Di Balik Cerita Ulang Tahun

Happy Birthday

Tahun ini adalah ulang tahun yang istimewa buat saya. Karena di tahun 2017 ini ulang tahun saya jatuh di hari dan weton yang sama dengan ketika saya lahir dulu. Sama-sama jatuh di hari Jumat dan, weton yang sama yaitu Pon! Halah, penting banget, yaa… Ya hari kaya begini kan belum tentu bisa ditemukan di setiap tahun, jadi wajarlah kalau saya menganggap ulang tahun di 2017 ini istimewa. Lebih istimewa lagi ketika jatuhnya di bulan Ramadan. Jadi saya nggak perlu traktiran teman satu biro… *eh*

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, saya sudah molor duluan sebelum pukul 00.00, waktu di mana orang-orang sering mendapatkan kejutan atau ucapan selamat ulang tahun pertama kalinya. Tapi saya selama ini belum pernah ada kejutan apa-apa tuh. Tapi biasanya sih yang mengucapkan selamat ulang tahun duluan Pak Suami sih, tentu saja sayanya juga sambil merem karena tidak kuat menahan kantuk.

Paginya barulah mulai ramai smartphone saya berbagai ucapan dari keluarga, whatsapp-whatsapp group dan pribadi, sama riuhnya dengan ucapan selamat di sosial media. Ah, kalian… terima kasih ya. Semoga doa yang sama juga tercurah pada kalian semua ya. Aamiin…

Yang lucu dan mengharukan itu pas di kantor. Jadi ceritanya sudah jam pulang kantor. Di ruangan hanya ada beberapa orang teman saja yang masih tinggal karena lembur. Saya sendiri sudah bersiap akan pulang sebenarnya. Sampai akhirnya ada 2 orang teman yang mengajak pulang bareng. Anyway, sampai situ saya masih belum nyadar lho kalau mereka berdua ini mau kasih saya surprise ulang tahun. Yang saya lihat mereka ini kok masih ribet aja nggak pulang-pulang, sementara saya sudah siap dari tadi.

birthday surprise

Ketika saya sedang asyik mainan HP, tiba-tiba salah satu dari mereka datang ke kubikel saya dengan alasan mencari berkas yang ditinggalkannya tadi. Padahal seingat saya dia nggak meninggalkan berkas apa-apa. Sampai akhirnya saya baru sadar kalau mau dikasih surprise ketika tiba-tiba dia menutup mata saya dari belakang, dan datanglah beberapa teman yang masih di ruangan, berkumpul di kubikel saya sambil membawakan mini tart dengan beberapa lilin ulang tahun. OMG! Kalian ini ya… 😀

Setelah mengucap doa dalam hati, saya pun meniup lilin ulang tahun dengan perasaan terharu. Kuenya, tentu saja belum bisa dimakan saat itu juga, kan masih pada puasa, hihihi…

Tak putus sampai situ saja, ternyata keesokan harinya saya diberi surprise oleh Pak Suami dan adik tercinta berupa… dijajanin di mall, boleh milih kado apa aja yang saya suka. Yes! Kesempatan! Saatnya menguras dompet dua orang ini! Hahaha… Eh, tapi nggaklah, saya nggak setega itu. Saya cuma pilih apa yang kebetulan saya butuhkan saja kok. High heels impian saya dan dompet. Sudah itu saja… *nangis lihat bon*

Hari Seninnya, saya pikir semua kejutan dan kado-kadoan sudah selesai dong, ternyata alhamdulillah masih ada yang kasih kado lagi. Kali ini berupa mini ice cream yang bentuknya imut lucu, yang dirajut sendiri oleh temen kantor, dan yang satu lagi yaitu In Ear Monitor, semacam alat untuk memonitor suara yang didesain agar pas terpasang di telinga penyanyi itu lho. Pas terima kado yang ini saya langsung membatin, wah, berasa sudah jadi penyanyi profesional aja ya, pakai IEM, hihihik. Ah, suka semualah pokoknya. Thank you very much, dear you!

