Drama itu bernama Long Weekend

mood-swing

Seperti umumnya perempuan, pasti akan mengalami masa datang bulan. Dan, seperti biasa juga, pasti kita akan mengalami yang namanya mood swing alias mood senggol bacok a.k.a supersensitive. “Ah, siapa bilang? Aku lempeng-lempeng aja, kok…”. Sini, berantem sama saya, yok! Hahaha…

Seperti bulan ini misalnya, seminggu sebelum datang bulan, saya sudah ‘mengendus’ bau-bau sensi dan nafsu makan yang gila-gilaan. Sudah makan nasi, masih makan roti. Sudah makan roti masih juga ngembat buah. Istirahat sebentar, eh ngemil keripik singkong. Habis keripik singkok, dilanjut Belvita. Tidur. Bangun-bangun makan cincau. Habis itu nimbang. Eh, kaget sendiri karena jarum timbangan mengarah ke kanan menjadi 52 kg, setelah sebelumnya 48-49 kg. Itu kayanya yang 3 kg selain camilan, juga mengandung emosi deh, karena kalau sudah selesai datang bulan ya berat badan kembali ‘normal’.

Nah, 3 hari libur kemarin itu jadi masa yang penuh drama buat saya. Kami memang sengaja tidak pergi ke mana-mana selain ke Superindo untuk belanja bulanan, selebihnya di rumah saja, main sama Alea dan jadi ibu rumah tangga sejati. Ciyeee, sejati. Kaya ibu kita Kartini. Putri Sejati. Nggak ke mana-mana selama long weekend itu sebenarnya ada positifnya juga sih, saya jadi punya quality time sama keluarga, utamanya sih sama Alea. Mulai nonton youtube/film bareng, main masak-masakan bareng, bikin bubble dari air sabun, atau mainan play dough dari tepung terigu. Ada waktu juga buat masak ala kadarnya buat Alea dan papanya, beberes lemari yang selama ini cuma janji palsu. “Iya, tenang, nanti aku beresin…”. Tapi itu janji 6 bulan yang lalu dan baru sempat ‘kepegang’ kemarin, pas semua pada pulas tidur siang. Eh, jangan salah, beberes rumah atau lemari itu butuh niat dan tekad yang bulat, didukung dengan kesempatan dan waktu yang tepat.

Trus, kemarin cranky, nggak? Iya, biasalah, namanya juga perempuan mau datang bulan, kadang lebaynya suka berlebihan. Sudah lebay, berlebihan pula. Eh, tapi beneran deh, kemarin itu full kejadian yang menuntut kesabaran tingkat nasional. Suami saya itu tipe suami panikan. Kalau Alea nangis, atau merengek minta sesuatu, dan dia nggak ngerti apa maksudnya, pasti akan mengarahkan, “ya udah ke mommy aja ya… yuk, yuk…”. Kalau saya lagi nggak ngerjain apa-apa sih, ya nggak apa-apa. Lha kalau lagi banyak yang harus dikerjain ya kenapa nggak dibantu ngasuh dulu sih *usap peluh*. Nah, kemarin gara-garanya juga sepele banget, tapi berhubung sayanya juga lagi mood senggol bacok, makanya jadi agak ngambek-ngambekan sama suami. Cuma gara-gara, youtube di i-Pad lagi no connection, gara-garanya saya salah tekan apalah, nah saya yang lagi masak minta tolong ke suami buat setting ulang modem, atau benerin apalah biar internet lancar lagi. Ya kan saya lagi nyambi masak, nanti gosong dong masaknya, ya kan? Ndilalah Aleanya lagi baperan, maunya saya aja yang benerin internetnya, jangan papanya, karena katanya papanya nggak bisa benerin. Yaelah, Nak. Kamu ini nambahin PR mama aja. Duh, pokoknya lagi pada lebaylah serumah.

Itu pertama, kasus kedua. Pas lagi beberes dapur, mendadak rumah kaya kok berasa ada aromaterapinya ya, kaya wangi-wangi minyak gosok, gitu. Feeling saya agak nggak enak nih. Nah, bener deh, di kamar, Alea lagi asik menuangkan minyak gosok ke lantai sampai kecret ke mana-mana, sebagian lagi diolesin ke badan bonekanya. Jadilah itu boneka wangi minyak gosok, plus lantai-lantainya tentu saja. Antara geli, kesel, dan capek, numpuk jadi satu, tapi tetap lumer juga ketika melihat senyum tengil di wajah Alea yang innocent, demi melihat saya menyemprot lantai, mengepel, dan membereskan bonekanya yang wangi obat gosok.

OK, berarti sudah aman ya, Kakak? Aman sih, sampai setengah jam kemudian hal yang sama terjadi berulang. Kali ini Alea kembali beraksi. Kali ini bukan dengan obat gosok, melainkan dengan minyak rambut kemiri. Minyak kemirinya tidak lagi dioleskan ke badan bonekanya, tapi dituang ke lantai, buat ngepel. Huhuhuhuhu…. Alea, huhuhuhu… Suami saya karena judulnya masih sensi, dia cuma menengok sebentar lalu sibuk dengan outstanding pekerjaannya. Pokoknya judulnya saya lagi dicuekin sama suami, ceritanya masih marah gara-gara kejadian tadi pagi yang menurut saya sih… come on,.. sudah kedaluwarsa.

