Popular Lewat Youtube


Dasar kau keong racun
Baru kenal eh ngajak tidur
Ngomong nggak sopan santun
Kau anggap aku ayam kampung
Kau rayu diriku
Kau goda diriku
Kau colek diriku
Eh ku takut sekali
tanpa basa basi kau ngajak happy happy
Eh kau tak tahu malu
Tanpa basa basi kau ngajak happy happy
….

Sepenggal syair lagu itu mendadak akrab di telinga kita akhir-akhir ini ya? Lirik yang terkesan nakal yang kalau iya mau direkam & diproses secara profesional belum tentu ada produser yang mau serius mengedarkan. Kecuali lagu itu diproduksi untuk pangsa pasar tertentu.

Kalau di twitter sendiri sudah jadi topik sebulan yang lalu & kini jadi trending topic diatas Justin Bieber, sebelum kemarin digantikan oleh Pong Hardjatmo yang mencoret-coret atap gedung DPR \m/ย  ;))ย  :-& . Banyak juga yang bertanya-tanya apa sih Keong Racun itu? Jenis hewan spesies baru? Atau julukan untuk siapa? Kenapa harus keong & hubungannya apa sama racun? Siapa yang menyanyi & banyak lagi pertanyaan lainnya. Padahal video dangdut koplo tarling yang dibawakan secara lipsync oleh dua orang remaja cantik Jojo & Shinta itu awalnya hanya untuk iseng. Maunya di upload di facebook sebagai video response buat dikirim ke pacar Jojo di luar negeri, tapi berhubung filenya terlalu besar & akses di facebook terlalu lama, akhirnya di-upload ke youtube. Tak disangka justru dari sanalah nama mereka dikenal. Bukan karena gaya mereka yang seronok, tapi justru karena wajah mereka yang imut & gaya yang lucu, padahal syairnya sangat .. ya begitulah.. ;))

Sekarang, nama mereka langsung meroket bak artis baru, padahal cuma modal lipsync doang, belum tentu mereka juga bisa menyanyi betulan atau punya bakat lainnya. Berkah yang tak disangka-sangka ya? Wong awalnya cuma iseng malah dikenal banyak orang. Ada yang pro dan tak sedikit pula yang kontra. Ada yang mengatakan kalau mereka meniru Momoy Palaboy, duo komedian asal Filipina yang juga mengawali karir mereka dari youtube.

Tak menampik bahwa akhir-akhir ini keberadaan youtube menjadi salah satu jalan pilihan menuju popularitas. Sebut saja Momoy Palaboy (James dan Rodfil) , Justin Bieber, Charmaine Clarice Relucio Pempengco (Charice) , dan sekarang Jojo & Shinta dengan Keong Racun-nya . Namun tentu saja Justin Bieber & Charice memang dari awal niat mempopulerkan diri dengan suaranya. Lain halnya dengan Momoy Palaboy & Jojo – Shinta yang mendapatkan keberuntungan dari sebuah keisengan.

Kebiasaan di Indonesia kalau ada satu yang lagi booming pasti akan diikuti oleh yang lainnya. Belum lama lagu Keong Racun ini trend dibawakan oleh duo lipsync Jojo-Shinta, Charlie ST12 sudah langsung mencoba mengaransemen lagu ini dengan musik khasnya dia yaitu musik Melayu, dibawakan oleh 2 penyanyi baru yang.. yah.. begitulah :-j. Tentu saja ini selama beberapa waktu akan menjadi trend kagetan sampai akhirnya masyarakat kita akan jenuh dengan sendirinya.

Ya, bukankah semua itu ada masanya? Nah, berhubung Keong Racun sudah pada khatam lihat video & lagunya kan (saya aslinya juga udah agak eneg sih), sekarang saya mau kasih yang Charice aja ya …

Selamat mendengarkan.. ๐Ÿ˜‰

Continue Reading

Dimanakah Kalian?

