Bukan Jakarta kalau…

traffic-jam

…nggak macet!

———-

Demikian seloroh klasik hampir semua orang yang mengomentari betapa macetnya lalu lintas di Jakarta. Seolah ingin menggambarkan bahwa macet dan Jakarta adalah dua buah kata identik yang sudah lumrah dan jamak. Kalau Jakarta sepi, lengang, seperti halnya suasana beberapa hari menjelang Lebaran malah aneh, karena Jakarta itu terlanjur identik dengan macet.

Sudah hampir sepekan ini Jakarta dilanda kemacetan yang luar biasa parahnya. Bukan hanya dirasakan oleh pengguna kendaraan pribadi saja, tapi juga dirasakan oleh seluruh pengguna jasa layanan angkutan umum. Tingginya volume kendaraan yang melintas makin memperburuk kondisi lalu lintas, belum lagi cuaca hujan hingga menyebabkan banyaknya genangan di beberapa ruas jalan, makin memperparah kondisi lalu lintas di ibu kota tercinta ini.

‘Penderitaan’ yang dirasakan bukan hanya kaki yang pegal-pegal karena terlalu lama berdiri, dan waktu yang terbuang di jalanan lebih lama, tapi juga bahan bakar yang terhambur jadi lebih banyak, ditambah dengan ke-BT-an tingkat tinggi yang menyergap hampir semua yang terjebak di kemacetan. Sepertinya orang yang hidup di Jakarta itu harus punya stok kesabaran, ketabahan, dan daya tahan tubuh yang luar biasa untuk berjuang menghadapi kemacetan setiap harinya.

Bayangkan, dengan kondisi fisik dan psikis yang lelah karena sudah seharian beraktivitas di kantor masih harus ditambah dengan lamanya waktu tempuh menuju rumah yang lebih lama. Sesampai di rumah pun cuma sempat istirahat ala kadarnya, karena besok paginya harus bangun lebih awal, dan kembali berkejaran dengan waktu supaya tidak terlambat di kantor.

Beruntung hari Jumat kemarin saya memutuskan untuk pulang tepat waktu, sehingga antrean di halte Transjakarta belum terlalu padat, masih dapat tempat duduk, begitu pula level kemacetan jalan raya masih dalam batas ‘wajar’. Level wajar di sini maksudnya kendaraan masih bisa jalan di tengah kemacetan, tidak sampai stuck dan berhenti dalam waktu yang lama. Di saat saya sudah leyeh-leyeh di rumah, di twitter dan status bbm teman-teman saya bermunculan keluhan terjebak kemacetan di mana-mana,Ā  ada yang keluar kantor pukul 16.15 tapi sampai di rumah hampir pukul 22.00 WIB, bahkan ada yang menjelang pukul 24.00 WIB! Epic, ya? šŸ˜

Banyak orang yang ‘menyalahkan’ makin macetnya Jakarta akhir-akhir ini salah satunya disebabkan karena adanya sterilisasi jalur busway. But, hey… bukankah macetnya Jakarta bukan baru terjadi sehari dua hari ini? Toh, meski sudah ada peraturan tentang sterilisasi jalur busway nyatanya masih banyak juga kendaraan yang masuk ke jalur busway, apalagi ketika jalur jalanan normal sudah sangat padat, satu-satunya ‘alternatif’ untuk bisa tetap jalan ya masuk ke jalur busway. Oh ya, satu lagi. Trotoar. Pffft!

Kondisi seperti itu sih masih ‘mending’. Bagaimana kalau misalnya Transjakarta mengalami trouble di tengah jalur karena mesinnya tergenang air/mati, sementara itu di belakang bus berderet antrean kendaraan yang bermaksud mengambil kesempatan jalur bebas hambatan. Mau tidak mau mereka ikut berhenti total karena beberapa separator busway yang sengaja dibuat tinggi itu tidak memungkinkan mereka untuk memotong jalur seperti dulu. Tidak ada jalan lain selain ikut pasrah menanti hingga Transjakarta selesai diperbaiki. Nah, makin PR lagi, kan?

