Work-Life Balance

life balance

Pada sebuah sore di penghujung tahun 2014, di menjelang jam pulang kantor, Kasubbag saya terlihat sibuk mondar-mandir dari kubikelnya ke ruang Kabag, tak lama lalu ke ruang Deputi, dan lalu ke ruang Kepala Biro, sambil membawa selembar berkas. Saya sendiri masih sibuk berkutat dengan setumpuk berkas surat yang harus diinput dalam aplikasi persuratan elektronik.

Tak lama kemudian dia mampir ke kubikel saya sambil menjentik-jentikkan jarinya ke arah surat yang dia bawa. “Gua harus cari yang qualified, nih!”. Saya menoleh sebentar ke arahnya, “(Ada) apaan sih, Kak?”. Dia cuma manggut-manggut nggak jelas sambil membawa kembali, “Nggak apa-apa, nanti deh…”.

Sambil agak bengong saya kembali fokus dengan setumpuk berkas yang tadi. Kasubbag saya itu lalu kembali ke kubikelnya, mengetik sebentar dan tak lama kemudian terdengar printer yang sedang mencetak dokumen. Dan setelahnya, dia segera bergegas ke ruang Deputi lagi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.05 wib. Ruangan sudah mulai sepi karena memang sudah lewat jam pulang kantor pukul 16.00 wib. Tapi masih ada beberapa pegawai yang masih ada di ruangan karena lembur, termasuk saya. Kasubbag saya kembali mendatangi kubikel saya, menyeret kursi di sebelah saya, dan melontarkan pertanyaan ini:

“Kak, kamu mau nggak jadi Sekretarisnya Bu Menteri?”

“Hah? Bu Menteri siapa?”

Pikiran saya mendengar kata-kata ‘Bu Menteri’ kok langsung mengarahnya ke Menteri Susi Pudjiastuti ya; padahal perempuan yang menjabat sebagai menteri kan bukan cuma beliau ya. Tapi entahlah mungkin karena sosok Bu Susi terlalu kuat dan populer, sehingga kalau ada yang menyebut kata ‘Bu Menteri’, asosiasinya langsung ke beliau. Kembali lagi ke tawaran yang tadi, So, so, kalau jadi saya jadi Sekretarisnya Bu Menteri Kelautan dan Perikanan, berarti saya mau dimutasi ke sana, gitu? Pikir saya.

“Bu Menteri, Bu Menteri… Isterinya Pak Menteri… “, lanjut Kasubbag saya.

“Ooh, Bu Pratikno?”, jelas saya sambil menarik nafas lega.

“Iya, hehehe. Mau, nggak?”

“Aku? Lah, kenapa aku? Kok tiba-tiba aku? Mekanismenya gimana ini?”

“Iya, jadi gini… Ibu lagi butuh sekretaris untuk mendampingi beliau, karena nantinya beliau bakal sibuk banget. Bukan cuma sekadar menghadiri acaranya Bapak aja, tapi juga agenda bersama para ibu pejabat lainnya…”

“Trus?”

“Aku udah diskusi sama Pak Karo, plus menyeleksi sekretaris-sekretaris yang ada di kementerian kita, dan pilihan kita jatuh ke kamu. Kalau kamu setuju, kita akan ajukan nama kamu ke Ibu..”

“Lho, lho… sik, sebentar. Itu tugasnya ngapain aja?”

“Ya kamu akan melekat ke Ibu. Ke mana pun Ibu berkegiatan ya kamu akan ikut. Tapi prinsipnya sih lebih kurang semacam ajudannya Ibu gitu…”

“Lah, bukannya selama ini, kaya yang sebelum-sebelumnya, Bu Menteri biasanya disekretarisi plus diajudani oleh TNI/Polri, ya?”

“Iya sih, tapi kali ini ada permintaan dari Ibu khusus Sekretaris beliau nggak mau dari TNI/Polri, makanya kita tawarkan yang existing aja dulu. Gimana, mau nggak?”

