Batuk Yang Tak Kunjung Sembuh Itu (2)

Jadi ceritanya, kurang lebih 2 bulan yang lalu, saya mengalami lagi batuk pilek yang nggak sembuh-sembuh. Diawali dari Alea yang flu, lalu menular ke mama, ke saya, dan ke suami. Ketika yang lain berangsur sehat kembali, tinggallah saya yang masih didera batuk pilek yang bukannya makin sembuh tapi justru makin menjadi-jadi.

Saya itu sebenarnya paling sebal sama yang namanya batuk, karena kalau sudah batuk pasti sembuhnya lama. Seperti kejadian 2 tahun yang lalu, ketika saya mengalami batuk yang ‘nggak biasa’ lantaran hampir 3 bulan saya batuk-batuk nggak jelas. Sudah berbagai obat saya minum, sudah berbagai dokter saya datangi, tapi toh batuk saya tak kunjung sembuh. Hiks…

Setelah ‘absen’ selama 2 tahun, ternyata si batuk itu datang lagi menghampiri saya. Sama seperti tahun sebelumnya. Sembuhnya pun lama, hampir 2-3 bulanan. Mulai dokter umum, hingga dokter spesialis sudah saya datangi. Mulai obat tradisional, sampai obat yang harganya bikin ngelus dada sudah saya konsumsi, tapi nyatanya batuk itu tak kunjung pergi, malah ditambah sesak nafas yang rasanya sangat menyiksa.

Puncaknya pas upacara 1 Juni 2017 kemarin, kok ndilalah saya pas tidak sedang jadi petugas upacara. Biasanya kan kalau nggak ngemsi, ya baca UUD. Di upacara kali ini kebetulan sama sekali tidak tugas, dan tidak sedang mem-back up petugas lainnya. Di tengah upacara berlangsung, lha kok mendadak saya batuk tak berhenti-henti. Jeda sebentar, batuk lagi, jeda sebentar, batuk lagi, begitu seterusnya. Hingga puncaknya pas di mobil saya batuk-batuk sepanjang jalan sampai tiba di rumah. Bisa dibayangkan betapa tersiksanya saya waktu itu, kan? Dan gara-gara batuk itulah saya terpaksa membatalkan ibadah puasa saya karena harus minm obat untuk meredakan batuknya. Hiks…

Akhirnya, dengan tekad bulat ingin sembuh beneran, keesokan harinya saya memutuskan untuk ke RS St. Carolus, khusus untuk konsultasi ke dokter spesialis paru. OMG! Pulmonologist! Ya Tuhan, baru kali ini saya mendatangi dokter penyakit kelas berat begini. Padahal dulu kalau flu saya cukup ke dokter umum saja sudah sembuh, ini kok ya pakai ‘tour’ ke dokter spesialis THT, spesialis penyakit dalam, dan sekarang malah ke spesialis paru. Pas ulang tahun pula.

Berhubung saya belum pernah sama sekali ke dokter spesialis paru, dan tidak ada rekomendasi sebelumnya harus ke dokter spesialis paru mana yang bagus, akhirnya saya pilih saja secara random, dr. Muherman Harun, SpP. Alasannya simple saja, jadwal praktiknya siang, pukul 12.00-14.00, jadi saya bisa ambil waktu sebentar ke RS. Carolus yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kantor, yaitu daerah Salemba.

Siang itu antrean pasien di dr. Muherman tidak terlalu banyak, tapi memang rata-rata waktu konsultasinya lama. Mungkin beginilah tipikal dokter yang menangani penyakit kelas berat, konsultasinya (harus) lama dan detail. Pikir saya. Setelah menunggu selama kurang lebih 30 menit, akhirnya nama saya pun dipanggil. Di dalam, saya sudah ditunggu oleh seorang perawat dan dokter senior yang kalau saya taksir usianya mungkin di atas 80 tahun, tapi masih terlihat sehat dan segar bugar sih. Setelah menceritakan keluhan kesehatan yang saya alami, beserta riwayat penyakit sebelumnya, dan beliau menginterview saya dengan beberapa pertanyaan seputar anak dan suami untuk memastikan apakah ada hubungan dengan penyakit yang saya derita (kebetulan saya dan suami memang ada alergi, jadilah Alea pun ‘mewarisi’ hal yang sama dengan kami berdua), beliau pun mulai memeriksa saya dengan saksama.

