“Tidak ada yang namanya kebetulan…”

turn left turn rightAkhir pekan kemarin saya sengaja nonton film secara marathon di rumah. Beberapa keping dvd lawas saya babat habis.  Salah satunya adalah film Asia berjudul Turn Left Turn Right yang dibintangi oleh aktor Jepang Takeshi Kaneshiro dan aktris Mandarin Gigi Leung. Kisah cinta yang dikemas secara ringan sekaligus menggemaskan. Saking ‘ringannya’ ada beberapa scene yang terasa kurang masuk akal. Tapi ya, namanya juga hiburan, ada kalanya skenario harus sedikit dipaksakan, dan logika penonton pun ikut dinonaktifkan untuk sementara waktu.

Di film itu Leung berperan sebagai seorang penerjemah, sedangkan Kaneshiro sebagai seorang pemain biola. Mereka hidup sejajar dan tampak sempurna bagi satu sama lain. Tapi entah bagaimana, nasib membuat  mereka terpisah. Dulu, Kaneshiro kecil pernah menyukai seorang gadis yang bahkan namanya saja tidak sempat diketahuinya. Namun takdir ternyata berbaik hati, mereka dipertemukan kembali dalam situasi yang berbeda, dalam sebuah ketidaksengajaan.

Singkat cerita mereka pun berkenalan dan saling bercerita ini-itu. Lambat laun mereka menyadari bahwa mereka pernah bertemu di masa kecil, dan pernah saling menyukai. Nah, scene menggemaskan pun dimulai. Mereka yang sudah saling bertukar nomor telepon dengan harapan hubungan mereka akan jauh lebih baik lagi ke depannya itu ternyata masih harus mengalami cobaan. Secarik kertas yang berisi nomor telepon masing-masing itu terkena hujan dan luntur. Halaaah… 😐

Dan cerita pun bergulir dengan kebetulan-kebetulan yang menggemaskan. Tapi jangan tanya bagaimana akhir cerita di film itu ya, karena sebenarnya saya bukan mau me-review filmnya, tapi justru gara-gara film itu jadi ada pertanyaan yang berlompatan keluar dari pikiran saya.

“Percayakah kamu pada sebuah kebetulan?”

Jujur, selama ini saya masih percaya dengan kata ‘kebetulan’. Bahkan masih sering menggunakan kata ‘kebetulan’ sebagai pengganti kata ‘ndilalah‘, untuk menggambarkan sesuatu yang terjadi bukan karena kesengajaan/direncanakan.

Tapi makin ke sini saya percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi bukan karena sekadar ‘ndilalah’, bukan cuma kebetulan,  I do believe that there’s a reason behind everything.

Kadang kita tidak sengaja dipertemukan dengan orang-orang tertentu, dan makin ke sini ternyata ada tujuan tertentu mengapa kita sampai dipertemukan dengan mereka; seperti yang dulu pernah saya tulis di sini. Pun halnya ketika kita mengalami suatu kejadian; itu pun pasti ada pesan moralnya. Bisa saja melalui kejadian tersebut Tuhan sebenarnya ingin berkomunikasi dengan kita dengan cara-Nya tersendiri. Bukankah Dia juga sering menjawab doa-doa kita melalui jalan yang misterius?

Sometimes things happen for a reason, even if we don’t know what it is…

 

 

 

ilustrasi dipinjam dari http://www.bloggang.com

Continue Reading

Kenapa harus horor?