“Terus, kenapa aku? Kenapa nggak di-FGD-kan aja, atau diajukan aja dulu nama-nama Sekretaris di sini terus kasih ke Ibu, biar diseleksi sendiri sama Ibu…”

“Ibu menyerahkan seluruh mekanisme pemilihannya ke kita, Kak. Kenapa kamu yang kita pilih ya karena kita lihat kamu lebih menonjol di antara kandidat yang lain. Gimana?”

“mmmmh….” saya tertegun

“Nggak harus sekarang sih jawabnya. You may think it first. You may discuss it with your family. Pikir positif negatifnya. Tapi jangan lama-lama mikirnya ya, Kak. Hehehe. Biar kita bisa segera komunikasikan ke Ibu gitu…”

“Ok, aku diskusikan dulu sama keluarga ya, Kak 🙂 “

Jujur, bukan sebuah keputusan mudah untuk menolak/menerima tawaran itu. Di satu sisi mungkin baik untuk pengalaman kerja saya, di mana saya bisa secara langsung menangani pekerjaan yang levelnya lebih tinggi dan lebih sibuk dibandingkan dengan pekerjaan yang saya tangani sekarang. Di sisi lainnya, kalau saya jadi menerima pekerjaan itu, artinya waktu saya bersama keluarga — terlebih dengan Alea — akan sangat berkurang, karena bisa saja saya akan lebih banyak bekerja dan dinas untuk mendampingi Ibu.

Alea sedang lucu-lucunya. Saat tawaran itu diajukan, Alea berusia 5 bulan. Walaupun masih 5 bulan, dia sudah tahu waktu, terutama tidur malam. Kalau sudah waktunya, dia pasti rewel ‘minta’ dikeloni sambil minum ASI, sambil diusap-usap punggungnya. Kalau waktunya bobo tapi saya belum ada buat dia, ya dia akan rewel terus, kasian Mama saya kalau Alea belum bobo-bobo.

Pernah suatu hari saya dan suami terpaksa terlambat sampai di rumah karena di tengah jalan ternyata hujan deras sehingga kami harus berteduh menunggu hujan reda. Sesampainya di rumah, ternyata Alea masih melek. Matanya agak sembab, perpaduan antara ngantuk berat dan habis menangis (rewel) karena tidak bisa bobo. Dan memang, tak lama setelah saya bersih-bersih badan dan shalat, dia pun tidur pulas dalam pelukan saya.

Tuntutan menjadi seorang istri dan ibu terkadang bentrok dengan keinginan untuk mengembangkan karir yang sudah lebih dulu dijalani. Menikah dan memiliki keluarga memang merupakan cita-cita setiap perempuan. Tapi toh pada praktiknya peran seorang perempuan menjadi begitu kompleks ketika memasuki dunia perkawinan. Seorang perempuan dituntut menjadi seorang istri sekaligus ibu yang bertanggung jawab atas anak dan kelangsungan hidup berumah tangga, tapi di sisi lain, perempuan juga memiliki keinginan untuk memajukan karir yang sudah dijalani sejak dulu. Pffiuh, akhirnya saya mengalami juga fase ini ya; memilih antara fokus di karir atau keluarga.

Dari diskusi bersama keluarga, dan pertanyaan kepada diri sendiri yang akhirnya langsung terjawab secara tidak langsung lewat Alea itu, akhirnya dengan ikhlas saya putuskan, lebih baik saya menjalani pekerjaan saya yang sekarang. Pekerjaan yang load pekerjaannya tidak setinggi jika saya menjadi Sekretarisnya Bu Menteri. Pekerjaan yang kalau saya jalani, saya masih punya waktu untuk keluarga, dan utamanya bisa menjalin kedekatan bersama putri saya. Kehadiran Alea sudah saya tunggu selama 6 tahun, masa iya ketika dia sudah dihadirkan di tengah keluarga, saya malah lebih memilih fokus ke pekerjaan. Agak dilematis memang. Tapi ya inilah hidup. Kita pasti akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan. Itulah kenapa kadang kita butuh skala prioritas. Apabila prioritas saat ini adalah karir, mungkin ada beberapa kenyamanan yang harus dikorbankan, begitu pula sebaliknya.

Bukan bermaksud mengesampingkan karir, tapi kalau boleh flashback, alasan saya dulu memilih bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, salah satunya adalah agar saya punya waktu untuk keluarga.

