Siapa Cepat, Dia Dapat!

flashsale

Sebagai warga instagram, sepertinya kurang ngehits kalau belum follow akun-akun ngehits yang jumlah follower-nya ratusan ribu bahkan sampai jutaan. Iya, buat seru-seruan, atau syukur-syukur bisa menginspirasi diri sendiri dari segi apapun.

Selain mengikuti akun milik tokoh tertentu, saya juga mengikuti beberapa akun gosip dan online shop yang belum tentu saya rajin buka akunnya juga, hihihik. Nah, pasti tahu dong, kalau akun-akun online shop yang follower-nya puluhan/ratusan ribu itu sering mengadakan flashsale, alias jualan dalam satu hari yang bisa ludes dalam hitungan menit/jam.

Paling sering sih mantengin akun online shop baju muslim dan hijab yang kenamaan yang itu. Iya, yang modelnya kalau nggak mbak yang itu, ya mbak yang satunya lagi yang wajahnya mirip. Beberapa hari sebelum flashsale, biasanya mereka memberikan teaser produk apa saja yang akan mereka jual di hari yang telah ditentukan. Namanya flashsale pasti jumlahnya terbatas, biasanya mereka hanya menyediakan sekian ratus/ribu pieces, tapi sudah dipastikan yang berminat pasti ratusan ribu. Jadi sistemnya siapa cepat dia dapat.

Saking banyaknya yang berharap bisa dapat item hijab impian, mereka sampai berdoa di kolom komen, “bismillah, semoga aku dapet yang ini…”. Mungkin semacam menyugesti diri sendiri ya, saking kepengennya. Biasanya di sana juga ada beberapa jasa titip yang ikut nimbrung menawarkan jasanya, barangkali ada calon konsumen yang mau titip beli ke mereka. Tapi sejauh ini sih saya belum pernah pakai jasa titip untuk beli-beli barang, karena ya saya orangnya nggak ngoyo, kalau dapet ya syukur, enggak ya berarti belum rezeki.

Nah, setelah mengintip sneak peek di beberapa postingan akun hijab itu, kebetulan ada beberapa item yang saya suka. Segera saya atur tanggal, hari, dan jam sesuai dengan yang dijanjikan, untuk membeli item yang saya incar, bukan itu saja, untuk mempercepat proses pengiriman pesan whatsapp sudah saya copy formatnya sesuai dengan format yang diminta oleh penjual, jadi tinggal copy dan send saja. Sesekali ingin merasakan bagaimana sih euforianya belanja rebutan itu.

Dulu banget, pernah ada pengalaman belanja rebutan tapi nggak rebutan. Lah, gimana maksudnya? Iya, di akun instagram itu barang yang dimaksud sudah sold out saking banyaknya yang minat. Tapi ndilalah, mungkin para pembeli itu lupa/tidak tahu bahwa sebenarnya barang yang mereka cari itu juga dijual secara online di salah satu situs belanja fashion muslimah terkemuka di Indonesia, semacam kerja sama gitu, contohnya BrandIni x BrandItu. Berhubung hijab yang saya inginkan itu juga masih terpampang di situs tersebut jadi saya beli di web saja, dan dapat dong. Hihihik..

Kembali lagi ke cerita belanja rebutan tadi, di hari yang telah ditentukan, perasaan saya sudah campur aduk, antara deg-degan dan penasaran. Ketika si admin mengumumkan “send your chat now”, segera saya kirim order di waktu yang hampir tidak ada jeda sejak pengumuman selesai upload, pukul 09.00 sharp! Sent!

Centang dua abu-abu. Setidaknya sudah terkirimlah ya.

Sambil menunggu balasan whatsapp, saya mengerjakan hal lainnya. Sesekali saya cek handphone sekadar memastikan bahwa pesan saya sudah dibaca, syukur-syukur sekalian dibalas dengan total yang harus saya transfer.