Dari jaman saya kecil sampai sekarang, saya itu termasuk orang yang takut sama hal-hal serem. Dulu, jangankan nonton film horor yang jelas-jelas mengandung hantu, lihat serial Unyil pas adegan hutan lindung aja saya sudah deg-degan, takut tiba-tiba keluar nenek sihir atau makhluk hutan yang menakutkan lainnya. Itulah kenapa saya sangat antipati sama film horor, yang sebagian besar syutingnya hampir selalu dilakukan di malam hari, gambar dengan aura suram, gelap, ditambah sound effect yang bikin merinding. Iya karena saya memang penakut X_X. Kalaupun misalnya ada acara nonton gratis tapi kalau filmnya film horor saya pasti akan dengan sukacita menolaknya. Jangankan nonton yang berbayar, di TV aja jaman-jaman ada acara uji nyali atau acara setan on tv show aja saya sudah pasti ganti chanel.. walaupun seringnya penasaran pengen tahu peserta uji nyalinya berhasil sampai finish nggak, atau ada penampakan sesuatu nggak disana.. ;))

Beda sama adik saya yang nomor 2, kalau soal nonton film horor dia jagonya, walaupun itu malam hari dan harus nonton sendirian. Kalau saya sih, makasih deh. Pernah saya terbangun karena pengen pipis, eh lihat dia lagi anteng nonton film Shutter , ngakunya sih sempat kaget pas lihat saya tahu-tahu seliweran lewat, karena mungkin dia lagi tegang-tegangnya ya ;)). Duh, emang muka saya mirip sama setan ya? :|. Dulu sempat tanya ke adik saya itu, kenapa dia berani nonton film horor, dengan ringan dia menjawab :


“halah, kan disitu ada sutradaranya, Mbak. Itu semua bikinan manusia..”

Iya tahu kalau disitu ada sutradaranya, saya juga tahu kalau yang syuting itu artis semua, saya juga tahu kalau mereka didandani sedemikian rupa oleh make up artist-nya sehingga mirip makhluk-makhluk menyeramkan sesuai lakon di skenario itu. Tapi kan pas adegan itu diambil, kru yang ada dibelakang layar nggak ikut disorot. Nggak mungkin dong pas lagi adegan suster ngesot pas lagi ngesot serem-seremnya eh sutradaranya lewat sambil bawa gorengan atau make up artist-nya mendadak benerin bedak lantaran muka si suster terlihat masih kurang pucat.

Sering bertanya-tanya sendiri, bukankah seharusnya menonton itu jadi kegiatan yang menghibur & bersifat rekreasi ya. Tapi kenapa “hiburannya” harus berupa hal yang menakutkan? Bukankah malah jadi stress? Kalau dalam keadaan ketakutan begitu lalu dimana letak menghiburnya ya? 😕 . Sempat berpikir, kenapa ya orang-orang suka menonton film horor? Rela larut dalam suasana yang menakutkan, tegang, deg-degan, dan teror. Untuk pertama kalinya saya sengaja menonton yang jenisnya thriller (atau horor supernatural?) Final Destination 4 (buat saya film jenis thriller ini termasuk kategori “horor”, film teror). Pulang jam 11 malam sambil paranoid sendiri (walaupun nontonnya sama hubby). Selama menuju parkiran lihat tukang yang lagi ngelas benerin atap mall, saya paranoid. Lihat tangga besi yang lagi disandarkan di tembok, saya juga paranoid. Parno kalau tiba-tiba alat las atau tangganya jatuh menimpa dan mencederai orang yang lewat. Berlebihan ya? Emang! 😐

Kalau kejadian mengalami langsung sih nggak pernah minta, amit-amit jangan sampai yaa.. :-s. Walaupun kayanya sih pernah pas di rumah Budhe saya yang di Malang itu, kan rumahnya memang agak spooky (spooky itu bukan merk motor matic lho ya). Pernah merasa ada yang sedang lari dengan nafas ngos-ngosan di kamar saya ketika saya sedang tidur, dan itu dekat sekali dengan telinga saya. Kayanya lho ya. Padahal kamar saya di rumah Budhe itu bukan fitness centre, seharusnya nggak ada yang olahraga malem-malem kan ya? *ngusap tengkuk*. Halah, ini kok malah cerita horor beneran. Filmnya, filmnyaaa!

