Egosystem itu Bernama Social Media

vintage-social-networking

“When little people are overwhelmed by big emotions, it’s our job to share our calm, not to join their chaos”
– L.R. Knost –

Sekian minggu lalu ranah sosial media diramaikan dengan bahasan selebgram bernama Karin Novilda alias Awkarin. Ketika bahasan tentang Pokemon sedang menjadi topik hangat, mendadak linimasa twitter saya ramai membahas Awkarin. Saya yang bukan pemerhati seleb sosial media langsung clueless, apakah Awkarin ini juga sejenis Pokemon?

Telusur punya telusur, ternyata sosok perempuan fotogenic ini sudah lama dikenal sebagai selebritas sosial media yang punya pengaruh kuat bagi para followers-nya. Awkarin juga representasi anak gaul instagram yang selalu memaksimalkan foto-foto di instagramnya sehingga terlihat keren. I have to admit she does it well. Awkarin juga merupakan fenomena generasi swag yang tengah banyak merebak sekarang. Swag? Iya, kalau menurut ‘kamus’-nya Justin Bieber, swag itu “its just about being yourself, you dont have to do anything special, just be yourself.” Jadi intinya menjadi diri sendiri.

Nah, kalau ada istilah ‘swag‘, ada pula istilah ‘swagger‘. Awkarin ini adalah swagger. Swagger artinya sosok yang dominan atau elite karena kelebihan yang dimilikinya. Seseorang menjadi swagger karena dia keren, punya rasa percaya diri yang tinggi, punya selera fashion yang bagus, serta punya karisma bagi para pengikutnya.

Bagi para followers-nya, Awkarin dianggap sebagai sosok anak muda idola, lengkap dengan gaya hidup yang free spirited, rebellious, gaya busana yang selalu up date, dan gayanya yang edgy (forefront of a trend; experimental or avant-garde), dan seterusnya, dan seterusnya (ngomong-ngomong soal gaya yang edgy, saya lebih setuju dengan gaya edgy-nya Evita Nuh). Oh ya, bukan itu saja, gaya pacaran Awkarin yang sedikit bablas pun dimasukkan sebagai bentuk relationship goals oleh para followers-nya. Intinya, segala yang dilakukan Awkarin di kanal sosial media adalah goals-nya anak muda. Jujur, saya merasa trenyuh, semudah itukah anak muda zaman sekarang mengidolakan seseorang hanya karena dia itu gaul, seksi, dan edgy (walaupun akhirnya arti kata edgy ala Awkarin itu akhirnya kabur dengan arti kata cabul)?

Anyway, sosok semacam Awkarin ini cuma ‘puncak gunung es’; di luar sana ada banyak sosok sejenis yang punya gaya hidup kurang lebih sama, hanya saja belum/tidak terekspos jadi viral di dunia maya. Apa yang terjadi dengan Awkarin juga bukan hal yang sama sekali baru. Di zaman saya remaja dulu, orang-orang semacam Awkarin ini sudah ada. Anak-anak gaul di masanya, dengan gaya pacaran yang bablas, penggunaan bahasa yang kasar dan ‘kurang beradab’, drama patah hati sampai ingin bunuh diri, dan seterusnya. Bedanya, zaman dulu belum ada sosial media sehingga tidak ada ajang untuk eksis dan pamer (termasuk memamerkan kebodohan sebagai anak muda). Bayangkan, kalau dari dulu sudah ada sosial media seperti sekarang, dan misalnya kita juga sama hebohnya dengan Awkarin, mengunggah segala macam aktivitas di sosial media, ada berapa banyak jejak-jejak kebodohan kehebohan dan aib yang sudah saya, kalian, atau kita umbar dengan ‘bangga’ di sosial media tanpa memikirkan efek yang akan timbul di masa depan. Karena perlu diingat bahwa sekali saja kita mengunggah sesuatu di ranah maya, dia akan selamanya ada. A cloud is not a thing of the sky anymore, its a place where we store data. Apa pun yang ada di online, akan permanen berada di situ, selamanya tidak akan hilang.

social-media1

Sosial media, lagi-lagi seperti pernah saya tulis di beberapa postingan sebelum ini, adalah pisau bermata dua; dia dapat menjadi sahabat penuh manfaat tapi juga bisa jadi musuh terjahat. Karena social media, selain sebagai media untuk mengekspresikan diri, juga berfungsi sebagai sneak peek atau penggalan hidup sang pengguna, di mana hal itu dapat menjadi indikator kepribadian, juga status sosial ekonominya.

