Kenapa Masih Main Twitter?

Twitter IconSampai dengan saat ini, twitter masih bisa dibilang sebagai media sosial yang efektif, bukan hanya untuk berjejaring, tapi juga berdiskusi, hiburan, hingga mencari lowongan kerja. Tidak seperti Linkedin, Twitter adalah jaringan yang terbuka, di mana kita bisa dengan mudah terhubung dengan seseorang hanya dari apa yang mereka posting di twitter.

Sekitar tahun 2006, zaman Twitter masih baru diluncurkan, belum banyak orang yang berminat punya akun Twitter. Hingga akhirnya, di sekitar tahun 2010, mulailah Twitter diminati. Apapun bisa ditemukan dengan mudah di sini. Bahkan kalau masih ingat, ada banyak sekali gerakan sosial atau komunitas yang lahir di Twitter.

Dalam perkembangannya, Twitter mulai dianggap terlalu ‘riuh’ dan membosankan karena banyak yang menjadikannya sebagai media bagi para ‘mulut api’ yang menyebarkan kebencian, bullying, spam, politik, dan tujuan-tujuan ekonomis lainnya. Twitter pelahan mulai ditinggalkan oleh penggunanya sekitar tahun 2014, di mana saat itu warganet banyak yang mulai beralih ke media sosial baru yaitu Path, yang (konon) lebih eksklusif karena hanya diperuntukkan bagi circle pertemanan yang dekat saja. Tapi tidak sedikit juga warganet yang kembali ke mainan lama mereka yaitu Facebook.

Sama halnya dengan pengguna medsos lainnya, saya memilih tidak terlalu aktif bermedia sosial, dan memilih kembali menulis di blog yang lebih banyak sarang laba-labanya ketimbang postingan barunya. Walau tidak sampai menghapus akun, tapi akun-akun itu sempat telantar selama beberapa waktu.

Jika dilihat secara keseluruhan, Twitter memang tidak banyak berubah, intinya masih sama dengan platform yang diluncurkan pertama kali, sekitar 11 tahun yang lalu. Kita bisa lihat dan bandingkan dengan platform media sosial lainnya yang lebih sering memutakhirkan tampilan, newsfeed, dan fitur-fitur mereka, yang semakin membuka alternatif solusi komunikasi dan berbagi bagi para penggunanya.

Sejak kenal Instagram — yang bagi saya kehadirannya menggantikan salah satu platform media sosial tempat berbagi foto yaitu Posterous — makin ‘terjerumuslah’ saya sebagai jamaah Instagramer, walaupun postingannya jarang ada yang berfaedah, yang feed-nya ngasal, dan hanya sekadar posting saja. Tujuan punya akun Instagram ya sekadar biar kekinian. Iya, saya memang anak yang latah. Kadang-kadang.

Kehadiran Instagram dengan cepat menjadi idola baru pengguna media sosial. Menurut saya sih wajar, karena segala postingan yang mengandung unsur visual itu selalu lebih menarik dibandingkan dengan yang hanya berupa tulisan saja. Seeing is believing, right?

Sampai suatu hari, ketika sedang marak-maraknya Pilkada Jakarta, sekitar bulan April 2017, tangan saya tiba-tiba ‘gatal’ ingin menulis sesuatu di Twitter, buat iseng saja, sekadar buat lucu-lucuan. Tapi siapa sangka kalau ternyata postingan iseng itu justru di-retweet sebanyak 328 kali, dan di-love sebanyak 68 kali. Mengingat saya bukan akun selebtwit yang tidak terbiasa mendapatkan impresi sebanyak itu dari warganet, jelas kaget.

Legowo
Meski penggunanya tidak sebanyak dulu, tapi Twitter masih punya magnet tersendiri sehingga dia tetap dicintai penggunanya. Termasuk saya. Terlepas apakah nantinya kita akan monolog seperti biasa, atau mendapat balasan dari warganet lainnya, buat saya sih tidak ada masalah, toh dari dulu niatan saya membuat akun media sosial selain untuk sharing, juga sebagai media penambah teman, hiburan, dan penambah informasi/pengetahuan.

Meski Twitter adalah media sosial yang postingannya dibatasi oleh jumlah karakter, tapi justru di sanalah segala ide, gagasan, ‘suara’ kita lebih ‘didengar’ oleh warganet. Sekarang kita bukan hanya bisa memposting tulisan saja, tapi juga gambar, video, polls, dan informasi non-text lainnya yang tidak termasuk dalam hitungan 140 karakter. Pengguna Twitter itu adalah orang-orang yang kreatif dalam mengolah kata. Lihat bagaimana cara warganet menyampaikan ide/opini/cerita melalui 140 karakter tapi tetap dimengerti oleh warganet lainnya.

