Resign: Emosi Sesaat atau Keputusan Matang?

resign

Beberapa waktu yang lalu, adik saya didera galau luar biasa lantaran dia harus membuat keputusan besar dalam karirnya, yaitu resign. Mungkin buat sebagian orang, soal resign itu sebuah hal yang lumrah. Namanya kerja pasti ada enak-nggak enak, cocok-nggak cocok. Alasan resign pun bermacam-macam; ingin punya karir yang lebih baik, ingin situasi kerja yang lebih nyaman, dan punya penghasilan yang lebih tinggi, dll. Tapi banyak juga yang memutuskan untuk resign karena alasan-alasan di luar itu, misalnya ingin melanjutkan sekolah, mengurus keluarga, ingin berwiraswasta, dll. Tapi kalau resign dari tempat yang telah menerimanya sejak awal, telah membuatnya banyak pengalaman dan pembelajaran sehingga menjadi seperti sekarang, plus lama bergabungnya sudah hampir satu dasawarsa mungkin lain lagi ceritanya.

Ceritanya Si Adik memang sudah lebih dari 9 tahun berkarir di salah satu bank swasta di bilangan Tendean, Jakarta Selatan. Sejak masih sekolah dia memang dikenal di keluarga sebagai anak yang rajin, anak yang total ketika mempelajari sesuatu, anak yang teliti, dan seorang fast learner. Dia juga tak segan mempelajari hal-hal baru yang sekiranya bermanfaat untuk menunjang pekerjaannya. Maka tak heran, baik ketika dia masih di kantor cabang Surabaya sampai sekarang di kantor pusat Jakarta dia selalu dijadikan andalan perusahaan karena keseriusan, ketelitian, dan kedisiplinannya dalam bekerja. Eh, saya menulis hal-hal baik ini bukan karena mentang-mentang dia adik saya lho, ya ๐Ÿ˜† . Tapi juga sebagai sebagai sesama pegawai kantoran saya benar-benar merasa salut dan bangga karena belum tentu saya bisa se-qualified dia :mrgreen:

Sampai akhirnya dia curhat galau gara-gara salah satu pimpinan ternyata tidak mengizinkan dia untuk resign dengan alasan saat ini dia adalah andalan perusahaan. Berbagai ‘rayuan’ digunakan oleh Sang Pimpinan agar adik saya memikirkan ulang rencana pengunduran dirinya, syukur-syukur kalau sampai membatalkan niatnya untuk bergabung dengan perusahaan lainnya. Saya cuma bisa menasihati agar Si Adik tetap konsisten dengan pilihannya. Di mana-mana risiko mengajukan resign memang begitu, ada yang langsung disetujui, tapi ada juga yang ditahan supaya jangan sampai resign. Semua tergantung pimpinan dan kualitas apa yang dimiliki oleh karyawan tersebut sehingga menyebabkan perusahaan jadi sedemikian ketergantungannya dengan Si Karyawan. Si Adik cerita, kalau banyak teman yang resign dan langsung disetujui, tapi giliran dia, harus menghadap pimpinan sebanyak 2-3x untuk bernegosiasi masalah posisi, dan gaji. Pun ketika di hari terakhir dia berkantor di sana pun Pimpinan Divisinya pun masih penasaran apa sebenarnya alasan adik saya resign dari bank tempat dia berkarir selama 9 tahun terakhir ini, padahal sudah diiming-imingi nominal gaji yang sama persis dengan tempat kerjanya yang baru nanti. Tapi syukurlah Si Adik tidak tergoda, dan tetap berkeinginan untuk memulai karir yang baru di tempat yang baru.

“Jadi, sudah beneran mantep buat resign nih? Saya itu sebenarnya heran dan penasaran banget sama kamu. Apa sih sebenarnya yang mendasari keinginanmu untuk resign? Padahal gajimu sudah saya naikkan sama dengan tempat kamu bekerja nanti, tapi kenapa kok kamu tetap pengen resign? Teman-teman kamu yang lain ketika diberi kenaikan gaji dengan nominal yang sama dengan tempat kerja yang baru mereka langsung memilih tetap bergabung di sini lho. Cuma kamu aja yang beda…”

Padahal alasan seseorang mengundurkan diri dari perusahaan kan bukan melulu karena uang, ya? Dan adik saya berseloroh di bbm:

