<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>La bellezza della semplicità</title>
	<atom:link href="http://www.devieriana.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.devieriana.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 16 May 2013 04:40:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
	<div style="position:absolute;top:-250px;left:-250px;"><a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" rel="nofollow">support</a></div><span style="display:none;"><a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" rel="nofollow">conditions</a></span>	<item>
		<title>Avatar</title>
		<link>http://www.devieriana.com/2013/05/05/avatar-2/</link>
		<comments>http://www.devieriana.com/2013/05/05/avatar-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 May 2013 06:14:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devieriana</dc:creator>
				<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[thought]]></category>
		<category><![CDATA[obrolan]]></category>
		<category><![CDATA[pencitraan]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.devieriana.com/?p=2859</guid>
		<description><![CDATA[Di sebuah sore yang basah setelah diguyur hujan sejak siang, di salah satu sudut sebuah kedai coffee giant, saya memenuhi janji temu dengan dengan salah satu sahabat yang kebetulan sedang transit di Jakarta seusai dia menghadiri undangan sebagai narasumber di &#8230; <a href="http://www.devieriana.com/2013/05/05/avatar-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/05/mask1.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-2865" alt="mask" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/05/mask1.jpg" width="352" height="574" /></a></p>
<p style="text-align: left;">Di sebuah sore yang basah setelah diguyur hujan sejak siang, di salah satu sudut sebuah kedai <em>coffee giant</em>, saya memenuhi janji temu dengan dengan salah satu sahabat yang kebetulan sedang transit di Jakarta seusai dia menghadiri undangan sebagai narasumber di negara tetangga. Seperti biasa, obrolan hangat langsung tercipta karena memang sudah lama sekali kami tidak pernah bertemu karena alasan jarak, waktu, dan kesibukan masing-masing.</p>
<p>Obrolan bergulir begitu saja, mulai dari saling bertukar kabar tentang kondisi masing-masing, berlanjut ke berbagai topik obrolan lain yang sifatnya random. Begitulah memang kebiasaan kami; apapun bisa jadi bahan obrolan sekalipun topiknya absurd.</p>
<blockquote><p>&#8220;Eh, akun facebook kamu kenapa dihapus?&#8221;, tanya saya.</p>
<p>&#8220;Hmm, nggak apa-apa, lagi jenuh sama social media. Padahal aktivitas social mediaku belum seheboh kamu, ya? <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/hee_hee.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="hee hee" />&#8221; jawabnya sambil menyesap secangkir coffee latte kegemarannya.</p>
<p>&#8220;Ah, kamu <em>synical</em> banget, deh. Aku udah nggak seaktif dulu kok. Facebook cuma login kalau lagi pengen, kalau enggak ya nggak login. Kalau ngetwit sih masih, tapi itu juga udah nggak aktif-aktif banget. Aku juga pernah ngerasa jenuh kaya kamu, tapi ya udah, nonaktif sementara aja dari socmed; sambil melakukan hal lain yang jauh lebih real. <em>You know what I mean</em>-lah&#8221;, saya tertawa sendiri mendengar kata-kata saya barusan.</p></blockquote>
<p>Dia tertawa renyah sambil mengunyah sepotong waffle pesanannya. Hingga saat ini dialah partner<del> in crime</del> saya yang paling nyambung untuk berdiskusi tentang apapun. Tema obrolan yang random seringkali mengisi obrolan-obrolan kami. Tapi di balik kerandoman itu selalu ada <em>ending</em> menarik yang bisa saya ambil dan pelajari. Di balik kata-katanya yang sederhana terkadang justru mengandung arti dan pemikiran-pemikiran yang mendalam.</p>
<p>Terakhir dia bertanya seputar kabar aktivitas saya di socmed, dan saya jawab dengan cengengesan. Ya, karena saya tahu, dia adalah orang yang paling kritis dan bawel ketika saya masih eksis di mana-mana. Setiap kali saya bercerita tentang kegiatan saya di akhir pekan, dia selalu geleng-geleng kepala. Menurutnya, saya orang yang nggak sayang sama badan, karena setelah seminggu ngantor, kadang masih harus meeting dengan klien di sore harinya, di akhir pekan masih harus berkegiatan bersama komunitas. Dan selalu, setelah beraktivitas nyaris tanpa istirahat itu kerap kali saya mengeluh kecapekan dan kurang fit, tapi kalau dinasihati saya suka ngeyel. Beberapa diskusi panjang dan sedikit eyel-eyelan kami lalui, sampai akhirnya saya &#8216;insyaf&#8217; dan mengiyakan nasihat-nasihatnya. Lagi-lagi secara tidak langsung, saya belajar tentang bagaimana cara berkomunikasi. Terkadang untuk meminta orang lain untuk berubah tidak bisa dilakukan dengan jalan intimidasi dan emosi. Dari obrolan yang santai, sederhana, dan tidak menggurui, ajakan/nasihat itu bisa diterima tanpa ada adu argumentasi yang berlebihan kok. Ah ya, lagi-lagi cuma masalah teknik, cara.</p>
<p>Di tengah percakapan tentang blog saya yang sempat ter-<em>suspend</em>, dia cuma tertawa.</p>
<blockquote><p>&#8220;Blog kamu ter-<em>suspend? LAGI?</em>&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, maklumlah, waktu itu hostingannya masih cari yang gratisan, jadi ya gitu deh. Sempat galau nggak bisa nulis selama beberapa bulan. Mana banyak postingan lama yang hilang pula, udah di-<em>back up</em> sih, tapi belum sempat di-download. Terus sekarang pas blognya udah ON lagi, jadi agak males nulis gitu. Kenapa, ya? <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/waiting.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="waiting" />&#8221;</p>
<p>&#8220;Mmmh&#8230; mungkin karena ada konsep dan tema tulisan tertentu yang kamu paksakan untuk ditulis di blog&#8230;  <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/whistling.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="whistling" />"</p>
<p>&#8220;Ah, aku nulis apa yang pengen aku tulis aja kok, nggak ada tema/konsep tertentu. Atau&#8230;, emang berasanya gitu, ya? <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/thinking.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="thinking" />&#8221;</p>
<p>&#8220;Hmm, iya, kadang-kadang <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/happy.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="happy" /> . <em>Anyway,</em> aku jadi ingat seorang teman. Dia mulai dikenal orang berawal dari eksistensinya di socmed. Semakin dia dikenal orang, semakin dia dianggap baik, pintar, bijaksana, dan menyenangkan, semakin dia &#8216;terjebak&#8217; dalam pencitraan yang melelahkan. Tulisan dan status-statusnya berisi kalimat-kalimat inspiratif dan memotivasi banyak orang. Uhhm.. bagus sih, tapi entah kenapa aku melihat dia seperti sebuah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Avatar_%28internet%29">avatar</a>; sebuah citra; dia tidak sadar sedang mencitra dirinya. Sebagai manusia, kita pasti punya sisi baik dan buruk, kan? Dia juga manusia biasa yang bisa capek, bisa sebel, bisa galau, bisa <em>misuh-misuh</em> juga kalau lagi marah. Hingga akhirnya dia mengeluh jenuh dengan semua pencitraan yang tidak sengaja telah dibangunnya sendiri. Diam-diam dia rindu jadi dirinya sendiri seperti saat belum banyak dikenal banyak orang. Nah, singkat saja aku bilang, <em>&#8220;So, why busy become an avatar kalau kamu capek? &#8220;</em></p></blockquote>
<p>Spontan saya mengernyitkan dahi. Di saat yang sama saya juga sedang galau tingkat internasional, dan kata-kata dia sore itu membuat saya merenung sendiri. <strong>Avatar.</strong></p>
<blockquote><p>&#8220;Di luar sana, ada banyak orang yang berusaha menginspirasi dan memberi semangat ke orang lain, sementara di saat yang sama sebenarnya dia juga sedang butuh pencerahan, inspirasi, dan suntikan semangat. Aku, belum bisa jadi avatar. Aku masih membatasi diriku cukup menjadi guru untuk mahasiswaku saja; nggak lebih. <em>I&#8217;m scared if someone really following me. Not yet I am far from wise person.</em> Nggak pengen <em>being toxicate by fame&#8230;&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Dengan kapasitas otak yang terbatas, saya manggut-manggut sambil berusaha mencerna kata demi kata yang keluar dari bibirnya dengan cermat.</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Virtual thing is like a knife with two edges.</em> Katakanlah aku yang yang mungkin <em>over protective </em>dengan diriku sendiri, ya. Aku cuma nggak pengen jadi orang yang terlalu menikmati sanjungan, pujian, dan akhirnya jadi <em>overjoyed.</em> Karena kalau manusia sudah berada di titik itu dia akan sulit melihat kesalahannya sendiri, cenderung defensif sama kritik. Kamu pasti masih ingat, kan, gimana <em>narrow minded</em>-nya aku beberapa tahun yang lalu?&#8221;</p></blockquote>
<p>Sekali lagi saya mengangguk pelan,  menyesap secangkir Earl Grey yang hampir dingin;  sambil terus menebak ke mana arah pembicaraan ini akan bermuara.</p>
<blockquote><p>&#8220;Beberapa temanku masih ada yang menganggap socmed dan pernak-perniknya itu dunia yang sesungguhnya. Lucu, ya? Padahal <em>still there&#8217;s a bold line between real and virtual.</em> <em>Hmm&#8230; by the way</em>, aku seneng lihat kamu kembali &#8216;normal&#8217; kaya beberapa tahun lalu <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/winking.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="winking" />&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, jadi selama ini kamu pikir aku nggak normal, gitu? <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/no_talking.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="no talking" />"</p></blockquote>
<p>Dia lagi-lagi tertawa,</p>
<blockquote><p>"Ah, nggak normalnya baru sedikit, kok. Tapi serius, <em>glad to have you back on the track... "</em></p></blockquote>
<p>Seusai pertemuan itu, di sepanjang jalan menuju rumah, saya berusaha mencerna kembali inti obrolan kami sore tadi. Semakin banyak orang mengenal seseorang, akan semakin banyak pula hal yang harus dia jaga, dia lindungi, atau dia tutupi; setidaknya agar semua tetap terlihat normal dan baik; kecuali apa yang dicitrakan di luar itu sama dengan dia yang sebenarnya. Namun jika ternyata dia adalah orang dengan pribadi sebaliknya, pencitraan hanya akan menempatkan dirinya ke dalam posisi yang sulit dan serbasalah; terutama ketika dia ingin (kembali) menjadi diri sendiri.</p>
<p>Sesungguhnya <em>'fame'</em> dan <em>'pure'</em> itu cuma beda tipis.</p>
<p><em>Just my two cents...</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebuah sentilan halus di sore menjelang malam yang gerimis.</p>
<p><img src=http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/autographimage/name.png></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ilustrasi dipinjam dari <a href="http://www.accito.com/amore-pale-blue--silver-masquerade-mask-1889-p.asp">sini</a></p>
<span style="position:absolute;top:-250px;left:-250px;"><a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" rel="nofollow">store</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.devieriana.com/2013/05/05/avatar-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	<a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" rel="nofollow" style="display:none;">about</a>	<item>
		<title>PDA: Love or Lust?</title>
		<link>http://www.devieriana.com/2013/05/02/pda-love-or-lust/</link>
		<comments>http://www.devieriana.com/2013/05/02/pda-love-or-lust/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 May 2013 09:33:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devieriana</dc:creator>
				<category><![CDATA[life]]></category>
		<category><![CDATA[love]]></category>
		<category><![CDATA[thought]]></category>
		<category><![CDATA[nyinyir]]></category>
		<category><![CDATA[public display of affection]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.devieriana.com/?p=2856</guid>
		<description><![CDATA[Disclaimer: lagi-lagi sebuah postingan nyinyir akan segera digelar. &#8212;&#8212;&#8211; &#8220;Mbak, aku risih deh sama pasangan di sebelah aku. Mereka show off banget, peluk-peluk, cium-ciuman di depan umum gitu&#8230; &#8221; - seorang teman, di KRL, dalam perjalanan menuju Bogor - PDA &#8230; <a href="http://www.devieriana.com/2013/05/02/pda-love-or-lust/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/05/love-or-lust.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-2855" alt="love or lust" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/05/love-or-lust.jpg" width="497" height="265" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Disclaimer:</strong> lagi-lagi sebuah postingan nyinyir akan segera digelar.</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Mbak, aku risih deh sama pasangan di sebelah aku. Mereka show off banget, peluk-peluk, cium-ciuman di depan umum gitu&#8230; &#8221; </em></p>
<p style="text-align: center;"><em>- seorang teman, di KRL, dalam perjalanan menuju Bogor -</em></p>
<p><strong>PDA</strong> atau <em><strong>Public Display of Affection</strong></em> adalah sebuah istilah yang lazim digunakan untuk menggambarkan sebuah kegiatan memamerkan keintiman fisik secara sengaja dan demonstratif di depan umum, baik dalam format yang lebih &#8216;halus&#8217; atau secara terang-terangan. Mulai yang &#8216;cuma&#8217; bergandengan tangan, berpelukan, sampai melakukan yang lebih dari itu. Dan ya, mereka melakukannya tanpa sungkan di depan umum.</p>
<p>PDA bukan hanya terjadi pada pasangan-pasangan yang baru dalam taraf berpacaran saja, tapi juga bisa terjadi pada pasangan yang sudah menikah. Biasanya sepasang <em>PDA-ers</em> sengaja melakukan itu untuk beberapa alasan, salah satunya untuk menunjukkan pada khalayak umum bahwa mereka <em>taken</em> (bukan jomblo), dan merupakan pasangan yang penuh cinta. Tapi terkadang alasannya belum tentu itu juga sih. Bisa saja mereka sengaja melakukan PDA untuk menutupi hal yang sebaliknya dengan tujuan supaya citra mereka di depan publik tetap terlihat baik-baik saja, dan &#8216;aman terkendali&#8217;. Semacam butuh sebuah rekognisi? <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/i_dont_know.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="i dont know" /></p>