Twitter juga menjadi salah satu media sosial yang penyebaran informasinya paling cepat. Bayangkan, hanya dengan menekan tombol retweet saja, sebuah informasi bisa menjadi viral seketika. Contoh paling mudah, ketika akun @handokotjung mendapatkan 243 replies, 2.280 kali retweet, dan 962 likes ketika dia memposting:

Ayla View
Saya sendiri, selain menggunakan Twitter sebagai sarana untuk ‘nyinyir’ posting status random tak berfaedah, juga sering menggunakannya untuk berbagi info lowongan CPNS. Bahkan dulu ada kejadian yang berkesan buat saya, ketika saya mendampingi para pelamar saat interview user. Sambil menunggu jadwal interview, mereka saya ajak ngobrol. Di tengah obrolan dengan beberapa pelamar, ternyata mereka adalah salah satu follower saya di Twitter, bahkan juga yang pembaca blog saya.

“Kak Devi ini yang suka posting lowongan CPNS di Twitter itu, kan? Saya tahu ada lowongan di Setneg karena baca linimasa Kak Devi. Oh ya, saya juga silent reader-nya blog Kakak lho…”

Ah, senangnya, ternyata postingan saya ada juga yang dianggap berguna bagi warganet, hihihik.

Twitter juga sebagai media yang memungkinkan penggunakan berinteraksi secara langsung, cepat, dan personal dengan akun lainnya. Selain itu, Twitter juga bisa menjadi tempat belajar dan menambah pengetahuan secara gratis. Sebut saja akun @IvanLanin menjadi idola baru saat ini karena beliau memberikan pengajaran dan pengaruh positif bagi warganet tentang bagaimana berbahasa Indonesia yang baik dan benar; disampaikan dengan kalimat efektif yang mudah dipahami. Bukan itu saja, tak jarang beliau yang kelihatannya cool itu bisa membaur menjadi lucu/iseng ketika menjawab pertanyaan jahil para warganet.

Jadi kesimpulannya, jawaban versi saya kenapa saya masih main Twitter, karena merangkum cerita dalam 140 karakter itu selalu menarik untuk dilakukan, dan Twitter masih terlalu seru untuk ditinggalkan begitu saja.

Kalau kalian, kenapa masih mainan Twitter?

Continue Reading

Viral

go-viral

Beberapa waktu ini banyak sekali penggunaan kata ‘viral’ baik itu di media online maupun di kehidupan sehari-hari. Definisi viral kurang lebihnya adalah ‘sesuatu’ yang bisa jadi sangat cepat menjadi populer, seperti sebuah ‘virus’ yang menyebar salinan dirinya atau bermutasi.

‘Sesuatu’ di sini bisa berarti orang, tempat, foto, pikiran, trend, atau bahkan sebuah informasi. Kalau kita bicara tentang social media, viral lebih lekat kepada video, foto, atau cerita yang dimulai dari mereka sendiri, yang kemudian menyebar di semua lini platform social media. Bisa jadi yang awal mulanya cuma berupa status yang ditulis di social media, berhubung banyak yang menyebarluaskan, jadilah dia sebuah status viral. Kalau masih ingat, kita bisa ambil contoh kasus status Dinda yang awalnya cuma bermaksud curhat tentang kekesalannya terhadap para ibu hamil yang (menurut dia) manja karena selalu minta dikasihani dan minta tempat duduk, tapi berhubung status itu dia tuangkan di social media, dan ‘ndilalah’ ada yang me-repath statusnya, maka dengan cepat status itu tersebar, seketika menjadi berita viral, dan Dinda pun menjadi bahan bully-an massal di social media. Dinda dianggap kurang memiliki rasa empati.

Bagaimana dengan trend yang menjadi viral? Apakah kalian pernah menjadi bagian dari trend mannequin challenge, Harlem Shake, atau mungkin bagian dari trend pengunggah video parodi Pen Pinneaple Apple Pen-nya Piko Taro? Kalau iya, kalian adalah bagian dari trend viral itu. Mannequin challenge misalnya, dengan begitu banyaknya orang yang mengikuti trend ini, seolah seluruh dunia menjadi diorama hidup. Walaupun bagi sebagian orang itu konyol, tapi banyak juga yang melakukan itu, karena selain dianggap keren juga bagian dari hal yang kekinian. Padahal, kalau kalian menyadari, mannequin challenge itu sudah pernah dilakukan oleh salah satu artis Indonesia jauh sebelum trend ini mengemuka lho. Tidak percaya? Klik saja videonya Deasy Ratnasari yang berjudul Tenda Biru , hihihik.

