Membawa Alea Ke Kantor Itu…

Jadi ceritanya hari Selasa minggu yang lalu sampai dengan hari Senin kemarin, Eyangnya Alea (Mama saya) pulang ke Surabaya karena Eyang Kakungnya Alea (Papa saya) lagi kurang sehat. Alhasil, karena selama ini yang menjaga Alea sehari-hari itu Mama saya, jadilah selama 3 hari kemarin Alea ‘ngantor’ bareng saya.

Ini pengalaman kedua, mengajak Alea ngantor seharian. Sedikit ribet memang, tapi sejauh ini saya masih menikmatinya, walaupun ada rasa kasihan karena jadwal anak yang biasanya tertib jadi kurang tertib karena ada part-part yang terpaksa harus di-skip. Tapi ya itulah yang namanya hidup, tho? Selalu saja ada adjustment yang harus kita lakukan, termasuk dengan mengajak anak ke tempat kerja.

Untuk sementara waktu lupakanlah soal busana yang modis, hijab yang tertata rapi seharian. Memilih baju pun yang penting breast feeding friendly, karena Alea masih ASI. Risiko mengajak bayi/batita ke tempat kerja itu yang pasti barang bawaan jadi jauh lebih banyak. Barang bawaan Alea saja bisa satu tas sendiri. Isinya baju ganti, pampers, perlengkapan mandi, perlengkapan setelah mandi, jaket, topi kupluk, boneka, snack, dan jeruk. Kebetulan Alea sudah bisa makan segala, sehingga saya tidak perlu membawa makanan khusus bayi, Alea bisa berbagi makanan dengan saya, yang penting tidak spicy/pedas karena lidahnya masih sensitif.

perlengkapan Alea yang harus dibawa selama ikut ke Mama ke kantor

Untunglah lingkungan kerja memungkinkan saya dan teman lainnya yang kebetulan juga tidak punya pengasuh, bisa membawa anak ke kantor. Jadi membawa anak ke kantor itu sudah jadi pemandangan yang biasa. Membawa anak ke kantor sudah jadi risiko ibu bekerja ketika para support village atau yang biasa menjaga anak sedang berhalangan mengasuh. Ndilalah, dalam minggu kemarin atasan sedang banyak tugas/dinas di luar kantor, sementara pekerjaan juga sedang tidak terlalu hectic; hanya pekerjaan yang sifatnya rutin saja.

Membawa bayi/batita yang lagi senang-senangnya jalan juga tidak mudah. Alea adalah anak yang tidak betah diam, ada saja yang ingin disentuh, dipegang, diutak-atik, dan ditarik ke sana-sini. Jadi sambil bekerja, saya juga harus tahu di mana ‘titik koordinat’ Alea saat itu dan sedang apa, karena dia suka jalan-jalan sendiri ke kubikel lainnya dan lalu asyik mainan sendiri di sana, misalnya kertas, printer, atau apapun yang menarik perhatiannya. Disetelkan film kartun di youtube pun kadang suka tidak betah. Jadi untuk amannya, kadang suka saya alihkan perhatiannya dengan cara menggendong dan menyetelkan Big Hero, film favoritnya di youtube, terutama di jam-jam dia seharusnya istirahat. Sejauh ini sih, it works, bahkan sampai ngantuk sendiri.

Untungnya di ruangan ada juga teman yang selalu membawa balitanya ke kantor, jadi Alea punya teman main. Dia seorang anak laki-laki berusia 4 tahun yang sudah bersekolah di TK. Alea jadi lumayan terhibur karena ada teman main, tapi tetap saja harus diawasi, karena teman mainnya pun masih kecil.

Alea dan teman baru
Alea dan teman baru

Ada sisi positif/negatifnya membawa anak ke kantor. Negatifnya, konsentrasi bekerja jadi kurang maksimal karena harus berbagi perhatian ke anak dan pekerjaan. Positifnya, ada bonding yang jauh lebih kuat antara ibu dan anak karena ibu bekerja yang biasanya baru bertemu anak di sore/malam hari sepulang kantor, sekarang mulai anak bangun tidur sampai dengan tidur malam menjadi tugas dan tanggung jawab ibu. Sedikit lebih capek memang, tapi sejauh ini saya merasa fun kok.

Ada perasaan haru ketika malam hari melihat Alea tidur nyenyak setelah seharian ikut saya bekerja. Di usianya yang baru menginjak 15 bulan dia ternyata bisa menyesuaikan diri dengan cepat, pun halnya dengan fleksibilitas. Seolah dia tahu mamanya sedang sibuk, jadi dia tidak pernah rewel, kalau pun menangis sesekali wajarlah, paling kalau ngantuk atau tidak sengajak jatuh/kepentok sesuatu, ya namanya juga masih bayi. Tapi secara keseluruhan dia anak yang lovable.