Jadi artis sepertinya masih salah satu favorit untuk mendulang rupiah. Termasuk menjadi seorang penyanyi. Kalau saya perhatikan kok kayanya jadi penyanyi itu sekarang gampang bener ya.. Asalkan punya tampang lumayan, suara pas-pasan pun bisa jadi penyanyi. Apalagi kalau sudah lebih dulu dikenal sebagai artis, jalan bakal lebih lempeng untuk menjadi penyanyi. Tinggal poles sana sini, taraa.. jadi penyanyi deh (alakadarnya).

Tapi yang ingin saya bicarakan disini bukan masalah jadi penyanyi itu gampang (sebelum saya ditabokin sama penyanyi-penyanyi baru yang bersuara ala kadarnya itu). Saya cuma pengen tanya, apa kabar sih artis-artis jebolan, AFI, KDI, Mamamia, Indonesian Idol, dan banyak lagi perlombaan sejenis yang sempat beberapa waktu sempat booming banget. Kemana ya mereka semua sekarang ini? Kok sepertinya tidak lagi terdengar gaungnya ๐Ÿ˜•

Jaman-jaman AFI (Akademi Fantasi Indosiar) marak diberitakan, teman-teman sayapun dengan heboh & fasih menceritakan kelebihan & kekurangan masing-masing peserta, mulai babak audisi sampai final. Tentu saja juga lengkap dengan kisah hidup di balik masing-masing pesertanya. Saya memang tidak seberapa tertarik mengikuti acara-acara pencarian bakat macam itu hanya kadang memang nonton tapi nggak rutin. Wong saya memang nggak pernah hafal jadwalnya ;))

AFI sukses dengan rating & dulangan rupiah dari iklan, diikuti dengan berbagai talent show sejenis di stasiun televisi lainnya. Sebut saja Indonesian Idol, KDI, Mamamia. Semua punya segmen penonton sendiri-sendiri. Punya jagoan favorit masing-masing. Kemasan & stasiun yang menayangkan boleh berbeda, tapi dari berbagai versi talent search itu ada satu kesamaaan format, pemenangnya bukan berdasarkan pilihan juri tapi berdasarkan polling sms. Siapa yang jadi favorit penonton & paling banyak perolehan smsnya, dialah yang akan jadi pemenangnya.

Dari awal saya sebenarnya kurang setuju kalau pemenangnya berdasarkan dari banyaknya sms yang masuk, karena kok sepertinya kurang fair ya. Bisa jadi si pilihan penonton itu menang bukan karena dia unggul secara kemampuan teknis tapi ada faktor lain yang mendorong penonton memilih dia, misal karena secara fisik memang menarik walaupun secara kualitas suara pas-pasan, latar belakang ekonomi, kisah pribadi yang mengharukan. Belum lagi keluarga & teman si peserta lomba yang sampai rela mengeluarkan uang jutaan rupiah hanya untuk membiayai pengiriman sms sebanyak-banyaknya supaya jagoan mereka menang. Saya bisa bicara seperti ini karena lebetulan salah satu keluarga teman saya ada yang masuk ke Indonesian Idol beberapa tahun lalu & melakukan hal yang sama ;))

Contoh gampangnya nih, jaman pertama kali AFI berjaya, maaf nih ya, menurut saya pemenangnya dari segi kualitas vokal sih biasa banget. Nggak terlalu istimewa (sama kaya saya deh) :p . Tapi berhubung kemenangannya berdasarkan pooling sms & berhasil memunculkan simpati penonton pada kisah hidupnya yang mengharu biru, jadilah dia menang walaupun dari segi kualitas vokal mepet banget. Baru yang season kedua itu agak mendingan karena si penyanyi memang sudah penyanyi & sering manggung. Lalu bagaimana dengan berikut-berikutnya? Ah, biasa banget, lebih ke jualan reality show. Setelah menang mereka tampil hanya di acara-acara on air Indosiar tapi hanya waktu di awal-awal kemenangan mereka saja (waktu AFI masih booming & masih banyak yang suka). Setelah itu? Hello, where are you guys?

