Tentang Berat Badan…

weight scaleBerat badan, selalu saja jadi topik ngehits di antara kaum perempuan. Kalau sudah bicara soal berat badan, saya itu paling ‘ngiri’ sama orang yang bebas makan apa saja tapi berat badannya segitu-gitu saja, tetap ideal, tetap langsing. Ada yang memang bakat langsing, ada juga yang memang di-maintain dengan olahraga. Nah, yang paling benar memang ya diimbangi dengan olahraga dan asupan makanan yang seimbang, ya.

Ketika masih lajang, berat badan saya ketika masih lajang bergerak di kisaran angka 43-45 kg. Ketika mendekati angka 45 kg, Mama yang paling ribut me-warning supaya jangan sampai bablas. Sekarang jangankan sengaja rajin makan, nge-likes gambar Indomie saja berat badan saya naik 2 kg! Nggak ding. Tapi pokoknya cepet aja naiknya kalau porsi makan saya agak ‘tukang gali’ dikit. Pas hamil kemarin berat badan saya naik kurang lebih 10 kg, dan habis lahiran bukannya berat badannya turun, justru malah naik. Nyadar sih, kalau itu karena pola makan saya yang salah kaprah. Saya pikir kalau semakin sering makan, ASI-nya akan jadi lebih banyak. Ternyata volume ASI-nya tetap, berat badannya yang wassalam…

Sekarang sudah selang 18 bulan pascalahiran, apa kabar berat badan saya? Ya gitu deh. Tapi lumayan turun cepat ketika bulan puasa tahun lalu. Kondisi di mana saya tetap menyusui ketika puasa. Makin ke sini lumayanlah turun walaupun se-ons, se-ons.

Nah, bagian sedihnya adalah… sudah turunnya cuma se-ons, kok ya naiknya 2 kg! Duh! Gara-gara apa, coba? Beberapa bulan lalu di biro saya kedatangan seorang Kabag baru dari Setwapres, namanya Bu Epon. Nah, Bu Epon ini orangnya suka masak. Selama beliau di sini, beliau memanjakan kami dengan hidangan makan siang ala rumahan yang rasanya endeus! Pokoknya selama kurang lebih 5 bulan beliau di sini, kami tidak mengenal kata diet.

Efeknya baru terasa ketika beliau pensiun awal Februari kemarin, kok celana dan rok pada kesempitan ya? Ya di bagian paha, ya di bagian perut, ya di bagian lengan. Pokoknya baju jadi nggak ada enak-enaknya dipakai karena lemak mulai nyempil di sana-sini. Apalagi saya orang yang hampir tidak pernah olahraga, jadi ya sudah pasrah saja. Hiks…

Salut dengan perjuangan seorang teman yang demi mendapatkan berat dan bentuk badan yang ideal, dibela-belain daftar ke gym, olahraga dengan jadwal teratur, dan mulai mengatur pola makan. Hasilnya memang tidak instant terlihat, tapi perubahan itu mulai ada. Berat badannya mulai turun secara bertahap, dan dia terlihat lebih segar dibandingkan sebelumnya. Kuncinya sih sebetulnya mudah, niat yang kuat untuk berubah ke pola hidup sehat., cuma memang menjalaninya itu yang butuh tekad lebih kuat lagi.

Kalau saya sih niat selalu ada, tapi ya sudah dari dulu sampai sekarang sebatas niat…
*dilempar barbel*

 

sumber gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Membawa Alea Ke Kantor Itu…

Jadi ceritanya hari Selasa minggu yang lalu sampai dengan hari Senin kemarin, Eyangnya Alea (Mama saya) pulang ke Surabaya karena Eyang Kakungnya Alea (Papa saya) lagi kurang sehat. Alhasil, karena selama ini yang menjaga Alea sehari-hari itu Mama saya, jadilah selama 3 hari kemarin Alea ‘ngantor’ bareng saya.

Ini pengalaman kedua, mengajak Alea ngantor seharian. Sedikit ribet memang, tapi sejauh ini saya masih menikmatinya, walaupun ada rasa kasihan karena jadwal anak yang biasanya tertib jadi kurang tertib karena ada part-part yang terpaksa harus di-skip. Tapi ya itulah yang namanya hidup, tho? Selalu saja ada adjustment yang harus kita lakukan, termasuk dengan mengajak anak ke tempat kerja.