Hingga puncaknya sore, menjelang maghrib, setelah seharian ‘tegangan tinggi’, pecah juga tangis saya, hanya gara-gara camilan yang tidak sengaja ditendang Alea hingga berhamburan ke lantai yang baru saja saya sapu dan pel. Alea, seperti merasa bersalah, langsung mendekati saya dan memeluk saya erat. Lah, saya ya jadi makin baper. Saya tahu dia tidak sengaja menumpahkan makanan di lantai, saya juga sedang dalam kondisi emosi yang ‘berantakan’ karena hormonal, ditambah dengan suasana yang emosi-emosian antara saya dan suami, walaupun saya sendiri sudah tidak marah. Saya itu kalau marah cuma 5 menit kok, habis itu ya sudah selesai. Enak lho kalau mau berantem sama saya, marahnya sebentar. Eh, gimana, gimana?

Tapi ada hal positif yang saya pelajari selama 3 hari kemarin. Tugas menjadi seorang perempuan, seorang ibu, seorang isteri, seorang perempuan bekerja, itu tidak pernah mudah. Dibutuhkan kesabaran luar biasa untuk memainkan 3 peranan itu secara bergantian. Menjadi orang tua itu juga tidak ada sekolahnya, begitu juga menjadi suami/isteri. Kita tiba-tiba saja ‘diceburkan’ dalam peran-peran itu tanpa terlebih dulu ditanya kesiapan kita. Karena kalau ditanya siap tidak siap ya selamanya akan tidak siap. Jadi anggap saja ini semua semacam pembelajaran seumur hidup.

Di situ, sebagai orang tua, saya bukan hanya belajar mengendalikan emosi, tapi saya juga belajar melihat bagaimana Alea mengelola emosinya, perasaannya, bagaimana dia menempatkan diri ketika ada salah satu orangtuanya yang sedang marah (entah itu marah kepada dirinya, atau ketika orang tua sedang bersitegang). Itulah kenapa saya dan suami berkomitmen untuk tidak bertengkar di depan anak. Kalaupun terpaksan kami sedang marahan, jangan sampai melibatkan/melampiaskan kepada anak. Karena bagaimana pun perasaan seorang anak itu sangat peka, melebihi kepekaan perasaan orang dewasa.

Sebagai seorang pasangan, saya juga masih terus belajar mengendalikan emosi, terutama lisan saya, jangan sampai lisan atau perbuatan saya mencederai perasaan suami saya atau orang-orang di sekitar saya. Terutama dalam kehidupan berumah tangga, karena bagaimana pun ridho suami adalah ridho Allah. Bukankah begitu, pemirsa? Tentu saja begitu!

Jadi, pesan moralnya apa? Sesungguhnya seminggu menjelang datang bulan adalah masa-masa berat bagi seorang perempuan. Bukan hanya berat di mengelola emosinya, tapi juga berat di sesi menahan nafsu makannya… hiks… 😐

 

 

sumber gambar dari : sini

Continue Reading

Kesibukan yang Random Itu

Lama juga ya saya tidak up date postingan apapun di blog yang sudah banyak sarang laba-labanya ini. Biasalah alasannya klise, belum ada kesempatan yang pas buat up date blog. Di kantor pas kerjaan lagi ‘panen raya’, kalau pas sudah di rumah sudah malas buka laptop karena sudah keburu capek dan ngantuk. Belum lagi beberapa waktu lalu Alea sakit, jadi ya harus konsentrasi merawat dia sampai sembuh. Biasalah, kalau di daycare kan kalau sakit satu virusnya nular ke teman lainnya, tapi sekarang sih alhamdulillah sudah sehat, dan akhirnyahari ini bisa posting sesuatu.

Hari ini saya meliburkan diri, daycare-nya Alea kebetulan diliburkan karena hari ini bertepatan dengan demo 212 di Monas. Lebih ke tindakan preventif sih, dikhawatirkan terjadi kejadian seperti tanggal 4 November kemarin yang sempat rusuh. Untungnya saat itu eyangnya Alea masih di rumah, jadi Alea nggak ke daycare. Tapi hari ini, mau tidak mau saya harus meliburkan diri karena kalau pun saya bawa Alea ke kantor, dia tidak akan bisa istirahat dengan properly, saya pun bekerja juga nggak bakalan tenang karena harus membagi konsentrasi ke pekerjaan dan Alea yang pasti aktivitasnya bakal ada saja, tidak mau diam. Jadi kesibukan saya akhir-akhir ini selain kerja ya pastinya momong bocah karena eyangnya sudah kembali ke Surabaya, jadi Alea full sama saya.

Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, bulan-bulan terakhir menjelang akhir tahun adalah bulan-bulan sibuk. Terutama persiapan peringatan HUT Korpri yang tahun inindilalahsaya didapuk jadi koordinator peserta lomba menyanyi tunggal dan baca Pembukaan UUD 1945 di satuan kerja Sekretariat Kementerian dan Kedeputian.

Baca Pembukaan UUD 1945 sajapakai dilombakan? Iya, karena sebenarnya tidak mudah membaca Pembukaan UUD 1945 itu, kalau sekadar baca saja sih bisa kelarlah, tapi kalau membaca secara ‘benar’, lumayan ada tantangannya. Dulu ketika awal-awal menjadi petugas upacara, sayaspesialisasi pembaca Pembukaan UUD 1945. Sempat bosan sendiri, masa tiap kali tugas kok ya kebagianjadi pembaca UUD. Kenapa bukan jadi MC atau baca yang lain saja, selain UUD 1945. Tapi akhirnya saya malah menemukan keseruan tersendiri ketika bertugas sebagai pembaca UUD 1945, karena di sana saya bisa ‘mengolah’ intonasi dan memberi ‘jiwa’ di dalamnya. Alhamdulillah sih sejauh ini responnya positif dan katanya baru kali ini pembacaan Pembukaan UUD 1945 itu beneran disimak oleh peserta upacara, hahaha… ada-ada saja.

