Nikmati Saja

IMG-20150902-WA009

Jadi sebenarnya hari ini saya itu tiba-tiba saja galau. Di week end kemarin saya total di rumah menemani Alea mulai pagi dia bangun tidur sampai malam hari dia tidur. Buat saya yang seorang ibu bekerja kebersamaan bersama Alea termasuk dalam daftar me time. Kalau ibu-ibu lain yang kesehariannya sudah bersama bocah mungkin me time-nya akan berkebalikan dengan saya, misalnya dengan nyalon-nyalon lucu atau sekadar meluangkan waktu khusus untuk diri sendiri. Ya kan namanya mengasuh anak sekaligus mengurus rumah kan lumayan PR ya, Bu… Jadi maklumlah kalau ada waktu khusus buat refreshing. Nah, berhubung saya cuma ketemu sama Alea setelah jam pulang kantor dan week end jadilah saya menyebut kebersamaan saya bersama Alea adalah termasuk me time.

Di usia balita saya yang bulan ini menginjak 14 bulan, saya lagi jatuh cinta banget sama dia. Jatuh cinta karena Alea sedang lucu-lucunya, mulai bisa menirukan omongan orang, lagi suka menonton film animasi dan mendengarkan lagu-lagu anak, suka menari, dan sedang suka bersosialisasi dengan anak-anak lain baik yang sebayanya maupun yang jauh lebih besar daripada dia. Pokoknya dia sedang seperti sebuah spons besar yang menyerap sebanyak-banyaknya air. Tapi bukan Spongebob, hehehe…

Kalau saya sedang ada di rumah, apapun aktivitas Alea maunya sama saya. Mulai makan, minum, pup, main, sampai bobonya. Seolah meminta ‘kompensasi’ dari ketidakhadiran di setiap hari kerja. Jadi, begitu ada mamanya, dia girang banget. Setelah sekian lama, oh.. ternyata begini ya rasanya punya ‘buntut’. Ke mana-mana ada yang mengikuti.

Kalau soal drama pascalahiran sudah berlalu, kini beralih ke drama sebelum ngantor. Setiap pagi, kalau dia sudah bangun dia pasti maunya ikut saya membikin sarapan. Padahal dapur itu kan kurang aman buat bayi/balita. Tapi ya bagaimana lagi, dia maunya ikut ke mana pun saya melangkahkan kaki, jadi kadang ya terpaksa kalau sudah tidak bisa dibujuk oleh papa atau eyangnya ya dia ikut saya membuat sarapan di dapur.

Kalau tiba waktunya saya berdandan, dia pun ikut sibuk ‘berdandan’. Mengusapkan kuas blush on ke wajahnya secara random dengan ekspresi kegelian. Usai mengeluarkan seluruh isi tas make up saya, biasanya kalau sudah menemukan barang yang disukai, Alea pasti langsung memojokkan diri dan asyik dengan barang ‘temuannya’ itu. Contohnya kuas blush on yang sudah dipreteli atau lipstik. Lipstik saya yang sudah hampir habis jadi belepotan ke mana-mana karena dicolek-colek Alea. Lucunya, kalau saya tanya, “siapa yang nakal mainan lipstik Mama?”. Dengan lucu dia menjawab, “Aea…”. Alea.

Kalau sudah selesai dandan, aktivitas berikutnya adalah seterika. Saya selalu menyeterika baju yang akan dipakai hari ini sebelum berangkat ke kantor. Biasanya untuk membuat dia ‘sibuk’ adalah dengan menyetelkan video film animasi kegemarannya atau video lagu anak. Tapi kalau dia sedang ‘drama’ pasti ada saja caranya meminta perhatian. Misalnya tiba-tiba minta menyusu atau minta pangku di tengah aktivitas saya menyeterika. Jadi, kadang eyangnyalah yang suka membujuk dengan mengajak main sesuatu di ruang tamu, atau apapun yang bisa mengalihkan perhatiannya sementara saya menyeterika.

Kalau lagi mellow, ada juga perasaan iba melihat begitu inginnya saya ada buat dia, menemani dia setiap hari. Melihat tangan mungilnya memeluk saya erat sembari dia menyusu dan menonton film favoritnya (Baymax, Frozen, Penguin of Madagascar, Barney, dan Gazoon); melihat dia makan dengan lahap ketika saya suapi, atau tertidur lelap di pelukan saya, itu precious banget…

Mama saya pernah bilang begini, dulu…
“Nikmati saja setiap waktu bersama anak-anakmu. Karena masa kecil tidak akan pernah kembali. Hidup juga tidak akan pernah berulang dan begitu-begitu saja karena pasti akan ada perubahan.”