Untuk sementara waktu lupakanlah soal busana yang modis, hijab yang tertata rapi seharian. Memilih baju pun yang penting breast feeding friendly, karena Alea masih ASI. Risiko mengajak bayi/batita ke tempat kerja itu yang pasti barang bawaan jadi jauh lebih banyak. Barang bawaan Alea saja bisa satu tas sendiri. Isinya baju ganti, pampers, perlengkapan mandi, perlengkapan setelah mandi, jaket, topi kupluk, boneka, snack, dan jeruk. Kebetulan Alea sudah bisa makan segala, sehingga saya tidak perlu membawa makanan khusus bayi, Alea bisa berbagi makanan dengan saya, yang penting tidak spicy/pedas karena lidahnya masih sensitif.

perlengkapan Alea yang harus dibawa selama ikut ke Mama ke kantor

Untunglah lingkungan kerja memungkinkan saya dan teman lainnya yang kebetulan juga tidak punya pengasuh, bisa membawa anak ke kantor. Jadi membawa anak ke kantor itu sudah jadi pemandangan yang biasa. Membawa anak ke kantor sudah jadi risiko ibu bekerja ketika para support village atau yang biasa menjaga anak sedang berhalangan mengasuh. Ndilalah, dalam minggu kemarin atasan sedang banyak tugas/dinas di luar kantor, sementara pekerjaan juga sedang tidak terlalu hectic; hanya pekerjaan yang sifatnya rutin saja.

Membawa bayi/batita yang lagi senang-senangnya jalan juga tidak mudah. Alea adalah anak yang tidak betah diam, ada saja yang ingin disentuh, dipegang, diutak-atik, dan ditarik ke sana-sini. Jadi sambil bekerja, saya juga harus tahu di mana ‘titik koordinat’ Alea saat itu dan sedang apa, karena dia suka jalan-jalan sendiri ke kubikel lainnya dan lalu asyik mainan sendiri di sana, misalnya kertas, printer, atau apapun yang menarik perhatiannya. Disetelkan film kartun di youtube pun kadang suka tidak betah. Jadi untuk amannya, kadang suka saya alihkan perhatiannya dengan cara menggendong dan menyetelkan Big Hero, film favoritnya di youtube, terutama di jam-jam dia seharusnya istirahat. Sejauh ini sih, it works, bahkan sampai ngantuk sendiri.

Untungnya di ruangan ada juga teman yang selalu membawa balitanya ke kantor, jadi Alea punya teman main. Dia seorang anak laki-laki berusia 4 tahun yang sudah bersekolah di TK. Alea jadi lumayan terhibur karena ada teman main, tapi tetap saja harus diawasi, karena teman mainnya pun masih kecil.

Alea dan teman baru
Alea dan teman baru

Ada sisi positif/negatifnya membawa anak ke kantor. Negatifnya, konsentrasi bekerja jadi kurang maksimal karena harus berbagi perhatian ke anak dan pekerjaan. Positifnya, ada bonding yang jauh lebih kuat antara ibu dan anak karena ibu bekerja yang biasanya baru bertemu anak di sore/malam hari sepulang kantor, sekarang mulai anak bangun tidur sampai dengan tidur malam menjadi tugas dan tanggung jawab ibu. Sedikit lebih capek memang, tapi sejauh ini saya merasa fun kok.

Ada perasaan haru ketika malam hari melihat Alea tidur nyenyak setelah seharian ikut saya bekerja. Di usianya yang baru menginjak 15 bulan dia ternyata bisa menyesuaikan diri dengan cepat, pun halnya dengan fleksibilitas. Seolah dia tahu mamanya sedang sibuk, jadi dia tidak pernah rewel, kalau pun menangis sesekali wajarlah, paling kalau ngantuk atau tidak sengajak jatuh/kepentok sesuatu, ya namanya juga masih bayi. Tapi secara keseluruhan dia anak yang lovable.

Hari ini Alea tidak ikut ke kantor lagi seperti 3 hari yang lalu, sekarang dia ada di rumah bersama Eyangnya, dan sudah kembali menjalani aktivitas dan rutinitas seperti biasa.