Nah, herannya, seharian itu ndilalah saya sama sekali pas tidak ada batuk pilek, beda dengan hari sebelumnya yang batuk-batuk luar biasa ditambah dengan sesak nafas yang bikin tersiksa seharian. Saya pikir-pikir kok kasusnya jadi sama seperti rambut ya. Coba deh, kalau kita sudah niat mau potong rambut, rambut kita itu seolah berubah jadi lebih lembut, lebih enak diaturnya, lebih sehat, jadi sayang mau motong. Begitu juga dengan sakit yang saya alami kemarin. Giliran diperiksa dokter, eh seperti orang yang sedang nggak sakit. Hrrr…

Setelah dicek, dokter pun menuliskan resep untuk saya.

Me: Jadinya, saya sakit apa, Dok?

Him: Bronkhitis. Itu pun levelnya ringan kok

Me: Bronkhitis saja, Dok?

Him: Oh, maunya sama apa?

Me: Hahaha, bukan gitu. Dua tahun lalu kan saya juga mengalami hal yang sama; dan dideteksi oleh dokter kena faringitis, rhinofaringitis, bronkhitis, dan asthma. Nah 3 penyakit lainnya itu udah enggak ada ya, Dok? Maksud saya itu…

Him: Kamu bronkhitis aja kok. Sama seperti cucu saya, dia juga bronkhitis. Dia terapi renang, sekarang renangnya jago. Renang itu bagus untuk paru-paru. Kalau kamu bisa renang, akan jauh lebih bagus. Anak kamu nanti juga harus bisa renang ya. Usia 3 tahun sudah harus dikenalkan dengan renang, usia 5 tahun sudah harus mulai bisa…

Me: Ok, Dok.

Him: Ok, kalau kamu makan gorengan, minum es, makan yang manis-manis, atau pas kecapekan, kamu sering batuk/pilek, nggak?

Me: Mmmh… kebetulan saya memang bukan fans makanan dan minuman itu sih, Dok. Dari dulu memang sengaja mengurangi

Him: Kenapa?

Me: Tenggorokan saya kayanya sensitif deh, jadi sering banget radang

Him: Ok, habis ini kamu saya beri obat yang kalau sudah kamu minum nanti kamu bebas mau makan apa saja. Kamu boleh makan gorengan yang paling enak, makan es, makan/minum yang manis juga boleh. Minggu depan kamu ke sini lagi, khusus untuk cerita apa yang kamu rasakan setelah kamu minum obat dari saya. Ok, ya?

Me: Siap, Dok!

Tak berapa lama setelah mengantri di farmasi, saya menerima obat yang jumlahnya hanya 10 biji, yang aturan minumnya hanya di pagi hari setelah sarapan, dan sore hari jika diperlukan. Harganya pun tidak tertera di kuitansi, atau saya yang siwer, ya? Eh, tapi beneran nggak tertera harganya lho. D kasir saya hanya membayar Rp90.000,00 sejumlah sisa biaya kekurangan pembayaran jasa dokter spesialis yang tidak ditanggung oleh asuransi, tidak ada biaya obat sama sekali. Berbeda dengan dokter (di rumah sakit) sebelumnya yang meresepkan banyak sekali obat, hampir 1 tas plastik yang terdiri dari antibiotik, sirup obat batuk, sampai inhaler, yang harga totalnya bisa beli high heels Guess. Lha ini, dokter Muherman hanya meresepkan 1 jenis obat saja tapi alhamdulillah ternyata manjur. Batuk saya berhenti total hanya dalam waktu 3 hari!

MYXJ_20170608154200_save
Mencari dokter yang ‘mengerti’ penyakit kita itu sama seperti mencari jodoh. Cocok-cocokan. Buktinya saya dan Alea yang dalam 2 tahun ini sering ‘berkelana’ dari dokter ke dokter akhirnya menemukan dokter yang ‘cocok’ dengan sakit yang kami derita setelah ‘berkelana’ dari dokter satu ke dokter lainnya, dari rumah sakit satu ke rumah sakit lainnya.

Kesehatan itu terasa begitu mahal ketika kita dihadapkan dengan lembar kuitansi dokter spesialis plus kuitansi farmasi rumah sakit. Sekalipun itu ditanggung oleh asuransi, akan tetap nyesek ketika melihat nominal yang tertera di sana.