Di dalam kehidupan sehari-hari pun kata viral sudah mulai banyak dipergunakan. Bahkan di tempat kerja saya, beberapa pejabat sering menggunakan kata “viralkan!” sebagai kata ganti sebar luaskan informasi kepada pejabat/pegawai lainnya di lingkungan kantor kami.

Di social media, banyak orang yang ingin dikenal banyak orang. Mereka melakukan segala cara untuk bisa terkenal, alias menjadi selebriti online. Wajar, karena menjadi lebih dikenal oleh orang lain adalah salah satu tujuan diciptakannya social media.

Tapi, benarkah semua orang berkeinginan untuk menjadi viral baik di dunia nyata maupun maya? Selama viral itu dalam konteks yang positif mungkin masih masuk akal. Tapi kalau konteksnya sudah negatif, rasanya tidak mungkin ada yang bercita-cita menjadi viral, ya.

Seseorang yang sedang menjadi ‘viral’ negatif di sebuah lingkungan tertentu ada kalanya dia sendiri tidak sadar kalau sedang jadi trending topic di lingkungannya. Mungkin ini lebih didasari karena kekurangpekaan orang tersebut terhadap lingkungan. Sekalipun ada pihak-pihak yang memberikan klarifikasi bahwa tidak sepenuhnya si objek yang menjadi viral itu senegatif yang disangkakan orang lain, tapi tetap akan kalah dengan asumsi yang sudah terlanjur beredar di lingkungan tersebut. Ya, namanya saja viral, virus, penyebarannya bisa sangat cepat, tanpa tahu dari mana asal muasalnya.

Belajar dari pengalaman orang lain (yang sempat jadi viral), kunci supaya kita tidak menjadi viral negatif adalah dengan menjadi lebih peka dengan lingkungan di mana kita berada; more overmenjaga lisan, pikiran, dan perbuatan, itu jauh lebih penting, karena tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Begitu, bukan? Bukaaaan….

Sebagai manusia toh nyatanya kita tidak selalu tahu apa yang ada di diri kita, sekalipun kita kerap mengklaim demikian. Sebagaimana tertera dalam teori 4 kuadran Johari Window yang mencerminkan tingkat keterbukaan seseorang yang dibagi dalam empat kuadran, yaitu open area, blind area, hidden area, dan unknown area. Johari Window ini dikenal sebagai jendela komunikasi melalui mana kita memberi dan menerima informasi tentang diri kita dan orang lain.

Dalam hal berita viral (negatif) singkat saja, area/kuadran ‘blind‘ adalah area paling rapuh dalam diri kita, karena di kuadran ini berisikan apa yang orang lain ketahui tentang kita, tapi tidak kita ketahui. Dengan mengurangi blind area, selain akan meningkatkan kesadaran diri, juga akan meningkatkan hubungan interpersonal kita dengan orang lain.

Lumrah, kalau manusia seringkali tanpa sadar lupa/khilaf, tanpa sengaja telah melakukan hal-hal yang kurang bisa diterima oleh lingkungan tempatnya berada. Beruntung kalau kita cepat sadar, dan segera mengubah perilaku kita, tapi bagaimana kalau ternyata kita terlalu lama ‘pingsannya’, nggak sadar-sadar kalau ternyata selama ini sudah jadi bahan pembicaraan? Harus ada orang yang memberi tahu, karena kita sedang berada di blind area. Tapi bagaimana kalau ternyata walaupun orang lain tahu, tapi mereka segan menegur kita karena (di mata orang lain) kita adalah tipe manusia dengan ‘daya ledak tinggi’, emosian. Jadi dari pada cari masalah mending diamsajalah; malas ribut.

Jadi, tidak ada salahnya mulai berintrospeksi, lebih peka, coba mengubah cara pandang (point of view), dan mulai lebih luwes dalam menerima kritik selama itu membangun. Namanya manusia kan gudangnya luput dan salah ya. Bersyukur jika masih ada hati dan pikiran sehat yang menjadi filter pencari kebenaran yang sesungguhnya. Bersyukur kalau masih ada orang lain yang mau peduli, mengingatkan, bahkan rela menjadi bumper untuk kita, semata-mata karena mereka masih menganggap kita sebagai teman.

Last but not least, mencoba untuk melawan atau mengendalikan materi viral sama saja seperti berperang melawan flu. Kita bisa saja mengambil langkah-langkah untuk mencegah jangan sampai kita terkena flu, tapi sekali saja virus itu telah memasuki aliran darah kita, tidak akan ada yang bisa kita lakukan selain menunggu virus itu keluar dengan sendirinya.

