advertise

Disana, dahulu kala ada negara yang bernama Indonesia

Sebelummya saya ingin bilang kalau saya suka sekali dengan kutipan kata-kata dalam ilustrasi diatas :

“we are poor in the rich country”

“Ask what you can do for your country?”

Indonesia, “unity in diversity”

“What we have to do is to have these differences blend us together in perfect harmony like the beautiful spectrum of the rainbow”

Sebuah tema yang menarik untuk diulas. Mengingat akhir-akhir ini banyak sekali berita miris yang merujuk pada kerusuhan-kerusuhan berbau SARA dan kasus-kasus yang memicu konflik kekerasan lainnya. Kebetulan tulisan ini saya buat untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti Diklat Prajabatan bulan Mei-Juni 2010 kemarin. Sesuai janji saya

Read More

Share
trademarks

Tanpa Senandika..

Hujan, sepi, senyap
Menggigil melawan rindu yang tak jua menepi
Aku tak pernah berlari meninggalkanmu !
Pun melangkah menjauhimu..

Aku, masih disini….
Mengurai lembar demi lembar hujan menjadi kenangan tentangmu
Menatap bulan merah jambu di atas langit Jakarta abu-abu
berharap ilham pada setiap bulir air yang jatuh
bergantung pada asa yang rapuh dan kenangan yang menjauh

Namun, tak sebaris senandika pun birama ku buat
Apalagi sebentuk sonata
tentang interlude rindu tanpa jeda
tentang serpihan janji-janji usang di waktu luang..

Ya, nyatanya aku tak pernah mampu memanah waktu
Ragaku terlalu penat hingga tak lagi sempat..
Melenyap hasrat bersama asa yang tak lagi pekat
membawa pergi jiwa yang lengas dalam kemarau kata yang meranggas

Read More

Share
privacy

Merindu Bulan Warna Pelangi

Rembulan muda tersembul dari balik awan abu-abu. Tersenyum tipis memandangku malu-malu dari kejauhan. Aku membalas senyumnya seraya mengangguk pelan. Sang jelaga malam mulai sibuk menata prajuritnya menggantikan senja yang beranjak menua. Angin mendadak bersahabat, menyibakkan pelan awan-awan kelabu yang menutupi wajah rembulanku..

Bulan menatapku dari balik pendar mata sendunya, melihatku sendiri di padang savana yang sunyi. “Temani aku Bulan”, pintaku dalam bisik, berharap dia mendengarku. Kulihat Bulan tersenyum, mengangguk pelan seraya melambaikan tangannya padaku. Batinku bergejolak menahan suka tiada tara. Tak henti kupandang wajahnya nan indah berseri, pipinya yang ranum, jemari lentiknya yang memainkan ujung selendang warna pelangi. Ah, dia begitu sempurna…  Apakah aku jatuh cinta?

Bercumbu dalam khayalan, lalu tenggelam dalam impian indah musim semi. Tatapan

Read More

Share

Penjual Gelembung

Lelaki yang sama, berdiri di sudut perempatan lampu merah. Tua, badannya bungkuk, bajunya lusuh & kusut. Bertopi kupluk usang yang sudah tak jelas warnanya. Tangan & suaranya gemetaran karena usia, kulitnya bertekstur kerut tak lagi kencang, matanya pun mulai rabun & sedikit berair.

Sengat tajam sang mentari tak jadi masalah. Pun hirau rintik hujan & helai dinginnya malam. Sepasang kaki renta menopang tubuh ringkihnya. Telapak kaki yang lebar & kehitaman beralas sandal yang sudah tak lagi berbentuk, berjalan tersaruk-saruk menghantam debu pun beceknya jalanan.

Senin, Selasa, hingga Ahad tiba, tak bosannya dia berdiri ditepian jalan itu, menjaja kantung-kantung plastik transparan berisi botol-botol plastik yang dipegang erat di tangan keriputnya. Gelembung demi gelembung ditiupnya untuk mendulang keping rupiah. Tawaran di tengah getar suara yang menua, yang hampir pasti berujung gelengan.

Ah, senyum itu Pak.. Masih bisa kau tersenyum diantara sulitnya hidup yang kau jalani? Entah ada berapa banyak anggota keluarga yang menunggumu pulang. Atau hanya tinggal kau sendiri?

Hanya itu yang bisa dia lakukan. Bertahan untuk mengisi sisa

Read More

Share
guidelines

Serpihan Subuh..

Bergeming ditengah malam yang menua..
menyangga tubuh yang nyaris rubuh.
Sendiri mewarna jelaga langit menjadi pagi
Menyulam mimpi menjadi hari

Kemanakah dia?
Adakah dia mencariku di serpihan subuh
seperti biasa?

Diam diantara kepingan diksi yang terserak
Tersisa gumaman antara netra yang berpandangan
Dia tahu kemana harus mencariku..