Diam-diam saya merenung. Iya juga ya, nikmati saja setiap detik kebersamaan bersama Alea. Membayangkan bahwa dalam beberapa bulan ke depan Alea akan mulai sekolah playgroup. Dia akan mulai bersosialisasi, punya teman, punya lingkungan baru. Dan tanpa terasa dia akan memulai kehidupannya sebagai anak sekolah, dan seterusnya sampai akhirnya dia dewasa dan punya kehidupan sendiri.

Sederhana saja, saya dan suami ingin memberikan Alea kasih sayang semaksimal mungkin yang kami bisa, dan harapan kami semoga Alea memiliki masa kecil yang bahagia, di tengah kehidupannya sebagai seorang anak yang kedua orangtuanya bekerja.

Btw, tadi pagi agak sepi nih, nggak ada yang ngegrecoki aktivitas pagi, soalnya Alea masih tidur pulas sampai waktunya kami berangkat kerja…

****

– ditulis dalam multitasking mode (smsan, watsapan, mengoreksi berkas, input ke aplikasi, dan kegiatan clerical lainnya, sambil mengejar waktu mendekati jam pulang kantor –

Continue Reading

Makrempong

friendship

‘Makrempong’ adalah salah satu nama dari 10 grup whatsapp yang ada di handphone saya. Baru 10 grup? Ah, cuma dikiiit… Dibentuk pertama kali oleh salah satu teman sekitar bulan April 2015. Isinya pun cuma 11 orang, tapi ramenya mengalahkan puluhan orang yang ada di grup whatsapp lainnya. Kebetulan kami bersebelas ini teman satu angkatan ketika baru masuk di operator merah tahun 2004. Sejak awal dipertemukan di Surabaya, kami sudah mendadak akrab begitu saja, semacam sudah punya chemistry.

Kami ‘lulus’ dari operator merah sekitar tahun 2006. Sejak saat itu kami terpisah menjalani karir berikutnya di kota masing-masing. Ada yang ‘meneruskan’ di operator yang sama dengan beda bendera, ada juga yang menjadi PNS, ada yang menjadi staf di oil company, staf di hotel, menjadi guru, atau ibu rumah tangga. Sampai akhirnya salah satu dari kami berinisiatif membentuk grup watsapp, dan voilaa… jadilah grup bernama ‘Makrempong’, yang artinya emak-emak yang rumpi, bawel, dan rempong tentu saja. Eh, padahal 11 orang itu sebenarnya terdiri dari 10 orang perempuan, dan 1 orang laki-laki, tapi berhubung mayoritas adalah perempuan, jadilah 1 orang laki-laki itu kita anggap perempuan juga… *toyor para emak di grup*

Dari sekian banyak grup yang ada di handphone saya, ada 4 grup yang keaktifannya luar biasa. Luar biasa menghabiskan daya batere handphone, maksudnya. Mereka adalah whatsapp grup kantor, whatsapp grup SMA, whatsapp group SMP, dan whatsapp group ‘Makrempong’ itu tadi. Keempat-empatnya punya karakter yang berbeda-beda. Kalau di grup kantor isinya variatif, selain sebagai grup hore-hore juga bisa digunakan untuk koordinasi kedinasan. Kalau grup SMP dan SMA isinya hampir sama, ngobrol ngalor ngidul, dengan topik yang beragam, mulai serius sampai dengan OOT dan absurd. Sedangkan grup Makrempong walaupun sama-sama rame tapi sedikit beda. Bedanya ada di chemistry di antara kami bersebelas. Jiyeee…

friendship makrempongDi Makrempong, topik apapun bisa dibahas, mulai topik yang berat sampai yang remeh-temeh. Topik tentang keuangan, keluarga, parenting, pekerjaan, curhat tentang pasangan, pendidikan anak, soal tetangga yang menyebalkan, curhat soal pekerjaan, sampai tips dan trik bercinta pun ada. Intinya Makrempong adalah ruang untuk katarsis dan membahas topik yang all in!