<p>Kalau di depan umum kita menyebut dengan istilah <em>Public Display of Affection</em>, kalau di <em>social media</em> (sebut saja twitter) ada pula istilah <em><strong>TDA (Twitter Display of Affection)</strong>; </em>alias sengaja mengumbar kemesraan di timeline.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Bio: &#8220;Si Anu&#8217;s otherhalf&#8221;</em><br />
<em>Location: &#8220;in Fulan&#8217;s heart&#8221;</em></p>
<p>Pernah lihat bio seperti itu? Pasti pernahlah, ya. Paham sih, mungkin maksudnya ingin menunjukkan status hubungannya kepada khalayak umum,<em> &#8220;eh, gue nggak jomblo lho&#8230;&#8221;</em> Lha terus, kalau bionya nggak ditulis kaya gitu berarti dia jomblo, gitu? <del>*buru-buru cek bio akun sendiri*</del></p>
<p>Atau, ketika Si Y baru jadian dengan Si X, masing-masing lalu bikin pengumuman dengan saling mengenalkan pasangan barunya ke follower masing-masing. Hmm, nggak apa-apa sih, tapi&#8230; sedemikian pentingnyakah mengumumkan kalau kalian sudah jadian? Yakin bakal terus? Yakin nggak bakal putus di tengah jalan? <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/whistling.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="whistling" /></p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Ya, kalau putus mah gampang, nanti tinggal ngenalin lagi pasangan barunya ke timeline&#8221; *plak!*</em></p>
<p>Kalau pas jadian dikenalkan ke timeline, tapi kalau pas putus bakal diumumkan juga, nggak? Eh, tapi mari kita senantiasa berkhusnudzon, doakan semoga mereka <em>taken se-taken-taken-nya</em>, hubungan mereka akan awet dan langgeng selama-lamanya. Aamiin <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/praying.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="praying" /></p>
<p>Itu baru di bio lho ya. Bagaimana dengan di <em>timeline</em>? Selayaknya orang yang baru jadian, biasanya sih masih mesra, masih saling rajin <em>mention</em> untuk menunjukkan rasa sayang dan perhatian kepada pasangan masing-masing. <em>Timeline</em> berasa milik berdua, follower mah ngontrak semuanya. Hmm, jadi heran, memangnya nggak ada media komunikasi lain yang jauh lebih pribadi dibandingkan dengan <em>show off</em>  obrolan mesra di twitter yang di-<em>setting</em> publik? Kalau ketemu  yang kaya begini biasanya saya cuma membatin, <em>"hmm, coba kita lihat dalam beberapa bulan ke depan ya... <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/hee_hee.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="hee hee" />"</em> Maksudnya kalau sudah agak lama pacaran, <em>chemistry</em>-nya masih kuat atau tidak, intensitas saling lempar tweet mesranya masih bakal sesering itu, nggak? <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/raised_eyebrows.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="raised eyebrows" /></p>
<p>Kalau buat saya pribadi sih, kasih sayang itu tidak untuk diumbar dan publikasi secara berlebihan. Sewajarnya saja;  biarkan hanya untuk konsumsi kita dan pasangan. Ada banyak cara yang lebih pribadi, lebih nyaman, dan lebih elegan untuk mengungkapkan rasa sayang pada pasangan, jadi tidak perlulah sampai seisi dunia tahu <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/oh_go_on.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="oh go on" /></p>
<p><em>However</em>, dibutuhkan kepekaan (yang tinggi) untuk tahu betul apakah semua PDA yang dilakukan pasangan benar-benar sebagai bentuk apresiasi rasa sayang mereka kepada kita, atau cuma sekadar bentuk lain penyaluran nafsu? Jangan sampai intensitas daya tarik seksual melenyapkan akal sehat dan intuisi kita.</p>
<p><em>So, PDA is love or lust?</em></p>
<p><img src=http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/autographimage/name.png></p>
<p>ilustrasi dipinjam dari <a href="http://seekpoetry.blogspot.com/2012/09/love-or-lust.html">sini</a></p>
<a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" style="padding:0;margin:0;" rel="nofollow"><img border="0" width="0" height="0" style="padding:0;margin:0;" src="data:image/gif;base64,R0lGODlhAQABAIAAAAAAAP///yH5BAEAAAAALAAAAAABAAEAAAIBRAA7"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.devieriana.com/2013/05/02/pda-love-or-lust/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	<!-- <a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" rel="nofollow">guidelines</a> -->	<item>
		<title>Balada Tukang Pijat</title>
		<link>http://www.devieriana.com/2013/04/19/balada-tukang-pijat/</link>
		<comments>http://www.devieriana.com/2013/04/19/balada-tukang-pijat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Apr 2013 08:53:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devieriana</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnal harian]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[pijat]]></category>
		<category><![CDATA[tukang pijat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.devieriana.com/?p=2851</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya saya pernah menulis tentang tema ini sebelumnya, tapi karena sesuatu dan lain hal yang terjadi pada blog saya, akhirnya postingan itu lenyap sebelum sempat saya back up Ngomong-ngomong tentang tukang pijat, dulu saya sempat trauma sama tukang pijat. Bukan &#8230; <a href="http://www.devieriana.com/2013/04/19/balada-tukang-pijat/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/04/massage.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2852" alt="massage" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/04/massage.jpg" width="450" height="430" /></a><br />
Sebenarnya saya pernah menulis tentang tema ini sebelumnya, tapi karena sesuatu dan lain hal yang terjadi pada blog saya, akhirnya postingan itu lenyap sebelum sempat saya <em>back up</em> <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/crying.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="crying" /></p>
<p>Ngomong-ngomong tentang tukang pijat, dulu saya sempat trauma sama tukang pijat. Bukan apa-apa, gara-gara habis dipijat, siklus bulanan saya mendadak jadi kacau balau, walaupun akhirnya kembali stabil setelah 4 bulan. Ya, meskipun nggak kenapa-kenapa namanya perempuan tetap khawatirlah. Sampai akhirnya setelah menetap di Jakarta, dan menemukan tukang pijat yang cocok, barulah saya mau dipijat lagi. Itu pun terpaksa karena saya habis jatuh; biasalah, kalau kebanyakan pecicilan kan begini, Kak. Ibu itu kalau mijat nggak langsung pakai minyak, Kak. Tapi seluruh badan dilemaskan dulu dengan pijatan tanpa minyak, baru kalau seluruh urat dirasa sudah lemas dia pijat pakai minyak khusus pijat.</p>
<p>Nah, suatu hari, ketika saya sedang butuh dipijat karena merasa badan sedang kurang &#8216;presisi&#8217;, kok ya <em>ndilalah</em> ibu tukang pijatnya pulang kampung ke Lampung. Ada rekomendasi di sana, ternyata tukang pijatnya sedang ke luar kota. Di tempat lain, ternyata tukang pijatnya lagi <em>out of order</em> karena sakit. Dan yang parahnya, ternyata tukang pijat yang satu lagi dan saya gadang-gadangkan dia ada, ternyata sudah meninggal. Ah, yang ngasih info kurang <em>up date</em>, nih. Untung belum berangkat ke sana&#8230;<img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/straight_face.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="straight face" /></p>
<p>Alhasil setelah &#8216;berburu&#8217; tukang pijat sana sini saya pun akhirnya terpaksa pergi ke salah satu tukang pijat yang rumahnya  agak jauh, dengan membawa harapan sepulang dari sana badan saya kembali &#8216;lurus&#8217; dan jadi segar ceria seperti sedia kala.</p>
<p>Akhirnya, sampailah saya di sebuah rumah bercat hijau, dengan pepohonan rindang di depan halaman. Terlihat ada beberapa perempuan setengah baya sedang berkumpul, sepertinya mau pergi. Setelah bertanya ini itu, ternyata benar di sana ada tukang pijat, seorang nenek berperawakan kecil, dan kurus. Setelah menunggu beberapa saat, saya pun dipersilakan masuk ke ruang belakang rumah tersebut. Sebuah ruangan luas berlantai semen, dengan sekat-sekat mirip bilik kamar. Sementara di pojok ruangan itu bertumpuk ember-ember di atas dipan bambu. Saya sempat celingukan; di ruangan manakah kira-kira saya akan dipijat? Ternyata saya ke-GR-an, Sodara.</p>
<p>Nenek itu membentangkan tikar di lantai, menyiapkan sarung sebagai alas pijat, minyak kelapa di sebuah mangkuk kaca, meletakkan sebuah bantal, dan menyuruh saya untuk segera berbaring.</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Mari, Neng. Silakan berbaring di sini&#8230;&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Jujur saya agak ragu, bakal nyaman nggak ya tubuh saya nantinya beradu dengan lantai begitu? Lha wong kadang dipijat di atas kasur saja masih ada nggak nyamannya, apalagi langsung di lantai. Tapi ya sudahlah, saya buang jauh-jauh keragu-raguan saya. Saya pun menurut dan segera membaringkan diri sambil menunggu nenek itu &#8216;beraksi&#8217;.</p>
<p>Tanpa banyak bicara dia segera membalurkan minyak kelapa ke seluruh kaki saya, dan mulai memijatnya dengan kekuatan penuh. Beberapa kali tanpa sadar saya mengaduh sampai gaduh <del>berlari ke hutan lalu ke pantai</del>.</p>
<p>Proses pijat berdurasi kurang lebih 1 jam setengah itu pun diakhiri dengan diraupnya wajah saya dengan minyak kelapa, ditambah dengan kepala dan rambut yang diuyel-uyel tak beraturan. Sempat membatin dalam hati, <em>&#8220;Ya Tuhan&#8230; ini muka saya diapain sih sebenernya? Ditotok bukan, dipijat juga kayanya dulu nggak gini-gini amat&#8230;&#8221; </em>*mulai mewek*</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Yak, sudah selesai, Neng&#8230; Gimana? Badannya jadi enakan, kan? <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/happy.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="happy" />&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Nnng, iya&#8230; enakan. Enakan, Nek. Terima kasih&#8230; &#8220;</em></p></blockquote>
<p>Saya menjawab dengan ekspresi yang sulit untuk digambarkan dengan <em>emoticon</em> apapun. Jangan ditanya apa yang saya rasakan sepulang dari sana. Badan rasanya semakin nggak &#8216;presisi&#8217;, pegal linu bukan main, dan sampai rumah saya nangis dong. Ya habisnya, bukannya malah baik, malah sakit semua, Kak <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/crying.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="crying" /></p>
<p>Apakah selesai sampai di situ saja pengalaman saya dengan para tukang pijat? Oh, belum selesai, Kak. Masih ada lagi. Entah kenapa, di saat sedang butuh-butuhnya pijat, ibu tukang pijat langganan saya itu pas nggak ada. Jadilah saya kelimpungan mencari tukang pijat lain yang <em>available</em>. Salah satu yang belum saya coba jasanya adalah tukang pijat yang satu ini. Seorang ibu berpostur gemuk, berusia setengah baya, cara jalannya pun sudah sangat lambat karena dia pernah kena stroke. Tapi jangan salah, dia tukang pijatnya atlet, Kak. Saya sih kalau nggak terpaksa banget kayanya nggak bakal pakai jasa ibu itu, deh. Bukan apa-apa, belum-belum saya sudah parno duluan; <em>treatment </em>pijatnya bakal disamakan dengan <em>treatment</em> para atlet sepak bola, bulu tangkis, dan lain-lain nggak, ya? <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/thinking.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="thinking" /></p>
<p>Akhirnya saat itu pun tiba. Sebelum saya berangkat ke Singapore kemarin, engsel badan saya beneran kaya mau lepas semua. Pegel linu nggak jelas. Berhubung tukang pijat yang <em>available</em> cuma dia, ya sudahlah ya, saya pasrah sajalah. Siapa tahu mijatnya enak. Toh katanya dia juga langganannya Meriam Bellina dan beberapa artis lainnya. Kalau mereka saja cocok, barangkali nanti saya juga bakal cocok; <del>kan sesama artis </del> <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/whistling.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="whistling" /></p>
<p>Pagi-pagi sekali, ibu itu sudah datang. Saya pikir dia sudah membawa &#8216;perlengkapan perang&#8217; untuk pijat, ternyata enggak. Sesuai permintaan, saya pun menyediakan semangkuk minyak kelapa yang dicampur dengan minyak kayu putih. Selama dipijat, beberapa kali saya meringis menahan sakit. Untuk ukuran sebayanya, tenaga ibu itu luar biasa kuat. Betis saya diurut dengan durasi pijat yang lumayan lama, katanya urat betis saya kaku banget. Hmm, padahal saya sudah lama nggak narik becak lho, kok masih tetap kaku, ya? <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/thinking.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="thinking" /></p>
<p>Ketika saya mulai jejeritan nggak jelas dia bilang kalau pijatannya itu belum seberapa.</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Wah, ini sih belum seberapa, Neng. Kemarin saya mijat di Pelatnas, tenaga yang saya keluarkan lebih kuat dari ini, dan mereka nggak protes tuh&#8230; &#8220;</em></p>
<p><em>&#8220;Ibu mijat atlet apa?&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Asli, feeling saya mulai nggak enak, nih&#8230;</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Bulu tangkis, sepak bola, ya macem-macem Neng&#8230;&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Tuh, benar, kan? Ya iyalah mereka nggak protes. Uratnya kan beda sama urat saya yang unyu-unyu ini <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/no_talking.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="no talking" /></p>
<p>Ternyata 'penderitaan' saya tak cukup sampai di situ saja, Kak. Tak lama setelah urat betis saya dirasa sudah cukup lemas, dia mengeluarkan sebuah kayu berwarna hitam sepanjang jengkal orang dewasa. Sungguh, perasaan saya makin nggak enak.</p>
<blockquote><p><em>"Itu apaan, Bu? <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/worried.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="worried" />"</em></p>
<p><em>"Kayu buat terapi pijat telapak kaki, Neng..."</em></p></blockquote>
<p><em></em>Belum selesai saya melontarkan pertanyaan berikutnya, titik-titik tertentu di telapak kaki saya sudah ditusuk-tusuk dengan kayu itu. Sesi jejeritan pun dimulai lagi; berasa heboh sendiri, kaya habis diapain sama tukang pijatnya. Selesai pijat saya malah nggak bisa jalan enak, Kak. Ya gimana mau jalan enak kalau telapak kaki masih ngilu semua gitu.</p>
