Balada Panitia CPNS 2017

seleksi cpns

 

Percaya atau tidak, sesungguhnya seleksi alam itu sudah mulai berlangsung sejak pelamar CPNS memilih kementerian/instansi mana kelak dia akan bernaung.

—–

Tahun ini jadi tahun yang istimewa bagi hampir semua kementerian/lembaga. Bagaimana tidak, setelah 3 tahun moratorium pengadaan CPNS, tahun ini penerimaan CPNS kembali digelar. Uniknya, di balik berbagai kenyinyiran beberapa di pihak di media sosial, toh info lowongan CPNS ini tetap menjadi trending topic dikalangan para job seeker.

Bagi para fresh graduaters, atau yang sudah punya pekerjaan tapi masih berstatus karyawan kontrak, atau mungkin ingin mencari pekerjaan tetap yang tidak mengandung ketar-ketir dengan PHK dadakan, para karyawan yang mendambakan adanya jenjang karier yang jelas, atau para pencari kesempatan beasiswa baik di dalam/luar negeri, adanya lowongan CPNS di ini bak oase di padang tandus. Peluang yang menyegarkan, sekali pun harus bersaing ketat dengan ribuan pelamar lainnya. Tsaaah…

Nah, tahun ini, kementerian tempat saya bernaung juga mengadakan rekrutmen CPNS. Banyaknya formasi yang ditawarkan sejumlah 191 formasi, terdiri dari 91 formasi untuk 30 jabatan di Kementerian Sekretariat Negara; 74 formasi untuk 18 jabatan di Sekretariat Kabinet; dan 8 jabatan untuk 13 formasi di Unit Kerja Presiden bidang Pembinaan Ideologi Pancasila.

Sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, penyelenggaraan CPNS tahun ini kami termasuk dalam 13 kementerian yang menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT) secara mandiri. Artinya, soal-soal dan sistem ujian tetap dikelola/diselenggarakan oleh Badan Kepegawaian Negara, hanya lokasi penyelenggaraannya ada di kementerian masing-masing.

Banyak hal unik seputar rekrutmen CPNS tahun 2017 ini. Gerbang utama pendaftaran CPNS dilakukan secara tersentral di http://sscn.bkn.go.id dan yang didaftarkan adalah Nomor Induk Kependudukan (NIK) peserta. Setelah peserta memilih kementerian yang diminati, mereka akan langsung diteruskan ke web kementerian yang dituju. Satu pelamar hanya berhak mendaftar di satu kementerian saja, kecuali pelamar-pelamar yang sempat mengikuti rekrutmen CPNS Tahap 1, di mana waktu itu rekrutmen hanya dikhususkan untuk Mahkamah Agung dan Kementerian Hukum dan HAM, mereka diperkenankan untuk mengikuti kembali rekrutmen CPNS Tahap 2 yang dibuka oleh multikementerian. Uniknya, seluruh proses rekrutmen ini dilakukan dalam sekali pilih/unggah. Ini dimaksudkan agar pelamar belajar teliti, memahami rincian pengumuman, dan mempersiapkan diri sebelum mengikuti rekrutmen.

Sebagai panitia yang ada di garda paling depan menghadapi para pelamar di sesi awal rekrutmen CPNS, dibutuhkan ekstra kesabaran dan ketenangan dalam menghadapi telepon dan email dari CPNS yang jumlah per harinya bisa puluhan, yang cenderung meningkat jumlahnya mendekati injury time batas akhir pendaftaran. Belum lagi melihat spam e-mail dari salah 1 alamat e-mail yang mengirimkan 21 e-mail dalam sehari dengan subjek e-mail yang sama. Hiks… Mbok ya yang sabar, nanti kami jawab, kok. Beruntung pernah menjadi call center officer dan customer service officer di pekerjaan sebelumnya, jadi ilmu, tips, dan trik cara menghadapi pelanggan sangat membantu saya dalam menghadapi pertanyaan para pelamar baik via telepon/e-mail.

Berhubung nomor yang dinyatakan sebagai ‘call center‘ adalah nomor yang ada di meja saya, mau tidak mau sayalah yang menjawab hampir seluruh telepon para pelamar. Berbeda dengan tim helpdesk dan verifikator yang bekerja dalam 1 tim, kalau ‘call center‘ ala-ala ini ya saya terima telepon sendiri; kecuali peneleponnya ‘nyasar’ ke nomor yang lain, mau tidak mau teman yang mengangkat telepon itulah yang akan menjawab pertanyaan seputar rekrutmen CPNS. Tidak masalah, briefing-nya sama kok. Insyaallah info yang diberikan juga tidak ada perbedaan. Satu guru, satu ilmu.

Tapi entah kenapa, tipikal pelamar zaman sekarang itu berbeda dengan pelamar-pelamar CPNS di tahun-tahun sebelumnya. Sering kali, apa yang sudah tertera jelas di laman pengumuman masih ditanyakan ulang baik via telepon maupun via email. Kalau mereka saya edukasi cek ulang di web malah saya yang ditanya ulang, “oh, ada ya, Kak? Di sebelah mana ya, kok saya nggak nemu?”. Atau, ada juga beberapa penelepon yang sudah dijawab via telepon masih menanyakan pertanyaan yang sama via email. Berhubung saya juga petugas helpdesk-nya, maka saya lagi yang jawab pertanyaan mereka, “Saya tadi sudah telepon ke pusat informasi, apakah info yang diberikan oleh petugas pusat informasi tentang blablabla itu benar dan valid?”.

Hiks… Nggak dipercaya…

Beberapa di antara mereka juga ada yang lucu. Seperti misalnya, ada pelamar dengan logat Suroboyoan yang medok, tanya begini, “Mbak, maksud kalimat pelamar harus datang sendiri tidak boleh diwakilkan itu berkasnya dikirim lewat pos gitu, ta?”. Lho, gimana sih, Mbak? Hiks, seketika, saat itu juga saya jadi pengen uwel-uwel jilbab.