Tapi beruntung kemarin saya tidak coba naik angkutan alternatif yaitu shuttle bus. Memang sedikit agak lama menunggu shuttle bus itu lewat di Sudirman, tapi daripada saya terjebak di halte Harmoni selama berjam-jam karena ternyata Transjakartanya tidak beroperasi untuk sementara waktu lantaran banjir di sekitar Kampung Melayu, yah well… saya diam-diam bersyukur, walaupun sampai rumah hampir pukul sembilan malam šŸ˜

Jadi ingat beberapa baris kalimat dari Seno Gumira Ajidarma dalam salah satu tulisannya yang bertajuk Menjadi Tua di Jakarta,

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa”

Soal bertahan hidup di Jakarta, menjadi Homo Jakartensis, menjadi sosok-sosok yang mengembara dalam pencarian, sebenarnya cuma masalah pilihan. Kalau ternyata masih kuat bertahan hidup di sini ya silakan dilanjut dengan segala konsekuensinya. Tapi kalau sudah tidak kuat ya silakan lambaikan tangan ke kamera… :mrgreen:

Btw, kapan ya jalanan di Jakarta suasananya mirip seperti car free day setiap harinya?
*tidur lelap*

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Balada Macet

 

“Bukan Jakarta kalau nggak macet!”

Demikian kata-kata yang sering dilontarkan sebagai ‘pemakluman’ terhadap betapa padat dan parahnya lalu lintas di Jakarta. Mungkin sebenarnya bukan pemakluman, tapi sudah menjadi kepasrahan akut sebagian besar warga ibukota yang mau tidak mau harus berhadapan dengan kemacetan itu setiap hari.

Selama dua hari berturut-turut kemarin saya berhadapan dengan kemacetanĀ  yang sungguh superb, perpaduan antara kepadatan menjelang long weekend ditambah dengan hujan deras disertai angin yang mendera Jakarta selama beberapa hari terakhir ini. Dan salah satu kemacetan itu menegangkan buat saya karena berhubungan dengan jam keberangkatan pesawat ke Surabaya.

Jumat lalu saya baru keluar kantor sekitar pukul 17.30. Cuaca di luar masih hujan gerimis setelah hujan mengguyur dengan deras disertai angin. Seperti biasa saya melangkahkan kaki menuju ke halte Harmoni untuk naik Transjakarta. Namun setibanya di depan loket ada sebuah pengumuman di secarik kertas yang menginformasikan penjualan tiket untuk ke arah Lebak Bulus dan Blok M ditutup (sementara waktu), dan bagi penumpang yang sudah terlanjur membeli tiket (mungkin untuk penumpang yang sudah terlanjur antre) uang tidak bisa dikembalikan. Penutupan loket itu mungkin karena adanya keterbatasan sarana Transjakarta, sekaligus untuk menghindari semakin menumpuknya antrean penumpang di kedua jurusan itu. Lah, terus saya pulang naik apa, dong? :((

Dari atas jembatan penyeberangan terlihat hujan masih deras mengguyur, jalanan tampak sangat padat, hanya sanggup merayap pelan. Kalau naik taksi pas macet seperti ini jelas bukan pilihan yang tepat, karena argonya bakal tidak bersahabat dengan dompet. Sementara itu diĀ  bawah tangga jembatan penyeberangan yang biasanya banyak tukang ojeg parkir sore itu tak ada satu pun yang terlihat. Kalaupun ada, sepertinya nggak mungkin juga saya naik ojeg di saat hujan begini, apalagi saya belum sembuh dari flu berat sejak seminggu lalu .