p_20161123_111029

Lomba baca Pembukaan UUD 1945 ini penyelenggaranya adalah Sekretariat Militer Presiden, lombanya pun dilakukan di sana. Setiap satuan kerja diperkenankan untuk mengirimkan maksimal 2 orang wakil peserta. Berhubung yang mendaftar ke saya lebih dari 2 orang, berarti saya harus melakukan seleksi internal meliputi baris berbaris, dan olah vokal. Tidak semua paham peraturan baris berbaris, tidak semua mampu mengolah vokal sehingga memunculkan suara yang terdengar ‘utuh’ dan ‘gagah’ ketika membaca Pembukaan UUD 1945. Singkat cerita, alhamdulillah salah satu peserta yang kami kirimkan meraih juara 3. Merupakan sebuah prestasi yang lumayan bagus, mengingat dia sama sekali belum pernah menjadi petugas upacara, dan butuh sedikit effortuntuk mengolah suaranya yang cenderung cempreng kalau sedang hilang fokus hingga jadi suara yang bulat dan ‘utuh’ :D.

Selesai mengoordinatori lomba pembacaan Pembukaan UUD 1945, lanjut ke lomba menyanyi tunggal. Ada sedikit ‘insiden’ di lomba ini. Setiap satuan kerja hanya diberi alokasi nomor peserta sebanyak 14 nomor, terdiri dari 7 nomor peserta lagu pop,dan 7 nomor peserta lagu dangdut. Sejak awal dibuka, animo peserta lomba menyanyi lagu pop lebih banyak dibandingkan dengan lagu dangdut yang hingga mendekati waktu lomba hanya ‘laku’ 1 nomor saja. Tapi ya sudahlah, daripada tidak ada sama sekali, kan?

Di detik-detik mendekati lomba di mulai, saya mulai mengabsen satu persatu calon peserta. Ternyata ada 1 peserta lagu pop yang hingga mendekati injury time baru kasih kabar kalau dia masih rapat di kementerian lain. Lah, kalau dadakan cari peserta kan agak susah ya, memangnya kita penjual tahu bulat? Setelah ditawarkan ke sana ke mari dan berbuah tidak ada yang berminat ikut lomba, akhirnya ya sudahlah saya akhirnya ikut lomba menggantikan peserta yang mengundurkan diri dadakan tadi. Padahal aslinya saya tidak mau ikut lomba, biar kasih kesempatan buat yang lain. Tapi ya dari pada nomornya mubadzir, akhirnya saya ikutan juga. Tanpa ada waktu latihan, tanpa persiapan apa-apa, saya download saja lagunya Sam Smith dari youtube, lanjut burn ke cd. Oh ya, di babak penyisihan ini para peserta menyanyikan lagu pilihan masing-masing dalam format minus one karaoke.

Saya menyanyi nyaris tanpa beban. Lolos syukur, nggak juga tidak apa-apa, namanya juga lomba menyanyi ala-ala. Walaupun tak dipungkiri saya sempat keder juga melihat kualitas vokal peserta lain yang luar biasa. Ndilalah, pas pengumuman kok saya dan rekan seperjuangan saya dari satuan kerja yang sama dinyatakan masuk final. Itu berarti kami akan tampil dengan iringan live band. Dari beberapa lagu pilihan yang sudah dipilih oleh panitia, saya memilih lagu Keliru, Ruth Sahanaya untuk dinyanyikan ketika final nanti. Bukan apa-apa, sepertinya hanya itu lagu yang paling sesuai dengan vokal saya yang pas-pasan ini dan kebetulan liriknya juga nggak ribet. Saya hanya sempat latihan sekali saja bersama band ketika pengambilan nada dasar, selebihnya hanya sempat mendengarkan lagi dalam perjalanan menuju kantor itu pun di hari H. Doh, Devi!

Ada yang lucu ketika final berlangsung. Ketika semua perwakilan didukung oleh suporter yang super heboh, beda dengan kami berdua yang nyaris tanpa suporter, hihihik. Bukan apa-apa, kebetulan, di hari yang sama dengan penyelenggaraan final lomba menyanyi itu biro saya juga ada gathering ke Puncak, jadilah para peserta gathering sudah sebagian berangkat ke Puncak, dan menyisakan beberapa orang saja yang kebetulan berhalangan ikut. Plus ternyata para penonton di situ tidak tahu mana peserta perwakilan dari Sekretariat Kementerian dan Kedeputian yang lolos masuk final. Kasian amat ya…. ;))

img_20161127_194213

Bagi yang berkenan melihat video lomba nyanyi ala-ala bisa dilihat di sini, pardon my ‘sember’ voicelho ya :D. Singkat cerita, alhamdulillah ada berkahnya juga ternyata, saya dinyatakan sebagai juara 2. Saya sudah siap mau pulang, karena sepertinya tipis harapan bakal menang, karena saya lihat ada peserta lain yang jauh lebih bagus ketimbang saya. Juara 3 saja saya lolos, nggak mungkinlah juara 2 apalagi juara 1, pikir saya. Tapi sekali lagi, rezeki tidak akan tertukar, mungkin tahun ini rezeki saya, ikut lomba nyanyi dadakan, dan jadi juara 2. Semoga jurinya sedang tidak khilaf, dan tidak salah hitung ya…