Atau ada juga yang mengajak ngobrol basa-basi di akhir sesi bertanya via telepon, “mmh, dulu Kak Devi juga menjalani prosedur yang sama kaya kami gini, ya? Ngelamar dan verifikasi berkas, gitu?”. Inginnya sih saya jawab, “Enggaklah, saya dulu dicabut aja dari kebon, kaya ubi gitu. Trus… tadaaa! Dikasih deh SK PNS!”

Sebagai panitia kalau harus punya kesabaran berlipat ganda itu memang benar adanya. Ada lho yang di e-mail gaya bertanya dan jawabnya layaknya sedang berkomunikasi via pesan instan seperti ini.

Pertanyaan CPNS

Jadi, kalau panitianya tidak sabar ya paling-paling minta pensiun dini

Ada juga yang sengaja mencari akun instagram saya, lalu mem-follow, dan mengirim pesan, “Halo, Kak. Tolong jelasin tentang rekrutmen CPNS, dong…” Pertanyaan seperti ini seharusnya bisa diminimalisasi lho, adik-adikku sayang. Bisa dong kalian cari info sendiri tentang rekrutmen CPNS 2017 di internet, atau coba follow akun-akun media sosial resmi kementerian/ lembaga yang kalian maksudkan. Zaman sudah maju, segala informasi bisa ditemukan via internet, seharusnya sudah sangat mudah mencari informasi seperti ini.

Nah, ternyata masalah ketidaktelitian para pelamar ini bukan cuma terjadi di kementerian saya saja, hampir di semua kementerian mengalami masalah yang sama. Umumnya pelamar kurang teliti dalam membaca dan memahami pengumuman. Jadi, setiap hari ada saja keluhan tentang salah input data, salah unggah berkas, salah baca tanggal pengumuman, bahkan parahnya ada yang sampai tidak tahu kalau sudah keluar jadwal Seleksi Kemampuan Dasar. Ujung-ujungnya, ada pelamar yang menelepon sambil menangis, memohon kepada panitia agar mereka diizinkan mengikuti tahapan yang terlewat. Kalau panitianya diminta untuk fair play dan taat dengan aturan main, ya seharusnya pelamar pun melakukan hal yang sama. Ya, kan? Ya, dong…

Ada banyak alasan kenapa mereka salah baca atau terlewat informasi, seperti misalnya, “saya kan kebetulan kerja di bank nih, Mbak. Jadi saya tuh sibuk banget, konsentrasi saya kemarin sempat terbagi-bagi, gitu. Jadi pas waktunya pengumuman verifikasi berkas online, saya jadi terlewat. Boleh nggak kalau saya verifikasinya hari ini aja?”. Kejadian ini selang 2 hari setelah jadwal verifikasi berkas dinyatakan usai. Ya sudah, mungkin lebih baik tahun ini Mas konsentrasi saja ke pekerjaan yang sekarang. Toh, sudah kerja juga, kan? Kalau memang masih berminat jadi PNS, silakan ikut di sesi rekrutmen tahun berikutnya saja, ya…

Kalau ada.

Ada juga yang sengaja datang langsung ke kantor sambil membawa berkas lengkap, padahal lokasi verifikasi berkas bukan di kantor, tapi di Pusdiklat. Mereka pun beralasan pengumuman tidak bisa diakses di smartphone mereka, sehingga mereka terlewat informasi. Hmm, bukankah handphone para pelamarzaman now itu sudah canggih-canggih, ya? Jadi, logikanya, kalau browsing semua situs saja bisa, seharusnya buka pengumuman juga bisa, dong. Tanpa berlama-lama, saya pun minta izin untuk meminjam handphone mereka dan membuka situs setneg.go.id. Hasilnya? Baik-baik saja, bisa terbuka, dan informasinya pun terpampang nyata di depan mereka. Jadi sebenarnya tidak ada alasan situs tidak bisa diakses, atau pengumuman tidak bisa dibuka, kecuali web kami sedang down. Seketika wajah pelamar seolah menggunakan blush on merata di seluruh wajah, “Kok kemarin-kemarin saya nggak nemu informasi ini ya, Mbak?”

Iya, barusan saya memang sulapan, kok.

Bukan itu saja, ada yang beralasan pengumuman terlalu panjang, tidak simple, dan cenderung membingungkan. Kenapa pengumumannya tidak dibikin infografis saja agar lebih mudah dipahami oleh pelamar. Ok, saya tanya deh. Dulu, zaman kalian kuliah, apakah semua materi perkuliahan disampaikan dalam bentuk infografis agar mudah dipahami oleh mahasiswa? Apakah diktat sudah tidak lagi diperlukan karena semua materi sudah lengkap tersaji dalam bentuk infografis warna-warni?

Nyatanya tidak begitu, kan? Kita tetap memerlukan diktat, bahkan juga tetap berkunjung ke perpustakaan mengakses e-library untuk mencari referensi berkaitan dengan materi perkuliahan, kan? Kenapa? Ya karena tidak semua hal bisa disampaikan dalam bentuk infografis. Saya yakin, panitia rekrutmen CPNS di setiap kementerian pasti juga sudah membuat pengumuman versi infografis. Tapi tentu saja info yang ada di sana hanya inti-intinya saja, untuk informasi lebih rinci ya adanya di website kementerian, yang bisa dibaca/dibuka/dipelajari kapan saja oleh pelamar. Panitia juga tidak akan menyampaikan informasi secara mepet-mepet. Selalu ada jeda waktu yang kita berikan agar para pelamar bisa mempersiapkan diri dan menyediakan dokumen apa saja yang dibutuhkan untuk sesi berikutnya.

