Cerita Di Balik “Wajah Bunda Islami 2016”

Pemilihan Wajah Bunda Islami 2016

Jadi ceritanya hampir sebulan ini kegiatan saya full, baik itu weekdays maupun weekend. Kalau weekdays. Kalau weekdays ya pastinya kerja sambil ngurus bocah, pokoknya full buat kerjaan dan keluarga. Sementara weekend saya disibukkan dengan event bernama Pemilihan Wajah Bunda Islami 2016. Hah? Kegiatan apa itu?

Iya, saya memang lagi iseng banget ikut kontes pemilihan wajah sesuatu. Padahal sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikiran saya kelak suatu hari saya akan ikut kontes beginian. Bercita-cita pun tidak pernah dan tidak berani, hahaha. Bukan apa-apa, dalam bayangan saya kalau pemilihan puteri/wajah ini itu, pasti banyak diikuti oleh peserta yang secara fisik memenuhi syarat, terutama wajah dan tinggi badan. Itulah kenapa saya kurang berminat mengikuti acara kontes sejenis ya karena modal saya pas-pasan :D.

Tapi entah kesambet apaan, gara-gara ada teman yang menginfokan acara ini via obrolan di whatsapp, saya yang sempat berpikir berkali-kali itu pun akhirnya luluh, ikut daftar juga, karena kebetulan syaratnya lumayan mudah; seorang ibu, punya anak, dan menggunakan hijab. Sudah, itu saja. Berhubung syaratnya cuma ‘begitu’ ya saya berani daftar. Coba kalau syaratnya kaya pemilihan Puteri Indonesia atau kontes sejenis, dari sejak tahap pengiriman biodata saja mungkin saya sudah tersingkir duluan, saking tidak memenuhi syaratnya, hahaha…

Akhirnya, terceburlah saya dalam kegiatan seleksi pemilihan Wajah Bunda Islami 2016. Peserta yang mengikuti acara ini total 97 peserta, dan semuanya ibu-ibu. Ya iyalah, kan sudah dibilang dari awal syaratnya harus ibu-ibu. Hih! *ditabok massal*. Sejak awal acara ini diselenggarakan di South Quarter Dome, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Semacam proyek mixed-use development yang terdiri dari tower perkantoran, apartemen, dan fasilitas ritel saling terintegrasi. Tempatnya lumayan cozy, cuman memang karena acara kita di weekend jadi ya sepi banget, karena tenant yang mengisi SQ Dome belum banyak, kebanyakan sih restoran.

Seleksi awal dilakukan di hari Minggu, tanggal 5 Juni 2016. Semua peserta yang telah mendaftar wajib hadir untuk menjalani sesi foto dan interview bersama dewan juri. Di sesi ini akan menyeleksi peserta menjadi 50 besar. Sempat minder juga melihat kebisaan para peserta lainnya yang kebanyakan sudah memakai hijab lebih lama daripada saya, lebih memiliki wawasan keislaman, bahkan bakatnya pun luar biasa buat saya. Jadi grogi sendiri ketika ‘ditantang’ untuk unjuk bakat, saya awalnya pede saja mengisi dongeng, tapi ketika melihat list pengisi acara lainnya, ada yang ceramah agama, tausiyah, menyanyi dalam bahasa Arab, saritilawah. Duh, sumpah… minder. Bahkan dongeng saya pun fabel, tidak ada unsur islaminya, ya bisa sih di akhir cerita saya hubungkan dengan nilai-nilai keislaman, tapi tetap saja keder duluan. Oh ya, videonya mendongengnya bisa dilihat di instagram saya ya, hihihik

Tapi bismillah saja, toh saya sudah lama tidak mengikuti ajang perlombaan apapun. Event besar terakhir yang saya ikut sudah 5 tahun yang lalu, yaitu Lomba Desain Seragam Pramugari Citilink, dan itu lumayan menguras energi saya karena kegiatannya yang lumayan padat. Alhamdulillah, walaupun tidak sampai Juara 1, tapi setidaknya masuk 2 besar sudah merupakan prestasi luar biasa buat saya, mengingat saya tidak pernah mengenyam pendidikan fashion design secara formal seperti halnya 4 finalis lainnya.

