“Dia bisa apa, sih?”

Labels-Wordle

Di sebuah sore, di sudut sebuah kedai kopi, saya sedang terlibat percakapan serius dengan seorang sahabat. Sebenarnya topiknya tidak terlalu serius, tapi justru dari situ saya belajar tentang kekuatan sebuah motivasi.

“Lo pernah diremehin sama orang nggak, Dev?”

“Pernah…”

“Terus, gimana rasanya? Apa respon lo?”

“Ya reaksiku sih spontan seperti manusia kebanyakan; sakit hati, tersinggung, menye-menye, galau, hahahak. Tapi itu dulu…”

“Nah, gue punya cerita tentang ‘remeh-temeh’ itu…”

Lalu mengalirlah cerita tentang teman di kantornya yang lama; seorang karyawan andalan di sebuah divisi. Sebut saja namanya Luna. Perempuan enerjik, berusia early thirty, dengan karir yang bagus, cantik, pintar, dan menyenangkan itu menjalani semua pekerjaannya dengan penuh semangat.

Awalnya kehidupan Luna berjalan normal dan baik-baik saja, hingga akhirnya ada sebuah kejadian yang mengubah hidupnya 180 derajat. Dia mengalami kecelakaan yang menyebabkan tangan kanannya cedera dan lumpuh. Dunia yang semula ramah seolah berbalik memusuhi. Beban pekerjaan yang ditanganinya sedikit demi sedikit mulai dikurangi, dan mulai dialihkan kepada karyawan lain yang dianggap lebih cakap. Level pekerjaan yang diberikan pun menjadi lebih sederhana. Sejak mengalami kelumpuhan, dia tidak lagi dianggap mumpuni di bidangnya. Ada kekhawatiran-kekhawatiran di benak para atasannya, jangan-jangan pekerjaan yang dilimpahkan pada Luna bukannya malah selesai tapi justru akan menumpuk dan malah menjadi beban bagi divisinya.

Pelan-pelan dia mulai menarik diri dari pergaulan, bahkan sempat akan mengajukan surat resign karena merasa putus asa dengan dirinya sendiri. Beruntung supervisornya mampu meredam kegalauan di hatinya. Sedikit demi sedikit Bu Supervisor mulai mempercayakan beberapa pekerjaan padanya, dengan bantuan dan pengawasan Bu Supervisor. Benar saja, dalam waktu yang tidak terlalu lama Luna pun mulai terbiasa dengan kondisi barunya. Dia mulai merasa dipercaya.

Hingga akhirnya, tanpa sengaja dia mendengar pembicaraan tentang dirinya. Samar-samar dari ruang bos besarnya terdengar kata-kata yang membuatnya bagai tersambar petir di siang bolong.

“Luna? Emang dia sekarang bisa apa? Paling juga nggak bisa kerja, tangan kanannya lumpuh gitu….”

Seketika air matanya meleleh. Berbagai perasaan berkecamuk di benaknya, antara terluka, marah, sakit hati, tersinggung, dan kurang berguna. Ternyata belum semua bisa menerima secara positif kehadirannya pascakecelakaan, apalagi ketika dia datang dengan ketidaksempurnaan.

Lagi-lagi dia beruntung punya seorang supervisor bisa memahami kondisi fisik dan mentalnya saat itu. Melalui dialog intensif bersama supervisornya, pelan-pelan Luna mulai kembali termotivasi bahkan lebih dahsyat efeknya. Dia ingin membuktikan bahwa dia masih bisa bermanfaat bagi tempatnya bekerja, dan bukan sekadar tukang fotokopi.

Luna dikenal dengan ketelitian dan perhatiannya terhadap setiap detail pekerjaan. Dengan konsentrasi dan ketelitian yang dimilikinya itu pekerjaan-pekerjaan yang diserahkan padanya selesai. Begitu seterusnya hingga akhirnya Luna mulai merasa nyaman dan terbiasa dengan kondisi diri, pekerjaan, dan lingkungan kerjanya. Berkat kegigihannya untuk mendapatkan kembali kepercayaan para atasannya itu akhirnya dia kembali dipercaya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang dulu menjadi bagian pekerjaannya.