Hari ini Alea tidak ikut ke kantor lagi seperti 3 hari yang lalu, sekarang dia ada di rumah bersama Eyangnya, dan sudah kembali menjalani aktivitas dan rutinitas seperti biasa.

To my lovely Alea, I love you dearly and always…

Buat para ibu bekerja di luar sana, tetap semangat ya! 🙂

Continue Reading

Different Angle

different angle

Sudah sifat alamiah manusia selalu merasa kurang, entah kurang bahagia, kurang beruntung, kurang kaya, dan berbagai kurang lainnya. Melihat ke arah yang ‘sepertinya’ lebih bagus, padahal kenyataannya belum tentu. Kalau kata orang Jawa, “urip iku mung sawang sinawang”, secara harafiah berarti saling memandang terhadap (hidup) orang lain. Ketika kita memandang kehidupan orang lain yang sepertinya jauh lebih baik, ternyata pada kenyataannya mereka justru melakukan hal yang sama, melihat kehidupan mereka tidak seberuntung kehidupan kita. Vice versa.

Seperti sebuah obrolan dengan seorang sahabat, di sebuah sore di akhir pekan, sambil menunggu jam pulang kantor. Dia baru diterima kerja di tempat yang baru, dan baru dijalani selama beberapa bulan. Tapi dia sudah mengeluh bosan dengan pekerjaannya yang sekarang dengan alasan klise: kurang tantangan, kurang greget, beda dengan tempat kerja sebelumnya.

Dia bercerita, dulu dia adalah staf andalan, sekarang staf ‘biasa’, tidak ‘seistimewa’ di tempat kerjanya yang dulu. Pekerjaannya dulu menuntut ketelitian dan hal-hal yang detail, sekarang kadang sibuk, kadang tidak ada yang harus dikerjakan sama sekali. Sampai suatu ketika dia memutuskan untuk pindah ke tempat kerja yang sekarang dengan berbagai alasan. For your information, tempat kerja yang sekarang jauh berbeda jenis, bentuk, dan core business-nya dengan perusahaan yang lama.

“Jadi sekarang ceritanya kamu nyesel?”, tanya saya.
“Hmmm, gimana ya, Mbak. Abisnya kok kayanya kerjaan yang sekarang itu ternyata cuma gini-gini aja…”

“Maksudnya, kurang ‘susah’, gitu? Kurang ada gregetnya? Kurang cetar? Kurang hype? Hehehe…”
“Ummm, a little bit, jadi kesannya agak ngebosenin gitu, Mbak. Pernah aku curhat sama kakakku kalau kerja di sini itu lama-lama bisa bikin otakku beku, hahaha…”

Saya jadi cengengesan. Dejavu dengan ketika pertama kali bekerja dan menginjakkan kaki di tempat kerja yang sekarang. Sempat mengalami culture shock, karena apa yang saya kerjakan dulu sangat berbeda dengan yang sekarang. Sering tiba-tiba blank, lost focus karena tidak tahu apa yang harus dikerjakan, dan suka mendadak loading lama. Akibatnya jadi salah melulu kalau kerja. Parahnya lagi, itu terjadi hampir setengah semester. Lama banget, kan?

Sempat merasa khawatir dengan diri sendiri, sampai akhirnya curhat kepada seorang teman untuk meminta pencerahan supaya tidak jadi bego berkepanjangan. Jangan sampai saya salah memilih karier yang salah, padahal itu pilihan saya sendiri.

Sampai akhirnya dia bilang sesuatu yang ‘makjleb’, dan membuat saya berpikir.

“Ok, sebenarnya sederhana saja. Coba deh, mulai sekarang kamu berhenti membandingkan, karena bagaimana pun jenis pekerjaanmu yang dulu dan sekarang jauh berbeda. Yang kedua, mulai sekarang coba turunkan sedikit saja egomu. Jangan pernah meremehkan pekerjaan sekecil dan seremeh apapun itu, karena sedikit saja kamu remehkan, dia akan jadi sesuatu yang tidak seremeh yang kamu kira. Dan, lihat pekerjaanmu dari sudut pandang yang berbeda…”

Benar juga, ya. Sejak saat itu saya mulai introspeksi diri. Mungkin saja waktu itu saya sudah merasa sok bisa, dan sok pintar, sehingga tanpa sadar saya tidak mau belajar, dan meremehkan pekerjaan saya, membanding-bandingkan jenis pekerjaan yang dulu dengan yang sekarang, melihat karier orang lain yang sepertinya jauh lebih mengasyikkan ketimbang pekerjaan saya sendiri. Akhirnya yang ada bukan pekerjaan yang selesai dengan sempurna, tapi malah berantakan karena saya tidak fokus dalam bekerja.

