Satu Dekade

MYXJ_20170717120351_save

Sampai dengan tanggal 17 Juni 2017 kemarin sebenarnya masih belum percaya bahwa kami telah menjalani satu dasawarsa hidup berumah tangga. Di usia yang digambarkan sebagai Perkawinan Timah ini sebenarnya sama saja ceritanya dengaan usia-usia perkawinan lainnya, pasti banyak suka dukanya.

Tapi sebenarnya berapapun usia pernikahan kita bukan sebuah hal yang penting, karena sama-sama bukan jaminan dan tolok ukur kematangan dan kebahagiaan. Sejatinya, pernikahan itu tentang kemampuan kita menyesuaikan diri dengan pasangan, dan usaha masing-masing dalam mempertahankan mahligai komitmen yang sudah dimulai.

Saya sadar sepenuhnya bahwa tidak semua pasangan bisa hidup bersama sampai ke usia pernikahan yang sama dengan saya, karena mempertahankan pernikahan, hidup bersama dengan orang yang sangat berbeda sifat dan karakter itu bukan perkara gampang. Di sepanjang waktu berjalan pasti akan ada friksi dan gesekan yang akan timbul.

Dulu, zaman masih belum menikah sementara sudah banyak teman yang menikah, pernah saya bertanya kepada salah satu dari mereka begini,

“menurut kamu, pernikahan itu apakah selalu berakhir bahagia? Maksudku gini, kan ketika orang udah pacaran nih, pengennya kan selalu berujung di pelaminan, hidup berkeluarga, bahagia selama-lamanya. Menurut kamu sebagai orang yang sudah menjalani perkawinan, gimana?”

Tapi, alih-alih menjawab pertanyaan lugu saya itu, dia justru tertawa. Lah, kok malah tertawa. Jujur ya, saya selalu mikirnya begitu. Kenalan, pacaran, menikah, happily ever after. Layaknya film-film Disney, begitulah.

“Perkawinan itu nggak sesederhana yang ada dalam pikiranmu, Dev. Nggak sama kaya cerita di film-film Disney yang hampir selalu berakhir bahagia; that marriage is everybody’s happy ending. Justru masalah-masalah yang sebenarnya itu baru akan muncul setelah kita menikah. Pikiran kita justru akan ‘pecah’ ya setelah menikah, bukan pada saat pacaran yang masih banyak indah-indahnya itu”

Flashback ke 10 tahun lalu ketika pertama memulai hidup dengan suami yang karakter dan sifatnya berkebalikan bak bumi langit dengan saya. Beberapa tahun setelah percakapan itu, saya pun akhirnya menikah. Singkat cerita, benar memang, saya harus menyesuaikan diri dengan status baru saya yaitu sebagai istri. Jujur, itu bukan hal yang mudah, apalagi kalau sudah menyangkut ego masing-masing.

Dan ketika sedang perang dingin dengan suami, teringat kalimat demi kalimat teman yang dulu pernah cerita ini-itu,

“Dalam hubungan nanti, pasti akan ada kelakuan pasangan yang akan menghantam ego kita, baik itu perkataan maupun perbuatan…”

Dan lagi-lagi itu memang nyata adanya. Baik sengaja atau tidak, bukan hanya suami, saya pasti pernah berlaku hal yang sama kepada suami. Hiks…

Seiring waktu dan banyaknya pengalaman yang menyadarkan kami berdua, kami pun ‘insaf’ dan mulai saling mengisi, saling mengingatkan, saling memperbaiki diri kami masing-masing, dan lebih memaafkan. Saya dan suami sama-sama belajar menemukan nilai-nilai berharga dari apa yang telah kami jalani selama 10 tahun ini. Tidak ada manusia yang sempurna, pun halnya dengan kehidupan pernikahan.

Sampai dengan sekarang, memang masih ada sifat, karakter, cara berpikir, dan cara kami masing-masing mengambil keputusan yang berbeda dan tidak mudah untuk diubah, tapi tetap berusaha kami terima. Kami sadar bahwa terlahir dari latar belakang keluarga yang berbeda, dan tumbuh di lingkungan yang berbeda, wajar bila faktor-faktor perbedaan itu pasti akan tetap mewarnai relasi kita dengan pasangan.