“Aku ingin juga membuktikan sama pimpinanku, kalau aku bukan pegawai ‘murahan’ yang cuma bisa dinilai dari besaran rupiah ๐Ÿ˜† “

Seperti ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari tempat kerja sebelumnya dan terdampar menjadi PNS, alasan utamanya juga bukan karena gaji dan posisi. Saya sadar kok, ketika saya menjadi PNS, karir saya akan dimulai dari nol lagi, dengan jabatan staf, dengan gaji pokok yang jauh di bawah gaji di perusahaan sebelumnya. Tapi kenapa saya mau? Ya, selain karena sudah terlanjur diterima, ada pertimbangan lain yang mendasari itu semua (dan kalau di-list banyak sekali), salah satunya sih dari segi ketersediaan waktu untuk keluarga.

Setiap pilihan memiliki konsekuensi masing-masing, ada sisi positif dan negatifnya. Tapi sebenarnya yang paling penting adalah jangan resign karena emosi sesaat, apalagi karena latah. Melihat teman-teman yang lain resign, eh jadi terpengaruh ikut-ikutan resign padahal alasannya juga belum tentu sama, cuma gara-gara alasan,

“Abisnya kalau nggak ada temenku yang itu, nggak enak. Suasana kerjanya jadi nggak asik lagi…”

Mungkin saja karena kalian kurang berteman jadi temannya cuma satu itu saja :mrgreen: .

Saya pernah berdiskusi dengan seorang teman yang juga menangani human resources di sebuah perusahaan, dia mengatakan kalau rasa tidak betah dalam bekerja dapat disebabkan karena ada harapan karyawan yang tidak dapat dipenuhi oleh perusahaan, sehingga ketika mereka memutuskan untuk mencari pekerjaan yang lain harapan mereka di tempat yang baru nanti mereka akan dapat mewujudkan impian mereka baik dari segi gaji, jenjang karir, reward, maupun fasilitas/kesejahteraan.

Selain semua itu, ada faktor lain yang menyebabkan mengapa seseorang memilih untuk resign, selain tekanan pekerjaan yang tinggi, dan adanya tawaran pekerjaan lain yang jauh lebih menarik, alasan lainnya adalah karena lingkungan kerja yang kurang kondusif, dan adanya ketidaksesuaian nilai-nilai perusahaan dengan diri pribadi. Kalau ini sih saya sempat mengalami sendiri. Dulu, saya sempat bekerja di sebuah perusahaan keluarga, di mana kata-kata kasar dan makian terdengar hampir setiap hari antaranggota keluarga; seolah tak peduli bahwa karyawan di sekitar mereka adalah orang di luar keluarga yang tidak pantas untuk ikut mendengarkan kata-kata tersebut sebagai sebuah hal yang lumrah apalagi di lingkungan kerja. Jujur, terasa sangat intimidatif, sekalipun kata-kata itu bukan ditujukan pada kami.

Tapi syukurlah, semua sudah berhasil saya lalui dengan baik, setidaknya saya sudah berhasil melalui masa-masa galau pindah-pindah tempat kerjalah ๐Ÿ˜† . IMHO, tidak ada ilmu dan pengalaman yang tidak berguna. Semua ilmu dan pengalaman yang pernah kita dapat di masa lalu tetap akan bisa diaplikasikan di pekerjaan kita yang sekarang, tergantung waktu dan kesempatan saja.

Ngomong-ngomong, kalian sudah pindah tempat kerja berapa kali sampai sekarang? ๐Ÿ˜€
*nyeruput secangkir earl grey tea hangat*

sumber ilustrasi diambil dari sini

Continue Reading

Katebelece

letter

Sore menjelang pulang kantor, tiba-tiba si Bapak keluar meminta saya mencari sebuah file surat tentang permohonan dukungan menjadi CPNS di salah satu kementerian.