Bersyukur, karena akhirnya pelan-pelan sindrom gegar budaya kerja tadi menghilang seiring dengan waktu dan mulai enjoy-nya saya dengan suasana, lingkungan, dan pekerjaan yang saya jalani. Kalau saya ditanya apakah selama bekerja di sini pernah merasakan jenuh. Jujur, pasti pernah. Tapi ternyata yang dibutuhkan adalah ‘trik’ untuk menyiasatinya.

Ketika kita masuk ke dunia kerja, tanpa sadar ada hal dan etika yang kita lupakan. Kita ‘lupa’, bahwa ada aturan main dan pakem-pakem yang telah ditetapkan oleh perusahaan yang harus kita taati dan sepakati sebagai code of conduct. Terkait dengan job description, perusahaan bebas melakukan modifikasi dalam menerapkan sebuah ilmu yang tujuannya justru untuk mempermudah pekerjaan kita.

Hidup dan bekerja itu kalau tidak pintar-pintar menyiasati ya pasti ada saja trigger jenuhnya. Kalau memilih pekerjaan sekadar melihat besaran gaji atau faktor lain yang bisa membuat sebuah pekerjaan itu lebih ‘keren’ secara title atau gaji, mungkin saya akan memilih pekerjaan lainnya. Tapi, lebih dari itu ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan saya dalam memilih karier, dan itu membuat saya bersyukur bekerja di kantor yang sekarang.

Perasaan jenuh itu manusiawi dan bisa datang dari mana saja. Bisa dari dalam diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar. Ketika jenuh tiba-tiba datang, coba bangun sugesti positif terhadap pekerjaan dan apapun yang kita kerjakan. Bersyukur atas segala hal yang kita terima, termasuk pekerjaan, karena di luar sana ada banyak orang yang masih sibuk mencari pekerjaan tapi belum mendapatkannya.

Kalau saya sedang jenuh, saya ‘rekreasi’ saja dengan mengerjakan hal lain yang sementara bisa mengalihkan rasa jenuh, misalnya mendengarkan lagu favorit, membereskan file yang berantakan di meja kerja, atau menulis di blog yang saya yakini bisa jadi terapi untuk jiwa. Psst, sebagian besar tulisan di blog ini hasil produksi di meja kerja lho, kadang saya lakukan di jam kerja, kadang di jam pulang kerja sambil menunggu jemputan. Tapi bukan berarti kalau saya sering posting itu indikator saya sering mengalami kejenuhan lho ya, hahaha… Itu sih karena mumpung sedang ada ide saja, sebelum mood-nya hilang mending idenya diselamatkan dulu dalam bentuk postingan di blog.

Meja kerja adalah dunia kecil kita selama di kantor. Jadi buat senyaman dan se-homy mungkin karena sejak pagi hingga sore hari akan kita habiskan di kantor. Jadi, kalau meja kerja kita saja sudah ‘nggak asik’, bagaimana mau asik dalam bekerja?

Masih jenuh juga? Coba curhat dengan teman, siapa tahu bisa sedikit lega atau malah punya inspirasi, motivasi, dan semangat baru dalam bekerja. Masih jenuh juga? Kenapa tidak ambil cuti atau berlibur ke mana gitu yang bisa membuat kembali fresh dan semangat dalam bekerja.

Sudah melakukan segala cara tapi masih jenuh juga? Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk kembali mengevaluasi diri. Apakah masih memungkinkan untuk bertahan di tempat kerja yang sekarang atau mulai mencari pekerjaan lain yang sesuai dengan jiwa dan passion kita?

Hidup itu kita sendiri yang menentukan akan menjadi bagaimana, pun halnya pekerjaan. Kalau hidup kita mulai terasa kurang asyik, mengapa tidak mencoba me-refresh-nya dengan melihat segala sesuatunya dari sudut yang berbeda demi mendapatkan rasa syukur. Hidup itu cuma sekali, jalani dengan penuh syukur dan bahagia.

Seperti kata Tadashi Hamada di film Big Hero 6,

“Listen up! Use those big brains of yours to think your way around the problem! Look for a new angle!”

Have a good day!

