Siapa Cepat, Dia Dapat!

flashsale

Sebagai warga instagram, sepertinya kurang ngehits kalau belum follow akun-akun ngehits yang jumlah follower-nya ratusan ribu bahkan sampai jutaan. Iya, buat seru-seruan, atau syukur-syukur bisa menginspirasi diri sendiri dari segi apapun.

Selain mengikuti akun milik tokoh tertentu, saya juga mengikuti beberapa akun gosip dan online shop yang belum tentu saya rajin buka akunnya juga, hihihik. Nah, pasti tahu dong, kalau akun-akun online shop yang follower-nya puluhan/ratusan ribu itu sering mengadakan flashsale, alias jualan dalam satu hari yang bisa ludes dalam hitungan menit/jam.

Paling sering sih mantengin akun online shop baju muslim dan hijab yang kenamaan yang itu. Iya, yang modelnya kalau nggak mbak yang itu, ya mbak yang satunya lagi yang wajahnya mirip. Beberapa hari sebelum flashsale, biasanya mereka memberikan teaser produk apa saja yang akan mereka jual di hari yang telah ditentukan. Namanya flashsale pasti jumlahnya terbatas, biasanya mereka hanya menyediakan sekian ratus/ribu pieces, tapi sudah dipastikan yang berminat pasti ratusan ribu. Jadi sistemnya siapa cepat dia dapat.

Saking banyaknya yang berharap bisa dapat item hijab impian, mereka sampai berdoa di kolom komen, “bismillah, semoga aku dapet yang ini…”. Mungkin semacam menyugesti diri sendiri ya, saking kepengennya. Biasanya di sana juga ada beberapa jasa titip yang ikut nimbrung menawarkan jasanya, barangkali ada calon konsumen yang mau titip beli ke mereka. Tapi sejauh ini sih saya belum pernah pakai jasa titip untuk beli-beli barang, karena ya saya orangnya nggak ngoyo, kalau dapet ya syukur, enggak ya berarti belum rezeki.

Nah, setelah mengintip sneak peek di beberapa postingan akun hijab itu, kebetulan ada beberapa item yang saya suka. Segera saya atur tanggal, hari, dan jam sesuai dengan yang dijanjikan, untuk membeli item yang saya incar, bukan itu saja, untuk mempercepat proses pengiriman pesan whatsapp sudah saya copy formatnya sesuai dengan format yang diminta oleh penjual, jadi tinggal copy dan send saja. Sesekali ingin merasakan bagaimana sih euforianya belanja rebutan itu.

Dulu banget, pernah ada pengalaman belanja rebutan tapi nggak rebutan. Lah, gimana maksudnya? Iya, di akun instagram itu barang yang dimaksud sudah sold out saking banyaknya yang minat. Tapi ndilalah, mungkin para pembeli itu lupa/tidak tahu bahwa sebenarnya barang yang mereka cari itu juga dijual secara online di salah satu situs belanja fashion muslimah terkemuka di Indonesia, semacam kerja sama gitu, contohnya BrandIni x BrandItu. Berhubung hijab yang saya inginkan itu juga masih terpampang di situs tersebut jadi saya beli di web saja, dan dapat dong. Hihihik..

Kembali lagi ke cerita belanja rebutan tadi, di hari yang telah ditentukan, perasaan saya sudah campur aduk, antara deg-degan dan penasaran. Ketika si admin mengumumkan “send your chat now”, segera saya kirim order di waktu yang hampir tidak ada jeda sejak pengumuman selesai upload, pukul 09.00 sharp! Sent!

Centang dua abu-abu. Setidaknya sudah terkirimlah ya.

Sambil menunggu balasan whatsapp, saya mengerjakan hal lainnya. Sesekali saya cek handphone sekadar memastikan bahwa pesan saya sudah dibaca, syukur-syukur sekalian dibalas dengan total yang harus saya transfer.

Pukul 14.09 notifikasi whatsapp saya berbunyi. Yes! Dari online shop yang saya tunggu-tunggu. Hmmm, kira-kira saya dapat nomor antrean berapa ya.