Semoga kita senantiasa dihindarkan dari segala macam penyakit. Aamiin…
Sehat selalu yaaaa…

Continue Reading

Di Balik Cerita Ulang Tahun

Happy Birthday

Tahun ini adalah ulang tahun yang istimewa buat saya. Karena di tahun 2017 ini ulang tahun saya jatuh di hari dan weton yang sama dengan ketika saya lahir dulu. Sama-sama jatuh di hari Jumat dan, weton yang sama yaitu Pon! Halah, penting banget, yaa… Ya hari kaya begini kan belum tentu bisa ditemukan di setiap tahun, jadi wajarlah kalau saya menganggap ulang tahun di 2017 ini istimewa. Lebih istimewa lagi ketika jatuhnya di bulan Ramadan. Jadi saya nggak perlu traktiran teman satu biro… *eh*

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, saya sudah molor duluan sebelum pukul 00.00, waktu di mana orang-orang sering mendapatkan kejutan atau ucapan selamat ulang tahun pertama kalinya. Tapi saya selama ini belum pernah ada kejutan apa-apa tuh. Tapi biasanya sih yang mengucapkan selamat ulang tahun duluan Pak Suami sih, tentu saja sayanya juga sambil merem karena tidak kuat menahan kantuk.

Paginya barulah mulai ramai smartphone saya berbagai ucapan dari keluarga, whatsapp-whatsapp group dan pribadi, sama riuhnya dengan ucapan selamat di sosial media. Ah, kalian… terima kasih ya. Semoga doa yang sama juga tercurah pada kalian semua ya. Aamiin…

Yang lucu dan mengharukan itu pas di kantor. Jadi ceritanya sudah jam pulang kantor. Di ruangan hanya ada beberapa orang teman saja yang masih tinggal karena lembur. Saya sendiri sudah bersiap akan pulang sebenarnya. Sampai akhirnya ada 2 orang teman yang mengajak pulang bareng. Anyway, sampai situ saya masih belum nyadar lho kalau mereka berdua ini mau kasih saya surprise ulang tahun. Yang saya lihat mereka ini kok masih ribet aja nggak pulang-pulang, sementara saya sudah siap dari tadi.

birthday surprise

Ketika saya sedang asyik mainan HP, tiba-tiba salah satu dari mereka datang ke kubikel saya dengan alasan mencari berkas yang ditinggalkannya tadi. Padahal seingat saya dia nggak meninggalkan berkas apa-apa. Sampai akhirnya saya baru sadar kalau mau dikasih surprise ketika tiba-tiba dia menutup mata saya dari belakang, dan datanglah beberapa teman yang masih di ruangan, berkumpul di kubikel saya sambil membawakan mini tart dengan beberapa lilin ulang tahun. OMG! Kalian ini ya… 😀

Setelah mengucap doa dalam hati, saya pun meniup lilin ulang tahun dengan perasaan terharu. Kuenya, tentu saja belum bisa dimakan saat itu juga, kan masih pada puasa, hihihi…

Tak putus sampai situ saja, ternyata keesokan harinya saya diberi surprise oleh Pak Suami dan adik tercinta berupa… dijajanin di mall, boleh milih kado apa aja yang saya suka. Yes! Kesempatan! Saatnya menguras dompet dua orang ini! Hahaha… Eh, tapi nggaklah, saya nggak setega itu. Saya cuma pilih apa yang kebetulan saya butuhkan saja kok. High heels impian saya dan dompet. Sudah itu saja… *nangis lihat bon*

Hari Seninnya, saya pikir semua kejutan dan kado-kadoan sudah selesai dong, ternyata alhamdulillah masih ada yang kasih kado lagi. Kali ini berupa mini ice cream yang bentuknya imut lucu, yang dirajut sendiri oleh temen kantor, dan yang satu lagi yaitu In Ear Monitor, semacam alat untuk memonitor suara yang didesain agar pas terpasang di telinga penyanyi itu lho. Pas terima kado yang ini saya langsung membatin, wah, berasa sudah jadi penyanyi profesional aja ya, pakai IEM, hihihik. Ah, suka semualah pokoknya. Thank you very much, dear you!

