Dignity and Respect

what-i-know-dignity-and-respect

Pada suatu sore menjelang pulang kantor, sebuah pesan singkat muncul di gawai saya. Dari seorang teman yang kebetulan membatalkan janji temu dengan saya dan beberapa teman lainnya dengan alasan kesibukan kantor.

“Dear, sori ya, gue kayanya nggak bisa gabung lagi nih, hiks. Kerjaan gue aja belum kelar sampai jam segini, kuatir nggak keburu kalau gue harus maksain ketemuan sama kalian. Jam 5 aja gue masih ada agenda meeting sama BoD. Sori banget, ya. Kalian tahu kan gimana kerjaan budak korporat kaya gue? Next time gue bakal usahain buat kumpul sama kalian yaa… Selamat ngumpul-ngumpul ya, kalian. Miss you all… “

Ketika membaca pesan singkat itu, entah kenapa, ada sedikit perasaan kurang nyaman. Semacam ada penggunaan istilah yang kurang pas di hati.

Sampai sekarang saya masih sering mendengar teman/kerabat yang membahasakan dirinya sebagai ‘kacung kampret’, ‘kuli kantor’, budak korporat, dan sebutan sejenis lainnya sebagai penggambaran betapa berat/sibuknya pekerjaan yang mereka lakukan; semacam penggambaran adanya ‘kesamaan’ beban pekerjaan yang mereka lakukan dengan kuli kasar. Bedanya, berhubung mereka adalah orang kantoran, maka sebutannya kuli kantor.

Kita pasti pernah ada di sebuah kondisi harus membatalkan sebuah janji temu karena memang sedang sibuk di kantor, lembur, atau ada urgent matters yang berhubungan dengan pekerjaan. Kenapa tidak bilang saja apa adanya, tanpa harus membubuhkan embel-embel, “ya namanya juga kacung kampret, mana bisa menikmati liburan dan kumpul-kumpul kaya kalian”, atau “ya beginilah nasib budak korporat, dijalanin aja…”

‘Sehina’ apapun pekerjaan kita, seremeh apapun pekerjaan yang kita lakukan, atau untuk menggambarkan betapa rumit dan ruwetnya detail pekerjaan yang kita lakukan sehingga hanya kita yang dianggap sanggup melakukan itu, atau kasarannya tidak ada orang yang mau ada di posisi kita; apapun itu, hargai. Di luar sana ada banyak sekali orang yang belum mendapatkan pekerjaan, dan mungkin saja menganggap kalau pekerjaan kita itu jauh lebih baik, lebih enak, lebih menyenangkan dari pada pekerjaan mereka.

Dulu, orang tua saya pernah bilang begini, “kita akan menjadi apa yang kita pikirkan, apa yang kita ucapkan. Jadi, hati-hati kalau bicara, karena ucapan itu sama saja dengan doa”. Nasihat itulah yang masih saya pegang hingga sekarang.

Sugesti positif itu juga saya terapkan dengan cara berpakaian. Walaupun semua kembali lagi ke soal pilihan, apakah kita lebih suka berpakaian rapi, atau asal-asalan, saya pribadi lebih suka berpenampilan rapi dan pantas. Rapi dan pantas itu tidak harus mahal, lho. Cukup berbusana sesuai dengan tempat, acara, dan kebutuhan. Sepele ya, tapi sesungguhnya cara berbusana kita itu merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain, lho.

Mungkin ini cuma soal kebiasaan, karena semua berawal dari lingkungan. Terlahir dalam sebuah keluarga yang dalam beberapa hal masih memegang teguh ajaran Jawa dengan segala pernak- perniknya, salah satu ajaran yang masih diterapkan di keluarga saya adalah “ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana”. Ungkapan itu memiliki makna bahwa bahwa berharganya diri kita berasal dari ucapan (lidah) kita, sedangkan berharganya badan (raga) kita dillihat dari bagaimana cara kita berbusana.

Gambaran ungkapan ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana tersebut mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang kita pakai, penampilan kita, tutur kata kita, serta ucapan-ucapan kita pasti akan menimbulkan reaksi timbal balik penghargaan/sikap orang lain kepada kita.

