Yakin Mau Jadi PNS?

 

“Keluarkan gadget kalian, dan coba tuliskan apa cita-cita kalian ketika masih SMA!”

Serentak, para CPNS yang sedang mengikuti kegiatan on boarding mengikuti perintah menteri mereka. Cita-cita semasa SMA dituliskan pada sebuah situs yang bisa diakses dari gawai masing-masing. Tak berapa lama, cita-cita itu tampil di layar proyektor lengkap dengan angka persentase. Hasilnya sedikit mencengangkan. Di antara sekian banyak bidang pekerjaan, PNS mendapat persentase paling besar.

Saya bertanya dalam hati, apakah jawaban mereka jujur atau hanya karena ditanya oleh seorang menteri? Apa iya, daya tarik PNS sebesar itu bagi kalangan remaja usia sekolah menengah sekarang? Apa benar, PNS menjadi pekerjaan impian millenials yang sedang —jika kata ini boleh dipakai secara longgar— idealis-idealisnya?

Entahlah.

Sedikit flashback ke masa SMA, saya sama sekali tidak pernah bercita-cita menjadi PNS. Terbersit pun tidak. Saya justru ingin berkarier sebagai bankir, public relation, atau psikolog. Walaupun akhirnya takdir berkata lain.

Tren memang bisa berubah kapan saja. Pekerjaan yang dulu diidolakan, bisa saja menjadi paling sedikit peminatnya. Sebaliknya, pekerjaan yang dulu dianggap remeh, justru menjadi karier impian anak muda.

***

Sejak terlibat sebagai panitia rekrutmen, saya jadi lebih paham karakter millenials ini. CPNS zaman sekarang tak bisa lagi diberi kurikulum pembekalan yang sama dengan angkatan sebelumnya. Era mereka berbeda jauh dengan generasi-generasi sebelumnya termasuk aneka problematika dan drama yang menyertainya.

Ada beberapa pengalaman unik mengenai CPNS millenials ini. Obrolan saya bersama Aji, misalnya. Sebelumnya, ia pernah menjadi karyawan di beberapa perusahaan swasta dengan core business berbeda-beda. Pekerjaan terakhirnya bahkan menjadi pengemudi angkutan online.

Long story short, sehari setelah menjalani program on boarding, ia mengirimkan pesan singkat melalui Whatsapp. Aji mengisyaratkan ketidaksanggupannya. Menjadi PNS menurutnya melelahkan, ditambah lagi jam kerja yang berantakan. Kalau boleh, ia ingin mengajukan mutasi ke daerah. Atau, kalau tidak boleh, lebih baik mengundurkan diri.

Selama saya menangani rekrutmen, rasanya baru kali ini ada CPNS yang belum sempat mendapat penugasan apa-apa, sudah mengeluhkan (bakal) pekerjaan. Ia galau setelah mendengar cerita dari senior-seniornya. Itulah yang membulatkan tekadnya untuk mundur.

Keesokan harinya, Aji minta izin bertemu. Mungkin supaya ngobrolnya lebih enak. Sebagai seorang kakak angkatan yang lebih dulu berkecimpung di dunia per-PNS-an, saya berbagi pengalaman sebisa saya. Saya berikan contoh-contoh umum dan sederhana sambil sesekali memberi motivasi dan semangat.

Saya berusaha membuka pikirannya bahwa pekerjaan apa pun pasti punya risiko. Ada enak dan enggaknya. Baik pegawai pemerintah maupun pekerja di sektor swasta, baik kantoran maupun freelancer. Harapan saya dari sharing session itu sederhana, ia mempertimbangkan ulang rencana pengunduran diri dan kembali fokus menjalani masa probation.

Rupanya obrolan dengan para senior di unit kerjanya merasuki otaknya lebih dalam ketimbang obrolan dengan saya. Sepanjang obrolan berlangsung, beberapa kali Aji menanyakan hal yang sama: apa saja syarat mutasi ke daerah, atau bagaimana prosedur pengunduran diri, alih-alih memperbaiki niat untuk kembali bekerja.

Alasan lain, Aji ingin menjaga ibunya di kampung halaman.

Lo, kalau memang niat awalnya ingin fokus merawat orang tua, kenapa sejak awal tidak mendaftar CPNS pemerintah daerah atau kementerian/lembaga yang memiliki kantor lebih dekat dengan domisili? Bukan kementerian/lembaga pusat yang sudah pasti bekerja di Jakarta?