Akhirnya saya memutuskan untuk jalan kaki ke Sarinah untuk naik Kopaja/Metromini. Dengan kaki yang agak lecet-lecet akibat memakai sepatu yang ber-hak saya pun berjalan kaki dari halte Harmoni menuju Sarinah menembus hujan. Sore itu untuk menuju ke rumah lumayan butuh perjuangan. Untung saya tidak sendiri, ada beberapa orang yang juga melakukan hal yang sama. Lumayan ya, Bo… sambil olahraga sore (walaupun nggak pernah ada olahraga yang pakai sepatu pantofel dan hujan-hujan seperti ini). Saya itu sebenarnya heran, kalau saya sudah menyiapkan ‘alat perang’ berupa sandal jepit di tas justru nggak sempat terpakai karena nggak pernah kehujanan. Tapi giliran saya nggak bawa sandal malah ada acara ‘gerak jalan sehat’ pakai pantofel begini… šŸ˜

Nah, ternyata kisah kemacetan itu harus saya alami lagi dalam perjalanan menuju bandara Soekarno-Hatta di hari Sabtu kemarin. Jam keberangkatan pesawat saya tertera pukul 18.35 wib. Di luar cuaca hujan, langit tampak gelap disertai petir, dan jalanan macet luar biasa karena banyak terjadi genangan di sana-sini. Saya sudah berada di jalanan sejak pukul 15.45.Ā  Kalau jalanan normal seharusnya saya tiba di bandara jauh sebelum jam keberangkatan. Wajah saya berubah tegang ketika waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 wib dan posisi saya masih merayap di sekitaran Semanggi. Saya coba telepon ke callcentre maskapai penerbangan yang saya naiki, petugasnya menginformasikan kalau jadwal perjalanan masih normal, belum ada informasi delay, paling lambat check in pukul 18.30 wib. Waduh! Makin paniklah saya ~X(. Kalau melihat kemacetan yang luar biasa ini sepertinya mustahil saya bisa sampai di bandara tepat waktu. Saat itu saya cuma bisa pasrah dan berdoa semoga diberikan kemudahan; berharap ada keajaiban, setidaknya pesawatnya delay deh [-o<. Baru kali ini kan ada yang berharap pesawat delay? Biasanya kalau delay kan ngomel, ya?

Berkali-kali saya coba refresh web bandara untuk meng-up date informasi jadwal penerbangan sambil berdoa semoga informasi yang tertera untuk penerbangan saya tertulis ‘delayed’. Di tengah-tengah kepanikan saya itu, tepat di depan gedung DPR/MPR tiba-tiba saya melihat informasi yang tertera untuk penerbangan saya menjadi “delayed 20.03” \m/. Alhamdulillah! Barulah muka saya yang diliputi ketegangan sejak berangkat tadi menjadi sedikit cair \:D/.

Sampai di terminal 2F tepat pukul 18.20. Saya langsung check in dan memastikan apa benar pesawat saya delay atau tidak. Ternyata beneran delay sampai pukul 20.03 wib. Pffiuh… lega rasanya. Akhirnya saya jadi pulang juga ke Surabaya, setelah sebelumnya membayangkan tiket pesawat saya bakalan hangus karena sudah ketinggalan pesawat :|.

Di ruang tunggu F7 itu sudah penuh terisi penumpang yang akan berangkat ke Semarang dan Surabaya. Ternyata bukan cuma penerbangan saya saja yang mengalami delay, ada beberapa jam penerbangan yang juga mengalami delay. Ya setidaknya saya punya teman senasib sepenanggungan. Untung ada kompensasi berupa makan malam dan teh manis hangat :-bd

Saking seringnya berhadapan dengan kemacetan, (mungkin) lama-lama orang (baca: warga Jakarta) mulai berkompromi. Kalau meniadakan kemacetan sepertinya kok nggak mungkin ya, kecuali setiap hari ada car free day :p. TapiĀ  hal yang masih bisa dilakukan agar terhindarkan dari kemacetan (ini juga catatan bagi diri saya sendiri) ya dengan berangkat jauh lebih awal. Istilahnya sih mending datang di tempat acara kepagian, ketimbang terlambat, lalu menggerutu dan menyalahkan kemacetan sebagai biang keterlambatan.

Jadi ingat kejadian ketika saya harus menunggu salah satu klien yang keukeuh minta ketemu untuk meeting pukul 17.00 wib di sekitaran Sarinah tapi baru datang pukul 19.00 wib dengan alasan klise “macet”, sementara meeting-nya sendiri cuma berjalan 30 menit, dan muka saya sudah kuyu karena terlalu lama menunggu.