Contoh paling sederhana adalah tahu kapan harus menggunakan sepatu/sandal selama di kantor. Selama di kantor, selama jam kerja, saya berusaha konsisten menggunakan sepatu, bukan sandal. Apalagi ketika menerima tamu (baik pegawai dari kantor sendiri maupun dari luar), karena ada juga teman yang membedakan kapan ‘boleh-boleh saja’ pakai sandal selama itu pegawai kantor sendiri (dengan alasan, “ah, udah kenal ini”), dan kapan harus pakai sepatu (karena tamunya dari luar instansi). Mungkin saya satu-satunya orang yang paling sebal ketika ada teman yang menerima tamu dengan hanya menggunakan sandal jepit. Bukan mau sok idealis ya, apa yang saya sebutkan di atas, bukan berarti sama sekali kita tidak boleh pakai sandal selama di kantor, silakan saja menggunakan sandal ketika akan ke kamar kecil, atau akan wudhu/shalat. Tapi apakah tidak akan lebih baik ketika sedang di kantor ya gunakan sepatu sebagaimana mestinya, bukan sandal. Tamu saja kalau mau berkunjung ke kantor kita mereka berusaha tampil rapi/pantas, masa iya kita sebagai tuan rumah menerima mereka asal-asalan? Di mana bentuk penghargaan kita kepada orang lain, padahal mereka sebisa mungkin berusaha menghargai kita sebagai tuan rumah?

Last but not least, mulai belajar menghargai diri sendiri sebelum menghargai orang lain, yuk! Mulai mengurangi juga penggunaan julukan ‘kacung kampret’, ‘budak korporat’, ‘kuli kantor’, atau sebutan negatif lainnya kepada diri sendiri atau orang lain.

Be grateful that we actually have a decent job; something to be proud of. If we don’t have dignity, then what are we?

 

 

 

picture source: here

Continue Reading

Kenapa Masih Main Twitter?

Twitter IconSampai dengan saat ini, twitter masih bisa dibilang sebagai media sosial yang efektif, bukan hanya untuk berjejaring, tapi juga berdiskusi, hiburan, hingga mencari lowongan kerja. Tidak seperti Linkedin, Twitter adalah jaringan yang terbuka, di mana kita bisa dengan mudah terhubung dengan seseorang hanya dari apa yang mereka posting di twitter.

Sekitar tahun 2006, zaman Twitter masih baru diluncurkan, belum banyak orang yang berminat punya akun Twitter. Hingga akhirnya, di sekitar tahun 2010, mulailah Twitter diminati. Apapun bisa ditemukan dengan mudah di sini. Bahkan kalau masih ingat, ada banyak sekali gerakan sosial atau komunitas yang lahir di Twitter.

Dalam perkembangannya, Twitter mulai dianggap terlalu ‘riuh’ dan membosankan karena banyak yang menjadikannya sebagai media bagi para ‘mulut api’ yang menyebarkan kebencian, bullying, spam, politik, dan tujuan-tujuan ekonomis lainnya. Twitter pelahan mulai ditinggalkan oleh penggunanya sekitar tahun 2014, di mana saat itu warganet banyak yang mulai beralih ke media sosial baru yaitu Path, yang (konon) lebih eksklusif karena hanya diperuntukkan bagi circle pertemanan yang dekat saja. Tapi tidak sedikit juga warganet yang kembali ke mainan lama mereka yaitu Facebook.

Sama halnya dengan pengguna medsos lainnya, saya memilih tidak terlalu aktif bermedia sosial, dan memilih kembali menulis di blog yang lebih banyak sarang laba-labanya ketimbang postingan barunya. Walau tidak sampai menghapus akun, tapi akun-akun itu sempat telantar selama beberapa waktu.

Jika dilihat secara keseluruhan, Twitter memang tidak banyak berubah, intinya masih sama dengan platform yang diluncurkan pertama kali, sekitar 11 tahun yang lalu. Kita bisa lihat dan bandingkan dengan platform media sosial lainnya yang lebih sering memutakhirkan tampilan, newsfeed, dan fitur-fitur mereka, yang semakin membuka alternatif solusi komunikasi dan berbagi bagi para penggunanya.