Duh, sore-sore kok serius amat postingannya, ya? Ngopi dulu bisa kali, Kak!
*beberes meja sambil menunggu ojek online*

 

 

sumber ilustrasi dari sini

Continue Reading

Pamer di Sosial Media

sosial-media

Suatu siang, di sudut sebuah rumah makan cepat saji di daerah Pecenongan, saya melewatkan waktu makan siang dengan para sahabat saya. Seperti biasa, obrolan dengan topik random meluncur satu persatu dari mulut kami, kebanyakan sih memang ladies talk selain topik-topik lainnya yang ‘ghibahable’.

Sampai akhirnya salah satu dari kami membuka topik yang sedikit serius. Tentang pamer di sosial media, gara-gara ada salah satu teman mereka yang baru saja meng-instastory-kan bayar DP gedung buat resepsi, hahaha…

Seperti yang kita semua tahu, sosial media itu seperti sebuah show room yang sangat luas di mana kita bisa memamerkan tentang apapun. Mulai status, popularitas, prestasi, gaya hidup, hobi, kehidupan pernikahan/keluarga, bisnis yang sedang dijalankan, tempat hangout/liburan, dan lainnya, karena sosial media salah satunya memang dirancang secara sempurna untuk ‘memanipulasi’ keinginan kita untuk pamer/sharing/berbagi, keinginan untuk diperhatikan oleh orang lain, termasuk sebagai media yang bisa digunakan untuk membenci sesuatu/orang lain secara bersama-sama.

Contoh kecil, ketika seseorang berkesempatan pergi ke suatu tempat, mengunggah foto tempat itu secara online adalah sebagai bukti otentik pengalaman luar biasa yang dunia harus tahu, karena kalau tidak diunggah, sama saja dengan hoax.

Mungkin saja bagi si pemilik akun, apa yang mereka unggah itu bukan bermaksud untuk pamer, cuma ingin berbagi kebahagiaan misalnya, tapi toh nyatanya tidak semua orang bisa menerima maksud dan tujuan pemilik akun, bukan? Apalagi kalau yang diunggah itu mengandung hal-hal yang sensitif bagi orang lain; dan tingkat sensitivitas seseorang terhadap sesuatu pasti berbeda-beda, tergantung melihat dari sudut pandang yang mana.

Contoh lagi, sebuah kencan pertama yang sempurna itu wajib diunggah di sosial media, apalagi kalau pasangan yang kita kencani itu wajahnya memang ‘social media uploadable’, layak dipamerkan di sosial media. Pokoknya unggah saja dulu, soal kualitas dan kepribadian dia bagaimana itu urusan nanti.

Okelah ya, tapi tanpa kita sadari ternyata tidak semua orang suka dengan unggahan kita. Misalnya saja orang-orang yang kebetulan belum memiliki pasangan, unggahan romantis yang muncul di newsfeeds mereka itu sama seperti sebuah ‘reminder‘ kalau mereka belum memiliki pasangan yang bisa dipamerkan ke sosial media, padahal semua orang sudah punya hubungan yang ‘sempurna’ dengan orang lain.

Jujur, dulu ketika saya belum hamil, saya paling sensitif kalau melihat ada teman yang sedang hamil. Kalau cuma hamil saja sih masih bisa saya terima, tapi kalau sudah mulai baca status keluhan selama kehamilan, yang mual, muntah, letih, lesu, dan segala hal yang menyangkut kehamilan, yang seolah-olah itu siksaan banget itu kok berasa lebay gimana ya. Yang namanya hamil pasti akan ada perubahan signifikan di kondisi badan, tapi ya wajar, karena ada janin yang sedang tumbuh berkembang dalam rahim kita. Silakan saja mengabarkan tentang status kehamilan, tapi (menurut saya) tidak perlu sampai ekstrem mengunggah status keluhan selama hamil tiap 5 menit sekali. Percayalah, saat-saat hamil itu justru saat yang paling precious bagi seorang perempuan, dan akan dirindukan ketika sudah lama tidak hamil, jadi ya sudah nikmati saja segala prosesnya, jangan terlalu banyak mengeluh. Bukan berarti jangan mengeluh, sewajarnya saja. Bawel banget ya saya? Hahaha… Tapi itu dulu, ketika saya masih suka sensi-sensian.

Ketika ahamdulillah akhirnya saya pun mendapat rezeki yang sama dari Allah berupa kehamilan yang sehat sampai dengan kelahiran, di situ saya banyak belajar arti menghargai perasaan orang lain. Sekalipun saya merasa amat sangat bahagia karena akhirnya hamil juga setelah menunggu selama lebih dari 5 tahun, tapi kebalikannya, saya justru lebih tertutup di sosial media. Jangankan menulis blog, up date status di gadget dan sosial media pun sengaja saya batasi. Kalau pun iya saya up date status, tidak ada hubungannya sama sekali dengan kehamilan saya. Biarlah mereka tahu dengan sendirinya, tanpa saya harus bereuphoria di sosial media, atau status di gadget saya, mengingat adik saya, beberapa kerabat, serta sahabat saya lainnya juga masih belum dikaruniai momongan hingga saat ini.

