Viral

go-viral

Beberapa waktu ini banyak sekali penggunaan kata ‘viral’ baik itu di media online maupun di kehidupan sehari-hari. Definisi viral kurang lebihnya adalah ‘sesuatu’ yang bisa jadi sangat cepat menjadi populer, seperti sebuah ‘virus’ yang menyebar salinan dirinya atau bermutasi.

‘Sesuatu’ di sini bisa berarti orang, tempat, foto, pikiran, trend, atau bahkan sebuah informasi. Kalau kita bicara tentang social media, viral lebih lekat kepada video, foto, atau cerita yang dimulai dari mereka sendiri, yang kemudian menyebar di semua lini platform social media. Bisa jadi yang awal mulanya cuma berupa status yang ditulis di social media, berhubung banyak yang menyebarluaskan, jadilah dia sebuah status viral. Kalau masih ingat, kita bisa ambil contoh kasus status Dinda yang awalnya cuma bermaksud curhat tentang kekesalannya terhadap para ibu hamil yang (menurut dia) manja karena selalu minta dikasihani dan minta tempat duduk, tapi berhubung status itu dia tuangkan di social media, dan ‘ndilalah’ ada yang me-repath statusnya, maka dengan cepat status itu tersebar, seketika menjadi berita viral, dan Dinda pun menjadi bahan bully-an massal di social media. Dinda dianggap kurang memiliki rasa empati.

Bagaimana dengan trend yang menjadi viral? Apakah kalian pernah menjadi bagian dari trend mannequin challenge, Harlem Shake, atau mungkin bagian dari trend pengunggah video parodi Pen Pinneaple Apple Pen-nya Piko Taro? Kalau iya, kalian adalah bagian dari trend viral itu. Mannequin challenge misalnya, dengan begitu banyaknya orang yang mengikuti trend ini, seolah seluruh dunia menjadi diorama hidup. Walaupun bagi sebagian orang itu konyol, tapi banyak juga yang melakukan itu, karena selain dianggap keren juga bagian dari hal yang kekinian. Padahal, kalau kalian menyadari, mannequin challenge itu sudah pernah dilakukan oleh salah satu artis Indonesia jauh sebelum trend ini mengemuka lho. Tidak percaya? Klik saja videonya Deasy Ratnasari yang berjudul Tenda Biru , hihihik.

Di dalam kehidupan sehari-hari pun kata viral sudah mulai banyak dipergunakan. Bahkan di tempat kerja saya, beberapa pejabat sering menggunakan kata “viralkan!” sebagai kata ganti sebar luaskan informasi kepada pejabat/pegawai lainnya di lingkungan kantor kami.

Di social media, banyak orang yang ingin dikenal banyak orang. Mereka melakukan segala cara untuk bisa terkenal, alias menjadi selebriti online. Wajar, karena menjadi lebih dikenal oleh orang lain adalah salah satu tujuan diciptakannya social media.

Tapi, benarkah semua orang berkeinginan untuk menjadi viral baik di dunia nyata maupun maya? Selama viral itu dalam konteks yang positif mungkin masih masuk akal. Tapi kalau konteksnya sudah negatif, rasanya tidak mungkin ada yang bercita-cita menjadi viral, ya.

Seseorang yang sedang menjadi ‘viral’ negatif di sebuah lingkungan tertentu ada kalanya dia sendiri tidak sadar kalau sedang jadi trending topic di lingkungannya. Mungkin ini lebih didasari karena kekurangpekaan orang tersebut terhadap lingkungan. Sekalipun ada pihak-pihak yang memberikan klarifikasi bahwa tidak sepenuhnya si objek yang menjadi viral itu senegatif yang disangkakan orang lain, tapi tetap akan kalah dengan asumsi yang sudah terlanjur beredar di lingkungan tersebut. Ya, namanya saja viral, virus, penyebarannya bisa sangat cepat, tanpa tahu dari mana asal muasalnya.

Belajar dari pengalaman orang lain (yang sempat jadi viral), kunci supaya kita tidak menjadi viral negatif adalah dengan menjadi lebih peka dengan lingkungan di mana kita berada; more overmenjaga lisan, pikiran, dan perbuatan, itu jauh lebih penting, karena tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Begitu, bukan? Bukaaaan….

Sebagai manusia toh nyatanya kita tidak selalu tahu apa yang ada di diri kita, sekalipun kita kerap mengklaim demikian. Sebagaimana tertera dalam teori 4 kuadran Johari Window yang mencerminkan tingkat keterbukaan seseorang yang dibagi dalam empat kuadran, yaitu open area, blind area, hidden area, dan unknown area. Johari Window ini dikenal sebagai jendela komunikasi melalui mana kita memberi dan menerima informasi tentang diri kita dan orang lain.