Tapi dari sekian banyak grup yang saya ikuti, saya melihat Makrempong adalah grup yang isinya paling tulus. Mungkin karena anggota grupnya tidak terlalu banyak, jadi masing-masing bisa chat secara ‘personal’ di grup. Lagi pula kami juga sudah mengenal pribadi masing-masing sejak 11 tahun yang lalu jadi kami bisa jadi diri sendiri dan nyaman ngobrol tanpa harus jaga image. Intinya adalah toleransi, saling percaya, dan kasih sayang kami terhadap satu sama lainlah yang membuat pertemanan kami awet hingga saat ini.

Bahkan tak jarang, kalau sedang ada topik yang hangat, penting, dan itu memicu komentar para anggota grup, saya bisa ketinggalan hingga ratusan chat lantaran baru sempat mengecek handphone selang setelah sekian menit/jam kemudian. Kalau sudah ketinggalan sekian ratus chat begitu ya sudah, pasrah saja, kalau sudah senggang, baru deh saya sempatkan untuk scroll up membaca satu persatu chat yang masuk. Eh, padahal di grup lainnya saya belum tentu begitu, bahkan sering saya skip-skip saja.

Namanya saja grup yang isinya 11 orang yang punya kepala berbeda, jadi tidak selamanya kami isinya selalu happy, atau punya pemikiran yang sama dan sejalan dalam melihat sesuatu. Pasti adalah saat-saat di mana salah satu dari kami sedang labil, baper (sensitif), down, dan atau menjengkelkan bagi sebagian orang, entah itu karena bawaan PMS, stress di kantor, masalah di rumah, atau memang sudah saatnya menjengkelkan, hehehe. Tapi justru itulah yang seninya persahabatan. Kalau Makrempong isinya orang-orang yang emosinya lurus-lurus saja kok malah kurang seru ya. Perbedaan itu justru membuat persahabatan kami semakin berwarna.

Konon, katanya, kita bisa punya teman sampai puluhan hingga ratusan teman, tapi jumlah sahabat yang dimilikinya tak pernah melebihi jumlah jari di kedua tangannya. Entahlah, benar atau tidak. Tapi kebetulan yang ada di Makrempong ini kok jumlahnya pas, persis sama dengan kedua jari tangan saya ya… hehehehe…

“Family isn’t always blood. It’s the people in your life who want you in theirs. The ones who accept you for who you are. The ones who would do anything to see you smile, and who love you no matter what.”
– unknown –

sumber ilustrasi dipinjam dari sini dan dokumentasi pribadi

Continue Reading

Me Time

me-time

‘Me Time’ is appreciate yourself by doing what you love.

Benar begitu? Katanya, dengan tetap memiliki ‘me time’ akan memastikan setiap orang tetap ‘waras’, hehehe… Tiap orang pasti punya waktu dengan durasi tertentu untuk memanjakan dirinya sendiri, yang penting untuk meningkatkan kualitas hidup masing-masing.

Setelah beraktivitas setiap hari yang penuh dengan jadwal padat, belum lagi ditambah dengan kemacetan jalan raya yang sungguh ‘tralala-trilili’, menyebabkan berbagai kepenatan fisik dan psikis. Jadi wajar kalau ‘me time’ menjadi sebuah saat yang penting bagi seseorang untuk sejenak beristirahat, menikmati waktu untuk diri sendiri.

Bentuk ‘me time’ sendiri ada bermacam-macam, tidak selalu harus dengan bepergian ke luar kota. Kadang cukup dengan menghabiskan waktu sendirian di toko buku, atau luluran/spa di salon langganan, mendengarkan musik, nonton film, dll. Intinya, setelah melakukan ‘me time’ tubuh dan pikiran terasa rileks, mood kembali bagus, tidak lagi stress.

Teman saya punya ‘me time’ yang unik, yaitu mandi di kantor sebelum jam pulang kerja. Kenapa saya sebut unik? Karena ketika mandi di kantor, dia bisa lebih banyak punya waktu untuk merawat diri. Kalau sudah di rumah, jangankan punya waktu untuk merawat diri, mandi saja superkilat.

“Gue nggak bisa mandi di rumah kalau udah sore, Devi. Lo kan tahu sendiri rumah gue jauh. Pas udah sampe rumah ya udah, anak-anak gue langsung minta perhatian orangtuanya; pada ngajak main. Jangankan sempat lulur-luluran, mandi aja gue cepet-cepetan.”