Tapi, ngomong-ngomong yah, dari sekian banyak kado ulang tahun yang pernah saya terima, ada satu kado yang belum pernah saya terima sama sekali. Eh, pernah ding, tapi sudah dulu banget dan bukan dalam rangka ulang tahun, di zaman masih belum menikah. Apa itu? Bunga. Lah?! Iya, dulu sudah pernah sih kode-kodean sama suami soal bunga-bungaan ini, sampai dengan kemarin jawaban dia masih keukeuh

“Haiyah, ngapain sih minta dikasih bunga segala, wong ya nggak bisa dimakan, nggak tahan lama. Kasih kado itu yang bermanfaat, tahan lama, bisa dipakai, gitu…”

Jadi ya begitulah, pemirsa. Mungkin beginilah nasib bersuamikan orang teknik yang terbiasa berpikir pragmatis, dan kebetulan bukan tipe romantis. Halah, malah curhat, hahaha. Tapi ada enaknya juga sih nggak dikado bunga, kalau pemikirannya begitu, saya malah bisa minta kado yang lebih mahal dari harga bunga. Ye kaaan…

 

 

 

 

picture source: from here

Continue Reading

Balada Ojek Online

ojek-online

Sebagai orang yang mengaku sebagai certified ojek online customer yang notabene pulang pergi ke kantor pasti mengandalkan alat transportasi satu ini, tentu ada banyak cerita bersama abang-abang tukang ojek online.

Setiap berangkat e kantor (kalau pas lagi nggak bareng suami) saya pasti memesan layanan ojek online. Kalau pagi sih relatif lebih mudah dan cepat dapatnya, dibandingkan ketika pulang kantor (ditambah dengan lokasi penjemputan yang ‘kurang umum’ menurut mereka). Kebetulan lokasi penjemputan dekat dengan istana, di mana ada aturan yang tidak membolehkan motor melalui Bundaran HI hingga kawasan Istana Negara, menyebabkan mereka ragu untuk mengambil orderan saya, bahkan sering yang mendadak cancel dengan berbagai alasan. Kalaupun iya ada yang terima order saya, itu pun sampainya lama sekali, minimal 30 menit baru sampai. Kecuali saya rela jalan kaki lewat komplek istana dan menunggu di lokasi yang lebih mudah aksesnya, misal di Halte Veteran III. Jadi selama lokasi penjemputan di depan gerbang utama ya sudah pasrah saja sampai driver-nya datang. Intinya memang harus sabar.

Dari sekian banyak pengalaman dan cerita bersama abang ojek, ada satu yang lucu unik. Jadi ceritanya saya pulang lembur pukul 18.00 wib. Untuk mengantisipasi supaya nggak terlalu lama menunggu, sebelum pukul 18.00 saya sudah order via aplikasi. Nah persis dengan harapan saya, tak lama kemudian saya dapat pengemudi yang lokasi stand by-nya tak jauh dari kantor, di sekitaran stasiun Juanda. Berhubung lokasi penjemputan yang gerbangnya persis di samping Istana Merdeka banyak abang ojek yang ragu, apalagi bagi driver yang belum pernah mendapat orderan dari kantor saya, yang ada keder duluan. Malah ada yang bilang, “kalau nanti saya ketangkep polisi, ibu yang tanggung jawab ya!”. Yaelah, Pak… segitunya.

Kebanyakan para driver itu ragu kalau mengambil dari Jalan Veteran, antara mau langsung belok kiri atau enggak, karena takut ditilang polisi, padahal kalau untuk sekadar pick up atau drop off saja tidak ada masalah. Toh nantinya kita tidak akan lewat Monas/Thamrin, tapi lewat Tugu Tani, Menteng, dan seterusnya. Intinya tetap putar balik lewat depan gerbang utama. Alhasil banyak yang memilih aman dengan jalan memutar ke sana-kemari yang ending-nya kadang saya yang harus menyeberang ke depan Smailing Tour.

Demikian juga dengan abang ojek saya yang satu ini. Jujur, niat hati sebenarnya sudah pengen cancel dari tadi, tapi kalau di-cancel belum tentu saya dapat ojek lagi dalam waktu singkat, sementara hari sudah semakin malam. Jadi saya memilih menabahkan diri menunggu di depan gerbang sambil dinyamukin.