Nah, bagaimana dengan pamer lainnya, misalkan baru beli rumah, mobil, bayar DP gedung untuk resepsi, dan lainnya. Ya, di era sosial media, semua sah-sah saja, karena saat ini nilai-nilai yang dianut mayoritas orang memang ketenaran atau pengakuan diri oleh lingkungan sosial. Tidak ada yang salah dengan ketenaran atau sharing tentang sebuah pencapaian saat itu, karena bagi sebagian orang itu bisa memberikan kepuasan psikologi.

“Tapi kan kesel ya, Kak. Kan mereka baru pacaran, masa sudah pamer beli rumah? Biasa aja kali…”

Setiap orang punya motivasi berbeda ketika mengunggah sesuatu ke sosial media mereka. Tinggal kita melihat hal itu dari sudut pandang yang mana. Siapa tahu memang mereka sudah ada rencana akan menikah dalam waktu dekat, jadi ketika ada rezeki lebih, mereka menabungnya dengan cara membeli rumah secara patungan, biar ketika mereka sudah menikah beneran sudah ada rumah yang bisa mereka tempati.

Sosial media memang milik kita, tapi kita jugalah yang harus bijak menggunakannya, karena bagaimana pun sosial media masih memiliki berbagai manfaat di banyak hal, misalnya commerce, pembelajaran, penyebaran informasi, komunikasi, dan pariwisata.

Intinya, jangan sampai tampilan sosial media terlalu mempengaruhi pikiran kita. Ada banyak orang yang foto-fotonya tidak terlalu di-likes oleh banyak orang, atau jumlah followers-nya tidak banyak, tapi justru mereka punya lebih banyak teman yang real di kehidupan nyata. Ada juga pasangan yang jarang mengunggah foto-foto romantis, atau postingan-postingan manis yang menunjukkan betapa besar cinta masing-masing kepada pasangannya, tetapi secara real mereka justru lebih bahagia dari pada yang kita lihat di newsfeeds.

Ada orang yang tidak memamerkan gadget baru dan barang mahal lainnya, tapi ternyata mereka sudah punya rumah sendiri, punya rekening bank yang gendut, dan punya lebih banyak prestasi dalam hidup dibandingkan dengan mereka yang terus-menerus pamer tentang ‘ukuran’ kehidupan yang sempurna ala sosial media.

Inilah mengapa kita tidak harus percaya dengan semua yang kita lihat di sosial media. Kehidupan tiap orang tidak sesempurna yang berusaha mereka tampilkan secara online kok, karena penampilan bisa saja sangat menipu.

Just my two cents…

 

picture source Pinterest

Continue Reading

Egosystem itu Bernama Social Media

vintage-social-networking

“When little people are overwhelmed by big emotions, it’s our job to share our calm, not to join their chaos”
– L.R. Knost –

Sekian minggu lalu ranah sosial media diramaikan dengan bahasan selebgram bernama Karin Novilda alias Awkarin. Ketika bahasan tentang Pokemon sedang menjadi topik hangat, mendadak linimasa twitter saya ramai membahas Awkarin. Saya yang bukan pemerhati seleb sosial media langsung clueless, apakah Awkarin ini juga sejenis Pokemon?

Telusur punya telusur, ternyata sosok perempuan fotogenic ini sudah lama dikenal sebagai selebritas sosial media yang punya pengaruh kuat bagi para followers-nya. Awkarin juga representasi anak gaul instagram yang selalu memaksimalkan foto-foto di instagramnya sehingga terlihat keren. I have to admit she does it well. Awkarin juga merupakan fenomena generasi swag yang tengah banyak merebak sekarang. Swag? Iya, kalau menurut ‘kamus’-nya Justin Bieber, swag itu “its just about being yourself, you dont have to do anything special, just be yourself.” Jadi intinya menjadi diri sendiri.

Nah, kalau ada istilah ‘swag‘, ada pula istilah ‘swagger‘. Awkarin ini adalah swagger. Swagger artinya sosok yang dominan atau elite karena kelebihan yang dimilikinya. Seseorang menjadi swagger karena dia keren, punya rasa percaya diri yang tinggi, punya selera fashion yang bagus, serta punya karisma bagi para pengikutnya.