Untuk mengantisipasi terjebak dalam kemacetan mungkin benar apa yang pernah iseng saya twit waktu itu:

:-<

Kalian pernah punya cerita kemacetan apa?


 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Suatu Sore Bersama Bapak UKD

Jumat lalu, ketika waktu sudah menunjukkan pukul 16.15, semua orang di ruangan saya mulai sibuk mengantri di depan mesin absensi, terutama yang naik bus jemputan. Entah bagaimana kondisi terakhir di luar kantor, yang jelas mereka ingin segera pulang, terbebas dari demonstrasi dan kemacetan, dan tiba di rumah dengan selamat. Beberapa teman masih ada di ruangan dan memilih menyelesaikan beberapa pekerjaan ketimbang langsung pulang, sambil menunggu kemacetan sedikit reda.

Saya sendiri baru keluar kantor sekitar pukul 16.30-an dan mendapati jalanan depan kantor yang sepi. Tidak ada satu pun kendaraan yang melintas, baik kendaraan pribadi, taksi, busway, sampai ojeg yang biasa mangkal di depan kantor pun tidak terlihat sama sekali. Awalnya saya pikir karena lampu merah di ujung jalan sekitaran Harmoni, tapi masa iya lampu merahnya selama ini? Dalam hati mulai curiga kalau lalu lintas sepertinya sedang diarahkan melalui jalur alternatif, menghindari arah Istana, Monas, Bundaran HI, dan sekitarnya šŸ˜•

Baru saja berpikir demikian, datanglah dua bapak UKD (Unit Keamanan Dalam) yang kebetulan akan pulang menggunakan motor. Mereka ngobrol sebentar di depan gerbang, persis di samping saya. Berhubung saya sudah familiar dengan beliau berdua, saya pun ikut nimbrung dalam obrolan mereka tentang jalan alternatif menuju rumah masing-masing. Berasa salah pulang jam segini deh šŸ˜

Bapak 1: Mbak Devi, nunggu jemputan atau taksi?

Saya: sebenernya tadi mau naik busway Pak, tapi kok saya males jalan ke Harmoni situ, ya ;)). Jadi ya udahlah naik taksi aja. Tapi kok dari tadi kayanya nggak ada yang lewat sini ? šŸ˜•

Bapak 2: kayanya sih emang nggak ada yang lewat depan sini, Mbak. Kan depan Istana dan Monas situ udah penuh demonstran, jadi ya nggak akan bisa lewat…

Saya: hah, serius, Pak? šŸ˜® Waduh, tak kirain tadi masih bisa dilewatin. Soalnya tadi masih ada 1 taksi yang mau putar depan sini ngangkut penumpang sebelum saya. Jadi sekarang udah blokir total, ya? šŸ™

Bapak 2: iya. Mbak Devi rumahnya di daerah mana, tho?

Saya: Duren Tiga, Pak…

Bapak 2: saya juga setiap hari lewat situ, Mbak. Apa njenengan mau bareng saya?

Saya: ngg.. Matur nuwun, Pak. Nggak usah, nanti saya malah ngerepoti. Saya nunggu taksi aja šŸ˜€

Bapak 1: Lah, sekarang aja udah nggak ada yang lewat gini, bisa-bisa nanti Mbak Devi pulang malem, lho…

Saya: gitu ya, Pak? :-s . Tapi kan Bapak cuma bawa helm satu, nanti Bapak ketangkep polisi lho kalau mboncengin saya nggak pakai helm…

Bapak 2: wis tho ora-ora, Mbak Devi nggak usah khawatir. Insyaallah nggak ada apa-apa. Monggo, naik aja. Daripada nanti malah nggak bisa pulang, lho…

Hmm, ya udah deh. Akhirnya saya putuskan untuk nebeng Bapak –yang ketika akan sampai rumah baru saya ketahui bernama Pak Hendro itu– dengan tanpa helm sehingga rambut saya berkibar-kibar kemana-mana. Psst, aslinya saya lumayan agak deg-degan juga sih kalau ketangkep polisi ;))

Persis di traffic light dekat Istana barulah saya melihat kondisi yang sebenarnya. Massa berkerumun di depan Istana Merdeka dan seputaran Monas, sejumlah polisi anti huru-hara pun sudah bersiaga penuh. Demonstran yang memenuhi jalanan itu memblokir jalan yang menuju ke arah Bundaran HI dan sekitarnya, sehingga kami harus memutar lewat belakang Kemkominfo dan lalu lewat Tanah Abang, atau bisa juga memutar ke arah Jalan Juanda.