Tapi, ngomong-ngomong yah, dari sekian banyak kado ulang tahun yang pernah saya terima, ada satu kado yang belum pernah saya terima sama sekali. Eh, pernah ding, tapi sudah dulu banget dan bukan dalam rangka ulang tahun, di zaman masih belum menikah. Apa itu? Bunga. Lah?! Iya, dulu sudah pernah sih kode-kodean sama suami soal bunga-bungaan ini, sampai dengan kemarin jawaban dia masih keukeuh

“Haiyah, ngapain sih minta dikasih bunga segala, wong ya nggak bisa dimakan, nggak tahan lama. Kasih kado itu yang bermanfaat, tahan lama, bisa dipakai, gitu…”

Jadi ya begitulah, pemirsa. Mungkin beginilah nasib bersuamikan orang teknik yang terbiasa berpikir pragmatis, dan kebetulan bukan tipe romantis. Halah, malah curhat, hahaha. Tapi ada enaknya juga sih nggak dikado bunga, kalau pemikirannya begitu, saya malah bisa minta kado yang lebih mahal dari harga bunga. Ye kaaan…

 

 

 

 

picture source: from here

Continue Reading

Balada Ojek Online

ojek-online

Sebagai orang yang mengaku sebagai certified ojek online customer yang notabene pulang pergi ke kantor pasti mengandalkan alat transportasi satu ini, tentu ada banyak cerita bersama abang-abang tukang ojek online.

Setiap berangkat e kantor (kalau pas lagi nggak bareng suami) saya pasti memesan layanan ojek online. Kalau pagi sih relatif lebih mudah dan cepat dapatnya, dibandingkan ketika pulang kantor (ditambah dengan lokasi penjemputan yang ‘kurang umum’ menurut mereka). Kebetulan lokasi penjemputan dekat dengan istana, di mana ada aturan yang tidak membolehkan motor melalui Bundaran HI hingga kawasan Istana Negara, menyebabkan mereka ragu untuk mengambil orderan saya, bahkan sering yang mendadak cancel dengan berbagai alasan. Kalaupun iya ada yang terima order saya, itu pun sampainya lama sekali, minimal 30 menit baru sampai. Kecuali saya rela jalan kaki lewat komplek istana dan menunggu di lokasi yang lebih mudah aksesnya, misal di Halte Veteran III. Jadi selama lokasi penjemputan di depan gerbang utama ya sudah pasrah saja sampai driver-nya datang. Intinya memang harus sabar.

Dari sekian banyak pengalaman dan cerita bersama abang ojek, ada satu yang lucu unik. Jadi ceritanya saya pulang lembur pukul 18.00 wib. Untuk mengantisipasi supaya nggak terlalu lama menunggu, sebelum pukul 18.00 saya sudah order via aplikasi. Nah persis dengan harapan saya, tak lama kemudian saya dapat pengemudi yang lokasi stand by-nya tak jauh dari kantor, di sekitaran stasiun Juanda. Berhubung lokasi penjemputan yang gerbangnya persis di samping Istana Merdeka banyak abang ojek yang ragu, apalagi bagi driver yang belum pernah mendapat orderan dari kantor saya, yang ada keder duluan. Malah ada yang bilang, “kalau nanti saya ketangkep polisi, ibu yang tanggung jawab ya!”. Yaelah, Pak… segitunya.

Kebanyakan para driver itu ragu kalau mengambil dari Jalan Veteran, antara mau langsung belok kiri atau enggak, karena takut ditilang polisi, padahal kalau untuk sekadar pick up atau drop off saja tidak ada masalah. Toh nantinya kita tidak akan lewat Monas/Thamrin, tapi lewat Tugu Tani, Menteng, dan seterusnya. Intinya tetap putar balik lewat depan gerbang utama. Alhasil banyak yang memilih aman dengan jalan memutar ke sana-kemari yang ending-nya kadang saya yang harus menyeberang ke depan Smailing Tour.

Demikian juga dengan abang ojek saya yang satu ini. Jujur, niat hati sebenarnya sudah pengen cancel dari tadi, tapi kalau di-cancel belum tentu saya dapat ojek lagi dalam waktu singkat, sementara hari sudah semakin malam. Jadi saya memilih menabahkan diri menunggu di depan gerbang sambil dinyamukin.

Setelah melalui drama bablas-bablasan, dan puter-puteran sebanyak 3x (kurang 4x putaran ditambah lempar jumroh), akhirnya abang itu berhasil menemukan saya yang mungil ini di depan gerbang pada pukul 19.05 dengan tampang yang semakin kucel karena terlalu lama menunggu.