“Dia pasti punya seorang muse, contoh, role model, kan?” Tanya saya sambil menyesap secangkir Earl Grey hangat yang sudah hampir dingin.

“Sure. Bukan hanya kontemplasi dan perenungan diri saja yang dilakukannya, tapi dia juga mencoba mencari referensi tokoh yang juga mengalami disabilitas permanen sepertinya…”

“Siapa? Jessica Cox? Nick Vujicic?” Tanya saya lagi.

“Salah satunya itu memang. Hei, how come you know that?” Teman saya bertanya dengan mata yang membulat.

Siapa yang tidak mengenal Nick Vujicic (yang dulu pernah saya tulis juga di sini), seorang motivator asal Autralia yang terlahir tanpa lengan dan tungkai; hanya kepala, leher, dan badan saja. Tapi mengapa dia bisa melakukan segala sesuatunya secara mandiri, seperti layaknya seorang manusia yang memiliki anggota fisik lengkap? Hidupnya pun tampak normal-normal saja.

Pun kisah seorang pilot perempuan yang terlahir tanpa lengan, bernama Jessica Cox. Jessica percaya bahwa disabilitas yang disandangnya itu sama sekali bukan penghalang untuk meraih apa yang dicita-citakan; menjadi seorang pilot! Sama seperti Nick Vujicic, dia pun melakukan segala kegiatan sehari-harinya secara mandiri. Sama seperti perempuan berfisik normal lainnya, dia juga begitu terampil menggunakan maskara, bulu mata palsu, kuteks, hingga soft lense hanya dengan menggunakan jari-jari kakinya. Sungguh Tuhan betul-betul Mahaadil. Di balik keterbatasan fisik umatnya, Dia juga memberikan kemampuan lain yang levelnya jauh melebihi kemampuan umatnya yang berfisik normal.

Sesungguhnya kata-kata negatif yang diucapkan kepada seseorang tanpa sadar akan menginstal hal-hal negatif pula di pikiran orang tersebut. Tapi semua itu tidak akan berpengaruh selama di pikiran orang tersebut tertanam pernyataan positif. The last but least, sebaik-baiknya motivator, bahkan yang bayarannya paling mahal sekalipun, tidak ada yang memotivasi sebaik diri sendiri. Kurang lebih seperti itu.

“Jadi penasaran, siapa sih ibu supervisor yang baik hati itu?”

Mendadak dia tertawa keras, hingga pandangan beberapa pasang mata mengarah pada kami.

“Heh, kok malah ketawa. Aku ini serius nanyanya…”

“Luna itu mantan anak buahku, sebelum aku pindah ke perusahaan yang sekarang :D”

“Oh, jadi supervisor baik hati itu kamu?”

Senyum saya seketika pecah ketika menyadari bahwa saya punya sahabat yang sebaik, dan sebijak dia :)

sumber ilustrasi dipinjam dari sini

Read More

“Tidak ada yang namanya kebetulan…”

turn left turn rightAkhir pekan kemarin saya sengaja nonton film secara marathon di rumah. Beberapa keping dvd lawas saya babat habis.  Salah satunya adalah film Asia berjudul Turn Left Turn Right yang dibintangi oleh aktor Jepang Takeshi Kaneshiro dan aktris Mandarin Gigi Leung. Kisah cinta yang dikemas secara ringan sekaligus menggemaskan. Saking ‘ringannya’ ada beberapa scene yang terasa kurang masuk akal. Tapi ya, namanya juga hiburan, ada kalanya skenario harus sedikit dipaksakan, dan logika penonton pun ikut dinonaktifkan untuk sementara waktu.

Di film itu Leung berperan sebagai seorang penerjemah, sedangkan Kaneshiro sebagai seorang pemain biola. Mereka hidup sejajar dan tampak sempurna bagi satu sama lain. Tapi entah bagaimana, nasib membuat  mereka terpisah. Dulu, Kaneshiro kecil pernah menyukai seorang gadis yang bahkan namanya saja tidak sempat diketahuinya. Namun takdir ternyata berbaik hati, mereka dipertemukan kembali dalam situasi yang berbeda, dalam sebuah ketidaksengajaan.

