan dan sudah mengganggu, itu namanya sudah tak wajar. Kekhawatiran sifatnya hanya sementara, karena ketika kita sudah terjun didalamnya kekhawatiran itu ternyata tidak terbukti & menjadi sesuatu yang biasa, yang menyenangkan, yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Kekhawatiran yang diciptakan oleh pikiran. “Aduh, besok mau kerja di tempat yang baru nih, bisa ga ya? Kira-kira nanti temennya asik-asik kaya di tempat kerja yang lama ga ya? Lingkungan kerjanya nanti enak nggak ya? Kerjaanku nanti sulit nggak ya?” dan sejuta pertanyaan paranoid yang lain, padahal ya belum tentu, wong belum dijalani. Sama ketika saya mengalami perpindahan dari officer ke team leader kapan hari. Saya sudah berpikir kerjaan saya bakal ribet, sulit. Tapi setelah dijalani ya nggak gitu-gitu amat, lama-lama juga biasa :).

Ya semoga kekhawatiran itu nggak terjadi. Mengingat saya kan bakal berkarir lama disini, bahkan sampai di usia senja saya nanti (nah, jadi mikirin usia senja kan? 😀 ).

[devieriana]

Continue Reading

Step Into A New House

Akhirnya, semuanya terjawab. Ya, tepatnya 3 hari yang lalu saya ditelpon oleh Biro Kepegawaian salah satu instansi yang seleksi PNS-nya kemarin saya ikuti & saya alhamdulillah masuk. Saya diminta mengambil undangan untuk pengangkatan CPNS tanggal 1 Februari 2010 nanti. Kaget? Woogh, ya jelas. Karena setelah sekian lama saya menunggu & akhirnya ada kepastian juga, jadi buat saya ya masih berasa ajaib.. lebay deeh.. ;))

Melihat teman-teman bahkan sepupu saya yang sudah mulai aktif bekerja tidak lama setelah hasil proses seleksi CPNS diumumkan , membuat saya jadi bertanya-tanya, “lha, giliran saya kapan ya? Kok nggak ada telpon lagi? :-ss”, dan sejuta kata tanya lainnya. Iyalah, wong tiap hari saya ketemu sama orang-orang kantor selalu pertanyaannya, “kapan kamu mulai aktif jadi PNS?”, atau “kok SK-nya lama banget nggak turun-turun?”, atau pertanyaan spv saya yang kaya begini “Dev, kamu masih lama kan disini?”. Mmh, sedikit beda sih, tapi intinya tanya kapan saya terakhir di tempat bekerja saya yang sekarang & kapan mulai bekerja di tempat yang baru. Saya pun harus memberikan jawaban yang sama dari satu penanya ke penanya lainnya. Andai bisa saya rekam, sudah saya rekam kali tuh jawabannya. Atau kalau ada ujian menghafal jawaban, saya pasti lulus dengan nilai A karena saking fasihnya saya menjawab pertanyaan mereka :D. Ya wajar juga sih, kan pengumumannya sendiri sekitar pertengahan November 2009 & baru ada pengumuman lagi sekitar 3 hari yang lalu. Alhasil saya yang sekarang harus ngebut menyelesaikan pekerjaan yang biasanya maksimal selesai tanggal 4, harus saya kebut selesai tanggal 31 Januari 2010. Karena tanggal 1 Februari 2010 sudah aktif di tempat kerja yang baru.

Saya sempet diledekin saya sahabat saya  :

” ciyeeh, punya NIP nih dia sekarang..”
” Ah, dari dulu aku juga sudah punya NIK.. apa bedanya sih? Sama-sama nomor induk karyawan/pegawai kan?”
” ya bedalah. sama-sama punya NIP/NIK, tapi kop surat bergambar garuda pancasila nggak semua instansi punya. Kamu akan bekerja di “dapurnya” negara. Be proud of that.
” iya yah? “, jawab saya manggut-manggut.

Dulu Pakdhe (kakaknya Papa) saya juga pernah bekerja di sini menjadi asisten Menteri Sekretaris Negara jaman masih Moerdiono, err..jaman saya masih kuliah kali ya. Sudah lama banget sih memang. Orang-orang juga mungkin sudah lupa. Wong saya dulu sempat cerita ke salah satu interviewer saya waktu pemberkasan beliaunya juga sudah nggak mengenali siapa orang yang saya maksud. Iya sih, sudah lama banget ya Bu.. 🙂 . Nggak nyangka kalau saya akhirnya “meneruskan” karir beliau disini. Dulu melihat gedungnya dari jauh saja saya sudah kagum. Sekarang justru sama Allah saya dikasih kesempatan untuk masuk & berkiprah didalamnya. Alhamdulillah.. 🙂

Supervisor saya kemarin kirim sms begini   :

” Jyaah, akhirnya keluar juga tuh SK, hiks. Ya udah nggak apa-apa. Anyway congrats again ya Dev, orang emang kalau bagus selalu ada aja jalannya.. Oh ya, kali-kali aja 10 tahun lagi kamu jadi bu Mentri, pan lumayan ada 1 mentri yang aku kenal.. 😀 “

Ya begitulah.. Habis ini selesai sudah karir saya di dunia telekomunikasi yang sudah saya geluti selama kurang lebih 6 tahun, dan berganti di bidang pemerintahan, eh? 😀 . Agaknya Tuhan tidak menginginkan saya untuk tidak mempergunakan ilmu yang saya ambil waktu kuliah dulu, hingga diberikan-Nya sebuah posisi yang  belum sempat saya jamah sekalipun selama bertahun-tahun. Menjadi seorang sekretaris :)) . Semoga bisa melalui semua fase ini dengan baik & lancar. Amien.. 🙂

 

 

[devieriana]

 

Continue Reading