“Maaf ya, Bu… saya tadi muter-muter dulu, jadi lama jemputnya…”
“Iya, gapapa, Pak…” jawab saya pendek sambil memakai helm.

Singkat cerita sampailah saya di rumah dengan selamat kurang lebih 45 menit kemudian setelah menempuh perjalanan yang mengandung macet naudzubillah di Rasuna Said.

Dan selang satu jam setelah itu muncullah pesan dari nomor yang tak dikenal ke gawai saya, isinya begini:

balada ojek online
Eaaa… hahaha… Saya bacanya antara speechless dan geli sendiri. Baru kali ini saya dikirimi pesan oleh abang ojek yang baper begini, hihihik. Saya sabar? Lebih tepatnya disabar-sabarin sih, Pak. Abisnya Bapak muter nggak selesai-selesai sampai sempat keluar orbit sih, Pak. Tapi alhamdulillah ya dibilang sabar, karena aslinya bukan orang yang sabaran. Alasan lain kenapa sampai saya bela-belain nungguin Bapak sampai Bapak tiba, ya karena cuma Bapak yang mau menerima orderan saya ke Mampang, yang lain pada nolak, Pak. Hayati lelah, Pak…. Hiks…

Eniwei, terima kasih kembali lho, Pak. Semoga segera bertemu dengan jodohnya yaaa… Semangat, Pak!

 

sumber ilustrasi: dari sini , whatsapp pribadi

 

Continue Reading

Pamer di Sosial Media

sosial-media

Suatu siang, di sudut sebuah rumah makan cepat saji di daerah Pecenongan, saya melewatkan waktu makan siang dengan para sahabat saya. Seperti biasa, obrolan dengan topik random meluncur satu persatu dari mulut kami, kebanyakan sih memang ladies talk selain topik-topik lainnya yang ‘ghibahable’.

Sampai akhirnya salah satu dari kami membuka topik yang sedikit serius. Tentang pamer di sosial media, gara-gara ada salah satu teman mereka yang baru saja meng-instastory-kan bayar DP gedung buat resepsi, hahaha…

Seperti yang kita semua tahu, sosial media itu seperti sebuah show room yang sangat luas di mana kita bisa memamerkan tentang apapun. Mulai status, popularitas, prestasi, gaya hidup, hobi, kehidupan pernikahan/keluarga, bisnis yang sedang dijalankan, tempat hangout/liburan, dan lainnya, karena sosial media salah satunya memang dirancang secara sempurna untuk ‘memanipulasi’ keinginan kita untuk pamer/sharing/berbagi, keinginan untuk diperhatikan oleh orang lain, termasuk sebagai media yang bisa digunakan untuk membenci sesuatu/orang lain secara bersama-sama.

Contoh kecil, ketika seseorang berkesempatan pergi ke suatu tempat, mengunggah foto tempat itu secara online adalah sebagai bukti otentik pengalaman luar biasa yang dunia harus tahu, karena kalau tidak diunggah, sama saja dengan hoax.

Mungkin saja bagi si pemilik akun, apa yang mereka unggah itu bukan bermaksud untuk pamer, cuma ingin berbagi kebahagiaan misalnya, tapi toh nyatanya tidak semua orang bisa menerima maksud dan tujuan pemilik akun, bukan? Apalagi kalau yang diunggah itu mengandung hal-hal yang sensitif bagi orang lain; dan tingkat sensitivitas seseorang terhadap sesuatu pasti berbeda-beda, tergantung melihat dari sudut pandang yang mana.

Contoh lagi, sebuah kencan pertama yang sempurna itu wajib diunggah di sosial media, apalagi kalau pasangan yang kita kencani itu wajahnya memang ‘social media uploadable’, layak dipamerkan di sosial media. Pokoknya unggah saja dulu, soal kualitas dan kepribadian dia bagaimana itu urusan nanti.

Okelah ya, tapi tanpa kita sadari ternyata tidak semua orang suka dengan unggahan kita. Misalnya saja orang-orang yang kebetulan belum memiliki pasangan, unggahan romantis yang muncul di newsfeeds mereka itu sama seperti sebuah ‘reminder‘ kalau mereka belum memiliki pasangan yang bisa dipamerkan ke sosial media, padahal semua orang sudah punya hubungan yang ‘sempurna’ dengan orang lain.