Kalau sejak jadi pelamar saja tidak biasa membaca rincian pengumuman, bagaimana nanti kalau sudah jadi PNS, yang notabene pekerjaannya akan lebih akrab dengan surat, memorandum, Keppres, Kepmen, Perpres, Permen, dan lampiran-lampiran lainnya? Jadi, latihannya ya mulai dari sekarang, supaya ketika sudah jadi CPNS nanti kalian tidak terlalu kaget dengan pekerjaannya masing-masing.

Nah, kalau soal kerajinan, pelamar zaman now itu terbagi dalam 2 golongan. Golongan yang rajinnya kebangetan, dan golongan yang selow-nya overdosis. Golongan yang rajinnya kebangetan itu, hari masih pagi, pengumuman belum diunggah, pukul 07.00 wib sudah ada yang telepon ke kantor untuk menanyakan, “pengumumannya belum diunggah ya, Kak? Kan ini sudah tanggal ‘sekian’…”. Tanggal ‘sekian’ sih tanggal ‘sekian’, tapi harap dipahami tanggal ‘sekian’ itu batasnya sampai dengan pukul 23.59 wib, lho. Jadi, mohon kesabarannya untuk menunggu, dan cek secara berkala di web masing-masing kementerian, panitia pasti akan mengumumkan di hari dan tanggal yang sudah disepakati sebagai hari pengumuman, kok.

Sedangkan golongan yang selow-nya overdosis, sampai dengan batas waktu yang ditentukan dia sama sekali tidak ada aktivitas apapun apalagi terlihat batang hidungnya. Tapi ketika kegiatan sudah selesai dan closed by system eh dia baru muncul sambil pasang wajah dan gesture penuh iba, dengan harapan panitia akan memberikan kesempatan kedua. Bahkan ada yang sampai mengajak orang tuanya untuk menghadap ke panitia agar mereka diberikan izin mengikuti tahapan seleksi yang terlewat. Padahal, FYI, di hari terakhir penutupan sesi kegiatan, biasanya panitia stand by sampai malam, just in case kalau masih ada pelamar yang akan datang menyerahkan dokumen untuk diverifikasi, jadi pelamar akan tetap kita terima, selama masih di hari yang sama dengan yang sudah dijadwalkan. Kecuali kalau sudah masuk jadwal ujian, ya. Kalau sudah masuk sesi ujian sih sudah tidak ada lagi toleransi, karena kita sudah memberikan briefing awal di sesi verifikasi berkas agar peserta ujian datang lebih awal di hari pelaksanaan ujian.

Saking padatnya pekerjaan, membagi waktu antara mengerjakan tugas rutin, jadi call centre dadakan, ditambah jadi petugas helpdesk, sampai terbawa ke alam mimpi lho. Iya, di dalam mimpi saya sudah menjawab ratusan e-mail yang masuk. Absurdnya, keesokan paginya pikiran saya menjadi agak ringan, karena menyangka beban pekerjaan sudah sebagian terselesaikan.

Dalam mimpi.

Jadi panitia CPNS itu bukan hal yang mudah, selain dibutuhkan tenaga ekstra, juga dibutuhkan kesabaran dan mental yang tahan uji. Teruntuk para panitia CPNS di kementerian/lembaga mana pun, semangat jangan sampai kendor hingga proses rekrutmen ini selesai, ya! *dadah-dadah*

 

 


ilustrasi dipinjam dari sinidan twitter @devieriana

PS: Btw, berhubung sesi rekrutmen CPNS ini masih panjang, tulisan tentang sesi ujian akan diposting di tulisan
berikutnya, ya…

Continue Reading

Dignity and Respect

what-i-know-dignity-and-respect

Pada suatu sore menjelang pulang kantor, sebuah pesan singkat muncul di gawai saya. Dari seorang teman yang kebetulan membatalkan janji temu dengan saya dan beberapa teman lainnya dengan alasan kesibukan kantor.

“Dear, sori ya, gue kayanya nggak bisa gabung lagi nih, hiks. Kerjaan gue aja belum kelar sampai jam segini, kuatir nggak keburu kalau gue harus maksain ketemuan sama kalian. Jam 5 aja gue masih ada agenda meeting sama BoD. Sori banget, ya. Kalian tahu kan gimana kerjaan budak korporat kaya gue? Next time gue bakal usahain buat kumpul sama kalian yaa… Selamat ngumpul-ngumpul ya, kalian. Miss you all… “

Ketika membaca pesan singkat itu, entah kenapa, ada sedikit perasaan kurang nyaman. Semacam ada penggunaan istilah yang kurang pas di hati.

Sampai sekarang saya masih sering mendengar teman/kerabat yang membahasakan dirinya sebagai ‘kacung kampret’, ‘kuli kantor’, budak korporat, dan sebutan sejenis lainnya sebagai penggambaran betapa berat/sibuknya pekerjaan yang mereka lakukan; semacam penggambaran adanya ‘kesamaan’ beban pekerjaan yang mereka lakukan dengan kuli kasar. Bedanya, berhubung mereka adalah orang kantoran, maka sebutannya kuli kantor.

Kita pasti pernah ada di sebuah kondisi harus membatalkan sebuah janji temu karena memang sedang sibuk di kantor, lembur, atau ada urgent matters yang berhubungan dengan pekerjaan. Kenapa tidak bilang saja apa adanya, tanpa harus membubuhkan embel-embel, “ya namanya juga kacung kampret, mana bisa menikmati liburan dan kumpul-kumpul kaya kalian”, atau “ya beginilah nasib budak korporat, dijalanin aja…”

‘Sehina’ apapun pekerjaan kita, seremeh apapun pekerjaan yang kita lakukan, atau untuk menggambarkan betapa rumit dan ruwetnya detail pekerjaan yang kita lakukan sehingga hanya kita yang dianggap sanggup melakukan itu, atau kasarannya tidak ada orang yang mau ada di posisi kita; apapun itu, hargai. Di luar sana ada banyak sekali orang yang belum mendapatkan pekerjaan, dan mungkin saja menganggap kalau pekerjaan kita itu jauh lebih baik, lebih enak, lebih menyenangkan dari pada pekerjaan mereka.