Di sesi seleksi 50 besar ini ternyata saya dinyatakan masuk bersama ke-49 peserta lainnya, yang selanjutnya akan mengikuti seleksi berikutnya yaitu interview bersama dewan juri. Antara senang dan deg-degan karena mikir, bakal ditanya seputar apa, ya? Walaupun ada bocoran juga dari panitia bahwa nantinya ke-50 peserta akan diminta untuk mengaji, diinterview seputar wawasan keislaman, dan ada interview seputar keluarga dan parenting bersama psikolog.

sesi belajar bersama ibu-ibu kece, sebelum sesi interview
sesi belajar bersama ibu-ibu kece, sebelum sesi interview

Di minggu berikutnya, yaitu Sabtu, 11 Juni 2016, adalah hari yang penuh tantangan buat saya. Bukan cuma tantangan karena akan interview, tapi juga tantangan tersendiri karena saya bawa Alea ke tempat lomba tanpa suami. Ya walaupun ada adik saya yang ikut menemani saya dan Alea, tetap saja di saat-saat tertentu akan ada saat di mana Alea hanya mau sama saya, nggak mau sama lainnya. Dan benar saja, tepat setelah sesi membaca Al-Qur’an, sambil menunggu sesi interview tentang wawasan keislaman dan interview bersama psikolog, Alea mulai rewel. Maklum, dia sudah capek dan ngantuk berat, sementara tidak ada tempat yang nyaman buat dia istirahat. Adik saya pun juga sebenarnya saya lihat sudah lelah karena sudah mengasuh Alea sejak pukul 9 pagi. Akhirnya tepat ketika sesi saya interview, saya pun masuk sambil menggendong dan menyusui Alea. Mungkin cuma saya saja peserta yang masuk ke ruang interview sambil menggendong bocah yang sedang lelap-lelapnya.

Ndilalah hari itu bertepatan dengan hari pertama saya period. Jadi, hormon saya memainkan emosi secara luar biasa. Stress iya, mewek iya. Terutama ketika sesi interview bersama psikolog, belum ditanya apa-apa saya sudah ambil tissue, hahaha. Walaupun akhirnya tissue itu pun berguna untuk menyeka air mata yang tiba-tiba saja sudah menggenang di pelupuk mata. “Gapapa, Bunda. Di meja saya ini memang sesi curhat, banyak yang nangis kok tadi…”, sampai psikolognya bilang gitu, coba. Ya bayangkan ya, kita ditanya tentang anak, tentang harapan kita kepada anak, pas kitanya sambil menggendong anak, ya baper abislah. Ndilalah lagi di akhir sesi interview Aleanya pas bangun, sambil mengucek mata, dia melihat sekeliling, dan psikolog yang mewawancarai saya bilang ke Alea, “Eh, anak cantik udah bangun. Mau bobo lagi? Ya udah bobo lagi boleh, kok. Selamat ya sayang, kamu punya bunda yang hebat…”. Nah, itu bikin saya baper lagi. Ah, saya belum sehebat yang bunda psikolog maksud kok. Saya seorang ibu newbie yang perlu banyak belajar.

Singkat cerita, sesi interview sore itu ditutup dengan sesi interview tentang wawasan keislaman. Sebenarnya sih interviewnya santai, seperti ngobrol, kebetulan di sesi saya ada Risty Tagor dan Betty Librianty yang menginterview seputar pengetahuan saya tentang Islam dan apa yang akan saya lakukan kalau saya terpilih sebagai salah satu pemenang Wajah Bunda Islami. Agak keder juga ketika pertanyaannya tentang Khulafaur Rasyidin, tentang sejarah Islam, dan kenabian. Tahu sih, bisa jawab juga, cuma agak kurang yakin dengan jawaban saya sendiri, mengingat itu kan pelajaran zaman masih sekolah dulu, huhuhuhu… Pokoknya pulang-pulang, pasrah sajalah. Kalau masuk 25 besar alhamdulillah, tidak pun tak apa-apa, karena saya sadar dengan kemampuan diri saya yang jauh dari kata sempurna.

Tapi ternyata panitia berkata lain, saya dinyatakan masuk sebagai 25 besar, dan harus hadir di hari berikutnya, Minggu 12 Juni 2016 di tempat yang sama untuk mengikuti parade 25 besar dan fashion show. Kali ini saya datang sendiri, Alea saya tinggal di rumah supaya dia bisa istirahat cukup dan makan teratur. Karena lokasinya yang lumayan dekat, saya pun pulang pergi naik ojek online, ganti kostumnya di lokasi saja.