Singkat cerita mereka pun berkenalan dan saling bercerita ini-itu. Lambat laun mereka menyadari bahwa mereka pernah bertemu di masa kecil, dan pernah saling menyukai. Nah, scene menggemaskan pun dimulai. Mereka yang sudah saling bertukar nomor telepon dengan harapan hubungan mereka akan jauh lebih baik lagi ke depannya itu ternyata masih harus mengalami cobaan. Secarik kertas yang berisi nomor telepon masing-masing itu terkena hujan dan luntur. Halaaah… :|

Dan cerita pun bergulir dengan kebetulan-kebetulan yang menggemaskan. Tapi jangan tanya bagaimana akhir cerita di film itu ya, karena sebenarnya saya bukan mau me-review filmnya, tapi justru gara-gara film itu jadi ada pertanyaan yang berlompatan keluar dari pikiran saya.

“Percayakah kamu pada sebuah kebetulan?”

Jujur, selama ini saya masih percaya dengan kata ‘kebetulan’. Bahkan masih sering menggunakan kata ‘kebetulan’ sebagai pengganti kata ‘ndilalah‘, untuk menggambarkan sesuatu yang terjadi bukan karena kesengajaan/direncanakan.

Tapi makin ke sini saya percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi bukan karena sekadar ‘ndilalah’, bukan cuma kebetulan,  I do believe that there’s a reason behind everything.

Kadang kita tidak sengaja dipertemukan dengan orang-orang tertentu, dan makin ke sini ternyata ada tujuan tertentu mengapa kita sampai dipertemukan dengan mereka; seperti yang dulu pernah saya tulis di sini. Pun halnya ketika kita mengalami suatu kejadian; itu pun pasti ada pesan moralnya. Bisa saja melalui kejadian tersebut Tuhan sebenarnya ingin berkomunikasi dengan kita dengan cara-Nya tersendiri. Bukankah Dia juga sering menjawab doa-doa kita melalui jalan yang misterius?

Sometimes things happen for a reason, even if we don’t know what it is…

 

 

 

ilustrasi dipinjam dari http://www.bloggang.com

Read More

Bahagia Itu Sederhana

Tadi pagi, di kantor kedatangan teman yang sekarang sudah pindah tugas ke Malang. Kebetulan dia sedang tugas di Jakarta dan disempatkanlah untuk mampir. Ada banyak kisah yang dia ceritakan selama kurang lebih 2 jam (sejak saya datang pukul 07.00 sampai dengan pukul 09.00), ya pekerjaan, ya keluarga, ya lingkungan sekitarnya. Jadi selama 2 jam itu khusus buat dengerin dia cerita. Untungnya belum ada kerjaan yang turun atau perlu dinaikkan ke atasan ;))

Ada banyak perubahan drastis yang terjadi dengan si teman ini sejak menikah dan tinggal di Malang, mulai dari penampilan sampai dengan gaya hidup. Yang dulunya “apa sih yang nggak bisa kubeli?”, sekarang kalau mau beli apa-apa mikir dulu, bahkan sekarang pakai nawar. Kalau dulu nelepon bisa lama-lama, sekarang, “eh, udah dulu yak, pulsa gue mau abis nih…” Yang dulunya kalau handphone rusak tinggal beli lagi yang baru dan yang rusak nanti setelah diperbaiki tinggal dijual, sekarang mikir seribu kali mau beli gadget baru. Tas dan sepatu dengan brand apa sih yang nggak bisa dibeli? Sekarang, tasnya ya itu-itu melulu, dan hei… dia sekarang udah mau lho pakai sepatu yang harganya 80-100 ribuan. Intinya dia sudah berubah banget, lebih sederhana >:D<