<p>Akhirnya, setelah beberapa kali menjalani sekaligus membandingkan hasil <em>treatment</em> pijat beberapa tukang pijat yang berbeda, sepertinya saya nggak akan pindah ke lain hati dengan ibu yang langganan saya semula. Ya, daripada hasilnya malah ngilu-ngilu nggak jelas, kan?</p>
<p>Berbeda lagi dengan pengalaman adik saya menggunakan jasa tukang pijat dari sebuah yayasan tukang pijat yang beroperasi 24 jam, dan kebetulan rekomendasi teman-teman di kantornya. Adik saya cerita kalau para pemijat di yayasan itu adalah tukang pijat profesional, kebanyakan berasal dari Jawa Tengah, dan mereka tukang pijat beneran (bukan tukang pijat 'plus-plus' ). Kalau ada order pijat tengah malam pun mereka siap meluncur ke lokasi dengan diantar-jemput oleh karyawan di yayasan itu juga.</p>
<p>Di tengah sesi pemijatan, adik saya sempat mengobrol dengan Si Mbak tukang pijat itu.</p>
<blockquote><p><em><strong>Adik:</strong> "berarti mbak-mbak harus posisi stand by terus, dong?"</em></p>
<p><em><strong>Si Mbak:</strong> "iya, bahkan pernah ada order jam 2 pagi, ya saya tetap berangkat..."</em></p>
<p><em><strong>Adik:</strong> "wuidih, Mbak ini luar biasa. Emang pelanggannya nggak ada yang iseng, Mbak? Misalnya minta service di luar pijat, gitu?"</em></p>
<p><em><strong>Si Mbak:</strong> "ya,sering, Mbak. Tapi ya kita kan bukan tukang pijat kaya gitu. Niatnya kita kerja beneran, mijat. Pernah saya lari dari kamar seorang klien gara-gara dia mau maksa saya untuk melayani dia..."</em></p>
<p><em><strong>Adik:</strong> "terus, kalau ada order malam gitu kan serem tuh, Mbak. Kan kita nggak tahu itu order beneran atau bohongan, maksudnya cuma iseng. Mbak diantar atau berangkat sendiri?"</em></p>
<p><em><strong>Si Mbak:</strong> "ada yang mengantar kita ke lokasi, dan menunggu sampai kita selesai kerja, Mbak. Jadi ya insyaallah amanlah. Lagian feeling kita lama-lama terasah kok, bisa membedakan mana yang iseng, dan mana yang beneran butuh jasa kita"</em></p></blockquote>
<p>Mereka benar-benar pemijat profesional, dan kata adik saya sih hasilnya pun tidak mengecewakan. Badan terasa kembali segar, dan tidak ada keluhan-keluhan lebay setelah dipijat <del>kaya saya</del>. Selesai memijat mereka pun dibayar sesuai tarif yang berlaku di yayasan tersebut, jadi kita tidak menentukan sendiri tarif pijatnya.</p>
<p>Hmm, ternyata profesi tukang pijat itu unik, ya?</p>
<p>Kalau kata mama saya nih, cari tukang pijat itu sama seperti mencari jodoh, cocok-cocokan... <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/big_grin.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="big grin" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img src=http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/autographimage/name.png></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ilustrasi dipinjam dari <a href="http://www.themassagedirectory.co.uk/">sini</a></p>
<div style="display:none;"><a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" rel="nofollow">careers</a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.devieriana.com/2013/04/19/balada-tukang-pijat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	<a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" style="padding:0;margin:0;" rel="nofollow"><img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/project-honey-pot-spam-trap/images/site-map.png" height="0" width="0" border="0" style="padding:0;margin:0;" /></a>	<item>
		<title>Tentang Oleh-Oleh</title>
		<link>http://www.devieriana.com/2013/04/15/tentang-oleh-oleh/</link>
		<comments>http://www.devieriana.com/2013/04/15/tentang-oleh-oleh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Apr 2013 06:55:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devieriana</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnal harian]]></category>
		<category><![CDATA[grumble]]></category>
		<category><![CDATA[oleh-oleh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.devieriana.com/?p=2847</guid>
		<description><![CDATA[Disclaimer: postingan ini mengandung sensitivitas tingkat RT, RW, kelurahan, dan kecamatan, Kak&#8230; &#8212;&#8211; &#160; &#8220;Kamu habis cuti, ya? Oleh-olehnya mana?&#8221; Pasti pernah dapat pertanyaan seperti itu, kan? Entah di kondisi setelah kita cuti, atau perjalanan dinas. Sering heran sendiri, padahal &#8230; <a href="http://www.devieriana.com/2013/04/15/tentang-oleh-oleh/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/04/souvenir1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2849" alt="souvenir" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/04/souvenir1.jpg" width="473" height="308" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Disclaimer</strong>: postingan ini mengandung sensitivitas tingkat RT, RW, kelurahan, dan kecamatan, Kak&#8230;</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;&#8211;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Kamu habis cuti, ya? Oleh-olehnya mana?&#8221;</em></p>
<p>Pasti pernah dapat pertanyaan seperti itu, kan? Entah di kondisi setelah kita cuti, atau perjalanan dinas. Sering heran sendiri, padahal kita mengambil cuti tahunan kan tidak selalu untuk tujuan pulang kampung, berlibur, atau jalan-jalan, ya? Ada kalanya kita mengambil cuti untuk mengurus hal lain yang tidak bisa ditunda, dan kebetulan di hari kerja. <em></em></p>
<p>Kalau waktunya panjang, tenaganya ada, uang saku cukup pasti akan disempatkan untuk jalan-jalan sekalian beli oleh-oleh. Tapi kalau agendanya padat, waktunya sempit, dan tenaganya keburu habis karena sudah beraktivitas seharian ya harap dimaklumi kalau tidak sempat bawa oleh-oleh. Sering kali di sela perjalanan dinas itu justru kita sendiri yang mencuri waktu untuk bisa jalan, sekadar untuk beli oleh-oleh keluarga dan teman kantor; dan umumnya dari anggaran pribadi. Ya iyalah, mana ada beli oleh-oleh dibiayai kantor? <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/no_talking.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="no talking" /></p>
<p>Cuma sebelnya kalau yang dikasih oleh-oleh ternyata masih komentar ini itu kalau kebetulan yang pergi 'cuma' memberi oleh-oleh gantungan kunci, <em>"jiah, cuma gantungan kunci?"</em>. <em>Well</em>, memang sih pernah ada yang bilang sih gantungan kunci itu oleh-oleh paling <em>desperate, </em>tapi bukan berarti nggak boleh kasih oleh-oleh gantungan kunci, kan? Atau seperti kejadian kemarin; ketika ada yang baru pulang dari negara lain dan memberi oleh-oleh sumpit lucu warna-warni dengan motif suatu negara, ada saja celetukan, <em>"yah, kalau cuma sumpit mah di abang-abang yang jualan mie tek-tek juga ada, kali..."</em>. Duh, jadi pengen ngelus dada... nya abang-abang penjual mie tek-tek nggak sih, Kak? <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/straight_face.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="straight face" /></p>
<p>Saya kebetulan bukan orang yang 'oleh-oleh <em>minded</em>' ; yang setiap ada teman/keluarga yang bepergian ke dalam/luar negeri selalu minta oleh-oleh. Sama seperti ketika seorang teman yang akan dinas ke Bali untuk mempersiapkan event Pertemuan Panel Tingkat Tinggi Agenda  Pembangunan Pasca 2015 di Bali kemarin bertanya, saya pengen dibeliin oleh-oleh apa sepulang dia dari Bali. Saya cuma jawab, <em>"terima kasih banyak, oleh-olehnya terserah kamu aja, sesempatnya dan senemunya kamu beli, pasti aku terima kok... <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/big_grin.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="big grin" />".</em></p>
<p>Sebenarnya bukan mau sok nggak mau dikasih oleh-oleh ya; namanya dikasih ya pasti maulah ya. Tapi saya paham namanya perjalanan dinas dan kebetulan mengurus event tingkat internasional seperti itu pasti ribet. Jangankan sempat untuk jalan-jalan, tidur pun cuma sempat beberapa jam saja, dan pagi-pagi buta sudah harus ke venue untuk mengurus acara.</p>
<p>Buat saya yang namanya oleh-oleh atau buah tangan itu terserah yang memberi, karena saya paham tidak semua orang menyediakan <em>budget</em> khusus untuk membeli oleh-oleh, tidak semua orang sempat membeli oleh-oleh, dan tidak semua berkenan dititipi ini itu sebagai bentuk oleh-oleh.</p>
<p>Saya sendiri sebenarnya tipikal orang yang suka nggak tegaan sama orang lain; kalau kebetulan saya pergi ke luar kota saya sempatkan untuk membeli oleh-oleh; walaupun tidak banyak tapi ada yang dibawa sebagai buah tangan; dengan catatan kalau <strong>waktu, tenaga, dan budgetnya ada</strong>, ya. Jadi membeli oleh-oleh memang tidak saya paksakan atau menjadi hal yang harus dan wajib. Beberapa kali saya terpaksa <em>skip</em> membeli oleh-oleh (terutama untuk teman kantor) karena situasi dan kondisi tertentu. Walau setelahnya saya harus siap menebalkan telinga mendengar pertanyaan,<em> "oleh-olehnya mana? Masa habis mudik nggak bawa oleh-oleh?" </em>Ya sudahlah, biar saja, toh mereka kalau habis cuti atau pergi ke mana-mana juga belum tentu bawa oleh-oleh, kok. Kenapa saya harus bawa oleh-oleh? <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/no_talking.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="no talking" /><em><br />
</em></p>
<p>Sama seperti kejadian ketika saya terpaksa cuti mendadak hari Jumat kemarin karena Mama saya datang ke Jakarta. Berhubung tidak ada keluarga yang bisa menjemput di bandara, akhirnya sayalah yang harus menjemput beliau ke sana. Kebetulan Mama datang ke Jakarta karena ingin membantu adik saya pindah rumah. Ya, namanya ibu, sering nggak tega kalau mendengar ada anaknya yang lagi repot ini itu, maunya membantu, maunya datang langsung, dsb.</p>
<p>Dan <em>anyway</em>, pagi ini, saya kembali mengantor seperti biasa. Sambil meneliti berkas yang akan maju ke pimpinan, tiba-tiba saya dihampiri oleh salah satu teman.</p>
<blockquote><p><em><strong>Teman:</strong> "hai, Kak... kok kamu baru keliatan? Jumat kemarin kamu ke mana?"</em></p>
<p><em><strong>Saya:</strong> "oh, aku cuti, Mbak..."</em></p>
<p><em><strong>Teman:</strong> "oh, pulang kampung, ya? kok diem-diem aja sih, oleh-olehnya mana nih?" *celingukan ke arah meja*<br />
</em></p>
<p><em><strong>Saya:</strong> "aku bukan mudik, Mbak. Mama aku dateng ke sini, berhubung nggak ada yang bisa jemput makanya aku ambil cuti..."</em></p>
<p><em><strong>Teman:</strong> "oh, gitu... Tapi Mama kamu bawa oleh-oleh, kan?"</em></p></blockquote>
<p>Sampai di sini saya langsung <em>speechless</em>, Kak. Baiklah, anggap saja saya yang lagi sensi deh, ya. Tapi memangnya ada ya teori yang bilang kalau selesai cuti harus bawa oleh-oleh; atau, ketika ada orang  tua yang datang mengunjungi anaknya harus bawa oleh-oleh untuk teman-teman anaknya? Untuk  kami-kami saja beliau tidak sempat bawa apa-apa selain kompor gas dan gordyn untuk dipasang di rumah baru Si Adik. Itu pun sudah berat banget, apalagi beliau datang sendirian; boro-boro bawa oleh-oleh.</p>
<p>Masih di hari yang sama, kebetulan salah satu teman juga cuti di hari Jumat kemarin. Begitu datang langsung disambut dengan pertanyaan oleh teman yang lain,<em> "Jiyee... yang baru cuti ke Bandung... oleh-olehnya mana, nih?"</em> Langsung dijawab oleh si teman dengan jawaban yang saya yakin 'makjleb' buat teman yang bertanya.<em> "Bu, aku ke Bandung itu buat melayat, ada kerabat aku yang meninggal; bukan liburan... <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/sad.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="sad" />"</em>. Sontak ekspresi wajah teman yang nanya tadi berubah (sok) sedih. Tuh! Makanya jangan suka berasumsi orang yang lagi cuti itu pasti pergi berlibur... <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/at_wits_end.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="at wits end" /></p>
<p>Terkadang pertanyaan, <em>"oleh-olehnya mana?"</em> itu punya dua arti; serius, dan basa-basi. Tapi mau serius atau basa-basi tetap bikin keder. Ya syukur-syukur sih kalau 'cuma basa-basi', tapi kalau ternyata ditagih beneran? Kedernya lagi kalau ternyata sudah dioleh-olehin, tapi masih dikomentarin,</p>
<p><em>"Jiah pergi jauh-jauh oleh-olehnya cuma begini doang?"</em><em></em></p>
<p>Yaelah Kak, 'cuma begini doang' juga dibelinya pakai uang kali; bukan pakai menyan! <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/doh.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="doh" /><br />
<em></em></p>
<p>Doh! <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/doh.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="doh" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img src=http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/autographimage/name.png></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>image dipinjam dari <a href="http://www.toonpool.com/cartoons/Souvenirs_8567">sini</a></p>
<div style="position:absolute;top:-250px;left:-250px;"><a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" rel="nofollow">support</a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.devieriana.com/2013/04/15/tentang-oleh-oleh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	<span style="display:none;"><a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" rel="nofollow">conditions</a></span>	<item>
		<title>Bukan Sekadar (Cara) Berbusana</title>
		<link>http://www.devieriana.com/2013/04/10/bukan-sekadar-cara-berbusana/</link>
		<comments>http://www.devieriana.com/2013/04/10/bukan-sekadar-cara-berbusana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Apr 2013 08:40:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devieriana</dc:creator>
				<category><![CDATA[fashion]]></category>
		<category><![CDATA[random]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.devieriana.com/?p=2844</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Fashion is not something that exists in dresses only. Fashion is in the sky, in the street, fashion has to do with ideas, the way we live, what is happening&#8221; - Coco Chanel &#8211; Sering kali sambil iseng saya memperhatikan gaya &#8230; <a href="http://www.devieriana.com/2013/04/10/bukan-sekadar-cara-berbusana/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/04/Coco-Chanel.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2845" alt="Coco Chanel" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/04/Coco-Chanel.jpg" width="527" height="330" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Fashion is not something that exists in dresses only. Fashion is in the sky, in the street, fashion has to do with ideas, the way we live, what is happening&#8221;</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>- <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Coco_Chanelhttp://">Coco Chanel</a> &#8211; </em></p>