IMG_20160612_140235

Sampai akhirnya panitia mengumumkan bahwa seleksi 25 besar menjadi 10 besar yang nantinya akan langsung diumumkan siapa saja pemenangnya, akan diadakan di hari Minggu, 19 Juni 2016, dan harus siap dengan hafalan surat-surat pendek. Aduh, beneran saya stress. Ada banyak hal yang ada di kepala saya. Belum hafalan surat-surat pendek, belum mikir saya ada dinas ke Istana Kepresidenan Cipanas tanggal 16-18 Juni 2016, belum persiapan acara buka bersama Mensesneg, Seskab, dan Kepala Kantor Staf Presiden yang jatuh di hari Jumat, 17 Juni 2016, belum lagi saya mikir nanti kalau saya dinas Alea gimana. Sebenarnya bisa saja sih ‘mengimpor’ Mama saya dari Surabaya ke Jakarta, tapi ndilalah Mama lagi sibuk-sibuknya mengerjakan orderan kue lebaran, baru mulai pula, jadi tidak bisa diganggu. Duh! 🙁

Tapi ternyata Allah itu baik banget, di saat urgent begitu, panitia Wajah Bunda Islami mengumumkan apa saja surat yang harus dihafalkan (jadi kita tidak perlu random menghafal seluruh surat pendek, tapi cukup yang ada di list panitia saja), dan acara diundur ke hari Sabtu, 25 Juni 2016. Bukan itu saja, saya tetap dijadwalkan dinas tapi diagendakan mengurus bukber saja, sehingga saya tetap bisa menjaga Alea, dan tetap bisa mengurus bukber di kantor. Alhamdulillah…

bersama salah seorang finalis Wajah Bunda Islami 2016
bersama salah seorang finalis Wajah Bunda Islami 2016

MYXJ_20160625111023_save

Tibalah saat yang paling menentukan. Sejak pukul 10 pagi, ke-25 finalis Wajah Bunda Islami sudah hadir di venue untuk mengikuti gladi bersih, sekaligus pengambilan foto dan video, untuk selanjutnya dari foto dan video itulah yang akan menentukan siapa saja yang berhak lolos ke 10 besar. Di sini saya sudah pasrah. Saya sudah sampai ke tahap ini saja sudah bersyukur, sekali lagi sesi koreksi diri saya sedang berkerja. Beberapa kali bertemu dengan teman-teman sesama peserta, saya menemukan sosok-sosok luar biasa. Jadi, kalau salah satu di antara mereka kelak menjadi salah satu pemenang saya akan sangat legowo. Oh ya, kebetulan ketika grand final ini kondisi badan saya sedang drop. Flu berat, radang tenggorokan, dan saking demamnya mata saya sampai memerah. Cuma berdoa semoga kuat sampai selesai acara.

Dan, perjuangan saya memang cuma sampai di tahap 25 besar. Tidak ada masalah sama sekali, karena saya yakin dan percaya bahwa 10 peserta yang berdiri di atas panggung dan sedang menjalani sesi membaca surat-surat pendek dan sesi interview bersama juri itu adalah pribadi-pribadi pilihan yang mumpuni bukan hanya di bidang parenting tapi juga tentang wawasan keislaman. Bayangkan, yang bagus ngajinya saja masih banyak koreksi dari dewan juri, lah gimana saya yang kemampuan mengajinya pas-pasan, hiks…

Singkat cerita, saya akhirnya pulang duluan naik ojek karena mengingat kondisi badan yang semakin kurang memungkinkan. Mungkin Allah minta saya untuk mengistirahatkan badan dan pikiran setelah hampir sebulan penuh beraktivitas yang menguras tenaga dan pikiran tanpa jeda.

para pemenang Wajah Bunda Islami 2016
para pemenang Wajah Bunda Islami 2016

Selamat bagi para pemenang (Bunda Avie Azzahra, Bunda Wardah Husaeni, dan Bunda Lina Rayen), kalian layak menyandang predikat juara Wajah Bunda Islami karena kalian bukan hanya sosok seorang bunda semata, tapi juga juga sosok perempuan tangguh yang mumpuni dan berilmu pengetahuan. You rock, guys!

So, inilah keisengan Ramadan saya tahun ini. Keisengan yang membawa saya ke sebuah pengalaman baru yang insyaallah membuka mata hati dan pikiran saya tentang banyak hal, menambah pengetahuan saya tentang agama yang masih ecek-ecek ini, dan utamanya lagi bisa menambah teman-teman baru yang semuanya merupakan sosok ibu panutan yang luar biasa!