Dalam hal berita viral (negatif) singkat saja, area/kuadran ‘blind‘ adalah area paling rapuh dalam diri kita, karena di kuadran ini berisikan apa yang orang lain ketahui tentang kita, tapi tidak kita ketahui. Dengan mengurangi blind area, selain akan meningkatkan kesadaran diri, juga akan meningkatkan hubungan interpersonal kita dengan orang lain.

Lumrah, kalau manusia seringkali tanpa sadar lupa/khilaf, tanpa sengaja telah melakukan hal-hal yang kurang bisa diterima oleh lingkungan tempatnya berada. Beruntung kalau kita cepat sadar, dan segera mengubah perilaku kita, tapi bagaimana kalau ternyata kita terlalu lama ‘pingsannya’, nggak sadar-sadar kalau ternyata selama ini sudah jadi bahan pembicaraan? Harus ada orang yang memberi tahu, karena kita sedang berada di blind area. Tapi bagaimana kalau ternyata walaupun orang lain tahu, tapi mereka segan menegur kita karena (di mata orang lain) kita adalah tipe manusia dengan ‘daya ledak tinggi’, emosian. Jadi dari pada cari masalah mending diamsajalah; malas ribut.

Jadi, tidak ada salahnya mulai berintrospeksi, lebih peka, coba mengubah cara pandang (point of view), dan mulai lebih luwes dalam menerima kritik selama itu membangun. Namanya manusia kan gudangnya luput dan salah ya. Bersyukur jika masih ada hati dan pikiran sehat yang menjadi filter pencari kebenaran yang sesungguhnya. Bersyukur kalau masih ada orang lain yang mau peduli, mengingatkan, bahkan rela menjadi bumper untuk kita, semata-mata karena mereka masih menganggap kita sebagai teman.

Last but not least, mencoba untuk melawan atau mengendalikan materi viral sama saja seperti berperang melawan flu. Kita bisa saja mengambil langkah-langkah untuk mencegah jangan sampai kita terkena flu, tapi sekali saja virus itu telah memasuki aliran darah kita, tidak akan ada yang bisa kita lakukan selain menunggu virus itu keluar dengan sendirinya.

Duh, sore-sore kok serius amat postingannya, ya? Ngopi dulu bisa kali, Kak!
*beberes meja sambil menunggu ojek online*

 

 

sumber ilustrasi dari sini

Continue Reading

Hello, 2017!

happy-new-year

Hai, selamat tahun baru 2017, ya! Alhamdulillah, terbit juga artikel pertama di tahun ini, hihihik.Semoga tahun 2017 ini kita semua diberikan kesehatan, keberkahan yang luar biasa, kebahagiaan, kesuksesan, tahun di mana terwujudnya semuacita-cita yangbelum kesampaian di tahun-tahun sebelumnya. Dan semoga di tahun 2017 ini saya lebih rajin menulis, dibandingkan dengan tahun 2016 yang lebih banyak hibernasinya.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, saya melewatkan moment pergantian tahun dengan sedikit berbeda. Kalau tahun-tahun sebelumnya saya melewatkan pergantian tahun di Jakarta, kali ini saya sekeluarga pergi ke kota sebelah. iya, Bogor. Tujuan utamanya sih sebenarnya bukan khusus merayakan pergantian tahun Masehi, tapi lebih ke bersilaturahim ke rumah tante.

Jujur, saya bukan orang yang antusias merayakan pergantian tahun, apalagi pakai acara begadang. Mata saya itu sudah ada jam tidurnya, jadi sudah bisa dipastikan nggak bakal betah kalau diajak melekan. Makanya saya jarang nonton wayang, salah satu alasannya karena nggak kuat begadang.Dari dulu, moment pergantian tahun hampir selalu saya lalui dengan biasa-biasa saja, alias tidur. Apalagi ketika sudah ada anak, jam tidur saya jadi mendadak random, bahkan sering kali ikut bablas ketiduran sampai pagi sambil ngeloni Alea.

Oh ya, sebelum ke rumah tante, kami mampir dulu untuk makan siang bersama di Pasar Ahpoong, Sentul. Selepas makan siang barulah kami meluncur ke rumah tante di daerah Cimanggu. Nah, ada kejadian lucu nih pas di rumah tante. Biasanya kan kalau pergantian tahun identik dengan barbeque-an, bakar-bakaran jagung, sate-satean, atau makan rebus-rebusan apalah. Dan biasanya itu dilakukan di jam-jam menjelang pergantian tahun. Ketika kamidi rumah tante ini beda. Entah tante yang kerajinan, atau kami yang kelaparan, tanpa menunggu gemuruh bunyi kembang api dan petasan, hidangan yang sudah tersedia sejak pukul 19.00 itu langsung ludes tak bersisa dalam waktu kurang dari 30 menit. Begitu juga nasib nasi goreng dan martabak manis/gurih, semua tandas sebelum tengah malam. Bukan itu saja, saya sendiri langsung terkapar lelap tidur di samping Alea sejak pukul 21.00, begitu juga dengan anggota keluarga yang lain, tidak ada satu pun yang terjaga di detik-detik pergantian tahun. Niatan menyaksikan perayaan pergantian tahun di sekitaran Tugu Kujang itu pun pupus dengan sendirinya. Jadi ini judulnya pindah makan dan tidur saja ke Bogor. Zzzzz…. zzzz….