Saya yang waktu itu masih belum punya anak hanya bisa melongo. Sedemikian ‘langkanyakah’ ‘me time’ ketika sudah berkeluarga dan punya anak?

Eh, sekarang… ketika saya sudah punya momongan, ternyata memang benar, waktu untuk ‘me time’ memang sedikit berkurang waktunya. Berkurang di sini bukan berarti jadi tidak punya sama sekali, ya. Masih punya, tapi durasinya yang berubah jadi tidak selama dan sesering dulu. Even Super Mom needs a break now and again. You won’t be able to take care of your family if you don’t take care of yourself. Betul? 😀

Saya seorang ibu bekerja. Saya hanya bertemu dengan Alea ketika jam pulang kantor sampai bangun tidur keesokan harinya. Sepulang kantor saya hanya punya waktu untuk mandi, shalat, dan makan malam (kadang malah kalau Alea sudah rewel duluan ya saya momong dulu baru mengerjakan hal lainnya, kalau tidak langsung ikut bablas ketiduran). Itu pun saya sudah harus membagi aktivitas dengan persiapan ngantor, dll. Alea sementara ini diemong oleh eyangnya. Jadi bisa dibayangkan betapa terbatasnya waktu saya bersama Alea. Jadi kalau ada waktu buat jalan-jalan, buat ngeloni, buat menyuapi, buat menyusui, buat bermain bersama anak, itulah surga saya. Apalagi proses tumbuh kembang anak itu kan cepat. Seadanya waktu yang saya punya itulah yang ingin saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Trus, ‘me time’ saya sendiri kapan? Di kantor saya masih bisa melakukan ‘me time’ kok. Misalnya menulis blog (yang walaupun lebih lama hibernasinya ketimbang up date-nya,hihihik), atau latihan band dengan teman-teman band saya seminggu sekali sepulang kantor sambil menunggu jemputan suami. Ngeband bareng teman-teman itu juga merupakan suntikan semangat yang luar biasa menyegarkan buat saya. Saya bisa pulang ke rumah dalam kondisi yang tetap semangat, bahkan sesaat ‘lupa’ kalau sedang berada dalam kemacetan luar biasa.

Saya percaya bahwa masing-masing orang punya ‘me time’ versi masing-masing. Kalau kalian, apa ‘me time’ kalian?

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Work-Life Balance

life balance

Pada sebuah sore di penghujung tahun 2014, di menjelang jam pulang kantor, Kasubbag saya terlihat sibuk mondar-mandir dari kubikelnya ke ruang Kabag, tak lama lalu ke ruang Deputi, dan lalu ke ruang Kepala Biro, sambil membawa selembar berkas. Saya sendiri masih sibuk berkutat dengan setumpuk berkas surat yang harus diinput dalam aplikasi persuratan elektronik.

Tak lama kemudian dia mampir ke kubikel saya sambil menjentik-jentikkan jarinya ke arah surat yang dia bawa. “Gua harus cari yang qualified, nih!”. Saya menoleh sebentar ke arahnya, “(Ada) apaan sih, Kak?”. Dia cuma manggut-manggut nggak jelas sambil membawa kembali, “Nggak apa-apa, nanti deh…”.

Sambil agak bengong saya kembali fokus dengan setumpuk berkas yang tadi. Kasubbag saya itu lalu kembali ke kubikelnya, mengetik sebentar dan tak lama kemudian terdengar printer yang sedang mencetak dokumen. Dan setelahnya, dia segera bergegas ke ruang Deputi lagi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.05 wib. Ruangan sudah mulai sepi karena memang sudah lewat jam pulang kantor pukul 16.00 wib. Tapi masih ada beberapa pegawai yang masih ada di ruangan karena lembur, termasuk saya. Kasubbag saya kembali mendatangi kubikel saya, menyeret kursi di sebelah saya, dan melontarkan pertanyaan ini:

“Kak, kamu mau nggak jadi Sekretarisnya Bu Menteri?”

“Hah? Bu Menteri siapa?”

Pikiran saya mendengar kata-kata ‘Bu Menteri’ kok langsung mengarahnya ke Menteri Susi Pudjiastuti ya; padahal perempuan yang menjabat sebagai menteri kan bukan cuma beliau ya. Tapi entahlah mungkin karena sosok Bu Susi terlalu kuat dan populer, sehingga kalau ada yang menyebut kata ‘Bu Menteri’, asosiasinya langsung ke beliau. Kembali lagi ke tawaran yang tadi, So, so, kalau jadi saya jadi Sekretarisnya Bu Menteri Kelautan dan Perikanan, berarti saya mau dimutasi ke sana, gitu? Pikir saya.