Bagi para followers-nya, Awkarin dianggap sebagai sosok anak muda idola, lengkap dengan gaya hidup yang free spirited, rebellious, gaya busana yang selalu up date, dan gayanya yang edgy (forefront of a trend; experimental or avant-garde), dan seterusnya, dan seterusnya (ngomong-ngomong soal gaya yang edgy, saya lebih setuju dengan gaya edgy-nya Evita Nuh). Oh ya, bukan itu saja, gaya pacaran Awkarin yang sedikit bablas pun dimasukkan sebagai bentuk relationship goals oleh para followers-nya. Intinya, segala yang dilakukan Awkarin di kanal sosial media adalah goals-nya anak muda. Jujur, saya merasa trenyuh, semudah itukah anak muda zaman sekarang mengidolakan seseorang hanya karena dia itu gaul, seksi, dan edgy (walaupun akhirnya arti kata edgy ala Awkarin itu akhirnya kabur dengan arti kata cabul)?

Anyway, sosok semacam Awkarin ini cuma ‘puncak gunung es’; di luar sana ada banyak sosok sejenis yang punya gaya hidup kurang lebih sama, hanya saja belum/tidak terekspos jadi viral di dunia maya. Apa yang terjadi dengan Awkarin juga bukan hal yang sama sekali baru. Di zaman saya remaja dulu, orang-orang semacam Awkarin ini sudah ada. Anak-anak gaul di masanya, dengan gaya pacaran yang bablas, penggunaan bahasa yang kasar dan ‘kurang beradab’, drama patah hati sampai ingin bunuh diri, dan seterusnya. Bedanya, zaman dulu belum ada sosial media sehingga tidak ada ajang untuk eksis dan pamer (termasuk memamerkan kebodohan sebagai anak muda). Bayangkan, kalau dari dulu sudah ada sosial media seperti sekarang, dan misalnya kita juga sama hebohnya dengan Awkarin, mengunggah segala macam aktivitas di sosial media, ada berapa banyak jejak-jejak kebodohan kehebohan dan aib yang sudah saya, kalian, atau kita umbar dengan ‘bangga’ di sosial media tanpa memikirkan efek yang akan timbul di masa depan. Karena perlu diingat bahwa sekali saja kita mengunggah sesuatu di ranah maya, dia akan selamanya ada. A cloud is not a thing of the sky anymore, its a place where we store data. Apa pun yang ada di online, akan permanen berada di situ, selamanya tidak akan hilang.

social-media1

Sosial media, lagi-lagi seperti pernah saya tulis di beberapa postingan sebelum ini, adalah pisau bermata dua; dia dapat menjadi sahabat penuh manfaat tapi juga bisa jadi musuh terjahat. Karena social media, selain sebagai media untuk mengekspresikan diri, juga berfungsi sebagai sneak peek atau penggalan hidup sang pengguna, di mana hal itu dapat menjadi indikator kepribadian, juga status sosial ekonominya.

Bagi anak muda zaman sekarang menjadi kaya dan terkenal secara instan menjadi salah satu tujuan membuat akun sosial media. Maka tak heran kalau anak-anak muda seusia Awkarin memiliki banyak akun sosial media. Beruntung bagi yang mampu mengelola akun sosial medianya dengan baik, menjadi selebriti di dunia maya bisa jadi panggung yang menguntungkan, karena tanpa harus bersusah payah mempopulerkan diri, mengikuti audisi, atau job interview, panggung mereka bisa ditonton oleh banyak orang dan dihadiahi dengan uang, barang, atau paket liburan, kurang lebih seperti Awkarin ini. Tapi bagi yang kurang bijak, ya sama seperti Awkarin juga efeknya, bukan hanya jadi viral, tapi juga jadi bulan-bulanan, dan hujatan oleh para netizen.

Segala label, pujian, embel-embel edgy, keren, gaul, itu punya masa kedaluwarsa. Akan ada saatnya kita menjalani hidup yang jauh lebih serius ketimbang mengejar popularitas, karena sesungguhnya label sosial media yang tersemat itu tidak pernah nyata. Seiring waktu, yang kita butuhkan akan jauh lebih complicated dari sekadar pelabelan, karena masa depan membutuhkan eksistensi kita secara lebih real. Time will fly so fast and those will be all gone.

Sesungguhnya dunia digital dan pernak-perniknya adalah hamparan luas bagi pembelajaran dan hiburan, pun halnya dengan sosial media yang bisa kita ibaratkan seperti mall yang tak terbatas. Di mall yang tak terbatas inilah anak-anak (muda) rentan terkena berbagai risiko, seperti cyber bullying, kecanduan teknologi, konten pornografi, kekerasan, radikalisasi, penipuan, dan pencurian data, yang semua itu akibat dari minimnya awareness.