Kesibukan lainnya sih standar, memandu acara pelantikan pejabat Eselon II, III, dan IV di lingkungan Kementerian Sekretariat Negara, dan sempat juga memandu acara ‘dadakan’ di Pengukuhan Dewan Pengurus KORPRI Kementerian Sekretariat Negara yang bertepatan dengan peringatan HUT KORPRI Ke-45 yang jatuh pada tanggal 29 November 2016. Ya sebenarnya acaranya sendiri sih tidak dadakan, request ngemsinya yang dadakan. Sepertinya kita harus selalu siap untuk acara-acara dadakan deh. Eh, adakah yang ikut upacara di Monas? Saya sih kebagian sidak bersama teman-teman Biro SDM lainnya, hihihik. Ternyata sidak itu bikin gempor kaki ya 😐

Kesibukan berikutnya apa? Masih ada 2 agenda acara lainnya yang sedang menunggu di tanggal 4 Desember dan 6 Desember 2016. Tanggal 4 Desember 2016 saya akan memandu acara puncak HUT KORPRI ke-45 di lingkungan Kemensetneg dan Setkab, sedangkan tanggal 6 Desember 2016 saya dipercaya memandu acara kerja sama antara Dharma Wanita Persatuan Kementerian Sekretariat Negara, Komisi Pemberantasan Korupsi, Australia Indonesia Partnership for Justice (AIPJ), dan The Australian Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) dalam penyelenggaraan acara “Saya Perempuan Anti Korupsi”. Sebuah acara yang pernah saya ikuti juga beberapa waktu lalu di Hotel Sari Pan Pacific. Harapan saya selalu sama, semoga acara yang saya pandu semuanya berjalan lancar.

Hmm, sepertinya sih yang di depan mata baru 2 acara itu saja sih, entah ke depannya nanti ada acara apa lagi selain upacara dan pelantikan tentu saja.

Jadi, begitulah beberapa kesibukan saya beberapa waktu ini, mohon dimaklumi kalau jarang up date. Toh sepertinya kalau blog abal-abal ini banyak sarang laba-labanya juga kayanya sudah biasa ya, alasannya pun klasik dan klise, hihihik…

Selamat berakhir pekan, kawan! Have a good day!

 

Continue Reading

Tentang Memandu Acara di Rumah Mantan Kepala Negara

20161217_225821

 

Pada suatu malam, ketika saya hampir lelap menemani Alea tidur, smartphone saya berbunyi. Dari layar terbaca nomor salah satu kepala bagian di Biro Umum.

“Ya, Pak…”
“Devi lagi di mana?”
“Di rumah, Pak. Mau kelonan sama Alea, hehehe. Kenapa, Pak? Ada yang bisa kubantu?”
“Ya ada dong. Masa saya nelepon kamu malam-malam nggak ada yang bisa kamu bantu, hehehe. Besok ngemsi di rumah Pak SBY, ya…”

Glek! Kantuk saya mendadak lenyap.

“Oh.. acara apaan, Pak?”
“Serah terima rumah dari negara ke mantan Presiden. Acaranya besok jam 09.00 di Mega Kuningan ya.”
“Rundown-nya, Pak?”
“Abis ini aku kirim. Ok, ya Dev. Jangan lupa lho ya, besok jam 9 pagi…”
“Ok, siap, Pak!”

Setelah telepon ditutup saya panik sendiri. Ini sudah hampir pukul 9 malam, dan dapat telepon mendadak untuk acara besok pagi yang pastinya bukan acara ‘biasa-biasa’ saja, dan tidak mungkin saya mengemsi tanpa persiapan matang, sekalipun acaranya semi formal.

Dari hasil koordinasi yang saya lakukan malam itu dengan 2 orang pejabat dari Biro Umum belum sepenuhnya fix karena mereka pun masih dalam koordinasi dengan Kepala Biro Umum dan keluarga Cikeas. Tapi dari gambaran rundown secara kasarannya sih memang acaranya memang tidak terlalu formal. Setidaknya saya masih ada gambaran bentuk acaranya seperti apa.

Serah terima rumah tersebut sedianya akan dilakukan langsung oleh Mensesneg, namun ternyata di hari yang sama ternyata Mensesneg berhalangan hadir karena di waktu yang sama juga harus mendampingi Presiden di acara lainnya, sehingga penyerahan kunci dan berkas-berkas lainnya diwakili oleh Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara, Bapak Setya Utama.

Selama ini saya lebih banyak dipercaya untuk memandu acara-acara di kantor; seperti pelantikan, acara-acara sosialisasi, focus group discussion, hari ulang tahun KORPRI, dan sesekali memandu acara di luar kantor secara freelance. Jadi, meskipun saya bekerja di lingkungan yang sangat dekat dengan istana, dan sekalipun Sekretariat Presiden itu berada di bawah koordinasi Kementerian Sekretariat Negara, tapi berhubung saya bukan ditempatkan di lingkungan Sekretariat Presiden jelas perintah untuk memandu acara di rumah Pak SBY ini menjadi pengalaman pertama bagi saya.

Keesokan harinya, tanggal 26 Oktober 2016, saya berangkat bersama teman-teman Biro Umum. Alhamdulillah, jalanan menuju ke arah Mega Kuningan tidak terlalu padat, mungkin karena kami berangkat dari jalanan yang berlawanan arah dengan jalur kemacetan.