Indonesian Idol , di awal-awal tayang saya sempat simpati karena kok kayanya kualitas vokal & kemampuan pesertanya lebih bagus daripada acara sejenis di stasiun televisi lain ya? Ditambah lagi ketika para finalisnya (angkatan pertama) memang layak untuk masuk babak final walaupun berdasarkan polling sms, saya mulai mengakui kalau opini saya tentang kemenangan by pooling sms itu kurang fair. Walaupun akhirnya Joy Tobing memilih untuk menyerahkan mahkota kemenangan pada Delon yang juga mendapat simpati tak kalah banyaknya karena selain dia ganteng (uhuk!), kisah hidupnya juga cukup menumbuhkan simpati penonton. Maka relatif tidak jadi masalah ketika pemenang satu diserahkan kepada runner up. Toh masih sebelas-dua belas ini kualitasnya.ย  Season kedua masih lumayanlah. Tapi makin kesini-kesini, eh kok biasa aja ya? Malah cenderung menurun kalau menurut saya. Pemenangnyapun kayanya setelah menang harus berjuang sendiri mencari order manggung. Hanya Delon, Lucky, Mike, Judika yang masih lumayan sering terihat di acara-acara on air televisi. Yang lain, nggak ada kabarnya. Mike juga masih sering tampil di istana atau di KBRI untuk acara kenegaraan walaupun sejauh ini sih saya belum pernah lihat langsung ya, soalnya belum pernah diundang ke istana walaupun kantornya sebelahan ๐Ÿ˜€

Satu lagi Mamamia, itu acara sebenernya bagus, tapi kayanya kelamaan acara hahahihi-nya jadi berasa nonton acara lawak daripada acara pencarian bakat menyanyi :-?. Itu juga bernasib sama, apa kabar itu pemenangnya ya? Si mamanya kemana, anaknya juga sekarang ngapain. Sama sekali enggak jelas. Kesan yang saya tangkap kok malah sekedar mencoba mencari peruntungan menjadi artis ya? Emang dipikir nanti setelah jadi artis gampang apa? Cih, kaya pernah jadi artis aja ya (monggo kalau mau ngeplak saya lho) ;))

Itu baru sebagian contoh dari sekian banyak acara sejenis. Walaupun konsepnya sama dengan di luar negeri, tapi tetap berbeda banget dengan talent show sejenis di Amerika. Misal saja, American Idol gaung pemenangnya itu sampai sekarang masih berasa banget. Para alumnus American Idol, sebut saja Kelly Clarkson, David Cook, Jordan Sparks, dan Katherine McPhee karir mereka nggak cuma berhenti sampai jadi pemenang Idol saja, tapi ada lanjutan karir setelah proses menjadi Idol itu. Meskipun kemenangan mereka awalnya juga berdasarkan polling sms. Tapi secara kualitas mereka juga “megang banget”.

Buat saya power & kelebihan yang dimiliki oleh sang pemenang jika tidak didukung oleh manajemen & promosi yang bagus akan sia-sia. Karena, walaupun dia memiliki potensi yang dahsyat sebagai seorang bintang namun jika orang-orang yang ada dibalik layar manajemen tidak bergerak secara maksimal, mau setahun atau beberapa tahun ke depan progress sang artis akan terlihat statis dan jalan di tempat.

Ah, anggap saja ini cuma pendapat saya yang sirik sumirik karena nggak bisa ikut acara talent show kaya gini ya ;)). Pertanyaan saya selanjutnya adalahย  : bagi mereka yang sudah menjadi pemenang sebuah acara pencarian bakat lokal bagusnya bagaimana sih? Apakah mereka harus mengatur sendiri karir mereka misalnya dengan membuat manajemen sendiri, atau lebih baik bergabung dengan manajemen artis yang sudah punya nama?

Bagaimana menurut kalian? ๐Ÿ™‚

Continue Reading

Uniknya Sebuah Fanatisme

Afghan, siapa sih yang tidak mengenal icon penyanyi bersuara berat tapi merdu ini (istilahnya apa sih?). Sejak penampilannya tahun lalu Afghan sudah merebut banyak hati, terutama kaum wanita. Bukan hanya tampilan fisik si pria berkacamata ini saja yang memikat para penggemar perempuannya, tapi utamanya adalah dari segi suara yang mantap dan penampilannya yang selalu rapi.