Sejak kenal Instagram — yang bagi saya kehadirannya menggantikan salah satu platform media sosial tempat berbagi foto yaitu Posterous — makin ‘terjerumuslah’ saya sebagai jamaah Instagramer, walaupun postingannya jarang ada yang berfaedah, yang feed-nya ngasal, dan hanya sekadar posting saja. Tujuan punya akun Instagram ya sekadar biar kekinian. Iya, saya memang anak yang latah. Kadang-kadang.

Kehadiran Instagram dengan cepat menjadi idola baru pengguna media sosial. Menurut saya sih wajar, karena segala postingan yang mengandung unsur visual itu selalu lebih menarik dibandingkan dengan yang hanya berupa tulisan saja. Seeing is believing, right?

Sampai suatu hari, ketika sedang marak-maraknya Pilkada Jakarta, sekitar bulan April 2017, tangan saya tiba-tiba ‘gatal’ ingin menulis sesuatu di Twitter, buat iseng saja, sekadar buat lucu-lucuan. Tapi siapa sangka kalau ternyata postingan iseng itu justru di-retweet sebanyak 328 kali, dan di-love sebanyak 68 kali. Mengingat saya bukan akun selebtwit yang tidak terbiasa mendapatkan impresi sebanyak itu dari warganet, jelas kaget.

Legowo
Meski penggunanya tidak sebanyak dulu, tapi Twitter masih punya magnet tersendiri sehingga dia tetap dicintai penggunanya. Termasuk saya. Terlepas apakah nantinya kita akan monolog seperti biasa, atau mendapat balasan dari warganet lainnya, buat saya sih tidak ada masalah, toh dari dulu niatan saya membuat akun media sosial selain untuk sharing, juga sebagai media penambah teman, hiburan, dan penambah informasi/pengetahuan.

Meski Twitter adalah media sosial yang postingannya dibatasi oleh jumlah karakter, tapi justru di sanalah segala ide, gagasan, ‘suara’ kita lebih ‘didengar’ oleh warganet. Sekarang kita bukan hanya bisa memposting tulisan saja, tapi juga gambar, video, polls, dan informasi non-text lainnya yang tidak termasuk dalam hitungan 140 karakter. Pengguna Twitter itu adalah orang-orang yang kreatif dalam mengolah kata. Lihat bagaimana cara warganet menyampaikan ide/opini/cerita melalui 140 karakter tapi tetap dimengerti oleh warganet lainnya.

Twitter juga menjadi salah satu media sosial yang penyebaran informasinya paling cepat. Bayangkan, hanya dengan menekan tombol retweet saja, sebuah informasi bisa menjadi viral seketika. Contoh paling mudah, ketika akun @handokotjung mendapatkan 243 replies, 2.280 kali retweet, dan 962 likes ketika dia memposting:

Ayla View
Saya sendiri, selain menggunakan Twitter sebagai sarana untuk ‘nyinyir’ posting status random tak berfaedah, juga sering menggunakannya untuk berbagi info lowongan CPNS. Bahkan dulu ada kejadian yang berkesan buat saya, ketika saya mendampingi para pelamar saat interview user. Sambil menunggu jadwal interview, mereka saya ajak ngobrol. Di tengah obrolan dengan beberapa pelamar, ternyata mereka adalah salah satu follower saya di Twitter, bahkan juga yang pembaca blog saya.

“Kak Devi ini yang suka posting lowongan CPNS di Twitter itu, kan? Saya tahu ada lowongan di Setneg karena baca linimasa Kak Devi. Oh ya, saya juga silent reader-nya blog Kakak lho…”

Ah, senangnya, ternyata postingan saya ada juga yang dianggap berguna bagi warganet, hihihik.

Twitter juga sebagai media yang memungkinkan penggunakan berinteraksi secara langsung, cepat, dan personal dengan akun lainnya. Selain itu, Twitter juga bisa menjadi tempat belajar dan menambah pengetahuan secara gratis. Sebut saja akun @IvanLanin menjadi idola baru saat ini karena beliau memberikan pengajaran dan pengaruh positif bagi warganet tentang bagaimana berbahasa Indonesia yang baik dan benar; disampaikan dengan kalimat efektif yang mudah dipahami. Bukan itu saja, tak jarang beliau yang kelihatannya cool itu bisa membaur menjadi lucu/iseng ketika menjawab pertanyaan jahil para warganet.