Ia menambahkan passion-nya bukan di bidang pelayanan, apalagi keprotokolan. Aji lebih tertarik menjadi guru SD ketimbang petugas protokol. Ia mengaku tidak sanggup pulang larut malam, dinas ke luar kota atau luar negeri setiap hari, sehingga tak ada waktu berkumpul dengan keluarga. Omong-omong, ia belum berkeluarga. Usianya pun masih 25 tahun.

Kalau memang bercita-cita menjadi guru, kenapa tidak melamar formasi di Kemendikbud?

Ia menuturkan, rekrutmen CPNS tahun lalu tidak ada formasi di kementerian lain yang sesuai latar belakang pendidikannya. Ia lulusan D-3 Komunikasi.

Saya penasaran dengan semua alasan yang ia kemukakan, apa sih motivasinya melamar sebagai petugas protokol selain latar belakang pendidikan?

“Ya, karena dalam bayangan saya, jadi petugas protokol itu keren, Mbak…”

Duh!

Alasan lain yang tak kalah nggak nyambung adalah “saya juganggak menguasai public speaking”. Omong-omong, petugas protokol itu tidak pernah disyaratkan menguasai public speaking, lo! Justru seorang gurulah yang wajib punya skill public speaking.

“Ya, tapi kan cuma ngomong ke anak SD ini, Mbak. Lebih gampanglah. Beda kelas public speaking-nya dengan ke orang dewasa”, kilahnya.

Saya gemas meski akhirnya memaklumi. Apa pun itu, bagaimana pun itu, kalau pada dasarnya sudah tidak mau, enggan, tidak suka, alasan bisa dicari. Tak peduli logis atau tidak.

Beberapa CPNS lain yang sempat mengajukan surat pengunduran diri juga membuat alasan yang kurang masuk akal seperti ingin berkarier di swasta. Lo, kalau memang ingin kerja di swasta, kenapa ikut seleksi CPNS?

Ada juga yang beralasan akan mengikuti calon suami yang akan ditugaskan ke luar daerah. Eh, gimana? Calon suami? Calon?

Alasan yang tak kalah ajaib, seorang CPNS menyesal ikut seleksi karena sama saja membuka peluang korupsi. Menurutnya, PNS rentan dengan penyelewengan uang negara. Dia tak mau menjadi bagian penyelewengan itu.

Soal penyelewengan dan korupsi, sebenarnya, siapa saja berpeluang tanpa melihat status PNS atau karyawan swasta. Semua sejatinya tergantung iman, niat, kesempatan, dan kerja sama tim. Kalau memang ada niat, kesempatan bisa dicari, kerja sama bisa diupayakan, penyelewengan mungkin terjadi. Dan lagi, jika memang korupsi itu mudah, tentu banyak yang sudah kaya raya sejak masih CPNS.

***

Konon, millenials adalah generasi digital. Mereka lahir dan tumbuh besar dengan mengakrabi teknologi informasi. Jadi, kenapa sebelum melamar sebuah formasi pekerjaan, tidak googling dulu untuk mencari informasi? Setidaknya, supaya memiliki gambaran bagaimana bentuk, ritme, dan hal-hal teknis lain tentang formasi pekerjaan yang ingin dilamar.

Sebagai tambahan informasi, ketika seorang CPNS mengundurkan diri sebelum pemberkasan, panitia masih berhak mengajukan pengganti. Peserta dengan urutan satu tingkat di bawahnya masih punya peluang dimintakan Nomor Induk Pegawai (NIP) ke Badan Kepegawaian Negara. Namun, jika CPNS mundur setelah NIP jadi, formasi yang ia tinggalkan otomatis kosong sampai ada seleksi CPNS berikutnya. Itu pun kalau tak ada moratorium.

PNS memang tak selamanya enak. Ada kalanya mengalami hari sibuk penuh meeting seharian (baik internal maupun eksternal). Pulang larut malam karena deadline atau ada pekerjaan yang mendesak harus diselesaikan. Ada juga yang karena rumahnya jauh, pulang kemalaman, ia harus menginap di kantor. Pun tak sedikit yang terpaksa ngantor di hari libur karena tumpukan pekerjaan tak mungkin selesai di hari kerja.

Menjadi karyawan swasta pun saya kira sama. Bahkan pressure, standar, maupun target kerja di swasta bisa jadi lebih berat. Perusahaan dapat men-terminate-kan karyawan sewaktu-waktu karena performanya tak sesuai dengan harapan perusahaan. Sementara PNS, pemberhentiannya tidak semudah membalik telapak tangan karena rigiditas berbagai peraturan.

Tentu semua tergantung jenis pekerjaan dan unit kerja masing-masing. Tak semua atau setiap hari harus begitu juga. Intinya, pekerjaan apa pun pasti butuh kekuatan mental dan stamina. Itu yang belum tentu dimiliki oleh semua orang.