Pukul 14.09 notifikasi whatsapp saya berbunyi. Yes! Dari online shop yang saya tunggu-tunggu. Hmmm, kira-kira saya dapat nomor antrean berapa ya.

“Maaf, sold, mbak sayang”

Tweew! Hiks. Ternyata jari saya masih kurang cepat dibandingkan dengan konsumen lainnya. ya…

Trus, kapok nggak belanja rebutan gitu? Agak-agak mengandung kapok juga sih, walaupun sensasi harap-harap cemasnya itu sih yang kadang bikin kangen, hihihihik

Sebenarnya sih semua online shop sistem penjualannya ya siapa cepat dia dapat, karena jumlah barang yang diproduksi kan tidak banyak, kecuali mereka memberlakukan sistem purchase order (PO). Kalau sistem PO biasanya mereka memproduksi sesuai dengan jumlah pesanan, jadi kita pasti dapat.

Ada untungnya juga saya bukan orang yang kalap belanja (online) ya, apalagi kalau duitnya nggak ada, hiks. Jadi mau belanja di mana saja kalau memang barang itu rezeki jadi milik kita, pasti akan jadi milik kita kok. Sesimpel itu.

Iya, ini lebih ke menghibur diri karena kalah set
*scroll-scroll online shop*

 

 

picture source: here

Continue Reading

Batuk Yang Tak Kunjung Sembuh Itu (2)

Jadi ceritanya, kurang lebih 2 bulan yang lalu, saya mengalami lagi batuk pilek yang nggak sembuh-sembuh. Diawali dari Alea yang flu, lalu menular ke mama, ke saya, dan ke suami. Ketika yang lain berangsur sehat kembali, tinggallah saya yang masih didera batuk pilek yang bukannya makin sembuh tapi justru makin menjadi-jadi.

Saya itu sebenarnya paling sebal sama yang namanya batuk, karena kalau sudah batuk pasti sembuhnya lama. Seperti kejadian 2 tahun yang lalu, ketika saya mengalami batuk yang ‘nggak biasa’ lantaran hampir 3 bulan saya batuk-batuk nggak jelas. Sudah berbagai obat saya minum, sudah berbagai dokter saya datangi, tapi toh batuk saya tak kunjung sembuh. Hiks…

Setelah ‘absen’ selama 2 tahun, ternyata si batuk itu datang lagi menghampiri saya. Sama seperti tahun sebelumnya. Sembuhnya pun lama, hampir 2-3 bulanan. Mulai dokter umum, hingga dokter spesialis sudah saya datangi. Mulai obat tradisional, sampai obat yang harganya bikin ngelus dada sudah saya konsumsi, tapi nyatanya batuk itu tak kunjung pergi, malah ditambah sesak nafas yang rasanya sangat menyiksa.

Puncaknya pas upacara 1 Juni 2017 kemarin, kok ndilalah saya pas tidak sedang jadi petugas upacara. Biasanya kan kalau nggak ngemsi, ya baca UUD. Di upacara kali ini kebetulan sama sekali tidak tugas, dan tidak sedang mem-back up petugas lainnya. Di tengah upacara berlangsung, lha kok mendadak saya batuk tak berhenti-henti. Jeda sebentar, batuk lagi, jeda sebentar, batuk lagi, begitu seterusnya. Hingga puncaknya pas di mobil saya batuk-batuk sepanjang jalan sampai tiba di rumah. Bisa dibayangkan betapa tersiksanya saya waktu itu, kan? Dan gara-gara batuk itulah saya terpaksa membatalkan ibadah puasa saya karena harus minm obat untuk meredakan batuknya. Hiks…

Akhirnya, dengan tekad bulat ingin sembuh beneran, keesokan harinya saya memutuskan untuk ke RS St. Carolus, khusus untuk konsultasi ke dokter spesialis paru. OMG! Pulmonologist! Ya Tuhan, baru kali ini saya mendatangi dokter penyakit kelas berat begini. Padahal dulu kalau flu saya cukup ke dokter umum saja sudah sembuh, ini kok ya pakai ‘tour’ ke dokter spesialis THT, spesialis penyakit dalam, dan sekarang malah ke spesialis paru. Pas ulang tahun pula.