“Ada surat yang meminta supaya dibantu memasukkan anaknya di sebuah kementerian. Nah, kata temanku, surat itu sudah dibalas oleh kita, dan katanya jawabanku sih normatif; aku minta untuk mengikuti ikut tes CPNS saja. Ternyata setelah ikut test, anaknya ini nggak lulus, trus orangtuanya nggak terima. Bukan nggak terima karena anaknya nggak lulus, tapi nggak terima dengan jawaban normatifku. Lha kan, aneh. Makanya aku jadi penasaran, suratnya itu yang mana, tho? Coba bantu carikan, Dev…”

Berhubung surat yang masuk ke biro saya itu jumlahnya ribuan, saya harus mencari di aplikasi persuratan dengan kata kunci tertentu. Sementara Si Bapak hanya punya clue “permohonan dukungan” dan nama pengirimnya saja, tanpa tahu surat itu dikirim kapan, dan atau keterangan-keterangan penunjang lain yang sekiranya akan memudahkan pencarian surat tersebut, karena surat dengan topik ‘Permohonan bantuan’ jumlahnya lumayan banyak.

Bahkan ada lho yang secara rutin mengirim surat ‘permohonan bantuan’ agar anaknya bisa diterima di sebuah perusahaan setiap kali anaknya melamar pekerjaan. Berhubung dia punya 3 orang anak, maka setiap kali anak-anaknya melamar ke perusahaan tertentu Si Bapak dengan gaya bahasa yang ‘meliuk-liuk’ segera mengirimkan surat; meminta supaya mereka bisa diterima di perusahaan yang diinginkan. Tidak tanggung-tanggung, semuanya BUMN/perusahaan besar. Berhubung di instansi kami tidak memberlakukan hal-hal semacam itu akhirnya surat-surat tersebut tetap disampaikan ke perusahaan yang dimaksud tapi kami persilakan perusahaan untuk memroses sesuai ketentuan yang berlaku. Jadi bukan rekomendasi agar mereka langsung diterima. Bahkan karena sudah terlalu sering, surat-surat tersebut hanya kami arsip saja. Jangankan orang luar, begitu ada pembukaan lowongan CPNS, para putra/putri pejabat/pegawai di sini semuanya mengikuti prosedur yang berlaku; ikut tes CPNS, bersaing dengan peserta lainnya. Bahkan banyak di antara mereka yang tidak lulus. Tapi mereka dan orangtuanya ya tetap legowo, tidak lantas ngotot menggunakan cara-cara yang tidak sesuai dengan ketentuan, karena sudah mulai timbul kesadaran bahwa eranya sekarang sudah berbeda, era transparansi/keterbukaan.

Kembali lagi ke masalah surat tadi, dengan asumsi surat itu datang di sekitar waktu pengadaan CPNS, antara Agustus-Desember 2013, saya pun mulai mengubek-ubek file surat dengan dibantu teman lain yang bertugas membalas surat-surat semacam itu. Di tengah pencarian kami, Si Bapak tiba-tiba meminta kami berhenti mencari.

“Sudah, nggak usah dicari. Lha wong ternyata suratnya tahun 2007. Itu aku juga belum jadi Kepala Biro, kali. Udah biarin aja. Mau protes kok selang 6 tahun setelah kejadian…”

Pffiuh, syukurlah… *usap peluh*

Sebenarnya masih agak heran juga dengan orang-orang yang masih mengandalkan ‘surat sakti’, atau ‘katebeletje’, padahal eranya sudah jauh berubah. Katabelece sendiri berasal dari bahasa Belanda: “kattabelletje” yang diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “katebelece” memiliki arti ‘peringatan’. Tapi pengertiannya jadi bergeser menjadi semacam ‘surat sakti’ yang isinya meminta agar yang tercantum di dalam surat tersebut diperhatikan/dilaksanakan. Kalau dulu sih memang pernah ada surat-menyurat semacam itu, tapi sekarang penggunaan ‘surat sakti’ itu sepertinya sudah mulai punah (atau sebenarnya masih ada?).

Btw, bukannya akan lebih puas dan bangga rasanya kalau apa yang kita kerjakan itu merupakan buah kerja keras dan usaha kita sendiri, ya? :mrgreen:

Just my two cents…

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Pilih mana?

career-choices-2

Di sebuah pagi, saya mengetik pesan di smartphone sambil sesekali menyesap secangkir teh poci di kantin,

“Bro, lagi di mana, Bro?”

“Hahaha, aku lagi di kementerian anu, lagi nunggu giliran :D”

“Giliran? Maksudnya kamu lagi ada kerjaan di sana?”

“Nunggu giliran buat ikut test CPNS, sesiku masih nanti, jam 09.40. Hihihik… Doain yak!”