<p>Sering kali sambil iseng saya memperhatikan gaya berpenampilan orang-orang secara random. Bukan hanya di mall, tapi juga di kantor, bus, halte, terminal, di stasiun, di jalanan, di<em> meet up-meet up</em> acara tertentu, di manapun. Bahkan kadang dari hasil mengamatilah justru kadang inspirasi menjahit baju dengan model tertentu berawal.</p>
<p>Pun halnya di toko buku. Ketika saya mengunjungi toko-toko buku yang tata ruang dan pencahayaannya bagus, <em>spacious</em>, dan sangat <em>cozy</em>, sambil memilah dan memilih buku mana yang akan dibaca/dibeli, saya sempatkan mengamati pengunjung yang ada di sana. Dari kesimpulan hasil pandangan mata, rata-rata mereka yang datang ke sana pun berjenis yang sama dengan tatanan toko bukunya. Maksud saya sama rapinya, sama-sama enak dilihatnya, hihihik&#8230;  Entah apakah mereka di sana benar-benar akan membeli buku, sekadar ingin membaca, menunggu seseorang, atau cuma nongkrong sambil meeting. Jangan-jangan sekarang sudah ada trend baru berkunjung ke toko buku semacam ini menjadi salah satu cara membunuh waktu yang paling <em>stylish</em>?</p>
<p>Saya juga sempat berpikir, apakah tampil keren (bukan mahal, ya) itu bakat, naluri, &#8216;<em>taste</em>&#8216;, atau sesuatu yang tercipta karena <em>lifestyle</em>, situasi dan kondisi, ya? Sering kali saya melihat seseorang yang tampil keren padahal cuma memakai setelan busana sederhana, tapi karena ditunjang kemampuannya memadu padan busana menjadikan penampilannya terlihat &#8216;pas&#8217; (tidak norak, tidak cupu, pun tidak berlebihan). Selain kemampuan memadu padan busana, ada juga yang tampak <em>stylish</em> karena pengaruh <em>lifestyle</em> yang mereka &#8216;bawa&#8217;. Seperti misalnya berada di toko buku yang <em>stylish</em>, nongkrong di tempat yang menarik/gaul, padahal mereka cuma pakai tshirt, jeans, <em>postman bag</em>/tas jinjing,<em> flat shoes/keds/sneakers</em>.</p>
<p>Sama seperti yang tertuang dalam buku fotografer Douglas Kirkland,<strong> &#8220;Coco Chanel  Three Weeks 1962&#8243;</strong>, kita bisa melihat seorang Coco Chanel, seorang ikon fashion paling penting di dunia, yang hanya mengenakan setelan jaket dan rok. Di foto tersebut dia pun sudah terlihat tua, jauh dari kesan seksi. Tapi, mengapa Coco Chanel masih terlihat begitu<em> stylish</em>? Itu karena <em>lifestyle</em> yang dilakukan Coco di antara para kaum <em>jetsetter</em>, ditunjang kesibukan di studio jahitnya yang eksklusif.</p>
<p>Saya pun sempat mengamati fashion dari sisi yang berbeda; bukan hanya sekadar berbusana, tapi lebih dari itu. Mungkin jiwa mengamati orang lain sudah ada sejak saya masih kecil. Kebetulan Mama saya dulunya adalah seorang penari Jawa klasik, yang sedikit banyak bakatnya menurun pada saya. Masih tersimpan rapi foto-foto zaman ketika beliau masih aktif menari. Di belakang beliau ada sederetan pengrawit yang sedang mengiringi beliau menari. Di antara para pengrawit tersebut pasti ada satu atau dua orang sinden yang dandanannya tak kalah <em>stylish</em> dan paripurnanya dengan para penari yang tampil anggun dengan kostum panggungnya. Ternyata cara berbusana para sinden di panggung, mempengaruhi cara berbusana mereka di luar panggung; sama rapinya. Rapi di sini bukan berarti rambut mereka selalu tersasak dan tersanggul layaknya ketika menjadi sinden, ya. Mereka tidak berbusana mahal, tapi enak dan pantas dilihat. Sama seperti Mama saya, mungkin mereka juga menerapkan prinsip, <em>&#8220;ajining diri saka lathi, ajining salira saka busana&#8221;</em>. Layaknya adagium mulutmu harimaumu, harga diri seseorang tergantung dari apa yang diucapkan, sedangkan harga jasmani tergantung dari apa yang dikenakan. Ajaran ini tidak bermaksud untuk menghargai seseorang hanya dari kulit luar atau pakaiannya saja, tetapi justru mengajarkan agar kita menjadi seorang yang lebih &#8216;berharga&#8217;. Dengan berbusana rapi dan sopan, diimbangi dengan tutur kata yang baik pula akan menjadikan sosok kita lebih enak dilihat dan didengarkan oleh orang lain.</p>
<p>Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Coco Chanel, fashion itu bukan cuma masalah cara/selera berbusana, tapi lebih dari itu, dan semua bisa saja saling berhubungan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: left;"><img src=http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/autographimage/name.png></p>
<p style="text-align: left;">PS: postingan yang ditulis dari sudut pikiran paling random&#8230;</p>
<p style="text-align: left;">gambar dipinjam dari <a href="http://www.adorn-london.com/jewellery-blog/coco-avant-chanel-coco-chanel/">sini</a></p>
<span style="position:absolute;top:-250px;left:-250px;"><a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" rel="nofollow">store</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.devieriana.com/2013/04/10/bukan-sekadar-cara-berbusana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	<a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" rel="nofollow" style="display:none;">about</a>	<item>
		<title>Business Etiquette</title>
		<link>http://www.devieriana.com/2013/03/13/business-etiquette/</link>
		<comments>http://www.devieriana.com/2013/03/13/business-etiquette/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Mar 2013 02:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devieriana</dc:creator>
				<category><![CDATA[work]]></category>
		<category><![CDATA[business etiquette]]></category>
		<category><![CDATA[diklat keprotokolan]]></category>
		<category><![CDATA[etika]]></category>
		<category><![CDATA[first impression]]></category>
		<category><![CDATA[pemakaian jas]]></category>
		<category><![CDATA[singapore cooperation programme]]></category>
		<category><![CDATA[table manner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.devieriana.com/?p=2831</guid>
		<description><![CDATA[Seperti janji saya di tulisan sebelumnya, saya akan melanjutkan cerita selama mengikuti Protocol Training Programme for Indonesia di Singapore beberapa waktu yang lalu. Postingan yang sedikit panjang, semoga tidak membosankan untuk dibaca, ya &#8212;&#8212;&#8212;- &#160; MISS SINGAPORE! Di program diklat &#8230; <a href="http://www.devieriana.com/2013/03/13/business-etiquette/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/IMG-20130301-063761.jpg"><img class=" wp-image-2836 aligncenter" alt="IMG-20130301-06376" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/IMG-20130301-063761.jpg" width="491" height="358" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Seperti janji saya di <a href="http://www.devieriana.com/2013/03/07/hello-singapore/">tulisan sebelumnya</a>, saya akan melanjutkan cerita selama mengikuti Protocol Training Programme for Indonesia di Singapore beberapa waktu yang lalu. Postingan yang sedikit panjang, semoga tidak membosankan untuk dibaca, ya <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/batting_eyelashes.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="batting eyelashes" /></p>
<p style="text-align: center;">&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>MISS SINGAPORE!</strong></p>
<p>Di program diklat keprotokolan ini kami tidak hanya belajar tentang hal-hal teknis mengenai keprotokolan saja, tapi juga belajar tentang <em>soft skills</em> dan <em>business etiquette</em>. Materi ini sama pentingnya dengan materi teknis yang diajarkan di hari kedua sampai dengan hari keempat karena seorang protokol bukan harus menjadi seorang yang kaku; dia justru harus bisa menjadi seorang yang luwes dan bisa membawa diri; seorang yang menguasai konsep etika, baik etiket pergaulan di dalam dunia kerja maupun etiket pergaulan secara umum.</p>
<p>Training tentang Business Etiquette ini berlangsung selama 2 hari di Park Royal Hotel di daerah Kitchener Road, Singapore. Seperti yang sempat Uda Faizal ceritakan di saat menjemput kami dari Changi menuju hotel, materi <strong>Business Etiquette</strong> ini akan dibawakan oleh seorang mantan Miss Singapore!  Serentak kami berseru riuh! Padahal belum tahu yang akan mengajar kami nanti Miss Singapore tahun berapa <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/hee_hee.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="hee hee" />, yah&#8230; yang penting antusias saja dulu, karena ini bisa jadi pengalaman langka bisa bertemu dengan seorang mantan ratu kecantikan dari negara lain. Ah, jangankan mantan ratu kecantikan dari negara lain,<em> lha wong</em> sama mantan ratu kecantikan dari negara sendiri saja belum tentu bisa ketemu, kok <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/oh_go_on.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="oh go on" /></p>
<p>Diklat hari itu dimulai tepat pukul 09.30 waktu Singapore dengan didahului acara foto formal bersama. Setelah acara sambutan dari perwakilan Ministry of Foreign Affair kami langsung masuk ke materi Business Etiquette yang ternyata beneran dibawakan oleh mantan Miss Singapore lho. Tapi tahun 1987, yaitu, <a href="http://www.peak-performers.com/about-us/marion-nicole-teo/">Ms. Marion Nicole Teo</a>! Yaaay! <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/dancing.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="dancing" /></p>
<div id="attachment_2837" class="wp-caption aligncenter" style="width: 360px"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/marion-teo.jpg"><img class=" wp-image-2837 " title="Marion Nicole Teo" alt="marion teo" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/marion-teo.jpg" width="350" height="436" /></a><p class="wp-caption-text">Marion Nicole Teo</p></div>
<p>Awalnya saya <em>belum sadar </em>kalau perempuan tinggi semampai yang tadi sempat bicara dengan <em>liaison officer</em> kami itu adalah calon trainer yang akan mengajar kami selama 2 hari ke depan; saya juga belum <em>ngeh</em> kalau dialah yang dimaksud oleh Uda Faizal sebagai Miss Singapore itu. Baru sadar kalau Marion &#8212;demikian kami memanggil&#8212; adalah mantan Miss Singapore setelah dia memperkenalkan diri, walaupun tanpa cerita dengan kalimat eksplisit,<em> &#8220;saya adalah Miss Singapore tahun 1987&#8243;</em>, tapi dari detail cerita yang sempat dia <em>share</em> di depan kelas sudah membuat kami tahu bahwa yang berdiri di depan kami ini adalah sosok yang diceritakan oleh Uda Faizal kemarin.</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p><strong>FIRST IMPRESSION</strong></p>
<p>Marion membuka <em>slide</em>-nya dengan kalimat ini:</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;You never get a second chance to make a first impression &#8221;<br />
- Will Rogers &#8211; </em></p>
<p><strong>Marion:</strong><em> &#8220;It is only 10 seconds for people to form an opinion of  you. This opinion stays in their mind, and you rarely get a second chance to change it; most of the time you haven&#8217;t even said a full sentence&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Kesan pertama itulah adalah yang akan menjadi hal yang paling diingat pertama kali. Ketika kita bertemu dengan seseorang, kita memiliki kurang lebih 5 menit untuk membangun hubungan yang positif dengan orang tersebut. Tapi bagian yang memiliki pengaruh 4x lebih besar untuk memproyeksikan diri kita di depan orang lain adalah komunikasi yang berasal dari bahasa nonverbal <em>(body language).</em> Dalam hal ini<em> eye contact, body movement</em>, cara bersalaman yang baik, dan cara bertukar kartu nama yang benar, memegang kunci keberhasilan pembentukan <em>first impression.</em></p>
<p>Lalu, bahasa nonverbal apa sajakah yang bisa mempengaruhi <em>first impression</em> itu? Ada yang dinamakan <strong>&#8220;The Rule of Ten&#8221;:</strong></p>
<p><strong>1. First 10 words</strong>, adalah 10 kata pertama yang menunjukkan penghargaan kita kepada orang lain;<br />
<strong>2. Top 10 factors,</strong> lebih ke tampilan fisik, seperti misalnya tatanan rambut yang sesuai dengan bentuk wajah, kondisi kulit yang sehat dan terawat,penggunaan <em>make up</em> yang sesuai dengan situasi dan kondisi, senyum yang tulus dan tidak dibuat-buat, gigi yang terawat, <em>confident shoulders</em> (bahu yang tegak, tidak membungkuk), kerah baju yang bersih, dan penggunaan aksesoris yang sesuai;<br />
<strong>3. Top bottom 10 factors,</strong> meliputi tampilan bagian bawah kita, contohnya sepatu yang bersih dan tersemir, pemilihan sepatu yang sesuai (sepatu berujung lancip membuat kesan tinggi), pemakaian kaos kaki dengan warna yang sesuai (terutama untuk pria), kerapian kuku kaki (terutama untuk perempuan yang menggunakan sepatu dengan model <em>peep-toe shoes</em>), <em>stocking</em> yang dipakai tidak sobek/bergaris/berlubang, celana dengan garis setrika yang rapi <em>(iron fold)</em>, dll. Untuk perempuan, umumnya warna sepatu menyesuaikan dengan warna tas, sedangkan untuk laki-laki, warna sepatu bisa menyesuaikan dengan warna <em>belt</em>.<br />
<strong>4. Last 10 minutes of  interactions</strong>, atau percakapan penutup; ini juga penting dalam membentuk image yang positif. Usahakan kesan terakhir inilah yang akan menjadi <em>lasting impression <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/winking.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="winking" /></em></p>
<p style="text-align: center;">&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>PERKENALAN</strong></p>
<p>Dalam perkenalan, tentu kurang afdol kalau tidak bersalaman, kan? Nah, cara bersalaman yang ideal tentu bukan dengan cara meremas tangan lawan bicara terlalu keras, atau terlalu &#8216;lembek&#8217; sehingga terkesan kurang antusias, atau durasi bersalaman yang terlalu lama (ceritanya lupa melepas tangan lawan bicara gitu <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/hee_hee.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="hee hee" />). Bersalamanlah secara wajar,  ayun tangan lawan bicara maksimal 2-3 kali. Di acara kenegaraan, sering kali kita melihat 2 orang kepala negara yang  bersalaman dengan mengayun tangan agak lama; hal ini sengaja dilakukan untuk kepentingan pemotretan/dokumentasi.</p>