Berhubung saya belum pernah sama sekali ke dokter spesialis paru, dan tidak ada rekomendasi sebelumnya harus ke dokter spesialis paru mana yang bagus, akhirnya saya pilih saja secara random, dr. Muherman Harun, SpP. Alasannya simple saja, jadwal praktiknya siang, pukul 12.00-14.00, jadi saya bisa ambil waktu sebentar ke RS. Carolus yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kantor, yaitu daerah Salemba.

Siang itu antrean pasien di dr. Muherman tidak terlalu banyak, tapi memang rata-rata waktu konsultasinya lama. Mungkin beginilah tipikal dokter yang menangani penyakit kelas berat, konsultasinya (harus) lama dan detail. Pikir saya. Setelah menunggu selama kurang lebih 30 menit, akhirnya nama saya pun dipanggil. Di dalam, saya sudah ditunggu oleh seorang perawat dan dokter senior yang kalau saya taksir usianya mungkin di atas 80 tahun, tapi masih terlihat sehat dan segar bugar sih. Setelah menceritakan keluhan kesehatan yang saya alami, beserta riwayat penyakit sebelumnya, dan beliau menginterview saya dengan beberapa pertanyaan seputar anak dan suami untuk memastikan apakah ada hubungan dengan penyakit yang saya derita (kebetulan saya dan suami memang ada alergi, jadilah Alea pun ‘mewarisi’ hal yang sama dengan kami berdua), beliau pun mulai memeriksa saya dengan saksama.

Nah, herannya, seharian itu ndilalah saya sama sekali pas tidak ada batuk pilek, beda dengan hari sebelumnya yang batuk-batuk luar biasa ditambah dengan sesak nafas yang bikin tersiksa seharian. Saya pikir-pikir kok kasusnya jadi sama seperti rambut ya. Coba deh, kalau kita sudah niat mau potong rambut, rambut kita itu seolah berubah jadi lebih lembut, lebih enak diaturnya, lebih sehat, jadi sayang mau motong. Begitu juga dengan sakit yang saya alami kemarin. Giliran diperiksa dokter, eh seperti orang yang sedang nggak sakit. Hrrr…

Setelah dicek, dokter pun menuliskan resep untuk saya.

Me: Jadinya, saya sakit apa, Dok?

Him: Bronkhitis. Itu pun levelnya ringan kok

Me: Bronkhitis saja, Dok?

Him: Oh, maunya sama apa?

Me: Hahaha, bukan gitu. Dua tahun lalu kan saya juga mengalami hal yang sama; dan dideteksi oleh dokter kena faringitis, rhinofaringitis, bronkhitis, dan asthma. Nah 3 penyakit lainnya itu udah enggak ada ya, Dok? Maksud saya itu…

Him: Kamu bronkhitis aja kok. Sama seperti cucu saya, dia juga bronkhitis. Dia terapi renang, sekarang renangnya jago. Renang itu bagus untuk paru-paru. Kalau kamu bisa renang, akan jauh lebih bagus. Anak kamu nanti juga harus bisa renang ya. Usia 3 tahun sudah harus dikenalkan dengan renang, usia 5 tahun sudah harus mulai bisa…

Me: Ok, Dok.

Him: Ok, kalau kamu makan gorengan, minum es, makan yang manis-manis, atau pas kecapekan, kamu sering batuk/pilek, nggak?

Me: Mmmh… kebetulan saya memang bukan fans makanan dan minuman itu sih, Dok. Dari dulu memang sengaja mengurangi

Him: Kenapa?

Me: Tenggorokan saya kayanya sensitif deh, jadi sering banget radang

Him: Ok, habis ini kamu saya beri obat yang kalau sudah kamu minum nanti kamu bebas mau makan apa saja. Kamu boleh makan gorengan yang paling enak, makan es, makan/minum yang manis juga boleh. Minggu depan kamu ke sini lagi, khusus untuk cerita apa yang kamu rasakan setelah kamu minum obat dari saya. Ok, ya?