Jadi kesimpulannya, jawaban versi saya kenapa saya masih main Twitter, karena merangkum cerita dalam 140 karakter itu selalu menarik untuk dilakukan, dan Twitter masih terlalu seru untuk ditinggalkan begitu saja.

Kalau kalian, kenapa masih mainan Twitter?

Continue Reading

(Ada Saat) Harus Menahan Diri

Dulu, ketika saya masih belum punya momongan, di sebuah perjalanan pulang bersama dengan seorang teman, dia sempat bercerita tentang sesuatu yang sampai sekarang masih saya ingat dan saya jadikan pelajaran.

Si teman pernah mengeluh betapa dia sangat menyesalkan sebuah kejadian di masa lalu bersama mantan pasangannya yang saat ini sudah berpisah; saat mereka masih berstatus suami istri dengan ego yang sama tingginya, dan sering tanpa sadar bertengkar di depan anak-anak mereka yang masih balita.

Kalau sudah bicara masalah anak, sama saja bicara tentang salah satu concern dalam kehidupan saya. Si teman bercerita, pernah suatu hari, dia dan suaminya sedang bertengkar hebat di dalam mobil dengan kondisi anak-anak sedang ada bersama mereka. Emosi yang tidak terbendung itu menghasilkan kalimat dan umpatan yang sangat tidak nyaman untuk didengar. Di tengah emosi yang tengah memuncak itu mereka sempat tidak sadar bahwa ada anak-anak mereka yang sedang duduk meringkuk berpelukan di jok belakang, menunduk ketakutan mendengar kedua orang tuanya beradu mulut. Di situlah baru muncul rasa penyesalan yang sangat besar di antara keduanya. Iya, penyesalan memang selalu datang belakangan.

Demi ‘menghapus’ memori menakutkan itu, keduanya berusaha ‘membayar’ dengan memberi lebih banyak waktu untuk bersama; mulai menemani mereka bermain/belajar, mengantar mereka sekolah/les, membelikan mainan/makanan favorit, dan kegiatan lain yang bisa mempererat kebersamaan mereka sebagai keluarga. Dan itu masih terus mereka lakukan hingga saat ini, pun ketika mereka sudah tidak lagi terikat status sebagai suami istri.

Mendengar cerita itu, saya langsung sedih, membayangkan bagaimana anak-anak mereka ketakutan, saling memberikan perlindungan dengan cara memeluk satu sama lain.

Sejak mendengar cerita itu, saya punya komitmen bersama suami, kelak ketika kami sudah dikaruniai anak, sebisa mungkin tidak akan bertengkar, berkonflik, atau mengeluarkan kata-kata kasar di depan anak-anak kami, karena kami sadar bahwa trauma atau ingatan seorang anak itu akan terbawa hingga dia tumbuh kembang dewasa.

Begitu pula ketika ada teman lainnya yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Hal pertama yang saya tanyakan adalah, “ada anak-anak nggak pas kamu mengalami KDRT? Mereka lihat, nggak?”. Jawabannya adalah, “kebetulan pas ada, Mbak. Karena posisinya aku pas lagi ada sama anak-anak…”. Makjleb! Langsung sedih. Membayangkan bagaimana rekaman kekerasan yang dialami/dilakukan oleh orang tuanya itu akan terbawa hingga mereka dewasa nanti.

Selain kekerasan fisik maupun verbal, ada hal lain yang juga saya berusaha hindari. Jangan pernah mengajak anak-anak untuk ikut membenci orang lain. Jangan membingkai mereka ke dalam situasi yang mereka sendiri tidak mengerti.

Secara natural, setiap anak memiliki kebaikan. Mereka terlahir dalam keadaan pikiran dan hati yang bersih/suci. Ketika seorang anak kita ajarkan untuk membenci/melukai orang lain, sama saja kita telah mengajarkan kekejaman, karena sesungguhnya sifat/perilaku itu bukanlah sifat dasar seorang anak. Setiap anak pasti pernah mengalami rasa tidak suka kepada seseorang, tetapi sejauh yang saya tahu, biasanya perasaan itu tidak berlangsung lama.