To my lovely Alea, I love you dearly and always…

Buat para ibu bekerja di luar sana, tetap semangat ya! 🙂

Continue Reading

Imaginary Friends

bing bong

Minggu lalu saya baru nonton Inside Out. Kebetulan Alea sedang senang-senangnya menonton film animasi. Tapi berhubung Eyangnya Alea agak kurang setuju kalau Alea menonton film ini, dengan alasan ada muatan film yang belum pas kalau ditonton Alea di usianya yang sedang senang-senangnya meniru apapun yang dia lihat. Jadi, ya sudahlah, saya tonton sendiri dulu kali ya.

Di sepertiga film itu itu ada adegan yang mengingatkan saya ke masa kecil dulu. Ketika tokoh Joy dan Sadness terlempar ke daerah Ingatan Jangka Panjang; saat mereka bertemu dengan sesosok makhluk yang bentuknya merupakan gabungan antara permen kapas, kucing, gajah, lumba-lumba dan memperkenalkan dirinya sebagai Bing Bong . Dia adalah teman khayalan masa kecil Riley, tokoh utama film ini.

Bicara tentang teman khayalan, dulu saya juga punya teman khayalan yang bernama Vikung. Vikung ini adalah sosok yang punya kepribadian abu-abu. Tidak selamanya baik, tapi juga tidak selalu jahat. Pokoknya manusiawi, walaupun lebih banyak ngeselinnya daripada menyenangkannya. Tapi di balik ‘ngeselinnya‘ itu Vikung tetap sosok yang baik, suka menemani saya main dan ngobrol. Sosok Vikung itu saya ‘gambarkan’ sebagai anak perempuan yang seusia saya. Rambutnya sebahu, suka dikuncir dua, berponi, agak kurus, pipi kiri kanannya masing-masing ada jerawat 3 biji, dan suka pakai kaos kaki panjang, sepintas mirip sosok Pippi Longstocking. Entah kenapa sosok Vikung mirip dengan Pippi Longstocking, apakah karena waktu itu saya lagi suka-sukanya baca buku-buku fiksi anak, macam Lima Sekawan, Pippi Si Kaus Kaki Panjang, dan sejenisnya ya?

teman khayalan - Pippi Longstocking
teman khayalan versi saya

Kurang pasti kapan Si Vikung ini hadir menemani hari-hari saya, tapi yang jelas seiring dengan semakin bertambahnya usia saya, semakin sibuknya saya di sekolah, dan semakin banyaknya teman yang saya miliki, lambat laun sosok Vikung ini ‘menghilang’ dengan sendirinya. Dulu sempat mikir, apa saya saja ya yang punya teman khayalan? Saya aneh nggak sih karena punya teman khayalan? Gimana nggak ‘aneh’ kalau saya main sendiri, ngobrol sendiri, ‘berantem-berantem’ sendiri, kadang seolah berebut sesuatu dengan ‘seseorang’ padahal ya saya sedang sendiri. Ngeri, ya? Hahaha…

manfaat-teman-imajinasi

Tapi sebenarnya sebagian besar anak kecil yang berusia antara 3-5 tahun wajar kalau memiliki teman khayalan dengan bentuknya masing-masing. Usia di mana mereka mulai membentuk identitas diri dan mulai tahu batas mana dunia khayal dan dunia nyata.

Tapi ada kelegaan juga, karena kalau merujuk pada salah satu artikel di Parents Indonesia, menyatakan:

“Penelitian menyebutkan bahwa anak yang memiliki teman khayalan punya kemampuan berempati lebih baik dibandingkan teman sebaya yang tidak punya sahabat imajiner. Studi lain juga menyatakan anak-anak tersebut memperoleh nilai tes bahasa yang lebih tinggi, mampu bersosialisasi dengan baik, dan yang paling penting punya lebih banyak teman.”

Begitu juga ketika saya iseng baca di The Verge :

“children who keep imaginary friends, eventually develop better internalized thinking, which separately has been found to help children do better with cognitive tasks like planning and puzzle solving.”

Jadi, kalau kebetulan kita punya anak yang punya teman imajiner, jangan terburu-buru mengecap anak kita aneh. Karena justru dari situlah perkembangan emosi dan cara berpikir anak dimulai. Anak yang punya teman khayalan akan tumbuh menjadi anak yang penuh rasa ingin tahu, mudah berteman, kaya kosakata, dan kreatif.