Ada baiknya pertimbangkan baik-baik sebelum melamar sebuah pekerjaan, sebijaksana mungkin. Termasuk memilih CPNS. Jangan melamar karena tren semata atau sekadar memenuhi permintaan keluarga. Setiap orang berhak menentukan masa depan karena diri sendirilah yang akan menjalani. Jika merasa enggan atau sangsi, lebih baik tidak mengikuti seleksi sejak awal.

Pilihlah pekerjaan yang sesuai bakat dan minat sehingga dapat bekerja dengan gembira, potensi diri jauh lebih tergali, dan karier berkembang maksimal. Kebanyakan orang berpikir, kesuksesan di tempat kerja akan membuat mereka bahagia. Padahal, saya yakin yang benar justru sebaliknya: kebahagiaan terhadap pekerjaanlah yang mengantar kita pada kesuksesan. Esensi sebuah pekerjaan sesungguhnya adalah ketika pekerjaan itu memberi nyawa bagi yang menjalani.

Jadi, yakin masih mau jadi PNS?

 

Continue Reading

Di Balik Topeng Media Sosial

media sosial

Media sosial adalah ruang pamer dan pintu gerbang yang sangat luas. Namun, media sosial juga ibarat pisau bermata dua. Ia dapat menjadi sahabat penuh manfaat atau musuh terjahat.

Bagi yang mampu mengelola akun media sosial dengan baik, dunia maya bisa jadi panggung yang menguntungkan. Semua orang bisa menjadi idola tanpa harus bersusah payah memopulerkan diri, mengikuti audisi, ataujob interview. Jika beruntung, panggung mereka bahkan bisa ditonton oleh banyak orang. Bonusnya, uang, barang, paket liburan, dan lainnya akan mengikuti.

Meski begitu, tak semua orang antusias memiliki akun media sosial. Rico, misalnya. Karyawan swasta di bilangan Sudirman ini memilih tidak bermain media sosial apa pun. Meski setiap platform media sosial memberi hak bagi pemilik akun untuk mengendalikan jenis informasi yang bisa dilihat oleh orang lain, tetap saja pria usia 30 tahun itu tidak tertarik.

“Aku nggak mau media sosial memperbudak hidupku, tukas lelaki berkacamata itu, orang akan selalu terpancing mengunggah apa pun yang diminta oleh media sosial. Misalnya, Facebook dengan whats on your mind-nya, Twitter dengan whats happening-nya, atau Instagram yang meminta kita mengunggah foto ini itu, disertai dengan caption tertentu.”

Berbeda dengan Anindita, mahasiswa yang pernah memiliki akun di sejumlah platform media sosial ini berkomentar, “Sebenarnya, bermain sosmed itu asyik-asyik saja selama nggak sampai kecanduan. Dulu, aku punya teman yang sangat eksis di sosmed. Awalnya sih dia menikmati popularitas itu. Tapi semakin dia dikenal orang, semakin dia dianggap baik, pintar, bijaksana, dan menyenangkan, semakin dia terjebak dalam pencitraan yang melelahkan.”

Kata-kata mutiara memang banyak bertebaran di media sosial, atau kalimat-kalimat bijak dan inspiratif yang dapat memotivasi orang lain. Anindita berpendapat, ketika seseorang terlalu sempurna di media sosial, yang terlihat justru bukanlah dirinya sendiri melainkan sebuah citra atau avatar.

“Sebagai manusia, kita pasti punya sisi baik dan buruk, kan? Dia juga manusia biasa yang bisa capek, sebel, galau, dan ngomel-ngomel juga kalau lagi marah. Sampai akhirnya dia sadar, jenuh dengan semua pencitraan yang dibangunnya itu. Ada kerinduan menjadi diri sendiri”, tuturnya.

2015 lalu, kasus serupa terjadi pada selebgram remaja asal Australia, Essena Oneill. Ia bisa dikatakan memiliki segalanya, terutama dari hasil mempromosikan/mereviewproduk di Youtube atau Instagram. Namun, Essena yang memiliki 1 juta pengikut di Instagram, 265.000 pengikut di Youtube, dan 60.000 pengikut di Snapchat itu mengaku segenap popularitas dan barang-barangbranded yang dia miliki ternyata tak membuat bahagia.

Dia pun memutuskan berhenti dari ingar bingar media sosial dan kembali menjadi diri sendiri. Essena berterus terang kepada para fans tentang kisah di balik setiap fotonya. Foto-foto sempurna itu sejatinya hasil bidikan beratus-ratus kali dengan pengeditan super lama. Hal itu tentu saja menuai pro dan kontra.