Iseng saya tanya sama beberapa teman yang suka nonton film horor, beberapa alasannya :
1. menonton film horor itu mengandung adrenalin rush, ada ketegangan yang ingin ditaklukkan
2. penasaran, kali ini setannya berbentuk apa ;))
3. penasaran nanti endingnya bagaimana, setannya yang mati atau lakonnya yang mati
4. ceritanya seseram gambar di posternya nggak, atau barangkali ada “bumbu-bumbu” erotismenya (u kate acara memasak pake bumbu?). Kalau yang ini pasti sukanya sama film horor Indonesia deh 😐

Kalau kata seorang psikolog, kenapa manusia suka film horor : “sebenarnya manusia menyukai perasaan ketakutan, bahkan mencari perasaan tersebut, karena mereka sadar tidak sedang berada dalam bahaya yang sesungguhnya”. Iya juga sih, kita sengaja memberanikan diri nonton film horor tapi kan di bioskop, coba kalau sengaja mencari penampakan sendirian, tengah malam, trus ketemu beneran sama hantunya. Belum tentu berani juga kali ya :-s.

Kalau kalian suka film horor nggak?

Continue Reading

The Backup Plan

Malam minggu ini terpaksa saya harus menghabiskannya sendiri karena si hubby keluar kota sampai dengan hari Senin. Tadinya sih rencana mau jalan sendiri kemana gitu ya, tapi berhubung mendung & hawanya kok lebih enak buat dirumah jadi ya akhirnya dirumah aja.

Kebetulan beberapa hari yang lalu sengaja beli 3 dvd buat di tonton di akhir pekan jadilah saya tonton film itu sendiri. Oh ya, film yang saya tonton malam ini adalah The Back Up Plan yang dibintangi oleh Jennifer Lopez & Alex O’Loughlin. Film yang rilis sekitar bulan April ini bergenre komedi romantis, kesukaan saya ;). Sepanjang film ini saya ngikik-ngikik sendiri & komentar-komentar sendiri, ya karena saya emang nonton sendiri. Poor me huh, no? 😕 ;))

Cerita ini dibuka oleh Zoe (Jennifer Lopez) yang sedang berada di dokter untuk melakukan inseminasi buatan. What? Serius? Ya, dia memang sangat mendambakan hadirnya keturunan walaupun harus tanpa melalui hubungan pernikahan. Ternyata bukan hal yang mudah untuk mencari pria yang tepat untuk dinikahi sekalipun sudah mencoba berkali-kali. Di tengah keputusasaannya itulah  Zoe memutuskan untuk segera mencari cara lain atau dia tidak akan memiliki keturunan seperti yang dia inginkan.

Namun ironisnya ditengah program kehamilan buatan yang dia lalui itu dia bertemu dengan Stan (Alex O’Loughlin) saat berebut taksi, pria yang bisa jadi sudah ditunggunya selama ini. Dari sinilah cerita ini dibangun. Saat mereka mulai memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius, Zoe terjebak diantara rencana kehamilannya dan hubungan cinta yang dia cari selama ini. Apalagi ketika tes kehamilan menunjukkan dia positif hamil. Makin bingung antara bahagia & dilema untuk mengatakan ini pada Stan, kekasihnya.

Ketika Stan diberi tahu tentang kehamilan Zoe, tentu saja terkejut & sempat menuduh Zoe menipunya. Mereka sempat ragu antara meneruskan hubungan atau sampai disitu saja, alias putus. Namun toh akhirnya kebesaran hati Stan yang membuatnya mengerti bahwa bagaimanapun program kehamilan itu dilakukan tepat di hari pertemuan mereka & disaat yang tak pernah mereka rencanakan sebelumnya.