20170105_221335

Paginya ketika saya scroll timeline di sosial media ada banyak cerita tentang moment pergantian tahun baru. Ada yang menggelar pengajian, ada yang nonton konser, ada yang camping, ada yang sibuk menulis resolusi, ada yang menginap di hotel, ada yang melewatkan moment pergantian tahun di luar negeri, dan banyak cerita lainnya. Tapi saya yakin, yang punya cerita seperti saya pun tak kalah banyaknya.Iya, saya cari teman…

Keesokan paginya, kami on the spot saja memutuskan untuk jalan ke Kuntum Farmfield di daerah Tajur. Alasan utama saya ke sana sih selain mengajak anggota keluarga piknik, juga supaya Alea lebih mengenal binatang dan alam. Anak-anak seusia Alea kan sedang antusias-antusiasnya mengenal hewan, tumbuhan, dan warna. Jadi di Kuntum Farmfield itu Alea bisa piknik sambil belajar mengenal alam dan lingkungan.

Konsep yang disajikan Kuntum Farmfield kurang lebih hampir sama dengan Farmhouse yang ada di Bandung. Bedanya harga tiket masuknya kalau di Farmhouse kita cukup membayar sebesar Rp.20.000,00/orang sudah termasuk welcome drink atau sosis bakar. Sedangkan di Kuntum Farmfield harga tiket masuknya sebesar Rp.40.000,00/orang. Kalau dari segi lahan, keragaman tanaman, dan binatang lebih banyak di Kuntum Farmfield sih. Kuntum Farmfield lebih ke agrowisata, jadi memang didesain semacam gabungan antara perkebunan dan peternakan. Kalau Farmhouse konsepnya hampir sama, peternakan di dalam area perkebunan juga, tapi digabung dengan fasilitas wisata unik ala-ala Eropa. Eh, di sini banyak spot yang fotogenic dan instagramable lho...

Jadi, buat saya, moment pergantian tahun 2016 ke 2017 kemarin benar-benar moment untuk keluarga. Walaupun hanya di rumah saja, tidak ke mana-mana, dan lelap semua, tapi justru di situ letak keunikan perayaan tahun baru di keluarga kami. Ya, namanya juga antimainstream, jadi ya harus beda dong dengan acara kekinian lainnya, hihihik.

Bagaimana cerita kalian melewatkan pergantian tahun ini? Semoga tak kalah serunya ya…

 

 

sumber gambar: Pinterest dan koleksi pribadi

Continue Reading

Pamer di Sosial Media

sosial-media

Suatu siang, di sudut sebuah rumah makan cepat saji di daerah Pecenongan, saya melewatkan waktu makan siang dengan para sahabat saya. Seperti biasa, obrolan dengan topik random meluncur satu persatu dari mulut kami, kebanyakan sih memang ladies talk selain topik-topik lainnya yang ‘ghibahable’.

Sampai akhirnya salah satu dari kami membuka topik yang sedikit serius. Tentang pamer di sosial media, gara-gara ada salah satu teman mereka yang baru saja meng-instastory-kan bayar DP gedung buat resepsi, hahaha…

Seperti yang kita semua tahu, sosial media itu seperti sebuah show room yang sangat luas di mana kita bisa memamerkan tentang apapun. Mulai status, popularitas, prestasi, gaya hidup, hobi, kehidupan pernikahan/keluarga, bisnis yang sedang dijalankan, tempat hangout/liburan, dan lainnya, karena sosial media salah satunya memang dirancang secara sempurna untuk ‘memanipulasi’ keinginan kita untuk pamer/sharing/berbagi, keinginan untuk diperhatikan oleh orang lain, termasuk sebagai media yang bisa digunakan untuk membenci sesuatu/orang lain secara bersama-sama.

Contoh kecil, ketika seseorang berkesempatan pergi ke suatu tempat, mengunggah foto tempat itu secara online adalah sebagai bukti otentik pengalaman luar biasa yang dunia harus tahu, karena kalau tidak diunggah, sama saja dengan hoax.

Mungkin saja bagi si pemilik akun, apa yang mereka unggah itu bukan bermaksud untuk pamer, cuma ingin berbagi kebahagiaan misalnya, tapi toh nyatanya tidak semua orang bisa menerima maksud dan tujuan pemilik akun, bukan? Apalagi kalau yang diunggah itu mengandung hal-hal yang sensitif bagi orang lain; dan tingkat sensitivitas seseorang terhadap sesuatu pasti berbeda-beda, tergantung melihat dari sudut pandang yang mana.