Jujur, dulu ketika saya belum hamil, saya paling sensitif kalau melihat ada teman yang sedang hamil. Kalau cuma hamil saja sih masih bisa saya terima, tapi kalau sudah mulai baca status keluhan selama kehamilan, yang mual, muntah, letih, lesu, dan segala hal yang menyangkut kehamilan, yang seolah-olah itu siksaan banget itu kok berasa lebay gimana ya. Yang namanya hamil pasti akan ada perubahan signifikan di kondisi badan, tapi ya wajar, karena ada janin yang sedang tumbuh berkembang dalam rahim kita. Silakan saja mengabarkan tentang status kehamilan, tapi (menurut saya) tidak perlu sampai ekstrem mengunggah status keluhan selama hamil tiap 5 menit sekali. Percayalah, saat-saat hamil itu justru saat yang paling precious bagi seorang perempuan, dan akan dirindukan ketika sudah lama tidak hamil, jadi ya sudah nikmati saja segala prosesnya, jangan terlalu banyak mengeluh. Bukan berarti jangan mengeluh, sewajarnya saja. Bawel banget ya saya? Hahaha… Tapi itu dulu, ketika saya masih suka sensi-sensian.

Ketika ahamdulillah akhirnya saya pun mendapat rezeki yang sama dari Allah berupa kehamilan yang sehat sampai dengan kelahiran, di situ saya banyak belajar arti menghargai perasaan orang lain. Sekalipun saya merasa amat sangat bahagia karena akhirnya hamil juga setelah menunggu selama lebih dari 5 tahun, tapi kebalikannya, saya justru lebih tertutup di sosial media. Jangankan menulis blog, up date status di gadget dan sosial media pun sengaja saya batasi. Kalau pun iya saya up date status, tidak ada hubungannya sama sekali dengan kehamilan saya. Biarlah mereka tahu dengan sendirinya, tanpa saya harus bereuphoria di sosial media, atau status di gadget saya, mengingat adik saya, beberapa kerabat, serta sahabat saya lainnya juga masih belum dikaruniai momongan hingga saat ini.

Nah, bagaimana dengan pamer lainnya, misalkan baru beli rumah, mobil, bayar DP gedung untuk resepsi, dan lainnya. Ya, di era sosial media, semua sah-sah saja, karena saat ini nilai-nilai yang dianut mayoritas orang memang ketenaran atau pengakuan diri oleh lingkungan sosial. Tidak ada yang salah dengan ketenaran atau sharing tentang sebuah pencapaian saat itu, karena bagi sebagian orang itu bisa memberikan kepuasan psikologi.

“Tapi kan kesel ya, Kak. Kan mereka baru pacaran, masa sudah pamer beli rumah? Biasa aja kali…”

Setiap orang punya motivasi berbeda ketika mengunggah sesuatu ke sosial media mereka. Tinggal kita melihat hal itu dari sudut pandang yang mana. Siapa tahu memang mereka sudah ada rencana akan menikah dalam waktu dekat, jadi ketika ada rezeki lebih, mereka menabungnya dengan cara membeli rumah secara patungan, biar ketika mereka sudah menikah beneran sudah ada rumah yang bisa mereka tempati.

Sosial media memang milik kita, tapi kita jugalah yang harus bijak menggunakannya, karena bagaimana pun sosial media masih memiliki berbagai manfaat di banyak hal, misalnya commerce, pembelajaran, penyebaran informasi, komunikasi, dan pariwisata.

Intinya, jangan sampai tampilan sosial media terlalu mempengaruhi pikiran kita. Ada banyak orang yang foto-fotonya tidak terlalu di-likes oleh banyak orang, atau jumlah followers-nya tidak banyak, tapi justru mereka punya lebih banyak teman yang real di kehidupan nyata. Ada juga pasangan yang jarang mengunggah foto-foto romantis, atau postingan-postingan manis yang menunjukkan betapa besar cinta masing-masing kepada pasangannya, tetapi secara real mereka justru lebih bahagia dari pada yang kita lihat di newsfeeds.

Ada orang yang tidak memamerkan gadget baru dan barang mahal lainnya, tapi ternyata mereka sudah punya rumah sendiri, punya rekening bank yang gendut, dan punya lebih banyak prestasi dalam hidup dibandingkan dengan mereka yang terus-menerus pamer tentang ‘ukuran’ kehidupan yang sempurna ala sosial media.