Dulu, orang tua saya pernah bilang begini, “kita akan menjadi apa yang kita pikirkan, apa yang kita ucapkan. Jadi, hati-hati kalau bicara, karena ucapan itu sama saja dengan doa”. Nasihat itulah yang masih saya pegang hingga sekarang.

Sugesti positif itu juga saya terapkan dengan cara berpakaian. Walaupun semua kembali lagi ke soal pilihan, apakah kita lebih suka berpakaian rapi, atau asal-asalan, saya pribadi lebih suka berpenampilan rapi dan pantas. Rapi dan pantas itu tidak harus mahal, lho. Cukup berbusana sesuai dengan tempat, acara, dan kebutuhan. Sepele ya, tapi sesungguhnya cara berbusana kita itu merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain, lho.

Mungkin ini cuma soal kebiasaan, karena semua berawal dari lingkungan. Terlahir dalam sebuah keluarga yang dalam beberapa hal masih memegang teguh ajaran Jawa dengan segala pernak- perniknya, salah satu ajaran yang masih diterapkan di keluarga saya adalah “ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana”. Ungkapan itu memiliki makna bahwa bahwa berharganya diri kita berasal dari ucapan (lidah) kita, sedangkan berharganya badan (raga) kita dillihat dari bagaimana cara kita berbusana.

Gambaran ungkapan ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana tersebut mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang kita pakai, penampilan kita, tutur kata kita, serta ucapan-ucapan kita pasti akan menimbulkan reaksi timbal balik penghargaan/sikap orang lain kepada kita.

Contoh paling sederhana adalah tahu kapan harus menggunakan sepatu/sandal selama di kantor. Selama di kantor, selama jam kerja, saya berusaha konsisten menggunakan sepatu, bukan sandal. Apalagi ketika menerima tamu (baik pegawai dari kantor sendiri maupun dari luar), karena ada juga teman yang membedakan kapan ‘boleh-boleh saja’ pakai sandal selama itu pegawai kantor sendiri (dengan alasan, “ah, udah kenal ini”), dan kapan harus pakai sepatu (karena tamunya dari luar instansi). Mungkin saya satu-satunya orang yang paling sebal ketika ada teman yang menerima tamu dengan hanya menggunakan sandal jepit. Bukan mau sok idealis ya, apa yang saya sebutkan di atas, bukan berarti sama sekali kita tidak boleh pakai sandal selama di kantor, silakan saja menggunakan sandal ketika akan ke kamar kecil, atau akan wudhu/shalat. Tapi apakah tidak akan lebih baik ketika sedang di kantor ya gunakan sepatu sebagaimana mestinya, bukan sandal. Tamu saja kalau mau berkunjung ke kantor kita mereka berusaha tampil rapi/pantas, masa iya kita sebagai tuan rumah menerima mereka asal-asalan? Di mana bentuk penghargaan kita kepada orang lain, padahal mereka sebisa mungkin berusaha menghargai kita sebagai tuan rumah?

Last but not least, mulai belajar menghargai diri sendiri sebelum menghargai orang lain, yuk! Mulai mengurangi juga penggunaan julukan ‘kacung kampret’, ‘budak korporat’, ‘kuli kantor’, atau sebutan negatif lainnya kepada diri sendiri atau orang lain.

Be grateful that we actually have a decent job; something to be proud of. If we don’t have dignity, then what are we?

 

 

 

picture source: here

Continue Reading

Sebuah ‘Project Rahasia’

Di Jumat pagi yang sibuk. Ting! Sebuah pesan masuk ke handphone saya.

“Devi, kamu ikut rapat di Ruang Rapat Sesmen, sekarang ya…”

Saya pun bergegas menuju Gedung Utama dan langsung menuju ke ruang rapat. Dalam hati saya bertanya-tanya sendiri, tumben saya dipanggil Bapak untuk ikut rapat di sini? Apa ada hubungannya dengan event acara hari Senin, 6 Januari 2017?

Sesampainya di sana, ternyata benar, rapat ini untuk mempersiapkan acara untuk hari Senin, 6 Februari 2017 lusa. Hah, lusa?!

Mensesneg via staf TU dan tim Sespri menginformasikan bahwa beliau ingin membuat sebuah acara pemberian penghargaan kepada para pejabat/pegawai yang telah berhasil membuat inovasi-inovasi dan perubahan positif bagi kantor tercinta ini. Tapi beliau ingin acara ini sifatnya surprise, bungkus saja dengan tajuk acara “silaturahmi dan pengarahan oleh Mensesneg”. Jangan sampai ada yang tahu, kecuali panitia saja. Begitu wanti-wanti Mensesneg via staf beliau.

Btw, begitu tahu format acaranya seperti itu seketika pikiran saya langsung terarah kepada moment ketika Obama menganugerahkan Presidential Medal of Freedom with Distinction kepada Wakil Presidennya, Joe Biden. Presidential Medal of Freedom with Distinction merupakan tanda penghormatan tertinggi dari pemerintah Amerika Serikat kepada warga sipil mereka yang dianggap telah memberikan kontribusi dan jasa luar biasa bagi Amerika Serikat. Nah, acara ini sepertinya kurang lebih seperti itu, tapi massal.

Sebenarnya di hari Selasa, 7 Februari 2017 ada acara pelantikan pejabat Pimpinan Tinggi Pratamadi lobby Gedung Utama, tapi demi efektifnya acara, beliau menginstruksikan agar acara pelantikan digabung saja dengan acara silaturahim. Wah, bakal jadi acara pelantikan terspektakuler sepanjang sejarah pelantikan di Sekretariat Negara nih. Karena baru kali ini lho ada pelantikan 3 orang Eselon II yang biasanya cuma dihadiri oleh para pejabat Eselon I saja, tapi kali ini dihadiri oleh kurang lebih 600 pejabat eselon I-IV di lingkungan Kementerian Sekretariat Negara, plus para undangan.