Sepuluh tahun hidup bersama, semakin membuat saya sadar bahwa kami adalah dua karakter berbeda yang secara emosional saling melengkapi.

Tough times don’t last, tough teams do. Happy 10th wedding anniversary, Dear Husband. Thanks for the decade of amazing time with you…

Love you!

Continue Reading

Jadi Ibu ‘Beneran’

Alea dan Mama :D

Lama juga ya saya tidak up date blog, padahal ada banyak cerita yang bisa ditulis di sini. Tapi ya semua terkait masalah waktu, kesempatan, dan niat menulis yang kadang menguap begitu saja *self toyor*

Jadi ceritanya sudah hampir sebulan ini Alea saya bawa ke kantor, bukan ikut saya kerja seharian di ruangan, tapi saya titipkan di daycare Taman Balita Sejahtera yang kebetulan dikelola oleh Dharma Wanita Persatuan kantor saya. Lah, kenapa kok tiba-tiba Alea harus dititipkan di daycare? Tentu keputusan ini sudah melalui pemikiran yang masak walaupun pada awalnya terasa berat. Bukan hanya berat buat saya, tapi juga buat eyangnya, dan tentu saja buat Alea yang tiba-tiba harus merasakan ‘berpisah’ sejenak dengan keluarga yang dikenalnya, dan seharian harus berada di tempat ‘asing’/baru, dengan teman-teman baru dan para bunda yang pengasuh. Tapi gapapalah, sekalian latihan buat Alea bersosialisasi dan mendapatkan pendidikan pra sekolah, walaupun usia Alea belum genap 2 tahun.

Rasanya waktu hampir 2 tahun ini sudah ‘cukup’ bagi mama saya untuk mengasuh/menjaga Alea. Sejak Alea lahir sampai dengan Alea hampir berusia 2 tahun mamalah yang setiap hari merawat dan menjaga Alea. Jadi memang saya lumayan terbantu dengan adanya mama di rumah. Tapi dengan berbagai pertimbangan, mama memang harus kembali pulang untuk menemani papa di Surabaya. Sementara untuk memutuskan mencari baby sitter/pengasuh saya masih banyak mikirlah. Makanya, sebulan pertama adalah masa percobaan bagi saya, Alea, dan mama untuk menjalani rutinitas baru sebelum akhirnya nanti mama benar-benar pulang.

Hari pertama Alea di daycare lumayan terlihat menyenangkan, dia terlihat antusias dengan komentar pertamanya ketika melihat banyak anak kecil seusianya, “wooow!. Tak disangka-sangka, dia pun langsung bisa mingle dengan teman-teman barunya, ikut senam, main perosotan, dlll. Melihat tingkah polahnya yang lucu itu antara sedih dan haru karena saya harus meninggalkan batita saya sendirian. Jujur, jauh dalam hati sih saya baper abis; tidak tega meninggalkan Alea di tempat baru dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Tapi bismillah sajalah, semoga dia baik-baik saja. Tapi ya namanya bocah, lama-lama dia sadar juga kalau mama, papa, dan eyangnya tidak ada bersamanya, kalau mulai rewel ya sangat dimaklumi. Tapi ada yang lumayan melegakan, menurut bunda pengasuhnya, nafsu makan Alea bagus, minum susunya juga bagus, dan kemampuannya menyesuaikan diri di tempat baru sangat cepat, termasuk berbeda dengan anak lain seusianya.

Hari pertama dilalui dengan alhamdulillah lumayan tanpa drama. Hari kedua, lihat pagarnya daycare saja dia sudah tidak mau, apalagi hari ketiga, dan keempat (yang kebetulan bertepatan dengan hari Jumat dan ndilalahnya dia pas flu berat), dramananya lumayanlah. Mungkin karena badannya lagi kurang nyaman, jadi maunya ya sama mamanya aja. Jadi kata bunda-bundanya di daycare Alea memang agak rewel.

Trus, apa kabar setelah hari keempat? Alea nggak masuk selama 2 minggu karena flu batuk pilek disertai demam tinggi. Ya menurut dokter sih common cold saja sih, kalau demam tingginya itu karena radang tenggorokan. Tapi ya tetap saja saya baper karena pikiran sudah ke mana-mana. Untungnya waktu itu mama belum pulang ke Surabaya, jadi masih ada yang merawat Alea selama dia sakit.