Contoh lagi, sebuah kencan pertama yang sempurna itu wajib diunggah di sosial media, apalagi kalau pasangan yang kita kencani itu wajahnya memang ‘social media uploadable’, layak dipamerkan di sosial media. Pokoknya unggah saja dulu, soal kualitas dan kepribadian dia bagaimana itu urusan nanti.

Okelah ya, tapi tanpa kita sadari ternyata tidak semua orang suka dengan unggahan kita. Misalnya saja orang-orang yang kebetulan belum memiliki pasangan, unggahan romantis yang muncul di newsfeeds mereka itu sama seperti sebuah ‘reminder‘ kalau mereka belum memiliki pasangan yang bisa dipamerkan ke sosial media, padahal semua orang sudah punya hubungan yang ‘sempurna’ dengan orang lain.

Jujur, dulu ketika saya belum hamil, saya paling sensitif kalau melihat ada teman yang sedang hamil. Kalau cuma hamil saja sih masih bisa saya terima, tapi kalau sudah mulai baca status keluhan selama kehamilan, yang mual, muntah, letih, lesu, dan segala hal yang menyangkut kehamilan, yang seolah-olah itu siksaan banget itu kok berasa lebay gimana ya. Yang namanya hamil pasti akan ada perubahan signifikan di kondisi badan, tapi ya wajar, karena ada janin yang sedang tumbuh berkembang dalam rahim kita. Silakan saja mengabarkan tentang status kehamilan, tapi (menurut saya) tidak perlu sampai ekstrem mengunggah status keluhan selama hamil tiap 5 menit sekali. Percayalah, saat-saat hamil itu justru saat yang paling precious bagi seorang perempuan, dan akan dirindukan ketika sudah lama tidak hamil, jadi ya sudah nikmati saja segala prosesnya, jangan terlalu banyak mengeluh. Bukan berarti jangan mengeluh, sewajarnya saja. Bawel banget ya saya? Hahaha… Tapi itu dulu, ketika saya masih suka sensi-sensian.

Ketika ahamdulillah akhirnya saya pun mendapat rezeki yang sama dari Allah berupa kehamilan yang sehat sampai dengan kelahiran, di situ saya banyak belajar arti menghargai perasaan orang lain. Sekalipun saya merasa amat sangat bahagia karena akhirnya hamil juga setelah menunggu selama lebih dari 5 tahun, tapi kebalikannya, saya justru lebih tertutup di sosial media. Jangankan menulis blog, up date status di gadget dan sosial media pun sengaja saya batasi. Kalau pun iya saya up date status, tidak ada hubungannya sama sekali dengan kehamilan saya. Biarlah mereka tahu dengan sendirinya, tanpa saya harus bereuphoria di sosial media, atau status di gadget saya, mengingat adik saya, beberapa kerabat, serta sahabat saya lainnya juga masih belum dikaruniai momongan hingga saat ini.

Nah, bagaimana dengan pamer lainnya, misalkan baru beli rumah, mobil, bayar DP gedung untuk resepsi, dan lainnya. Ya, di era sosial media, semua sah-sah saja, karena saat ini nilai-nilai yang dianut mayoritas orang memang ketenaran atau pengakuan diri oleh lingkungan sosial. Tidak ada yang salah dengan ketenaran atau sharing tentang sebuah pencapaian saat itu, karena bagi sebagian orang itu bisa memberikan kepuasan psikologi.

“Tapi kan kesel ya, Kak. Kan mereka baru pacaran, masa sudah pamer beli rumah? Biasa aja kali…”

Setiap orang punya motivasi berbeda ketika mengunggah sesuatu ke sosial media mereka. Tinggal kita melihat hal itu dari sudut pandang yang mana. Siapa tahu memang mereka sudah ada rencana akan menikah dalam waktu dekat, jadi ketika ada rezeki lebih, mereka menabungnya dengan cara membeli rumah secara patungan, biar ketika mereka sudah menikah beneran sudah ada rumah yang bisa mereka tempati.

Sosial media memang milik kita, tapi kita jugalah yang harus bijak menggunakannya, karena bagaimana pun sosial media masih memiliki berbagai manfaat di banyak hal, misalnya commerce, pembelajaran, penyebaran informasi, komunikasi, dan pariwisata.

Intinya, jangan sampai tampilan sosial media terlalu mempengaruhi pikiran kita. Ada banyak orang yang foto-fotonya tidak terlalu di-likes oleh banyak orang, atau jumlah followers-nya tidak banyak, tapi justru mereka punya lebih banyak teman yang real di kehidupan nyata. Ada juga pasangan yang jarang mengunggah foto-foto romantis, atau postingan-postingan manis yang menunjukkan betapa besar cinta masing-masing kepada pasangannya, tetapi secara real mereka justru lebih bahagia dari pada yang kita lihat di newsfeeds.