Pertama kali dengar suara Afghan pas iseng search di youtube. Waktu itu dia menyanyikan lagunya John Legend – Ordinary People, saya malah sempat bilang suara dia lebih bagus dari suara penyanyi aslinya ;)) *lirik-lirik John Legend*. Sampai sayapun mempengaruhi teman-teman kantor saya buat beli kaset si penyanyi baru ini (justru saya yang enggak). Soalnya ya itu tadi, biasa-biasa aja. Suka, tapi nggak terlalu. Jujur saya juga bukan penggemarnya Afghan sih. Jadi kalau soal fanatisme sama dia terbilang jauhlah ya. Bukan pria type saya juga soalnya. Apa siih *plaak!* :)) .

Sepertinya saya memang bukan fans yang baik ya, yang setiap kali artisnya tampil kitanya selalu larut dalam fanatisme dan histeria. Bandingkan dengan saya yang adem ayem. Kalau saya suka sama artis ya sudah, suka mah suka aja. Tapi nggak sampai yang kemana-mana mesti mengikuti dia konser, ngoleksi foto-foto dia, tanda tangannya. Ya bukan apa-apa sih, males aja, ribet, capek :)). Ups, maaf ya buat para fans berat.. *melipir ke kolong meja*

Ada nih temen saya yang saking ngefansnya sama Afghan dia mengikuti kemanapun Afghan show (mulai di Citos, MoI, Ponds Teen Concert, Pasific Place, semua diikuti), ikut milist penggemarnya, update berita terbarunya, koleksi fotonya, dll *dadah-dadah sama Kika :-h * . Bahkan suami dan anaknyapun dilibatkan untuk menjadi Afghanisme (sebutan bagi penggemar Afghan) :D. Usianya sih sepantaran sama saya, tapi semangat buat ngikutin Afghan tampil nggak kalah sama abege-abege lho. Eh, emang ada aturannya umur berapa harus ngefans sama penyanyi tertentu? err.. enggak kan ya? ;)) . Ya maksudnya kan Afghan itu umurnya masih terbilang “piyik” gitu, walaupun suaranya sudah “mateng” banget (atau saya berarti yang sudah “ketuaan” ya? ๐Ÿ˜• )

Atau ada juga yang ngefans banget sama Dude Herlino, yang buat teman saya ini type lelaki sempurna. Sabar, shaleh, romantis. Ah, semoga dia nggak termakan karakter protagonisnya Dude di sinetron-sinetron ya ๐Ÿ™‚ . Sampai saking ngefansnya tiap kali Dude muncul di tivi dia selalu histeris, suka cita, riang gembira, sambil senyum-senyum sendiri kaya orang yang ketemu pacarnya. Belum lagi tiap kali ada majalah yang memuat profil Dude, pasti langsung beli. Entah mau dibahas cuma berapa paragraf juga kalau membahas profilnya Dude mah bakal dibeli sama dia ๐Ÿ˜€ .

Entah ya kalau soal ngefans-ngefans’an sama artis saya itu termasuk yang golongan rata-rata. Nggak ada fanatismenya samasekali. Mulai ABG sudah terpola seperti itu. Ketika semua pada ngefans sama musiknya NKOTB saya justru ngefans sama.. musik padang pasir.. eh enggak ding ;)) . Saya biasa-biasa aja. Kalaupun toh sekarang misal saya suka sama Neri Per Caso sekalipun, saya nggak semuanya hafal lagu-lagunya, cuma lagu-lagu tertentu yang menurut saya ear catchy aja. Di tiap konsernyapun saya nggak pernah datang bukan apa-apa, jauh & sayanya nggak punya duit :-j . Itu alasan utamanya :-” . Ya kalau saya ngakunya ngefans tapi setengah-setengah, mungkin saya yang aneh dan belum bisa digolongkan sebagai fans ya. Whateverlah ya.. =;