Secara materi dia sangat jauh berkecukupan, semua perubahan yang terjadi sekarang karena semata-mata karena dia ingin menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal dan kantornya. Saya justru melihat semua perubahan ini sebagai hal yang positif  karena semua perubahan itu berasal dari keinginannya sendiri, bukan atas permintaan suami atau orang lain. Dan yang lebih penting adalah, dia terlihat jauh lebih bahagia, lebih tenang, lebih menikmati kehidupan dan perannya sekarang :)

Kebetulan di hari yang sama kok ndilalah saya juga sempat ngobrol dengan sahabat yang berbeda tapi dengan topik yang hampir sama. Benarkah kebahagiaan seseorang itu bisa diukur hanya dari materi? Topik yang sedikit berat kalau dibahas pagi-pagi, ya? Tapi toh tetap kami bahas juga.

Teman: “Aku ngerasa high society di Indonesa tuh emang rada aneh. Kalau di Jepang, high society itu sibuk dengan donasi, menjadi volunteer, atau ikut philantropic group. Well, they are rich, tapi nggak norak. Di TV juga nggak ada tuh yang namanya acara yang membahas top to toe fashion kaya disini. Kadang pengen tahu juga, gimana sih rasanya pakai semua barang branded, top to toe gitu. Berasa kaya manekin nggak, sih? Suka iseng sinis juga, emang harus dipakai semua ya, biar orang tahu itu mahal dan asli, gitu? Emang kalo nggak dipake takut dibilang KW? ;))

Saya: “hahaha, nggak kaya gitu juga kali. Tapi setahu aku memang di sini ada kaum-kaum yang bukan artis tapi gaya hidupnya memang mewah. Biasa disebut kaum “socialite”. Barang yang dipakai hampir semuanya high end. Kesibukannya selain berkegiatan sosial juga hadir di acara peresmian ini, gathering itu, arisan ini, seminar itu, dan beberapa kegiatan sejenislah… :D”

Ngomong-ngomong tentang barang bermerk dan mahal, pernah suatu ketika saya ngobrol dengan seseorang. Dia dan isterinya memang hobby beli barang-barang branded. Alasannya bukan untuk pamer, tapi justru untuk menghemat. Untuk beberapa alasan tertentu, dia bilang kalau umumnya, barang branded itu berkualitas dan lebih awet. Itulah alasan dia tidak pernah melarang isterinya membeli barang bermerk karena dia memperhatikan dari sisi kualitas dan daya tahannya. Daripada beli barang yang kualitas dan harganya dibawah itu tapi mudah rusak dan nantinya harus beli-beli lagi.

Sependek yang saya pahami, ada barang-barang yang memang sengaja dibuat untuk memenuhi kebutuhan dan fungsi tertentu. Pertama, biasanya barang-barang high end memang terbuat dari material berkualitas tinggi dengan proses pembuatan yang rumit, jadi tak heran kalau akhirnya barang-barang tersebut dapat bertahan hingga puluhan tahun tanpa berubah bentuk. Kedua, barang tersebut memang sengaja dicitrakan sebagai barang mewah, jadi dengan menggunakan barang tersebut secara otomatis akan menaikkan status sosial atau gengsi penggunanya. Jadi yang dijual selain dalam fisik barang juga psikologis (calon) pembeli :D

Teman: “Aku boleh tanya, nggak? Pernah nggak sih kamu punya mimpi jadi salah satu mereka? Jadi mereka itu enak lho. Kamu bisa jalan-jalan kemana aja, bisa pake baju dan aksesoris mahal yang selama ini cuma bisa kamu lihat di halaman majalah fashion, mau kemana-mana tinggal dianter driver, mau beli apa-apa tinggal gesek. Kamu pasti senenglah, kan apa-apa serba keturutan :p”

Saya: “Mimpi jadi kaya mereka, bener-bener sosialita, gitu? Hmm, jujur belum pernah. Tapi kalau iseng-iseng berkhayal jadi orang superkaya sih pernah ;)) Eh, tapi emang kalau jadi orang superkaya itu menjamin kita pasti akan bahagia nggak sih?”