Ada orang yang tidak memamerkan gadget baru dan barang mahal lainnya, tapi ternyata mereka sudah punya rumah sendiri, punya rekening bank yang gendut, dan punya lebih banyak prestasi dalam hidup dibandingkan dengan mereka yang terus-menerus pamer tentang ‘ukuran’ kehidupan yang sempurna ala sosial media.

Inilah mengapa kita tidak harus percaya dengan semua yang kita lihat di sosial media. Kehidupan tiap orang tidak sesempurna yang berusaha mereka tampilkan secara online kok, karena penampilan bisa saja sangat menipu.

Just my two cents…

 

picture source Pinterest

Continue Reading

Drama itu bernama Long Weekend

mood-swing

Seperti umumnya perempuan, pasti akan mengalami masa datang bulan. Dan, seperti biasa juga, pasti kita akan mengalami yang namanya mood swing alias mood senggol bacok a.k.a supersensitive. “Ah, siapa bilang? Aku lempeng-lempeng aja, kok…”. Sini, berantem sama saya, yok! Hahaha…

Seperti bulan ini misalnya, seminggu sebelum datang bulan, saya sudah ‘mengendus’ bau-bau sensi dan nafsu makan yang gila-gilaan. Sudah makan nasi, masih makan roti. Sudah makan roti masih juga ngembat buah. Istirahat sebentar, eh ngemil keripik singkong. Habis keripik singkok, dilanjut Belvita. Tidur. Bangun-bangun makan cincau. Habis itu nimbang. Eh, kaget sendiri karena jarum timbangan mengarah ke kanan menjadi 52 kg, setelah sebelumnya 48-49 kg. Itu kayanya yang 3 kg selain camilan, juga mengandung emosi deh, karena kalau sudah selesai datang bulan ya berat badan kembali ‘normal’.

Nah, 3 hari libur kemarin itu jadi masa yang penuh drama buat saya. Kami memang sengaja tidak pergi ke mana-mana selain ke Superindo untuk belanja bulanan, selebihnya di rumah saja, main sama Alea dan jadi ibu rumah tangga sejati. Ciyeee, sejati. Kaya ibu kita Kartini. Putri Sejati. Nggak ke mana-mana selama long weekend itu sebenarnya ada positifnya juga sih, saya jadi punya quality time sama keluarga, utamanya sih sama Alea. Mulai nonton youtube/film bareng, main masak-masakan bareng, bikin bubble dari air sabun, atau mainan play dough dari tepung terigu. Ada waktu juga buat masak ala kadarnya buat Alea dan papanya, beberes lemari yang selama ini cuma janji palsu. “Iya, tenang, nanti aku beresin…”. Tapi itu janji 6 bulan yang lalu dan baru sempat ‘kepegang’ kemarin, pas semua pada pulas tidur siang. Eh, jangan salah, beberes rumah atau lemari itu butuh niat dan tekad yang bulat, didukung dengan kesempatan dan waktu yang tepat.

Trus, kemarin cranky, nggak? Iya, biasalah, namanya juga perempuan mau datang bulan, kadang lebaynya suka berlebihan. Sudah lebay, berlebihan pula. Eh, tapi beneran deh, kemarin itu full kejadian yang menuntut kesabaran tingkat nasional. Suami saya itu tipe suami panikan. Kalau Alea nangis, atau merengek minta sesuatu, dan dia nggak ngerti apa maksudnya, pasti akan mengarahkan, “ya udah ke mommy aja ya… yuk, yuk…”. Kalau saya lagi nggak ngerjain apa-apa sih, ya nggak apa-apa. Lha kalau lagi banyak yang harus dikerjain ya kenapa nggak dibantu ngasuh dulu sih *usap peluh*. Nah, kemarin gara-garanya juga sepele banget, tapi berhubung sayanya juga lagi mood senggol bacok, makanya jadi agak ngambek-ngambekan sama suami. Cuma gara-gara, youtube di i-Pad lagi no connection, gara-garanya saya salah tekan apalah, nah saya yang lagi masak minta tolong ke suami buat setting ulang modem, atau benerin apalah biar internet lancar lagi. Ya kan saya lagi nyambi masak, nanti gosong dong masaknya, ya kan? Ndilalah Aleanya lagi baperan, maunya saya aja yang benerin internetnya, jangan papanya, karena katanya papanya nggak bisa benerin. Yaelah, Nak. Kamu ini nambahin PR mama aja. Duh, pokoknya lagi pada lebaylah serumah.

Itu pertama, kasus kedua. Pas lagi beberes dapur, mendadak rumah kaya kok berasa ada aromaterapinya ya, kaya wangi-wangi minyak gosok, gitu. Feeling saya agak nggak enak nih. Nah, bener deh, di kamar, Alea lagi asik menuangkan minyak gosok ke lantai sampai kecret ke mana-mana, sebagian lagi diolesin ke badan bonekanya. Jadilah itu boneka wangi minyak gosok, plus lantai-lantainya tentu saja. Antara geli, kesel, dan capek, numpuk jadi satu, tapi tetap lumer juga ketika melihat senyum tengil di wajah Alea yang innocent, demi melihat saya menyemprot lantai, mengepel, dan membereskan bonekanya yang wangi obat gosok.