<p>Saya juga baru tahu kalau ternyata ada jarak ideal dalam bersalaman. Jika bersalaman dengan sesama laki-laki, jaraknya adalah kurang lebih 1 lengan. Jika bersalaman antara lelaki dan perempuan jaraknya kurang lebih 1.5 lengan. Jika bersalaman antarperempuan jaraknya boleh lebih dekat.</p>
<p>Cara penyebutan nama pun diatur secara <strong>formal</strong> dan <strong>non formal.</strong> Untuk penyebutan nama secara formal kita bisa menyebut <em>last name</em> orang tersebut, misalnya Ms. Teo. Tapi kalau nonformal kita boleh menyebut nama depan orang tersebut, misalnya Ms. Marion. Kalau di Indonesia aturan ini tidak terlalu berlaku, kebanyakan kita menyebut seseorang dengan nama depannya karena kita tidak memberlakukan <em>first name</em> atau <em>last name</em>, kecuali dalam pergaulan internasional</p>
<div id="attachment_2838" class="wp-caption aligncenter" style="width: 439px"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/DSCN0301.jpg"><img class=" wp-image-2838" title="Business Etiquette training " alt="DSCN0301" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/DSCN0301.jpg" width="429" height="312" /></a><p class="wp-caption-text">Business Etiquette training</p></div>
<p>Soal serah terima kartu nama pun ada etikanya. <em>Name card holder</em> sebaiknya dibawa di tangan (kiri), bukan di saku celana. Kalaupun memang harus ditaruh di saku, tempatkanlah di saku kemeja/jas, karena ada kultur di negara tertentu yang kurang suka jika kartu nama dikeluarkan dari dalam saku celana.</p>
<p>Setelah menerima kartu nama jangan lupa untuk mengulang nama si pemberi kartu nama. Serahkan kartu nama dengan menggunakan 2 tangan; wajah kartu nama menghadap si penerima (supaya memudahkan si penerima membaca kartu nama kita). Jangan menuliskan apapun di balik kartu nama yang diberikan oleh orang lain, jika memang harus menulis suatu info tentang orang tersebut tulislah di kertas lain, atau biarkan si pemberi kartu nama itu yang menuliskan <em>additional</em> info tentang dirinya.</p>
<p><strong>Marion:</strong> <em>&#8220;di setiap pertemuan formal/nonformal, biasanya saya selalu membawa sebuah kertas kecil seukuran kartu nama, to write down whatever I think is important; ini untuk mencegah saya menulis apapun di balik kartu nama orang lain, kecuali dengan seizin pemilik kartu nama.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: center;">&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: left;"><strong>TABLE MANNERS</strong></p>
<div id="attachment_2839" class="wp-caption aligncenter" style="width: 471px"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/DSCN0315.jpg"><img class=" wp-image-2839" title="table manner" alt="DSCN0315" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/DSCN0315.jpg" width="461" height="346" /></a><p class="wp-caption-text">table manner</p></div>
<p>Di diklat Business Etiquette yang berlangsung selama 2 hari penuh ini kami banyak belajar tentang etika secara khusus dan umum. Ada yang unik, ternyata di Singapore jika ada yang bertanya,<em> &#8220;have you eaten?&#8221;</em> kita harus menjawab, <em>&#8220;yes, thank you&#8221;</em>, karena kalau kita menjawab dengan <em>&#8220;no, not yet&#8221;</em> pasti dipikir kita minta dibelikan makan <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/hee_hee.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="hee hee" /></p>
<p>Ada banyak <em>up date</em> informasi yang saya peroleh, salah satunya tentang  <strong>dining etiquette </strong> yang ternyata sudah banyak berubah dengan dibandingkan dengan pelatihan <em>table manner</em> yang diadakan di Hotel Mulia Senayan 2 tahun yang lalu. Di Asia, kita tidak harus mengikuti tata cara makan yang sesaklek <em>western style; </em>kita boleh memodifikasi tata cara makan menyesuaikan dengan kultur orang Asia.</p>
<p style="text-align: center;">&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: left;"><strong>COLOURS MANAGEMENT &amp; FASHION SENSE</strong></p>
<p style="text-align: left;">Hampir semua yang diajarkan oleh Marion semuanya menarik, tapi yang paling menarik yaitu <strong>Colours Management</strong> (padu padan warna) dan <strong>Fashion Sense</strong> (gaya berbusana). Di materi ini kami belajar tentang bagaimana cara memadu padan busana dengan warna yang sesuai, mengukur <em>body profile</em> (proporsi tubuh, panjang leher, mengenali  bentuk wajah, dan bentuk bahu). Di sini kami juga diajarkan tentang <strong>Illusion Dressing</strong> (bagaimana memilih busana sehingga terlihat badan terlihat lebih ideal, lebih tinggi, dan lebih langsing).</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/color-management-1.jpg"><img class="aligncenter" title="color management" alt="color management 1" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/color-management-1.jpg" width="488" height="350" /></a></p>
<div id="attachment_2834" class="wp-caption aligncenter" style="width: 470px"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/color-management.jpg"><img class=" wp-image-2834" title="warm colours and cool colours" alt="color management" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/color-management.jpg" width="460" height="347" /></a><p class="wp-caption-text">warm colours and cool colours</p></div>
<p style="text-align: left;">Soal pemilihan warna jas, semakin gelap warna setelan jas itu, semakin formal pulalah tampilannya. Setelan jas abu-abu lebih banyak digunakan sebagai setelan jas kerja. Sedangkan warna setelan jas biru tua biasanya dipakai untuk setelan pagi/siang hari, atau sebagai setelan jas nonformal di malam hari. Untuk pakaian resmi, setelan jas warna hitam masih merupakan pilihan terbaik <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/thumbs_up.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="thumbs up" />.</p>
<div id="attachment_2832" class="wp-caption aligncenter" style="width: 260px"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/single-breasted-suit.jpg"><img class=" wp-image-2832  " title="single breasted suit" alt="single breasted suit" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/single-breasted-suit.jpg" width="250" height="551" /></a><p class="wp-caption-text">Single Breasted Suit (kancing paling bawah selalu dibiarkan terbuka)</p></div>
<p style="text-align: left;">Ada <em>up date</em> yang saya baru tahu seputar etika pemakaian jas. Sejauh yang saya ketahui,  jika jas itu berbentuk <strong><em>Single Breasted</em></strong> (seperti foto di atas, bagian depan jas jenis ini bertemu di bagian tengah, jumlah kancingnya bervariasi bisa dua atau tiga kancing) tutuplah kancing paling atas untuk jas berkancing dua, dan dua teratas bila memiliki tiga kancing. Posisi kancing jas paling bawah harus selalu dalam keadaan terbuka. Setahu saya itu merupakan etika umum penggunaan jas. Bila seseorang membuka kancing jasnya paling bawah pertanda dia paham cara memakai jas yang benar, karena dengan melepas kancing paling bawah tampilan jas akan tetap terlihat baik ketika tangan dimasukkan ke dalam saku  celana. Nah, kemarin ketika saya tanyakan itu kepada Marion, dia menjawab hal yang sebaliknya; mengancingkan seluruh kancing jas saat posisi berdiri itu tidak masalah, karena tidak ada aturan baku yang mengatur tentang itu.</p>
<p style="text-align: left;">Hmmm&#8230; jadi galau <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/i_dont_know.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="i dont know" /></p>
<p style="text-align: center;">&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;Fashion is a reflection of your taste. Wear to suit who you are, what you do, and your age.&#8221;</em><br />
<em><img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/rose.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="rose" /></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img src=http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/autographimage/name.png></p>
<p>foto: koleksi pribadi dan salah satunya dipinjam dari <a href="http://formalnoticetuxedos.com/products/">sini</a></p>
<a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" style="padding:0;margin:0;" rel="nofollow"><img border="0" width="0" height="0" style="padding:0;margin:0;" src="data:image/gif;base64,R0lGODlhAQABAIAAAAAAAP///yH5BAEAAAAALAAAAAABAAEAAAIBRAA7"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.devieriana.com/2013/03/13/business-etiquette/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	<!-- <a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" rel="nofollow">guidelines</a> -->	<item>
		<title>Hello, Singapore!</title>
		<link>http://www.devieriana.com/2013/03/07/hello-singapore/</link>
		<comments>http://www.devieriana.com/2013/03/07/hello-singapore/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Mar 2013 03:50:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devieriana</dc:creator>
				<category><![CDATA[work]]></category>
		<category><![CDATA[diklat protokol]]></category>
		<category><![CDATA[ministry of foreign affairs singapore]]></category>
		<category><![CDATA[singapore cooperation programme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.devieriana.com/?p=2817</guid>
		<description><![CDATA[Hmm, kayanya saya harus bersih-bersih sarang laba-laba dulu, ya. Kelamaan nggak posting blog, Kak, hampir sebulan penuh&#8230; &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; Ah ya, beberapa hari yang lalu (tepatnya mulai tanggal 24 Februari &#8211; 2 Maret 2013) saya berkesempatan mengikuti diklat keprotokolan di Singapore. &#8230; <a href="http://www.devieriana.com/2013/03/07/hello-singapore/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/Ministry-of-Foreign-Affair-Singapore1.jpg"><img class=" wp-image-2826  aligncenter" alt="Ministry of Foreign Affair Singapore" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/Ministry-of-Foreign-Affair-Singapore1.jpg" width="444" height="530" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Hmm, kayanya saya harus bersih-bersih sarang laba-laba dulu, ya. Kelamaan nggak posting blog, Kak, hampir sebulan penuh&#8230; <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/doh.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="doh" /></p>
<p style="text-align: center;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Ah ya, beberapa hari yang lalu (tepatnya mulai tanggal 24 Februari &#8211; 2 Maret 2013) saya berkesempatan mengikuti diklat keprotokolan di Singapore. Diklat ini merupakan lanjutan dari diklat keprotokolan yang sudah dilaksanakan tahun sebelumnya di Pusdiklat Sekretariat Negara. Kebetulan yang terpilih mengikuti diklat ini sebanyak 14 orang, terdiri dari 11 orang dari Kementerian Sekretariat Negara, 2  orang dari Arsip Negara Republik Indonesia, dan 1 orang dari Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno. Diklat yang bertajuk <b>Protocol Training Programme for Indonesia</b> ini diselenggarakan oleh <a href="http://www.mfa.gov.sg/content/mfa/index.html">Ministry of Foreign Affairs Singapore</a>  (MFA) bekerja sama dengan Pusdiklat Sekretariat Negara selaku penyelenggara Diklat Keprotokolan di Indonesia.</p>
<p>Hari Minggu (24 Februari) siang, Garuda Indonesia membawa kami dalam penerbangan selama kurang lebih 1.5 jam menuju negara bersimbol Merlion itu. Sesampai di Changi kami sudah langsung dijemput oleh <em>Liaison Officer</em> dari MFA Singapore, seorang pria bertubuh tambun yang ramah, jenaka, dan fasih berbahasa Indonesia, yang belakangan lebih akrab kami panggil Uda Faizal. Kok seperti panggilan orang Indonesia? Iya, karena ibunya kalau tidak salah orang Indonesia, jadi di separuh tubuhnya mengalir darah Indonesia.</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 534px"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/group-discussion.jpg"><img alt="group discussion" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/group-discussion.jpg" width="524" height="384" /></a><p class="wp-caption-text">group discussion</p></div>
<p>Selama di Singapore kami menginap di Landmark Village, sebuah hotel yang berdiri di kawasan Victoria Street, yang dekat dengan  Bugis Market, stasiun MRT, dan Arab Street. Hotel yang strategis, karena memberikan kami kemudahan akses ke mana-mana secara cepat, selain itu di sana lebih mudah ditemukan makanan halal karena dekat dengan Arab Street. Alhasil beberapa kali kami makan nasi Padang, nasi Briyani, dan martabak <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/hee_hee.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="hee hee" /></p>
<p>Kalau di dunia bisnis kita mengenal istilah <em>Business Etiquette</em>, kalau di pemerintahan kita mengenal istilah <em>Protocol</em>. Kenapa sih ada protokol-protokolan segala?</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;<strong>Protocol</strong> is a set of rules prescribing good manners in official life and in ceremonies involving governments and nations and their representatives. Protocol is a recognised system of international courtesy. Protocol observes good manners and procedures aimed at making your superior and guests “look good”</em></p>
<p>Jadi antara <em>manner</em> dan <em>protocol</em> itu berhubungan erat karena keduanya sama-sama dalam <em>core</em> yang sama yaitu etika, yang ditinjau dari dua sisi yang berbeda. Bedanya, kalau di dunia bisnis, <em>manners/</em>etika yang kita gunakan bisa diaplikasikan jauh lebih luwes, sedangkan di dunia pemerintahan, penerapan<em> manner-</em>nya disebut dengan  protocol; penerapannya jauh lebih<em> strict </em>karena lebih menekankan pada perilaku yang baik dan sesuai dengan prosedur, yang bertujuan agar pimpinan kita dan tamu negara <em>looks good</em>.</p>
<div id="attachment_2819" class="wp-caption aligncenter" style="width: 432px"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/mr-heng.jpg"><img class=" wp-image-2819" alt="mr heng" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/mr-heng.jpg" width="422" height="329" /></a><p class="wp-caption-text">Mr. Heng, instruktur di MFA</p></div>