Berkah itu kan bentuknya bisa macam-macam, ya. Kalau ini boleh saya sebut sebagai berkah Ramadan, ya… inilah berkah Ramadan versi saya…

Selamat menjalankan ibadah puasa yang tinggal hitungan hari ini ya, temans…

 

Continue Reading

Bukan Jakarta kalau…

traffic-jam

…nggak macet!

———-

Demikian seloroh klasik hampir semua orang yang mengomentari betapa macetnya lalu lintas di Jakarta. Seolah ingin menggambarkan bahwa macet dan Jakarta adalah dua buah kata identik yang sudah lumrah dan jamak. Kalau Jakarta sepi, lengang, seperti halnya suasana beberapa hari menjelang Lebaran malah aneh, karena Jakarta itu terlanjur identik dengan macet.

Sudah hampir sepekan ini Jakarta dilanda kemacetan yang luar biasa parahnya. Bukan hanya dirasakan oleh pengguna kendaraan pribadi saja, tapi juga dirasakan oleh seluruh pengguna jasa layanan angkutan umum. Tingginya volume kendaraan yang melintas makin memperburuk kondisi lalu lintas, belum lagi cuaca hujan hingga menyebabkan banyaknya genangan di beberapa ruas jalan, makin memperparah kondisi lalu lintas di ibu kota tercinta ini.

‘Penderitaan’ yang dirasakan bukan hanya kaki yang pegal-pegal karena terlalu lama berdiri, dan waktu yang terbuang di jalanan lebih lama, tapi juga bahan bakar yang terhambur jadi lebih banyak, ditambah dengan ke-BT-an tingkat tinggi yang menyergap hampir semua yang terjebak di kemacetan. Sepertinya orang yang hidup di Jakarta itu harus punya stok kesabaran, ketabahan, dan daya tahan tubuh yang luar biasa untuk berjuang menghadapi kemacetan setiap harinya.

Bayangkan, dengan kondisi fisik dan psikis yang lelah karena sudah seharian beraktivitas di kantor masih harus ditambah dengan lamanya waktu tempuh menuju rumah yang lebih lama. Sesampai di rumah pun cuma sempat istirahat ala kadarnya, karena besok paginya harus bangun lebih awal, dan kembali berkejaran dengan waktu supaya tidak terlambat di kantor.

Beruntung hari Jumat kemarin saya memutuskan untuk pulang tepat waktu, sehingga antrean di halte Transjakarta belum terlalu padat, masih dapat tempat duduk, begitu pula level kemacetan jalan raya masih dalam batas ‘wajar’. Level wajar di sini maksudnya kendaraan masih bisa jalan di tengah kemacetan, tidak sampai stuck dan berhenti dalam waktu yang lama. Di saat saya sudah leyeh-leyeh di rumah, di twitter dan status bbm teman-teman saya bermunculan keluhan terjebak kemacetan di mana-mana,  ada yang keluar kantor pukul 16.15 tapi sampai di rumah hampir pukul 22.00 WIB, bahkan ada yang menjelang pukul 24.00 WIB! Epic, ya? 😐

Banyak orang yang ‘menyalahkan’ makin macetnya Jakarta akhir-akhir ini salah satunya disebabkan karena adanya sterilisasi jalur busway. But, hey… bukankah macetnya Jakarta bukan baru terjadi sehari dua hari ini? Toh, meski sudah ada peraturan tentang sterilisasi jalur busway nyatanya masih banyak juga kendaraan yang masuk ke jalur busway, apalagi ketika jalur jalanan normal sudah sangat padat, satu-satunya ‘alternatif’ untuk bisa tetap jalan ya masuk ke jalur busway. Oh ya, satu lagi. Trotoar. Pffft!

Kondisi seperti itu sih masih ‘mending’. Bagaimana kalau misalnya Transjakarta mengalami trouble di tengah jalur karena mesinnya tergenang air/mati, sementara itu di belakang bus berderet antrean kendaraan yang bermaksud mengambil kesempatan jalur bebas hambatan. Mau tidak mau mereka ikut berhenti total karena beberapa separator busway yang sengaja dibuat tinggi itu tidak memungkinkan mereka untuk memotong jalur seperti dulu. Tidak ada jalan lain selain ikut pasrah menanti hingga Transjakarta selesai diperbaiki. Nah, makin PR lagi, kan?