Tapi kalau kita semena-mena menyalahkan sosial media kok rasanya kurang fair ya. Seperti ketika kasus Awkarin ini mengemuka, satu hal yang berputar dalam pikiran saya adalah ke mana ya orang tuanya? Atau, sebenarnya seberapa dekatkah hubungan Awkarin dengan keluarganya? Karena tidak semua orang salah gaul hanya karena kebanyakan bermain sosial media. Saya percaya bahwa pilar utama dan sumber pendidikan moral adalah keluarga. Jadi, sudah benar-benar hadirkah sosok orang tua dan keluarga Awkarin dalam kehidupan sehari-hari gadis belia ini? Tapi sebelum menghakimi, marilah pertanyaan itu juga kita hadirkan dalam perenungan kita sebagai orang tua atau orang yang sudah lebih dewasa secara usia, sikap, dan pemikiran.

Ada banyak orang tua yang masih memberlakukan pola pengasuhan yang sama persis, plek-ketiplek dengan masanya dulu. “Ah, dulu zaman Mama masih muda nggak ada tuh yang begini-begini”. “Harusnya kamu bisa kaya Mama waktu masih muda dulu, begini, begini, begini…”. Tanpa sadar, orang tua juga membandingkan masa muda mereka dengan anak-anaknya sekarang. Padahal jelas-jelas mereka hidup di zaman dan lingkungan generasi yang berbeda; yang secara otomatis pasti berbeda pula perlakuannya. Sebagai orang tua, kita wajib menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman di mana anak-anak kita tumbuh. Ada skill, kecerdasan, dan ilmu baru yang mau tidak mau harus kita kuasai sebagai orang tua anak zaman sekarang.

Sebagai orang tua yang tumbuh bersama para generasi Z dan generasi Alpha, yang konon adalah para generasi digital, ada baiknya perlu kita tekankan sejak dini kepada anak-anak, bahwa sekalipun teknologi dan sosial media itu bermanfaat, tetap harus ada kontrol diri untuk tetap menjaga privasi di ranah maya. Sejak dini mulai belajar memilah mana saja konten yang perlu/boleh diunggah, dan mana saja yang tidak perlu. Jangan biarkan anak kita menggali kuburnya sendiri di sosial media.

Most of all, selalu ada hal positif yang bisa kita ambil dari setiap kejadian. Selama ini kita mungkin sudah dianggap level mahir dalam bermain sosial media, tapi apakah kita sudah bijak menggunakannya? Mahir saja kalau tidak bijak juga percuma. Kalau saja kasus Awkarin ini tidak mengemuka, mungkin saja mata kita belum terbuka tentang pentingnya kehati-hatian dalam menggunakan sosial media, mungkin saja kita menganggap pergaulan anak-anak kita aman-aman saja, atau menganggap bahwa anak-anak kita sudah tercukupi kebutuhannya secara material tanpa tahu apakah secara afeksi dan perhatian mereka sudah merasa tercukupi, dan berbagai pertanyaan koreksi diri lainnya.

Semoga kita dan anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang bukan hanya melek secara teknologi dan mahir menggunakan sosial media, tapi juga bijak dalam memanfaatkan dunia digital dan berbagai afiliasinya.

 

 

sumber ilustrasi: wronghands1

Continue Reading

Di Balik Topeng Media Sosial

Media sosial, sebagaimana pernah saya tulis di tahun 2013, yang bertajuk Avatar , ibarat pisau bermata dua; dia dapat menjadi sahabat penuh manfaat tapi juga bisa jadi musuh terjahat. Bagi yang mampu mengelola akun media sosialnya dengan baik, menjadi selebriti di dunia maya bisa jadi ‘panggung’ yang menguntungkan, karena tanpa harus bersusah payah mempopulerkan diri, mengikuti audisi, atau job interview, (jika beruntung) ‘panggung’ mereka bisa ditonton oleh banyak orang dan dihadiahi dengan uang, barang, paket liburan, dll.

Dulu, ketika masih aktif di media sosial, saya memang ikut memanfaatkannya untuk banyak hal. Misalnya berbagi info tentang kegiatan komunitas yang saya ikuti, sharing knowledge, atau menggalang dana untuk misi sosial. Tapi sekarang, saya sudah banyak mengurangi hiruk pikuk di dunia media sosial. Mungkin karena semua ada masanya; mungkin saya orangnya mudah bosan, mungkin juga fokus saya saat ini bukan lagi ke media sosial seperti beberapa tahun yang lalu, tapi lebih ke keluarga, utamanya ke Si Kecil yang sekarang sedang memasuki golden age.