Saya yang awalnya ingin menanyakan hal yang lain, jadi surprise sendiri. Bukan
apa-apa, selama ini saya mengenal dia sebagai sosok yang paling anti sama hal yang berbau tes CPNS-CPNS-an, di setiap kalimat yang keluar dari bibirnya sama sekali tidak tergambar keinginan untuk menjadi seorang PNS. Pokoknya emoh ajalah. Nah, kalau tiba-tiba mendengar dia ikut test CPNS ya jelas heran. Ada angin apa kiranya sehingga dia tertarik untuk ikut tes CPNS?

Peserta ujian CPNS itu dari berbagai kalangan, kalau bukan fresh graduate, yang belum bekerja sama sekali, atau yang sudah bekerja. Motivasinya pun bermacam-macam, ada yang cuma iseng, ingin mencoba kemampuan/peruntungan, tapi banyak juga yang memang serius ingin cari kerja.

Seperti beberapa waktu yang lalu, saya dicurhati seorang teman via email. Dia mengaku sedang galau karena ‘terjebak’ dalam excitement akan diterima sebagai CPNS di salah satu kementerian (sudah sampai tahap interview user). Tapi uniknya di saat yang sama dia masih sangat nyaman dengan posisi dan lingkungan tempat dia bekerja sekarang. Bermula dari iseng dan sekadar ingin mengukur kemampuan diri sendiri secara rutin dia mengikuti tes CPNS selama 3 tahun berturut-turut. Hingga akhirnya tahun ini dia dinyatakan lolos seleksi Tes Kemampuan Dasar dan berhak ikut tahap selanjutnya. Melihat pengumuman itu mendadak dia galau sendiri; galau membayangkan bagaimana kalau setelah dijalani ternyata menyandang status sebagai PNS itu tidak sesuai dengan harapan dan jiwanya. Bagaimana kalau ternyata menjadi PNS itu pekerjaannya jauh lebih membosankan dibandingkan dengan pekerjaannya sekarang; dan banyak lagi ‘bagaimana-bagaimana’ lainnya. Ya wajar sih, karena di dalam mindset-nya PNS masih identik dengan birokrasi yang ribet, mengurus apa-apa sulit, belum lagi dari segi materi dan budaya kerja yang menurut dia masih kalah jauh dari swasta.

Kita sederhanakan saja, sebenarnya semua pekerjaan itu pasti ada sisi positif dan negatifnya; tergantung dari sisi mana kita melihat, kan? Begitu juga dari segi tantangan kerja dan pendapatannya. Kalau orang Jawa bilang, “urip kuwi sawang sinawang”, cuma melihat kulit luarnya saja…
*benerin blangkon*

Tapi ada kalanya kita butuh move on ketika pekerjaan yang sekarang dirasakan kurang memberikan kenyamanan, atau kita butuh pengalaman yang jauh lebih menarik/menantang, atau kita butuh pengembangan karir yang lebih signifikan. Ya kenapa tidak? Mungkin ini saatnya kita mengajukan pengunduran diri. Banyak kok yang sudah enak kerja di swasta, malah resign dan jadi PNS atau berwiraswasta. Pun sebaliknya, ada yang awalnya jadi PNS lalu resign dan melamar kerja di perusahaan swasta/BUMN karena katanya lebih sesuai dengan jiwanya.

Pekerjaan itu seperti jodoh; cocok-cocokan. Awal mula saya menjadi PNS juga sempat stress sendiri karena harus merasakan perubahan yang sangat drastis; baik secara lingkungan, sistem kerja, gaji, budaya kerja, dan lain-lain. Soal pindah tempat kerja memang bukan hal baru buat saya, tapi karena kebetulan bidang pekerjaan yang saya isi sebelumnya masih saling berkorelasi jadi penyesuaiannya tidak terlalu sulit.

Soal cocok-cocokan tadi, kalau memang setelah dijalani ternyata pekerjaan itu dirasa kurang nyaman, kurang ada tantangannya, atau karirnya dirasa kurang berkembang, ya sudah, tinggal mengajukan surat pengunduran diri saja. Atau, kalau ternyata yang di dalam mindset kita kisarannya masih di besaran gaji, ya mungkin inilah saat yang tepat untuk berkarir di sektor swasta karena jelas lebih menjanjikan pendapatan yang lebih besar daripada menjadi PNS. Seperti yang pernah saya tulis di sini ๐Ÿ˜‰

Jadi, gimana? Masih galau? ๐Ÿ˜€

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

What the hell is water?