Inilah mengapa kita tidak harus percaya dengan semua yang kita lihat di sosial media. Kehidupan tiap orang tidak sesempurna yang berusaha mereka tampilkan secara online kok, karena penampilan bisa saja sangat menipu.

Just my two cents…

 

picture source Pinterest

Continue Reading

Drama itu bernama Long Weekend

mood-swing

Seperti umumnya perempuan, pasti akan mengalami masa datang bulan. Dan, seperti biasa juga, pasti kita akan mengalami yang namanya mood swing alias mood senggol bacok a.k.a supersensitive. “Ah, siapa bilang? Aku lempeng-lempeng aja, kok…”. Sini, berantem sama saya, yok! Hahaha…

Seperti bulan ini misalnya, seminggu sebelum datang bulan, saya sudah ‘mengendus’ bau-bau sensi dan nafsu makan yang gila-gilaan. Sudah makan nasi, masih makan roti. Sudah makan roti masih juga ngembat buah. Istirahat sebentar, eh ngemil keripik singkong. Habis keripik singkok, dilanjut Belvita. Tidur. Bangun-bangun makan cincau. Habis itu nimbang. Eh, kaget sendiri karena jarum timbangan mengarah ke kanan menjadi 52 kg, setelah sebelumnya 48-49 kg. Itu kayanya yang 3 kg selain camilan, juga mengandung emosi deh, karena kalau sudah selesai datang bulan ya berat badan kembali ‘normal’.

Nah, 3 hari libur kemarin itu jadi masa yang penuh drama buat saya. Kami memang sengaja tidak pergi ke mana-mana selain ke Superindo untuk belanja bulanan, selebihnya di rumah saja, main sama Alea dan jadi ibu rumah tangga sejati. Ciyeee, sejati. Kaya ibu kita Kartini. Putri Sejati. Nggak ke mana-mana selama long weekend itu sebenarnya ada positifnya juga sih, saya jadi punya quality time sama keluarga, utamanya sih sama Alea. Mulai nonton youtube/film bareng, main masak-masakan bareng, bikin bubble dari air sabun, atau mainan play dough dari tepung terigu. Ada waktu juga buat masak ala kadarnya buat Alea dan papanya, beberes lemari yang selama ini cuma janji palsu. “Iya, tenang, nanti aku beresin…”. Tapi itu janji 6 bulan yang lalu dan baru sempat ‘kepegang’ kemarin, pas semua pada pulas tidur siang. Eh, jangan salah, beberes rumah atau lemari itu butuh niat dan tekad yang bulat, didukung dengan kesempatan dan waktu yang tepat.

Trus, kemarin cranky, nggak? Iya, biasalah, namanya juga perempuan mau datang bulan, kadang lebaynya suka berlebihan. Sudah lebay, berlebihan pula. Eh, tapi beneran deh, kemarin itu full kejadian yang menuntut kesabaran tingkat nasional. Suami saya itu tipe suami panikan. Kalau Alea nangis, atau merengek minta sesuatu, dan dia nggak ngerti apa maksudnya, pasti akan mengarahkan, “ya udah ke mommy aja ya… yuk, yuk…”. Kalau saya lagi nggak ngerjain apa-apa sih, ya nggak apa-apa. Lha kalau lagi banyak yang harus dikerjain ya kenapa nggak dibantu ngasuh dulu sih *usap peluh*. Nah, kemarin gara-garanya juga sepele banget, tapi berhubung sayanya juga lagi mood senggol bacok, makanya jadi agak ngambek-ngambekan sama suami. Cuma gara-gara, youtube di i-Pad lagi no connection, gara-garanya saya salah tekan apalah, nah saya yang lagi masak minta tolong ke suami buat setting ulang modem, atau benerin apalah biar internet lancar lagi. Ya kan saya lagi nyambi masak, nanti gosong dong masaknya, ya kan? Ndilalah Aleanya lagi baperan, maunya saya aja yang benerin internetnya, jangan papanya, karena katanya papanya nggak bisa benerin. Yaelah, Nak. Kamu ini nambahin PR mama aja. Duh, pokoknya lagi pada lebaylah serumah.