OK, berarti sudah aman ya, Kakak? Aman sih, sampai setengah jam kemudian hal yang sama terjadi berulang. Kali ini Alea kembali beraksi. Kali ini bukan dengan obat gosok, melainkan dengan minyak rambut kemiri. Minyak kemirinya tidak lagi dioleskan ke badan bonekanya, tapi dituang ke lantai, buat ngepel. Huhuhuhuhu…. Alea, huhuhuhu… Suami saya karena judulnya masih sensi, dia cuma menengok sebentar lalu sibuk dengan outstanding pekerjaannya. Pokoknya judulnya saya lagi dicuekin sama suami, ceritanya masih marah gara-gara kejadian tadi pagi yang menurut saya sih… come on,.. sudah kedaluwarsa.

Hingga puncaknya sore, menjelang maghrib, setelah seharian ‘tegangan tinggi’, pecah juga tangis saya, hanya gara-gara camilan yang tidak sengaja ditendang Alea hingga berhamburan ke lantai yang baru saja saya sapu dan pel. Alea, seperti merasa bersalah, langsung mendekati saya dan memeluk saya erat. Lah, saya ya jadi makin baper. Saya tahu dia tidak sengaja menumpahkan makanan di lantai, saya juga sedang dalam kondisi emosi yang ‘berantakan’ karena hormonal, ditambah dengan suasana yang emosi-emosian antara saya dan suami, walaupun saya sendiri sudah tidak marah. Saya itu kalau marah cuma 5 menit kok, habis itu ya sudah selesai. Enak lho kalau mau berantem sama saya, marahnya sebentar. Eh, gimana, gimana?

Tapi ada hal positif yang saya pelajari selama 3 hari kemarin. Tugas menjadi seorang perempuan, seorang ibu, seorang isteri, seorang perempuan bekerja, itu tidak pernah mudah. Dibutuhkan kesabaran luar biasa untuk memainkan 3 peranan itu secara bergantian. Menjadi orang tua itu juga tidak ada sekolahnya, begitu juga menjadi suami/isteri. Kita tiba-tiba saja ‘diceburkan’ dalam peran-peran itu tanpa terlebih dulu ditanya kesiapan kita. Karena kalau ditanya siap tidak siap ya selamanya akan tidak siap. Jadi anggap saja ini semua semacam pembelajaran seumur hidup.

Di situ, sebagai orang tua, saya bukan hanya belajar mengendalikan emosi, tapi saya juga belajar melihat bagaimana Alea mengelola emosinya, perasaannya, bagaimana dia menempatkan diri ketika ada salah satu orangtuanya yang sedang marah (entah itu marah kepada dirinya, atau ketika orang tua sedang bersitegang). Itulah kenapa saya dan suami berkomitmen untuk tidak bertengkar di depan anak. Kalaupun terpaksan kami sedang marahan, jangan sampai melibatkan/melampiaskan kepada anak. Karena bagaimana pun perasaan seorang anak itu sangat peka, melebihi kepekaan perasaan orang dewasa.

Sebagai seorang pasangan, saya juga masih terus belajar mengendalikan emosi, terutama lisan saya, jangan sampai lisan atau perbuatan saya mencederai perasaan suami saya atau orang-orang di sekitar saya. Terutama dalam kehidupan berumah tangga, karena bagaimana pun ridho suami adalah ridho Allah. Bukankah begitu, pemirsa? Tentu saja begitu!

Jadi, pesan moralnya apa? Sesungguhnya seminggu menjelang datang bulan adalah masa-masa berat bagi seorang perempuan. Bukan hanya berat di mengelola emosinya, tapi juga berat di sesi menahan nafsu makannya… hiks… 😐

 

 

sumber gambar dari : sini

Continue Reading

Kesibukan yang Random Itu

Lama juga ya saya tidak up date postingan apapun di blog yang sudah banyak sarang laba-labanya ini. Biasalah alasannya klise, belum ada kesempatan yang pas buat up date blog. Di kantor pas kerjaan lagi ‘panen raya’, kalau pas sudah di rumah sudah malas buka laptop karena sudah keburu capek dan ngantuk. Belum lagi beberapa waktu lalu Alea sakit, jadi ya harus konsentrasi merawat dia sampai sembuh. Biasalah, kalau di daycare kan kalau sakit satu virusnya nular ke teman lainnya, tapi sekarang sih alhamdulillah sudah sehat, dan akhirnyahari ini bisa posting sesuatu.