Sebagai ibu kadang memang harus ‘tegaan’ ya. Maksudnya, jangan terlalu baperan, harus kuat gitu. Kebetulan dokternya Alea menyarankan Alea harus dinebulizer supaya pernafasannya agak enakan, saya sih nurut saja, selama ini kebetulan flu batuk pileknya memang tidak separah yang ini, jadi kalau memang harus diuap mendingan diuap deh, biar flunya beres sekalian. Nah, melihat Alea harus dinebulizer dan menangis meraung-raung itu pun sebenarnya antara tega nggak tega tapi ya kalau nggak tega nanti dia nggak sembuh-sembuh dong. Dinebulizer itu kan sebenarnya nggak sakit, tapi berhubung bocahnya tegang lihat suster, liat alat-alat yang buat dia, “eh, aku mau diapain nih…” itu ya jadi bikin dia nangis, hehehe. Tapi lucunya, setelah proses penguapan itu selesai, Alea diajak ngobrol oleh suster yang menangani penguapan, “Nah, udah selesai nih. Nggak sakit, kan? Enak, kan?”. Dengan muka lucu Alea menjawab, “enyak..”, sambil mengangguk. Kalau enak kok nangis? *uyel-uyel*

Nah, baru terasa beneran jadi ibu itu ya pas mama beneran pulang ke Surabaya. Jungkir balik iya, karena Alea maunya apa-apa sama saya. Kalaupun mau sama papanya ya kalau lagi main, atau nonton film. Nah, selama mereka sedang nonton film atau tidur saya membereskan rumah. Sempat keteteran sih, sampai akhirnya menemukan format yang pas, terutama buat saya. Pokoknya nyuci, beberes rumah, nyiapin perlengkapan yang harus dibawa Alea, dan setrika baju yang dipakai besok pagi itu harus malam hari, karena kalau baru dipegang pagi, nggak bakal beres semua. Jadi, di awal-awal kemarin sih baru tidur pukul 1 malam, dan bangun pukul 4 pagi. Tapi makin ke sini setelah mengutak-atik ‘formula’ beberes ini itu, lumayan bisa tidur pukul 11 malam, dan bangun pukul 5 pagi.

Pukul 06.30 saya dan Alea sudah harus siap berangkat. Berhubung kantor papanya Alea di Sudirman, jadi kalau harus nganter dulu ke kantor saya di Veteran, bakal ribet di jalur balik menuju kantornya, karena biasanya macet parah di sekitaran Kanisius. Tapi kalau berangkatnya pagi banget Aleanya belum bangun, dianya nanti malah uring-uringan. Jadi dibikin enjoy sajalah, win-win solution biar sama-sama nggak terlambat, salah satu harus naik Go-Jek.

Kalau biasanya ke kantor cuma bawa 1 tas kerja saja, sekarang tambah 1 tas baby plus gendongannya Alea. Kadang kalau dilihat-lihat kaya bukan orang mau ngantor, tapi udah kaya orang mau mudik, hahahaha. Ternyata jadi ibu ‘beneran’ itu tidak mudah, ya. Iya, ibu beneran, ketika masih ada mama kemarin saya belum merasa jadi ibu yang sesungguhnya, karena saya belum merasakan sendiri mengasuh anak, merasakan bangun paling pagi dan tidur paling malam demi mengerjakan segala sesuatu agar selesai tepat waktu dan tidak keteteran. Untuk semua perjuangan yang telah dilakukan oleh seorang ibu demi keluarganya, itulah kenapa Betty White pernah bilang, “It’s not easy being a mother. If it were easy, fathers would do it.”

“Sometimes being a mom is just the most overwhelming job on the planet. But when you pause to filter you response trough love, your children will learn how to handle life well instead of letting life handle them. “
– Stephanie Shott –

Selamat pagi, selamat menjelang akhir pekan 🙂

 

 

Continue Reading

PDA: Love or Lust?

love or lust

Disclaimer: lagi-lagi sebuah postingan nyinyir akan segera digelar.