Me: Siap, Dok!

Tak berapa lama setelah mengantri di farmasi, saya menerima obat yang jumlahnya hanya 10 biji, yang aturan minumnya hanya di pagi hari setelah sarapan, dan sore hari jika diperlukan. Harganya pun tidak tertera di kuitansi, atau saya yang siwer, ya? Eh, tapi beneran nggak tertera harganya lho. D kasir saya hanya membayar Rp90.000,00 sejumlah sisa biaya kekurangan pembayaran jasa dokter spesialis yang tidak ditanggung oleh asuransi, tidak ada biaya obat sama sekali. Berbeda dengan dokter (di rumah sakit) sebelumnya yang meresepkan banyak sekali obat, hampir 1 tas plastik yang terdiri dari antibiotik, sirup obat batuk, sampai inhaler, yang harga totalnya bisa beli high heels Guess. Lha ini, dokter Muherman hanya meresepkan 1 jenis obat saja tapi alhamdulillah ternyata manjur. Batuk saya berhenti total hanya dalam waktu 3 hari!

MYXJ_20170608154200_save
Mencari dokter yang ‘mengerti’ penyakit kita itu sama seperti mencari jodoh. Cocok-cocokan. Buktinya saya dan Alea yang dalam 2 tahun ini sering ‘berkelana’ dari dokter ke dokter akhirnya menemukan dokter yang ‘cocok’ dengan sakit yang kami derita setelah ‘berkelana’ dari dokter satu ke dokter lainnya, dari rumah sakit satu ke rumah sakit lainnya.

Kesehatan itu terasa begitu mahal ketika kita dihadapkan dengan lembar kuitansi dokter spesialis plus kuitansi farmasi rumah sakit. Sekalipun itu ditanggung oleh asuransi, akan tetap nyesek ketika melihat nominal yang tertera di sana.

Semoga kita senantiasa dihindarkan dari segala macam penyakit. Aamiin…
Sehat selalu yaaaa…

Continue Reading

Di Balik Cerita Ulang Tahun

Happy Birthday

Tahun ini adalah ulang tahun yang istimewa buat saya. Karena di tahun 2017 ini ulang tahun saya jatuh di hari dan weton yang sama dengan ketika saya lahir dulu. Sama-sama jatuh di hari Jumat dan, weton yang sama yaitu Pon! Halah, penting banget, yaa… Ya hari kaya begini kan belum tentu bisa ditemukan di setiap tahun, jadi wajarlah kalau saya menganggap ulang tahun di 2017 ini istimewa. Lebih istimewa lagi ketika jatuhnya di bulan Ramadan. Jadi saya nggak perlu traktiran teman satu biro… *eh*

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, saya sudah molor duluan sebelum pukul 00.00, waktu di mana orang-orang sering mendapatkan kejutan atau ucapan selamat ulang tahun pertama kalinya. Tapi saya selama ini belum pernah ada kejutan apa-apa tuh. Tapi biasanya sih yang mengucapkan selamat ulang tahun duluan Pak Suami sih, tentu saja sayanya juga sambil merem karena tidak kuat menahan kantuk.

Paginya barulah mulai ramai smartphone saya berbagai ucapan dari keluarga, whatsapp-whatsapp group dan pribadi, sama riuhnya dengan ucapan selamat di sosial media. Ah, kalian… terima kasih ya. Semoga doa yang sama juga tercurah pada kalian semua ya. Aamiin…

Yang lucu dan mengharukan itu pas di kantor. Jadi ceritanya sudah jam pulang kantor. Di ruangan hanya ada beberapa orang teman saja yang masih tinggal karena lembur. Saya sendiri sudah bersiap akan pulang sebenarnya. Sampai akhirnya ada 2 orang teman yang mengajak pulang bareng. Anyway, sampai situ saya masih belum nyadar lho kalau mereka berdua ini mau kasih saya surprise ulang tahun. Yang saya lihat mereka ini kok masih ribet aja nggak pulang-pulang, sementara saya sudah siap dari tadi.