Setelah melalui drama bablas-bablasan, dan puter-puteran sebanyak 3x (kurang 4x putaran ditambah lempar jumroh), akhirnya abang itu berhasil menemukan saya yang mungil ini di depan gerbang pada pukul 19.05 dengan tampang yang semakin kucel karena terlalu lama menunggu.

“Maaf ya, Bu… saya tadi muter-muter dulu, jadi lama jemputnya…”
“Iya, gapapa, Pak…” jawab saya pendek sambil memakai helm.

Singkat cerita sampailah saya di rumah dengan selamat kurang lebih 45 menit kemudian setelah menempuh perjalanan yang mengandung macet naudzubillah di Rasuna Said.

Dan selang satu jam setelah itu muncullah pesan dari nomor yang tak dikenal ke gawai saya, isinya begini:

balada ojek online
Eaaa… hahaha… Saya bacanya antara speechless dan geli sendiri. Baru kali ini saya dikirimi pesan oleh abang ojek yang baper begini, hihihik. Saya sabar? Lebih tepatnya disabar-sabarin sih, Pak. Abisnya Bapak muter nggak selesai-selesai sampai sempat keluar orbit sih, Pak. Tapi alhamdulillah ya dibilang sabar, karena aslinya bukan orang yang sabaran. Alasan lain kenapa sampai saya bela-belain nungguin Bapak sampai Bapak tiba, ya karena cuma Bapak yang mau menerima orderan saya ke Mampang, yang lain pada nolak, Pak. Hayati lelah, Pak…. Hiks…

Eniwei, terima kasih kembali lho, Pak. Semoga segera bertemu dengan jodohnya yaaa… Semangat, Pak!

 

sumber ilustrasi: dari sini , whatsapp pribadi

 

Continue Reading

Alea+Demam=Baper

20170410_151344

Jadi ceritanya, seminggu yang lalu (1/4/2017) Alea demam. Seperti biasa, saya sudah sedia obat penurun demam dan obat flu racikan dokter yang biasa saya minumkan kalau Alea demam, flu, batuk, pilek. Demamnya sempat turun, tapi cuma karena reaksi obat saja, sekitar 3-4 jam pasca minum penurun demam, tapi setelah itu demam lagi. Bahkan suhunya sempat mencapai 39 derajat celcius.

Hari Minggunya (2/4/2017) saya coba minumkan air kelapa hijau, Alea langsung berkeringat banyak sekali, dan suhu badannya langsung turun ke suhu badan normal 37 derajat celcius. Alhamdulillah, sedikit lebih tenang. Apalagi dia juga jadi mau makan dan minum susu, padahal sebelumnya dia menolak, dengan alasan rasa makanannya asin. Mungkin maksudnya pahit ya.

Hari Seninnya (3/4/2017) suhu badannya kembali naik pelan-pelan, padahal Alea harus saya titipkan di daycare. Sedih lho ninggalin anak di daycare tuh, apalagi kalau anak lagi sakit, sementara kita tidak ada pilihan lain selain menitipkannya di daycare. Walaupun sudah saya bekali obat-obatan tetap kondisi Alea saya pantau dan meminta bunda-bundanya di sana untuk secara berkala mengecek kondisi Alea dengan memeriksa suhu badannya dan meminumkan obat sehabis makan siang. Tapi toh badan Alea tetap demam ditambah batuk pilek yang lagi hebat-hebatnya karena flunya baru mulai. Makin baperlah saya.

Tanpa berlama-lama, saya segera membuat janji konsultasi dengan Prof. dr. Soepardi Soedibyo, Sp.A(K) di RS Metropolitan Medical Centre (MMC), Rasuna Said. Sengaja saya pulang lebih cepat karena saya dapat nomor antrean 6, yaitu pukul 16.00.

Eyang Dokter (demikian beliau memanggil dirinya sendiri untuk para pasien kecilnya) melakukan pemeriksaan dengan seksama. Selain batuk, pilek, ternyata penyebab demamnya adalah virus. Jadi kalau virus obatnya bukan dengan antibiotik, tapi kekebalan si anaklah yang akan bekerja melawan virus tersebut. Eyang Dokter hanya meresepkan obat penurun demam dan obat racikan untuk batuk pileknya saja.