Saya percaya, setiap manusia sudah punya kesempatan dan rezeki masing-masing. Kalau soal materi insyaallah masih bisa dicari, tapi soal waktu… tidak akan pernah bisa kembali. Pertumbuhan dan perkembangan Alea tidak akan menunggu sampai mamanya punya waktu buat dia. Dia akan tumbuh berkembang di setiap harinya. Dan saat ini saya tidak ingin kehilangan moment melihat tumbuh kembangnya dari hari ke hari.

There is no such thing as work-life balance. Everything worth fighting for unbalances your life.
— Alain de Botton —

ilustrasi saya pinjam dari sini

Continue Reading

Pilih mana?

career-choices-2

Di sebuah pagi, saya mengetik pesan di smartphone sambil sesekali menyesap secangkir teh poci di kantin,

“Bro, lagi di mana, Bro?”

“Hahaha, aku lagi di kementerian anu, lagi nunggu giliran :D”

“Giliran? Maksudnya kamu lagi ada kerjaan di sana?”

“Nunggu giliran buat ikut test CPNS, sesiku masih nanti, jam 09.40. Hihihik… Doain yak!”

Saya yang awalnya ingin menanyakan hal yang lain, jadi surprise sendiri. Bukan
apa-apa, selama ini saya mengenal dia sebagai sosok yang paling anti sama hal yang berbau tes CPNS-CPNS-an, di setiap kalimat yang keluar dari bibirnya sama sekali tidak tergambar keinginan untuk menjadi seorang PNS. Pokoknya emoh ajalah. Nah, kalau tiba-tiba mendengar dia ikut test CPNS ya jelas heran. Ada angin apa kiranya sehingga dia tertarik untuk ikut tes CPNS?

Peserta ujian CPNS itu dari berbagai kalangan, kalau bukan fresh graduate, yang belum bekerja sama sekali, atau yang sudah bekerja. Motivasinya pun bermacam-macam, ada yang cuma iseng, ingin mencoba kemampuan/peruntungan, tapi banyak juga yang memang serius ingin cari kerja.

Seperti beberapa waktu yang lalu, saya dicurhati seorang teman via email. Dia mengaku sedang galau karena ‘terjebak’ dalam excitement akan diterima sebagai CPNS di salah satu kementerian (sudah sampai tahap interview user). Tapi uniknya di saat yang sama dia masih sangat nyaman dengan posisi dan lingkungan tempat dia bekerja sekarang. Bermula dari iseng dan sekadar ingin mengukur kemampuan diri sendiri secara rutin dia mengikuti tes CPNS selama 3 tahun berturut-turut. Hingga akhirnya tahun ini dia dinyatakan lolos seleksi Tes Kemampuan Dasar dan berhak ikut tahap selanjutnya. Melihat pengumuman itu mendadak dia galau sendiri; galau membayangkan bagaimana kalau setelah dijalani ternyata menyandang status sebagai PNS itu tidak sesuai dengan harapan dan jiwanya. Bagaimana kalau ternyata menjadi PNS itu pekerjaannya jauh lebih membosankan dibandingkan dengan pekerjaannya sekarang; dan banyak lagi ‘bagaimana-bagaimana’ lainnya. Ya wajar sih, karena di dalam mindset-nya PNS masih identik dengan birokrasi yang ribet, mengurus apa-apa sulit, belum lagi dari segi materi dan budaya kerja yang menurut dia masih kalah jauh dari swasta.

Kita sederhanakan saja, sebenarnya semua pekerjaan itu pasti ada sisi positif dan negatifnya; tergantung dari sisi mana kita melihat, kan? Begitu juga dari segi tantangan kerja dan pendapatannya. Kalau orang Jawa bilang, “urip kuwi sawang sinawang”, cuma melihat kulit luarnya saja…
*benerin blangkon*

Tapi ada kalanya kita butuh move on ketika pekerjaan yang sekarang dirasakan kurang memberikan kenyamanan, atau kita butuh pengalaman yang jauh lebih menarik/menantang, atau kita butuh pengembangan karir yang lebih signifikan. Ya kenapa tidak? Mungkin ini saatnya kita mengajukan pengunduran diri. Banyak kok yang sudah enak kerja di swasta, malah resign dan jadi PNS atau berwiraswasta. Pun sebaliknya, ada yang awalnya jadi PNS lalu resign dan melamar kerja di perusahaan swasta/BUMN karena katanya lebih sesuai dengan jiwanya.