Kalau pelantikan, berhubung format acaranya sudah tetap, jadi persiapannya tidak terlalu heboh. Beda dengan acara kedua yang baru nemu rundown-nya saja, sementara format acaranya akan seperti apa belum jelas. Apakah akan dibuat formal, semi formal, atau tidak formal sama sekali? Lalu bagaimana dengan pengaturan tata ruangannya? Apakah class room style, theatre style, banquet style, U shape style, atau custom sajalah sesuai arahan Pak Menteri jika ada? Sama sekali belum ada gambaran yang pasti.

Hingga akhirnya, hari Minggu siang, tanggal 5 Februari 2017, semua panitia yang terlibat di 2 acara tadi memutuskan untuk ketemuan di lokasi acara untuk menyelaraskan segala sesuatu yang berkaitan dengan teknis dua acara yang akan inline besok.

Setelah koordinasi, latihan, simulasi, sinkronisasi, edit sana-sini, makan snack, dan gladi berkali-kali, sekitar pukul 19.30 disepakatilah konsep dan format acara yang sesuai atau (paling tidak) mendekati dengan arahan Pak Menteri. Pffiuh, akhirnya… *usap peluh*

Sesampainya di rumah saya belum bisa langsung tidur. Setelah menemani Alea bobo, masih langsung lanjut koordinasi jarak jauh dengan panitia dan tentu saja partner MC saya. Kebetulan di acara kedua, saya akan memandu acara secara duet, jadi butuh bahan buat ‘tektokan’ omongan. Pastinya butuh chemistry dan kerja sama, kapan harus ngomong sendiri, kapan harus bareng, dst.Saya sendiri menyerah pada rasa kantuk tepat pukul 01.00 dini hari dan menyerahkan estafet bahan MC-an ke partner MC saya, Si Dimas untuk disempurnakan lagi.

Semua panitia yang terlibat benar-benar mencurahkan tenaga dan konsentrasinya untuk acara yang secara guyonan kami sebut project ‘Bandung Bondowoso’ ini. Hahahaha, iyalah. Jika ditotal, kami hanya mempersiapkan acara ini selama 3 hari saja (Jumat, Sabtu, Minggu). Padahal ini termasuk acara besar, dan baru pertama kalinya ada di Kementerian Sekretariat Negara. Pastinya butuh persiapan yang banyak sekali dan lumayan ribet.

Pukul 07.30 tim protokol pelantikan sudah bergerak ke Krida Bhakti untuk gladi dan persiapan acara pertama, yaitu pelantikan, sekaligus koordinasi terakhir terkait acara kedua yaitu silaturahim dan pengarahan oleh Mensesneg. Whoaa, jujur agak deg-degan. Satu saja doa kami, semoga kedua acara ini berjalan lancar, tidak ada kendala, dan Pak Menteri berkenan.

Satu persatu tamu dan undangan mengisi Gedung Krida Bhakti yang pagi itu tampak semarak sekali. Walau tak bisa dipungkiri ada banyak wajah penasaran yang terlihat pagi itu. Hihihik, maaf ya… kami terpaksa harus merahasiakan acara ini, karena memang demikian arahan Pak Menteri, biar surprise.

Acara pertama berjalan khidmat dan lancar. Selang 5 menit seusai pelantikan, bersama partner MC saya hari itu (Dimas), langsung memandu acara kedua, yaitu silaturahim dan pengarahan oleh Mensesneg.

Jujur, saya agak geli melihat berbagai ekspresi dan kasak-kusuk para undangan yang hadir tentang dua agenda yang berlangsung hari Senin kemarin. Apalagi di sesi pengarahan oleh Mensesneg. Berbagai ekspresi tergambar di raut wajah para undangan. Ada yang tegang, ada yang datar-datar saja, ada yang serius, ada yang senyum-senyum, tapi yang ngantuk juga ada.

Mensesneg menyampaikan arahannya dalam beberapa slide, yang intinya menginformasikan berbagai inovasi yang telah hadir di Kementerian Sekretariat Negara, sekaligus menyampaikan rasa terima kasih yang setulusnya kepada para pejabat/pegawai yang telah memberikan kontribusi positif kepada kantor tercinta dalam bentuk inovasi-inovasi yang kreatif. Dalam kesempatan itu Mensesneg juga meminta maaf, karena selama 2.5 tahun ini sudah jadi orang yang cerewet, bawel, dan menyebalkan kepada seluruh pegawai di lingkungan Kementerian Sekretariat Negara. “Saya terpaksa harus menjadi Devil Advocate. Its not me, but I have to do that. Saya mohon maaf Bapak Ibu”, ujar beliau.

Ketika slide sudah menampilkan kata ‘Terima Kasih”, di situlah peran kami sebagai MC sejatinya baru dimulai. Bagaimana memulai acara dan menggiring mood hadirin yang awalnya serius menjadi lebih santai dan cair.

Oh ya, di pintu masuk, panitia sudah membagikan beberapa kertas origami berwarna-warni kepada beberapa pejabat yang hadir. Pasti beliau-beliau itu sempat bertanya-tanya, “ini kertas buat apaan?”. Di sesi inilah misteri kertas origami itu terpecahkan, hihihik.

Mekanisme penyebutan para nominasinya kami sudah atur sedemikian rupa supaya tidak terlalu ribet. Ada 47 inovasi tercatat, yang dikelompokkan ke dalam 8 kategori lengkap dengan para nominee dan pemenangnya, dan siap untuk diumumkan. saat kami mulai memanggil para pejabat pemegang kertas dengan warna tertentu untuk maju dan menerima penghargaan inovasi dari Mensesneg, di situlah suasana yang tadinya hening, tegang, dan serius berubah menjadi pecah, riuh, dan penuh tepuk tangan.