Mungkin akan lebih baik jika mengajarkan kepada mereka sejak dini tentang bagaimana berpikir secara kritis, menumbuhkan empati kepada orang lain, dan rasa saling menyayangi. Kelak dari situ mereka bisa melatih diri untuk memberi penilaian secara objektif/terbuka terhadap orang-orang yang ada di sekitar mereka, sekaligus mengurangi kebencian yang ditimbulkan oleh rasa takut. Dengan mencegah pola pikir yang ‘dehumanisasi’, anak-anak akan memiliki kesempatan untuk memahami hal yang lebih baik lagi di masa depan.

Alea, putri saya, baru berusia 3 tahun. Selama 3 tahun ini saya, suami, dan anggota keluarga yang lain berusaha untuk membangun citra yang positif di depan Alea, mengajarkan kebaikan, menumbuhkan rasa sayang kepada sesama. Sederhana saja harapan kami supaya kelak Alea terbiasa menyerap dan menerapkan hal yang sama positifnya dalam kehidupannya.

Biasanya, cara paling sederhana yang kami gunakan adalah dengan melalui obrolan sederhana tentang bagaimana kita berperilaku atau memperlakukan orang lain, mendongeng/cerita, atau yang paling efektif ya dengan mencontohkannya secara langsung. Anak-anak seusia Alea kan usia visual, di mana mereka lebih mudah mencontoh apa yang mereka lihat.

Alasan lain kenapa jangan pernah mengajarkan kebencian kepada anak adalah karena saya sadar bahwa saya tidak akan selalu ada buat putri saya. Kelak suatu saat nanti dia pasti akan butuh bantuan keluarga atau orang-orang terdekatnya. Jadi, selama kita masih membutuhkan orang lain, sebisa mungkin jangan membenci secara berlebihan. Karena kita tidak tahu kapan kita akan memerlukan bantuan orang lain, kan?

Anak-anak kita mungkin tidak selalu menyimak apa yang kita tuturkan, tapi sebagai makhluk visual, mereka diam-diam akan mencontoh apa yang kita lakukan. Kita adalah role model pertama bagi anak-anak kita; they are definitely watching. Jadi biarkan anak-anak memperhatikan kita bersikap baik, insyaallah mereka juga akan jadi anak yang baik hati. Maybe it is the oldest, but the goldest methode of all.

Perlakukan anak-anak sebagaimana mereka ingin diperlakukan. Tunjukkan kebaikan kepada mereka dimulai dari hal-hal kecil, and just imagine how good they will feel when they step out into the world.

Just my two cents.

 

 

Continue Reading

Tentang Terima Kasih

thank you
Dalam beberapa hal yang saya selalu tekankan kepada putri saya adalah jangan lupa untuk bilang salam, tolong, maaf, dan terima kasih ke orang lain, sama seperti ajaran kedua orangtua saya kepada saya dan kedua adik saya. Belajar untuk menekan gengsi sih tepatnya.

Putri saya memang baru berusia 3 tahun, tapi keempat kata tadi sudah saya usahakan untuk familiar sejak dini, karena saya sadar, bahwa semakin modern pergaulan manusia, empat kata itu bukan tidak mungkin akan tergerus oleh gaya hidup yang (mungkin) akan jauh dari adab dan sopan santun.

Utamanya pada kata terima kasih, yang intinya merupakan bentuk apresiasi kita kepada orang lain. Pada dasarnya orang suka merasa dihargai, begitu juga sebaliknya, dia juga berusaha agar orang lain pun merasa dihargai. Vice versa, ketika kita menghargai orang lain, maka hal yang sama akan mereka lakukan kepada kita, karena segala kebaikan sesungguhnya akan kembali kepada kita, sekecil apapun bentuk kebaikan itu. Some things work nicely that way.

Saya percaya bahwa dengan menciptakan siklus niat baik akan membuat orang lebih bersedia melakukan sesuatu untuk kita lagi di masa depan. Semacam karmic energy; what goes around comes around.