Pekerjaan itu seperti jodoh; cocok-cocokan. Awal mula saya menjadi PNS juga sempat stress sendiri karena harus merasakan perubahan yang sangat drastis; baik secara lingkungan, sistem kerja, gaji, budaya kerja, dan lain-lain. Soal pindah tempat kerja memang bukan hal baru buat saya, tapi karena kebetulan bidang pekerjaan yang saya isi sebelumnya masih saling berkorelasi jadi penyesuaiannya tidak terlalu sulit.

Soal cocok-cocokan tadi, kalau memang setelah dijalani ternyata pekerjaan itu dirasa kurang nyaman, kurang ada tantangannya, atau karirnya dirasa kurang berkembang, ya sudah, tinggal mengajukan surat pengunduran diri saja. Atau, kalau ternyata yang di dalam mindset kita kisarannya masih di besaran gaji, ya mungkin inilah saat yang tepat untuk berkarir di sektor swasta karena jelas lebih menjanjikan pendapatan yang lebih besar daripada menjadi PNS. Seperti yang pernah saya tulis di sini 😉

Jadi, gimana? Masih galau? 😀

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Jangan jadi PNS!

Beberapa hari yang lalu saya menerima pesan dari teman di twitter, minta waktu buat ngobrol katanya. Ya, berhubung saya lagi santai ya saya layani. Obrolan via BBM itu pun berlangsung “gayeng”, santai & akrab. Maklum dia memang salah satu teman lama tapi terbilang jarang ngobrol sama saya.

Intinya dia mengajak diskusi tentang pekerjaan. Kebetulan dia seorang karyawan swasta yang bekerja di salah satu perusahaan asing terkemuka di Jakarta. Pertanyaan pertama telak, masalah gaji. Kalau ditanya masalah pendapatan besar atau kecil pasti jawabannya adalah relatif. Saya tidak bilang gaji saya besar atau kecil, tapi alhamdulillah cukup (setidaknya buat saya). Karena berapa pun pendapatan kita kalau pengeluaran & kebutuhan hidup kita juga membutuhkan biaya yang besar ya pasti akan merasa kurang. Itulah kenapa saya jawab : alhamdulillah, cukup.

Dia seorang pria, single, dan akan menikah. Sekarang ini sedang mempertimbangkan untuk pindah kerja dengan syarat gajinya paling tidak sama besar dengan tempat kerjanya sekarang, pekerjaannya tidak terlalu hectic, dan waktu luangnya banyak. Waduh, sempat puyeng juga saya ketika dimintai pendapat. Kalau tempat kerja yang seperti itu adanya dimana ya? :-?. Ya, jadi bos saja, buka usaha sendiri, wiraswasta gitu :).

Dia juga sempat heran kenapa saya pindah dari tempat kerja saya yang lama dan memilih berkarir memilih berkarir sebagai PNS. Apakah gaji sebagai PNS lebih besar dari tempat kerja saya yang sebelumnya? Karena dia justru sedang ingin pindah ke perusahaan tempat kerja saya yang lama. Tapi dia jadi mikir lagi ketika tahu saya pindah, jangan-jangan karena beban kerjanya terlalu tinggi, gajinya sedikit, atau ada sebab lainnya apa. Aduh, asli saya jadi mikirnya kok dia naif banget ya. Karena yang namanya kerja dimana-mana itu ya pasti ribet. Soal gaji besar/kecil itu sifatnya relatif, ada tunjangan apa saja buat karyawannya ya itu tergantung kebijakan yang punya perusahaan. Kalau soal waktu ya itu pinter-pinternya kita menyiasatinya saja, ya kan?

Saya jadi PNS itu sebenarnya tidak sengaja, seperti cerita saya disini. Kalau saja saya tidak ikut seleksi CPNS ya mungkin sampai sekarang saya masih di kantor yang lama, berkutat dengan quality assurance, hectic bikin laporan,  menangani komplain ketidaksesuaian penilaian, melakukan assuring hasil kerja anak buah saya, ribet melakukan coaching dan konseling ke anak buah.