Alhamdulillah, acara berjalan lancar. Bahkan hingga kami menutup acara, semua kegembiraan masih tergambar jelas di raut wajah para pemenang. Ada raut kelegaan pula yang tergambar di wajah para panitia yang sudah bekerja keras demi kelancaran acara ini. Kalau pun ada kekurangan di sana-sini ya wajar, karena persiapannya hanya 3 hari, itu pun 2 harinya Sabtu dan Minggu.

Saya patut menjura kepada totalitas seluruh panitia. Dalam waktu sesingkat itu semua bisa tertangani, mulai mempersiapkan trophy, piagam penghargaan, video, presentasi, dll terkait teknis acara. Semua bekerja sesuai dengan fungsi dan porsi masing-masing tapi tetap saling dukung dan terintegrasi satu sama lain.

Senang bisa bekerja sama dengan kalian, hai para alumnus Hogwarts! Kalian luar biasa!

 

 

NB: Foto-foto acara akan di up date nanti ya, hehehe…

Continue Reading

Kesibukan yang Random Itu

Lama juga ya saya tidak up date postingan apapun di blog yang sudah banyak sarang laba-labanya ini. Biasalah alasannya klise, belum ada kesempatan yang pas buat up date blog. Di kantor pas kerjaan lagi ‘panen raya’, kalau pas sudah di rumah sudah malas buka laptop karena sudah keburu capek dan ngantuk. Belum lagi beberapa waktu lalu Alea sakit, jadi ya harus konsentrasi merawat dia sampai sembuh. Biasalah, kalau di daycare kan kalau sakit satu virusnya nular ke teman lainnya, tapi sekarang sih alhamdulillah sudah sehat, dan akhirnyahari ini bisa posting sesuatu.

Hari ini saya meliburkan diri, daycare-nya Alea kebetulan diliburkan karena hari ini bertepatan dengan demo 212 di Monas. Lebih ke tindakan preventif sih, dikhawatirkan terjadi kejadian seperti tanggal 4 November kemarin yang sempat rusuh. Untungnya saat itu eyangnya Alea masih di rumah, jadi Alea nggak ke daycare. Tapi hari ini, mau tidak mau saya harus meliburkan diri karena kalau pun saya bawa Alea ke kantor, dia tidak akan bisa istirahat dengan properly, saya pun bekerja juga nggak bakalan tenang karena harus membagi konsentrasi ke pekerjaan dan Alea yang pasti aktivitasnya bakal ada saja, tidak mau diam. Jadi kesibukan saya akhir-akhir ini selain kerja ya pastinya momong bocah karena eyangnya sudah kembali ke Surabaya, jadi Alea full sama saya.

Seperti halnya tahun-tahun sebelumnya, bulan-bulan terakhir menjelang akhir tahun adalah bulan-bulan sibuk. Terutama persiapan peringatan HUT Korpri yang tahun inindilalahsaya didapuk jadi koordinator peserta lomba menyanyi tunggal dan baca Pembukaan UUD 1945 di satuan kerja Sekretariat Kementerian dan Kedeputian.

Baca Pembukaan UUD 1945 sajapakai dilombakan? Iya, karena sebenarnya tidak mudah membaca Pembukaan UUD 1945 itu, kalau sekadar baca saja sih bisa kelarlah, tapi kalau membaca secara ‘benar’, lumayan ada tantangannya. Dulu ketika awal-awal menjadi petugas upacara, sayaspesialisasi pembaca Pembukaan UUD 1945. Sempat bosan sendiri, masa tiap kali tugas kok ya kebagianjadi pembaca UUD. Kenapa bukan jadi MC atau baca yang lain saja, selain UUD 1945. Tapi akhirnya saya malah menemukan keseruan tersendiri ketika bertugas sebagai pembaca UUD 1945, karena di sana saya bisa ‘mengolah’ intonasi dan memberi ‘jiwa’ di dalamnya. Alhamdulillah sih sejauh ini responnya positif dan katanya baru kali ini pembacaan Pembukaan UUD 1945 itu beneran disimak oleh peserta upacara, hahaha… ada-ada saja.

p_20161123_111029

Lomba baca Pembukaan UUD 1945 ini penyelenggaranya adalah Sekretariat Militer Presiden, lombanya pun dilakukan di sana. Setiap satuan kerja diperkenankan untuk mengirimkan maksimal 2 orang wakil peserta. Berhubung yang mendaftar ke saya lebih dari 2 orang, berarti saya harus melakukan seleksi internal meliputi baris berbaris, dan olah vokal. Tidak semua paham peraturan baris berbaris, tidak semua mampu mengolah vokal sehingga memunculkan suara yang terdengar ‘utuh’ dan ‘gagah’ ketika membaca Pembukaan UUD 1945. Singkat cerita, alhamdulillah salah satu peserta yang kami kirimkan meraih juara 3. Merupakan sebuah prestasi yang lumayan bagus, mengingat dia sama sekali belum pernah menjadi petugas upacara, dan butuh sedikit effortuntuk mengolah suaranya yang cenderung cempreng kalau sedang hilang fokus hingga jadi suara yang bulat dan ‘utuh’ :D.

Selesai mengoordinatori lomba pembacaan Pembukaan UUD 1945, lanjut ke lomba menyanyi tunggal. Ada sedikit ‘insiden’ di lomba ini. Setiap satuan kerja hanya diberi alokasi nomor peserta sebanyak 14 nomor, terdiri dari 7 nomor peserta lagu pop,dan 7 nomor peserta lagu dangdut. Sejak awal dibuka, animo peserta lomba menyanyi lagu pop lebih banyak dibandingkan dengan lagu dangdut yang hingga mendekati waktu lomba hanya ‘laku’ 1 nomor saja. Tapi ya sudahlah, daripada tidak ada sama sekali, kan?