Itu pertama, kasus kedua. Pas lagi beberes dapur, mendadak rumah kaya kok berasa ada aromaterapinya ya, kaya wangi-wangi minyak gosok, gitu. Feeling saya agak nggak enak nih. Nah, bener deh, di kamar, Alea lagi asik menuangkan minyak gosok ke lantai sampai kecret ke mana-mana, sebagian lagi diolesin ke badan bonekanya. Jadilah itu boneka wangi minyak gosok, plus lantai-lantainya tentu saja. Antara geli, kesel, dan capek, numpuk jadi satu, tapi tetap lumer juga ketika melihat senyum tengil di wajah Alea yang innocent, demi melihat saya menyemprot lantai, mengepel, dan membereskan bonekanya yang wangi obat gosok.

OK, berarti sudah aman ya, Kakak? Aman sih, sampai setengah jam kemudian hal yang sama terjadi berulang. Kali ini Alea kembali beraksi. Kali ini bukan dengan obat gosok, melainkan dengan minyak rambut kemiri. Minyak kemirinya tidak lagi dioleskan ke badan bonekanya, tapi dituang ke lantai, buat ngepel. Huhuhuhuhu…. Alea, huhuhuhu… Suami saya karena judulnya masih sensi, dia cuma menengok sebentar lalu sibuk dengan outstanding pekerjaannya. Pokoknya judulnya saya lagi dicuekin sama suami, ceritanya masih marah gara-gara kejadian tadi pagi yang menurut saya sih… come on,.. sudah kedaluwarsa.

Hingga puncaknya sore, menjelang maghrib, setelah seharian ‘tegangan tinggi’, pecah juga tangis saya, hanya gara-gara camilan yang tidak sengaja ditendang Alea hingga berhamburan ke lantai yang baru saja saya sapu dan pel. Alea, seperti merasa bersalah, langsung mendekati saya dan memeluk saya erat. Lah, saya ya jadi makin baper. Saya tahu dia tidak sengaja menumpahkan makanan di lantai, saya juga sedang dalam kondisi emosi yang ‘berantakan’ karena hormonal, ditambah dengan suasana yang emosi-emosian antara saya dan suami, walaupun saya sendiri sudah tidak marah. Saya itu kalau marah cuma 5 menit kok, habis itu ya sudah selesai. Enak lho kalau mau berantem sama saya, marahnya sebentar. Eh, gimana, gimana?

Tapi ada hal positif yang saya pelajari selama 3 hari kemarin. Tugas menjadi seorang perempuan, seorang ibu, seorang isteri, seorang perempuan bekerja, itu tidak pernah mudah. Dibutuhkan kesabaran luar biasa untuk memainkan 3 peranan itu secara bergantian. Menjadi orang tua itu juga tidak ada sekolahnya, begitu juga menjadi suami/isteri. Kita tiba-tiba saja ‘diceburkan’ dalam peran-peran itu tanpa terlebih dulu ditanya kesiapan kita. Karena kalau ditanya siap tidak siap ya selamanya akan tidak siap. Jadi anggap saja ini semua semacam pembelajaran seumur hidup.

Di situ, sebagai orang tua, saya bukan hanya belajar mengendalikan emosi, tapi saya juga belajar melihat bagaimana Alea mengelola emosinya, perasaannya, bagaimana dia menempatkan diri ketika ada salah satu orangtuanya yang sedang marah (entah itu marah kepada dirinya, atau ketika orang tua sedang bersitegang). Itulah kenapa saya dan suami berkomitmen untuk tidak bertengkar di depan anak. Kalaupun terpaksan kami sedang marahan, jangan sampai melibatkan/melampiaskan kepada anak. Karena bagaimana pun perasaan seorang anak itu sangat peka, melebihi kepekaan perasaan orang dewasa.

Sebagai seorang pasangan, saya juga masih terus belajar mengendalikan emosi, terutama lisan saya, jangan sampai lisan atau perbuatan saya mencederai perasaan suami saya atau orang-orang di sekitar saya. Terutama dalam kehidupan berumah tangga, karena bagaimana pun ridho suami adalah ridho Allah. Bukankah begitu, pemirsa? Tentu saja begitu!

Jadi, pesan moralnya apa? Sesungguhnya seminggu menjelang datang bulan adalah masa-masa berat bagi seorang perempuan. Bukan hanya berat di mengelola emosinya, tapi juga berat di sesi menahan nafsu makannya… hiks… 😐

 

 

sumber gambar dari : sini

Continue Reading
1 2 3 43