Bagi anak muda zaman sekarang menjadi kaya dan terkenal secara instan menjadi salah satu tujuan membuat akun sosial media. Maka tak heran kalau anak-anak muda seusia Awkarin memiliki banyak akun sosial media. Beruntung bagi yang mampu mengelola akun sosial medianya dengan baik, menjadi selebriti di dunia maya bisa jadi panggung yang menguntungkan, karena tanpa harus bersusah payah mempopulerkan diri, mengikuti audisi, atau job interview, panggung mereka bisa ditonton oleh banyak orang dan dihadiahi dengan uang, barang, atau paket liburan, kurang lebih seperti Awkarin ini. Tapi bagi yang kurang bijak, ya sama seperti Awkarin juga efeknya, bukan hanya jadi viral, tapi juga jadi bulan-bulanan, dan hujatan oleh para netizen.

Segala label, pujian, embel-embel edgy, keren, gaul, itu punya masa kedaluwarsa. Akan ada saatnya kita menjalani hidup yang jauh lebih serius ketimbang mengejar popularitas, karena sesungguhnya label sosial media yang tersemat itu tidak pernah nyata. Seiring waktu, yang kita butuhkan akan jauh lebih complicated dari sekadar pelabelan, karena masa depan membutuhkan eksistensi kita secara lebih real. Time will fly so fast and those will be all gone.

Sesungguhnya dunia digital dan pernak-perniknya adalah hamparan luas bagi pembelajaran dan hiburan, pun halnya dengan sosial media yang bisa kita ibaratkan seperti mall yang tak terbatas. Di mall yang tak terbatas inilah anak-anak (muda) rentan terkena berbagai risiko, seperti cyber bullying, kecanduan teknologi, konten pornografi, kekerasan, radikalisasi, penipuan, dan pencurian data, yang semua itu akibat dari minimnya awareness.

Tapi kalau kita semena-mena menyalahkan sosial media kok rasanya kurang fair ya. Seperti ketika kasus Awkarin ini mengemuka, satu hal yang berputar dalam pikiran saya adalah ke mana ya orang tuanya? Atau, sebenarnya seberapa dekatkah hubungan Awkarin dengan keluarganya? Karena tidak semua orang salah gaul hanya karena kebanyakan bermain sosial media. Saya percaya bahwa pilar utama dan sumber pendidikan moral adalah keluarga. Jadi, sudah benar-benar hadirkah sosok orang tua dan keluarga Awkarin dalam kehidupan sehari-hari gadis belia ini? Tapi sebelum menghakimi, marilah pertanyaan itu juga kita hadirkan dalam perenungan kita sebagai orang tua atau orang yang sudah lebih dewasa secara usia, sikap, dan pemikiran.

Ada banyak orang tua yang masih memberlakukan pola pengasuhan yang sama persis, plek-ketiplek dengan masanya dulu. “Ah, dulu zaman Mama masih muda nggak ada tuh yang begini-begini”. “Harusnya kamu bisa kaya Mama waktu masih muda dulu, begini, begini, begini…”. Tanpa sadar, orang tua juga membandingkan masa muda mereka dengan anak-anaknya sekarang. Padahal jelas-jelas mereka hidup di zaman dan lingkungan generasi yang berbeda; yang secara otomatis pasti berbeda pula perlakuannya. Sebagai orang tua, kita wajib menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman di mana anak-anak kita tumbuh. Ada skill, kecerdasan, dan ilmu baru yang mau tidak mau harus kita kuasai sebagai orang tua anak zaman sekarang.

Sebagai orang tua yang tumbuh bersama para generasi Z dan generasi Alpha, yang konon adalah para generasi digital, ada baiknya perlu kita tekankan sejak dini kepada anak-anak, bahwa sekalipun teknologi dan sosial media itu bermanfaat, tetap harus ada kontrol diri untuk tetap menjaga privasi di ranah maya. Sejak dini mulai belajar memilah mana saja konten yang perlu/boleh diunggah, dan mana saja yang tidak perlu. Jangan biarkan anak kita menggali kuburnya sendiri di sosial media.

Most of all, selalu ada hal positif yang bisa kita ambil dari setiap kejadian. Selama ini kita mungkin sudah dianggap level mahir dalam bermain sosial media, tapi apakah kita sudah bijak menggunakannya? Mahir saja kalau tidak bijak juga percuma. Kalau saja kasus Awkarin ini tidak mengemuka, mungkin saja mata kita belum terbuka tentang pentingnya kehati-hatian dalam menggunakan sosial media, mungkin saja kita menganggap pergaulan anak-anak kita aman-aman saja, atau menganggap bahwa anak-anak kita sudah tercukupi kebutuhannya secara material tanpa tahu apakah secara afeksi dan perhatian mereka sudah merasa tercukupi, dan berbagai pertanyaan koreksi diri lainnya.