Seperti halnya ketika ucapan terima kasih itu saya terapkan kepada putri saya, sekali pun itu cuma karena dia sudah membantu saya mengambilkan tissue, membuang sampah ke tempatnya, membereskan mainannya sendiri, atau sekadar mencium dan memeluk saya sepulang kerja. Balasan yang saya terima kadang bisa jauh lebih indah daripada yang sudah saya ucapkan, “sama-sama, Mama. I love you…” Manis, bukan?

Terima kasih adalah salah satu hal yang paling sering saya ucapkan baik secara lisan maupun tulisan, kepada siapapun yang saya merasa telah membantu saya. Jangankan kepada yang benar-benar membantu, kepada teman yang telah meluangkan waktu untuk bertemu di sela kesibukannya saja, saya pasti bilang terima kasih, baik itu di menjelang waktu berpisah atau ketika sudah berpisah. Biasanya kalau sudah berpisah, saya akan mengirim pesan sekadar buat bilang, “terima kasih ya kumpul-kumpulnya…”, atau “terima kasih ya buat makan siangnya…”,atau “terima kasih ya sudah nyempetin ketemu, padahal aku tahu kamu/kalian pasti lagi sibuk banget..”, semacam itu. Bahkan kepada abang ojek online/taksi sekali pun, biasanya, setelah memberikan arahan ke mana atau lewat mana via sms/telepon, hal yang selalu saya ucapkan di akhir kalimat/pesan adalah, “terima kasih.”, begitu juga ketika mereka telah selesai mengantar saya.

MYXJ_20170826194141_save

Contoh kecil lainnya, ketika di kasir setelah menyelesaikan pembayaran/transaksi, atau kepada pramusaji di tempat makan, yang saya lakukan adalah bilang, “terima kasih ya, Mbak/Mas…”. Untuk apa? Ya untuk pelayanan, waktu, dan attitude saat mereka melayani saya, karena saya sadar bahwa begitulah sesungguhnya manusia ingin diperlakukan.

Melupakan atau mengabaikan ucapan terima kasih itu tidak hanya akan membuat kita terlihat buruk/kasar/tidak tahu diri di mata orang lain, tapi juga mengganggu perasaan dan pikiran orang lain. Jadi seberapa penting dan sibuknya kita, jangan pernah lupakan untuk bilang terima kasih kepada siapapun yang telah membantu, walaupun itu cuma hal kecil yang telah mereka lakukan untuk kita.

Mengapa ucapan terima kasih itu sangat penting? Mengapa kita jadi begitu terluka dan kecewa saat ada pihak yang tidak berterima kasih kepada kita? Bukankah itu cuma hal yang sepele, ya?

Saat kita mengucapkan “terima kasih”, itu artinya kita berterima kasih kepada individu karena telah ‘memilih’ untuk melakukan sebuah tugas atau aktivitas (yang kita minta) dengan mengorbankan waktu dan tenaga mereka. Sebaliknya, ketika kita abai, lupa tidak mengucapkan terima kasih kepada seseorang untuk menyelesaikan tugas/aktivitasnya tersebut, pasti ada rasa penyesalan di hati mereka. Pikirnya, “sudah dibantu, kok nggak ada bilang apa-apa, ya? Tahu gitu tadi aku ngerjain yang lain aja, ngapain ada di sini buat bantu-bantu mereka…”

Ucapan ‘terima kasih’ menunjukkan apresiasi dan penghormatan sekaligus indikasi bahwa kita peduli. Itulah sebabnya mengucapkan terima kasih itu penting buat orang lain. Dengan membuat orang lain merasa penting dan dihargai, sama saja kita telah mencerahkan hari seseorang dengan cara yang paling sederhana namun efektif.

Jadi, ucapan ‘terima kasih’ ternyata memiliki sebuah kekuatan yang ajaib. Sama halnya dengan kata ‘maaf’ dan ‘tolong’, yang walau terlihat seperti kata-kata ‘begitu doang’, tapi nyatanya mereka bekerja seperti sebuah shorthand yang bisa mengubah segalanya menjadi jauh lebih baik.