Pernah nih ya -ah saya jadi membuka aib sendiri nih- pas saya hamil, pergilah saya ke Senayan City bersama suami. Iya, ke mall yang banyak baby trolley dimana-mana itu, saking leganya. Tak disangka, tak dinyana di lantai 1 ternyata ada acaranya salah satu bank yang menyeponsori penampilan Yovie and Nuno. Saya yang sebenarnya nggak terlalu ngefans sama mereka (biasa aja, suka sama lagu-lagunya, tapi ya.. biasa aja gitu), lha kok ya mendadak pengen banget lihat tampilan mereka kaya orang yang ngefans berat. Sampai suami saya suruh ambil kamera dan saya sendiri asyik merangsek ke depan panggung menerobos kerumunan penonton yang rata-rata abege dan ibu-ibu muda itu. Giliran suami saya yang jentungnya ajrut-ajrutan melihat saya nekad ketengah kerumunan. Ibu hamil yang nekat :)) .

Berhasilkah saya merangsek ke depan? Bisa, tentunya dengan melindungi perut saya yang sudah mulai besar itu dari sikutan fans mereka dari kiri-kanan. Itulah pertama kali saya merasakan “histeria” menjadi fans dadakan pada grup band yang saya nggak ngefans. Bingung nggak sih bahasanya? ๐Ÿ™ . Sampai di back stage saya bela-belain malu-malu pengen minta difoto sama Yovie. Berhasilkah saya? Tentu! Tentu tidak ~X . Gimana saya mau foto wong suami saya nggak mau motoin saya berdua sama dia. Reaksi saya? Ngambeg & pulang kerumah naik taksi =)) :-q . Masyaallah, ajaib banget tingkah saya waktu itu. Sampai dirumahpun juga jadi heran sendiri. Ini saya memang ngefans atau bawaan bayi sih? Kayanya sih bawaan bayi ya. Sampai pas saya cerita sama teman saya dia ngetawain abis-abisan *dadah-dadah sama Andrew :-h *. Tapi habis itu dia ngirimin saya fotonya Yovie lengkap dengan tandatangannya, mungkin dia kasian denger cerita saya ya. Awalnya sih percaya kalau itu dari Yovie, tapi beberapa menit kemudian saya curiga tandatangan dan pesan spesial buat saya itu adalah hasil olah photoshop. And, yes it was.. :)) . Katanya biar anak saya nggak ngileran kalau sampai ada keinginan yang nggak kesampaian ;;) .

Tapi uniknya, sejak itu saya jadi ikut merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang fans berat. Bagaimana histerianya (walaupun saya nggak sampai teriak-teriak ya), euforianya (sampai ada yang pingsan dan nangis-nangis) yang buat waktu itu selalu berpikir, “ya ampun, lebay banget sih? biasa aja napa?”, dan cintanya sama idola mereka. Masih bersyukur saya nggak sampai yang seperti itu :p, kalau sampai kaya begitu bukan apa-apa yang repot suami saya kalo saya pingsan berkali-kali setelah histeris melihat idola saya ;)) .

Nggak, nggak ada yang salah dengan fanatisme. Siapapun bisa menjadi fanatik dan kecanduan terhadap sesuatu atau seseorang. Seperti halnya kecanduan dan ngefans membeli barang-barang branded, misalnya. Kalau nggak pakai tas Louis Vuitton tangannya bakal gatel-gatel. Atau kalau nggak pakai Manolo Blahnik kakinya jadi pecah-pecah. Atau nggak pakai Michael Korrs badannya jadi panuan.Itu contoh superlebaynya. Saya yakin nggak gitu-gitu amat kok. Kalaupun iya bener begitu, ah itu cuma kebetulan saja ;;) *ngeles*