 

 

ilustrasi dari pxleyes.com

Continue Reading

Tentang Forum Tematik Bakohumas Itu

Forum Tematik Bakohumas 2015

Di suatu siang, di sela mengerjakan pekerjaan rutin, berderinglah telepon di meja kerja saya.

“Hai, Mbak Dev… aku dari Biro Humas. Aku mau nanya dong, kira-kira tanggal 5 Maret nanti jadwalnya padat, nggak?”

“Jadwal Bapak?” *sambil melihat ke arah papan jadwal pimpinan*

“No, jadwal kamu…”

“Jadwalku? Kosong, sih… Kenapa, Mbak?”

“Ok, aku mau minta tolong buat jadi MC Forum Tematik Bakohumas, ya. Ini sebenarnya acaranya Kemenkominfo, tapi dia bekerja sama dengan Setneg dan Setkab untuk penyelenggaraannya. Acaranya sendiri nanti di Aula Gedung 3 ya, Mbak…”

“Oh, gitu. Boleh deh… Nanti aku bisa minta run down-nya ya, biar aku pelajari dulu”

“Sip. Untuk detail acara nanti aku email dan fax, ya Mbak”

Tak lama setelah saya menutup telepon, selembar fax masuk; ternyata dari teman yang menelepon barusan. Saya baca sekilas draf susunan acara yang tertera di sana. Tapi sejurus kemudian mata saya berhenti di bagian daftar narasumber. Di situ saya baru sadar, kalau acara yang akan saya pandu nantinya ini ternyata acara yang akan dihadiri bukan hanya oleh pengelola kehumasan di seluruh Indonesia, tapi juga akan dihadiri oleh 4 orang menteri dan Seskab.

Jujur ini agak sedikit di luar perkiraan saya. Tadinya saya cuma berpikir bahwa acara yang akan saya pandu ini ‘sekadar’ acara seminar atau sosialisasi yang akan dinarasumberi oleh pejabat terkait kehumasan, atau seperti acara-acara kantor yang selama ini saya pandu. Kalau sampai 4 menteri ini hadir dalam satu acara, berarti bukan acara yang ‘ala kadarnya’. Baru kali ini saya dipercaya untuk memandu acara antarinstansi seperti ini, dan dengan level acara yang lebih tinggi lagi dari acara-acara yang biasa saya pandu. Bagi saya ini sebuah tambahan pengalaman.

Menurut informasi panitia, hampir 90% pejabat kehumasan pemerintah yang diundang menyatakan confirm hadir dalam acara ini. Bagi panitia ini termasuk rekor karena biasanya yang confirm hadir tidak pernah sebanyak itu. Entahlah, mungkin lokasi acara juga ikut menentukan mood kehadiran peserta 😀

Akhirnya, hari yang dijadwalkan itu tiba. Semua petugas menyiapkan diri sebaik mungkin, termasuk saya. Butuh banyak koordinasi dengan protokol masing-masing menteri/Seskab dan pihak penyelenggara. Ya siapa tahu ada perubahan di tengah acara, kan saya harus mengantisipasi itu.

Acara yang sedianya dijadwalkan mulai pukul 13.30 wib itu nyatanya sempat molor hingga pukul 14.00 karena para menteri ada rapat di Istana Negara. Itu masih untung, karena sedianya rapat digelar di Istana Bogor. Lalu terbayang dong bagaimana ribetnya menteri-menteri itu berpindah acara dari Bogor ke Jakarta dengan perjalanan yang tidak mungkin ditempuh dalam hitungan 5-10 menit, sementara para peserta dan jurnalis media sudah menunggu.

Akhirnya, para narasumber itu pun tiba di lokasi. Ternyata yang berkenan hadir sebagai narasumber ada Mensesneg (Pratikno), Menkominfo (Rudiantara), Menpan RB (Yuddy Chrisnandi), Sekretaris Kabinet (Andi Widjajanto), sementara Mendagri (Tjahjo Kumolo) yang sedianya berkenan hadir sebagai salah satu narasumber ternyata berhalangan hadir karena dalam waktu yang sama beliau ada acara yang tidak bisa ditinggalkan.