Disclaimer: sesungguhnya ini adalah postingan nyinyir. Buat yang baca, sabar ya ;))

Jujur, saya suka sebel sama orang-orang yang minta tolong tapi pakai syarat harus begini, harus begitu. Lah, kalau minta tolong kenapa nggak semampunya yang nolong? Kenapa harus memberi syarat ini itu? Kalau memang ada syaratnya ya kenapa bukan dia aja yang melakukannya sendiri?

Seperti kisah ada seorang teman berikut ini. Dia adalah seorang fresh graduate yang minta dicarikan pekerjaan. Dia bilang kalau pengen kerja di perusahaan telekomunikasi. Berhubung dulu saya pernah kerja di telco, dan info terakhir yang saya terima waktu itu, tempat kerja saya yang dulu itu sedang butuh callcentre agent, ya saya informasikan apa adanya.

Awalnya dia tanya-tanya seputar kerjaan di call centre. Ya saya jelaskan semua segamblangnya. Tapi begitu saya bilang kalau pola kerjanya shifting, dia langsung mundur teratur. Dia pengen kerja yang office hour, dan nggak “cuma” staf. Maksudnya, dengan ijazahnya sekarang paling enggak dia dapet posisi dengan level supervisor, gitu. Lah, jadi saya yang bengong-bengong. Sepengalaman saya sih namanya cari kerja ya dari nol dulu, apalagi kalau masih “ijo royo-royo”, kalau telur nih baru netas, belum pernah kerja sebelumnya. Toh walaupun “cuma” staf kalau kerjaan kita bagus dan dianggap kompeten di bidang yang kita tekuni, karir dan gaji bagus selanjutnya akan mengikuti kok.

Atau ada lagi kisah seseorang yang berkali-kali mengirim surat ke kantor saya yang sekarang, bukan untuk melamar pekerjaan tapi untuk meminta bantuan supaya anak-anaknya dibantu mencari kerja. Itu pun pakai milih, kalau nggak di Pertamina, ya di Indomobil, di Astra, atau di kantor-kantor mentereng lainnya. Padahal dari cerita si bapak pengirim surat yang panjangnya selalu minimal 3 lembar (ditulis tangan itu) anaknya sekarang sudah bekerja di salah satu perusahaan besar tadi tapi berstatus karyawan outsource. Dia ingin anak-anaknya jadi pegawai tetap di salah satu perusahaan-perusahaan besar itu. Menurut kisahnya, anak-anaknya itu pernah ikut berbagai macam test tulis dan interview di berbagai perusahaan tapi selalu gagal. So, salahnya di mana, coba?

Mau bercita-cita setinggi langit, atau idealis sekalipun, sebenernya sih nggak ada masalah, tapi apa nggak sebaiknya tetap realistis? Bukan berarti seorang fresh graduate yang bercita-cita ingin langsung menjadi manager itu nggak realistis. Bisa aja kok. Siapa tahu pas rezekinya bagus, dia beneran langsung jadi manager. Keajaiban bisa terjadi kepada siapa saja, kan? Tapi kalau nggak ada keajaiban kaya gitu, ya kenapa nggak realistis menjadi staf aja dulu? Itung-itung sambil belajar, cari ilmu & pengalaman, biar ada yang ditulis di CV. Baru deh tuh, kalau memang selama bekerja dia dianggap capable, karir yang lebih baik pasti sudah menunggu. Seorang manager juga nggak mendadak jadi manager, kali. Mereka juga meniti karirnya dari bawah, bekerja dengan tekun, menguasai pekerjaannya dengan baik, dan punya jiwa kepemimpinan. Emangnya jadi manager itu gampang? Dipikir hanya berbekal ijazah S1 doang sudah berhak menentukan karir dia di mana? Ya kecuali kita punya perusahaan sendiri, atau kita seorang pewaris kekayaan dengan aset di mana-mana, yang seluruh asetnya wajib ditangani secara langsung oleh keluarga. Nah, kan… kalau ngomel-ngomel gini akhirnya jadi merepet panjang, kan? ;))

Kalau untuk kasus kedua, saya cuma bisa prihatin. Memang, orangtua mana sih yang nggak pengen anak-anaknya hidup enak, karir bagus, kalau bisa menunjang ekonomi keluarga, menjadi kebanggaan orangtua. Tapi dalam hal ini yang tertangkap kok kesannya jadi kurang bersyukur, ya? CMIIW.