Sepanjang jalan kami ngobrol sesekali, sambil saya mengabari keluarga kalau saya baik-baik saja dan sedang dalam perjalanan pulang diantar sama salah satu bapak anggota UKD. Ya maklum, keluarga saya kan ada di Jawa Timur, dan pasti sudah melihat di TV betapa rusuhnya kondisi Jakarta Jumat kemarin. Apalagi kantor saya berada di lokasi yang sangat dekat dengan salah satu target tujuan demonstrasi. Rute jalan yang biasa saya lalui ketika akan pulang pun melalui jalur yang sedang diblokir massa itu. Jadi kalau mereka khawatir ya wajar.

Tak terasa perjalanan kami sudah hampir sampai Mampang.

Bapak 2: Mbak Devi dulu masuk Setneg tahun berapa?

Saya: saya ikut seleksinya sih akhir 2009, efektif masuk baru Januari 2010, masih baru 2 tahunan kok, PakĀ  šŸ˜€

Bapak 2: sama, saya juga baru sih, saya masuk Setneg itu Juni 2009

Saya: oh, gitu? Dulu ditugaskan di mana, Pak?

Bapak 2: sejak tahun 1987 saya di Paspampres, Mbak. Mbak Devi paling baru lahir ya tahun segitu?

Lah, saya baru tahu kalau Bapak itu dulunya Paspampres. Saya selama ini mengira beliau itu dulunya dari mana gitu. Tapi (menurut info yang saya dapat) kebanyakan bapak-bapak yang sekarang bertugas di Unit Keamanan Dalam itu dulunya memang Paspampres.

Terima kasih untuk tumpangannya ya, Pak. Terima kasih sudah mengantar saya pulang dengan selamat sampai di depan gang rumah saya. Kalau nggak ada Bapak, nggak tahu deh saya sampai rumah jam berapa šŸ™‚

 

Continue Reading

Siapa suruh datang Jakarta?

Semalam adalah malam yang sangat spektakuler buat hampir semua penduduk Jakarta yang hingga tengah malam masih terkatung-katung di tengah jalan lantaran banjir dan macet yang sangat parah. Berbagai live tweet tentang banjir beserta foto yang di-upload seolah menceritakan betapa lumpuhnya arus lalu lintas di Jakarta tadi malam. Ya, saya adalah salah satu manusia yang terjebak dalam kemacetan yang parah itu pemirsa..

Niat awalnya adalah mengantarkan adik saya ke Bandara Soekarno Hatta. Janjian maksimal jam 17.00 wib sudah di Gambir terpaksa dibatalkan karena hujan dan prediksi macet yang akan terjadi sehingga tidak mungkin kalau dia harus menunggu saya sementara dia harus sudah check in di bandara. Akhirnya tinggallah saya di dalam taksi dengan mencoba tenang “menikmati” macet, banjir, dan komplain-komplain via berbagai social media. Sempat stress juga ketika taksi yang saya naiki tidak bisa bergerak samasekali. Miris, ketika saya memutuskan untuk berjalan kaki tapi ketika melongok keluar jendela taksi, wow.. SUNGAI!! :((