Tapi beruntung kemarin saya tidak coba naik angkutan alternatif yaitu shuttle bus. Memang sedikit agak lama menunggu shuttle bus itu lewat di Sudirman, tapi daripada saya terjebak di halte Harmoni selama berjam-jam karena ternyata Transjakartanya tidak beroperasi untuk sementara waktu lantaran banjir di sekitar Kampung Melayu, yah well… saya diam-diam bersyukur, walaupun sampai rumah hampir pukul sembilan malam 😐

Jadi ingat beberapa baris kalimat dari Seno Gumira Ajidarma dalam salah satu tulisannya yang bertajuk Menjadi Tua di Jakarta,

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa”

Soal bertahan hidup di Jakarta, menjadi Homo Jakartensis, menjadi sosok-sosok yang mengembara dalam pencarian, sebenarnya cuma masalah pilihan. Kalau ternyata masih kuat bertahan hidup di sini ya silakan dilanjut dengan segala konsekuensinya. Tapi kalau sudah tidak kuat ya silakan lambaikan tangan ke kamera… :mrgreen:

Btw, kapan ya jalanan di Jakarta suasananya mirip seperti car free day setiap harinya?
*tidur lelap*

 

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Siapa suruh datang Jakarta?

Semalam adalah malam yang sangat spektakuler buat hampir semua penduduk Jakarta yang hingga tengah malam masih terkatung-katung di tengah jalan lantaran banjir dan macet yang sangat parah. Berbagai live tweet tentang banjir beserta foto yang di-upload seolah menceritakan betapa lumpuhnya arus lalu lintas di Jakarta tadi malam. Ya, saya adalah salah satu manusia yang terjebak dalam kemacetan yang parah itu pemirsa..

Niat awalnya adalah mengantarkan adik saya ke Bandara Soekarno Hatta. Janjian maksimal jam 17.00 wib sudah di Gambir terpaksa dibatalkan karena hujan dan prediksi macet yang akan terjadi sehingga tidak mungkin kalau dia harus menunggu saya sementara dia harus sudah check in di bandara. Akhirnya tinggallah saya di dalam taksi dengan mencoba tenang “menikmati” macet, banjir, dan komplain-komplain via berbagai social media. Sempat stress juga ketika taksi yang saya naiki tidak bisa bergerak samasekali. Miris, ketika saya memutuskan untuk berjalan kaki tapi ketika melongok keluar jendela taksi, wow.. SUNGAI!! :((

Kemacetan dan banjir rupanya merata hampir di seluruh Jakarta. Suami saya yang naik motor terpaksa harus berputar-putar mencari jalan alternatif (jalan tikus). Tapi ternyata jalan tikus pun macet. Karena pikiran orang mungkin sama dengan pikiran suami saya, “ah kalau lewat jalan utama pasti macet, lewat jalan alternatif sajalah..”. Eh ternyata bertemulah mereka di jalanan yang sama. Jadi ya tidak ada bedanya antara lewat jalan utama atau jalan alternatif ;)) . Saya sendiri mulai berasa stressnya ketika mulai melihat jam sudah menunjukkan pukul 21.30 wib dan saya masih terkatung-katung di Jalan Gatot Subroto. Saya lihat juga si bapak supir taksi saya sudah stress juga sepertinya. Untunglah suami saya akhirnya menjemput dan membawa saya keluar dari kemacetan di sekitaran Giant – Mampang… untuk menghadapi kemacetan berikutnya tentu saja ;))

Saya toh juga sempat ngetwit begini :

Macet itu membuat org banyak bersyukur. Maju semeter aja sudah alhamdulillah : “alhamdulillah, akhirnya maju juga”
about 17 hours ago  via Twitter for BlackBerry®

dan begini :

Kalo Jakarta macetnya kaya begini, bayangkan ada berapa ibu hamil yg akan melahirkan dijalan ya..
about 17 hours ago  via Twitter for BlackBerry®

;))

Pagi ini di kantor hampir semua orang mempunyai cerita yang sama dengan versi masing-masing tentang kemacetan. Mereka rata-rata tiba dirumah antara pukul 22.00-23.00 bahkan ada juga yang lebih malam daripada itu. Semuanya mengeluh dan ngomel tentang betapa parahnya kemacetan Jakarta kemarin malam, saya juga cerita sih, tapi nggak pakai ngomel. Tepatnya adalah PASRAH! ~X(

Tapi saya justru berpikir iseng begini :

