Penjara Hati

Terlena tarian gemulai
terbuai gending laras smarandhana..
diantara kidung rembulan ranum keperakan
pada helai dinginnya jelaga malam
sendiri terjebak di alam keluh & bimbang

Dekat membunuh, jauhpun demikian
Penjara ku dalam gamang tak berkesudahan

Andai mampu ku lawan hasrat
mungkin tak seperti ini
jalani cinta separuh jiwa
separuh untukmu & separuh (lagi) untuknya
cinta semu & cinta sejati
cinta sejati yang tak kunjung tumbuh
dan cinta semu yg dipertuhankan

Ingin kuberlari tanpa langkah
menjejak tanpa bekas
terpasung jadi sampah
pelan membunuhku dalam sepi & bungkam

hanya ada satu titik yang (kan) mengusaikan..



Continue Reading

Frase Yang Tak Terucap

Di pinggir jalanan yang basah, dalam ruang kubus transparan & berembun itu aku kembali menekan sejumlah angka bernada yang kuhafal diluar kepala dengan gugup. Detik jarum jam merangkak, lambat bagai keong. Seiring dengan cemasku menanti seseorang menjawab teleponku diujung sana. Semilir angin menerobos dari sela pintu yang tak tertutup rapat, meniup riap-riap anak rambut di tengkukku, membuatku semakin gugup.

Tepat disaat terakhir nada sambung itu, kudengar teleponku dijawab seseorang, “Halo..”. Aah, akhirnya…  Aku menghela nafas lega. Namun, aku kembali dilanda perasaan cemas bukan kepalang. Didera dilema luar biasa. Bibirku mendadak kelu, hanya mampu megap-megap tak bersuara, sibuk menyinkronkan dengan otak untuk merangkai kata.

Badanku menegang & mendadak berkeringat dingin sebulir-bulir biji jagung. Kakiku gemetar menahan bobot tubuh yang tak seberapa. Gigiku gemeletuk saling beradu. Angin dingin di sekitarku masih tak berhenti bertiup. Aku semakin  merapatkan leher jaketku hingga menutup dagu. Untuk cuaca sebeku ini seharusnya aku tidak berkeringat, bukan? Ya, sewajarnya memang seperti itu. Alisku bertaut, urat leherku kembali menegang. Arrgh.., aku mendadak gagu. Diujung sana kau menyapaku dalam “halo” yang bernada gusar sama seperti minggu lalu, nyari tanpa sahutan dariku. Dan sejurus kemudian..

K L I K !

Kau kembali menutup teleponku. Ya, semuanya masih sama seperti beberapa minggu yang lalu. Berasa dejavu. Aku gagal lagi memulai percakapan denganmu. Nyata-nyata temanya “hanyalah” sebuah pengakuan. Tentang sesuatu yang tak pernah kamu tahu. Tentang rahasia besar yang selama ini kusimpan rapat-rapat. Tersiksa dalam pergulatan batin dalam rasa salah yang tak berujung. Tentang pengakuan yang tak pernah berani kuucap di depanmu.

Tentang semua kamuflase & bualan-bualan sampah itu. Kisah tentang seorang pecundang & pengecut itu. Tentang mulutku yang selalu terkunci setiap kali memandang senyum di wajah teduhmu…

Tentang kisah cinta rahasia antara aku —lelaki yang kau anggap baik ini— dengan.. sahabatmu. Ya, tentang pengkhianatan itu..

Maafkan aku sayang, yang tak bisa menjadi lelaki terbaikmu…

Aku mencintaimu…

 

 

gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Serpihan Senja

 

 

Langit yang menggelap di bentang lazuardi menyapaku teduh
Aku menyungging senyum menyapa hadirnya senja
Di sudut sebuah ruang diatas awan-awan merah muda,
jauh diatas ribuan mil di bumiku menjejak

 

Ketika awan putih itu mulai disinari warna jingga temaram
Ketika zat dan partikel itu mulai menari-nari di sekelilingku
Ketika aku mulai menyatu dengan lembayung senja di awang-awang
Dan ketika sudah mulai kupejamkan mata

 

Ya..
Lembayung cantik itupun kini mulai berselimut
Sang mata dewa tak lagi murka dengan sinar panasnya yang menyala
tergantuikan cahya sang dewi malam yang mulai berjaga..