Banyak adegan lucu, absurd & bikin saya ketawa sendiri. Seperti misal adegan bulan-bulan pertama Zoe hamil & harus mengalami kesulitan ketika naik taksi. Adegan yang sukses bikin saya ngakak-ngakak sendiri. Lebay banget, sumpah :)). Atau adegan tengah malam saat Stan stress lalu ke dapur mau masak kaya orang lagi nggak sadar. Atau adegan water birth dengan berbagai ekspresi aktor-aktornya yang super kocak. Atau adegan pingsannya Stan ketika mengetahui bahwa bayi yang dikandung Zoe bukan hanya satu tapi kembar :)). Atau adegan Zoe mencari kembali gulingnya bulukan miliknya yang sudah dibuang Stan ke sampah yang menurut saya..aduh please deh ya, ngapain coba ibu hamil, malem-malem terjun ke bak sampah cuma buat nyari guling buluk? Udah gitu, pas hamil tua aja masih bisa jalan pakai high heels. Kalau saya yang hamil mah udah saya pensiunkan  dulu high heels-high heels saya. That’s so absurd! :)). Masih banyak adegan lucu lainnya yang lebay ala Hollywood =))

Yang membuat film ini layak ditonton selain pengemasan ceritanya yang ringan & lucu, adalah.. hey saya suka banget sama make up & dandanan rambut Jennifer Lopez yang dalam beberapa scene film ini rambutnya digelung asal-asalan itu. Oh ya satu lagi, badannya J-Lo bikin iri mampus (iyalah, J-Lo gitu lho), plus soundtrack filmnya yang bagus-bagus :

1. What is Love? – Jennifer Lopez

2. Say Hey (I Love You) – Michael Franti & Spearhead

3. Fallin’ for You – Colbie Caillat

4. Disco Lies – Moby

5. A Beautiful Day – India.Arie

6. Key to My Heart – Jessica Jarrell

7. Crabbuckit – k-os

8. Bottles – VV Brown

9. You, Me & The Bourgeoisie – The Submarines

10. Let’s Finish (Sinden Remix) – Kudu

11. Day Dream (Title theme from The Backup Plan) – Stephen Trask

12. She Drives Me Crazy – Raney Shockne f/ Barbara Perry

13. What a Wonderful World – Raney Shockne F/ Barbara Perry

Jadi buat yang belum nonton selamat menonton ya 🙂

Continue Reading

The Proposal – Here Comes The Bribe

Ahaa.. akhirnya semalam keturutan nonton film komedi romantis The Proposal. A good romantic comedy only has to tick two boxes : depict two people falling in love and be funny about it. Simple as that. Film genre komedi romantis yang bisa membuat saya terpingkal-pingkal sekaligus terharu sepanjang film ini diputar. Nangis lagi? ahahay, you know me well-lah 😉 . Kegiatan dadakan di akhir minggu yang sama sekali di luar rencana lantaran tujuan utama ke Plangi hanya buat buka puasa, akhirnya “tarawih” di mall juga. Begitu masuk 21 langsung “jatuh hati” sama posternya The Proposal dimana Sandra Bullock berlutut meminang Ryan Reynolds dengan sebuah cincin di kedua belah tangannya. Sandra Bullock,  tampak begitu prima di usianya yang ke 44 dengan stelan jas pas badan & rok pensil membalut tubuhnya yang sangat langsing. Siapa yang mengira kalau usianya sudah mendekati setengah abad kalau melihat begitu sempurnanya penampilan dia di film ini?

Sebenarnya ada banyak film yang mengambil tema tentang pernikahan pura pura ala Hollywood. Contohnya What Happen In Las Vegas dan While You Were Sleeping. Dan sekarang, The Proposal. Film ini diperankan oleh Sandra Bullock dan Ryan Reynolds. Digarap oleh sineas wanita bertangan dingin, Anne Fletcher dengan porsi drama komedi yang ringan. The Proposal mengisahkan kehidupan Margareth Tate (Sandra Bullock) , seorang executive editor in chief  sebuah perusahaan penerbitan buku – Colden Books. Seorang perempuan mandiri, cekatan sekaligus keras hati. Karena sikapnya yang suka semena-mena itu dia dibenci oleh hampir semua karyawan. Termasuk asistennya yang charming yaitu Andrew Paxton (Ryan Reynolds). Adegan awal di film ini sempat mengingatkan saya pada adegan awal The Devil Wears Prada : seorang asisten editor in chief  yang bangun kesiangan & harus berlari-lari ke sebuah kedai kopi untuk memesan kopi buat bossnya & dirinya sendiri.