Tak lama, kami pun sampai di Mega Kuningan Timur VII, Jakarta Selatan; tepat di belakang Kedutaan Besar Qatar. Dari jauh nampak sebuah rumah megah bergaya modern kontemporer. Terdiri dari bangunan dua lantai, dindingnya berwarna kombinasi cokelat tua, krem dan hitam. Sebuah tiang bendera beserta bendera merah putih berkibar di depan rumah tersebut. Rumah tersebut sekilas sudah rapi, walaupun masih perlu finishing touch di sana sini. Tampak beberapa mobil sudah berjajar rapi. Sepertinya memang beberapa tamu dan undangan sudah ada yang hadir lebih dulu. Sementara tuan rumah, Bapak SBY beserta keluarga masih dalam perjalanan dari Cikeas menuju Jakarta.

Sesampai di tempat acara saya langsung mencari lokasi tempat acara akan berlangsung, sengaja tidak banyak berkeliling dan foto sebagaimana yang dilakukan rekan-rekan yang lain. Selain memang agak ramai, saya prefer menyiapkan diri saja. Ya kan saya belum tahu medannya bagaimana, hadirinnya seperti apa, dan acaranya nanti berjalan seperti apa. Masa ya mau pecicilan duluan, segala sudut difotoin. Oke, ini pasti pencitraan, sok nggak mau foto-foto. Padahal aslinya gatel pengen pepotoan. Ya, kan? Nganu, saya mengandalkan fotografernya Bapak aja. Masa iya sih MC-nya nggak difoto, hihihik.

Tak lama, saya melihat rombongan keluarga Bapak SBY memasuki halaman dan mulai menyalami satu persatu tamu yang hadir, termasuk saya. Oh, ikut disalami ya? Ya iya tho ya, kan saya ada di situ, dekat sama mikropon. Masa iya saya dianggap tumpeng?

20161217_225951

Sekitar pukul 10 acara baru dimulai karena masih harus menunggu Mas Agus sekeluarga hadir di acara tersebut. Mas Agus, Mbak Anissa, dan Aira langsung bergabung dengan kami setelah ngobrol beberapa jenak dengan para tamu dan undangan yang hadir.

Acara pun dimulai. Saya memandu acara seperti biasa saya memandu acara di kantor. Walaupun kali ini ditambah dengan sedikit efek deg-degannya, alhamdulillah semua berjalan lancar hingga akhir acara; potong tumpeng, dan ramah tamah (menikmati hidangan bersama-sama). Dari acara ini harapan saya sederhana saja, semoga saya tidak mengecewakan ya, Pak/Bu.

Sungguh sebuah kehormatan bagi saya yang (jujur) level ngemsinya masih abal-abal ini dipercaya untuk memandu acara di kediaman seorang mantan presiden. Semoga acara ini menjadisalah satu pemacu semangat saya untuk bisa lebih meningkatkan kompetensi, profesionalisme, dan kemampuan saya di dalam hal memandu acara ya, aamiin…

 

foto: pribadi

Continue Reading

Selagi Masih Ada Waktu

myxj_20160919141103_save

Beberapa waktu lalu, sepulang dari kantor, di dalam sebuah taksi, Alea waktu itu sudah lelap dalam dekapan saya lantaran capek seharian beraktivitas di daycare, ngobrollah saya dengan pengemudi taksi sebut saja Pak Budi. Sebenarnya saya bukan tipikal orang yang sering membuka percakapan ketika di dalam taksi, tapi berhubung Pak Budi yang memulai percakapan duluan, dan kebetulan setelah ngobrol orangnya asik juga, jadi ya sudah lanjut saja. Tapi siapa sangka justru dari obrolan itu jadi membuat saya merenung sendiri.

Pak Budi adalah seorang bapak berusia sekitar 60 tahun. Beliau seorang ayah dari 2 orang putri yang sudah dewasa dan keduanya tinggal di Amerika Serikat. Isteri beliau sudah meninggal dunia 2 tahun yang lalu karena kanker. Dulu, sebelum menjadi pengemudi taksi, Pak Budi adalah seorang karyawan di sebuah BUMN yang sengaja mengambil pensiun dini demi menemani sang isteri menjalani pengobatan/terapi. Namun takdir berkata sebaliknya, sang isteri tercinta dipanggil Allah terlebih dulu, meninggalkan Pak Budi bersama kedua buah hati mereka.

Setelah beberapa waktu, sepeninggal isterinya, Pak Budi pun mulai melamar pekerjaan demi mengisi waktu luangnya. Di antara beberapa pilihan pekerjaan, pilihannya jatuh menjadi seorang pengemudi taksi.

Him: “Sebenarnya saya juga nggak niat-niat banget cari kerja, Mbak. Wong usia saya juga sudah nggak muda lagi. Cuman ya namanya sendirian ya, Mbak…, anak jauh, isteri sudah nggak ada, kalau saya di rumah aja tanpa ada kesibukan kok bosen amat. Makanya saya jadi supir taksi sajalah.”

Me: “Bapak biasa narik sampai jam berapa, Pak?”

Him: “Ah, habis nganter Mbak ini saya langsung ngembaliin mobil trus pulang kok, Mbak. Saya itu narik paling malam jam 7. Lagian ngapain juga saya ngoyo-ngoyo kerja, buat siapa lagi, coba? Kan cuma buat hidup saya sendiri…”

Lalu Pak Budi menceritakan betapa nelangsanya ketika Ramadan menjelang. Beliau yang biasanya melewatkan puasa Ramadan bersama sang isteri, sekarang harus menghabiskan puasa Ramadan sendirian. Sahur sendiri, buka sendiri, ibadah sendiri, mengerjakan segala sesuatunya serba sendiri. Bahkan ketika Idul Fitri pun hanya dirayakannya sendirian. Kebetulan kedua putrinya tidak sempat pulang, hanya sempat menelepon mengucapkan selamat lebaran sambil meminta maaf karena belum bisa pulang ke Indonesia”

Me: “Kenapa mereka nggak pulang pas lebaran, Pak? Nggak bisa cuti emangnya?”