“Bu Menteri, Bu Menteri… Isterinya Pak Menteri… “, lanjut Kasubbag saya.

“Ooh, Bu Pratikno?”, jelas saya sambil menarik nafas lega.

“Iya, hehehe. Mau, nggak?”

“Aku? Lah, kenapa aku? Kok tiba-tiba aku? Mekanismenya gimana ini?”

“Iya, jadi gini… Ibu lagi butuh sekretaris untuk mendampingi beliau, karena nantinya beliau bakal sibuk banget. Bukan cuma sekadar menghadiri acaranya Bapak aja, tapi juga agenda bersama para ibu pejabat lainnya…”

“Trus?”

“Aku udah diskusi sama Pak Karo, plus menyeleksi sekretaris-sekretaris yang ada di kementerian kita, dan pilihan kita jatuh ke kamu. Kalau kamu setuju, kita akan ajukan nama kamu ke Ibu..”

“Lho, lho… sik, sebentar. Itu tugasnya ngapain aja?”

“Ya kamu akan melekat ke Ibu. Ke mana pun Ibu berkegiatan ya kamu akan ikut. Tapi prinsipnya sih lebih kurang semacam ajudannya Ibu gitu…”

“Lah, bukannya selama ini, kaya yang sebelum-sebelumnya, Bu Menteri biasanya disekretarisi plus diajudani oleh TNI/Polri, ya?”

“Iya sih, tapi kali ini ada permintaan dari Ibu khusus Sekretaris beliau nggak mau dari TNI/Polri, makanya kita tawarkan yang existing aja dulu. Gimana, mau nggak?”

“Terus, kenapa aku? Kenapa nggak di-FGD-kan aja, atau diajukan aja dulu nama-nama Sekretaris di sini terus kasih ke Ibu, biar diseleksi sendiri sama Ibu…”

“Ibu menyerahkan seluruh mekanisme pemilihannya ke kita, Kak. Kenapa kamu yang kita pilih ya karena kita lihat kamu lebih menonjol di antara kandidat yang lain. Gimana?”

“mmmmh….” saya tertegun

“Nggak harus sekarang sih jawabnya. You may think it first. You may discuss it with your family. Pikir positif negatifnya. Tapi jangan lama-lama mikirnya ya, Kak. Hehehe. Biar kita bisa segera komunikasikan ke Ibu gitu…”

“Ok, aku diskusikan dulu sama keluarga ya, Kak 🙂 “

Jujur, bukan sebuah keputusan mudah untuk menolak/menerima tawaran itu. Di satu sisi mungkin baik untuk pengalaman kerja saya, di mana saya bisa secara langsung menangani pekerjaan yang levelnya lebih tinggi dan lebih sibuk dibandingkan dengan pekerjaan yang saya tangani sekarang. Di sisi lainnya, kalau saya jadi menerima pekerjaan itu, artinya waktu saya bersama keluarga — terlebih dengan Alea — akan sangat berkurang, karena bisa saja saya akan lebih banyak bekerja dan dinas untuk mendampingi Ibu.

Alea sedang lucu-lucunya. Saat tawaran itu diajukan, Alea berusia 5 bulan. Walaupun masih 5 bulan, dia sudah tahu waktu, terutama tidur malam. Kalau sudah waktunya, dia pasti rewel ‘minta’ dikeloni sambil minum ASI, sambil diusap-usap punggungnya. Kalau waktunya bobo tapi saya belum ada buat dia, ya dia akan rewel terus, kasian Mama saya kalau Alea belum bobo-bobo.

Pernah suatu hari saya dan suami terpaksa terlambat sampai di rumah karena di tengah jalan ternyata hujan deras sehingga kami harus berteduh menunggu hujan reda. Sesampainya di rumah, ternyata Alea masih melek. Matanya agak sembab, perpaduan antara ngantuk berat dan habis menangis (rewel) karena tidak bisa bobo. Dan memang, tak lama setelah saya bersih-bersih badan dan shalat, dia pun tidur pulas dalam pelukan saya.