Kemacetan dan banjir rupanya merata hampir di seluruh Jakarta. Suami saya yang naik motor terpaksa harus berputar-putar mencari jalan alternatif (jalan tikus). Tapi ternyata jalan tikus pun macet. Karena pikiran orang mungkin sama dengan pikiran suami saya, “ah kalau lewat jalan utama pasti macet, lewat jalan alternatif sajalah..”. Eh ternyata bertemulah mereka di jalanan yang sama. Jadi ya tidak ada bedanya antara lewat jalan utama atau jalan alternatif ;)) . Saya sendiri mulai berasa stressnya ketika mulai melihat jam sudah menunjukkan pukul 21.30 wib dan saya masih terkatung-katung di Jalan Gatot Subroto. Saya lihat juga si bapak supir taksi saya sudah stress juga sepertinya. Untunglah suami saya akhirnya menjemput dan membawa saya keluar dari kemacetan di sekitaran Giant – Mampang… untuk menghadapi kemacetan berikutnya tentu saja ;))

Saya toh juga sempat ngetwit begini :

Macet itu membuat org banyak bersyukur. Maju semeter aja sudah alhamdulillah : “alhamdulillah, akhirnya maju juga”
about 17 hours agoĀ  via Twitter for BlackBerryĀ®

dan begini :

Kalo Jakarta macetnya kaya begini, bayangkan ada berapa ibu hamil yg akan melahirkan dijalan ya..
about 17 hours agoĀ  via Twitter for BlackBerryĀ®

;))

Pagi ini di kantor hampir semua orang mempunyai cerita yang sama dengan versi masing-masing tentang kemacetan. Mereka rata-rata tiba dirumah antara pukul 22.00-23.00 bahkan ada juga yang lebih malam daripada itu. Semuanya mengeluh dan ngomel tentang betapa parahnya kemacetan Jakarta kemarin malam, saya juga cerita sih, tapi nggak pakai ngomel. Tepatnya adalah PASRAH! ~X(

Tapi saya justru berpikir iseng begini :

Sebenarnya kita semuanya sudah tahu kalau Jakarta itu kota banjir & macet, kan? Jadi ya sudah, kalau sudah memutuskan untuk tinggal disini ambil itu sebagai bentuk resiko dan konsekuensi logis. Jakarta itu ibarat sebuah produk yang dijual dengan sistem bundling. Kita tidak bisa hanya membeli salah satu fasilitas yang ditawarkan. Kalau kita sudah setuju membelinya ya kita tinggal menikmati fitur paket yang dijual terlepas dari mau tidak mau, berguna atau tidak. Jakarta disajikan lengkap dengan segala mimpi tentang kesuksesan hidup, dilengkapi dengan segala ketersediaan fasilitas, diberi essence manis pahit asamnya hidup kota besar, dan tak lupa semua itu disajikan lengkap dengan hiasan pita banjir dan macetnya.

Mengomel dan saling menyalahkan/menghujat satu sama lain pun tidak akan menyelesaikan masalah. Kalau memang iya solusinya adalah dengan mengganti pejabat yang kita salahkan itu lalu apakah pejabat berikutnya atau bahkan kita sendiri dijamin pastiĀ  mampu menyelesaikan masalah klasiknya Jakarta ini? Nah, belum tentu juga tho? Bukan berarti kita harus nerimo dengan keadaan seperti ini terus-terusan, tapi ya kenapa kita tidak mencoba untuk mengakrabkan diri dengan kondisi yang bukan untuk pertama kalinya terjadi ini? Nikmati sajalah Jakarta dengan segala pernak-perniknya, toh nanti juga akan kebal & terbiasa. Soal terlambat, kebasahan, kedinginan, tampang jadi kucrut ya sudahlah terima nasib saja. Toh kita tidak sendirian mengalaminya kan? ;))

Jadi sewaktu-waktu kalau nanti kita eksodus ke negara yang kemacetannya tidak separah Jakarta kita sudah terbiasa. Misalnya pun ternyata ada macet-macetnya sedikit kita bisa komentar : “Ah, dulu saya pernah mengalami yang lebih macet dari ini kok?” | “Oh ya, dimana?” | “di Jakarta..” šŸ˜€

Baiklah, seperti lemparan sandal, aqua galon, dan keplakan mesra sudah mampir ke jidat saya ;)). Ya namanya juga mencoba menghibur diri dengan mencoba berpikir positif biar hati dan pikiran lebih rileks kan tidak ada salahnya tho? šŸ˜€

Jadi gimana, masih minat tinggal di Jakarta?Ā  :-”
Pindah aja yuk.. :>

Continue Reading

Makanya, Jadi Orang Yang Sabar!