Di detik-detik mendekati lomba di mulai, saya mulai mengabsen satu persatu calon peserta. Ternyata ada 1 peserta lagu pop yang hingga mendekati injury time baru kasih kabar kalau dia masih rapat di kementerian lain. Lah, kalau dadakan cari peserta kan agak susah ya, memangnya kita penjual tahu bulat? Setelah ditawarkan ke sana ke mari dan berbuah tidak ada yang berminat ikut lomba, akhirnya ya sudahlah saya akhirnya ikut lomba menggantikan peserta yang mengundurkan diri dadakan tadi. Padahal aslinya saya tidak mau ikut lomba, biar kasih kesempatan buat yang lain. Tapi ya dari pada nomornya mubadzir, akhirnya saya ikutan juga. Tanpa ada waktu latihan, tanpa persiapan apa-apa, saya download saja lagunya Sam Smith dari youtube, lanjut burn ke cd. Oh ya, di babak penyisihan ini para peserta menyanyikan lagu pilihan masing-masing dalam format minus one karaoke.

Saya menyanyi nyaris tanpa beban. Lolos syukur, nggak juga tidak apa-apa, namanya juga lomba menyanyi ala-ala. Walaupun tak dipungkiri saya sempat keder juga melihat kualitas vokal peserta lain yang luar biasa. Ndilalah, pas pengumuman kok saya dan rekan seperjuangan saya dari satuan kerja yang sama dinyatakan masuk final. Itu berarti kami akan tampil dengan iringan live band. Dari beberapa lagu pilihan yang sudah dipilih oleh panitia, saya memilih lagu Keliru, Ruth Sahanaya untuk dinyanyikan ketika final nanti. Bukan apa-apa, sepertinya hanya itu lagu yang paling sesuai dengan vokal saya yang pas-pasan ini dan kebetulan liriknya juga nggak ribet. Saya hanya sempat latihan sekali saja bersama band ketika pengambilan nada dasar, selebihnya hanya sempat mendengarkan lagi dalam perjalanan menuju kantor itu pun di hari H. Doh, Devi!

Ada yang lucu ketika final berlangsung. Ketika semua perwakilan didukung oleh suporter yang super heboh, beda dengan kami berdua yang nyaris tanpa suporter, hihihik. Bukan apa-apa, kebetulan, di hari yang sama dengan penyelenggaraan final lomba menyanyi itu biro saya juga ada gathering ke Puncak, jadilah para peserta gathering sudah sebagian berangkat ke Puncak, dan menyisakan beberapa orang saja yang kebetulan berhalangan ikut. Plus ternyata para penonton di situ tidak tahu mana peserta perwakilan dari Sekretariat Kementerian dan Kedeputian yang lolos masuk final. Kasian amat ya…. ;))

img_20161127_194213

Bagi yang berkenan melihat video lomba nyanyi ala-ala bisa dilihat di sini, pardon my ‘sember’ voicelho ya :D. Singkat cerita, alhamdulillah ada berkahnya juga ternyata, saya dinyatakan sebagai juara 2. Saya sudah siap mau pulang, karena sepertinya tipis harapan bakal menang, karena saya lihat ada peserta lain yang jauh lebih bagus ketimbang saya. Juara 3 saja saya lolos, nggak mungkinlah juara 2 apalagi juara 1, pikir saya. Tapi sekali lagi, rezeki tidak akan tertukar, mungkin tahun ini rezeki saya, ikut lomba nyanyi dadakan, dan jadi juara 2. Semoga jurinya sedang tidak khilaf, dan tidak salah hitung ya…

Kesibukan lainnya sih standar, memandu acara pelantikan pejabat Eselon II, III, dan IV di lingkungan Kementerian Sekretariat Negara, dan sempat juga memandu acara ‘dadakan’ di Pengukuhan Dewan Pengurus KORPRI Kementerian Sekretariat Negara yang bertepatan dengan peringatan HUT KORPRI Ke-45 yang jatuh pada tanggal 29 November 2016. Ya sebenarnya acaranya sendiri sih tidak dadakan, request ngemsinya yang dadakan. Sepertinya kita harus selalu siap untuk acara-acara dadakan deh. Eh, adakah yang ikut upacara di Monas? Saya sih kebagian sidak bersama teman-teman Biro SDM lainnya, hihihik. Ternyata sidak itu bikin gempor kaki ya 😐

Kesibukan berikutnya apa? Masih ada 2 agenda acara lainnya yang sedang menunggu di tanggal 4 Desember dan 6 Desember 2016. Tanggal 4 Desember 2016 saya akan memandu acara puncak HUT KORPRI ke-45 di lingkungan Kemensetneg dan Setkab, sedangkan tanggal 6 Desember 2016 saya dipercaya memandu acara kerja sama antara Dharma Wanita Persatuan Kementerian Sekretariat Negara, Komisi Pemberantasan Korupsi, Australia Indonesia Partnership for Justice (AIPJ), dan The Australian Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) dalam penyelenggaraan acara “Saya Perempuan Anti Korupsi”. Sebuah acara yang pernah saya ikuti juga beberapa waktu lalu di Hotel Sari Pan Pacific. Harapan saya selalu sama, semoga acara yang saya pandu semuanya berjalan lancar.

Hmm, sepertinya sih yang di depan mata baru 2 acara itu saja sih, entah ke depannya nanti ada acara apa lagi selain upacara dan pelantikan tentu saja.

Jadi, begitulah beberapa kesibukan saya beberapa waktu ini, mohon dimaklumi kalau jarang up date. Toh sepertinya kalau blog abal-abal ini banyak sarang laba-labanya juga kayanya sudah biasa ya, alasannya pun klasik dan klise, hihihik…

Selamat berakhir pekan, kawan! Have a good day!

 

Continue Reading

Tentang Memandu Acara di Rumah Mantan Kepala Negara

20161217_225821

 

Pada suatu malam, ketika saya hampir lelap menemani Alea tidur, smartphone saya berbunyi. Dari layar terbaca nomor salah satu kepala bagian di Biro Umum.