Tapi diluar itu semua yang paling penting adalah kontrol diri. Jangan sampai saking ngefansnya kita sama mereka seolah-olah kita jadi menuhankan mereka (beuh, lebay banget ya bahasa saya? hehehe..). Ngefans boleh. Nggak ada yang ngelarang. Ngikutin kemanapun idolanya konser, monggo (wong itu duit-duit Anda sendiri kan?). Mau capek-capek ngejar idolanya kesana-kemari ya boleh, wong ya badan-badan Anda sendiri. Memang ada sebuah kepuasan yang akan kita rasakan ketika kita berhasil menonton mereka tampil, melihat mereka dari dekat, merasakan kehadirannya, mendengar suaranya, atau berfoto bersama mereka, dan itu semua sah-sah saja kok.. :-bd

Jadi.. Anda termasuk salah satu fans berat artis nggak sih? ๐Ÿ˜‰

Continue Reading

Sandhy Sondoro : Berkilau Di Negeri Orang

Saya mengenal nama Sandhy Sondoro sekitar tahun 2007 lalu ketika salah satu sahabat saya yang tinggal di Jerman “mengenalkan” Sandhy pada saya akanย  kedahsyatan suaranya. Mengenalkan bukan saya kenalan langsung ya, tapi mulai sedikit meracuni telinga saya pelan-pelan. Sandhy who? Sempat mengernyitkan dahi. Kenapa sih teman saya ini getol banget mempromosikan si Sandhy. Mempromosikan dalam arti mengenalkan suaranya via website pribadinya. Ya okelah, saya dengerin dulu ya.

Oh My God.. suaranya bikin saya langsung merinding. Bukan karena suaranya mirip kuntilanak lagi ketawa ya..ย  Tapi suaranya itu lho megang banget! James Morrison sih lewat…. :p

Eerrr.. reaksi berlebihankah? Saya rasa tidak. Siapapun yang mendengar suara adorable macam punya Sandhy ini pasti komentarnya sama seperti saya kok.. ๐Ÿ™‚

Banyak yang terkejut ketika pertama kali mendengar suara “rockige rauhe Stimme” atau serak-serak nge-rock milik mantan penyanyi kafe di Berlin ini. Begitu pula dengan dewan juri New Wave 2009 (ajang kompetisi bakat internasional di kawasan Eropa Timur). Siapa sangka kalau kontestan berperawakan mungil ini ternyata memiliki suara sekelas Rod Steward, Michael Bolton, Lenny Kravitz, dan dari Indonesia pula, karena daratan Eropa kurang percaya kalau orang Asia bisa punya suara semantap Sandy. Walau gaya menyanyinya si Sandhy ini ‘flummy’ (gaya si bola bekel yang mental-mental nggak bisa diem) tapi suara dia memang bagus & hampir semua juri mengaku sangat menikmati penampilan Sandy.

atau disini :

Ssndy sempat dijuluki oleh para musisi hitam di Jerman ‘Indo-Nigger’ lantaran suaranya yang begitu ‘black’ & jarang dimiliki oleh penyanyi Asia. Suaranya juga ‘pure’ (tidak diutak-atik mixer studio) & jernih,ย  tidak seperti penyanyi-penyanyi dadakan yang sering wira-wiri di acara tv kita akhir-akhir ini

Pria dalam rentang usia yang terbilang matang ini ternyata harus melalui hidup yang penuh lika-liku sebelum akhirnya dia mulai banyak dikenal banyak orang seperti sekarang. Kecintaannya pada musik & keharusannya menyambung hidup di kota hi-tech Berlin sambil menyelesaikan kuliah membuatnya harus menjalani hidup sebagai musisi jalanan, menyanyi dari kafe ke kafe, mengamen di Metro & di subway. Namun ternyata semua kesulitan itu berbuah hasil yang manis.

Kesuksesan itu justru berawal dari negara si Adolfย  Hitler ini. Lagu yang cukup terkenal adalah Down On The Street, boleh dikatakan sebagai detail soundtrack kehidupannya sebagai penyanyi & pengalamannya ber-jam session dengan musisi-musisi Jerman.