Sore ini seperti biasa saya dan sahabat saya pulang kantor menyusuri jalanan Thamrin, Sudirman dan sekitarnya menuju Gatot Subroto. Seperti biasa pula yang namanya macet nggak mungkin bisa dihindari, apalagi menjelang long weekend seperti sekarang ini. Semua orang pasti pikirannya sama, ingin lebih cepat sampai dirumah. Ya iyalah kapan lagi bisa kumpul lebih lama dengan keluarga apalagi besok libur. Ya kan? šŸ™‚

Nah, seperti biasanya pula kami selalu ada “ritual” pilih jalur ketika akan memasuki daerah Sudirman. Ya kan pilih jalur yang nggak terlalu macet, biar lebih cepat sampainya. Dan herannya, ko ya selalu salah ;)) . Feeling kalau jalur sebelah kiri bakal lebih sepi & lebih cepat ternyata kena macet-macetnya bis yang segede-gede gaban itu. Pas ngira kalau jalur kanan jauh lebih sepi, eh malah kena sistem buka-tutup jalur sama polisi, yang bukanya lamaa banget. Alhasil kita stuck di jalan juga kan? Jadi ya begitulah, sama aja kayanya

Sore inipun kami menjalani “ritual pilih jalur” dan kali ini kami memilih jalur kanan. Apakah pilihan kami sore ini benar? Oh tentu, Maria! Tentu tidak! Karena pas kita lihat dijalur kiri jalanan begitu lengang, kendaraan dengan kecepatan sedang melaju dengan santai. Dengan hiperbola kami membayangkan mereka melambaikan tangan sambil daddah-dadah pada kami berdua. Coba bandingkan dengan kami yang jejeritan nggak jelas karena lagi-lagi salah pilih jalur & terpaksa harus berhenti ditempat. Sampai akhirnya ketika jalan merambat menimbulkan ide untuk pindah ke jalur kiri yang lebih lengang, menuju ke arah Plaza Semanggi. Berhubung memang tampak lengang sekali, maka pindahlah kita kesana. Tapi kita tidak tahu kalau sebenarnya disisi jalanan itu, diujung sana tepatnya, sedang macet-macetnya! Dan yak, bagus.. kita gantian terkurung dalam kemacetan di sisi lainnya.. :((

Kesel? Jelas. Gondok? Pasti. Lha wong niatnya pindah jalur biar nggak kena macet, ini malah nggak bisa gerak. Seolah-olah mencari kemacetan yang lain gitu.Ya bagus deh ~X( . Tapi justru disitu kita jadi menertawakan diri sendiri. Andai kita tadi sabar buat menunggu jalanan terbuka, pasti kita nggak akan malah stuck ditengah jalan kaya begini, dihimpit, bis dan mobil-mobil (iyalah, masa dihimpit sama ongol-ongol?). Tapi ya itulah, kan tadi kita yang milih sendiri, jadi ya tanggung resikonyalah ya ;)) .

Yang biasanya waktu tempuh sekitar 30 menit sampai ke Gatot Subroto, kali ini hampir satu jam. Tapi ada yang lucu pas kita sudah hampir berhasil melewati kemacetan dan mulai masuk kawasan Gatot Subroto (depan Plaza Semanggi), mendadak mobil hitam yang kami naiki dihentikan oleh seorang petugas polisi. Aduh, iya.. masih jamnya three in one yah? Padahal kita biasanya lempeng aja lho jam segitu, nggak pakai acara cegat-cegatan begitu. Ah, ya sudahlah, kita minggir dulu yah..


PolisiĀ  :
“Selamat sore, ..”
TemanĀ  : “Selamat sore pak. Ada apa ya?” *(sok) polos*
PolisiĀ  : “mohon maaf ada berapa orang dalam mobil?”
*sambil melongok ke dalam mobil* .