——–

“Mbak, aku risih deh sama pasangan di sebelah aku. Mereka show off banget, peluk-peluk, cium-ciuman di depan umum gitu… ”

– seorang teman, di KRL, dalam perjalanan menuju Bogor –

PDA atau Public Display of Affection adalah sebuah istilah yang lazim digunakan untuk menggambarkan sebuah kegiatan memamerkan keintiman fisik secara sengaja dan demonstratif di depan umum, baik dalam format yang lebih ‘halus’ atau secara terang-terangan. Mulai yang ‘cuma’ bergandengan tangan, berpelukan, sampai melakukan yang lebih dari itu. Dan ya, mereka melakukannya tanpa sungkan di depan umum.

PDA bukan hanya terjadi pada pasangan-pasangan yang baru dalam taraf berpacaran saja, tapi juga bisa terjadi pada pasangan yang sudah menikah. Biasanya sepasang PDA-ers sengaja melakukan itu untuk beberapa alasan, salah satunya untuk menunjukkan pada khalayak umum bahwa mereka taken (bukan jomblo), dan merupakan pasangan yang penuh cinta. Tapi terkadang alasannya belum tentu itu juga sih. Bisa saja mereka sengaja melakukan PDA untuk menutupi hal yang sebaliknya dengan tujuan supaya citra mereka di depan publik tetap terlihat baik-baik saja, dan ‘aman terkendali’. Semacam butuh sebuah rekognisi? :-??

Kalau di depan umum kita menyebut dengan istilah Public Display of Affection, kalau di social media (sebut saja twitter) ada pula istilah TDA (Twitter Display of Affection); alias sengaja mengumbar kemesraan di timeline.

Bio: “Si Anu’s otherhalf”
Location: “in Fulan’s heart”

Pernah lihat bio seperti itu? Pasti pernahlah, ya. Paham sih, mungkin maksudnya ingin menunjukkan status hubungannya kepada khalayak umum, “eh, gue nggak jomblo lho…” Lha terus, kalau bionya nggak ditulis kaya gitu berarti dia jomblo, gitu? *buru-buru cek bio akun sendiri*

Atau, ketika Si Y baru jadian dengan Si X, masing-masing lalu bikin pengumuman dengan saling mengenalkan pasangan barunya ke follower masing-masing. Hmm, nggak apa-apa sih, tapi… sedemikian pentingnyakah mengumumkan kalau kalian sudah jadian? Yakin bakal terus? Yakin nggak bakal putus di tengah jalan? :-”

“Ya, kalau putus mah gampang, nanti tinggal ngenalin lagi pasangan barunya ke timeline” *plak!*

Kalau pas jadian dikenalkan ke timeline, tapi kalau pas putus bakal diumumkan juga, nggak? Eh, tapi mari kita senantiasa berkhusnudzon, doakan semoga mereka taken se-taken-taken-nya, hubungan mereka akan awet dan langgeng selama-lamanya. Aamiin [-o<

Itu baru di bio lho ya. Bagaimana dengan di timeline? Selayaknya orang yang baru jadian, biasanya sih masih mesra, masih saling rajin mention untuk menunjukkan rasa sayang dan perhatian kepada pasangan masing-masing. Timeline berasa milik berdua, TransTV milik kita bersama. Hmm, jadi heran, memangnya nggak ada media komunikasi lain yang jauh lebih pribadi dibandingkan dengan show off  obrolan mesra di twitter yang di-setting publik? Kalau ketemu  yang kaya begini biasanya saya cuma membatin, “hmm, coba kita lihat dalam beberapa bulan ke depan ya… ;))” Maksudnya kalau sudah agak lama pacaran, chemistry-nya masih kuat atau tidak, intensitas saling lempar tweet mesranya masih bakal sesering itu, nggak? /:)

Kalau buat saya pribadi sih, kasih sayang itu tidak untuk diumbar dan publikasi secara berlebihan. Sewajarnya saja;  biarkan hanya untuk konsumsi kita dan pasangan. Ada banyak cara yang lebih pribadi, lebih nyaman, dan lebih elegan untuk mengungkapkan rasa sayang pada pasangan, jadi tidak perlulah sampai seisi dunia tahu :-j

However, dibutuhkan kepekaan (yang tinggi) untuk tahu betul apakah semua PDA yang dilakukan pasangan benar-benar sebagai bentuk apresiasi rasa sayang mereka kepada kita, atau cuma sekadar bentuk lain penyaluran nafsu? Jangan sampai intensitas daya tarik seksual melenyapkan akal sehat dan intuisi kita.