Hari ini saya meliburkan diri, daycare-nya Alea kebetulan diliburkan karena hari ini bertepatan dengan demo 212 di Monas. Lebih ke tindakan preventif sih, dikhawatirkan terjadi kejadian seperti tanggal 4 November kemarin yang sempat rusuh. Untungnya saat itu eyangnya Alea masih di rumah, jadi Alea nggak ke daycare. Tapi hari ini, mau tidak mau saya harus meliburkan diri karena kalau pun saya bawa Alea ke kantor, dia tidak akan bisa istirahat dengan properly, saya pun bekerja juga nggak bakalan tenang karena harus membagi konsentrasi ke pekerjaan dan Alea yang pasti aktivitasnya bakal ada saja, tidak mau diam. Jadi kesibukan saya akhir-akhir ini selain kerja ya pastinya momong bocah karena eyangnya sudah kembali ke Surabaya, jadi Alea full sama saya.

Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, bulan-bulan terakhir menjelang akhir tahun adalah bulan-bulan sibuk. Terutama persiapan peringatan HUT Korpri yang tahun inindilalahsaya didapuk jadi koordinator peserta lomba menyanyi tunggal dan baca Pembukaan UUD 1945 di satuan kerja Sekretariat Kementerian dan Kedeputian.

Baca Pembukaan UUD 1945 sajapakai dilombakan? Iya, karena sebenarnya tidak mudah membaca Pembukaan UUD 1945 itu, kalau sekadar baca saja sih bisa kelarlah, tapi kalau membaca secara ‘benar’, lumayan ada tantangannya. Dulu ketika awal-awal menjadi petugas upacara, sayaspesialisasi pembaca Pembukaan UUD 1945. Sempat bosan sendiri, masa tiap kali tugas kok ya kebagianjadi pembaca UUD. Kenapa bukan jadi MC atau baca yang lain saja, selain UUD 1945. Tapi akhirnya saya malah menemukan keseruan tersendiri ketika bertugas sebagai pembaca UUD 1945, karena di sana saya bisa ‘mengolah’ intonasi dan memberi ‘jiwa’ di dalamnya. Alhamdulillah sih sejauh ini responnya positif dan katanya baru kali ini pembacaan Pembukaan UUD 1945 itu beneran disimak oleh peserta upacara, hahaha… ada-ada saja.

p_20161123_111029

Lomba baca Pembukaan UUD 1945 ini penyelenggaranya adalah Sekretariat Militer Presiden, lombanya pun dilakukan di sana. Setiap satuan kerja diperkenankan untuk mengirimkan maksimal 2 orang wakil peserta. Berhubung yang mendaftar ke saya lebih dari 2 orang, berarti saya harus melakukan seleksi internal meliputi baris berbaris, dan olah vokal. Tidak semua paham peraturan baris berbaris, tidak semua mampu mengolah vokal sehingga memunculkan suara yang terdengar ‘utuh’ dan ‘gagah’ ketika membaca Pembukaan UUD 1945. Singkat cerita, alhamdulillah salah satu peserta yang kami kirimkan meraih juara 3. Merupakan sebuah prestasi yang lumayan bagus, mengingat dia sama sekali belum pernah menjadi petugas upacara, dan butuh sedikit effortuntuk mengolah suaranya yang cenderung cempreng kalau sedang hilang fokus hingga jadi suara yang bulat dan ‘utuh’ :D.

Selesai mengoordinatori lomba pembacaan Pembukaan UUD 1945, lanjut ke lomba menyanyi tunggal. Ada sedikit ‘insiden’ di lomba ini. Setiap satuan kerja hanya diberi alokasi nomor peserta sebanyak 14 nomor, terdiri dari 7 nomor peserta lagu pop,dan 7 nomor peserta lagu dangdut. Sejak awal dibuka, animo peserta lomba menyanyi lagu pop lebih banyak dibandingkan dengan lagu dangdut yang hingga mendekati waktu lomba hanya ‘laku’ 1 nomor saja. Tapi ya sudahlah, daripada tidak ada sama sekali, kan?

Di detik-detik mendekati lomba di mulai, saya mulai mengabsen satu persatu calon peserta. Ternyata ada 1 peserta lagu pop yang hingga mendekati injury time baru kasih kabar kalau dia masih rapat di kementerian lain. Lah, kalau dadakan cari peserta kan agak susah ya, memangnya kita penjual tahu bulat? Setelah ditawarkan ke sana ke mari dan berbuah tidak ada yang berminat ikut lomba, akhirnya ya sudahlah saya akhirnya ikut lomba menggantikan peserta yang mengundurkan diri dadakan tadi. Padahal aslinya saya tidak mau ikut lomba, biar kasih kesempatan buat yang lain. Tapi ya dari pada nomornya mubadzir, akhirnya saya ikutan juga. Tanpa ada waktu latihan, tanpa persiapan apa-apa, saya download saja lagunya Sam Smith dari youtube, lanjut burn ke cd. Oh ya, di babak penyisihan ini para peserta menyanyikan lagu pilihan masing-masing dalam format minus one karaoke.