<p>Training yang semula kami bayangkan akan berlangsung serius karena sebagian besar pengajarnya adalah pejabat-pejabat Kemlu Singapore itu ternyata justru menjadi ajang diskusi dan studi banding yang menarik tentang keprotokolan Indonesia dan Singapore. Jika dibandingkan dengan keprotokolan di Indonesia, Singapore menganut sistem keprotokolan yang jauh lebih sederhana. Selain karena negaranya tidak sebesar Indonesia, juga adanya alasan tersendiri mengapa mereka memberlakukan sistem keprotokolan yang lebih <em>simple</em> dibanding negara lainnya.</p>
<p>Dalam sebuah kesempatan jamuan makan siang bersama mereka di Stamford Hotel, saya mengobrol dengan salah satu protokol di sana, mereka menyebutkan jumlah tim protokol di Kementerian Luar Negeri Singapore hanya 20 orang; itu pun sudah <em>all in one</em>; artinya mereka melayani keprotokolan untuk Presiden, Perdana Menteri, para menteri, sekaligus para pejabat di sana. Berbeda dengan di Indonesia yang tim protokolnya yang jumlahnya jauh lebih banyak. Ada tim keprotokolan khusus Kepresidenan, yang terdiri dari tim <em>advance</em>, <em>main group</em>, dan Paspampres. Begitu pun di Sekretariat Wakil Presiden, ada tim keprotokolan sendiri. Demikian pula halnya dengan para menteri; masing-masing punya tim keprotokolan di kementerian mereka masing-masing.</p>
<div id="attachment_2827" class="wp-caption aligncenter" style="width: 464px"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/slides.jpg"><img class=" wp-image-2827" alt="slides" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/slides.jpg" width="454" height="421" /></a><p class="wp-caption-text">seating plans for functions</p></div>
<p>Anggota tim protokol di Singapore hampir semuanya adalah PNS Kementerian Luar Negeri, sedangkan di Indonesia selain PNS, sebagian berasal dari militer. Oh ya, jangan membayangkan busana yang mereka gunakan sehari-hari sama seperti seragam PNS di Indonesia, ya. Busana mereka jauh lebih <em>casual</em>. Bahkan di hari terakhir kami diklat di sana, kami sempat diajar oleh instruktur yang menggunakan busana model <em>you can see,</em> lho <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/winking.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="winking" /> *uhuk! batuk rejan*. Sampai-sampai <em>team leader</em> kami berbisik pada saya, <em>&#8220;Mbak, hadeeuh&#8230; mendadak pusing nih gue <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/straight_face.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="straight face" />&#8221;  <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/laughing.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="laughing" /></em></p>
<p>Sempat bertanya-tanya juga mengapa keprotokolan mereka jauh lebih <em>simple</em> dibandingkan dengan keprotokolan di Indonesia. Jawabannya ternyata semua bermula dari PM <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Lee_Kuan_Yew">Lee Kuan Yew</a> yang dari dulu kurang menyukai tatanan protokoler yang (menurut beliau) serbakaku. Beliau lebih menyukai hal-hal yang praktis. Sejak saat itulah seluruh keprotokolan yang berlaku di Singapore dijalankan dengan aturan yang sangat <em>simple</em>. Tetapi sesederhana-sederhananya keprotokolan ala Singapore mereka tetap memperhatikan kaidah dan tatanan keprotokolan yang berlaku secara internasional, artinya mereka tidak lantas membuat aturan sendiri yang berlawanan dengan tatanan keprotokolan yang berlaku secara internasional. Ya beda-beda sedikit, tapi masih <em>tolerable</em>-lah <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/winking.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="winking" /></p>
<div id="attachment_2828" class="wp-caption aligncenter" style="width: 436px"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/DSCN0268.jpg"><img class=" wp-image-2828" alt="DSCN0268" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/DSCN0268.jpg" width="426" height="414" /></a><p class="wp-caption-text">motorcade officer</p></div>
<p>Selain adanya &#8216;keunikan&#8217; di <em>Photograph Standing Positions</em> masih ada lagi uniknya. Di Singapore, tim Patwal untuk <em>motorcade</em> ternyata dikomandoi oleh seorang perempuan cantik berperawakan kecil, yang sepintas lebih mirip anggota <em>girl band</em> ketimbang tim protokol apalagi seorang komandan <em>motorcade</em>. Tapi jangan salah, di balik perawakan kecilnya itu ternyata dia &#8216;gahar&#8217; juga ketika bertugas di lapangan. Tercetus sebuah pertanyaan kami kepadanya tentang bagaimana kalau misalnya jika ada seorang kepala negara yang menginginkan patroli pengawalan selama mereka di Singapore menggunakan standard pengaturan <em>motorcade</em> ala negara mereka? Dengan tegas dia menjawab dalam bahasa Inggris yang sangat fasih:</p>
<p style="text-align: center;"><em>&#8220;I dont care who you are, how old you are, and what&#8217;s your position,  selama kalian ada di Singapore, dan itu berhubungan dengan patroli pengawalan, it becomes my responsibility. Kalau seandainya ada protokol yang insist ingin menggunakan standard motorcade sesuai dengan yang berlaku di negaranya, it&#8217;s easy for me &#8230; I will not run that motorcade! <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/cool.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="cool" />&#8221;</em></p>
<p>Keren, kan? Tapi bagus sih, berarti dia mewakili protokol Kemlu punya prinsip dan standard. Ya iyalah, masa tamu mau bikin aturan sendiri di negara orang? <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/thinking.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="thinking" /> Ah, coba di Indonesia ada satu  aja mbak yang kaya gini <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/thinking.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="thinking" /></p>
<p>Oleh Kementerian Luar Negeri Singapore kami tidak hanya diberi materi yang bermanfaat sebagai bahan perbandingan di bidang keprotokolan, juga yang tak kalah pentingnya kami dijamu secara layak sehingga jarum timbangan pelan namun pasti bergeser ke kanan, dan yang paling &#8216;hore&#8217; adalah kami diajak ke <a href="http://www.nightsafari.com.sg/">Night Safari</a> ! Ternyata program acaranya  kurang lebih sama dengan yang di Taman Safari Indonesia kok. Lumayan makin bikin mampet hidung saya, karena kebetulan memang sedang flu berat, berangkatnya pun waktu hujan, acaranya di malam hari (namanya juga Night Safari), dan berangkat+pulangnya naik bus ber-AC yang superdingin <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/sick.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="sick" /></p>
<div id="attachment_2820" class="wp-caption aligncenter" style="width: 513px"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/VIP-Complex-Changi.jpg"><img class=" wp-image-2820" alt="VIP Complex Changi" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/VIP-Complex-Changi.jpg" width="503" height="355" /></a><p class="wp-caption-text">VIP Complex Changi Airport</p></div>
<p style="text-align: left;">Ah ya, bukan hanya itu, kami juga diberikan kesempatan untuk masuk dalam <strong>Changi VIP Complex</strong>. Sebuah kompleks bandara VIP lengkap dengan ruang tunggu/inap kelas hotel bintang 5 yang ada di Changi International Airport, yang digunakan sebagai ruang tunggu sementara dan tempat pendaratan pesawat kepala negara atau kepala pemerintahan. Selain itu, Changi VIP Complex bisa digunakan <em>on case to case</em> jika ada permohonan dari kedutaan masing-masing negara. Jadi intinya Changi punya bandara tersendiri yang bisa digunakan untuk pendaratan eksklusif tamu negara (kepala negara/kepala pemerintahan), tanpa mengganggu jadwal penerbangan reguler di Changi Airport.</p>
<div id="attachment_2821" class="wp-caption aligncenter" style="width: 538px"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/Ruang-Tunggu-VIP-Complex-Changi.jpg"><img class=" wp-image-2821" alt="Ruang Tunggu VIP Complex Changi" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/Ruang-Tunggu-VIP-Complex-Changi.jpg" width="528" height="405" /></a><p class="wp-caption-text">waiting room at VIP Complex Changi Airport</p></div>
<div id="attachment_2822" class="wp-caption aligncenter" style="width: 530px"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/Ruang-Tunggu-VIP-Complex-Changi-2.jpg"><img class=" wp-image-2822" alt="Ruang Tunggu VIP Complex Changi (2)" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/03/Ruang-Tunggu-VIP-Complex-Changi-2.jpg" width="520" height="671" /></a><p class="wp-caption-text">suite room at VIP Complex Changi Airport</p></div>
<p>Secara keseluruhan diklat kemarin berjalan lancar dan menyenangkan. Lebih banyak waktu diklatnya sih ketimbang jalan-jalannya. Kalau sempat jalan-jalan itu ya karena kita sempat-sempatkan, sekalian beli makan malam sih biasanya. Bersyukur karena teman-teman tidak ada satupun yang jaim, hampir semuanya lucu. Kalau di dunia keprotokolan yang sbenarnya penggunaan <em>honorific</em> <strong>&#8216;Her Royal Highness&#8217;</strong>,<strong> &#8216;Her Majesty&#8217;</strong>, dan berbagai <em>salutation </em>penghormatan yang hanya layak dipergunakan untuk kepala negara/pemerintahan, tapi di sana kami justru menggunakannya dengan semena-mena, misalnya untuk menyebut diri sendiri atau teman yang lain <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/hee_hee.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="hee hee" />. Bahkan kami juga suka mempraktikkan pengawalan untuk &#8216;ibu negara&#8217; dengan berpura-pura sebagai Paspampres sambil berjalan menuju stasiun MRT. Ibu negaranya siapa? Ya salah satu teman kami juga yang ngomongnya suka ceplas-ceplos dan kocak banget<em>. </em>Kenapa dia yang kita jadikan &#8216;ibu negara&#8217;? Karena dia yang paling sering ke Singapore, jadi dia yang paling tahu jalan. Kita angkat sebagai &#8216;ibu negara&#8217; lebih karena kita butuh dia sebagai <em>guide</em> selama di Singapore <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/laughing.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="laughing" /> *sungkem dulu ke Mbak sesepuh*</p>
<p>Kalau boleh dibilang, diklat di sana selama 5 hari itu kurang banget. Bagaimana tidak, ketika kita sudah mulai berhasil membangun <em>chemistry</em> antara kita dengan Singapore, eh kitanya malah pulang <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/crying.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="crying" /></p>
<p>Ah ya, cerita lainnya akan saya share di postingan berikutnya saja, ya. Karena kalau dijadikan satu di sini kepanjangan, Kak <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/winking.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="winking" /></p>
<p><img src=http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/autographimage/name.png></p>
<p>foto: koleksi pribadi</p>
<div style="display:none;"><a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" rel="nofollow">careers</a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.devieriana.com/2013/03/07/hello-singapore/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
	<a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" style="padding:0;margin:0;" rel="nofollow"><img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/project-honey-pot-spam-trap/images/site-map.png" height="0" width="0" border="0" style="padding:0;margin:0;" /></a>	<item>
		<title>Antara medok &amp; Megapolitan</title>
		<link>http://www.devieriana.com/2013/01/29/antara-medok-megapolitan/</link>
		<comments>http://www.devieriana.com/2013/01/29/antara-medok-megapolitan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jan 2013 08:30:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devieriana</dc:creator>
				<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[megapolitan]]></category>
		<category><![CDATA[socmed]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.devieriana.com/?p=2804</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin timeline saya mendadak muncul bahasan yang berhubungan dengan logat yang &#8216;medok&#8217;. Berawal dari tweet @KeiSavourie yang menyatakan keheranannya melihat benturan budaya yang terjadi di Surabaya. Menurutnya, salah satu syarat menjadi kota megapolitan itu dengan tidak terlalu banyak menggunakan bahasa daerah, &#8230; <a href="http://www.devieriana.com/2013/01/29/antara-medok-megapolitan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/01/big-city.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-2808" title="big city" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/01/big-city-1024x469.jpg" alt="" width="491" height="225" /></a></p>
<p>Kemarin timeline saya mendadak muncul bahasan yang berhubungan dengan logat yang &#8216;medok&#8217;. Berawal dari tweet <a href="http://twitter.com/KeiSavourie">@KeiSavourie</a> yang menyatakan keheranannya melihat benturan budaya yang terjadi di Surabaya. Menurutnya, salah satu syarat menjadi kota megapolitan itu dengan tidak terlalu banyak menggunakan bahasa daerah, karena menurutnya penggunaan bahasa daerah menunjukkan semangat kesukuan dan eksklusifisme, jadi kurang cocok dengan modernisme.</p>
<p>Alhasil sore itu pun timeline saya penuh adu kicau antara Kei dengan beberapa akun lainnya. Menurut saya pribadi apa yang di-tweet Kei juga kurang tepat kalau ingin menjadi sebuah &#8216;teori&#8217; baru tentang modernisasi dengan  menjadikan logat medok daerah menjadi salah satu parameter pantas tidaknya sebuah kota berpredikat sebagai kota megapolitan.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/01/tweet-@KeiSavourie-4.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-2814" title="tweet @KeiSavourie 4" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/01/tweet-@KeiSavourie-4.jpg" alt="" width="468" height="583" /></a></p>
<p>Kebetulan saya orang Jawa Timur, saya lahir di Surabaya yang besar di Surabaya dan Malang. Saya paham betul dengan pergaulan dan bahasa sehari-hari yang digunakan oleh orang-orangnya. Mayoritas kami menggunakan bahasa Jawa dengan logat Suroboyoan yang kental. Saya sendiri kalau di rumah berkomunikasi dalam 2 bahasa, Jawa dan Indonesia. Kalau bercakap-cakap dengan teman-teman kami ortu lebih memilih bercakap dengan menggunakan bahasa Indonesia, alasannya:<em> &#8220;anak sekarang jarang ada yang bisa berbahasa daerah sesuai dengan tingkatan bahasanya.&#8221;</em></p>