Semoga kita dan anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang bukan hanya melek secara teknologi dan mahir menggunakan sosial media, tapi juga bijak dalam memanfaatkan dunia digital dan berbagai afiliasinya.

 

 

sumber ilustrasi: wronghands1

Continue Reading

Tentang Demo Angkutan Umum Itu

Selasa (22/03/2016) lalu, di Jakarta terjadi demo para pengemudi angkutan umum secara besar-besaran. Isu demo ini saya dengar juga dari pengemudi taksi Express yang saya tumpangi menuju arah pulang kantor sehari sebelumnya.

Sebagai pengguna harian berbagai sarana transportasi massal (kecuali kereta api), saya lumayan agak mikir juga, kira-kira pas ngantor besok saya naik apa, ya? Setiap harinya, kalau kebetulan suami nggak bawa motor ya saya berangkat naik taksi atau pesan ojek online untuk mengantar saya ke kantor. Pun demikian halnya ketika pulang. Sejak adanya ojek online saya lebih sering memesan ojek via aplikasi ketimbang naik armada lainnya. Dulu, sebelum ada ojek online saya memilih naik Transjakarta, atau kalau sedang malas jalan ke halte Harmoni/Monas, pulang agak telat, atau sedang hujan deras, saya pilih praktisnya saja, naik taksi.

Penggunaan berbagai alat transportasi berbasis aplikasi online sejauh ini sebenarnya sangat memudahkan konsumen. Ngomong-ngomong, dulu sebelum ada Gojek, Uber, Grab, dll, saya adalah pengguna setia aplikasi online-nya Bluebird. Mengingat saya dulu tinggal di rumah mertua yang ‘nun jauh di sana’; maksudnya jauh dari jalan raya gitu. Jadi kalau mau mau pesan taksi saya prefer menggunakan aplikasi, ketimbang telepon ke callcentre, atau jalan ke depan gang. Selain itu pesan via aplikasi bisa dipantau sudah sampai mana taksinya, nyasar/enggak, dan bisa ditelepon kalau memang drivernya kebingungan cari alamat kita. Jadi intinya sih penggunaan teknologi yang bisa dimanfaatkan secara online oleh konsumen itu sudah ada dari sebelum ada Gojek, Uber, Grab, dll. Cuma mungkin belum maksimal, belum banyak yang familiar, dan belum banyak yang install. Mungkin, ya.

Sempat ngobrol juga dengan pengemudi taksi yang saya tumpangi kemarin sambil menunggu kemacetan di bilangan Semanggi terurai,

+ “Emang kalau pada demo semua, perusahaan nggak rugi, Pak?”
– “Ya kan perusahaan yang nyuruh, Mbak. Ya mungkin mereka sudah paham konsekuensinya apa…”
+ “Emang yang demo pada dapat apaan?”
– “Ya paling makan siang sama minum doang, Mbak”
+ “Boleh nggak kalau nggak ikut, atau semua harus ikut demo?”
– “Harus, Mbak. Kalau ada yang narik ya penumpangnya harus diturunin…”
+ “Wah, tega dong, ya? Kalau ternyata isinya ibu-ibu bawa bayi/anak kecil gimana, Pak? Nekat diturunin juga?”
– “Ya kan sudah ada kesepakatan sebelumnya kalau memang besok nggak boleh ada yang naikin penumpang. Besok juga rencananya mau ada sweeping mobil Xenia dan Avanza, Mbak. Kan kebanyakan taksi online pada pakai armada itu.”
+ “Emang demo yang sebelumnya belum ada solusinya apaan gitu?”
– “Belum, Mbak. Makanya masih pada mau demo. Solusi dari menterinya juga ya gitulah, ngambang nggak jelas gitu. Besok itu rencananya demo besar-besaran tapi ya udah itu demo terakhir, nggak akan ada demo-demoan supir taksi lagi…”
+ “Ooo… “

Saya pun manggut-manggut sambil tetap mikir, besok saya ke kantor naik apa ya? Bisa sih naik motor bareng suami, tapi dianya kasihan, bakal muter-muter. Kantor saya di sekitaran Monas, lha suami di Sudirman, arah baliknya ke Sudirman yang lewat Kanisius itu yang suka bikin BT macetnya. Tapi ya sudahlah, urgent ini. Sekali-kali ribet nggak apa-apalah…