Menurut saya, selama anak tidak banyak menghabiskan waktunya setiap hari berbicara dan bermain dengan teman khayalannya, dalam artian dia masih mau berbicara dan bermain dengan teman nyata (non-imajiner), berarti masih dalam taraf normal. Tapi kalau ternyata sebaliknya, anak lebih suka menghabiskan kesehariannya untuk ngobrol dan bermain dengan teman khayalannya dibandingkan dengan teman nyatanya, mungkin ada baiknya orang tua mulai berkonsultasi dengan ahli perkembangan anak.

Kalau kalian, dulu pernah punya teman khayalan nggak?

 

sumber ilustrasi: Disney dan TemanTakita

 

Continue Reading

Different Angle

different angle

Sudah sifat alamiah manusia selalu merasa kurang, entah kurang bahagia, kurang beruntung, kurang kaya, dan berbagai kurang lainnya. Melihat ke arah yang ‘sepertinya’ lebih bagus, padahal kenyataannya belum tentu. Kalau kata orang Jawa, “urip iku mung sawang sinawang”, secara harafiah berarti saling memandang terhadap (hidup) orang lain. Ketika kita memandang kehidupan orang lain yang sepertinya jauh lebih baik, ternyata pada kenyataannya mereka justru melakukan hal yang sama, melihat kehidupan mereka tidak seberuntung kehidupan kita. Vice versa.

Seperti sebuah obrolan dengan seorang sahabat, di sebuah sore di akhir pekan, sambil menunggu jam pulang kantor. Dia baru diterima kerja di tempat yang baru, dan baru dijalani selama beberapa bulan. Tapi dia sudah mengeluh bosan dengan pekerjaannya yang sekarang dengan alasan klise: kurang tantangan, kurang greget, beda dengan tempat kerja sebelumnya.

Dia bercerita, dulu dia adalah staf andalan, sekarang staf ‘biasa’, tidak ‘seistimewa’ di tempat kerjanya yang dulu. Pekerjaannya dulu menuntut ketelitian dan hal-hal yang detail, sekarang kadang sibuk, kadang tidak ada yang harus dikerjakan sama sekali. Sampai suatu ketika dia memutuskan untuk pindah ke tempat kerja yang sekarang dengan berbagai alasan. For your information, tempat kerja yang sekarang jauh berbeda jenis, bentuk, dan core business-nya dengan perusahaan yang lama.

“Jadi sekarang ceritanya kamu nyesel?”, tanya saya.
“Hmmm, gimana ya, Mbak. Abisnya kok kayanya kerjaan yang sekarang itu ternyata cuma gini-gini aja…”

“Maksudnya, kurang ‘susah’, gitu? Kurang ada gregetnya? Kurang cetar? Kurang hype? Hehehe…”
“Ummm, a little bit, jadi kesannya agak ngebosenin gitu, Mbak. Pernah aku curhat sama kakakku kalau kerja di sini itu lama-lama bisa bikin otakku beku, hahaha…”

Saya jadi cengengesan. Dejavu dengan ketika pertama kali bekerja dan menginjakkan kaki di tempat kerja yang sekarang. Sempat mengalami culture shock, karena apa yang saya kerjakan dulu sangat berbeda dengan yang sekarang. Sering tiba-tiba blank, lost focus karena tidak tahu apa yang harus dikerjakan, dan suka mendadak loading lama. Akibatnya jadi salah melulu kalau kerja. Parahnya lagi, itu terjadi hampir setengah semester. Lama banget, kan?

Sempat merasa khawatir dengan diri sendiri, sampai akhirnya curhat kepada seorang teman untuk meminta pencerahan supaya tidak jadi bego berkepanjangan. Jangan sampai saya salah memilih karier yang salah, padahal itu pilihan saya sendiri.

Sampai akhirnya dia bilang sesuatu yang ‘makjleb’, dan membuat saya berpikir.