Puncaknya 27 Oktober 2015, dia menghapus lebih dari 2.000 foto di Instagram sebagai upaya melawan delusi dan adiksi terhadap media sosial. Keputusan itu diambil karena Essena merasa hidupnya selama ini terlalu dikonsumsi oleh media sosial. Dia seolah hanya hidup dalam guliran linimasa dunia dua dimensi.

Sama seperti para social media influencer lain, mudah bagi Essena untuk memperolehfollowers baru, atau mendapat likesdi setiap foto yang dia unggah. Namun, pada akhirnya, sesuatu yang mampu membuatnya bahagia adalah ketika dia bisa menginspirasi orang lain untuk membuat perubahan positif atas hidup. Bukan sekadar mendorong mereka membeli barang-barang baru sebagaimana yang diaendorse.

“Di Instagram ga ada orang miskin. Di Twitter ga ada orang bodoh. Di Path ga ada orang susah. Di Facebook semua punya temen. Di hati, kosong”, kata akun @radenrauf di Twitter. Kalimat tersebut seolah mewakili pemikiran banyak warganet. Saat tulisan ini dibuat, cuitan tersebut telah di-retweet 1800 kali.

Foto-foto yang ditampilkan di Instagram memang bukan foto yang biasa saja. Semua tampak sempurna dan istimewa. Yang tak pernah kita tahu di balik foto-foto itu adalah bagaimana kehidupan pemilik foto yang sebenarnya. Sama halnya dengan orang-orang yang berusaha menginspirasi dan memberi semangat kepada orang lain. Di saat yang sama, bisa saja mereka sendiri sedang butuh pencerahan, inspirasi, atau suntikan semangat.

Dan sebaliknya, orang-orang yang hidup biasa saja, dengan penampilan yang datar-datar saja, boleh jadi justru pemilik kebahagiaan yang seutuhnya: ikatan yang kuat dengan keluarga dan realitas sosial, serta menjadi diri sendiri tanpa sibuk berpura-pura menjadi seseorang yang berbeda.

Sekalipun sangat mudah menciptakan kesan hidup yang ideal melalui berbagai aplikasi dan filter yang impresif, bukan berarti media sosial bisa dijadikan tolok ukur kebahagiaan seseorang, pengakuan atas sesuatu hal, atau mendefinisikan penggunanya.

Tujuan media sosial sejatinya, selain sebagai alat untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri, adalah sebagaisneak peek. Penggalan hidup sang pengguna yang dapat menjadi indikator kepribadian pun status sosial ekonomi. Media sosial dapat menjadi salah satu bagian daripersonal branding yang sayang jika tidak dimanfaatkan sama sekali di era yang makin kompetitif ini. Bagi orang-orang berjiwa enterpreneur, publisitas danexposure memiliki peran yang sangat bagus jika dimaksimalkan.

Citra media dapat menjadi bahan makanan bagi ego manusia. Itulah mengapa terlalu mendalami peran dalam sandiwara pencitraan hanya demi mendulang jumlahfollowers, likes, serta comments/pujian yang sebenarnya tidak nyata, bisa berbahaya bagi kesehatan jiwa. Ada saatnya kita akan letih berpura-pura dan ingin tampil apa adanya.

Sebelum nafsu dan emosi mengambil kendali atas ujung jari dan mengunggah sisi rapuh dari diri kita, akal sehat harus menghentikannya agar harga diri tetap terjaga. Karena di antara ketenaran dan kemurnian, sesungguhnya cuma bersekat tipis.

 

 

tulisan yang sama juga di-publish di Birokreasi

 

ilustrasi dipinjam dari sini

 

Continue Reading

Serupa Tapi Tak Sama

Beberapa tahun yang lalu saya pernah mengulas sebuah iklan susu pertumbuhan anak yang penggarapannya sangat matang dan serius untuk ukuran sebuah iklan susu. Bukan hanya dilihat dari pemilihan talent-nya saja yang serius, tapi juga scoring, voice over, tone, diksi yang digunakan, penggunaan black margin yang memberi efek big screen, dan segala aspek kreatif di dalamnya yang dikerjakan di level top-notch. Hasilnya, iklan tersebut bukan hanya jadi sekadar iklan produk susu semata, tapi juga iklan yang menuai banyak pujian dan menjadi sebuah karya sinematografi yang memanjakan mata dan telinga.