Ndilalah Senin malam saya harus mengantar Alea ke RS Medistra lantaran demam tinggi hampir 40 derajat celcius. Walaupun keesokan harinya suhu badan Alea sudah turun tetap saja saya harus stand by, kalau-kalau suhu badannya naik lagi. Padahal hari itu saya sudah diagendakan oleh Biro Keuangan untuk memandu acara sosialisasi tentang SPT Tahunan Pajak Penghasilan, dan pagi itu pun saya sudah siap mau setrika baju kerja, tapi ya sudahlah, demi anak, saya pun batalkan jadwal ngemsi saya, bagaimana pun kondisi kesehatan anak jauh lebih penting. Beruntung ada cadangan MC yang bersedia menggantikan saya hari itu.

Kembali lagi ke demo supir taksi, dalam hati saya merasa bersyukur tidak jadi ngantor hari itu. Ribuan sopir taksi Indonesia telah membawa kemacetan luar biasa di jalanan protokol ibu kota dalam aksi protes terhadap Uber dan aplikasi angkutan umum online. Bukan itu saja, suasana demo juga terpantau chaos, dan anarkis. Inti demo hari Selasa kemarin adalah permintaan penutupan layanan transportasi berbasis aplikasi untuk beroperasi di Indonesia karena dianggap ikut berkontribusi dalam menyebabkan penurunan pendapatan bagi perusahaan angkutan umum konvensional.

Entahlah, saya juga tidak bisa berkomentar jauh tentang aksi protes ini. Yang terbayang dalam pikiran saya, dari demo kemarin, IMHO, kalau memang dianggap berbenturan dengan peraturan, ya seharusnya bisa dong dibikin peraturan untuk layanan transportasi berbasis aplikasi online ini, bikin rule-nya. Jadi solusinya bukan asal langsung cabut atau larang. Dengan adanya poliferasi (pertambahan secara cepat) jasa transportasi berbasis online ini emang sudah waktunya pemerintah membuat batasan regulasi, aturan main yang jelas agar mereka tetap terlindungi secara hukum dan tidak melanggar undang-undang.

Just my two cents.

Selamat ber-long weekend, teman!

Continue Reading

Ngumpul tanpa gadget?

Beberapa waktu yang lalu ada seorang teman yang memosting gambar ini di grup bbm teman-teman SMA. Teman-teman di grup langsung membahas ‘tantangan’ itu dan akan menerapkannya kalau nanti kami reuni.

kumpul tanpa gadget

Sepertinya lumayan seru ya kalau ada tantangan no gadget selama berkumpul bersama teman/keluarga, karena melihat kebiasaan selama ini yang terlihat adalah secara fisik kita ada dalam sebuah ruangan, situasi, dan acara yang sama, tapi mata, jari, dan konsentrasi kita terfokus di layar gadget masing-masing.

Bahkan saya pernah ada dalam sebuah meet up di salah satu kedai kopi bersama dengan beberapa teman, secara fisik kami memang ada di satu ruangan, tapi kami justru sibuk saling mention di twitter dan cekikikan sendiri membaca respon demi respon yang muncul di layar handphone masing-masing. Nah, lho. Lalu esensi kumpul-kumpulnya di mana?

Sekarang saya sudah sangat jauh lebih rileks dengan gadget saya. Dulu, suami saya sempat jengkel banget dengan kebiasaan saya yang terlalu sibuk dengan gadget. Tangan saya hampir tidak pernah lepas dari smartphone. Di kantor sudah internetan, di rumah pun masih bersambung. Alhasil ancaman pembuangan gadget pun pernah terjadi, hiks :(. Kebiasaan saya sibuk dengan gadget itu baru jeda ketika gadget itu rusak dan harus diservis di dealer resminya selama hampir satu bulan lamanya. Tapi toh ketika gadget saya sudah sembuh, saya kembali disibukkan dengan komunikasi di social media. Hadeuh, Devi! *self keplak!*

Tapi untungnya semakin ke sini akhirnya saya insyaf bahwa ada hal-hal yang lebih precious dibandingkan dengan hanya sibuk menekuri layar gadget saja. Saya sekarang sudah bisa merasa jengah ketika di tengah kumpul-kumpul bersama keluarga/teman ternyata mereka sibuk dengan gadget-nya; seolah-olah saya tidak ada di situ. Obrolan yang nyangkut sekenanya, tanggapan yang ada pun cuma ala kadarnya. Bete? Banget! :p

Adanya perubahan fungsi gadget dari yang awalnya hanya untuk berkomunikasi dan berubah jadi bagian dari gaya hidup itu jadi mendekatkan yang jauh sekaligus menjauhkan yang dekat. Bagaimana tidak, kita bisa ‘dekat’ dengan teman/kerabat yang jauh, namun hubungan dengan orang-orang yang terdekat justru berasa jauh.