“Maaf, sold, mbak sayang”

Tweew! Hiks. Ternyata jari saya masih kurang cepat dibandingkan dengan konsumen lainnya. ya…

Trus, kapok nggak belanja rebutan gitu? Agak-agak mengandung kapok juga sih, walaupun sensasi harap-harap cemasnya itu sih yang kadang bikin kangen, hihihihik

Sebenarnya sih semua online shop sistem penjualannya ya siapa cepat dia dapat, karena jumlah barang yang diproduksi kan tidak banyak, kecuali mereka memberlakukan sistem purchase order (PO). Kalau sistem PO biasanya mereka memproduksi sesuai dengan jumlah pesanan, jadi kita pasti dapat.

Ada untungnya juga saya bukan orang yang kalap belanja (online) ya, apalagi kalau duitnya nggak ada, hiks. Jadi mau belanja di mana saja kalau memang barang itu rezeki jadi milik kita, pasti akan jadi milik kita kok. Sesimpel itu.

Iya, ini lebih ke menghibur diri karena kalah set
*scroll-scroll online shop*

 

 

picture source: here

Continue Reading

Instagram

Instagram

Sebenarnya saya bukan orang yang hobi mengabadikan moment via kamera. Dulu, zaman saya masih narsis (alhamdulillah sekarang sudah insyaf), saya lebih suka difoto ketimbang memoto, walaupun hasil fotonya pun tak selalu bagus karena angle dan gaya saya itu-itu melulu 😆 . Kalaupun sekarang menjadi sedikit menyukai fotografi mungkin karena saya banyak bergaul dengan suami saya yang lebih dulu menyukai fotografi, meskipun hanya menggunakan kamera saku. Yaelah, bahasanya… bergaul! 😆

Dulu, dia sering menjadikan saya dan teman-temannya objek foto, selain foto alam, pemandangan, jalanan, danmakanan/minuman. Cara dia mengambil gambar dan menangkap moment dengan menggunakan angle-angle tertentu seringkali menghasilkan gambar yang menurut saya istimewa. Dari situlah saya mencoba mulai belajar menangkap objek melalui kamera ponsel saya. Kebetulan ponsel saya nan cupu ini sudah dilengkapi dengan kamera yang mampu menghasilkan gambar dengan kualitas yang lumayan tajam setajam silet, dan yang penting sudah ada auto focus-nya, jadi lumayan bisa membantu menghasilkan gambar seperti yang saya inginkan. Makanya, doakan saya bisa beli DSLR, dong! :mrgreen:

Sebelum aplikasi Instagram happening di social media, saya lebih dulu mengunggah koleksi foto-foto amatir saya di Posterous (yang sekarang sudah almarhum itu). Dari sekian banyak gambar yang saya buat, saya cenderung menyukai objek yang diambil dari jarak dekat (close up), ketimbang objek yang jauh (semacam scenery/pemandangan). Kalaupun toh ada satu/dua foto yang diambil dari jarak jauh atau berjenis pemandangan, ya kebetulan karena saya anggap menarik untuk diambil gambarnya :-p

Tapi sejak Posterous nonaktif beberapa waktu yang lalu, semangat saya untuk memotret dan mengunggahnya ke website yang lain pun ikut kuncup 🙁 . Hingga akhirnya ketika banyak yang mengunggah foto melalui Instagram, sayapun jadi ‘latah’ ikut membuat akun di sana dan mulai mengunggah sebagian foto yang pernah saya unggah diPosterous di sana.

Sama halnya dengan menulis di blog yang seringkali dipengaruhi oleh mood, di Instagram pun alasannya sama. Mood! *cengengesan*. Terkadang banyak foto yang sudah saya simpan di HP tapi diunggahnya baru nanti kalau sudah mood. Tapi sekalinya mood, sekali unggah ke bisa bundling langsung 3-5 foto. Kalau sedang tidak mood, Instagram saya sampai keluar sarang laba-labanya lho, gara-gara terlalu lama tidak ada up date.

Kalau soal objek foto, karena adanya ‘keterbatasan’ gaya dan kreatifitas yang saya miliki, saya memilih untuk tidak mengunggah foto selfie. Kalaupun ada beberapa foto saya di situ itu juga sudah hasil editan sedemikian rupa sehingga layak tayang 😆 . Tapi serius deh, akhir-akhir ini jiwa narsis sudah tidak separah dulu. Mungkin karena faktor usia dan bawaan bayi… *alasan* :mrgreen:

Ya, semoga akun yang satu ini akan tetap terawat dan ada up date secara berkala, ya…

Kala-kala ada up date.
Kala-kala tidak ada up date sama sekali…

:mrgreen:

 

 

Continue Reading