Nah, dari sini topik bahasan kami pun lama-lama makin berkembang. Dari urusan brand, berlanjut ke mimpi, dan lalu kebahagiaan yang hakiki. Beuh, beraaat… ;))

Memang, nggak ada orang yang bercita-cita jadi orang miskin. Semua pasti pengen punya kehidupan yang baik, layak, tercukupi seluruh kebutuhan hidupnya. Tanpa disadari sekarang pun manusia berlomba-lomba mengejar ke arah sana, but is it really promise you a complete happiness? Is it your true happiness?

Teman: “Eh, kalo nggak salah Prince Edward, kakaknya Ratu Elizabeth, menolak menjadi raja karena ingin menikah dengan orang biasa. Hei, ternyata ada ya yang nggak mau jadi raja, dan pengen cuma jadi rakyat biasa aja. Apa mungkin karena dia merasa kebahagiaan sejatinya adalah dengan menikmati kehidupan sebagai rakyat biasa, bukan menjadi raja, ya?”

Ada kalanya kebahagiaan manusia itu bukan melulu datang dari materi yang berlimpah ruah atau jabatan yang tinggi. Terkadang kebahagiaan hakiki itu justru lahir dari hal-hal kecil yang sederhana, bukan dari hal-hal yang sophisticated. Nah, terus apa sih sebenarnya inti tulisan panjang saya kali ini? ;))

Jadi teringat dengan salah satu scene My Best Friend’s Wedding:

A: “Okay, you’re Michael, you’re in a fancy French restaurant, you order… Creme Brulee for dessert, it’s beautiful, it’s sweet, it’s irritatingly perfect. Suddenly, Michael realises he doesn’t want Creme Brulee, he wants something else…”

B: “What does he want?”

A: “Jell-O”

B: “Jell-O?! Why does he want Jell-O? :-o”

A: “Because he’s comfortable with Jell-O! Jell-O makes him… comfortable. I realise, compared to Creme Brulee it’s… Jell-O, but maybe that’s what he needs!”

Mungkin kebahagiaan itu justru lahir ketika kita bisa makan nasi goreng kampung pinggir jalan bersama teman/keluarga, bukan steak dan makanan mahal di restaurant yang eksklusif. Mungkin kebahagiaan itu justru hadir ketika kita masih diberikan kesehatan dan umur panjang sehingga kita masih berkesempatan berkumpul dengan orang-orang tercinta. Bahagia itu mungkin ketika Anda pulang ke rumah disambut dengan tawa dan pelukan hangat sang buah hati. Atau mungkin ketika bisa kembali ke rumah dalam kondisi jalanan yang lancar dan tidak terjebak macet? ;)

Bahagia itu (sebenarnya bisa lahir dari hal-hal yang) sederhana, dan tiap orang bisa saja berbeda versi ;)

Apa sih bahagia menurutmu?

 

foto posterous saya

Read More

Sebuah Teguran

Beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah komentar panjang di salah satu tulisan lama saya, di blog yang lama. Komennya bukan tentang isi postingan sih, tapi justru tentang ilustrasi yang saya gunakan di postingan itu. Menurut beliau, ilustrasi yang ada dalam tulisan saya itu adalah foto miliknya ketika ada pementasan tari di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada tahun 2008. Yang membuat sedikit kurang nyaman adalah kata-kata:

“Saya tahu ini adalah postingan lama tapi soal tata krama penggunaan karya orang lain rasanya perlu diperhatikan. Saya hanya kecewa saja dan mari kita belajar dari hal ini.”

Jadi, saya dianggap tidak punya tata krama karena tidak meminta izin pada beliau dan langsung mempergunakan gambar tersebut di blog saya yang abal-abal itu, meskipun saya sudah menyertakan link ke flickr beliau.