birthday surprise

Ketika saya sedang asyik mainan HP, tiba-tiba salah satu dari mereka datang ke kubikel saya dengan alasan mencari berkas yang ditinggalkannya tadi. Padahal seingat saya dia nggak meninggalkan berkas apa-apa. Sampai akhirnya saya baru sadar kalau mau dikasih surprise ketika tiba-tiba dia menutup mata saya dari belakang, dan datanglah beberapa teman yang masih di ruangan, berkumpul di kubikel saya sambil membawakan mini tart dengan beberapa lilin ulang tahun. OMG! Kalian ini ya… 😀

Setelah mengucap doa dalam hati, saya pun meniup lilin ulang tahun dengan perasaan terharu. Kuenya, tentu saja belum bisa dimakan saat itu juga, kan masih pada puasa, hihihi…

Tak putus sampai situ saja, ternyata keesokan harinya saya diberi surprise oleh Pak Suami dan adik tercinta berupa… dijajanin di mall, boleh milih kado apa aja yang saya suka. Yes! Kesempatan! Saatnya menguras dompet dua orang ini! Hahaha… Eh, tapi nggaklah, saya nggak setega itu. Saya cuma pilih apa yang kebetulan saya butuhkan saja kok. High heels impian saya dan dompet. Sudah itu saja… *nangis lihat bon*

Hari Seninnya, saya pikir semua kejutan dan kado-kadoan sudah selesai dong, ternyata alhamdulillah masih ada yang kasih kado lagi. Kali ini berupa mini ice cream yang bentuknya imut lucu, yang dirajut sendiri oleh temen kantor, dan yang satu lagi yaitu In Ear Monitor, semacam alat untuk memonitor suara yang didesain agar pas terpasang di telinga penyanyi itu lho. Pas terima kado yang ini saya langsung membatin, wah, berasa sudah jadi penyanyi profesional aja ya, pakai IEM, hihihik. Ah, suka semualah pokoknya. Thank you very much, dear you!

Tapi, ngomong-ngomong yah, dari sekian banyak kado ulang tahun yang pernah saya terima, ada satu kado yang belum pernah saya terima sama sekali. Eh, pernah ding, tapi sudah dulu banget dan bukan dalam rangka ulang tahun, di zaman masih belum menikah. Apa itu? Bunga. Lah?! Iya, dulu sudah pernah sih kode-kodean sama suami soal bunga-bungaan ini, sampai dengan kemarin jawaban dia masih keukeuh

“Haiyah, ngapain sih minta dikasih bunga segala, wong ya nggak bisa dimakan, nggak tahan lama. Kasih kado itu yang bermanfaat, tahan lama, bisa dipakai, gitu…”

Jadi ya begitulah, pemirsa. Mungkin beginilah nasib bersuamikan orang teknik yang terbiasa berpikir pragmatis, dan kebetulan bukan tipe romantis. Halah, malah curhat, hahaha. Tapi ada enaknya juga sih nggak dikado bunga, kalau pemikirannya begitu, saya malah bisa minta kado yang lebih mahal dari harga bunga. Ye kaaan…

 

 

 

 

picture source: from here

Continue Reading

Balada Ojek Online

ojek-online

Sebagai orang yang mengaku sebagai certified ojek online customer yang notabene pulang pergi ke kantor pasti mengandalkan alat transportasi satu ini, tentu ada banyak cerita bersama abang-abang tukang ojek online.