Ada yang sedikit unik di acara ini. Kalau boleh saya istilahkan, acara yang sedikit ‘koboian’. Seharusnya, sesuai dengan susunan acara, Menkominfo akan memberikan memberikan sambutan sekaligus membuka acara ini secara resmi. Tapi ketika saya undang untuk memberikan sambutan, yang maju adalah Mensesneg. Semua panitia sempat kaget, karena ini di luar skenario kami. Ternyata hal itu memang disengaja oleh Mensesneg karena kebetulan beliau pukul 14.00 harus menghadap Presiden, sementara jadwal beliau untuk membawakan keynote speech baru nanti pukul 14.05-14.20 wib, jadilah terpaksa bertukar jadwal dengan Menkominfo untuk mengejar kesesuaian jadwal acara bersama Presiden. Pffiuh! Lha, ini saya baru deg-degan. Saya pikir saya yang salah 😐

Lalu ‘koboi’-nya di mana? Ya gaya tukar menukar jadwal tanpa koordinasi ke panitia itu termasuk gaya ‘koboi’. Gaya penyampaian speech beliau pun tidak formal/kaku, dan tidak menggunakan slideshow seperti layaknya sebuah paparan. Tapi justru seperti sedang memberikan kuliah umum. Mungkin jiwa dosennya masih terbawa :mrgreen: . Btw, sebenarnya Pak Menteri kurang menyukai adanya podium dan panggung, tapi apa boleh buat setting dari ‘sananya’ sudah begitu. Gaya tanpa slideshow presentasi ini ternyata juga diikuti oleh Seskab dan semua menteri yang hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut. Pokoknya gaya para narasumber semuanya santai dan ya itu tadi semacam forum sharing.

Dalam kesempatan itu Menkominfo mengimbau kepada seluruh jajaran pengelola kehumasan, selain memanfaatkan media konvensional, mereka juga harus memanfaatkan teknologi media sosial. Intinya menggunakan pendekatan ke masyarakat dengan cara yang lebih modern dan partisipatif. Memiliki dan menggunakan akun twitter juga disarankan oleh Menkominfo. Karena humas berada di dunia yang sangat dinamis, jadi sesuatu yang reachable sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Humas harus punya setidaknya dua akun twitter; akun kantor dan pribadi, dua-duanya harus jalan.

Oh ya, sebagai orang yang kadang-kadang masih bermain di ranah socmed, saya setuju dengan pernyataan Menkominfo, “media sosial membuat semua orang bisa menjadi jurnalis. Entah isinya kredibel, semi kredibel, atau tidak kredibel sama sekali.”

Mensesneg dalam kesempatan ini mencontohkan website yang sudah mencerminkan karakter pemerintah yaitu http://setkab.go.id . “Kehumasan itu mencakup hal yang sangat kaya, menjembatani dua pihak, membangun publik trust. Saya ingin humas itu seindah aslinya. Bukan hanya isi kebijakan tetapi juga karakternya.” Ada pernyataan Mensesneg yang cukup menarik dan sempat saya twit juga, “Adanya media sosial, membuat adanya jurnalisme tanpa dewan redaksi”. Benar, Pak. Semua bisa memberitakan apapun via akun socmednya. Dewan redaksinya ya pemilik akun masing-masing.

Masih ada paparan menarik yang lainnya yang juga disuguhkan oleh Seskab. Sebagai orang yang selalu mendampingi Presiden di dalam tugasnya sehari-hari, Seskab mendayagunakan socmed untuk meng- up date kegiatan Presiden. Saya sendiri baru tahu lho, kalau ternyata 1/3 foto yang ada di http://setkab.go.id dan yang ada di akun twitter resmi Setkab adalah hasil jepretan Andi Widjajanto. Andi Widjajanto juga menuturkan bahwa sebenarnya bahasa narasi sudah lewat masanya, sekarang adalah masanya bahasa visual. Bahkan bahasa visual ini pun sekarang sudah berkembang menjadi animasi.

Walaupun saya bukan bekerja di bagian yang menangani kehumasan, tapi melalui kegiatan ini saya jadi mendapatkan up date informasi dan tambahan pengetahuan baru tentang bagaimana seharusnya seorang humas pemerintah itu menjalankan tugasnya di era yang serbacanggih ini.

Btw, thank you teman-teman Kemenkominfo yang sudah memberi saya kepercayaan untuk memandu acara Forum Tematik Bakohumas beberapa waktu lalu ya 🙂

Continue Reading

Work-Life Balance

life balance

Pada sebuah sore di penghujung tahun 2014, di menjelang jam pulang kantor, Kasubbag saya terlihat sibuk mondar-mandir dari kubikelnya ke ruang Kabag, tak lama lalu ke ruang Deputi, dan lalu ke ruang Kepala Biro, sambil membawa selembar berkas. Saya sendiri masih sibuk berkutat dengan setumpuk berkas surat yang harus diinput dalam aplikasi persuratan elektronik.