Tuntutan menjadi seorang istri dan ibu terkadang bentrok dengan keinginan untuk mengembangkan karir yang sudah lebih dulu dijalani. Menikah dan memiliki keluarga memang merupakan cita-cita setiap perempuan. Tapi toh pada praktiknya peran seorang perempuan menjadi begitu kompleks ketika memasuki dunia perkawinan. Seorang perempuan dituntut menjadi seorang istri sekaligus ibu yang bertanggung jawab atas anak dan kelangsungan hidup berumah tangga, tapi di sisi lain, perempuan juga memiliki keinginan untuk memajukan karir yang sudah dijalani sejak dulu. Pffiuh, akhirnya saya mengalami juga fase ini ya; memilih antara fokus di karir atau keluarga.

Dari diskusi bersama keluarga, dan pertanyaan kepada diri sendiri yang akhirnya langsung terjawab secara tidak langsung lewat Alea itu, akhirnya dengan ikhlas saya putuskan, lebih baik saya menjalani pekerjaan saya yang sekarang. Pekerjaan yang load pekerjaannya tidak setinggi jika saya menjadi Sekretarisnya Bu Menteri. Pekerjaan yang kalau saya jalani, saya masih punya waktu untuk keluarga, dan utamanya bisa menjalin kedekatan bersama putri saya. Kehadiran Alea sudah saya tunggu selama 6 tahun, masa iya ketika dia sudah dihadirkan di tengah keluarga, saya malah lebih memilih fokus ke pekerjaan. Agak dilematis memang. Tapi ya inilah hidup. Kita pasti akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan. Itulah kenapa kadang kita butuh skala prioritas. Apabila prioritas saat ini adalah karir, mungkin ada beberapa kenyamanan yang harus dikorbankan, begitu pula sebaliknya.

Bukan bermaksud mengesampingkan karir, tapi kalau boleh flashback, alasan saya dulu memilih bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, salah satunya adalah agar saya punya waktu untuk keluarga.

Saya percaya, setiap manusia sudah punya kesempatan dan rezeki masing-masing. Kalau soal materi insyaallah masih bisa dicari, tapi soal waktu… tidak akan pernah bisa kembali. Pertumbuhan dan perkembangan Alea tidak akan menunggu sampai mamanya punya waktu buat dia. Dia akan tumbuh berkembang di setiap harinya. Dan saat ini saya tidak ingin kehilangan moment melihat tumbuh kembangnya dari hari ke hari.

There is no such thing as work-life balance. Everything worth fighting for unbalances your life.
— Alain de Botton —

ilustrasi saya pinjam dari sini

Continue Reading

Limitless Love

happy-mom-daughter

My mother was the most beautiful woman I ever saw. All I am I owe to my mother. I attribute my success in life to the moral, intellectual and physical education I received from her.
– George Washington –

Ibu adalah sosok yang rasanya tak akan pernah habis untuk diceritakan. Sosok istimewa yang sudah jatuh cinta kepada anak-anaknya bahkan sebelum mereka terlahir ke dunia. Jadi wajar kalau akhirnya Ibu menjadi sosok inspiratif bagi semua orang. Saya pun punya pemikiran yang sama; bagi saya Mama adalah sosok yang banyak memberikan saya inspirasi.

Sejak menikah, Mama memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Padahal dulu Mama juga bekerja dan punya kesempatan berkarir yang cukup bagus. Namun demi keluarga yang baru dibangunnya, Mama memilih untuk menjalani karir sebagi ibu rumah tangga yang jam kerjanya 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan itu sepanjang tahun.

Mama adalah pribadi dengan kombinasi yang unik. Sosok ibu yang cerewet, tegas, disiplin, keras kepala, dan absurd. Namun di luar itu semua Mama adalah sosok yang penyayang, berhati lembut, konsisten, dan luwes bergaul dengan siapa saja. Bukan itu saja, saking dekatnya beliau dengan kami bertiga, Mama sampai hafal satu per satu sahabat kami lengkap dengan cerita mereka. Si A rumahnya di mana, Si B pacaran sama siapa, Si C silsilah keluarganya bagaimana, Si D sekolah/kerja di mana, dan seterusnya.

Bukan hanya itu saja, kami (terutama adik saya yang bungsu) sering menjadikan rumah sebagai tempat nongkrong, Mama pun aktif mengajak ngobrol mereka. Bagi kami, Mama bukan hanya seorang ibu, tapi juga sahabat untuk anak-anaknya. Kami bisa cerita tentang apapun, karena Mama adalah pendengar yang baik untuk setiap cerita yang kami ceritakan. Mama adalah sosok yang istimewa. Seistimewa masakan-masakannya yang racikan, takaran, dan rasanya selalu pas!