Tak hanya menyanyi, kemampuannya menulis & mengaransemen lagu membuatnya menjadi salah satu musisi yang disegani di Jerman. Sangat menarik jika mengikuti perjalanan karirnya di jagad hiburan yang justru membuatnya lebih dikenal di negeri orang. Layaknya Anggun yang juga menjadi salah satu diva Internasional karena perjuangannya menjadi penyanyi yang cukup diperhitungkan di Perancis. Lalu Wisnu yang jadi salah satu finalis Norwegian Idol. Kini disusul Sandhy Sondoro.. Ah, makin bangga saya sama kalian ๐Ÿ™‚

Kadang justru rasa nasionalisme itu muncul lebih kuat ketika kita jauh di negeri orang ya. Ikut bangga rasanya ketika ada anak bangsa yang bisa maju & mengharumkan nama Indonesia di negeri orang seperti mereka. So, who will be the next?ย  ๐Ÿ˜‰

gambar dari sini

Continue Reading

Don't Judge the book from it's cover ..

Seringkali kita terjebak & terpesona oleh tampilan luar, fisik yang menarik, kemasan yang aduhai. Padahal belum tampilan luar sebagus isinya & disitulah kita seringkali tertipu. Kadang kita hanya mau menerima seseorang yang sama dengan kita, yang sejajar, yang selevel dengan kita. Mengecilkan keberadaan orang lain yang kita anggap aneh & tak sepadan.

Sebenarnya ini adalah posting lama di blog saya, yang menceritakan tentang seorang unemployment bernama Susan Boyle, seorang wanita usia 47 tahun yang nekad mengikuti ajang pemilihan Britain Got Talent 2009. Jika melihat tampilan fisiknya yang “enggak banget” siapapun bakal mikir, “dih, emang situ bisa apa sih? Apa? nyanyi? Yakin suara kamu bagus? Kagak kalah bagus sama kaleng rombeng?”, sambil melihat dengan sinis dari atas kebawah. Sama halnya dnegan kita yang saat pertama kali memandang seseorang yang di mata kita kurang ok, aneh, atau pandangan underestimate yang lain, banyak kalangan yang mencibir & meremehkan penampilan Susan yang jauh dari cantik (jika kita melihat dengan ukuran & kacamata calon artis, calon superdiva, calon selebritis, calon mahabintang atau superstar yang idealnya ya pasti dari segi fisik ada selling point-nyalah : cantik, langsing, enak dilihat, fabulous).

Tapi apa yang terjadi setelah beberapa waktu mereka merendahkan Susan? Membuat komentar miring, mentertawakan, dll. Apa reaksi mereka ketika Susan mulai menyanyi? Ekspresi mereka bukan hanya ternganga, kagum, tapi juga sampai rela memberikan standing applause untuk suaranya yang dahsyat, tak terkecuali para juri yang tadinya juga memandang sebelah mata. This reality show was so inspiring. Menyadarkan mata banyak orang bahwa tak selamanya yang terlihat buruk itu pasti buruk. Tak selamanya seseorang yang berpakaian kumal, sangar & bertato itu pasti penjahat. Tak selamanya orang yang lemah itu terlihat selemah apa yang kita sangka.

Belajar menerima seseorang in a whole package, lengkap dengan segala kelebihan & kekurangannya. Karena dibalik kekurangan pasti ada kelebihan yang kita tidak sangka-sangka.

I dreamed a dream in time gone by
When hope was high and life worth living
I dreamed that love would never die
I dreamed that God would be forgiving

Then I was young and unafraid
And dreams were made and used and wasted
There was no ransom to be paid
No song unsung, no wine untasted

But the tigers come at night
With their voices soft as thunder
As they turn your hope apart
As they turn your dreams to shame

And still I dream heโ€™d come to me
That we would live the years together
But there are dreams that cannot be
And there are storms we cannot weather

I had a dream my life would be
So different from the hell Iโ€™m living
So different now from what it seemed
Now life has killed the dream I dreamed

(I Dreamed A Dream โ€“ Les Miserables)

gambar dipinjam dari sini

Continue Reading