Sehari, dua hari, tiga hari, kok Alea masih demam? Duh, kenapa ya? Berarti sudah lebih dari 4 hari dia demam tinggi, tidak biasanya Alea demam sampai selama ini. Mulai deh tuh bermunculan berbagai kekhawatiran di kepala saya. Bagaimana kalau Alea kena demam berdarah? Bagaimana kalau thypus? Mengingat salah satu teman di daycare-nya juga ada yang didiagnosa typhus dan harus rawat inap selama 3 hari di rumah sakit. Nah, kan saya jadi makin baper, ya.

Dari pada saya baper sendiri, akhirnya saya konsul lagi via whatsapp (untung lho Eyang Dokter ini berkenan ditanya-tanya via whatsapp), sekadar tanya, kalau masih demam, kapan Alea harus kembali lagi ke dokter? Jawabannya, “Kamis, kalau masih panas”.

Dan ternyata sampai dengan hari Kamis (6/4/2017) suhu badan Alea masih tinggi. Panik? Lebih ke khawatir sih ya, karena Alea sudah tidak mau makan, hanya minum saja, kalaupun iya mau makan hanya 1 -2 sendok saja, alasan rasanya asin (pahit). Otomatis kondisi badannya makin drop, lemah, dan hanya mau tidur saja. Itu juga tidak nyenyak, hanya mau bobo gendong.

Tapi #MamaKuduSetrong , hari Kamis (6/4/2017) setelah maghrib, saya dan eyangnya membawa Alea ke dokter, naik taksi, dan ternyata harus menghadapi kemacetan luar biasa parah di sekitar Mampang akibat adanya pengerjaan underpass yang memangkas jalur menjadi lebih sedikit yang bisa dilewati. Pukul 18.45 saya masih parkir manis di Mampang belum bergerak sama sekali. Sementara dokter hanya praktik sampai pukul 20.00. Perjalanan jadi begitu lama karena macet yang luar biasa tadi.

Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.

Sepertinya driver taksi yang saya tumpangi itu membaca pikiran saya. Dia pun segera melesat sesegera mungkin setelah terbebas dari ujung kemacetan di Gatot Subroto, dan sampai dengan selamat di RS MMC tepat pukul 19.20. Alhamdulillah akhirnya sampai juga. Baru kali ini jarak Mampang-Rasuna Said yang biasanya tinggal ngegelundung doang sekarang harus ditempuh dalam waktu hampir 1.5 jam.

Tapi untunglah kami tidak perlu menunggu terlalu lama. Alea pun diperiksa dengan seksama. Dan diagnosa dokter masih tetap sama, penyebab demamnya ‘hanya’ karena virus, bukan demam berdarah atau typhus seperti yang saya khawatirkan. Tapi namanya ibu, tetap saja saya ‘ngeyel’. Kok diagnosanya ‘cuma gitu aja’? (woalah, profesor kok dieyeli, hihihik). Lhaaah, terus maunya gimana? Ya, berasa kurang mantep gimana gitu ya. Penyakit kok dimantep-mantepkan…

Eyang Dokter menjelaskan tentang berbagai penyebab demam, salah satunya jika demam disebabkan oleh virus. Bagaimana dengan typhus pada balita? Beliau menjelaskan bahwa tidak ada typhus yang menyerang anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kebanyakan demam yang menyerang anak-anak dikarenakan oleh virus, jadi kekebalan anaklah yang akan melawan virus itu, bukan dengan antibiotik. Bisa jadi kondisi badan si anak sedang drop, dengan mudah virus memasuki tubuh si anak. Ketika kondisi anak sedang kuat, virus akan lebih mudah dilawan. Tapi sebaliknya, ketika kondisi anak sedang drop, virus akan bertahan lebih lama di tubuh anak.

Bagaimana dengan demam berdarah? Beliau menjelaskan, demam berdarah ‘zaman sekarang’ tidak lagi menampakkan diri dengan bintik-bintik merah, tapi harus melalui tes darah.