Sekarang gini, ini sekedar sharing ya. Tujuan bekerja memang salah satunya adalah mencari gaji/pendapatan. Gaji besar dengan iming-iming status jabatan tertentu dan tunjangan ini itu pasti  jadi magnet terbesar para pencari kerja. Iya dong, buat apa kerja kalau tidak ada hasilnya, kan? Tapi apa iya lantas semua dipukul rata bekerja cuma dilihat dari besaran gaji yang diterima saja? Bagaimana kalau gaji besar tapi kompensasinya harus dibayar dengan berkurangnya waktu untuk diri sendiri dan keluarga, beban kerja yang tinggi, ditambah dengan fisik yang kelelahan. Kalau ada yang berpendapat, “kalau memang konsekuensi tugas dan tanggung jawab pekerjaan ya harus dijalani dong..”. Ok, mungkin ada yang rela hidup seperti itu, tapi ketika sudah berkeluarga nanti pasti ada orientasi-orientasi yang akan berubah, bukan lagi cuma materi yang dikejar, tapi pasti akan mempertimbangkan quality time bersama keluarga.

Dia lalu tanya lagi apakah THP (take home pay) saya masuk 2 digit? Saya lagi-lagi cuma bisa tertawa :)). Ya buat saya itu lucu. Bayangkan ya, untuk CPNS macam saya kok sudah punya gaji dua digit? Ini niat nanya apa ngasih tebakan? :-?. Masuk akal nggak sih kalau belum apa-apa gaji saya sudah menyamai gajinya deputi? Semua pasti ada aturan dan standarnya dong, Mas.. 🙂

Teman : tapi standar gaji staf di tempat kerja lama kamu dua digit lho, Dev..

Saya : bentar, aku tanya sama kamu. Tempat kerjaku yang lama itu swasta apa negeri?

Teman : ya 50-50, kan yang 50% dikuasai oleh Singtel

Saya : status pegawainya swasta atau PNS?

Teman : errr.. swasta

Saya : lha ya sudah, kenapa kok kamu membandingkan standar gaji swasta sama negeri? Ya jelas beda dong. Kalau mau membandingkan ya apple to apple. Jangan apple to durian. Bonyoklah ;))

Teman : tapi kelebihan pekerjaanmu yang sekarang nggak ada PHK mendadak ya, Dev. Beda sama kalau jadi pegawai swasta, isinya ketar-ketir melulu..

Saya : ya semua pekerjaan itu pasti ada segi positif dan negatifnya. Semua pasti punya resiko, tinggal gimana kita menjalaninya aja sih..

Teman : ya udah, aku nitip info kalau-kalau ada informasi kerjaan yang sesuai sama spesifikasiku ya..

Saya  : mmh, yang waktunya lebih luang, kerjaan nggak terlalu overload, dan yang penting gajinya sama dengan tempat kerjamu sekarang ya? ;))

Teman : hihihi, iya.. Kalau pakai ijazah S2 gimana? bisa?

Saya : apanya? dapet gaji 2 digit?

Teman : iyaa.. :))

Saya : bentar deh, tuntutan-tuntutan itu tadi untuk standar cari kerjaan di swasta apa PNS sih? 🙁

Teman : ya aku maunya di departemen atau BUMN gitulah..

Saya : jadi, pengen jadi PNS?

Teman : ya aku maunya sih kaya begitu.. Tapi kan aku nggak tau rejekiku dimana.. Ya, nitip ajalah, kalau ada info-info yang sesuai dengan kualifikasiku ya..

Saya : woogh, nyarinya dimana ya PNS yang kaya begitu.. #-o

Jadi saran saya ya, selama orientasinya masih berkutat di besaran gaji, mending jangan jadi PNS deh, apalagi yang baru jadi CPNS minta gajinya langsung dua digit ;)). Karena semua orang juga tahu gaji PNS masih kalah jauh dengan gaji pegawai swasta lho ;). Kalau mengumpulkan materi mending kerja di swasta dulu, bisa sembari menabung kan? Nah nanti kalau sudah bosan dan ingin punya lebih banyak waktu dengan keluarga sambil nyambi buka usaha dirumah boleh deh jadi PNS (eh, keburu tua nggak sih?) ;)).