Di awal kemunculannya, banyak yang mengagumi konsep advertensi tersebut, walaupun ternyata iklan susu itu memiliki kemiripan konsep dengan iklan lainnya. Ya, saat itu saya sedang mengulas iklan susu Nutrilon: Life is an Adventure yang dari konsep scoring dan voice over-nya kurang lebih mirip iklan Levi’s: Go Forth – Braddox, PA . Ya sudahlah, anggap saja salah satu menginspirasi lainnya. Tapi buat saya, hingga saat ini, iklan Nutrilon itu masih juara di kelas iklan produk sejenis.

Di penghujung taun 2017 ini juga ada sebuah advertensi susu pertumbuhan anak yang membuat saya tak kalah terkesan. Memang tampilannya tidak semegah Nutrilon, tapi sejak awal kemunculannya, iklan ini sanggup membuat air mata saya menggenang.

Dancow, dalam iklan terbarunya menyajikan sebuah konsep iklan yang bukan saja ringan, tapi juga dibungkus dalam kemasan yang apik, menyentuh, and hit you right in the feels. Mengusung tagline Serupa Tapi Tak Sama“, Dancow mengajak kita melihat bahwa di balik dua hal yang sepintas sama, namun sejatinya berbeda.

Entah kenapa saya merasa tersentil melihat iklan susu Dancow ini. Tanpa sadar, kita, para orang tua pernah memperlakukan anak sebagai ‘the mini me’, bukan sebagai pribadi unik yang memiliki karakteristik berbeda dengan kedua orang tuanya. Sekalipun secara genetik memiliki kesamaan.

Sebagai orang tua, kita sering mengharapkan anak-anak memiliki minat dan bakat yang sama seperti kita. Memproyeksikan kelebihan, kekurangan, cita-cita, kekhawatiran, bahkan kecemasan kita kepada anak-anak. Bagi kita, mereka seolah cerminan kita di masa kecil yang hadir di masa kini, sehingga berhak kita ‘ubah’ dan ‘perbaiki’ menjadi seperti apa yang kita mau. Karena di alam bawah sadar, kita melihat anak- anak adalah sosok ‘the mini me’.

Jujur, saya pun pernah berpikir seperti itu. Saya pernah berharap kelak putri saya (Alea, 3.5 tahun) memiliki bakat dan kesukaan yang sama dengan saya. Suka berkesenian, menulis, dan hal lainnya yang ‘saya banget’. Saya pun ternyata tanpa sadar sudah memproyeksikan diri saya ke dalam diri Alea.

Tapi semakin ke sini, saya sadar bahwa Alea bukanlah saya dalam versi balita. Dia berbeda, walaupun secara fisik pasti memiliki beberapa persamaan dengan saya dan papanya.

Anak-anak memang mewarisi kombinasi sifat dari orang tua mereka, tapi sejatinya mereka individu yang unique dan terpisah. Semakin dini kita menyadari, mengenali, dan memahami hal ini, akan semakin mudah kita menerima mereka apa adanya; who they really are.

Kurang bijak rasanya kalau kita masihkeukeuh membanding-bandingkan zaman, apalagi memaksakan konsep “ini lho yang bener!“, “kamu tuh harusnya begini, kaya Mama dulu!”, dan konsep kebenaran lainnya menurut versi kita kepada anak-anak. Bukan hanya karena merekaunique, tapi juga karena mereka tumbuh berkembang di zaman yang berbeda dengan zaman kedua orang tuanya dulu.

Tanpa mengabaikan fungsi kontrol, selama apa yang dilakukan, diinginkan, dan dicita-citakan oleh anak itu positif, sebagai orang tua, kita tinggal mendukung dan mengarahkan saja.

Semoga kami berdua bisa jadi orang tua yang baik dan asik buat kamu ya, Alea! 😀

PS: ini bukan tulisan berbayar lho, tapi murni menulis karena memang terinspirasi dari beberapa advertensi yang saya sebut di atas 😉

 

 

Continue Reading

Dignity and Respect

what-i-know-dignity-and-respect

Pada suatu sore menjelang pulang kantor, sebuah pesan singkat muncul di gawai saya. Dari seorang teman yang kebetulan membatalkan janji temu dengan saya dan beberapa teman lainnya dengan alasan kesibukan kantor.

“Dear, sori ya, gue kayanya nggak bisa gabung lagi nih, hiks. Kerjaan gue aja belum kelar sampai jam segini, kuatir nggak keburu kalau gue harus maksain ketemuan sama kalian. Jam 5 aja gue masih ada agenda meeting sama BoD. Sori banget, ya. Kalian tahu kan gimana kerjaan budak korporat kaya gue? Next time gue bakal usahain buat kumpul sama kalian yaa… Selamat ngumpul-ngumpul ya, kalian. Miss you all… “

Ketika membaca pesan singkat itu, entah kenapa, ada sedikit perasaan kurang nyaman. Semacam ada penggunaan istilah yang kurang pas di hati.