“Ok, sebenarnya sederhana saja. Coba deh, mulai sekarang kamu berhenti membandingkan, karena bagaimana pun jenis pekerjaanmu yang dulu dan sekarang jauh berbeda. Yang kedua, mulai sekarang coba turunkan sedikit saja egomu. Jangan pernah meremehkan pekerjaan sekecil dan seremeh apapun itu, karena sedikit saja kamu remehkan, dia akan jadi sesuatu yang tidak seremeh yang kamu kira. Dan, lihat pekerjaanmu dari sudut pandang yang berbeda…”

Benar juga, ya. Sejak saat itu saya mulai introspeksi diri. Mungkin saja waktu itu saya sudah merasa sok bisa, dan sok pintar, sehingga tanpa sadar saya tidak mau belajar, dan meremehkan pekerjaan saya, membanding-bandingkan jenis pekerjaan yang dulu dengan yang sekarang, melihat karier orang lain yang sepertinya jauh lebih mengasyikkan ketimbang pekerjaan saya sendiri. Akhirnya yang ada bukan pekerjaan yang selesai dengan sempurna, tapi malah berantakan karena saya tidak fokus dalam bekerja.

Bersyukur, karena akhirnya pelan-pelan sindrom gegar budaya kerja tadi menghilang seiring dengan waktu dan mulai enjoy-nya saya dengan suasana, lingkungan, dan pekerjaan yang saya jalani. Kalau saya ditanya apakah selama bekerja di sini pernah merasakan jenuh. Jujur, pasti pernah. Tapi ternyata yang dibutuhkan adalah ‘trik’ untuk menyiasatinya.

Ketika kita masuk ke dunia kerja, tanpa sadar ada hal dan etika yang kita lupakan. Kita ‘lupa’, bahwa ada aturan main dan pakem-pakem yang telah ditetapkan oleh perusahaan yang harus kita taati dan sepakati sebagai code of conduct. Terkait dengan job description, perusahaan bebas melakukan modifikasi dalam menerapkan sebuah ilmu yang tujuannya justru untuk mempermudah pekerjaan kita.

Hidup dan bekerja itu kalau tidak pintar-pintar menyiasati ya pasti ada saja trigger jenuhnya. Kalau memilih pekerjaan sekadar melihat besaran gaji atau faktor lain yang bisa membuat sebuah pekerjaan itu lebih ‘keren’ secara title atau gaji, mungkin saya akan memilih pekerjaan lainnya. Tapi, lebih dari itu ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan saya dalam memilih karier, dan itu membuat saya bersyukur bekerja di kantor yang sekarang.

Perasaan jenuh itu manusiawi dan bisa datang dari mana saja. Bisa dari dalam diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar. Ketika jenuh tiba-tiba datang, coba bangun sugesti positif terhadap pekerjaan dan apapun yang kita kerjakan. Bersyukur atas segala hal yang kita terima, termasuk pekerjaan, karena di luar sana ada banyak orang yang masih sibuk mencari pekerjaan tapi belum mendapatkannya.

Kalau saya sedang jenuh, saya ‘rekreasi’ saja dengan mengerjakan hal lain yang sementara bisa mengalihkan rasa jenuh, misalnya mendengarkan lagu favorit, membereskan file yang berantakan di meja kerja, atau menulis di blog yang saya yakini bisa jadi terapi untuk jiwa. Psst, sebagian besar tulisan di blog ini hasil produksi di meja kerja lho, kadang saya lakukan di jam kerja, kadang di jam pulang kerja sambil menunggu jemputan. Tapi bukan berarti kalau saya sering posting itu indikator saya sering mengalami kejenuhan lho ya, hahaha… Itu sih karena mumpung sedang ada ide saja, sebelum mood-nya hilang mending idenya diselamatkan dulu dalam bentuk postingan di blog.

Meja kerja adalah dunia kecil kita selama di kantor. Jadi buat senyaman dan se-homy mungkin karena sejak pagi hingga sore hari akan kita habiskan di kantor. Jadi, kalau meja kerja kita saja sudah ‘nggak asik’, bagaimana mau asik dalam bekerja?

Masih jenuh juga? Coba curhat dengan teman, siapa tahu bisa sedikit lega atau malah punya inspirasi, motivasi, dan semangat baru dalam bekerja. Masih jenuh juga? Kenapa tidak ambil cuti atau berlibur ke mana gitu yang bisa membuat kembali fresh dan semangat dalam bekerja.

Sudah melakukan segala cara tapi masih jenuh juga? Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk kembali mengevaluasi diri. Apakah masih memungkinkan untuk bertahan di tempat kerja yang sekarang atau mulai mencari pekerjaan lain yang sesuai dengan jiwa dan passion kita?