 

Aku sedang dalam perjalananku..
Meninggalkan kisah yang sulit untuk pergi mengurai kisah lainnya
Melupakan siapa diri yang dulu nyata
Mencari bentang ujung pelangi seperti ucapmu
Hingga kelak kita ‘kan bertemu pada satu ujung pelangi lainnya
Juga pada muara hujan yang akan membuat kita menari

 

Kau yang sedang sibuk dengan duniamu yang beriak
Mungkin kau tengah menata komposisinya hingga duniamu mampu menggeliat, ya?
Andai saja aku bisa berkompromi dengan waktu
Aku akan menjadi pemerhati dan tetap (akan) sebagai pemerhati setiamu..

 

Andai Tuhan berkata sama dengan kita..
Tapi bukan Tuhan namanya jika menuruti semua mau makhluknya..

 

Ah, Tuhan,
aku hanya ingin bertanya..
Apa masih boleh sisa cerita itu untukku?

 

 

 

gambar dipinjam dari sini 

 

Continue Reading

Setelah Kepergianmu..

Rumah mungil di sudut sebuah kota kecil yang pernah kau singgahi itu sekarang sunyi, nyaris tampak tak berpenghuni. Hanya ada aku yang menyibukkan diri mengurus rumah yang nyaris mati suri itu. Tak ada lagi obrolan ringan & canda tawa lucu seperti dulu. Tak ada lagi obrolan ringan sembari menghirup secangkir earl grey tea atau kopi instan kegemaran kita, di sela gerimis hujan di sore hari. Tak ada lagi denting dawai gitar yang kerap kau mainkan sambil kubernyanyi.

Hanya ada aku, menghabiskan waktu bersama buku-buku, ipod berisi lagu-lagu kesukaan kita, ditemani kepul uap secangkir earl grey di pagi & sore hari. Menanti kepulanganmu di sebuah sudut rumah mungil yang pernah kau singgahi. Membawa separuh hati yang kau bawa pergi.

Meski aku tahu kau nyata-nyata tak akan pernah kembali ke bumi..

Meski seribu tahun lagi…

gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Tarian (Diatas) Luka

Perempuan itu menari dengan kain & selendang warna-warni diatas awan-awan putih yang bergumpal, terserak dilangit yang pucat. Matari enggan menampakkan diri, menyelimuti tubuhnya yang lesu dengan kabut warna kelabu.

Perempuan itu terus menari diiringi langgam guntur & kilat yang beradu. Hujan bak air bah tak jua menyurutkan niatnya tuk terus menari. Berputar cepat bagai gasing, menumpu pada kedua kaki kecilnya yang ringkih & tertatih. Sesekali diseringai tawa pun tangis yang bergema. Ada luka di hatinya yang masih menganga. Namun toh dia tak peduli. Atau, masih adakah yang akan peduli? Gumamnya lirih..

Bahkan ketika darahnya menetes jadi rintik gerimis kemerahan pun dia masih saja tergelak. Gelak dalam duka. Karena tawa itu keluar disela derai  airmata. Tawa itu terdengar pilu, pedih, lara yang tak terperikan. Senyum kering yang membuatmu yakin bahwa perempuan itu bisa menerima kejoramu yang berpijar jauh melebihi pendar cahayanya.

Jika kau ingin tahu seberapa parah luka jiwanya… Coba lihatlah keatas, rasakan hadirnya. Kan kau temukan seorang perempuan yang menari tertatih, berputar makin cepat bagai gasing di lanskap langit kemerahan.

Perempuan itu adalah aku..

kekasihmu..

 

gambar dipinjam dari sini

Continue Reading