Sebenarnya kita semuanya sudah tahu kalau Jakarta itu kota banjir & macet, kan? Jadi ya sudah, kalau sudah memutuskan untuk tinggal disini ambil itu sebagai bentuk resiko dan konsekuensi logis. Jakarta itu ibarat sebuah produk yang dijual dengan sistem bundling. Kita tidak bisa hanya membeli salah satu fasilitas yang ditawarkan. Kalau kita sudah setuju membelinya ya kita tinggal menikmati fitur paket yang dijual terlepas dari mau tidak mau, berguna atau tidak. Jakarta disajikan lengkap dengan segala mimpi tentang kesuksesan hidup, dilengkapi dengan segala ketersediaan fasilitas, diberi essence manis pahit asamnya hidup kota besar, dan tak lupa semua itu disajikan lengkap dengan hiasan pita banjir dan macetnya.

Mengomel dan saling menyalahkan/menghujat satu sama lain pun tidak akan menyelesaikan masalah. Kalau memang iya solusinya adalah dengan mengganti pejabat yang kita salahkan itu lalu apakah pejabat berikutnya atau bahkan kita sendiri dijamin pasti  mampu menyelesaikan masalah klasiknya Jakarta ini? Nah, belum tentu juga tho? Bukan berarti kita harus nerimo dengan keadaan seperti ini terus-terusan, tapi ya kenapa kita tidak mencoba untuk mengakrabkan diri dengan kondisi yang bukan untuk pertama kalinya terjadi ini? Nikmati sajalah Jakarta dengan segala pernak-perniknya, toh nanti juga akan kebal & terbiasa. Soal terlambat, kebasahan, kedinginan, tampang jadi kucrut ya sudahlah terima nasib saja. Toh kita tidak sendirian mengalaminya kan? ;))

Jadi sewaktu-waktu kalau nanti kita eksodus ke negara yang kemacetannya tidak separah Jakarta kita sudah terbiasa. Misalnya pun ternyata ada macet-macetnya sedikit kita bisa komentar : “Ah, dulu saya pernah mengalami yang lebih macet dari ini kok?” | “Oh ya, dimana?” | “di Jakarta..” 😀

Baiklah, seperti lemparan sandal, aqua galon, dan keplakan mesra sudah mampir ke jidat saya ;)). Ya namanya juga mencoba menghibur diri dengan mencoba berpikir positif biar hati dan pikiran lebih rileks kan tidak ada salahnya tho? 😀

Jadi gimana, masih minat tinggal di Jakarta?  :-”
Pindah aja yuk.. :>

Continue Reading

Selamat Ulang Tahun, Jakarta!

Dulu saya nggak pernah bermimpi akan hidup di kota sebesar Jakarta. Jangankan Jakarta, lha wong di Surabaya, yang kotanya nggak seluas Jakarta aja saya keder walaupun saya lahir di sana ;)).  Tapi rupanya Tuhan punya rencana lain dalam hidup saya. Saya justru terdampar bahkan domisili plus jadi penduduk Jakarta sekarang.

Ya, dalam bayangan masa kecil/remaja saya dulu, Jakarta itu kota yang terlalu metropolis (lha ya jelas, wong namanya juga ibukota). Kota yang menjadi magnet bagi mayoritas penduduk daerah untuk mengadu nasib. Kota yang sama sekali bukan menjadi pilihan bagi saya untuk hidup di dalamnya. Belum lagi orangtua yang awalnya keberatan kalau sampai saya hidup sendiri di Jakarta, maklum. Belum apa-apa saya juga sudah BT lihat macetnya, sumpeknya, polusinya, kerasnya hidup disana. Pokoknya paranoid berat :D. Tapi uniknya, di satu sisi, ketika saya lebih sering melakukan perjalanan ke Jakarta, entah dalam rangka training, job interview atau perjalanan pribadi kok saya justru seringkali merasa Jakarta itu nggak seburuk yang saya paranoidkan ya. Saya justru merasa fun. Sindrom penduduk dari kota kecil kali ya? ;)). Ya, “udik to the max” ;)).

Tapi Tuhan rupanya berkata lain. Saya dipertemukan dengan jodoh saya yang notabene penduduk Jakarta, sehingga mau tak mau saya harus meninggalkan kota kelahiran saya, Surabaya. Alhamdulillah, kebetulan saya bukan orang yang tipenya terlalu lama untuk menyesuaikan diri. Mungkin juga karena saya langsung melanjutkan kerja lagi di perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia itu, jadi saya nggak merasa kesepian atau kesulitan beradaptasi, mengingat di perusahaan ini jugalah saya sebelumnya berkarir di Surabaya.