Me: “Jadi, anak saya demamnya cuma karena virus aja, Dok?”

Dokter: “Iya, virus. Tapi ya sudah, coba kita cek darah sederhana aja ya. Makan dan minumnya gimana? Masih mau, nggak?”

Me: “Kalau minum sih dia mau, Dok. Makan yang dia nggak mau, alasannya rasanya asin… hehehe”

Dokter: “Kalau masih mau minum, itu bagus. Karena pada saat flu/demam, anak harus banyak minum supaya tidak dehidrasi. Sudah pup belum?”

Me: “Sudah, Dok. Malah sempat pup yang cair gitu, semacam diare”

Dokter: “Bagus, gapapa. Sekali aja, kan?”

Me: “Iya, sekali aja”

Dokter: “Itu tandanya tubuhnya sedang berusaha mengeluarkan racun. Gapapa. Jadi, sekarang kita coba ambil darah sambil sekalian diinfus aja ya…”

Saya pun mengangguk sambil trenyuh sendiri membayangkan tangan mungil batita saya untuk pertama kalinya disentuh jarum infus. Baper. Tapi sekali lagi, kan #MamaKuduSetrong , jadi ya harus kuat!

Percayalah, tidak ada seorang ibu pun yang tega melihat batitanya menangis panik ketakutan melihat dirinya dikelilingi para petugas medis yang mulai melakukan penanganan. Dengan tangis yang keras, Alea saya peluk sambil tiduran, sementara tangan kirinya mulai dibebat untuk dicari urat nadinya, diambil darahnya, dan disusul dengan cairan infus.

Alea diinfus selama kurang lebih 2 jam, mulai pukul 20.00-22.00. Suhu badannya berangsur-angsur normal, 37.5 derajat celcius. Hasil cek darahnya pun menyatakan bahwa demam yang diderita Alea ‘hanya’ virus, bukan demam berdarah atau typhus seperti yang saya khawatirkan. Alhamdulillah. Sekitar pukul 23.00 kami pun pulang ke rumah dengan perasaan sedikit lebih lega ketimbang sebelumnya.

Sekarang tinggal batuk pileknya saja yang belum sembuh, tapi insyaallah berangsur-angsur membaik, walaupun nafsu makannya masih belum pulih seperti semula.

Semoga cepat sehat ya, Nak. Jangan sakit-sakit lagi ya. Mwach!

 

 

ilustrasi: koleksi pribadi

Continue Reading

Blessing in Disguise

blessing

Di sebuah siang yang terik, saya memenuhi janji temu dengan seorang teman lama. Kebetulan dia sedang ada dinas di Jakarta, jadi ya ketemuan saja, lepas kangen sambil ngobrol-ngobrol ringan dengan topik random. Namun obrolan jadi lebih serius ketika kami membahas salah satu teman baik kami yang sedang melalui titik nadir dalam kehidupan berumah tangga.

Selama ini saya selalu menilai teman-teman saya baik-baik saja dengan kehidupan masing-masing, begitu juga dengan hubungan personal dengan teman-teman yang lain. Kalau pun iya ada masalah rumah tangga ya wajar, namanya hidup berumah tangga pasti ada saja masalahnya, kan? Kalau sekadar salah paham, beda sudut pandang, selama itu bukan hal yang prinsip dan masih discussable sepertinya masih wajar-wajar saja ya.

Pun halnya dengan teman yang diam-diam saya kagumi sosoknya ini. Bagaimana tidak jadi idola, di mata saya dia adalah sosok yang nyaris sempurna. Memiliki pasangan yang sempurna, selalu terlihat harmonis, rumah tangga mereka terasa lengkap dengan 3 anak yang lucu-lucu, karier suami isteri yang cemerlang, kehidupan yang agamis, pokoknya pasangan yang serasi luar dalam. Setidaknya itu yang ada di mata saya. Hingga akhirnya saya dengar kalau rumah tangga sang teman idola ini sedang berada di ujung tanduk. Kaget dan sedih itu pasti. Layaknya sebuah tamparan keras di siang bolong. Betapa kadang yang terlihat sempurna di luar itu belum tentu sempurna di dalam, vice versa.