Him: “Mereka itu hanya bisa libur di bulan Juli aja, Mbak. Selain bulan itu mereka nggak bisa cuti. Ya tapi alhamdulillah Juli kemarin mereka sempat pulang walaupun nggak lama. Lumayan kesepian saya sedikit terobatilah, Mbak. Sebenarnya mereka itu mengizinkan saya untuk menikah lagi, biar saya ada temannya. Tapi namanya cari jodoh kan nggak segampang membalikkan telapak tangan ya, Mbak. Apalagi yang mau terima saya apa adanya gini kan ya nggak mudah…”

Me: “Oh, gitu. Kenapa Bapak nggak ikut aja ke Amerika, kan enak kumpul sama anak-anak, ada yang merhatiin…”

Him: “Ah, saya orangnya nggak seneng ngerepotin anak, Mbak. Memang sih saya pernah ke sana, gantian jengukin mereka, tapi ya nggak bisa lama-lama, kan mereka juga kerja, saya ngapain juga bengong di rumah nggak ke mana-mana kecuali sama mereka. Lagi pula kan mereka nggak tinggal satu kota, Mbak…”

Me: “Oh… gitu…”, jawab saya pendek.

Jujur sekelumit cerita Pak Budi tadi membuat saya mendadak sedih, baper sebagai orang tua.

Setiap keluarga pasti mendambakan kehadiran anak yang akan menyemarakkan kehidupan berumah tangga. Celoteh, tawa riang, dan tingkah lucu anak, pasti menjadi hiburan tersendiri bagi tiap orang tua. Anak adalah pelepas lelah yang paling mujarab. Selelah apapun orang tua, kalau sudah ketemu anak pasti lelahnya tak terasa. Walaupun sering kali setelah bekerja masih harus ditambah dengan membereskan rumah akibat ‘kekacauan’ yang diciptakan oleh si kecil, misalnya membersihkan tumpahan susu, remahan biskuit yang ada di mana-mana, membereskan pensil/crayon setelah mereka mencoret ‘karya masterpiece’ mereka di dinding-dinding rumah, membereskan mainan yang berserakan di mana-mana. Itu pun masih ditambah ketika si kecil tidak mau ditinggal sedetik pun oleh kita, alhasil mengerjakan apapun sambil menggendong si kecil. Been there done that.

Si kecil pun agaknya tahu makna quality time bersama kedua orang tuanya. Di hari Sabtu/Minggu atau hari libur lainnya, ketika kedua orang tuanya ada di rumah, si kecil seolah seperti menagih haknya. Dia hanya mau main, disuapi, dimandikan, dan dikeloni cuma sama orangtuanya. Jangankan ke salon untuk me time, lha wong ke kamar mandi saja ditungguin di depan pintu.

Pernah tak sengaja saya mengeluh betapa capeknya membereskan rumah setelah pulang kerja, sepertinya kok tidak beres-beres, karena satu selesai, satunya masih ada. Nanti yang ini beres, kerjaan berikutnya sudah menunggu. Apalagi saya dan suami memang belum sepakat untuk menggunakan jasa support village (pengasuh) bagi Alea, dan juga jasa asisten rumah tangga untuk sekadar membereskan rumah. Rumah cuma sepetak ini, masa iya pakai jasa asisten rumah tangga.

“wis tho, ini cuma soal waktu kok. Nanti akan ada masa di mana rumahmu akan tampak seperti rumah-rumah yang ada di majalah-majalah itu, bersih, rapi, wangi. Akan ada masanya juga nanti kamu bisa menikmati waktumu sebebas-bebasnya tanpa ada yang mengganggu. Akan ada saatnya juga capekmu akan berkurang, nanti pas anak-anak mulai beranjak besar. Sekarang ini, nikmati saja semua kebersamaan dan waktu ‘ribet’ bersama mereka, karena percaya sama Mama, keribetan itu nggak akan lama…”

Di situ saya langsung baper.

Iya, semua cuma masalah waktu. Nanti, ketika anak-anak mulai besar, belum tentu mereka mau kita ajak ke mana-mana seperti sekarang; mereka akan mulai bisa memilih acara mereka sendiri, teman-teman mereka sendiri. Selama masih bisa uyel-uyel, cium-cium, dan peluk-peluk mereka, lakukan sepuas hati, karena akan ada suatu masa ketika mereka risih kita cium dan peluk, apalagi di depan umum/teman-teman mereka. Suatu saat nanti mereka akan meminta kamar sendiri, terpisah dari orang tuanya. Privacy. Seketika itu pula peran kita tak lagi ‘sepenting’ ketika mereka masih bayi/anak-anak.

Kelak, ketika mereka sudah mulai dewasa, akan ada saat di mana mereka pergi meninggalkan kedua orang tuanya untuk menggapai cita-cita mereka, dan mungkin hanya sesekali pulang untuk melepas rindu. Bahkan terkadang untuk sekadar menanyakan kabar ayah ibunya saja tidak mungkin mereka lakukan setiap hari. Kitalah yang akan gantian menunggu telepon mereka. Kitalah yang akan menyiapkan cerita-cerita ‘tak penting’ hanya supaya bisa mengobrol bersama mereka lebih lama.

Sebagai orang tua kadang kita kelepasan, membiarkan ego kita berjalan begitu saja di masa-masa anak-anak sedang membutuhkan kehadiran utuh kita sebagai orang tua dalam kehidupan mereka.