Terima kasih, juga bukan melulu berhubungan dengan materi. Seperti misalnya, ketika saya diminta untuk memandu sebuah acara, yang saya pikirkan pertama kali adalah, bagaimana acara itu berjalan dengan baik, lancar, dan sebisa mungkin minim kesalahan. Apalagi jika yang hadir adalah para pejabat tinggi, undangan dari instansi lain, atau pejabat lainnya setingkat menteri. Ketika acara berjalan dengan baik, lancar, dan sesuai dengan yang diharapkan, itu sudah memberikan kepuasan dan kelegaan tersendiri buat saya. Kalau misal ternyata pascatugas ada uang jasa/materi, buat saya itu adalah bonus. Kasarannya, kalau ada ya saya terima, kalau tidak ada pun tidak apa-apa.

Kadang saya suka iseng mikir, ada untungnya juga terbiasa bekerja secara probono, jadi yang ada dalam mindset saya adalah semua acara yang saya pandu sesungguhnya merupakan ajang latihan sekaligus penambah jam terbang/pengalaman. Intinya, selama bisa saya bantu, akan saya lakukan, dan sebisa mungkin saya maksimalkan. Tapi jika memang tidak bisa, atau kebetulan di luar kapasitas saya, saya pasti akan bilang, atau saya tangguhkan. Bagi saya saya profesionalisme itu bukan melulu diukur dari seberapa besar uang jasa yang saya terima, tapi
seberapa puas pihak yang menggunakan jasa saya, karena kepuasan user itu nilainya bisa lebih besar dari uang jasa yang saya terima.

Sejatinya kita adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain, dan tidak bisa hidup sendiri. Ucapan terima kasih itu adalah bagian dari etiket dan sopan santun dalam hidup sehari-hari, yang bisa dilakukan kapan saja, tidak perlu usaha berlebihan, dan gratis.

Percayalah, ketika kita terbiasa mengucapkan terima kasih atas hal-hal kecil yang sudah dilakukan orang lain dalam hidup kita, akan ada hal-hal lebih besar lainnya yang akan mengikuti. Memang tidak akan terjadi dalam sehari semalam. Tapi dengan memperhatikan hal-hal kecil semacam itu, kita akan menjadi lebih peka terhadap langkah-langkah kecil yang mengarah pada hal-hal yang lebih besar.

Sebagai manusia kita dikaruniai kepekaan untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang pantas diucapkan dan mana yang tidak. Dan, salah satu cara agar kita dihargai oleh orang lain ya dari bagaimana cara kita menghargai orang lain.

Jadi, jangan pernah lupa mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang telah meluangkan waktu untuk membantu kita. Soal ikhlas atau tidak mereka membantu kita, biarkan itu jadi urusan mereka. Tapi ucapan terima kasih punya kekuatan mengubah mindset seseorang, bantuan yang tadinya tidak ikhlas bisa berubah jadi ikhlas, dan bantuan yang sudah ikhlas bisa jauh lebih ikhlas lagi.

“We must find time to stop and thank the people who make a difference in our lives”
– John F. Kennedy –

Buat kalian, terima kasih ya sudah membaca endapan pikiran dan emosi semi kontemplasi ini. Selamat berakhir pekan bersama orang-orang tercinta, ya…

 

picture source:Pinterest

Continue Reading

Siapa Cepat, Dia Dapat!

flashsale

Sebagai warga instagram, sepertinya kurang ngehits kalau belum follow akun-akun ngehits yang jumlah follower-nya ratusan ribu bahkan sampai jutaan. Iya, buat seru-seruan, atau syukur-syukur bisa menginspirasi diri sendiri dari segi apapun.

Selain mengikuti akun milik tokoh tertentu, saya juga mengikuti beberapa akun gosip dan online shop yang belum tentu saya rajin buka akunnya juga, hihihik. Nah, pasti tahu dong, kalau akun-akun online shop yang follower-nya puluhan/ratusan ribu itu sering mengadakan flashsale, alias jualan dalam satu hari yang bisa ludes dalam hitungan menit/jam.