Sekitar tahun 2010-2012 saya pernah punya pengalaman dengan seorang teman yang tingkat adiksinya terhadap gadget dan teknologi begitu parah. Kalau untuk kerja sih bisa saya maklumi, tapi ini cuma untuk bergaul di social media. Dia sempat ngomel-ngomel cuma gara-gara tidak bisa login ke YM. Sangat uring-uringan ketika Macbook-nya mendadak hang. Stress lantaran salah satu gadget-nya kecemplung di ember berisi air sehingga mati total. Sampai-sampai, tanpa harus menunggu besok/lusa, malam itu juga dia langsung beli gadget baru. Panik ketika baterai handphone-nya habis tapi dia tidak membawa charger atau tidak sempat nge-charge… *usap peluh*

Penggunaan teknologi dalam porsi yang terkontrol dan wajar itu perlu. Tapi ada baiknya tetap mengingat bahwa di sekitar kita ada orang-orang dan keluarga yang juga butuh kehadiran kita secara nyata; bukan cuma hadir secara fisik, tapi juga konsentrasi dan perhatian yang utuh. Ada banyak hal menarik dan lebih manusiawi untuk dilakukan dalam kehidupan nyata daripada terus menerus berhadapan dengan pendar layar gadget yang menyala, bukan? 😀

Ah ya, saya juga sedang belajar ke arah sana, kok… :mrgreen:

“Better start manage our valuable life with more valuable thing”.

Continue Reading

Fungsi atau Gaya?

Dari dulu saya nggak pernah tergoda banget sama yang namanya meng-update gadget. Kalaupun iya di-update itu butuh waktu tahunan, karena selain dulu harga HP masih terbilang mahal, selain itu juga saya lebih memilih fungsi ketimbang meng-update setiap kali ada yang baru. Gila, emang kita konter HP? ;))

Kalau dulu sekitar tahun 2004 Blackberry (BB) masih sangat eksklusif & hanya kita layani penjualannya untuk pembeli kelas premium & corporate, nggak ada tuh dari kita yang tertarik untuk beli. Ya wajar, karena emang masih mahal ;))  Jadi update-nya masih sebatas Nokia, Ericsson dan teman-temannya.

Pernah dulu waktu booming-boomingnya Nokia 36503660, orang sekantor seragam pakai itu semua. Yang berbeda cuma casing-nya saja, selebihnya sama. Sampai-sampai ringtone dengan nada “dari Telkomsel” yang selalu ada di tiap ending iklan Telkomsel juga jadi ringtone khas kami. Jadi kalau salah satu ada yang bunyi yang pasang ringtone itu pada barengan spontan ambil HP, pada ke-GR-an kali aja HP mereka yang bunyi :)). Nggak kreatif ya? Ya kan waktu itu keren banget pakai ringtone itu, handphone belum banyak yang pakai pula. Ceritanya ngeksis :)). Ya kalau sekarang mah udah basbang (basi banget) kali 🙂

Beda jaman, tentu beda trend. Kalau dulu BB masih jadi benda eksklusif dan mahal, sekarang sudah jadi handphone sejuta umat. Bagaimana  tidak, kalau sekarang hampir semua kalangan, mulai pelajar sampai orang kantoran bisa dilihat di mana-mana menenteng BB. Semuanya sama, yang beda tentu saja “sarung”-nya. Mulai yang terbuat dari silikon (ini yang paling banyak),  sampai yang alumunium.

Sampai ada temen yang bilang gini sama saya  :

Temen : ” Kadang bosen ya, dimana-mana liat orang yang nenteng HP dengan sarung warna-warni itu”
Saya : “Maksudnya BB?”
Temen : “Hyaiyalah, apalagi..”
Saya : “Ya udah, jangan diliatlah.. ;)) “
Teman : “bukan gitu, Dev. Kadang gue suka heran liat masyarakat kita itu sebenernya latah atau gimana ya? Kalau ada trend tertentu kenapa semua langsung heboh pada ikutan? Padahal kadang belum tentu trend itu sesuai sama mereka atau gaya hidup mereka..”
Saya : “bisa jadi selain sebagai trend, BB atau smartphone dianggap mewakili gaya hidup tertentu & bagian dari kebutuhan hidup”
Teman : “jadi, sebenernya BB & smartphone itu bagian gaya hidup atau kebutuhan?”
Saya : “butuh karena menjadi bagian dari gaya hidup” :p