Karena sesuatu hal, Margaret terancam dideportasi ke Canada karena masalah visa. Tentu saja itu membuat dia panik dan berusaha mencari jalan keluarnya. Di tengah-tengah kekalutannya ini mendadak dia menemukan ide untuk mendeklarasikan pertunangan (secara sepihak) dengan asisten pribadinya, Andrew, yang kebetulan seorang warga Amerika. Kaget? Jelas, karena masalahnya mereka ini tidak pernah saling cinta. Hubungan mereka hanya sebatas profesionalisme bos – asisten, tanpa melibatkan rasa samasekali. Tentu saja bukan hal mudah, utamanya bagi Andrew untuk langsung menyetujui “pertunangan” dadakan ini. Jikalau pun akhirnya Andrew setuju terlibat dalam sandiwara ini namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh Margareth, termasuk salah stunya harus berlutut untuk melamarnya. Lantas apakah semudah itu mereka menikah? Tentu tidak, ditengah keraguan pihak dinas imigrasi yang sangat menyangsikan “cerita cinta” mereka berdua yang terkesan mendadak & pasti maksud tertentu mengingat masalah visa Margareth Tate yang bermasalah itu, mereka harus sibuk bersandiwara untuk meyakinkan semua orang bahwa, yes they’re really couple.

Cerita dibangun ketika keduanya harus pergi ke Sitka – Alaska untuk menemui kedua orangtua Andrew sekaligus merayakan ultah neneknya yang ke 90. Disini Margareth menemukan kenyataan bahwa keluarga Paxton adalah keluarga kaya dengan bisnis yang berderet-deret. Menarik, saat bagaimana Andrew & Margareth harus bersandiwara & menceritakan kisah cinta mereka di depan semua keluarga & tetangga. Ada banyak kejadian lucu sekaligus mengharukan yang berawal dari Alaska ini. Utamanya ketika mereka diminta harus menikah secepatnya oleh keluarga Andrew. Lantas akan semudah itukah mereka menjalankan pernikahan? Toh hanya sebatas “pernikahan berlatar belakang bisnis” ini (mereka sepakat akan bercerai beberapa tahun kemudian setelah masalah visa ini mereda). Dilematis. Satu sisi yang bertabrakan dengan sisi lainnya. Apalagi kalau bukan hati nurani. Margareth yang akhirnya menyadari bahwa dia sesungguhnya tidak bisa memaksakan kehendak semaunya ketika ketulusan keluarga Paxton begitu menyentuh hatinya.

Ah, saya selalu suka dengan gaya Sandra Bullock di tiap filmnya. Sekarang ditambah dengan kepiawaian Ryan Reynolds dalam memainkan mimik mukanya, makin tambah bikin klop akting mereka berdua. Soal perbedaan usia antara mereka yang cukup jauh (Bullock 44, Reynolds 33) sepertinya nggak ada masalah deh. Toh orang lebih melihat isi filmnya dibanding dengan kehidupan asli pemerannya bukan? Fletcher juga pandai dalam mengarahkan dan menempatkan humor-humor di saat dan posisi yang pas. Jika menonton film ini, maka dari menit-menit awal maka film ini telah mampu memberikan rasa humor yang baru, dengan suasana lingkungan kantor. Tak hanya itu, permasalahan yang menjadi inti dari film ini pun dibuat dengan cara menghibur sehingga dapat dikatakan kalau film ini tidak membosankan dari menit awal hingga menit terakhir. Alurnya sendiri sangat enak diikuti dan selalu bikin penasaran, meskipun ujung-ujungnya juga gitu karena memang sudah jadi pakemnya romantic-comedy. Singkat kata : nggak ada yang mengecewakan.

Pesan moral yang saya catat & agaknya ingin disampaikan di film ini adalah just be nice & respect to anyone, kita tidak pernah tahu kapan kita justru akan membutuhkan mereka. Cinta juga bisa muncul kapan saja, dimana saja & melalui jalan yang tak terduga.

 

gambar dipinjam dari sini

Continue Reading