Tak lama kemudian dia mampir ke kubikel saya sambil menjentik-jentikkan jarinya ke arah surat yang dia bawa. “Gua harus cari yang qualified, nih!”. Saya menoleh sebentar ke arahnya, “(Ada) apaan sih, Kak?”. Dia cuma manggut-manggut nggak jelas sambil membawa kembali, “Nggak apa-apa, nanti deh…”.

Sambil agak bengong saya kembali fokus dengan setumpuk berkas yang tadi. Kasubbag saya itu lalu kembali ke kubikelnya, mengetik sebentar dan tak lama kemudian terdengar printer yang sedang mencetak dokumen. Dan setelahnya, dia segera bergegas ke ruang Deputi lagi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.05 wib. Ruangan sudah mulai sepi karena memang sudah lewat jam pulang kantor pukul 16.00 wib. Tapi masih ada beberapa pegawai yang masih ada di ruangan karena lembur, termasuk saya. Kasubbag saya kembali mendatangi kubikel saya, menyeret kursi di sebelah saya, dan melontarkan pertanyaan ini:

“Kak, kamu mau nggak jadi Sekretarisnya Bu Menteri?”

“Hah? Bu Menteri siapa?”

Pikiran saya mendengar kata-kata ‘Bu Menteri’ kok langsung mengarahnya ke Menteri Susi Pudjiastuti ya; padahal perempuan yang menjabat sebagai menteri kan bukan cuma beliau ya. Tapi entahlah mungkin karena sosok Bu Susi terlalu kuat dan populer, sehingga kalau ada yang menyebut kata ‘Bu Menteri’, asosiasinya langsung ke beliau. Kembali lagi ke tawaran yang tadi, So, so, kalau jadi saya jadi Sekretarisnya Bu Menteri Kelautan dan Perikanan, berarti saya mau dimutasi ke sana, gitu? Pikir saya.

“Bu Menteri, Bu Menteri… Isterinya Pak Menteri… “, lanjut Kasubbag saya.

“Ooh, Bu Pratikno?”, jelas saya sambil menarik nafas lega.

“Iya, hehehe. Mau, nggak?”

“Aku? Lah, kenapa aku? Kok tiba-tiba aku? Mekanismenya gimana ini?”

“Iya, jadi gini… Ibu lagi butuh sekretaris untuk mendampingi beliau, karena nantinya beliau bakal sibuk banget. Bukan cuma sekadar menghadiri acaranya Bapak aja, tapi juga agenda bersama para ibu pejabat lainnya…”

“Trus?”

“Aku udah diskusi sama Pak Karo, plus menyeleksi sekretaris-sekretaris yang ada di kementerian kita, dan pilihan kita jatuh ke kamu. Kalau kamu setuju, kita akan ajukan nama kamu ke Ibu..”

“Lho, lho… sik, sebentar. Itu tugasnya ngapain aja?”

“Ya kamu akan melekat ke Ibu. Ke mana pun Ibu berkegiatan ya kamu akan ikut. Tapi prinsipnya sih lebih kurang semacam ajudannya Ibu gitu…”

“Lah, bukannya selama ini, kaya yang sebelum-sebelumnya, Bu Menteri biasanya disekretarisi plus diajudani oleh TNI/Polri, ya?”

“Iya sih, tapi kali ini ada permintaan dari Ibu khusus Sekretaris beliau nggak mau dari TNI/Polri, makanya kita tawarkan yang existing aja dulu. Gimana, mau nggak?”

“Terus, kenapa aku? Kenapa nggak di-FGD-kan aja, atau diajukan aja dulu nama-nama Sekretaris di sini terus kasih ke Ibu, biar diseleksi sendiri sama Ibu…”

“Ibu menyerahkan seluruh mekanisme pemilihannya ke kita, Kak. Kenapa kamu yang kita pilih ya karena kita lihat kamu lebih menonjol di antara kandidat yang lain. Gimana?”

“mmmmh….” saya tertegun

“Nggak harus sekarang sih jawabnya. You may think it first. You may discuss it with your family. Pikir positif negatifnya. Tapi jangan lama-lama mikirnya ya, Kak. Hehehe. Biar kita bisa segera komunikasikan ke Ibu gitu…”

“Ok, aku diskusikan dulu sama keluarga ya, Kak 🙂 “

Jujur, bukan sebuah keputusan mudah untuk menolak/menerima tawaran itu. Di satu sisi mungkin baik untuk pengalaman kerja saya, di mana saya bisa secara langsung menangani pekerjaan yang levelnya lebih tinggi dan lebih sibuk dibandingkan dengan pekerjaan yang saya tangani sekarang. Di sisi lainnya, kalau saya jadi menerima pekerjaan itu, artinya waktu saya bersama keluarga — terlebih dengan Alea — akan sangat berkurang, karena bisa saja saya akan lebih banyak bekerja dan dinas untuk mendampingi Ibu.