Setiap berangkat e kantor (kalau pas lagi nggak bareng suami) saya pasti memesan layanan ojek online. Kalau pagi sih relatif lebih mudah dan cepat dapatnya, dibandingkan ketika pulang kantor (ditambah dengan lokasi penjemputan yang ‘kurang umum’ menurut mereka). Kebetulan lokasi penjemputan dekat dengan istana, di mana ada aturan yang tidak membolehkan motor melalui Bundaran HI hingga kawasan Istana Negara, menyebabkan mereka ragu untuk mengambil orderan saya, bahkan sering yang mendadak cancel dengan berbagai alasan. Kalaupun iya ada yang terima order saya, itu pun sampainya lama sekali, minimal 30 menit baru sampai. Kecuali saya rela jalan kaki lewat komplek istana dan menunggu di lokasi yang lebih mudah aksesnya, misal di Halte Veteran III. Jadi selama lokasi penjemputan di depan gerbang utama ya sudah pasrah saja sampai driver-nya datang. Intinya memang harus sabar.

Dari sekian banyak pengalaman dan cerita bersama abang ojek, ada satu yang lucu unik. Jadi ceritanya saya pulang lembur pukul 18.00 wib. Untuk mengantisipasi supaya nggak terlalu lama menunggu, sebelum pukul 18.00 saya sudah order via aplikasi. Nah persis dengan harapan saya, tak lama kemudian saya dapat pengemudi yang lokasi stand by-nya tak jauh dari kantor, di sekitaran stasiun Juanda. Berhubung lokasi penjemputan yang gerbangnya persis di samping Istana Merdeka banyak abang ojek yang ragu, apalagi bagi driver yang belum pernah mendapat orderan dari kantor saya, yang ada keder duluan. Malah ada yang bilang, “kalau nanti saya ketangkep polisi, ibu yang tanggung jawab ya!”. Yaelah, Pak… segitunya.

Kebanyakan para driver itu ragu kalau mengambil dari Jalan Veteran, antara mau langsung belok kiri atau enggak, karena takut ditilang polisi, padahal kalau untuk sekadar pick up atau drop off saja tidak ada masalah. Toh nantinya kita tidak akan lewat Monas/Thamrin, tapi lewat Tugu Tani, Menteng, dan seterusnya. Intinya tetap putar balik lewat depan gerbang utama. Alhasil banyak yang memilih aman dengan jalan memutar ke sana-kemari yang ending-nya kadang saya yang harus menyeberang ke depan Smailing Tour.

Demikian juga dengan abang ojek saya yang satu ini. Jujur, niat hati sebenarnya sudah pengen cancel dari tadi, tapi kalau di-cancel belum tentu saya dapat ojek lagi dalam waktu singkat, sementara hari sudah semakin malam. Jadi saya memilih menabahkan diri menunggu di depan gerbang sambil dinyamukin.

Setelah melalui drama bablas-bablasan, dan puter-puteran sebanyak 3x (kurang 4x putaran ditambah lempar jumroh), akhirnya abang itu berhasil menemukan saya yang mungil ini di depan gerbang pada pukul 19.05 dengan tampang yang semakin kucel karena terlalu lama menunggu.

“Maaf ya, Bu… saya tadi muter-muter dulu, jadi lama jemputnya…”
“Iya, gapapa, Pak…” jawab saya pendek sambil memakai helm.

Singkat cerita sampailah saya di rumah dengan selamat kurang lebih 45 menit kemudian setelah menempuh perjalanan yang mengandung macet naudzubillah di Rasuna Said.

Dan selang satu jam setelah itu muncullah pesan dari nomor yang tak dikenal ke gawai saya, isinya begini:

balada ojek online
Eaaa… hahaha… Saya bacanya antara speechless dan geli sendiri. Baru kali ini saya dikirimi pesan oleh abang ojek yang baper begini, hihihik. Saya sabar? Lebih tepatnya disabar-sabarin sih, Pak. Abisnya Bapak muter nggak selesai-selesai sampai sempat keluar orbit sih, Pak. Tapi alhamdulillah ya dibilang sabar, karena aslinya bukan orang yang sabaran. Alasan lain kenapa sampai saya bela-belain nungguin Bapak sampai Bapak tiba, ya karena cuma Bapak yang mau menerima orderan saya ke Mampang, yang lain pada nolak, Pak. Hayati lelah, Pak…. Hiks…

Eniwei, terima kasih kembali lho, Pak. Semoga segera bertemu dengan jodohnya yaaa… Semangat, Pak!