“Ya, Pak…”
“Devi lagi di mana?”
“Di rumah, Pak. Mau kelonan sama Alea, hehehe. Kenapa, Pak? Ada yang bisa kubantu?”
“Ya ada dong. Masa saya nelepon kamu malam-malam nggak ada yang bisa kamu bantu, hehehe. Besok ngemsi di rumah Pak SBY, ya…”

Glek! Kantuk saya mendadak lenyap.

“Oh.. acara apaan, Pak?”
“Serah terima rumah dari negara ke mantan Presiden. Acaranya besok jam 09.00 di Mega Kuningan ya.”
“Rundown-nya, Pak?”
“Abis ini aku kirim. Ok, ya Dev. Jangan lupa lho ya, besok jam 9 pagi…”
“Ok, siap, Pak!”

Setelah telepon ditutup saya panik sendiri. Ini sudah hampir pukul 9 malam, dan dapat telepon mendadak untuk acara besok pagi yang pastinya bukan acara ‘biasa-biasa’ saja, dan tidak mungkin saya mengemsi tanpa persiapan matang, sekalipun acaranya semi formal.

Dari hasil koordinasi yang saya lakukan malam itu dengan 2 orang pejabat dari Biro Umum belum sepenuhnya fix karena mereka pun masih dalam koordinasi dengan Kepala Biro Umum dan keluarga Cikeas. Tapi dari gambaran rundown secara kasarannya sih memang acaranya memang tidak terlalu formal. Setidaknya saya masih ada gambaran bentuk acaranya seperti apa.

Serah terima rumah tersebut sedianya akan dilakukan langsung oleh Mensesneg, namun ternyata di hari yang sama ternyata Mensesneg berhalangan hadir karena di waktu yang sama juga harus mendampingi Presiden di acara lainnya, sehingga penyerahan kunci dan berkas-berkas lainnya diwakili oleh Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara, Bapak Setya Utama.

Selama ini saya lebih banyak dipercaya untuk memandu acara-acara di kantor; seperti pelantikan, acara-acara sosialisasi, focus group discussion, hari ulang tahun KORPRI, dan sesekali memandu acara di luar kantor secara freelance. Jadi, meskipun saya bekerja di lingkungan yang sangat dekat dengan istana, dan sekalipun Sekretariat Presiden itu berada di bawah koordinasi Kementerian Sekretariat Negara, tapi berhubung saya bukan ditempatkan di lingkungan Sekretariat Presiden jelas perintah untuk memandu acara di rumah Pak SBY ini menjadi pengalaman pertama bagi saya.

Keesokan harinya, tanggal 26 Oktober 2016, saya berangkat bersama teman-teman Biro Umum. Alhamdulillah, jalanan menuju ke arah Mega Kuningan tidak terlalu padat, mungkin karena kami berangkat dari jalanan yang berlawanan arah dengan jalur kemacetan.

Tak lama, kami pun sampai di Mega Kuningan Timur VII, Jakarta Selatan; tepat di belakang Kedutaan Besar Qatar. Dari jauh nampak sebuah rumah megah bergaya modern kontemporer. Terdiri dari bangunan dua lantai, dindingnya berwarna kombinasi cokelat tua, krem dan hitam. Sebuah tiang bendera beserta bendera merah putih berkibar di depan rumah tersebut. Rumah tersebut sekilas sudah rapi, walaupun masih perlu finishing touch di sana sini. Tampak beberapa mobil sudah berjajar rapi. Sepertinya memang beberapa tamu dan undangan sudah ada yang hadir lebih dulu. Sementara tuan rumah, Bapak SBY beserta keluarga masih dalam perjalanan dari Cikeas menuju Jakarta.

Sesampai di tempat acara saya langsung mencari lokasi tempat acara akan berlangsung, sengaja tidak banyak berkeliling dan foto sebagaimana yang dilakukan rekan-rekan yang lain. Selain memang agak ramai, saya prefer menyiapkan diri saja. Ya kan saya belum tahu medannya bagaimana, hadirinnya seperti apa, dan acaranya nanti berjalan seperti apa. Masa ya mau pecicilan duluan, segala sudut difotoin. Oke, ini pasti pencitraan, sok nggak mau foto-foto. Padahal aslinya gatel pengen pepotoan. Ya, kan? Nganu, saya mengandalkan fotografernya Bapak aja. Masa iya sih MC-nya nggak difoto, hihihik.

Tak lama, saya melihat rombongan keluarga Bapak SBY memasuki halaman dan mulai menyalami satu persatu tamu yang hadir, termasuk saya. Oh, ikut disalami ya? Ya iya tho ya, kan saya ada di situ, dekat sama mikropon. Masa iya saya dianggap tumpeng?

20161217_225951

Sekitar pukul 10 acara baru dimulai karena masih harus menunggu Mas Agus sekeluarga hadir di acara tersebut. Mas Agus, Mbak Anissa, dan Aira langsung bergabung dengan kami setelah ngobrol beberapa jenak dengan para tamu dan undangan yang hadir.

Acara pun dimulai. Saya memandu acara seperti biasa saya memandu acara di kantor. Walaupun kali ini ditambah dengan sedikit efek deg-degannya, alhamdulillah semua berjalan lancar hingga akhir acara; potong tumpeng, dan ramah tamah (menikmati hidangan bersama-sama). Dari acara ini harapan saya sederhana saja, semoga saya tidak mengecewakan ya, Pak/Bu.

Sungguh sebuah kehormatan bagi saya yang (jujur) level ngemsinya masih abal-abal ini dipercaya untuk memandu acara di kediaman seorang mantan presiden. Semoga acara ini menjadisalah satu pemacu semangat saya untuk bisa lebih meningkatkan kompetensi, profesionalisme, dan kemampuan saya di dalam hal memandu acara ya, aamiin…

 

foto: pribadi

Continue Reading
1 2 3 15