Eh, sumpah ya, kita pengen boneka ayam-ayaman di jok belakang itu mendadak hidup dan duduk manis terus senyum sambil benerin kacamata sama polisi itu. Biar kita nggak ditilang karena jumlahnya kan udah 3 orang.
PolisiĀ  : “cuma berdua ya bu? Boleh saya lihat kelengkapan surat-suratnya?”
TemanĀ  : “oh, boleh pak.. Emang jam berapa sih three in one-nya pak? Bukannya mulai setengah lima?”
PolisiĀ  : “iya bu, memang benar ini kan sudah jam lima kurang seperempat..”
TemanĀ  : “lho, bukannya mulainya setengah lima?”, tanya temen saya ngotot sambil buka dompet.

Nggak nyadar apa sama pertanyaannya barusan. Ini udah jam lima kurang seperempat Neng, three in one itu mulainya setengah lima. Ya jelas kita kenalah.. ;))


PolisiĀ  : “iya bu, ini sudah jam setengah lima lebih, jadi ya sudah mulai yah.. Bisa minta tolong mobilnya dipinggirkan?”
TemanĀ  : “oh iya ya? Udah setengah lima ya? “, dia terkekeh sendiri.

Tuh kan, lola jangan dipelihara dong ah.. *plaak!*

Sementara teman saya turun, saya lihat dari dalam mobil sambil terus memperhatikan mereka berdua. Eh, tapi kok saya, dia, dan bapak polisi itu jadi cengengesan ya? Kalau saya sih geli aja melihat ekspresi teman saya sama polisinya. Tapi kalau temen saya sama polisinya ngapain coba? Saya lamat-lamat mendengar percakapan mereka dari balik kaca yang sudah saya buka.

PolisiĀ  : “iya ini tilangnya 500 ribu ya bu..”
Teman : “oh gitu ya pak? Wah, saya bener-bener nggak tahu pak. Biasanya saya bertiga, kali ini aja saya cuma berdua.. Aduh, maaf ya pak..”
PolisiĀ  : ” Baik,Ā  ibu rumahnya dimana?”
TemanĀ  : “saya di Halim, Pak..”
PolisiĀ  : “Lho, ibu istrinya anggota?”
TemanĀ  : “iya..”
PolisiĀ  : “Polri atau TNI?”
TemanĀ  : “TNI, pak..”
PolisiĀ  : “yah, kenapa ibu nggak bilang dari tadi Kalau saya tahu ibu istrinya anggota, mana mungkin saya tilanglah bu..”
Teman : “lah ya masa saya mau pamer-pamer kalau saya istrinya anggota. Ya kalau memang saya salah ya tegur aja pak, nggak apa-apa. Nggak usah sungkan apakah saya istri anggota apa bukan.. ”
PolisiĀ  : “ya tapi saya yang nggak enaklah bu, masa istrinya anggota saya tilang juga..Ya sudah, silahkan dibawa kembali surat-suratnya. Salam buat bapak ya bu.. Hati-hati dijalan..”
TemanĀ  : “baik pak terimakasih sudah diingatkan..”

Ah, untung polisinya baik hati. Salam buat komandannya ya Pak.. ;))

Begitu kita jalan, kita berdua ngakak-ngakak. Menyadari kebloonan kita, keteledoran kita, ketidaksabaran kita. Tentu saja menertawakan dengan lega kejadian yang baru saja kita alami. Nggak jadi ditilang gitu lho #:-s. Kayanya si pak polisi itu juga sempat melirik foto di dompet teman saya, plus “ngeh” dengan kata-kata “Halim” yang identik dengan pangkalan Angkatan Udara.

Ah, ya.. sore yang unik. Tapi justru dari situ ada sebuah pesan moral yang bisa kita ambil. Jadi orang itu mbok ya yang sabar. Karena kalau saja tadinya kita sabar, bertahan di jalur kanan, pasti nggak akan kena macet berkali-kali gara-gara tergiur pindah jalur yang lebih sepi yang akhirnya macet-macet juga bahkan lebih parah :)) . Sering-sering lihat jam, apalagi kalau niat masuk jalur three in one dengan penumpang kurang dari 3 orang.. ;))

gambar dari situ

Continue Reading