Menanggapi statement itu saya jadi gamang sendiri. Mau marah kok ya saya sama sekali tidak punya energi untuk marah, tapi kalau saya diam saja kok sepertinya mengiyakan kalau saya tidak paham etika berinternet :(

Jadi, ada sebuah postingan di Kompasiana yang diunggah oleh seorang blogger. Nah, kebetulan salah satu ilustrasi di sana mempergunakan ilustrasi yang juga (pernah) saya pergunakan di blog saya untuk tulisan dengan topik tarian. Bedanya adalah, saya menyertakan link dari mana gambar itu berasal  (yang gambarnya sudah di-remove oleh pemiliknya) , yaitu di flicker milik siapa waktu itu saya lupa karena sudah lama sekali (dan baru saya ketahui ketika pemilik aslinya komplain kalau itu adalah miliknya) . Credit  itu  saya letakkan di bagian paling bawah postingan saya. Sedangkan penulis di Kompasiana tersebut menyertakan link blog saya sebagai sumber ilustrasi.

Sebenarnya sama-sama memperhatikan etika memposting tulisan dan gambar ya, tapi ada sesuatu yang missed disini hingga menyebabkan saya disebut sebagai orang yang tidak tahu tata krama penggunaan karya orang lain, walaupun sudah menyertakan backlink dari mana saya ambil gambarnya pertama kali. Saya tidak menyalahkan sepenuhnya si penulis di Kompasiana, hanya saja dia kurang jeli melihat bahwa sebenarnya ada sumber awal gambar yang saya jadikan ilustrasi, yang seharusnya dia juga kutip sebagai credit. Jadi bukan blog saya yang langsung di-refer. Tapi justru disitulah kesalahpahaman ini bermula. Kalau saya dianggap salah karena tidak meminta izin kepada pemilik gambar aslinya, baiklah saya akan terima. Saya sudah meminta maaf langsung ke pemiliknya, dan dengan inisiatif saya sendiri saya hapus gambar tersebut dari blog saya.

Di dunia blogosphere memang umur blog saya terbilang masih sangat muda (jika dibandingkan dengan yang sudah ngeblog sejak tahun 1996). Saya juga terbilang blogger baru, karena saya baru ngeblog sekitar awal 2007, jadi baru 5 tahun. Selama 5 tahun ngeblog itu apa ya lantas saya hanya diam pasif tidak mempelajari netiket? Apakah saya lantas grubyak-grubyuk asal bikin tulisan dan klik publish tanpa mempedulikan etika penulisan blog?

Selama kurun waktu 5 tahun itu tulisan saya bertransformasi dan mengalami perombakan di sana-sini. Dari yang dulunya belum terarah, sedikit demi sedikit mulai saya arahkan. Yang dulu tata bahasanya kacau balau, pelan-pelan saya benahi. Yang dulunya saya tidak tahu bagaimana etika penulisan blog, sedikit demi sedikit saya pelajari dan saya up date. Intinya sampai sekarang saya masih dalam proses belajar.

Koreksi jika saya salah, sependek yang saya ketahui, jika memang kita ingin mengutip pernyataan orang lain dan atau ingin mempergunakan karya orang lain sebagai ilustrasi di blog kita, sebaiknya minimal mencantumkan backlink ke sumber asal, atau bisa juga dengan meminta izin langsung kepada pemilik tulisan/gambar aslinya. Bukan apa-apa, saya juga pernah mengalami tulisan di blog saya di-copy paste oleh orang lain tanpa menyebutkan sumber dari mana dia mengambil kata-kata di blognya, jangankan izin, ngelink juga enggak (saya juga heran, lha wong blog abal-abal kaya gitu kok ya di-copy paste). Berhubung saya tidak ingin hal yang  sama terjadi pada saya, maka saya juga berusaha memperlakukan hal yang sama kepada karya orang lain. Kalau tidak meminta izin secara langsung, alternatifnya/minimal dengan mencantumkan credit link dari mana sumbernya. Jadi, kalau saya dibilang nggak punya etika atau tata krama mengunggah postingan di blog kok ya agak gimana, ya :-? Tapi ya sudahlah…

Saya memang hampir selalu mempergunakan ilustrasi dalam setiap postingan saya. Entah itu hasil dokumentasi pribadi, atau mengambilnya dari mesin pencari, Google. Kita pasti sadar bahwa sebuah gambar/postingan yang sudah diunggah via internet dan telah tersimpan/terbaca dalam database google akan dengan mudah ditemukan oleh kita sebagai pengguna internet, kecuali memang postingan itu sengaja tidak dibuka untuk umum, ya (private setting). Soal nanti gambar/postingan yang kita unggah itu dimanfaatkan seperti apa oleh penggunanya ya itu sudah di luar batas kemampuan kita. Disinilah diperlukan kesadaran akan pentingnya etika berinternet.

