Sore lalu, seperti biasa, saya pulang dengan menggunakan angkutan umum, Metromini 75 arah Mampang. Hiruk pikuk suara pedagang asongan bercampur suara kenek bus yang sibuk mencari penumpang sahut menyahut terdengar. Seperti biasa pula saya memilih duduk di bangku terdekat dengan pintu, supaya turunnya nanti nggak ribet harus “membelah” jubelan penumpang.
Bus mulai menyusuri kemacetan sore, dan saya pun mulai menyibukkan diri dengan hp saya. Tak lama kemudian naiklah dua orang pengamen, saya tidak seberapa memperhatikan mereka karena kebetulan naik dari pintu belakang dan mereka berdiri di dua bangku setelah saya. Mereka langsung memainkan melodi yang tak asing di telinga. Rasanya ada yang sedikit berbeda dengan pengamen-pengamen yang naik sebelum mereka. Suara mereka terdengar lebih catchy, dan permainan duo gitar mereka sekilas mengingatkan saya pada Depapepe. Baiklah saya sedikit lebay menyamakan mereka
Read More





Saya mengenal nama Sandhy Sondoro sekitar tahun 2007 lalu ketika salah satu sahabat saya yang tinggal di Jerman “mengenalkan” Sandhy pada saya akan kedahsyatan suaranya. Mengenalkan bukan saya kenalan langsung ya, tapi mulai sedikit meracuni telinga saya pelan-pelan. Sandhy who? Sempat mengernyitkan dahi. Kenapa sih teman saya ini getol banget mempromosikan si Sandhy. Mempromosikan dalam arti mengenalkan suaranya via website pribadinya. Ya okelah, saya dengerin dulu ya.