Sampai sekarang saya masih sering mendengar teman/kerabat yang membahasakan dirinya sebagai ‘kacung kampret’, ‘kuli kantor’, budak korporat, dan sebutan sejenis lainnya sebagai penggambaran betapa berat/sibuknya pekerjaan yang mereka lakukan; semacam penggambaran adanya ‘kesamaan’ beban pekerjaan yang mereka lakukan dengan kuli kasar. Bedanya, berhubung mereka adalah orang kantoran, maka sebutannya kuli kantor.

Kita pasti pernah ada di sebuah kondisi harus membatalkan sebuah janji temu karena memang sedang sibuk di kantor, lembur, atau ada urgent matters yang berhubungan dengan pekerjaan. Kenapa tidak bilang saja apa adanya, tanpa harus membubuhkan embel-embel, “ya namanya juga kacung kampret, mana bisa menikmati liburan dan kumpul-kumpul kaya kalian”, atau “ya beginilah nasib budak korporat, dijalanin aja…”

‘Sehina’ apapun pekerjaan kita, seremeh apapun pekerjaan yang kita lakukan, atau untuk menggambarkan betapa rumit dan ruwetnya detail pekerjaan yang kita lakukan sehingga hanya kita yang dianggap sanggup melakukan itu, atau kasarannya tidak ada orang yang mau ada di posisi kita; apapun itu, hargai. Di luar sana ada banyak sekali orang yang belum mendapatkan pekerjaan, dan mungkin saja menganggap kalau pekerjaan kita itu jauh lebih baik, lebih enak, lebih menyenangkan dari pada pekerjaan mereka.

Dulu, orang tua saya pernah bilang begini, “kita akan menjadi apa yang kita pikirkan, apa yang kita ucapkan. Jadi, hati-hati kalau bicara, karena ucapan itu sama saja dengan doa”. Nasihat itulah yang masih saya pegang hingga sekarang.

Sugesti positif itu juga saya terapkan dengan cara berpakaian. Walaupun semua kembali lagi ke soal pilihan, apakah kita lebih suka berpakaian rapi, atau asal-asalan, saya pribadi lebih suka berpenampilan rapi dan pantas. Rapi dan pantas itu tidak harus mahal, lho. Cukup berbusana sesuai dengan tempat, acara, dan kebutuhan. Sepele ya, tapi sesungguhnya cara berbusana kita itu merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain, lho.

Mungkin ini cuma soal kebiasaan, karena semua berawal dari lingkungan. Terlahir dalam sebuah keluarga yang dalam beberapa hal masih memegang teguh ajaran Jawa dengan segala pernak- perniknya, salah satu ajaran yang masih diterapkan di keluarga saya adalah “ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana”. Ungkapan itu memiliki makna bahwa bahwa berharganya diri kita berasal dari ucapan (lidah) kita, sedangkan berharganya badan (raga) kita dillihat dari bagaimana cara kita berbusana.

Gambaran ungkapan ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana tersebut mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang kita pakai, penampilan kita, tutur kata kita, serta ucapan-ucapan kita pasti akan menimbulkan reaksi timbal balik penghargaan/sikap orang lain kepada kita.

Contoh paling sederhana adalah tahu kapan harus menggunakan sepatu/sandal selama di kantor. Selama di kantor, selama jam kerja, saya berusaha konsisten menggunakan sepatu, bukan sandal. Apalagi ketika menerima tamu (baik pegawai dari kantor sendiri maupun dari luar), karena ada juga teman yang membedakan kapan ‘boleh-boleh saja’ pakai sandal selama itu pegawai kantor sendiri (dengan alasan, “ah, udah kenal ini”), dan kapan harus pakai sepatu (karena tamunya dari luar instansi). Mungkin saya satu-satunya orang yang paling sebal ketika ada teman yang menerima tamu dengan hanya menggunakan sandal jepit. Bukan mau sok idealis ya, apa yang saya sebutkan di atas, bukan berarti sama sekali kita tidak boleh pakai sandal selama di kantor, silakan saja menggunakan sandal ketika akan ke kamar kecil, atau akan wudhu/shalat. Tapi apakah tidak akan lebih baik ketika sedang di kantor ya gunakan sepatu sebagaimana mestinya, bukan sandal. Tamu saja kalau mau berkunjung ke kantor kita mereka berusaha tampil rapi/pantas, masa iya kita sebagai tuan rumah menerima mereka asal-asalan? Di mana bentuk penghargaan kita kepada orang lain, padahal mereka sebisa mungkin berusaha menghargai kita sebagai tuan rumah?