Kekhawatiran akan mengalami kesulitan hidup di Jakarta beserta segala pernak-perniknya itu akhirnya menguap jauh-jauh. Karena justru di Jakartalah saya bisa mengekspresikan & mengembangkan diri secara maksimal. Alhamdulillah, mungkin saya termasuk salah satu orang yang beruntung karena tidak terlalu mengalami kesulitan yang berarti saat mengalami masa transisi hidup di Jakarta ya. Karena saya justru menikmati masa-masa transisi itu. Saya menjalani seluruh hidup saya yang walaupun pas-pasan dengan enjoy. Kalau soal suka duka ya pasti ada. Tapi terlalu panjanglah kalau diceritakan detail satu-persatu, emangnya saya lagi bikin biografi? ;))

Di Jakarta pulalah saya mulai banyak mengenal teman-teman baru dari berbagai kalangan & bidang pekerjaan. Memperluas jaring pertemananlah istilahnya. Uhuk! Gaya ;)). Bekerja sebagai Quality Assurance leader di callcentre Telkomsel sekaligus mencoba kemampuan sebagai penulis walaupun masih abal-abal :D. Siapa sangka juga kalau akhirnya di Jakarta pulalah saya menyandarkan karir terakhir saya sebagai pegawai negeri sipil di Sekretariat Negara. Iya, karir yang dulunya sempat tidak pernah terpikir sama sekali :).

Ada pepatah yang mengatakan “sekejam-kejamnya ibu tiri tidak sekejam ibukota”. Buat sebagian orang memang benar begitu adanya. Tapi sebenarnya ibukota itu nggak kejam-kejam amat kok kalau kita punya “tameng” berupa skill, kemauan, kemampuan beradaptasi, tekad yang kuat, kehati-hatian (karena tingkat kejahatan disini tinggi banget) & pengendalian diri (terhadap berbagai godaan). Hidup di Jakarta godaannya banyak banget, kalau kita nggak bisa mengendalikan diri ya udah deh, bablas jaya. Terutama belanja! Eh, kalau ini khusus buat saya denk.. ;))

Sebenarnya bukan hanya di Jakarta, mau dimanapun kita tinggal kalau kitanya nggak siap & nggak bisa menyesuaikan diri ya selamanya akan merasa terbebani. Karena semua kota pasti punya kelebihan & kekurangan. Tinggal bagaimana kita menyesuaikan diri saja. Karena nggak mungkin lingkungan yang akan menyesuaikan diri untuk kita, tapi justru kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan. Bukan hal yang mudah ya? Memang..

Tepat di tanggal 22 Juni 2010 ini kau berulang tahun yang ke 483. Selamat ulang tahun, Jakarta!  Tak ada kado khusus untukmu selain baris puisi dari WS Rendra – Doa di Jakarta..

Tuhan yang Maha Esa,
alangkah tegangnya
melihat hidup yang tergadai,
fikiran yang dipabrikkan,
dan masyarakat yang diternakkan.

Malam rebah dalam udara yang kotor.
Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
Dendam diasah di kolong yang basah
siap untuk terseret dalam gelombang edan.
Perkelahian dalam hidup sehari-hari
telah menjadi kewajaran.
Pepatah dan petitih
tak akan menyelesaikan masalah
bagi hidup yang bosan,
terpenjara, tanpa jendela.

Tuhan yang Maha Faham,
alangkah tak masuk akal
jarak selangkah
yang bererti empat puluh tahun gaji seorang buruh,
yang memisahkan
sebuah halaman bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C.
Hati manusia telah menjadi acuh,
panser yang angkuh,
traktor yang dendam.