Semua pekerjaan pasti ada plus minusnya, tidak mungkin ada pekerjaan yang semuanya sesuai dengan keinginan kita. Apalagi kena kata-kata “urip iku sawang sinawang”, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Melihat si A kerja disitu kok kayanya enak, ikutlah kita kerja satu perusahaan dengan si A. Tapi ketika sudah dijalani baru merasa ternyata kerjaan si A tidak seindah yang kita bayangkan, sama hectic-nya dengan pekerjaan kita yang sebelumnya :-o.

Rezeki itu sudah ada yang mengatur, pun halnya dengan pilihan karir. Soal mau berkarir sebagai pegawai swasta atau pegawai negeri tinggal memilih mana yang paling sesuai dengan hati nurani kita, mana yang lebih sreg untuk dijalani. Memilih pekerjaan itu sama seperti memilih jodoh, semuanya kembali ke masalah hati 🙂

Oh ya, tadi pagi saya menemukan link bagus untuk sekedar dibuat baca-baca tentang How to find a job you will love . Semoga bermanfaat ya :-bd

ilustrasi dari sini

Continue Reading

I love my job..

Tulisan ini terinspirasi dari curhatan seorang sahabat.. 🙂

Semua orang pasti punya pekerjaan & karir masing-masing. Mau di swasta atau jadi PNS seperti saya. Pekerjaannya pun pasti juga beragam jenisnya, pun tingkat kesulitannya. Namun tak jarang ditengah-tengah pekerjaan yang kita lakukan secara rutin ada kalanya muncul kejenuhan. Jenuh dengan lingkungan & suasana kerjanya, jenuh dengan jenis pekerjaannya, pun penyebab jenuh lainnya.

Tergelitik dengan pernyataan seorang teman, “aku tuh lama-lama bosan dengan pekerjaanku. Tapi kalau aku nggak kerja aku akan jauh lebih bosan..”, keluhnya di suatu sore. Saya paham dengan apa yang dia rasakan. Kebosanannya disebabkan dengan pekerjaan yang nyaris monoton & kurang ada variasi. Lah dipikir saya juga banyak variasinya? Enggak juga. Pekerjaan saya juga sama monotonnya. Mengerjakan jenis pekerjaan yang sama hampir setiap hari. Apa lama-lama nggak bosan? Tapi ya itu pinter-pinternya kita mengelola kejenuhan & kesibukan yang “itu-itu melulu”.

Untungnya saya selama bekerja bukan tipe “kutu loncat”, yang sering pindah kerja sana-sini. Karir saya kebanyakan bertahan lama, lebih dari 2 tahun. Saya dulu sempat bekerja sebagai seorang fashion designer di sebuah perusahaan garment di Malang. Itu saya jalani hampir 3 tahun lamanya. Bosan? Pernah. Jenuh? Saya nggak bilang enggak. BT karena bos sering marah-marah? Hmm, pasti. Jenuh banget sehingga tidak ada satu ide mode apapun yang dilahirkan hari itu juga pernah ~X( . Intinya ketidaknyamanan ketika bekerja itu pasti ada.

Atau ketika saya bekerja di perusahaan telekomunikasi yang itu, yang namanya jenuh, stress, capek, makan ati, itu juga pasti ada. Tapi ya namanya bekerja di bidang public service ya pasti begitu. Dimarahi pelanggan sudah makanan sehari-hari. Kalau nggak ada yang marah-marah justru malah aneh. Lho?! ;)). Atau ketika saya pindah ke back office & saya memegang pekerjaan yang menuntut jiwa leadership dengan sekian anak buah. Yang namanya stress & under pressure itu pasti ada. Deadline di setiap akhir bulan, yang kalau laporannya nggak selesai efeknya anak buah kita gajiannya juga bakal terlambat. Nah, itu kan juga bentuk tanggung jawab yang besar. Stress? Pasti ada.. :((

Ada satu hal yang membuat saya awet berkarir dalam sebuah pekerjaan, bagaimana caranya supaya saya enjoy dengan pekerjaan saya, lingkungan saya, teman-teman saya. Nggak mungkin sebagai orang baru saya menuntut lingkungan yang harus berubah untuk saya, tapi justru sayalah yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru saya. Beruntung saya orangnya mudah menyesuaikan diri sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama saya sudha bisa membaur dengan orang-orangnya & pekerjaan baru saya.