Entahlah..
Masihkah dia disana?

Hanya jarum jam yang mendetak..
Mengiring nyanyian pagi untuk hati yang meranum..

Read More

Share
forum

Penjara Hati

Terlena tarian gemulai
terbuai gending laras smarandhana..
diantara kidung rembulan ranum keperakan
pada helai dinginnya jelaga malam
sendiri terjebak di alam keluh & bimbang

Dekat membunuh, jauhpun demikian
Penjara ku dalam gamang tak berkesudahan

Andai mampu ku lawan hasrat
mungkin tak seperti ini
jalani cinta separuh jiwa
separuh untukmu & separuh (lagi) untuknya
cinta semu & cinta sejati
cinta sejati yang tak kunjung tumbuh
dan cinta semu yg dipertuhankan

Ingin kuberlari tanpa langkah
menjejak tanpa bekas
terpasung jadi sampah
pelan membunuhku dalam sepi & bungkam

hanya ada satu titik yang (kan) mengusaikan..



Read More

Share
privacy

Frase Yang Tak Terucap

Di pinggir jalanan yang basah, dalam ruang kubus transparan & berembun itu aku kembali menekan sejumlah angka bernada yang kuhafal diluar kepala dengan gugup. Detik jarum jam merangkak, lambat bagai keong. Seiring dengan cemasku menanti seseorang menjawab teleponku diujung sana. Semilir angin menerobos dari sela pintu yang tak tertutup rapat, meniup riap-riap anak rambut di tengkukku, membuatku semakin gugup.

Tepat disaat terakhir nada sambung itu, kudengar teleponku dijawab seseorang, “Halo..”. Aah, akhirnya…  Aku menghela nafas lega. Namun, aku kembali dilanda perasaan cemas bukan kepalang. Didera dilema luar biasa. Bibirku mendadak kelu, hanya mampu megap-megap tak bersuara, sibuk menyinkronkan dengan otak untuk merangkai kata.

Badanku menegang & mendadak berkeringat dingin sebulir-bulir biji jagung. Kakiku gemetar menahan bobot

Read More

Share

Serpihan Senja

 

 

Langit yang menggelap di bentang lazuardi menyapaku teduh
Aku menyungging senyum menyapa hadirnya senja
Di sudut sebuah ruang diatas awan-awan merah muda,
jauh diatas ribuan mil di bumiku menjejak

 

Ketika awan putih itu mulai disinari warna jingga temaram
Ketika zat dan partikel itu mulai menari-nari di sekelilingku
Ketika aku mulai menyatu dengan lembayung senja di awang-awang
Dan ketika sudah mulai kupejamkan mata

 

Ya..
Lembayung cantik itupun kini mulai berselimut
Sang mata dewa tak lagi murka dengan sinar panasnya

Read More

Share
advertise

Setelah Kepergianmu..

Rumah mungil di sudut sebuah kota kecil yang pernah kau singgahi itu sekarang sunyi, nyaris tampak tak berpenghuni. Hanya ada aku yang menyibukkan diri mengurus rumah yang nyaris mati suri itu. Tak ada lagi obrolan ringan & canda tawa lucu seperti dulu. Tak ada lagi obrolan ringan sembari menghirup secangkir earl grey tea atau kopi instan kegemaran kita, di sela gerimis hujan di sore hari. Tak ada lagi denting dawai gitar yang kerap kau mainkan sambil kubernyanyi.

Hanya ada aku, menghabiskan waktu bersama buku-buku, ipod berisi lagu-lagu kesukaan kita, ditemani kepul uap secangkir earl grey di pagi & sore hari. Menanti kepulanganmu di sebuah sudut rumah mungil yang pernah kau singgahi. Membawa separuh hati yang kau bawa pergi.

Meski aku tahu kau nyata-nyata tak akan pernah

Read More

Share
trademarks
forum

Tarian (Diatas) Luka

Perempuan itu menari dengan kain & selendang warna-warni diatas awan-awan putih yang bergumpal, terserak dilangit yang pucat. Matari enggan menampakkan diri, menyelimuti tubuhnya yang lesu dengan kabut warna kelabu.

Perempuan itu terus menari diiringi langgam guntur & kilat yang beradu. Hujan bak air bah tak jua menyurutkan niatnya tuk terus menari. Berputar cepat bagai gasing, menumpu pada kedua kaki kecilnya yang ringkih & tertatih. Sesekali diseringai tawa pun tangis yang bergema. Ada luka di hatinya yang masih menganga. Namun toh dia tak peduli. Atau, masih adakah yang akan peduli? Gumamnya lirih..

Bahkan ketika darahnya menetes jadi rintik gerimis kemerahan pun dia masih saja tergelak. Gelak dalam duka. Karena tawa itu keluar disela derai  airmata. Tawa itu terdengar pilu, pedih, lara yang tak

Read More

Share
privacy guidelines