Last but not least, mulai belajar menghargai diri sendiri sebelum menghargai orang lain, yuk! Mulai mengurangi juga penggunaan julukan ‘kacung kampret’, ‘budak korporat’, ‘kuli kantor’, atau sebutan negatif lainnya kepada diri sendiri atau orang lain.

Be grateful that we actually have a decent job; something to be proud of. If we don’t have dignity, then what are we?

 

 

 

picture source: here

Continue Reading

Tentang Terima Kasih

thank you
Dalam beberapa hal yang saya selalu tekankan kepada putri saya adalah jangan lupa untuk bilang salam, tolong, maaf, dan terima kasih ke orang lain, sama seperti ajaran kedua orangtua saya kepada saya dan kedua adik saya. Belajar untuk menekan gengsi sih tepatnya.

Putri saya memang baru berusia 3 tahun, tapi keempat kata tadi sudah saya usahakan untuk familiar sejak dini, karena saya sadar, bahwa semakin modern pergaulan manusia, empat kata itu bukan tidak mungkin akan tergerus oleh gaya hidup yang (mungkin) akan jauh dari adab dan sopan santun.

Utamanya pada kata terima kasih, yang intinya merupakan bentuk apresiasi kita kepada orang lain. Pada dasarnya orang suka merasa dihargai, begitu juga sebaliknya, dia juga berusaha agar orang lain pun merasa dihargai. Vice versa, ketika kita menghargai orang lain, maka hal yang sama akan mereka lakukan kepada kita, karena segala kebaikan sesungguhnya akan kembali kepada kita, sekecil apapun bentuk kebaikan itu. Some things work nicely that way.

Saya percaya bahwa dengan menciptakan siklus niat baik akan membuat orang lebih bersedia melakukan sesuatu untuk kita lagi di masa depan. Semacam karmic energy; what goes around comes around.

Seperti halnya ketika ucapan terima kasih itu saya terapkan kepada putri saya, sekali pun itu cuma karena dia sudah membantu saya mengambilkan tissue, membuang sampah ke tempatnya, membereskan mainannya sendiri, atau sekadar mencium dan memeluk saya sepulang kerja. Balasan yang saya terima kadang bisa jauh lebih indah daripada yang sudah saya ucapkan, “sama-sama, Mama. I love you…” Manis, bukan?

Terima kasih adalah salah satu hal yang paling sering saya ucapkan baik secara lisan maupun tulisan, kepada siapapun yang saya merasa telah membantu saya. Jangankan kepada yang benar-benar membantu, kepada teman yang telah meluangkan waktu untuk bertemu di sela kesibukannya saja, saya pasti bilang terima kasih, baik itu di menjelang waktu berpisah atau ketika sudah berpisah. Biasanya kalau sudah berpisah, saya akan mengirim pesan sekadar buat bilang, “terima kasih ya kumpul-kumpulnya…”, atau “terima kasih ya buat makan siangnya…”,atau “terima kasih ya sudah nyempetin ketemu, padahal aku tahu kamu/kalian pasti lagi sibuk banget..”, semacam itu. Bahkan kepada abang ojek online/taksi sekali pun, biasanya, setelah memberikan arahan ke mana atau lewat mana via sms/telepon, hal yang selalu saya ucapkan di akhir kalimat/pesan adalah, “terima kasih.”, begitu juga ketika mereka telah selesai mengantar saya.

MYXJ_20170826194141_save

Contoh kecil lainnya, ketika di kasir setelah menyelesaikan pembayaran/transaksi, atau kepada pramusaji di tempat makan, yang saya lakukan adalah bilang, “terima kasih ya, Mbak/Mas…”. Untuk apa? Ya untuk pelayanan, waktu, dan attitude saat mereka melayani saya, karena saya sadar bahwa begitulah sesungguhnya manusia ingin diperlakukan.

Melupakan atau mengabaikan ucapan terima kasih itu tidak hanya akan membuat kita terlihat buruk/kasar/tidak tahu diri di mata orang lain, tapi juga mengganggu perasaan dan pikiran orang lain. Jadi seberapa penting dan sibuknya kita, jangan pernah lupakan untuk bilang terima kasih kepada siapapun yang telah membantu, walaupun itu cuma hal kecil yang telah mereka lakukan untuk kita.

Mengapa ucapan terima kasih itu sangat penting? Mengapa kita jadi begitu terluka dan kecewa saat ada pihak yang tidak berterima kasih kepada kita? Bukankah itu cuma hal yang sepele, ya?