Tuhan yang Maha Rahman,
ketika air mata menjadi gombal,
dan kata-kata menjadi lumpur becek,
aku menoleh ke utara dan ke selatan –
di manakah Kamu?
Di manakah tabungan keramik untuk wang logam?
Di manakah catatan belanja harian?
Di manakah peradaban?
Ya, Tuhan yang Maha Hakim,
harapan kosong, optimisme hampa.
Hanya akal sihat dan daya hidup
menjadi peganganku yang nyata.

gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Bomb Blast (again) Here ..

jw marrot bombingKemarin, Jumat tanggal 17 Juli 2009 Jakarta kembali diguncang bom di Ritz Carlton & (again) JW Marriot. Kebetulan saya waktu itu sudah di kantor siap dengan aktivitas kerja saya. Jelas kagetlah. SMS dari rumah langsung sampai, menanyakan kabar & kondisi saya, apakah baik-baik saja. Tak heran karena lokasi kantor saya hampir berdekatan dengan 2 lokasi itu (terutama JW marriot). Kantor saya di Rasuna Said – Kuningan, sementara JW Marriot ada di lingkar Mega Kuningan , lumayan dekatlah. Kalau beberapa tahun lalu saya belum menjadi warga Jakarta & hanya tahu lokasinya lewat gambar di televisi & internet/surat kabar. Tapi sekarang, saya hampir  tiap hari melewati depan JW Marriot kalau pulang kantor (via belakang Ambassador Mall) & beberapa kali lewat depan Ritz Carlton kalau menghindari rute banjir di belakang kedubes daerah Jl. Denpasar.

Kalau ditanya apa perasaan saya sekarang, jujur saya ngeri, takut & paranoid. Ini adalah 2 tahun saya di Jakarta. Kalau soal musibah, terror, dll memang bisa terjadi dimana saja & kapan saja & bisa menimpa siapa saja. Justru itulah ngerinya. Bayangkan, setelah kondisi yang sudah lumayan kondusif setelah aksi terror bom di tahun 2003, lha kok ya sekarang ada bom lagi. Apakah masa kurang lebih 6 tahun tanpa kegiatan pengeboman itu sudah dianggap sebagai suatu kondisi aman? Jadi tingkat pengamanan mengendur? Entahlah..

Kalau mau jujur nih (semoga bisa jadi koreksi juga), saya sering mengalami & melihat dengan mata kepala sendiri adanya beberapa kelonggaran sistem pengawasan di beberapa gedung & mall,  seems they just did it cursory,  terkesan hanya sebagai formalitas memeriksa pengunjung beserta their luggage. Kalau pagi saya datang ke kantor  atau misal sore saya ke mall, sebelum masuk gedung seperti biasa pasti ada formalitas pengecekan tas dengan metal detector, tapi kadang juga banyak enggaknya tuh. Malah justru saya doang yang masuk via pintu metal detector  tas saya cuma di oper dari satu security ke security lainnya tidak dibuka, tidak di cek. Pernah saya justru yang memberikan tas saya buat diperiksa malah securitynya yang mempersilahkan saya masuk tanpa diperiksa.

Security : “masuk aja mbak gapapa..”
Saya : “emang udah ga diperiksa pakai di metal detector lagi ya pak?”
Security : “kadang masih pakai sih mbak.. cuma kalau pagi gini suka saya matikan, hemat baterei..”

Alamak.. hemat baterai katanya.. :O .Wah, longgar sekali ya pengawasan gedung-gedung di Jakarta kalau kaya gini caranya ya. Ok, saya tidak menggeneralisir  security treatment untuk para pengunjung tiap gedung/mall seperti itu. Yang saya khawatirkan justru ditengah lengahnya mereka inilah justru kondisi yang akan dimanfaatkan para bomber. Kita tidak menyangka kan kalau siapapun bisa “nyaru” jadi bomber? Buktinya saja mereka bisa nyaru jadi tamu di hotel, atau nyaru jadi pengunjung restoran.. nah apa bedanya dengan nyaru jadi karyawan gedung tertentu? Who knows? 😕

Di luar sana (entah), mungkin sang mastermind pengeboman ini sedang tertawa menepuk dada. Merasa rencananya telah berhasil. Kira-kira apa ya yang ada di otak mereka atau hatinya terbuat dari apa? Batu, semen, besi, atau apa? Dimana ya letak sisi manusianya? Gimana ya kalau salah satu diantara korban itu justru adalah keluarganya sendiri.. Nyawa kok dibuat mainan.. 🙁

Terlepas dari apapun motif & siapapun mastermind dibalik pengeboman itu (mau Al Qaeda & Jamaah Islamiyah network atau bahkan suspect lain diluar itu) , no more I can say.. Mengucapkan turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Mr. Tim MacKay beserta korban-korban lainnya, semoga arwah para korban diterima disisi Allah SWT & semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.. Semoga tidak ada lagi kejadian seperti ini lagi ya Tuhan.. Amien ya rabbal alamien..

gambar dari sini

Continue Reading