Anak-anak bapak itu sebenarnya sudah bekerja kantoran, bukan kerja lapangan yang berpanas-panas di luar sana, nggak sengsara-sengsara amatlah. Notabene seharusnyaย  nggak ada masalah, ya. Soal besaran gaji itu relatif. Untuk memperbaiki karir, mereka juga sudah berusaha melamar pekerjaan yang memiliki masa depan lebih cerah, gaji yang lebih baik tapi kebanyakan selalu gagal di tahap seleksi masuk. Hingga akhirnya orangtuanya meminta bantuan agar anak-anaknya dibantu masuk di Pertamina, Indomobil, Astra, Kemenkeu, dll itu. Yah, kalau itu sih saya juga mau, Pak… hehehehe.

Saya dan kedua adik saya semua mencari kerja sendiri, nggak pakai ngelobby ke siapa-siapa. Selepas kuliah saya malah sempat menganggur setahun karena nggak dapat-dapat kerja :(. Dapat kerja pun dapatnya di perusahaan kecil di daerah yang jauh pula. Tapi ya saya jalani hampir 3 tahun. Ketika ada kesempatan pindah, saya pun pindah. Nyatanya ternyata tempat ini nggak jauh lebih baik.

Tapi sisi positifnya, ada ada product knowledge yang saya kuasai dengan baik, dan akhirnya bisa menjadi modal saya berkarir di tempat yang jauh lebih baik. Di perusahaan inilah saya mengabdikan diri selama hampir 7 tahun lamanya, sebelum akhirnya saya diterima sebagai PNS. Begitu pula dengan si bungsu, saya tahu bagaimana perjuangan mencari pekerjaan, hingga akhirnya sekarang diterima sebagai pegawai tetap di salah satu BUMD di Jawa Timur. Kalau adik saya yang kedua relatif jauh lebih beruntung, setelah lulus kuliah tanpa menunggu lama dia sudah mendapatkan pekerjaan sebagai Legal Officer di salah satu bank swasta nasional, dan bahkan sekarang ditarik ke kantor pusat.

Jadi teringat dengan salah satu paragraf tulisan David Foster Wallace. Ada 2 ekor ikan muda yang sedang berenang di air, tiba-tiba mereka berpapasan dengan seekor ikan tua yang mengangguk ke arah mereka dari arah yang berlawanan. “Morning, boys. How’s the water?” Dua ikan muda tersebut tetap berenang sambil saling menatap. Kemudian salah satunya bertanya, “What the hell is water?”

Poin utama dari cerita ikan di atas adalah sesungguhnya hal yang paling jelas & kenyataan yang paling penting, seringkali menjadi hal yang paling sulit untuk dilihat dan dibicarakan. Seperti itulahย  hidup. Kalau mau langsung enaknya ya nggak ada. No pain, no gain. Apapun yang kita terima sekarang, disyukuri aja. Rezeki memang sudah ada yang mengatur, tapi bukan berarti kita nggak berusaha, kan?ย  ๐Ÿ˜‰

Nah, sebelum saya merepet makin panjang dan nggak jelas, cukup di sini dulu deh. Nulis panjang-panjang itu ternyata capek, Kak…:|

 

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Kemewahan itu bernama waktu luang

Dulu jaman kita masih belum ada kesibukan & belum ada kerjaan, yang namanya waktu luang itu jadi barang murah yang bisa kita nikmati kapan saja sampai kita bosan sendiri. Tapi giliran kesibukan sudah mulai padat merayap rasanya stress, kepala mendadak berasap, gejala penuaan dini mulai menghampiri, sensitif, badan terasa sering pegal-pegal dan pengen jambak-jambak rambut… teman ~X( *lho?!*. Jangankan untuk ngeblog, nafas aja itu juga kalau sempat :-<. Oh ya, baiklah.. memang saya sedang berlebihan.. 8-|