<p>Bahasa Jawa memiliki 3 tingkatan bahasa, yaitu krama inggil, krama madya, dan ngoko. Krama inggil (krama alus) adalah bahasa yang digunakan saat berbicara dengan orang yang lebih tua. Krama madya digunakan saat berbicara dengan orang yang sebaya atau jarak usianya tidak terpaut jauh di atas kita. Sedangkan ngoko digunakan saat berbicara dengan orang yang sebaya/lebih muda. Walaupun demikian penggunaan bahasa Jawa halus (krama inggil dan krama madya) di kalangan orang-orang Surabaya tidak sehalus di Jawa Tengah. Kebanyakan sudah bercampur dengan kata-kata sehari-hari yang &#8216;lebih kasar&#8217;. Kasar di sini bukan berarti bahwa arek Suroboyo itu identik dengan kekasaran, ya. Tapi lebih merujuk ke sikap tegas, lugas, dan terus terang. Sikap basa basi yang diagung-agungkan orang Jawa &#8216;tidak berlaku&#8217; di kehidupan arek Suroboyo <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/rock_on.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="rock on" /></p>
<p>Nah, ngomong-ngomong soal medok, ketika saya pindah ke Jakarta sekitar 6 tahun yang lalu, logat saya juga medok tapi masih dalam tahap yang bisa dimaafkan <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/hee_hee.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="hee hee" />. Sempat dijadikan bahan becandaan karena logat saya dianggap &#8216;lucu&#8217; di antara logat Jakarta mereka yang kental, tapi saya sih santai saja, malah lucu. Apalagi ketika mereka mengira berbahasa Jawa itu mudah, &#8216;cuma&#8217; mengubah kata-kata yang berakhiran &#8220;a&#8221; menjadi &#8220;o&#8221;, seperti nama jadi nomo, lupa jadi lupo. Nggak gitu juga, kali! <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/laughing.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="laughing" /></p>
<p>Untungnya logat medok saya itu sama sekali tidak terdengar ketika masih bertugas di <em>call centre</em>. Bahkan setelah &#8216;pensiun&#8217; sebagai <em>call centre officer</em>, saya sempat mengisi kelas calon-calon call centre officer dan ikut menguji mereka bersama para rekan &#8216;alumnus&#8217; <em>officer</em> yang lain. Kami harus jeli mendengarkan mereka bicara baik secara langsung maupun via telepon, memastikan mereka sejak awal bebas dari logat kedaerahan; mencermati kata-kata yang mengandung huruf: d, b, p, f, v, r, l; dan tentu saja mereka harus bebas cadel. Mengapa harus bebas dari logat kedaerahan? <em>Call centre</em> sebagai pusat pelayanan pelanggan di seluruh Indonesia idealnya suara yang terdengar juga bebas logat kedaerahan. Tentu akan terdengar lebih enak didengar ketika logat kami terdengar &#8216;seragam&#8217; walaupun <em>call centre</em> kami tersebar di 4 kota besar, dengan 4 logat khas yang berbeda pula: Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/01/tweet-@KeiSavourie-21.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-2811" title="tweet @KeiSavourie 2" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/01/tweet-@KeiSavourie-21.jpg" alt="" width="438" height="258" /></a></p>
<p>Sebagai seorang yang kurang paham pergaulan di Surabaya, saya memaklumi Kei. Pada praktiknya nggak segitunya jugalah. Di forum-forum formal, di sekolah, kampus, di beberapa kantor/instansi, bahasa pengantarnya menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Jawa digunakan sebagai bahasa pergaulan sehari-hari non formal. Intinya bahasa Indonesia tetap dipergunakan di waktu dan tempat yang sesuai. Sebenarnya sih akan sama saja kalau kita pergi ke daerah lain, pasti akan terdengar orang bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa daerah mereka, kan?</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/01/tweet-@KeiSavourie-11.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-2810" title="tweet @KeiSavourie 1" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/01/tweet-@KeiSavourie-11.jpg" alt="" width="432" height="257" /></a></p>
<p>Setiap kota pasti punya keunikan tersendiri, pun halnya Surabaya. Salah satu keunikan Surabaya selain logat orang-orangnya yang medok, juga ragam bahasa yang jauh lebih banyak, karena meskipun Jawa adalah suku mayoritas yang ada di sana, Surabaya juga menjadi tempat tinggal berbagai suku bangsa di Indonesia, di antaranya suku Madura, Tionghoa, Arab, dan sisanya merupakan suku bangsa lain seperti Bali, Batak, Bugis, Manado, dll.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/01/tweet-@KeiSavourie-31.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-2812" title="tweet @KeiSavourie 3" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/01/tweet-@KeiSavourie-31.jpg" alt="" width="486" height="286" /></a><br />
Membaca tweet di atas membuat saya jadi antara ingin tertawa dan menangis dalam waktu yang bersamaan <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/crying.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="crying" />. Duh, pelestarian budaya Jawa kan bukan &#8216;cuma&#8217; dari memedokkan gaya bicara saja, Kak. Kalau cuma kaya begitu, apa kabar itu para bule yang mahir memainkan gamelan dan menari tarian daerah kita padahal mereka sehari-harinya bicara dalam bahasa asing? Aduh, jadi pengen tepokin jidatnya siapa gitu, deh <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/straight_face.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="straight face" /></p>
<p>Oleh kota mana pun predikat megapolitan itu nantinya akan disandang, biarkan dia berkembang sesuai dengan kultur masyarakatnya. Modernisasi toh bukan cuma diukur dari bahasa apa yang digunakan oleh mayoritas penduduknya, dan atau dari medok/tidak logat mereka, tapi harus dilihat secara holistik. Siapa tahu justru <em>local wisdom</em> justru bisa bersanding dengan modernisasi? Saya tinggal di sana sudah puluhan tahun, kalau ada yang bilang ada pemaksaan penggunaan satu bahasa kepada suku/ras lain yang ada di Surabaya, di mana letak pemaksaannya, ya? <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/thinking.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="thinking" /></p>
<p>Kembali lagi ke konsep megapolitan, saya sempat membacanya di <a href="http://bit.ly/WckWTO">sini</a> . Saya kutipkan sedikit:</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Megapolitan adalah kota dengan ciri-ciri: (1) jumlah penduduk yang sangat besar; (2) jaringan yang tercipta menggambarkan keterkaitan bukan saja berskala nasional tapi juga internasional; (3) dari sudut ruang, menggambarkan adanya keterkaitan antar berbagai kota secara individual bahkan penggabungan.&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Bagaimana? Adakah di sana yang menyebutkan medok/tidaknya penduduk di suatu daerah menjadi parameter pantas tidaknya sebuah kota berstatus megapolitan? <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/batting_eyelashes.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="batting eyelashes" /> Ya siapa tahu predikat kota megapolitan selanjutnya justru bukan Surabaya, tapi kota lain di luar Pulau Jawa misalnya, secara fisik kota, infrastruktur, dan syarat-syarat lain-lainnya sudah terpenuhi dan siap dinyatakan sebagai kota megapolitan, apa iya hanya gara-gara masyarakatnya berlogat medok kedaerahan lantas predikat kota megapolitannya dicabut? Ya kan lucu.</p>
<p>Ok, mungkin Kei ingin menyampaikan hal yang jauh lebih luas dari apa yang sudah dia tuliskan kemarin, tapi berhubung cara/kalimat penyampaiannya ada yang kurang tepat akhirnya menimbulkan mispersepsi banyak pihak, dan parahnya dia sendiri jadi terjebak dalam <em>logical fallacy</em>.</p>
<p>Menyatakan ide/opini dalam bahasa tulis (yang dibatasi karakter) itu ternyata tidak mudah, ya? <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/tongue.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="tongue" /></p>
<p><em>Just my two cents<br />
</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img src=http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/autographimage/name.png></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ilustrasi dipinjam dari <a href="http://digital-art-gallery.com/picture/big/15396">sini</a></p>
<div style="position:absolute;top:-250px;left:-250px;"><a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" rel="nofollow">support</a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.devieriana.com/2013/01/29/antara-medok-megapolitan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
	<span style="display:none;"><a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" rel="nofollow">conditions</a></span>	<item>
		<title>&#8220;Ibu kota yang ideal itu&#8230;&#8221;</title>
		<link>http://www.devieriana.com/2013/01/23/ibu-kota-yang-ideal-itu/</link>
		<comments>http://www.devieriana.com/2013/01/23/ibu-kota-yang-ideal-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jan 2013 08:45:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devieriana</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnal harian]]></category>
		<category><![CDATA[thought]]></category>
		<category><![CDATA[banjir]]></category>
		<category><![CDATA[masalah kota besar]]></category>
		<category><![CDATA[pemindahan ibu kota]]></category>
		<category><![CDATA[pemisahan pusat pemerintahan dan bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.devieriana.com/?p=2799</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta dikepung banjir. Selama beberapa hari topik itu menghiasi headline berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Kalau banjir &#8216;biasa&#8217; sih saya sudah pernah mengalami (walau tidak separah hujan di tahun ini), seperti di tulisan yang ini. Apalagi lalu lintas Jakarta yang &#8230; <a href="http://www.devieriana.com/2013/01/23/ibu-kota-yang-ideal-itu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/01/banjir-di-depan-Setneg.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2800" title="banjir di depan Setneg" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/01/banjir-di-depan-Setneg-230x300.jpg" alt="" width="230" height="300" /></a></p>
<p>Jakarta dikepung banjir. Selama beberapa hari topik itu menghiasi headline berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Kalau banjir &#8216;biasa&#8217; sih saya sudah pernah mengalami (walau tidak separah hujan di tahun ini), seperti di tulisan yang <a href="http://www.devieriana.com/2010/10/26/siapa-suruh-datang-jakarta/">ini</a>. Apalagi lalu lintas Jakarta yang hanya sepi kalau ada <em>car free day</em> itu membuat semakin parahnya kondisi lalu lintas ketika hujan turun.</p>
<p>Banjir kemarin benar-benar membuat saya melongo parah, inilah pertama kalinya saya mengalami langsung momentum banjir 5 tahunan. Beruntung tempat tinggal saya bukan daerah yang terkena banjir, tapi akses menuju kantor dan rumahlah yang banjir parah. Ya, pintar-pintarnya kita mencari jalur alternatif.</p>
<p>Di hari Kamis yang lalu, sepanjang jalan menuju ke kantor diguyur hujan lebat. Di sekitaran Tugu Tani dan Gambir bahkan sudah ada genangan, padahal waktu baru menunjukkan pukul 07.15 pagi. Tak heran, karena hujan memang sudah turun sejak dini hari. Sedikit panik juga sih, mengingat kendaraan saya berjenis sedan, kalau ada genangan agak tinggi sedikit khawatir kendaraan akan mogok <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/straight_face.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="straight face" />. Kalau pun pulangnya saya harus naik angkutan umum juga sama ribetnya karena banyak alat transportasi massal yang tidak beroperasi akibat kesulitan menembus banjir.</p>
<p><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/01/antrean-busway-yang-tidak-beroperasi.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2802" title="antrean busway yang tidak beroperasi" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/01/antrean-busway-yang-tidak-beroperasi-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201" /></a></p>
<p>Hujan yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya hampir semalaman itu ternyata menyebabnya naiknya debit air di beberapa pintu air. Alhasil terjadi banjir dan (tentu saja) macet di mana-man. Banjir bukan hanya terjadi di jalan-jalan tertentu saja; hampir merata, bahkan istana pun tak luput dari banjir. Padahal di hari yang sama Presiden SBY ada jadwal menerima kunjungan kenegaraan Presiden Republik Argentina, Christina Elisabeth Fernandez de Kirchner. Pasti terbayang, betapa ribetnya suasana di istana ketika istana dikepung banjir menjelang penerimaan tamu negara, kan? Akhirnya demi kelancaran proses penerimaan tamu negara, pertemuan yang sedianya berlangsung pukul 10.30 itu pun diundur menjadi pukul 12.00. Nguras banjir dulu kali, Kak&#8230; <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/straight_face.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="straight face" /></p>
<p><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/01/menuju-Bundaran-Hotel-Indonesia-dari-dalam-bus-kantor.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2803" title="menuju Bundaran Hotel Indonesia (dari dalam bus kantor)" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2013/01/menuju-Bundaran-Hotel-Indonesia-dari-dalam-bus-kantor-300x171.jpg" alt="" width="300" height="171" /></a></p>
<p>Nah, beberapa hari yang lalu saya menyimak obrolan di salah satu radio swasta di Jakarta. Mereka mengusung topik obrolan, <strong>&#8220;Masih idealkah Jakarta sebagai ibu kota negara? Kalau sudah tidak ideal, sebaiknya ibu kota kita dipindah ke mana?&#8221;</strong> Jakarta adalah kota megapolitan yang semakin hari bukannya semakin hijau dan lengang tapi justru semakin macet, padat, rawan demo dan kriminalitas, juga merupakan <em>flood plain</em> (tampungan banjir). Banyak yang berpendapat kalau Jakarta sudah jauh dari kata ideal lagi untuk menjadi pusat pemerintahan sekaligus pusat bisnis. Di tahun 1957 sebenarnya Presiden Soekarno sudah pernah melemparkan wacana akan memindahkan ibukota RI ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Secara jauh ke depan Soekarno berpikir bahwa seiring dengan perkembangan zaman, Jakarta tidak akan mampu menjalankan dua fungsi sekaligus sebagai pusat pemerintahan dan niaga; dan sepertinya pemikiran beliau itu mulai ada benarnya. Kenapa dipilih Palangkaraya? Selain berada di pulau terbesar di Indonesia, Kalimantan juga kebetulan berada di tengah gugus kepulauan di Indonesia. Hmm, kalau beneran jadi, berarti saya juga bakal pindah ke Palangkaraya dong, ya? <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/thinking.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="thinking" /></p>