Utamanya untuk gambar, terjadinya kemungkinan duplikasi juga sangat besar. Jika sudah terjadi hal semacam ini, kita hampir tidak bisa memastikan dari mana sumber asal gambar tersebut, dan kemana kita harus meminta izin menggunakan gambar tersebut untuk diunggah ke dalam website kita. Bisa saja gambar yang sama kita temui dari satu website ke website yang lain.

Itulah sebabnya saya lebih memilih menggunakan cara paling sederhana dengan menyertakan backlink dari mana saya mengambil gambar tersebut. Tapi setelah kejadian kemarin saya jadi mendapatkan pelajaran bahwa terkadang menyertakan backlink saja tidak cukup, karena preferensi pemberian izin terhadap penggunaan karya pribadi yang akan dipergunakan oleh orang lain bisa saja berbeda bagi masing-masing orang. Ada yang cukup menyertakan backlink, ada juga yang selain  backlink juga wajib izin dari pemilik aslinya. Saya jadi membayangkan,  gimana ya kalau aturan itu dipukul rata secara zaakelijk, dan ternyata pemilik sumber aslinya sudah meninggal dunia. Kemana saya harus meminta izin padahal butuh buat ilustrasi di blog ini aja? Masa harus ke kuburannya? Mending saya nggak usah pakai ilustrasi deh. Ini misalnyaa…  :D

Kalau saya pribadi, selama itu hanya untuk postingan di blog semata, bukan untuk tujuan komersil, apalagi untuk tindakan negatif/kriminal, saya masih memperbolehkan orang lain mengutip tulisan asli saya, atau meminjam dokumentasi pribadi yang saya unggah ke internet, dengan  menyertakan sumber dari mana tulisan atau gambar itu berasal. Tidak zaakelijk harus meminta izin kepada saya, walaupun saya juga sudah menyediakan contact page yang bisa dihubungi kapan saja.

Jadi, soal apakah hasil karya yang sudah kita unggah di internet itu akan bermanfaat atau tidak bagi orang lain, atau apakah nantinya akan dipergunakan secara positif atau negatif semua terpulang pada niat penggunanya, karena kita tidak mungkin mengawasi pergerakan dan aktivitas yang dilakukan orang lain ke web kita selama 24 jam penuh. Sekali lagi, jangan bosan-bosan untuk tetap berada dalam koridor etika berinternet. Itu sih menurut saya.

Bagaimana menurut kalian? Let’s discuss! :)

 

Read More

Bitter or Better?

“It’s a lie to think you’re not good enough. It’s a lie to think you’re not worth anything...”
– Nick Vujicic -

Saya adalah salah satu pengguna alat transportasi umum Transjakarta. Selain Transjakarta, saya juga menggunakan Kopaja 57 atau Metromini 75 untuk mengantar saya pulang ke Mampang. Sebagaimana pemandangan yang lazim dijumpai di setiap terminal, selain pedagang asongan yang pasti ada yaitu yaitu pengemis. Selama ini saya hampir tidak pernah ada masalah dengan mereka, tapi jika kelakuan mereka sudah mengganggu tentu lama-lama akan menimbulkan rasa kurang nyaman.

Seperti contohnya sore itu, saya naik Kopaja 57. Belum jauh laju bus dari terminal, sudah ada seorang pria yang sengaja mengedrop seorang anak kecil dari gendongan punggungnya, dan memasukkannya ke dalam bus yang saya tumpangi. Bocah perempuan itu berambut pendek, berusia sekitar 6-7 tahun, dan tampak sangat dekil. Penampilannya selalu menggunakan celana panjang dengan salah satu kaki yang buntung, entah sengaja disembunyikan —seperti berbagai trik pengemis yang pernah dipertontonkan di televisi— atau memang tidak punya kaki beneran.