Saya menyanyi nyaris tanpa beban. Lolos syukur, nggak juga tidak apa-apa, namanya juga lomba menyanyi ala-ala. Walaupun tak dipungkiri saya sempat keder juga melihat kualitas vokal peserta lain yang luar biasa. Ndilalah, pas pengumuman kok saya dan rekan seperjuangan saya dari satuan kerja yang sama dinyatakan masuk final. Itu berarti kami akan tampil dengan iringan live band. Dari beberapa lagu pilihan yang sudah dipilih oleh panitia, saya memilih lagu Keliru, Ruth Sahanaya untuk dinyanyikan ketika final nanti. Bukan apa-apa, sepertinya hanya itu lagu yang paling sesuai dengan vokal saya yang pas-pasan ini dan kebetulan liriknya juga nggak ribet. Saya hanya sempat latihan sekali saja bersama band ketika pengambilan nada dasar, selebihnya hanya sempat mendengarkan lagi dalam perjalanan menuju kantor itu pun di hari H. Doh, Devi!

Ada yang lucu ketika final berlangsung. Ketika semua perwakilan didukung oleh suporter yang super heboh, beda dengan kami berdua yang nyaris tanpa suporter, hihihik. Bukan apa-apa, kebetulan, di hari yang sama dengan penyelenggaraan final lomba menyanyi itu biro saya juga ada gathering ke Puncak, jadilah para peserta gathering sudah sebagian berangkat ke Puncak, dan menyisakan beberapa orang saja yang kebetulan berhalangan ikut. Plus ternyata para penonton di situ tidak tahu mana peserta perwakilan dari Sekretariat Kementerian dan Kedeputian yang lolos masuk final. Kasian amat ya…. ;))

img_20161127_194213

Bagi yang berkenan melihat video lomba nyanyi ala-ala bisa dilihat di sini, pardon my ‘sember’ voicelho ya :D. Singkat cerita, alhamdulillah ada berkahnya juga ternyata, saya dinyatakan sebagai juara 2. Saya sudah siap mau pulang, karena sepertinya tipis harapan bakal menang, karena saya lihat ada peserta lain yang jauh lebih bagus ketimbang saya. Juara 3 saja saya lolos, nggak mungkinlah juara 2 apalagi juara 1, pikir saya. Tapi sekali lagi, rezeki tidak akan tertukar, mungkin tahun ini rezeki saya, ikut lomba nyanyi dadakan, dan jadi juara 2. Semoga jurinya sedang tidak khilaf, dan tidak salah hitung ya…

Kesibukan lainnya sih standar, memandu acara pelantikan pejabat Eselon II, III, dan IV di lingkungan Kementerian Sekretariat Negara, dan sempat juga memandu acara ‘dadakan’ di Pengukuhan Dewan Pengurus KORPRI Kementerian Sekretariat Negara yang bertepatan dengan peringatan HUT KORPRI Ke-45 yang jatuh pada tanggal 29 November 2016. Ya sebenarnya acaranya sendiri sih tidak dadakan, request ngemsinya yang dadakan. Sepertinya kita harus selalu siap untuk acara-acara dadakan deh. Eh, adakah yang ikut upacara di Monas? Saya sih kebagian sidak bersama teman-teman Biro SDM lainnya, hihihik. Ternyata sidak itu bikin gempor kaki ya 😐

Kesibukan berikutnya apa? Masih ada 2 agenda acara lainnya yang sedang menunggu di tanggal 4 Desember dan 6 Desember 2016. Tanggal 4 Desember 2016 saya akan memandu acara puncak HUT KORPRI ke-45 di lingkungan Kemensetneg dan Setkab, sedangkan tanggal 6 Desember 2016 saya dipercaya memandu acara kerja sama antara Dharma Wanita Persatuan Kementerian Sekretariat Negara, Komisi Pemberantasan Korupsi, Australia Indonesia Partnership for Justice (AIPJ), dan The Australian Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) dalam penyelenggaraan acara “Saya Perempuan Anti Korupsi”. Sebuah acara yang pernah saya ikuti juga beberapa waktu lalu di Hotel Sari Pan Pacific. Harapan saya selalu sama, semoga acara yang saya pandu semuanya berjalan lancar.

Hmm, sepertinya sih yang di depan mata baru 2 acara itu saja sih, entah ke depannya nanti ada acara apa lagi selain upacara dan pelantikan tentu saja.

Jadi, begitulah beberapa kesibukan saya beberapa waktu ini, mohon dimaklumi kalau jarang up date. Toh sepertinya kalau blog abal-abal ini banyak sarang laba-labanya juga kayanya sudah biasa ya, alasannya pun klasik dan klise, hihihik…

Selamat berakhir pekan, kawan! Have a good day!

 

Continue Reading