Ada hal unik yang saya rasakan ketika berpindah dari karyawan swasta menjadi pegawai negeri. Ada banyak hal signifikan yang saya rasakan juah berbeda dengan pekerjaan saya sebelumnya. Mulai lingkungannya, jenis pekerjaannya, kultur & budaya kerjanya, orang-orangnya, aplikasi & alur kerjanya.. Ah, banyaklah pokoknya. Sempat mengalami  “culture shock”? Pernah, tapi ya itu tadi, alhamdulillah nggak sampai terlalu lama. Apakah lantas saya merasa bosan setelah sekian bulan saya berkarir di sini? Ada banyak hal yang membuat saya belajar. Ada banyak hal menarik yang bisa membuat diri saya berkembang. Salah satunya adalah ketika saya diajak bergabung dalam tim keprotokolan di biro kepegawaian. Yang tugasnya mempersiapkan acara pelantikan pejabat di lingkungan Sekretariat Negara. Ada banyak hal yang bisa saya pelajari disana ketika bertugas sebagai pembawa acara (MC) atau pembaca Surat Keputusan Presiden/Menteri.

Tapi terlepas dari itu, dari semua karir yang pernah saya jalani ada beberapa hal yang saya ingat :
1. tidak ada satu pun ilmu yang telah kita pelajari di bidang pekerjaan sebelumnya yang akan terbuang percuma, pasti ada yang akan terpakai;

2. ketika kita menjadi orang baru, cepatlah beradaptasi, jangan menuntut lingkungan yang harus beradaptasi dengan kita;

3. terapkan can do attitude, ketika mendapat tugas baru jangan langsung bilang “nggak bisa!”, karena ketika kita bilang “nggak bisa” itu akan menjadi pemicu ketidakbisaan-ketidakbisaan berikutnya, yang penting berusaha dulu;

4. semua ilmu yang kita dapatkan di dalam dunia kerja adalah ilmu yang bisa dipelajari, asalkan kita tekun pasti bisa;

5. jika ada banyak hal yang perlu diingat berkenaan dengan prosedur kerja, jangan segan untuk mencatat, karena yang namanya memory otak pasti ada kapasitasnya;

6. ketika kita merasa kurang nyaman atau mengalami kendala dengan pekerjaan & tidak bisa kita selesaikan sendiri, diskusikanlah dengan atasan, walau bagaimana pun mereka atasan kita & perlu tahu apa yang dialami bawahannya;

7. pimpinan akan melakukan review & menilai hasil kerja kita, just give & do your best.. :-bd

8. kalau memang kita jenuh atau bosan ambillah cuti, refreshing-lah, semoga ada kesegaran baru nantinya ketika selesai cuti;

9. jika memang ternyata ada karir yang jauh lebih baik di luar sana atau ada bisnis wiraswasta yang jauh lebih menjanjikan ya kenapa tidak? Ambiiill.. \m/

10. ketika belum ada pekerjaan baru yang lebih baik, jalanilah pekerjaan yang sekarang dengan sebaik-baiknya & jangan lupa bersyukur karena kita masih diberikan kesempatan memiliki pekerjaan padahal di luar sana ada banyak sekali orang yang kesulitan mencari pekerjaan.. 😉

gambar dari sini

Continue Reading

Urip Iku Sawang Sinawang (II)

Tadi pagi saya chat dengan salah satu mantan teman sekantor pas jaman di Telkomsel dulu. Dia sekarang sedang menempuh pendidikan S2-nya di UGM Yogyakarta. Perbincangan ringan ala ibu-ibu (tsaahh…) dan teman lama yang sekian lama nggak ketemu 😀 . Share tentang keadaan terbaru masing-masing, cerita tentang keluarga, pendidikan, pekerjaan, dll.