 

sumber ilustrasi: dari sini , whatsapp pribadi

 

Continue Reading

Pamer di Sosial Media

sosial-media

Suatu siang, di sudut sebuah rumah makan cepat saji di daerah Pecenongan, saya melewatkan waktu makan siang dengan para sahabat saya. Seperti biasa, obrolan dengan topik random meluncur satu persatu dari mulut kami, kebanyakan sih memang ladies talk selain topik-topik lainnya yang ‘ghibahable’.

Sampai akhirnya salah satu dari kami membuka topik yang sedikit serius. Tentang pamer di sosial media, gara-gara ada salah satu teman mereka yang baru saja meng-instastory-kan bayar DP gedung buat resepsi, hahaha…

Seperti yang kita semua tahu, sosial media itu seperti sebuah show room yang sangat luas di mana kita bisa memamerkan tentang apapun. Mulai status, popularitas, prestasi, gaya hidup, hobi, kehidupan pernikahan/keluarga, bisnis yang sedang dijalankan, tempat hangout/liburan, dan lainnya, karena sosial media salah satunya memang dirancang secara sempurna untuk ‘memanipulasi’ keinginan kita untuk pamer/sharing/berbagi, keinginan untuk diperhatikan oleh orang lain, termasuk sebagai media yang bisa digunakan untuk membenci sesuatu/orang lain secara bersama-sama.

Contoh kecil, ketika seseorang berkesempatan pergi ke suatu tempat, mengunggah foto tempat itu secara online adalah sebagai bukti otentik pengalaman luar biasa yang dunia harus tahu, karena kalau tidak diunggah, sama saja dengan hoax.

Mungkin saja bagi si pemilik akun, apa yang mereka unggah itu bukan bermaksud untuk pamer, cuma ingin berbagi kebahagiaan misalnya, tapi toh nyatanya tidak semua orang bisa menerima maksud dan tujuan pemilik akun, bukan? Apalagi kalau yang diunggah itu mengandung hal-hal yang sensitif bagi orang lain; dan tingkat sensitivitas seseorang terhadap sesuatu pasti berbeda-beda, tergantung melihat dari sudut pandang yang mana.

Contoh lagi, sebuah kencan pertama yang sempurna itu wajib diunggah di sosial media, apalagi kalau pasangan yang kita kencani itu wajahnya memang ‘social media uploadable’, layak dipamerkan di sosial media. Pokoknya unggah saja dulu, soal kualitas dan kepribadian dia bagaimana itu urusan nanti.

Okelah ya, tapi tanpa kita sadari ternyata tidak semua orang suka dengan unggahan kita. Misalnya saja orang-orang yang kebetulan belum memiliki pasangan, unggahan romantis yang muncul di newsfeeds mereka itu sama seperti sebuah ‘reminder‘ kalau mereka belum memiliki pasangan yang bisa dipamerkan ke sosial media, padahal semua orang sudah punya hubungan yang ‘sempurna’ dengan orang lain.

Jujur, dulu ketika saya belum hamil, saya paling sensitif kalau melihat ada teman yang sedang hamil. Kalau cuma hamil saja sih masih bisa saya terima, tapi kalau sudah mulai baca status keluhan selama kehamilan, yang mual, muntah, letih, lesu, dan segala hal yang menyangkut kehamilan, yang seolah-olah itu siksaan banget itu kok berasa lebay gimana ya. Yang namanya hamil pasti akan ada perubahan signifikan di kondisi badan, tapi ya wajar, karena ada janin yang sedang tumbuh berkembang dalam rahim kita. Silakan saja mengabarkan tentang status kehamilan, tapi (menurut saya) tidak perlu sampai ekstrem mengunggah status keluhan selama hamil tiap 5 menit sekali. Percayalah, saat-saat hamil itu justru saat yang paling precious bagi seorang perempuan, dan akan dirindukan ketika sudah lama tidak hamil, jadi ya sudah nikmati saja segala prosesnya, jangan terlalu banyak mengeluh. Bukan berarti jangan mengeluh, sewajarnya saja. Bawel banget ya saya? Hahaha… Tapi itu dulu, ketika saya masih suka sensi-sensian.