Ceritanya seperti sahabat saya yang baru back for good dari luar negeri dan berencana untuk menetap di Indonesia lagi. Sekarang sedang sibuk-sibuknya mencari pekerjaan disini. Ya namanya juga lagi masa penyesuaian dan sedang dalam proses mencari pekerjaan, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu dan kesabaran. Saya sering telpon/sms sekedar tanya kabar atau progress pencarian kerjanya. Jawabannya, “Bosen bener dah, nggak ada kesibukan ๐Ÿ™ “. Padahal ketika masih tinggal di luar negeri jadwal dia termasuk padat. Bahkan ketika sakit pun masih dibela-belain ngantor dengan alasan nggak ada yang bertanggung jawab di kantor. Alhasil kalau sedang libur dimaksimalkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Maklum disana dia tinggal sendiri di apartemen dan nggak ada bibik-bibik yang bantu nyuci, nyetrika atau masak. Nah ya, jadi berbahagialah kalian yang hidupnya didampingi oleh seorang asisten rumah tangga, jadi nggak harus susah-susah ngerjain pekerjaan rumah selain pekerjaan kantor :D.

Kebalikan sama teman saya satu lagi. Kalau yang ini edisi super sibuk. Sepertinya angka-angka di kalender dia semuanya berwarna hitam. Mulai Senin sampai Sabtu dia pasti sibuk beredar. Hari Minggu pun kadang masih suka diisi sama acara off air. Jadi narasumber seminar disini, disitu. Meeting dengan klien ini, anu, itu. Belum selesai meeting sudah ditunggu dengan presentasi disana dan disini. Saking sibuknya kadang saya mikir mungkin dia sehari-harinya makan batere ya. Kalau saya dengan jadwal sesibuk itu mungkin sudah jalan pakai infus kemana-mana. Dia baru benar-benar istirahat kalau lagi sakit atau cuti. Tapi ya masa sih kalau pengen istirahat harus sakit dulu? Oh ya, cuti pun jangan salah, dia juga masih meng-handle kerjaan jarak jauh lho. Tipe workaholic sejati memang si teman satu ini \m/.

Ngomongin temen sendiri jadi dejavu, saya dulu juga pernah mengalami masa-masa seperti itu :-s. Kelihatannya aja saya cuti, secara fisik saya di Surabaya. Tapi jiwa saya di Jakarta. Gimana mau merasakan cuti kalau saya masih terima telpon, masih kirim dan terima email, masih ngecek kerjaan anak buah (walau telpon/sms hanya untuk sekedar tanya ada kesulitan/nggak). Harusnya saya matiin HP dan email saya ya. Tapi nggak bisa semudah itu juga. Ada tuntutan tanggung jawab disana. Di saat itulah saya mulai merasa seperti diperbudak sama kerjaan dan deadline.. :-s

Nyadar nggak sih, ketika kita sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan, syndrom I Hate Monday pun menggejala tanpa kita sadari. Belum berangkat ke kantor saja sudah terbayang-bayang tumpukan berkas dan email yang bejibun. Belum buka buku agenda saja sudah meriang duluan membayangkan rentetan jadwal padat didalamnya. Akhirnya saking menumpuknya pekerjaan yang harus diselesaikan terpaksa kita harus bekerja di hari libur dan tanpa dibayar pula *ngenes to the max* :((. Smartphone dan netbook harus menjadi teman di akhir pekan untuk menyelesaikan tugas padahal keluarga, teman, mall dan sale sedang menunggu.. *remet-remet kertas satu rim*

Akibatnya, hubungan dengan keluarga dan kehidupan sosial pun lambat laun jadi terabaikan. Batas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan jadi kabur. Akhirnya kebanyakan kita memilih mengorbankan keluarga dan pribadinya untuk memenuhi tuntutan beban pekerjaan yang sudah overload. Tapi nggak semua pekerja bersedia mengorbankan keluarga diatas pekerjaan, malah ada yang akhirnya memilih resign untuk lebih konsentrasi ke keluarganya.

Idealnya sih kita harus bisa mengatur keseimbangan dan tahu posisi kita sedang ada dimana ya. Melihat mana yang paling penting dalam hidup. Keluarga atau pekerjaan? Memang keduanya sama penting tapi pasti ada skala prioritasnya. Ada waktu untuk konsen ke pekerjaan, tapi ada saatnya juga kita menjadi milik keluarga, dan menikmati “me time”.

Kalau kata Nick Deligiannis :

“Remember, a professional is a person who never allowed himself to dissolve in the job and no longer have time for personal life”

Jadi, kapan kita menikur pedikur bareng? :>

Continue Reading