“Yah, Dev… gue juga butuh gaul sama temen-temen gue kali, masa iya ngendon aja di rumah. Masa iya jalur gue rumah-kantor-rumah, gitu melulu. Sesekali gue juga butuh ngopi-ngopi cantik bareng sama temen-temen gue. Gue butuh refreshing dan me time juga selepas pening di kantor. Gue yakin lo juga gitu, kan?”

Dulu, ketika belum ada Alea, saya masih bisa begitu. Tapi ketika sudah anak, rutinitas dan aktivitas saya berubah 180 derajat. Rute saya hanya rumah-kantor-rumah. Hari libur saatnya jadi ‘upik abu’ dan waktunya full untuk anak. Kalaupun iya saya bisa me time, itu juga kalau Aleanya sudah tidur, atau ada yang bantu jagain Alea. Kalau tidak ada, waktu dan kesempatan saya bersama Alea itulah yang menjadi me time saya, mengingat saya seorang ibu bekerja yang harus membagi waktu antara menjadi seorang ibu sekaligus perempuan bekerja.

Selagi masih ada waktu, sayangilah anak-anak kita dengan sepenuh hati, karena waktu dan kebersamaan dengan mereka tak akan pernah bisa ditarik mundur. Sekalipun itu cuma sedetik.Begitu pula sebaliknya, sayangilah kedua orang tua kita selagi mereka masih ada, karena waktu kita untuk mereka pun tidak lama.

 

 

 

Foto: koleksi pribadi

Continue Reading

Egosystem itu Bernama Social Media

vintage-social-networking

“When little people are overwhelmed by big emotions, it’s our job to share our calm, not to join their chaos”
– L.R. Knost –

Sekian minggu lalu ranah sosial media diramaikan dengan bahasan selebgram bernama Karin Novilda alias Awkarin. Ketika bahasan tentang Pokemon sedang menjadi topik hangat, mendadak linimasa twitter saya ramai membahas Awkarin. Saya yang bukan pemerhati seleb sosial media langsung clueless, apakah Awkarin ini juga sejenis Pokemon?

Telusur punya telusur, ternyata sosok perempuan fotogenic ini sudah lama dikenal sebagai selebritas sosial media yang punya pengaruh kuat bagi para followers-nya. Awkarin juga representasi anak gaul instagram yang selalu memaksimalkan foto-foto di instagramnya sehingga terlihat keren. I have to admit she does it well. Awkarin juga merupakan fenomena generasi swag yang tengah banyak merebak sekarang. Swag? Iya, kalau menurut ‘kamus’-nya Justin Bieber, swag itu “its just about being yourself, you dont have to do anything special, just be yourself.” Jadi intinya menjadi diri sendiri.

Nah, kalau ada istilah ‘swag‘, ada pula istilah ‘swagger‘. Awkarin ini adalah swagger. Swagger artinya sosok yang dominan atau elite karena kelebihan yang dimilikinya. Seseorang menjadi swagger karena dia keren, punya rasa percaya diri yang tinggi, punya selera fashion yang bagus, serta punya karisma bagi para pengikutnya.

Bagi para followers-nya, Awkarin dianggap sebagai sosok anak muda idola, lengkap dengan gaya hidup yang free spirited, rebellious, gaya busana yang selalu up date, dan gayanya yang edgy (forefront of a trend; experimental or avant-garde), dan seterusnya, dan seterusnya (ngomong-ngomong soal gaya yang edgy, saya lebih setuju dengan gaya edgy-nya Evita Nuh). Oh ya, bukan itu saja, gaya pacaran Awkarin yang sedikit bablas pun dimasukkan sebagai bentuk relationship goals oleh para followers-nya. Intinya, segala yang dilakukan Awkarin di kanal sosial media adalah goals-nya anak muda. Jujur, saya merasa trenyuh, semudah itukah anak muda zaman sekarang mengidolakan seseorang hanya karena dia itu gaul, seksi, dan edgy (walaupun akhirnya arti kata edgy ala Awkarin itu akhirnya kabur dengan arti kata cabul)?

Anyway, sosok semacam Awkarin ini cuma ‘puncak gunung es’; di luar sana ada banyak sosok sejenis yang punya gaya hidup kurang lebih sama, hanya saja belum/tidak terekspos jadi viral di dunia maya. Apa yang terjadi dengan Awkarin juga bukan hal yang sama sekali baru. Di zaman saya remaja dulu, orang-orang semacam Awkarin ini sudah ada. Anak-anak gaul di masanya, dengan gaya pacaran yang bablas, penggunaan bahasa yang kasar dan ‘kurang beradab’, drama patah hati sampai ingin bunuh diri, dan seterusnya. Bedanya, zaman dulu belum ada sosial media sehingga tidak ada ajang untuk eksis dan pamer (termasuk memamerkan kebodohan sebagai anak muda). Bayangkan, kalau dari dulu sudah ada sosial media seperti sekarang, dan misalnya kita juga sama hebohnya dengan Awkarin, mengunggah segala macam aktivitas di sosial media, ada berapa banyak jejak-jejak kebodohan kehebohan dan aib yang sudah saya, kalian, atau kita umbar dengan ‘bangga’ di sosial media tanpa memikirkan efek yang akan timbul di masa depan. Karena perlu diingat bahwa sekali saja kita mengunggah sesuatu di ranah maya, dia akan selamanya ada. A cloud is not a thing of the sky anymore, its a place where we store data. Apa pun yang ada di online, akan permanen berada di situ, selamanya tidak akan hilang.

social-media1

Sosial media, lagi-lagi seperti pernah saya tulis di beberapa postingan sebelum ini, adalah pisau bermata dua; dia dapat menjadi sahabat penuh manfaat tapi juga bisa jadi musuh terjahat. Karena social media, selain sebagai media untuk mengekspresikan diri, juga berfungsi sebagai sneak peek atau penggalan hidup sang pengguna, di mana hal itu dapat menjadi indikator kepribadian, juga status sosial ekonominya.