Dia menyeret badannya mengarah ke tempat duduk saya. Bukan hanya berkata, “Bu, minta uang, Bu, buat makan Buuu…” tapi juga sambil menarik celana dan lengan baju saya, setengah memaksa. Dulu sih selalu saya kasih uang lantaran iba, tapi makin kesini kok sepertinya saya juga ikut memberi setoran pada si penggendongnya tadi ya. Sesekali saya memang tega tidak kasih mereka uang. Ketika saya bilang maaf sambil menggelengkan kepala, dia makin keras menarik ujung celana saya, menunggu hingga saya memberi. Andai memang uang itu buat makan, mungkin lain kali lebih baik saya memberikan dalam bentuk makanan.

Itu baru kasus pertama. Kasus berikutnya, naiknya 2-3 remaja pria bertato dengan beberapa tindik di telinga yang berkata dengan keras, berteriak, dan silih berganti di dalam bus, layaknya sedang berorasi.

“Ya, Pak, Bu.. jaman sekarang banyak anak muda yang melakukan tindakan kriminal, Pak! Bukan apa-apa semuanya karena butuh uang, Bu! Mereka menjambret! Mencopet! Bahkan tak segan-segan membunuh! Masuk penjara! Semua tindakan kriminal itu dilakukan demi sesuap nasi, Pak! Buat makan, Bu! Uang seribu dua ribu yang Bapak Ibu kasih ke kami tidak akan langsung menjadikan Bapak dan Ibu miskin. Jadi tolonglah, Pak, Bu! Beri kami uang!”

Andai saja itu diucapkan dengan kalimat yang sopan, dan tidak bernada mengintimidasi, mungkin akan ada banyak orang yang bersimpati pada mereka. Tapi, berhubung cara penyampaiannya menyeramkan, jadinya malah banyak orang yang tidak memberi uang samasekali. Belum lagi jika ternyata dalam satu bus ternyata hanya ada 1-2 orang saja yang memberi uang, jangan harap mereka akan keluar dari bus dengan diam saja. Sambil mengomel, iya. Lah, minta kok maksa :|

Untuk anak-anak muda macam mereka yang masih dikaruniai kesehatan dan kelengkapan anggota tubuh, kenapa tidak mencoba mencari pekerjaan yang jauh lebih baik? Setidaknya tidak menjadi seorang peminta-minta, apalagi yang memaksa seperti itu.

Andai saja mereka mengenal sosok Nick Vujicic (baca : Voy-a-chic) seorang pria asal Australia yang terlahir tanpa lengan dan tungkai, hanya kepala, leher, dan badan saja, serta “kaki” kecil yang kurang layak disebut kaki (dia menyebut “kakinya”itu dengan sebutan paha ayam). Seharusnya mereka malu jika harus menjadi seorang peminta-minta, karena seorang Nick yang seorang difabel saja bisa menjadi seorang motivator bagi manusia normal lainnya, dan hebatnya lagi dia menjadi Direktur Life Without Limbs, mengapa yang dikaruniai kelengkapan fisik justru merengek meminta belas kasihan dan bahkan berpura-pura mengalami cacat tubuh?

Atau, jika kita ingat dengan kisah Helen Keller yang kehilangan penglihatan dan pendengaran sebelum genap berusia dua tahun karena penyakitnya. Namun siapa sangka jika dia justru menjadi seorang pengarang, pembicara, dan aktivis sosial.

Bayangkan, seseorang yang tidak dikaruniai fisik selengkap kita saja mampu melakukan hal-hal besar, memotivasi orang lain, dan bahkan berhasil merengkuh dunia, tapi mengapa ada anak-anak muda yang secara fisik jauh lebih normal tapi hanya sanggup menjadi seorang peminta-minta?

“When one door of happiness closes, another opens; but often we look so long at the closed door that we do not see the one which has been opened for us”
– Helen Keller -

 

picture source taken here

Read More