Alea sedang lucu-lucunya. Saat tawaran itu diajukan, Alea berusia 5 bulan. Walaupun masih 5 bulan, dia sudah tahu waktu, terutama tidur malam. Kalau sudah waktunya, dia pasti rewel ‘minta’ dikeloni sambil minum ASI, sambil diusap-usap punggungnya. Kalau waktunya bobo tapi saya belum ada buat dia, ya dia akan rewel terus, kasian Mama saya kalau Alea belum bobo-bobo.

Pernah suatu hari saya dan suami terpaksa terlambat sampai di rumah karena di tengah jalan ternyata hujan deras sehingga kami harus berteduh menunggu hujan reda. Sesampainya di rumah, ternyata Alea masih melek. Matanya agak sembab, perpaduan antara ngantuk berat dan habis menangis (rewel) karena tidak bisa bobo. Dan memang, tak lama setelah saya bersih-bersih badan dan shalat, dia pun tidur pulas dalam pelukan saya.

Tuntutan menjadi seorang istri dan ibu terkadang bentrok dengan keinginan untuk mengembangkan karir yang sudah lebih dulu dijalani. Menikah dan memiliki keluarga memang merupakan cita-cita setiap perempuan. Tapi toh pada praktiknya peran seorang perempuan menjadi begitu kompleks ketika memasuki dunia perkawinan. Seorang perempuan dituntut menjadi seorang istri sekaligus ibu yang bertanggung jawab atas anak dan kelangsungan hidup berumah tangga, tapi di sisi lain, perempuan juga memiliki keinginan untuk memajukan karir yang sudah dijalani sejak dulu. Pffiuh, akhirnya saya mengalami juga fase ini ya; memilih antara fokus di karir atau keluarga.

Dari diskusi bersama keluarga, dan pertanyaan kepada diri sendiri yang akhirnya langsung terjawab secara tidak langsung lewat Alea itu, akhirnya dengan ikhlas saya putuskan, lebih baik saya menjalani pekerjaan saya yang sekarang. Pekerjaan yang load pekerjaannya tidak setinggi jika saya menjadi Sekretarisnya Bu Menteri. Pekerjaan yang kalau saya jalani, saya masih punya waktu untuk keluarga, dan utamanya bisa menjalin kedekatan bersama putri saya. Kehadiran Alea sudah saya tunggu selama 6 tahun, masa iya ketika dia sudah dihadirkan di tengah keluarga, saya malah lebih memilih fokus ke pekerjaan. Agak dilematis memang. Tapi ya inilah hidup. Kita pasti akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan. Itulah kenapa kadang kita butuh skala prioritas. Apabila prioritas saat ini adalah karir, mungkin ada beberapa kenyamanan yang harus dikorbankan, begitu pula sebaliknya.

Bukan bermaksud mengesampingkan karir, tapi kalau boleh flashback, alasan saya dulu memilih bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, salah satunya adalah agar saya punya waktu untuk keluarga.

Saya percaya, setiap manusia sudah punya kesempatan dan rezeki masing-masing. Kalau soal materi insyaallah masih bisa dicari, tapi soal waktu… tidak akan pernah bisa kembali. Pertumbuhan dan perkembangan Alea tidak akan menunggu sampai mamanya punya waktu buat dia. Dia akan tumbuh berkembang di setiap harinya. Dan saat ini saya tidak ingin kehilangan moment melihat tumbuh kembangnya dari hari ke hari.

There is no such thing as work-life balance. Everything worth fighting for unbalances your life.
— Alain de Botton —

ilustrasi saya pinjam dari sini

Continue Reading

Peringatan Hari Korpri

 

 

 

upacara Hari Korpri ke-43

 

Pagi itu saya datang tergopoh-gopoh sampai di kantor pukul 06.50. Buru-buru saya absen handkey dan segera menuju ke lantai 2 tempat saya bekerja. Di ruangan sudah sepi, hanya tinggal saya dan Pak OB.

“Pak, yang lain mana? Udah ke Monas semua?”