Ketika ahamdulillah akhirnya saya pun mendapat rezeki yang sama dari Allah berupa kehamilan yang sehat sampai dengan kelahiran, di situ saya banyak belajar arti menghargai perasaan orang lain. Sekalipun saya merasa amat sangat bahagia karena akhirnya hamil juga setelah menunggu selama lebih dari 5 tahun, tapi kebalikannya, saya justru lebih tertutup di sosial media. Jangankan menulis blog, up date status di gadget dan sosial media pun sengaja saya batasi. Kalau pun iya saya up date status, tidak ada hubungannya sama sekali dengan kehamilan saya. Biarlah mereka tahu dengan sendirinya, tanpa saya harus bereuphoria di sosial media, atau status di gadget saya, mengingat adik saya, beberapa kerabat, serta sahabat saya lainnya juga masih belum dikaruniai momongan hingga saat ini.

Nah, bagaimana dengan pamer lainnya, misalkan baru beli rumah, mobil, bayar DP gedung untuk resepsi, dan lainnya. Ya, di era sosial media, semua sah-sah saja, karena saat ini nilai-nilai yang dianut mayoritas orang memang ketenaran atau pengakuan diri oleh lingkungan sosial. Tidak ada yang salah dengan ketenaran atau sharing tentang sebuah pencapaian saat itu, karena bagi sebagian orang itu bisa memberikan kepuasan psikologi.

“Tapi kan kesel ya, Kak. Kan mereka baru pacaran, masa sudah pamer beli rumah? Biasa aja kali…”

Setiap orang punya motivasi berbeda ketika mengunggah sesuatu ke sosial media mereka. Tinggal kita melihat hal itu dari sudut pandang yang mana. Siapa tahu memang mereka sudah ada rencana akan menikah dalam waktu dekat, jadi ketika ada rezeki lebih, mereka menabungnya dengan cara membeli rumah secara patungan, biar ketika mereka sudah menikah beneran sudah ada rumah yang bisa mereka tempati.

Sosial media memang milik kita, tapi kita jugalah yang harus bijak menggunakannya, karena bagaimana pun sosial media masih memiliki berbagai manfaat di banyak hal, misalnya commerce, pembelajaran, penyebaran informasi, komunikasi, dan pariwisata.

Intinya, jangan sampai tampilan sosial media terlalu mempengaruhi pikiran kita. Ada banyak orang yang foto-fotonya tidak terlalu di-likes oleh banyak orang, atau jumlah followers-nya tidak banyak, tapi justru mereka punya lebih banyak teman yang real di kehidupan nyata. Ada juga pasangan yang jarang mengunggah foto-foto romantis, atau postingan-postingan manis yang menunjukkan betapa besar cinta masing-masing kepada pasangannya, tetapi secara real mereka justru lebih bahagia dari pada yang kita lihat di newsfeeds.

Ada orang yang tidak memamerkan gadget baru dan barang mahal lainnya, tapi ternyata mereka sudah punya rumah sendiri, punya rekening bank yang gendut, dan punya lebih banyak prestasi dalam hidup dibandingkan dengan mereka yang terus-menerus pamer tentang ‘ukuran’ kehidupan yang sempurna ala sosial media.

Inilah mengapa kita tidak harus percaya dengan semua yang kita lihat di sosial media. Kehidupan tiap orang tidak sesempurna yang berusaha mereka tampilkan secara online kok, karena penampilan bisa saja sangat menipu.

Just my two cents…

 

picture source Pinterest

Continue Reading
1 2 3 44