Paling sering sih mantengin akun online shop baju muslim dan hijab yang kenamaan yang itu. Iya, yang modelnya kalau nggak mbak yang itu, ya mbak yang satunya lagi yang wajahnya mirip. Beberapa hari sebelum flashsale, biasanya mereka memberikan teaser produk apa saja yang akan mereka jual di hari yang telah ditentukan. Namanya flashsale pasti jumlahnya terbatas, biasanya mereka hanya menyediakan sekian ratus/ribu pieces, tapi sudah dipastikan yang berminat pasti ratusan ribu. Jadi sistemnya siapa cepat dia dapat.

Saking banyaknya yang berharap bisa dapat item hijab impian, mereka sampai berdoa di kolom komen, “bismillah, semoga aku dapet yang ini…”. Mungkin semacam menyugesti diri sendiri ya, saking kepengennya. Biasanya di sana juga ada beberapa jasa titip yang ikut nimbrung menawarkan jasanya, barangkali ada calon konsumen yang mau titip beli ke mereka. Tapi sejauh ini sih saya belum pernah pakai jasa titip untuk beli-beli barang, karena ya saya orangnya nggak ngoyo, kalau dapet ya syukur, enggak ya berarti belum rezeki.

Nah, setelah mengintip sneak peek di beberapa postingan akun hijab itu, kebetulan ada beberapa item yang saya suka. Segera saya atur tanggal, hari, dan jam sesuai dengan yang dijanjikan, untuk membeli item yang saya incar, bukan itu saja, untuk mempercepat proses pengiriman pesan whatsapp sudah saya copy formatnya sesuai dengan format yang diminta oleh penjual, jadi tinggal copy dan send saja. Sesekali ingin merasakan bagaimana sih euforianya belanja rebutan itu.

Dulu banget, pernah ada pengalaman belanja rebutan tapi nggak rebutan. Lah, gimana maksudnya? Iya, di akun instagram itu barang yang dimaksud sudah sold out saking banyaknya yang minat. Tapi ndilalah, mungkin para pembeli itu lupa/tidak tahu bahwa sebenarnya barang yang mereka cari itu juga dijual secara online di salah satu situs belanja fashion muslimah terkemuka di Indonesia, semacam kerja sama gitu, contohnya BrandIni x BrandItu. Berhubung hijab yang saya inginkan itu juga masih terpampang di situs tersebut jadi saya beli di web saja, dan dapat dong. Hihihik..

Kembali lagi ke cerita belanja rebutan tadi, di hari yang telah ditentukan, perasaan saya sudah campur aduk, antara deg-degan dan penasaran. Ketika si admin mengumumkan “send your chat now”, segera saya kirim order di waktu yang hampir tidak ada jeda sejak pengumuman selesai upload, pukul 09.00 sharp! Sent!

Centang dua abu-abu. Setidaknya sudah terkirimlah ya.

Sambil menunggu balasan whatsapp, saya mengerjakan hal lainnya. Sesekali saya cek handphone sekadar memastikan bahwa pesan saya sudah dibaca, syukur-syukur sekalian dibalas dengan total yang harus saya transfer.

Pukul 14.09 notifikasi whatsapp saya berbunyi. Yes! Dari online shop yang saya tunggu-tunggu. Hmmm, kira-kira saya dapat nomor antrean berapa ya.

“Maaf, sold, mbak sayang”

Tweew! Hiks. Ternyata jari saya masih kurang cepat dibandingkan dengan konsumen lainnya. ya…

Trus, kapok nggak belanja rebutan gitu? Agak-agak mengandung kapok juga sih, walaupun sensasi harap-harap cemasnya itu sih yang kadang bikin kangen, hihihihik

Sebenarnya sih semua online shop sistem penjualannya ya siapa cepat dia dapat, karena jumlah barang yang diproduksi kan tidak banyak, kecuali mereka memberlakukan sistem purchase order (PO). Kalau sistem PO biasanya mereka memproduksi sesuai dengan jumlah pesanan, jadi kita pasti dapat.

Ada untungnya juga saya bukan orang yang kalap belanja (online) ya, apalagi kalau duitnya nggak ada, hiks. Jadi mau belanja di mana saja kalau memang barang itu rezeki jadi milik kita, pasti akan jadi milik kita kok. Sesimpel itu.

Iya, ini lebih ke menghibur diri karena kalah set
*scroll-scroll online shop*

 

 

picture source: here

Continue Reading