Tak bisa dipungkiri bahwa trend handphone ber-keypad QWERTY telah menjadi idola dan perburuan hampir semua kaum dalam kurun waktu 2 tahun ini. Smartphone kini bukan lagi handphone canggih semata, namun lebih dari itu, sudah menjadi bagian dari kebutuhan hidup utamanya masyarakat perkotaan. Kalau dulu kita melihat smartphone hanya digunakan oleh orang-orang kantoran yang levelnya middle management sampai top management, sekarang semua kalangan bisa pakai. Seiring dengan semakin terjangkaunya harga barang & meningkatnya permintaan pasar.

Kalaupun sekarang saya menggunakan BB bukan karena latah, tapi karena kebetulan dibelikan sama suami sebagai kado :p . Kecuali kalau dulu saya dikasih pilihan handphone lain yang lebih canggih ketimbang BB mungkin saya akan pilih Android atau apalah yang mahalan sekalian. Iya dong, kalau ada yang nawarin ya jangan tanggung-tanggung, yang mahal sekalian >:) . Becanda. Bisa dihajar suami nih kalau sampai beneran iya saya kaya begitu :)). Tar habis beli HP canggih nan mahal, besok-besoknya kita puasa :-s . Ya saya sih lebih bersyukur aja bisa ganti HP setelah Nokia 7610 saya menemani selama hampir 6 tahun nggak ganti-ganti sampai bulukan ;))

Tapi ada salah satu temen yang selain menggunakan BB & juga menggunakan smartphone lain dan sekarang ganti ke Android itu mengaku menggunakan smartphone karena memang butuh. Jadi lebih ke fungsi. Wajar karena memang dia selain orangnya mobile juga tergolong makhluk sibuk. Dalam seminggu jadwal seminar bisa penuh banget. Dia kebetulan pengguna BB sejak jaman BB belum se-booming sekarang. Dulu saya pernah di kasih lihat BB-Bb-nya yang sudah tidak lagi dipakai tapi masih disimpan buat koleksi. Kalau soal itu mungkin sudah beda lagi, bukan lagi soal fungsi tapi juga menjadi bagian dari life style. Sama seperti pena Mont Blanc Meisterstück 149 Fountain Pen dengan mata pena terbuat dari emas 18 karat kapan hari ya? 😉

Di luar itu semua, kalau masalah HP saya lebih memilih fungsi ketimbang ikutan trend. Terbukti HP saya yang sudah almarhum itu bisa awet menemani saya selama beberapa tahun. Selain bandel & tahan banting (karena sudah jatuh beberapa kali) dia juga saya anggap masih bisa mengakomodir kebutuhan saya. Selama masih bisa sms & telepon plus gprs/mms, ya sudah cukup. Toh kesibukan saya juga nggak padat-padat banget, pikir saya waktu itu.

Tapi kalau sekarang sih kebetulan fungsi yang ada di BB itu semuanya menyesuaikan dengan kegiatan saya, misalnya twitteran, buat merekam suara saya & mendongeng untuk kemudian saya posting di sini (padahal baru satu doang), belum buat fb-an dan foto-foto =)). Nggak, nggak, bo’ong deng :^o . Sejak pakai BB justru tagihan saya lebih sedikit ketimbang ketika pakai HP biasa. Kalau dulu tagihan bisa sampai 300 ribuan lebih, sekarang dooong.. 299 ribu! Kyaaa, beda cuma seribu doang =)). Becanda. Lumayan bisa setengahnyalah. Karena kan kalau BB sistem pemakaiannya berlangganan & kita mendapatkan unlimited internet access. Trus kebetulan keluarga di Surabaya juga pakainya BB, jadi untuk komunikasi kita pakai BBM (Blackberry Messenger) yang notabene gratisan. Jadi itu salah satunya, faktor ngirit ;;)

Semakin maraknya penggunaan BB kini bukan hanya sebuah trend tapi sudah menjelma menjadi pelengkap gengsi atau status sosial seseorang. Gengsi kalau dia tidak menggunakan Blackberry meskipun sebenarnya dia gak terlalu butuh dengan fitur-fitur yang ada di Blackberry ini. Belum tentu mengerti cara penggunaannya, bagaimana mengoperasikannya, cara cek email, cara kirim email, chatting di BB dan berbagai fitur lainnya yang ada. Dulu saya pernah bilang, “handphone boleh Blackberry tapi kalau nelpon masih juga pakai CDMA dengan alasan biar murah.. “. Mungkin akan dijawab, “Biar gaya harus tetap cermat dalam hal biaya dong!”.