Hidup itu kita sendiri yang menentukan akan menjadi bagaimana, pun halnya pekerjaan. Kalau hidup kita mulai terasa kurang asyik, mengapa tidak mencoba me-refresh-nya dengan melihat segala sesuatunya dari sudut yang berbeda demi mendapatkan rasa syukur. Hidup itu cuma sekali, jalani dengan penuh syukur dan bahagia.

Seperti kata Tadashi Hamada di film Big Hero 6,

“Listen up! Use those big brains of yours to think your way around the problem! Look for a new angle!”

Have a good day!

 

 

ilustrasi dari pxleyes.com

Continue Reading

Batuk Yang Tak Kunjung Sembuh Itu

coughDari dulu, musuh utama saya adalah batuk. Karena kalau batuk, yang ‘menderita’ bukan cuma saya, tapi juga orang yang ada di sekitar saya; bukan cuma keluarga, tapi juga teman yang dengar saya batuk. Bukan cuma iba, tapi juga pasti akan meminta saya untuk segera ke dokter supaya ada solusi buat batuk saya. Padahal saya sebenarnya paling malas ke dokter, masa dikit-dikit ke dokter, dikit-dikit ke dokter. Ke dokter kok dikit-dikit… *eh, lho?!*

Kalau soal flu/pilek/demam ringan/pusing, masih bisa saya taklukkan dengan obat yang biasa dijual umum. Atau kalau misalnya parah, dan sudah mengganggu aktivitas di kantor ya paling saya ke klinik kantor untuk minta obat. Jadi, catatan di kartu pasien saya di klinik itu sama dari atas ke bawah: batuk, pilek, demam, radang; begitu saja diulang-ulang. Lha wong memang yang suka menghampiri saya ya itu-itu melulu.

Hingga akhirnya di sekitar bulan Juni kemarin saya mulai didera batuk. Awalnya ya biasa, radang, demam, pilek, trus mulai deh batuk-batuk ringan. Berhubung obat umum yang biasa saya minum sudah tidak mempan, terpaksalah saya ke dokter, itu pun selang setelah 3 minggu batuk pileknya tak kunjung reda, bahkan sudah mulai dibilang berat. Dua kali saya datang ke dokter kantor dengan resep yang berbeda tak mempan, akhirnya saya menyerah. Udah, nggak ke dokter-dokter lagi, bosen. Lho, gimana deh, sakit parah kok malah nggak ke dokter. Bahkan lebaran kemarin saya nggak cihuy sama sekali, lha wong bunyi batuknya sudah seperti perokok berat. Padahal kan saya nggak merokok 🙁 . Sudah habis vitamin dan obat batuk berbotol-botol hasilnya tetap nihil. Sepertinya ini adalah batuk terparah yang pernah saya alami deh… *sedih*

Mama sempat menyarankan saya untuk pergi ke internist untuk memastikan batuk apa sih sebenarnya yang kerasan banget di badan saya ini. Tapi saya sempat menolak, bukan apa-apa, saya malah takut. Takut kalau ternyata di dalam paru-paru saya ada apa-apanya. Iya, saya aneh ya? Bukannya malah bagus kalau ketahuan penyakitnya apa biar cepat diobati, mengingat saya kan punya balita yang lagi lengket-lengketnya sama saya. Sempat antara geli dan sedih kalau Alea ditanya sama papanya, “gimana kalau Mama batuk?”. Dengan ekspresi lucu Alea menirukan gaya saya batuk, “uhuk, uhuk, uhuk!”

Akhir bulan lalu akhirnya saya beranikan diri ke rumah sakit untuk mengecek kondisi saya. Jangan ke internist dulu deh, ke THT aja. Dengan diantar suami, saya pun ke RS Medistra yang kebetulan dekat dengan tempat tinggal saya. Di sana saya diperiksa oleh dr. Nirmala, Sp.THT. Ya saya ceritakan apa keluhan saya yang sudah mengalami kebosanan tingkat akut dengan batuk yang saya derita ini. Setelah dicek sana-sini, dokter bilang batuk saya ini berawal dari pilek, bisa juga karena alergi (entah debu, atau udara dingin), jadilah radang dan sebagian lendirnya turun hingga menyebabkan batuk. Dalam hati saya alhamdulillah, berarti tidak semengkhawatirkan apa yang ada di dalam pikiran saya sebelum ke rumah sakit. Oleh dokter saya dikasih obat yang dosisnya ringan saja mengingat saya masih menyusui. Awalnya kalau memang sudah parah, mau dikasih obat yang mengandung morfin, tapi risikonya ya saya bakal teler berat. Lha ya nanti anak saya ikutan teler dong? Nggaklah, jangan, ini aja dulu. Toh belum seberapa berat.