Ada seorang teman yang sengaja tidak bermain di media sosial apapun, alasannya, “gue nggak mau sosmed memperbudak hidup gue…” Lho, bukannya kita tetap bisa mengontrol mau posting apa, dan kapan, ya? Tanya saya. “Iya, tapi tetep aja kan lo memposting hal yang ‘diminta’ sama sosmed. Misal, di facebook, “what’s on your mind”, atau di status twitter, “what’s happening”, di instagram ‘minta’ lo posting caption foto ini itu. Nah, maksud gue tuh kaya gitu itu…” Saya nyengir. Media sosial itu kalau buat saya sih tempat bermain alias playground, tapi pernah ada di suatu masa ketika saya kebanyakan mainan sosial media walaupun tidak sampai mengalami adiksi. Jadi, dengan setengah hati saya terpaksa mengiyakan statement-nya itu.

Jadi ingat kisah Essena O’neill, seorang remaja asal Australia yang juga seorang selebgram. Sebagai seorang selebritas media sosial, hampir segalanya telah dia miliki utamanya dari hasil endorse barang di youtube/instagram. Tapi ternyata Essena yang memiliki ratusan ribu pengikut di Youtube dan Instagram itu mengatakan bahwa segenap popularitas dan barang branded yang dimilikinya belum membuatnya bahagia. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menjadi dirinya sendiri, berterus terang kepada para fansnya tentang kisah yang berada di balik setiap foto-foto yang sempurnanya itu. Puncaknya, pada medio 27 Oktober 2015, ia menghapus lebih dari 2000 foto di instagramnya sebagai upayanya melawan adiksi terhadap sosial media. Keputusan itu diambil karena dia merasa hidupnya selama ini terlalu ‘dikonsumsi’ oleh media sosial, sehingga dia seolah hidup dalam dunia ‘dua dimensi’.

Dia mengakui bahwa sangat mudah baginya untuk memperoleh follower baru di media sosialnya, atau mendapatkan ‘likes’ di setiap foto yang diunggahnya. Tapi sejujurnya, yang mampu membuatnya bahagia adalah ketika dia melihat secara kenyataan bahwa dia menginspirasi orang lain untuk membuat perubahan positif atas hidupnya, bukan cuma mendorong mereka untuk membeli sesuatu yang baru sebagaimana barang yang dia endorse di balik foto-foto yang dia unggah di media sosial.

Ada orang-orang yang tampil di instagram dengan kesempurnaan tertentu dan menjadi ‘standar’ kesempurnaan fisik manusia. Tapi siapa sangka sebenarnya secara hidup mereka tidaklah sebahagia dan secantik yang ditampilkan di media sosial. Sama halnya seperti orang-orang yang berusaha menginspirasi dan memberi semangat ke orang lain, sementara di saat yang sama sebenarnya dia juga sedang butuh pencerahan, inspirasi, dan suntikan semangat. Been there done that. Sebaliknya, ada orang-orang yang berpenampilan biasa saja, tapi mereka justru orang-orang yang bahagia seutuhnya, mereka juga memiliki ikatan yang kuat dengan keluarga dan lingkungan sosial mereka, bahagia menjadi diri mereka sendiri tanpa berpura-pura menjadi seseorang yang berbeda.

Dengan demikian bukan berarti media sosial bisa dijadikan tolok ukur kebahagiaan dan pengakuan, or even worse, pencitraan. Sangat mudah ‘menciptakan’ hidup yang ‘ideal’ melalui filter yang impresif di media sosial. Karena tujuan media sosial selain untuk mengekspresikan diri, juga bisa berfungsi sebagai sneak peek atau penggalan hidup sang pengguna, di mana hal itu dapat menjadi indikator kepribadian, pun status sosial ekonominya.

Di balik itu semua, saya pribadi setuju bahwa media sosial dapat menjadi salah satu bagian dari personal branding dan sangat sayang kalau tidak dimanfaatkan sama sekali di era yang makin kompetitif ini. Bagi orang-orang yang berjiwa enterpreneur, publisitas dan exposure akan mempunyai peran yang sangat bagus jika dimaksimalkan penggunaannya.

Itulah mengapa terlalu mendalami peran dalam sandiwara pencitraan hanya demi berlomba mendulang followers, meraup ‘likes’, serta memancing pujian yang sebenarnya bukanlah kehidupan nyata itu sedikit berbahaya bagi kesehatan jiwa. Akan ada saatnya di mana kita letih berpura-pura dan ingin tampil apa adanya.

Semoga saja sebelum nafsu dan emosi mengambil alih kendali atas ujung jari kita untuk mengunggah sisi rapuh dan kelemahan kita, akal sehatlah yang mampu membantu mengurungkan niat agar harga diri tetap terjaga. Karena sesungguhnya fame dan pure itu cuma beda tipis.

Just my two cents.

Continue Reading