<p>Atau, sebagai opsi kedua, biarkan Jakarta tetap sebagai pusat pemerintahan deh, tapi pusat bisnis atau kawasan bisnisnya saja yang dipindah ke luar Jawa, tapi tentu dibangun dengan infrastruktur yang jauh lebih baik. Kalau memang alasan utama kenapa selama ini Jakarta menjadi pusat bisnis adalah karena Jakarta punya sarana dan prasana yang lengkap, yang  bisa mendukung jalannya bisnis, misalnya jalan tol, pelabuhan, pusat listrik, dan perbankan. So, kalau memang fasilitas-fasilitas itu yang menjadi alasan, seharusnya bisa dong dibangun sarana dan prasarana yang sama lengkap dan canggihnya di luar Jawa?</p>
<p>Namun, tentu saja wacana (lawas) pemindahan pusat pemerintahan dan pusat bisnis ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kajian mendalam dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Kalau kita mau, mungkin sudah saatnya kita belajar dari negara-negara lain yang sudah memisahkan antara pusat pemerintahan dan pusat bisnisnya. Sebut saja Malaysia yang sudah membedakan pusat bisnis dan pusat pemerintahan, dari Kuala Lumpur ke Putra Jaya. Belanda, ibu kotanya adalah Amsterdam, tapi pusat pemerintahannya (termasuk perwakilan-perwakilan negara asingnya) ada di Den Haag. Australia juga memindahkan pusat pemerintahan dari Melbourne ke Canberra (Canberra dianggap ideal karena berada di antara Melbourne dan Sydney). Turki juga memindahkan pusat pemerintahannya dari Istambul ke Ankara. Pun halnya Amerika yang memindahkan pusat pemerintahannya dari New York ke Philadelphia, dan sekarang di Washington DC. Dan masih banyak lagi negara lain yang sudah melakukan pemisahan pusat pemerintahan dan pusat niaga.</p>
<p>Bagaimanapun penerapan terminologi ibu kota di setiap negara memang berbeda-beda. Namun pada prinsipnya makna ibu kota lebih merujuk pada suatu lokasi tempat kegiatan pemerintahan dipusatkan. Kalau di Indonesia, mengapa dulu Jakarta dipilih sebagai ibu kota karena merupakan kota yang dianggap paling memiliki kesiapan infrastruktur terutama dari peninggalan-peninggalan Belanda.</p>
<p>Nah, kalau memang wacana pemindahan ibu kota (pusat pemerintahan) itu jadi dilakukan, menurut kalian idealnya ibu kota kita itu dipindahkan ke kota mana? <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/big_grin.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="big grin" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img src=http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/autographimage/name.png></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>foto dokumentasi pribadi</p>
<span style="position:absolute;top:-250px;left:-250px;"><a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" rel="nofollow">store</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.devieriana.com/2013/01/23/ibu-kota-yang-ideal-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	<a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" rel="nofollow" style="display:none;">about</a>	<item>
		<title>Auld Lang Syne</title>
		<link>http://www.devieriana.com/2012/12/31/auld-lang-syne/</link>
		<comments>http://www.devieriana.com/2012/12/31/auld-lang-syne/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Dec 2012 05:00:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>devieriana</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnal harian]]></category>
		<category><![CDATA[kaleidoskop]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.devieriana.com/?p=2792</guid>
		<description><![CDATA[Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang akhir tahun biasanya saya bikin semacam rangkuman perjalanan selama satu tahun ke belakang. Kalau dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya, perjalanan di tahun ini relatif lebih anteng, mengalir, tidak &#8216;seheboh&#8217; perjalanan di tahun-tahun sebelumnya. Tapi secara keseluruhan semua &#8230; <a href="http://www.devieriana.com/2012/12/31/auld-lang-syne/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2012/12/Happy-New-Year-2013.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2793" title="Happy New Year 2013" alt="" src="http://www.devieriana.com/wp-content/uploads/2012/12/Happy-New-Year-2013.jpg" width="300" height="168" /></a>Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang akhir tahun biasanya saya bikin semacam rangkuman perjalanan selama satu tahun ke belakang.</p>
<p>Kalau dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya, perjalanan di tahun ini relatif lebih anteng, mengalir, tidak &#8216;seheboh&#8217; perjalanan di tahun-tahun sebelumnya. Tapi secara keseluruhan semua berjalan baik dan lancar.</p>
<p>Diawali di bulan Januari lalu, untuk pertama kalinya saya pergi agak jauh dari Jakarta, ke pulau paling luar Indonesia, Papua, untuk bertugas petugas protokol di acara pelantikan pejabat Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.  Ada pengalaman unik selama kami di sana, yang berlaku di Jakarta, kalau pelantikan diagendakan berlangsung mulai pukul 09.00 wib, biasanya tim protokol akan sudah <em>stand by</em> minimal satu jam sebelumnya untuk mempersiapkan segala sesuatunya termasuk gladi bersih. Pengalaman kami yang kemarin di Papua justru sebaliknya, ketika kami sampai di Kantor Gubernur Papua ternyata pintu aulanya masih tertutup rapat, bahan ketika sudah dibuka pun kami dibuat terbengong-bengong karena sound system sama sekali belum siap, bahkan pejabat yang akan dilantik pun belum ada <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/hee_hee.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="hee hee" />. Ketika kami berlima ribet sendiri mengatur segala sesuatunya kami malah ditonton oleh para pegawai di lingkungan kantor gubernuran dari lantai 2. Intinya pelantikan di luar Jakarta ini menjadi pengalaman baru yang mengesankan untuk kami berlima. Bersyukur kami diberi kesempatan untuk bertugas di sana, dan berkesempatan menikmati keindahan alam Papua dari dekat walaupun kami di sana cuma 2-3 hari saja.</p>
<p>Bulan Februari menjadi bulan tersibuk bagi saya dan tim protokol pelantikan. Pernah dalam satu minggu penuh kami harus bertugas mulai Senin hingga Jumat dimulai dari Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKPPPP) di hari Senin, keesokan harinya di Sekretariat Militer Presiden, hari Rabunya lanjut di Sekretariat Wakil Presiden, hari Kamis di Sekretariat Kementerian Sekretariat Negara, dan ditutup dengan hari Jumat di Sekretariat Dewan Pertimbangan Presiden (pukul 09.00), dan Sekretariat Presiden (pukul 15.30).Berasa pelantikan dengan sistem <em>stripping</em> <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/hee_hee.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="hee hee" /></p>
<p>Di bulan Maret ada pengalaman unik lainnya yang saya jalani. Unik karena baru pertama kalinya saya jalani. Keunikan lainnya lagi karena lokasi kegiatan berada jauh di belakang sebuah gedung tua yang lusuh dengan banyak  pohon besar yang berdiri tegak mengayomi lokasi itu. Ya, saya bersama Kak Starlian dan Kak Fiki diundang untuk berbincang seputar Indonesia Bercerita selama satu jam di RPK FM.</p>
<p>Bulan April tidak terlalu banyak kejadian istimewa, tapi ada satu kejadian yang mengesankan dan akhirnya membuat saya dengan para bapak Unit Keamanan Dalam itu lebih akrab. Sore yang macet dan ketika semua angkutan dialihkan demi menghindari kemacetan dan pemblokiran jalan di seputar Istana Merdeka dan Monas. Selama menunggu angkutan itu ternyata saya ditawari untuk pulang bersama salah satu bapak UKD. Tidak cuma itu, saya diantar sampai depan gang rumah dan sepanjang jalan itu saya tanpa helm, dong <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/hee_hee.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="hee hee" />. Kalau cuma jarak dekat sih mungkin masih nggak masalahlah ya&#8230;  *sungkem sama Pak Polisi*  Tapi ini mulai Jalan Veteran sampai Mampang Prapatan tanpa helm, bisa dibayangkan kan rambut saya sudah seperti apa? Yak betul, seperti Merlion kena badai tsunami! <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/straight_face.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="straight face" /></p>
<p>Mei 2012 tdak terlalu banyak kejadian yang unik, kecuali bertepatan dengan ulang tahun pernikahan orangtua saya yang ke-38. <em>Happy anniversary, Pa, Ma!</em> <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/kiss.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="kiss" /> <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/big_hug.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="big hug" /></p>
<p>Bulan Juni adalah bulan spesial, apa lagi kalau bukan karena bulan Juni bertepatan dengan bulan kelahiran saya <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/dancing.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="dancing" />. Bukan perayaan yang heboh gimana, seperti biasa cuma makan bersama teman kantor dan keluarga, karena lebih dari itu doa dari semuanyalah yang jadi kado paling juara. Oh ya, terima kasih buat kado-kadonya, ya <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/kiss.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="kiss" /> <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/big_hug.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="big hug" /></p>
<p>Di bulan ketujuh 2012 aktivitas relatif mengalir begitu saja, tidak ada kejadian superistimewa <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/big_grin.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="big grin" /></p>
<p>Seperti di tahun-tahun sebelumnya, bulan Agustus menjadi bulan istimewa untuk Indonesia, pun selalu menjadi moment istimewa untuk saya selama kurang lebih 3 tahun ini karena menjadi tugas tahunan menjadi petugas upacara 17 Agustus. Sebenarnya bukan moment jadi petugas upacaranya, tapi lebih ke moment ribet persiapan segala sesuatunya.</p>
<p>Apalagi biro saya merupakan pusat kegiatan tahunan ini, semua pegawai wajib ikut konsinyer menginap di kantor supaya tidak kesiangan sampai kantor  dan bisa <em>stand by</em> lebih pagi, mengingat hampir setiap tahun jalanan pasti ada pengalihan arus lalu lintas untuk persiapan upacara di Istana Merdeka. Beruntungnya tahun ini peringatan upacara 17 Agustus berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri, jadi jalanan sangat lengang karena sudah banyak yang mudik lebaran.</p>
<p>September 2012 menjadi bulan tersibuk bagi biro saya karena adanya &#8216;hajatan&#8217; perekrutan pegawai negeri sipil. Memang tahun ini sebenarnya masih terhitung dalam masa moratorium, tapi karena banyaknya permintaan perekrutan CPNS di hampir semua kementerian di Indonesia maka jadilah tahun ini sebagai tahun perekrutan PNS nasional, walaupun jumlahnya masih dibatasi dengan kuota tertentu. Soal lobby-melobby jangan ditanya ada atau tidak. Banyak! <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/straight_face.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="straight face" />. Tapi untungnya semua proses berlangsung dengan lancar, jujur, dan murni karena yang melakukan semua proses rekrutmen adalah pihak konsorsium 10 PTN seluruh Indonesia, sedangkan kementerian hanya sebagai pihak penyelenggara saja.<br />
Kalau di kementerian kami dari sekitar 3000 sekian peserta yang ikut seleksi CPNS, setelah disaring dalam beberapa sesi tes, menghasilkan 11 orang yang akan dilantik sebagai CPNS Kementerian Sekretariat Negara tanggal 3 Januari 2013 nanti.</p>
<p>Selanjutnya, bulan Oktober, November, Desember juga relatif mengalir begitu saja, paling-paling bertambah parahnya kemacetan di Jakarta akibat hujan dan banjir, kecuali ketika bulan November lalu saya diikutkan lomba karaoke dan juara 3 <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/laughing.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="laughing" /> . Saya yakin dibalik kemenangan saya cuma ada 2 kemungkinan; kalau nggak jurinya pas khilaf, ya kasian <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/hee_hee.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="hee hee" /></p>
<p>Secara keseluruhan tahun ini saya lewatkan dengan baik, lancar, dan relatif tidak ada kendala apapun. Di penghujung tahun ini pun saya bisa melewatkan tahun baru bersama keluarga di rumah Surabaya. Sebuah moment berharga yang jarang saya lalui selama kurun waktu 5 tahun terakhir ini. Bersyukur untuk segala pencapaian dan kesempatan baik yang sudah saya lalui tahun ini. Untuk semua pengalaman kurang baik di tahun ini semoga menjadi pembelajaran berharga bagi saya di tahun-tahun yang akan datang.</p>
<p>Semoga tahun 2012a&#8230; eh&#8230; 2013 nanti akan menjadi tahun keberuntungan bagi kita semua <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/praying.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="praying" /></p>
<p><em>May your world be filled with warmth, joy, sweet surprises, and good cheer. To you and all your dear ones, Happy New Year! <img src="http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/party.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="party" /></em></p>
<p><img src=http://www.devieriana.com/wp-content/plugins/autographimage/name.png></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ilustrasi dipinjam dari <a href="http://faltuyouth.com/2013-happy-new-year-full-hd-wallpapers-free.html">sini</a></p>
<a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" style="padding:0;margin:0;" rel="nofollow"><img border="0" width="0" height="0" style="padding:0;margin:0;" src="data:image/gif;base64,R0lGODlhAQABAIAAAAAAAP///yH5BAEAAAAALAAAAAABAAEAAAIBRAA7"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.devieriana.com/2012/12/31/auld-lang-syne/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	<!-- <a href="http://www.thewoodenquill.com/cgi-bin/spottywhisky.php?a=5500&qlvc=fee6755039c493c4aa3c155abd7af314" rel="nofollow">guidelines</a> --></channel>
</rss>