Obrolan ringan sih, tapi justru dari situlah saya jadi ingat sama tulisan saya sendiri tahun lalu, yang juga sempat di-publish di buku Berbagi Cerita Berbagi Cinta , yang judul artikelnya Urip Iku Sawang Sinawang. Ya memang begitu ternyata. Duh saya sampai senyum-senyum sendiri. Bukan apa-apa, berasa kena sama tulisan sendiri aja ;)) . Dulu saya memposisikan diri sebagai orang lain yang curhatnya saya tulis disitu. Sekarang saya harus menelan mentah-mentah tulisan saya karena sekarang.. sayalah objeknya :)) .

Ada perbincangan yang kena banget ke saya, begini  :

Teman  : “aku tuh baru tahu lho mbak, sebenarnya kalau obsesi terbesar suamiku adalah menjadi PNS”
Saya  : “hah, seriuss? kok.. bisa? :O “
Teman  : “iya, pas aku cerita kalo mbak ketrima jadi PNS, dia tuh pengen banget. Dulu sih dia pernah nyoba, sekali doang, tapi gagal. Ya sudah daripada hancur harga martabak, akhirnya milih kerja di luar negeri aja sekalian, hehehe.. “
Saya  :  “eh, mosok sih kerjaanku ini diobsesiin sama suamimu? Padahal aku dulu ngira kalian sudah enak kehidupannya. Suami kerja di luar negeri, minyak pula. Kamu dengan kehidupan S2-mu. Mikir, what a perfect life you both gitu..”
Teman  : “apanya yang perfect sih mbak? Hidup terpisah dengan suami, akunya dimana, dianya dimana. Tapi jujur suamiku kalau disuruh milih,  pengen berkarir jadi PNS kaya mbak yang kerjanya nggak sengoyo sekarang, punya banyak lebih banyak waktu buat keluarga. Ah, mbak tuh yang ekarang udah settle, tinggal melangkah-melangkah doang.. Suami istri kerja, salah satunya PNS.. Ah, sempurnalah..”
Saya  : *masih bengong :O*  “ya sudah coba aja tar tahun ini pasti kan ada penerimaan CPNS lagi. Nah kamu ikut aja jeng..”
Teman  : “ya sih kayanya gitu. Tapi bingung mau kerja atau ikut suamiku ke Dubai ya?”
Saya  : “ya, apapun untuk saat ini yang menurut kalian bagus sih nggak masalah. asal nanti pas balik ke Indonesia usia kalian salah satu masih cukup daftar CPNS ya monggo..”

Ah, jujur saya terpana lho dengan percakapan simple itu. Bukan apa-apa, saya dulu sempat menganggap mereka memang nggak pernah sekalipun bermimpi jadi PNS seperti saya. Wong salah satunya sudah kerja di oil company,  yang notabene semua orang juga tahu prospeknya seperti apa tho? Ya saya shock dong ketika dikasih tahu kalau obsesi terbesar suaminya adalah justru menjadi PNS seperti saya.

Sekarang saya yang bingung nih. Saya mesti bangga, kagum, heran atau gimana ya? ;)) . Saya yang sudah terlanjur “silau” sama kehidupan mereka, lha kok malah mereka “ngiri” sama kehidupan saya yang alakadarnya begini? 😀

Manusia itu memang susah ditebak ya. Ada saja ketidakpuasannya. Yang rambutnya lurus pengen punya rambut ikal/keriting, begitu juga sebaliknya. Yang kulitnya putih pengen kecoklatan, begitu juga sebaliknya, yang kerja di oil company pengen jadi PNS, yang PNS pengen kerja di oil company. Yang jelek pengen cakep, yang sudah cakep pengen lebih cakep lagi (nggak mungkin pengen jadi jelek kan? ;)) ).

Ah, kalau menuruti nafsu, dunia ini isinya cuma orang-orang yang hidup dalam tolok ukur kesempurnaan orang lain. Jadi, daripada kitanya yang capek  kenapa kita nggak mulai mensyukuri apapun yang sudah diberikan Allah sama kita ya? Karena hanya Dialah yang mengetahui pantas tidaknya kita memiliki apa yang juga dimiliki/tidak dimiliki oleh orang lain.
Only God knows.. 🙂

Continue Reading