Selama mengonsumsi obat itu, lumayanlah batuk pileknya berkurang, tapi masalah datang lagi, ketika obat itu habis lha kok batuk pileknya datang lagi :(( *stress* . Sampai akhirnya saya menyerah, ya sudah… saya ke spesialis penyakit dalam :((. Sore itu, sepulang kantor saya langsung ke RS Medistra lagi sambil terbatuk-batuk. Suara saya sudah serak tak ‘berbentuk’ lagi. Sesampainya di loket pendaftaran saya tanpa memilih dokter (karena saya belum pernah ke internist mana pun di sini), akhirnya saya dipilihkan dengan dr. Telly Kamelia, SpPD. Setelah menunggu selama 30 menit, dr. Telly pun datang. Dokter yang ramah dan komunikatif, itulah kesan pertama saya pada dokter berhijab di depan saya itu.

Saya diinterview hingga detail kira-kira apa penyebab batuk yang tak kunjung sembuh ini. Dicari penyebabnya, mulai faktor dari dalam keluarga, teman, lingkungan rumah, lingkungan kerja, aktivitas sehari-hari, dan banyak lagi pertanyaan lainnya. Hingga akhirnya tiba di kesimpulan yang sama dengan dr. Nirmala, SpTHT, sepertinya saya alergi debu dan udara dingin. Setelah diperiksa dada, punggung, hidung, tenggorokan, akhirnya penyakit saya ‘ketemu’, saya didiagnosa terkena rhino-faringitis, faringitis, dan bronchitis. Intinya saluran pernafasan saya terkena infeksi, gitu deh kira-kira kesimpulannya. Dan saya harus foto thorax untuk lebih memastikan apa yang ada di sekitaran paru-paru saya. Sampai sekarang foto thoraxnya belum saya ambil, nanti saja sekalian pas kontrol lagi hari Rabu, 16/09/2015. Semoga sih nggak sampai ada apa-apa di paru-paru saya ya, hiks… 🙁

resep
Alhamdulillah, sepertinya obatnya mulai bereaksi. Kata dokter sengaja memang diberi obat yang agak tinggi dosisnya, nanti ketika kontrol kedua akan dilihat hasilnya apakah ada perubahan/tidak. Kalau memang manjur, akan pelan-pelan dikurangi dosisnya. Baru setelahnya akan diterapi. Syarat terapinya saya harus total washed out dari segala konsumsi obat, vitamin, atau jamu selama kurang lebih satu minggu. Kalau terapi itu diberikan sekarang ketika saya masih sakit, kata dokter tidak bisa. Karena saya jadi tidak punya tameng untuk menangkal penyakitnya. Jadi biar sembuh dulu baru diterapi.

Dalam sakit kemarin, walaupun ‘cuma’ batuk, saya jadi merasakan betapa kesehatan itu amat sangat berarti. Pilek sedikit saja, itu sudah pengaruh ke mana-mana. Sudah saatnya jaga kondisi kesehatan dengan lebih baik lagi, mengingat kondisi badan saya termasuk rentan, plus saya bukan pehobi olahraga pula *self keplak*.

Baik-baik jaga kondisi badan ya, temans. Sehat itu mahal dan ribet (sekalipun biaya ditanggung asuransi). Ribet karena tetap harus pergi ke rumah sakit, ketemu dokter, nebus obat, and the blablabla. Semoga kita selalu diberikan kesehatan, supaya bisa memanfaatkan usia, kesempatan, dan hari-hari yang diberikan Allah dengan lebih baik lagi, terutama bersama orang-orang tercinta. Aamiin…

 

 

 

sumber ilustrasi: nedandlarry.com dan pribadi

Continue Reading