Belum selesai keterkejutan saya, masih dikejutkan lagi dengan cerita teman-teman lainnya di komunitas lama, yang mengalami masalah tak kalah peliknya. Tentang masalah keuangan, hutang piutang, dan bahkan ada yang terjerat kasus penipuan. Hiks… sedih

Tapi ada hal yang perlu saya bold, underlined, dan stabilo tebal-tebal. Mungkin saya selama ini terlalu sederhana dalam menilai seseorang, atau terlalu naif ya? Tidak selamanya penampilan luar itu berbanding lurus dengan yang ada di dalamnya. Banyak orang yang terlihat jauh lebih baik dari kita tapi sebenarnya tidak lebih dari kita. Banyak orang yang terlihat lebih bahagia belum tentu merasa bahagia sebagaimana diperlihatkan.

Kalau boleh saya mengambil istilah psikologi, semacam Eccedentesiast, orang yang mampu menyembunyikan rasa sakit dan kesedihan mereka di balik senyum atau wajah yang baik-baik saja, sehingga terlihat tidak sedang mengalami masalah, demi menjaga hubungan dengan orang lain. Pendek kata, semacam bukan tipe pengeluh.

Dari dialog siang itu, ada banyak perenungan di pikiran saya. Bahwa bahagia itu bukan berarti segala sesuatunya serba sempurna, tapi justru ketika kita bisa melampaui segala ketidaksempurnaan yang kita miliki.

Hidup itu kadang penuh dengan kejutan dan guncangan, pasti ada yang namanya suka dan duka, ada sahabat, ada musuh, ada senyum, ada air mata. Tapi hidup itu kan sejatinya bukan membahas tentang siapa kita, tapi bagaimana kita menjalaninya; how we live it. Hidup juga bukan melulu membahas tentang kapan/bagaimana kita jatuh, tapi tentang bagaimana kita bangkit berdiri setelah diterpa berbagai masalah.

Selalu percaya bahwa, segala sesuatu itu terjadi karena suatu alasan. Seperti kata Marylin Monroe,

“People change so that you can learn to let go, things go wrong so that you appreciate them when they’re right, you believe lies to you eventually learn to trust no one but yourself, and sometimes good things fall apart so better things can fall together.”

Tidak selalu yang namanya musibah, ketidakberuntungan, ketinggalan kesempatan, dan berbagai masalah itu pasti buruk. Karena bisa saja segala hal yang buruk itu justru akan membawa kita ke hal-hal yang jauh lebih baik, menjadikan kita jauh lebih kuat, atau setidaknya ada sebuah pembelajaran yang bisa kita ambil. And that is always a good thing. Often times, it is for the best; we might just not know it.

My two cents…

 

PS: hasil kontemplasi selama berhari-hari yang ditulis sambil ngopi di sore hari, pas jam kosong

 

 

picture source: here

Continue Reading

Sebuah ‘Project Rahasia’

Di Jumat pagi yang sibuk. Ting! Sebuah pesan masuk ke handphone saya.

“Devi, kamu ikut rapat di Ruang Rapat Sesmen, sekarang ya…”

Saya pun bergegas menuju Gedung Utama dan langsung menuju ke ruang rapat. Dalam hati saya bertanya-tanya sendiri, tumben saya dipanggil Bapak untuk ikut rapat di sini? Apa ada hubungannya dengan event acara hari Senin, 6 Januari 2017?

Sesampainya di sana, ternyata benar, rapat ini untuk mempersiapkan acara untuk hari Senin, 6 Februari 2017 lusa. Hah, lusa?!

Mensesneg via staf TU dan tim Sespri menginformasikan bahwa beliau ingin membuat sebuah acara pemberian penghargaan kepada para pejabat/pegawai yang telah berhasil membuat inovasi-inovasi dan perubahan positif bagi kantor tercinta ini. Tapi beliau ingin acara ini sifatnya surprise, bungkus saja dengan tajuk acara “silaturahmi dan pengarahan oleh Mensesneg”. Jangan sampai ada yang tahu, kecuali panitia saja. Begitu wanti-wanti Mensesneg via staf beliau.