Orang tua kami kebetulan adalah pasangan yang kompak dalam membesarkan kami. Mereka bukan hanya memberikan kami hal-hal yang manis saja, tapi juga ‘pahit-pahitnya’. Kalau soal dijewer, dimarahi, dihukum, itu sih biasa. Toh imbangannya kami juga sering mendapatkan hadiah dan kebahagiaan dalam bentuk lainnya. Semua diberikan dalam ‘dosis’ yang pas dan seimbang.

Lewat Mama, saya belajar prinsip-prinsip kehidupan; baik sebagai pribadi maupun sebagai individu dalam lingkup sosial. Ada salah satu nasihat yang paling saya ingat dari Mama, “ajining diri dumunung ana ing lathi, ajining raga ana ing busana”, artinya: manusia itu dihargai dari ucapan/kata-kata dan penampilannya, karena penampilan adalah salah satu cerminan kepribadian. Masih menurut Mama, seorang Ibu harus mampu mendidik anak-anaknya lewat perilaku. Anak akan dididik oleh ibunya bukan secara lisan semata, tapi juga pada perilaku dan kesehariannya.

Kini, saya adalah ibu dari bayi mungil bernama Alea yang berusia 6,5 bulan. Menjadi seorang ibu sama seperti diberi kesempatan untuk merasakan keajaiban dalam hidup. Mata saya jadi lebih terbuka. Ternyata menjadi seorang isteri yang sekaligus ibu bekerja ternyata bukan perkara mudah. Setelah cuti selama 2 bulan pasca melahirkan, saya kelimpungan mencari pengasuh bagi Alea.

Bukan hal mudah mencari pengasuh bayi di zaman sekarang, apalagi menyerahkan begitu saja pengasuhan bayi kepada seorang yang belum saya kenal sebelumnya. Hingga akhirnya Mama menawarkan diri untuk membantu menjaga dan mengasuh Alea selama saya bekerja. Tentu saja tawaran ini saya terima dengan suka cita karena dulu saya pernah ‘bercita-cita’ kelak suatu hari kalau saya sudah punya anak, saya ingin Mama saya yang menjaga anak saya 😀 .

Keputusan ini sedikit dilematis memang, karena dengan Mama sementara tinggal bersama saya di Jakarta, berarti akan meninggalkan Papa di Surabaya. Walaupun masih ada adik bungsu saya yang tinggal sekota dengan Papa tapi tetap saja muncul segumpal rasa berat. Tapi untunglah Papa sangat pengertian. Beliau ‘merelakan’ Mama menjaga Alea daripada Alea diasuh oleh orang yang belum tentu bisa menjaga Alea dengan benar. Tentu saja kami akan beberapa kali ke Surabaya untuk pulang ke Papa.

Sampai sebegitunya ya pengorbanan orang tua. Bukan hanya berhenti sampai ke anak, tapi sampai ke cucu. Their love and affection are limitless!

Buat saya Mama adalah guru pertama saya dalam hal pengasuhan anak. Seringkali saya menemukan insight tentang parenting dari beliau. Memang beliau bukan sosok ibu yang sempurna. Sebagai manusia, saat menjalani berbagai perannya, Mama tentu punya kelebihan dan kekurangan. Tapi yang jelas, ketika saya officially menjadi orang tua, orang pertama sekaligus tempat saya berguru tentang parenting ya Mama saya sendiri. Ya, kalau misalnya ada perbedaan cara mengasuh di sana sini ya wajarlah, namanya beda zaman, beda generasi, beda up date informasi. Jadi, adjustment itu pasti diperlukan. Tapi alhamdulillah sejauh ini masih discussable.

Ada satu nasihat sekaligus doa bagi kami, anak-anaknya, “semoga kelak ketika kalian sudah menjadi orang tua, kalian bisa mendidik anak-anak kalian menjadi anak-anak yang sesuai dengan zamannya, humanis, rasional, dan bahagia.”

Pamela Druckerman menulis dalam bukunya yang berjudul Bringing Up Bebe :

” to be a different kind of parent, you do not just need a different parenting philosophy. You need a very different view of what a child actually is. “

Btw, you did it, Ma! 🙂

 

___

sumber ilustrasi diambil dari sini

Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com

Continue Reading