Agree! :p
Tadi siang ada status temen yang unik, “selamat tinggal trackball, selamat datang touch screen!”. Saya yang kebetulan sudah paham sama tingkah lakunya sahabat yang satu itu ya cuma mesem-mesem aja, sampai akhirnya dia mendadak menyapa saya :

Teman : “yuk kapan kita ketemuan? sekalian mau pamer handphone-ku yang baru nih” —> kyaaa, niat banget ya, ketemuan buat pamer ;)). Tapi dia cuma becanda kok 😉
Saya : “iya deh yang sekarang pakai Android. Yuk, mau kapan ketemuannya? Eh, trus BB-nya kamu kemanain mas? BBM kamu aku hapus nih?
Teman : “Jangan dihapus dulu, nanti aku kabari kalau sudah resmi” —> jaah, pakai diresmikan. Jangan-jangan pakai tumpengan sama gunting pita segala nih ;))
Saya : “oke deh. Trus kenapa kok ganti Android? Apa karena BB sudah jadi handphone sejuta umat ya? 🙂 “
Teman : “iya, BB sekarang sudah nggak ekslusif lagi. Aku nggak mau tiap kemana ditanyain nomer PIN. Akhirnya contact list BBM-ku makin banyak”

Oh, ada lagi nih ternyata. Ganti HP karena nggak mau terlalu banyak dikembarin sama orang. Kurang eksklusif katanya 😉 . Okelah, masing-masing pasti punya alasan tersendiri ya.

Nah, kalau pertimbangan Anda sendiri sebelum memutuskan untuk membeli merk & type HP tertentu biasanya karena apanya sih?

gambar saya pinjam dari sini dan sini

Continue Reading

You've Got Mail !!

 

email_pressureist

 

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membahas tulisan tentang Serafina Ophelia yang dengan lucu, lugu & menggemaskan saat membawakan puisi yang berjudul “Ibu & facebook”. Jadi teringat dengan shoutout seorang teman yang menanyakan :  “seberapa banyak Facebook menyita waktu anda di internet, tuliskan dalam persen”.

Hasilnya  :

* Waah…byk mas! Yg jelas jam tiduuuur…berkurang, Hiks!

* Another survey ! FB is almost take 50% of my 24 hours life…..!!!!

* Wah ud kyk kesurupan niy hehe…

* buka facebook setelah jam kerja , mau pulang masih macet jadi nunggu jalanan lancar , so pulang malem jangan dikira lembur ….he..he..he..

* Loss 20% jam tidur.. but, gain 100% for golden memories.. meureun….
 
* mgkn sktr 80%.. Mw’a c online 24 jam,, tp si laptop kayak’a bisa teriak gara2 kepanasan,, hihihi..
 
* Another survey ! FB is almost take 50% of my 24 hours life…..!!!!

 
Sudah se-addict itukah pada facebook? Sampai-sampai status “being present” tidak lagi penting? Sedikit memprihatinkan ketika perhatian seseorang hanya terfokus pada pendar layar kecil bernama handphone atau komputernya. Saya sendiri tidak munafik, sempat ikut-ikutan demam facebook walau hanya bertahan 2 bulan, setelah itu .. bablas, berasa hambar, karena teman-teman saya di friendster “rehoming” ke facebook semua, teman-teman kantor ketemu lagi di facebook.. Seolah-olah akhirnya dunia hanya selebar situs facebook, hehehehe..  😀
 
 
Padahal, dari apa yang pernah saya baca, berdasarkan survey Hewlett Packard menyebutkan bahwa :
 
” Mereka yang sering teralih perhatiannya karena e-mail mengalami penurunan IQ sebanyak 10 poin – dua kali lebih banyak dari yang dialami pengidap marijuana “
 

WAKKSS.. Yaah, jangan dooong. Masa udah IQ pas-pasan gini masa iya mau mengalami penurunan lagi? 🙁  . Saya sadar, saat perhatian saya terfokus ke internet konsentrasi saya jadi terpecah-pecah ga jelas (maksudnya lebih konsen ke internetnya dibandingkan kerjanya, ha5x  😀 ). Ya memang, tidak sepenuhnya pengaruh internet itu buruk, tidak kita pungkiri bahwa internet juga berperan besar terhadap akses ilmu pengetahuan. Tak heran jika nantinya koranpun akan tergantikan dengan koran online.
 