Btw, begitu tahu format acaranya seperti itu seketika pikiran saya langsung terarah kepada moment ketika Obama menganugerahkan Presidential Medal of Freedom with Distinction kepada Wakil Presidennya, Joe Biden. Presidential Medal of Freedom with Distinction merupakan tanda penghormatan tertinggi dari pemerintah Amerika Serikat kepada warga sipil mereka yang dianggap telah memberikan kontribusi dan jasa luar biasa bagi Amerika Serikat. Nah, acara ini sepertinya kurang lebih seperti itu, tapi massal.

Sebenarnya di hari Selasa, 7 Februari 2017 ada acara pelantikan pejabat Pimpinan Tinggi Pratamadi lobby Gedung Utama, tapi demi efektifnya acara, beliau menginstruksikan agar acara pelantikan digabung saja dengan acara silaturahim. Wah, bakal jadi acara pelantikan terspektakuler sepanjang sejarah pelantikan di Sekretariat Negara nih. Karena baru kali ini lho ada pelantikan 3 orang Eselon II yang biasanya cuma dihadiri oleh para pejabat Eselon I saja, tapi kali ini dihadiri oleh kurang lebih 600 pejabat eselon I-IV di lingkungan Kementerian Sekretariat Negara, plus para undangan.

Kalau pelantikan, berhubung format acaranya sudah tetap, jadi persiapannya tidak terlalu heboh. Beda dengan acara kedua yang baru nemu rundown-nya saja, sementara format acaranya akan seperti apa belum jelas. Apakah akan dibuat formal, semi formal, atau tidak formal sama sekali? Lalu bagaimana dengan pengaturan tata ruangannya? Apakah class room style, theatre style, banquet style, U shape style, atau custom sajalah sesuai arahan Pak Menteri jika ada? Sama sekali belum ada gambaran yang pasti.

Hingga akhirnya, hari Minggu siang, tanggal 5 Februari 2017, semua panitia yang terlibat di 2 acara tadi memutuskan untuk ketemuan di lokasi acara untuk menyelaraskan segala sesuatu yang berkaitan dengan teknis dua acara yang akan inline besok.

Setelah koordinasi, latihan, simulasi, sinkronisasi, edit sana-sini, makan snack, dan gladi berkali-kali, sekitar pukul 19.30 disepakatilah konsep dan format acara yang sesuai atau (paling tidak) mendekati dengan arahan Pak Menteri. Pffiuh, akhirnya… *usap peluh*

Sesampainya di rumah saya belum bisa langsung tidur. Setelah menemani Alea bobo, masih langsung lanjut koordinasi jarak jauh dengan panitia dan tentu saja partner MC saya. Kebetulan di acara kedua, saya akan memandu acara secara duet, jadi butuh bahan buat ‘tektokan’ omongan. Pastinya butuh chemistry dan kerja sama, kapan harus ngomong sendiri, kapan harus bareng, dst.Saya sendiri menyerah pada rasa kantuk tepat pukul 01.00 dini hari dan menyerahkan estafet bahan MC-an ke partner MC saya, Si Dimas untuk disempurnakan lagi.

Semua panitia yang terlibat benar-benar mencurahkan tenaga dan konsentrasinya untuk acara yang secara guyonan kami sebut project ‘Bandung Bondowoso’ ini. Hahahaha, iyalah. Jika ditotal, kami hanya mempersiapkan acara ini selama 3 hari saja (Jumat, Sabtu, Minggu). Padahal ini termasuk acara besar, dan baru pertama kalinya ada di Kementerian Sekretariat Negara. Pastinya butuh persiapan yang banyak sekali dan lumayan ribet.

Pukul 07.30 tim protokol pelantikan sudah bergerak ke Krida Bhakti untuk gladi dan persiapan acara pertama, yaitu pelantikan, sekaligus koordinasi terakhir terkait acara kedua yaitu silaturahim dan pengarahan oleh Mensesneg. Whoaa, jujur agak deg-degan. Satu saja doa kami, semoga kedua acara ini berjalan lancar, tidak ada kendala, dan Pak Menteri berkenan.