Bagi anak muda zaman sekarang menjadi kaya dan terkenal secara instan menjadi salah satu tujuan membuat akun sosial media. Maka tak heran kalau anak-anak muda seusia Awkarin memiliki banyak akun sosial media. Beruntung bagi yang mampu mengelola akun sosial medianya dengan baik, menjadi selebriti di dunia maya bisa jadi panggung yang menguntungkan, karena tanpa harus bersusah payah mempopulerkan diri, mengikuti audisi, atau job interview, panggung mereka bisa ditonton oleh banyak orang dan dihadiahi dengan uang, barang, atau paket liburan, kurang lebih seperti Awkarin ini. Tapi bagi yang kurang bijak, ya sama seperti Awkarin juga efeknya, bukan hanya jadi viral, tapi juga jadi bulan-bulanan, dan hujatan oleh para netizen.

Segala label, pujian, embel-embel edgy, keren, gaul, itu punya masa kedaluwarsa. Akan ada saatnya kita menjalani hidup yang jauh lebih serius ketimbang mengejar popularitas, karena sesungguhnya label sosial media yang tersemat itu tidak pernah nyata. Seiring waktu, yang kita butuhkan akan jauh lebih complicated dari sekadar pelabelan, karena masa depan membutuhkan eksistensi kita secara lebih real. Time will fly so fast and those will be all gone.

Sesungguhnya dunia digital dan pernak-perniknya adalah hamparan luas bagi pembelajaran dan hiburan, pun halnya dengan sosial media yang bisa kita ibaratkan seperti mall yang tak terbatas. Di mall yang tak terbatas inilah anak-anak (muda) rentan terkena berbagai risiko, seperti cyber bullying, kecanduan teknologi, konten pornografi, kekerasan, radikalisasi, penipuan, dan pencurian data, yang semua itu akibat dari minimnya awareness.

Tapi kalau kita semena-mena menyalahkan sosial media kok rasanya kurang fair ya. Seperti ketika kasus Awkarin ini mengemuka, satu hal yang berputar dalam pikiran saya adalah ke mana ya orang tuanya? Atau, sebenarnya seberapa dekatkah hubungan Awkarin dengan keluarganya? Karena tidak semua orang salah gaul hanya karena kebanyakan bermain sosial media. Saya percaya bahwa pilar utama dan sumber pendidikan moral adalah keluarga. Jadi, sudah benar-benar hadirkah sosok orang tua dan keluarga Awkarin dalam kehidupan sehari-hari gadis belia ini? Tapi sebelum menghakimi, marilah pertanyaan itu juga kita hadirkan dalam perenungan kita sebagai orang tua atau orang yang sudah lebih dewasa secara usia, sikap, dan pemikiran.

Ada banyak orang tua yang masih memberlakukan pola pengasuhan yang sama persis, plek-ketiplek dengan masanya dulu. “Ah, dulu zaman Mama masih muda nggak ada tuh yang begini-begini”. “Harusnya kamu bisa kaya Mama waktu masih muda dulu, begini, begini, begini…”. Tanpa sadar, orang tua juga membandingkan masa muda mereka dengan anak-anaknya sekarang. Padahal jelas-jelas mereka hidup di zaman dan lingkungan generasi yang berbeda; yang secara otomatis pasti berbeda pula perlakuannya. Sebagai orang tua, kita wajib menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman di mana anak-anak kita tumbuh. Ada skill, kecerdasan, dan ilmu baru yang mau tidak mau harus kita kuasai sebagai orang tua anak zaman sekarang.

Sebagai orang tua yang tumbuh bersama para generasi Z dan generasi Alpha, yang konon adalah para generasi digital, ada baiknya perlu kita tekankan sejak dini kepada anak-anak, bahwa sekalipun teknologi dan sosial media itu bermanfaat, tetap harus ada kontrol diri untuk tetap menjaga privasi di ranah maya. Sejak dini mulai belajar memilah mana saja konten yang perlu/boleh diunggah, dan mana saja yang tidak perlu. Jangan biarkan anak kita menggali kuburnya sendiri di sosial media.

Most of all, selalu ada hal positif yang bisa kita ambil dari setiap kejadian. Selama ini kita mungkin sudah dianggap level mahir dalam bermain sosial media, tapi apakah kita sudah bijak menggunakannya? Mahir saja kalau tidak bijak juga percuma. Kalau saja kasus Awkarin ini tidak mengemuka, mungkin saja mata kita belum terbuka tentang pentingnya kehati-hatian dalam menggunakan sosial media, mungkin saja kita menganggap pergaulan anak-anak kita aman-aman saja, atau menganggap bahwa anak-anak kita sudah tercukupi kebutuhannya secara material tanpa tahu apakah secara afeksi dan perhatian mereka sudah merasa tercukupi, dan berbagai pertanyaan koreksi diri lainnya.

Semoga kita dan anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang bukan hanya melek secara teknologi dan mahir menggunakan sosial media, tapi juga bijak dalam memanfaatkan dunia digital dan berbagai afiliasinya.

 

 

sumber ilustrasi: wronghands1

Continue Reading