 
Di era tech-savvy ini, perkembangan internet makin didukung dengan berbagai alat komunikasi canggih macam, Blackberry, I-Phone, PDA, dan sebagainya. Yang sebagian diantaranya memberikan kemudahan akses push mail setiap saat. Hingga menyebabkan ada sebagian orang yang jadi lebih nyaman eksis di dunia maya ketimbang di dunia nyata. Berbeda jauh dengan beberapa tahun lalu saat gadget-gadget canggih belum semenjamur sekarang. Yang mana orang bisa saja “unplugged” dengan internet & semacamnya, melakukan aktivitasnya sehari-hari tanpa adanya ketergantungan terhadap email & internet. Istilahnya : “ga internetan juga gapapa..”.  Tapi sekarang kenapa bisa se-addict ini ya?   😀
 

Jawabannyapun beragam  :

“eranya udah beda, bu. Udah makin canggih. Jadi ya wajarlah..”
 
“jangan salah, ga semua pengaruh internet itu buruk, gue dapet informasi update berita di belahan dunia manapun ya via internet, gue bisa intouch dengan teman-teman di luar negeri ya karena internet, pokoknya internet TOP BANGET.. ”
 
“lu bayangin aja ya, hidup lo ada di jaman batu, dimana lo ga ada teknologi, ngapa-ngapain musti manual, kemana-mana lo musti jalan kaki. Gimana-gimana yang namanya teknologi pasti berkembang. Bisa ngebayangin ga lo? Ga mungkin kita stuck di 1 jaman ituuu mulu. Bisa gila kali gue..”
 
“yaa semua pasti ada jamannyalah say.. It’s all about trend. Dulu jaman chatting via MIRC ya ngiranya MIRC udah paling top markotop, trus ada yang namanya YM, G-talk ya MIRC ga ada apa-apanya. Kaya friendster, dulu boleh paling keren, sekarang.. kagak ada apa-apanya dibanding facebook. HP juga sekarang udah udah must have item.. Lu bakal gak lucu banget ketika lo samasekali ga pegang HP. yang ada juga lu bakal ga tau apa2, orang nyari lu juga susah, kagak bisa dihubungi”
 
dan segudang jawaban lainnya..
 

 
Hmm, lantas apa hubungannya antara , internet, konsentrasi & produktivitas? Pada saat perhatian kita hanya tertuju pada internet, internet, dan internet otomatis fokus kita ke kerjaan (kita ngomongin kerjaaan ya, kalo yang ga ada kerjaan mah terserah lu dah) otomatis akan berkurang, dengan berkurangnya konsentrasi maka akan mengurangi produktifitas kerja, yang ujung-ujungnya mengurangi kinerja karyawan & company profit.. Wohohoho.. jauh sekali kaitan antara internet & profit perusahaan ya? Ya ini saya tuliskan “separah-parahnya”. Syukur-syukur kalau semua bisa lebih aware & sadar diri, bahwa kita kerja buat perusahaan, bukan buat internetan (warning buat saya sendiri juga.. ahahahaha  ).
 
 
Coba bayangkan ketika puluhan tahun silam, saat Albert Einstein, Alexander Graham Bell, Thomas Alfa Edison sudah ada teknologi seperti sekarang, apa iya mereka bisa membuat penemuan-penemuan fenomenal ya? karena menurut apa yang pernah saya baca, manusia bisa bekerja secara efektif & menghasilkan kreatifitas adalah ketika dia berada dalam kondisi sedang tidak diinterupsi & konsentrasi penuh. Lha, kalau sekarang, sedikit-sedikit “ping!!” muncul di layar HP 1 new email, belum ada 5 menit nanti “ping!!” lagi, 1 new email lagi .. begitu seterusnya. Kok jadinya kita yang diperbudak email ya?  kalau ingin mengetahui apakah kita sudah terjangkiti email addict silahkan baca :  email addict
 
 
Ada banyak hal yang bisa kita kerjakan selain hanya berkomunikasi via HP atau PC kita. Ada hal-hal yang jauh lebih membutuhkan perhatian & need a human touch. Ada tugas berpikir, inovasi, analisa, dan tetap menghargai situasi face to face dalam berinteraksi itu yang jauh lebih penting. Seharusnya dengan makin canggihnya teknologi, akan makin memperkaya pengetahuan kita, makin meningkatkan produktifitas & kreatifitas kita, serta memperluas networking kita. Secanggih apapun teknologi itu nantinya, jangan sampai kita yang dikontrol oleh teknologi, tapi kitalah yang mengkontrol penggunaan teknologi..

 

 

 

 

Continue Reading