Saat kita mengucapkan “terima kasih”, itu artinya kita berterima kasih kepada individu karena telah ‘memilih’ untuk melakukan sebuah tugas atau aktivitas (yang kita minta) dengan mengorbankan waktu dan tenaga mereka. Sebaliknya, ketika kita abai, lupa tidak mengucapkan terima kasih kepada seseorang untuk menyelesaikan tugas/aktivitasnya tersebut, pasti ada rasa penyesalan di hati mereka. Pikirnya, “sudah dibantu, kok nggak ada bilang apa-apa, ya? Tahu gitu tadi aku ngerjain yang lain aja, ngapain ada di sini buat bantu-bantu mereka…”

Ucapan ‘terima kasih’ menunjukkan apresiasi dan penghormatan sekaligus indikasi bahwa kita peduli. Itulah sebabnya mengucapkan terima kasih itu penting buat orang lain. Dengan membuat orang lain merasa penting dan dihargai, sama saja kita telah mencerahkan hari seseorang dengan cara yang paling sederhana namun efektif.

Jadi, ucapan ‘terima kasih’ ternyata memiliki sebuah kekuatan yang ajaib. Sama halnya dengan kata ‘maaf’ dan ‘tolong’, yang walau terlihat seperti kata-kata ‘begitu doang’, tapi nyatanya mereka bekerja seperti sebuah shorthand yang bisa mengubah segalanya menjadi jauh lebih baik.

Terima kasih, juga bukan melulu berhubungan dengan materi. Seperti misalnya, ketika saya diminta untuk memandu sebuah acara, yang saya pikirkan pertama kali adalah, bagaimana acara itu berjalan dengan baik, lancar, dan sebisa mungkin minim kesalahan. Apalagi jika yang hadir adalah para pejabat tinggi, undangan dari instansi lain, atau pejabat lainnya setingkat menteri. Ketika acara berjalan dengan baik, lancar, dan sesuai dengan yang diharapkan, itu sudah memberikan kepuasan dan kelegaan tersendiri buat saya. Kalau misal ternyata pascatugas ada uang jasa/materi, buat saya itu adalah bonus. Kasarannya, kalau ada ya saya terima, kalau tidak ada pun tidak apa-apa.

Kadang saya suka iseng mikir, ada untungnya juga terbiasa bekerja secara probono, jadi yang ada dalam mindset saya adalah semua acara yang saya pandu sesungguhnya merupakan ajang latihan sekaligus penambah jam terbang/pengalaman. Intinya, selama bisa saya bantu, akan saya lakukan, dan sebisa mungkin saya maksimalkan. Tapi jika memang tidak bisa, atau kebetulan di luar kapasitas saya, saya pasti akan bilang, atau saya tangguhkan. Bagi saya saya profesionalisme itu bukan melulu diukur dari seberapa besar uang jasa yang saya terima, tapi
seberapa puas pihak yang menggunakan jasa saya, karena kepuasan user itu nilainya bisa lebih besar dari uang jasa yang saya terima.

Sejatinya kita adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain, dan tidak bisa hidup sendiri. Ucapan terima kasih itu adalah bagian dari etiket dan sopan santun dalam hidup sehari-hari, yang bisa dilakukan kapan saja, tidak perlu usaha berlebihan, dan gratis.

Percayalah, ketika kita terbiasa mengucapkan terima kasih atas hal-hal kecil yang sudah dilakukan orang lain dalam hidup kita, akan ada hal-hal lebih besar lainnya yang akan mengikuti. Memang tidak akan terjadi dalam sehari semalam. Tapi dengan memperhatikan hal-hal kecil semacam itu, kita akan menjadi lebih peka terhadap langkah-langkah kecil yang mengarah pada hal-hal yang lebih besar.

Sebagai manusia kita dikaruniai kepekaan untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang pantas diucapkan dan mana yang tidak. Dan, salah satu cara agar kita dihargai oleh orang lain ya dari bagaimana cara kita menghargai orang lain.

Jadi, jangan pernah lupa mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang telah meluangkan waktu untuk membantu kita. Soal ikhlas atau tidak mereka membantu kita, biarkan itu jadi urusan mereka. Tapi ucapan terima kasih punya kekuatan mengubah mindset seseorang, bantuan yang tadinya tidak ikhlas bisa berubah jadi ikhlas, dan bantuan yang sudah ikhlas bisa jauh lebih ikhlas lagi.

“We must find time to stop and thank the people who make a difference in our lives”
– John F. Kennedy –

Buat kalian, terima kasih ya sudah membaca endapan pikiran dan emosi semi kontemplasi ini. Selamat berakhir pekan bersama orang-orang tercinta, ya…

 

picture source:Pinterest

Continue Reading
1 2 3 22