Satu persatu tamu dan undangan mengisi Gedung Krida Bhakti yang pagi itu tampak semarak sekali. Walau tak bisa dipungkiri ada banyak wajah penasaran yang terlihat pagi itu. Hihihik, maaf ya… kami terpaksa harus merahasiakan acara ini, karena memang demikian arahan Pak Menteri, biar surprise.

Acara pertama berjalan khidmat dan lancar. Selang 5 menit seusai pelantikan, bersama partner MC saya hari itu (Dimas), langsung memandu acara kedua, yaitu silaturahim dan pengarahan oleh Mensesneg.

Jujur, saya agak geli melihat berbagai ekspresi dan kasak-kusuk para undangan yang hadir tentang dua agenda yang berlangsung hari Senin kemarin. Apalagi di sesi pengarahan oleh Mensesneg. Berbagai ekspresi tergambar di raut wajah para undangan. Ada yang tegang, ada yang datar-datar saja, ada yang serius, ada yang senyum-senyum, tapi yang ngantuk juga ada.

Mensesneg menyampaikan arahannya dalam beberapa slide, yang intinya menginformasikan berbagai inovasi yang telah hadir di Kementerian Sekretariat Negara, sekaligus menyampaikan rasa terima kasih yang setulusnya kepada para pejabat/pegawai yang telah memberikan kontribusi positif kepada kantor tercinta dalam bentuk inovasi-inovasi yang kreatif. Dalam kesempatan itu Mensesneg juga meminta maaf, karena selama 2.5 tahun ini sudah jadi orang yang cerewet, bawel, dan menyebalkan kepada seluruh pegawai di lingkungan Kementerian Sekretariat Negara. “Saya terpaksa harus menjadi Devil Advocate. Its not me, but I have to do that. Saya mohon maaf Bapak Ibu”, ujar beliau.

Ketika slide sudah menampilkan kata ‘Terima Kasih”, di situlah peran kami sebagai MC sejatinya baru dimulai. Bagaimana memulai acara dan menggiring mood hadirin yang awalnya serius menjadi lebih santai dan cair.

Oh ya, di pintu masuk, panitia sudah membagikan beberapa kertas origami berwarna-warni kepada beberapa pejabat yang hadir. Pasti beliau-beliau itu sempat bertanya-tanya, “ini kertas buat apaan?”. Di sesi inilah misteri kertas origami itu terpecahkan, hihihik.

Mekanisme penyebutan para nominasinya kami sudah atur sedemikian rupa supaya tidak terlalu ribet. Ada 47 inovasi tercatat, yang dikelompokkan ke dalam 8 kategori lengkap dengan para nominee dan pemenangnya, dan siap untuk diumumkan. saat kami mulai memanggil para pejabat pemegang kertas dengan warna tertentu untuk maju dan menerima penghargaan inovasi dari Mensesneg, di situlah suasana yang tadinya hening, tegang, dan serius berubah menjadi pecah, riuh, dan penuh tepuk tangan.

Alhamdulillah, acara berjalan lancar. Bahkan hingga kami menutup acara, semua kegembiraan masih tergambar jelas di raut wajah para pemenang. Ada raut kelegaan pula yang tergambar di wajah para panitia yang sudah bekerja keras demi kelancaran acara ini. Kalau pun ada kekurangan di sana-sini ya wajar, karena persiapannya hanya 3 hari, itu pun 2 harinya Sabtu dan Minggu.

Saya patut menjura kepada totalitas seluruh panitia. Dalam waktu sesingkat itu semua bisa tertangani, mulai mempersiapkan trophy, piagam penghargaan, video, presentasi, dll terkait teknis acara. Semua bekerja sesuai dengan fungsi dan porsi masing-masing tapi tetap saling dukung dan terintegrasi satu sama lain.

Senang bisa bekerja sama dengan kalian, hai para alumnus Hogwarts! Kalian luar biasa!

 

 

NB: Foto-foto acara akan di up date nanti ya, hehehe…

Continue Reading