“Udah dari tadi kali…”

“Haduh! Beneran ditinggal nih… 🙁 “

Saya pun buru-buru turun. Untungnya di bawah masih ada teman-teman yang baru tiba di kantor. Pffiuh, alhamdulillah ternyata saya tidak sendirian. Hampir seluruh ruangan sudah sepi karena semua sudah berjalan menuju sayap selatan silang Monas sejak pukul 06.30 padahal upacaranya sendiri baru akan dimulai pukul 08.00. Alhamdulillah masih ada bus kantor yang siap mengantar kami menuju Monas.

Ketika kami tiba di Monas, di sana sudah penuh dengan PNS berbaju Korpri. Peringatan HUT Korpri tahun sedikit ‘istimewa’ karena dipimpin langsung oleh Presiden RI. Kalau tahun-tahun sebelumnya sih selalu upacara di kantor masing-masing. Bahkan di 2 atau 3 tahun yang lalu di kantor kami sempat mengadakan perhelatan kecil-kecilan yang dihadiri oleh seluruh pegawai beserta keluarga, plus pengundian door prize. Sayangnya saya nggak pernah dapet 😐

Di Monas sudah berbaur semua PNS dari segala kementerian, utamanya yang berkantor di sekitaran Monas. Sebagian dari kami yang ‘tercecer’ seperti beras ini bagai ayam yang kehilangan induknya. Entah di peleton sebelah mana teman-teman kantor kami berbaris, katanya sih dekat baliho di depan Monas. Lah, kami juga sudah di dekat Monas. Tapi ya sudahlah, yang penting sudah berada di lokasi, daripada kena sidak di kantor. Soal mau berbaris di mana, terserah sajalah (yang sudah pasti sih di barisan belakang).

Kurang lebih pukul 08.00 upacara dimulai. Entahlah, mungkin saya membandingkan dengan ketika upacara di kantor yang sedikit lebih rapi dibandingkan di Monas, yang entah di barisan kementerian manalah ini kami berbaris. Pokoknya agak ruwetlah. Seruwet hatiku saat itu. Halah! 😆 . Ya bisa dimaklumi sih, karena kan yang ikut upacara ribuan (ribuan nggak, ya? iya kali ya, wong saya juga nggak ngitung), sedangkan kalau di kantor kan peserta upacaranya nggak sampai ribuan. Tapi seharusnya kalau acara besar seperti ini setidaknya ada yang mengarahkanlah, kementerian apa baris di mana, gitu. Biar tertib sedikit dilihatnya. Di barisan belakang posisinya sudah seperti posisi nonton konser, berdiri tanpa lajur, tanpa banjar, bahkan ada yang duduk-duduk di dekat tangga Monas :mrgreen:

Dalam acara itu Presiden tidak memberikan amanat yang panjang, dan langsung ke pokok yang ingin disampaikan. Upacara HUT Ke-43 Korpri yang berlangsung di Monas itu bertajuk “Pencanangan Gerakan Nasional Revolusi Mental Aparatur Sipil Negara”. Dalam kesempatan itu Presiden berpesan agar segenap jajaran Korpri memberikan pelayanan birokrasi yang makin cepat, akurat, dan makin baik. Terus menjaga kode etik profesi, mempedomani sumpah jabatan, dan memegang teguh komitmen Panca Prasetya Korpri. Tapi sebenarnya inti dari upacara ini yaitu pernyataan Presiden yang meminta seluruh anggota Korpri untuk meninggalkan mental priyayi atau penguasa. “Jadilah Korpri yang mengabdi dengan sepenuh hati untuk kejayaan dan kesejahteraan rakyat Indonesia.”

Secara keseluruhan acara berlangsung lancar, walaupun (jujur) agak ribet. Dan entah kenapa kalimat-kalimat yang meluncur dari koordinator upacara (?) dari Pemprov DKI membuat kami bengong, dan lalu tertawa sendiri. Banyak aba-aba yang kurang formal yang digunakan di acara sebesar dan seformal itu. Seperti ketika tiba-tiba saja kami harus balik kanan (menghadap ke Monas) tanpa dijelaskan maksudnya apa. Baru ketika kami mulai gaduh bertanya-tanya, baru dijelaskan bahwa akan ada rombongan marching band IPDN yang akan tampil. Owalah, Pak… 😆 . Mungkin karena selama ini kami (atau mungkin cuma saya) terbiasa dengan format acara yang tertata rapi dan dengan penggunaan diksi yang sedemikian rupa. Tapi positif thinking sajalah, mungkin di setiap kementerian beda ‘adat’ dan tata cara penyelenggaraan acara.

Anyway, Selamat Hari Korpri yang ke-43 bagi seluruh ‘Korpri-ers’ di seluruh Indonesia 😀

gambar dipinjam dari Pak Andri (teman kantor saya)

Continue Reading