So, PDA is love or lust?

ilustrasi dipinjam dari sini

Continue Reading

Unconditional Love

“A mother’s love is instinctual, unconditional, and forever…”
– Unknown –

Beberapa hari yang lalu sebenarnya saya di-mention untuk ikut #Edustory di twitter. Kebetulan temanya adalah kisah yang paling berkesan tentang Ibu. Tapi berhubung saya kelupaan dan baru bergabung ketika waktu untuk #Edustory tinggal 15 menit, maka saya hanya sempat share sedikit sekali tentang cerita masa kecil dengan Mama. Nah, baru hari ini, tepat tanggal 22 Desember (terlepas dari peringatan Hari Ibu yang salah kaprah), seperti janji saya di twitter kemarin, saya akan berbagi cerita tentang Mama, sebagai penyeimbang tulisan tentang Papa beberapa waktu yang lalu. Mama adalah sosok yang paling menginspirasi dalam kehidupan saya.

Boleh dibilang yang paling dominan dalam mendidik dan mengasuh kami bertiga adalah Mama. Bukan bermaksud mengesampingkan peran Papa di dalam kehidupan kami, tapi Papa sebagai kepala rumah tangga sudah menjalankan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) tersendiri yang juga menyeimbangkan kehidupan keluarga kami.

Mama sendiri adalah sebuah pribadi dengan kombinasi yang unik. Sosok ibu yang cerewet, tegas, disiplin, keras kepala, kadang absurd, namun pengasih, konsisten, dan luwes bergaul dengan siapa saja (bahkan selalu ingat siapa saja nama teman-teman kami). Beliau bisa berperan ganda dalam keluarga, sebagai ibu, isteri, sekaligus sahabat untuk anak-anaknya. Kami bisa cerita tentang apapun dengan beliau. Mama adalah pendengar yang luar biasa untuk setiap cerita yang kami ceritakan. Ketika sedih Mama akan ikut sedih bersama kami. Ketika kami bahagia Mama juga akan ikut bahagia bersama kami. Bahkan ketika kami bercerita tentang hal yang konyol sekali pun Mama tak segan untuk ikut absurd bersama kami. Mama kami memang sosok yang istimewa. Seistimewa setiap masakan yang takaran dan rasanya selalu pas! 😉

Waktu kecil, saya dan adik perempuan saya, selalu dijadikan ‘kelinci percobaan’ untuk dandanan anak-anak, mulai rambut, baju, sampai sepatu (mungkin karena anak perempuan, jadi lebih mudah memodifikasi dandanannya ;))). Waktu SD kami berdua juga diwajibkan ikut ekstra kurikuler tari Jawa klasik. Kebetulan dulu Mama adalah seorang penari Jawa klasik yang bergabung dalam Sanggar Tari Wilwatikta, jadi harapan Mama salah satu dari kami berdua ada yang menuruni bakat beliau. Terlepas dari itu menurut Mama menari akan mengasah kepekaan diri, keluwesan, dan membentuk gesture tubuh yang baik (tidak membungkuk).

Dulu sempat berpikir juga, ngapain sih Mama ‘memaksa’ ikut ekskul tari? Tapi lama-lama akhirnya pertanyaan itu terjawab seiring waktu. Ekskul tarilah yang membuat saya sering mendapat tawaran menari dan menjadi wakil sekolah dalam beberapa pagelaran lomba tari tunggal, berpasangan, maupun sendratari. Dari tarilah saya mengenal hobby yang saya jalani dengan hati. Ke mana pun saya pentas, Mama hampir tak pernah absen mendampingi saya. Thanks to Mama >:D<

Kalau untuk “pemaksaan” ekskul ke adik bungsu saya yang laki-laki sepertinya tidak terjadi. Karena toh akhirnya dia bisa menemukan bakat dan minatnya sendiri di bidang fotografi. Mama bukan hanya sebatas peduli dengan pendidikan kami, tapi juga sangat mengikuti perkembangan hasil studi kami mulai dari SD hingga kuliah. Sering memotivasi dengan hadiah-hadiah kecil sebagai hadiah atas pencapaian kami. Walaupun lama-kelamaan kamilah yang akhirnya secara sadar memperjuangkan nilai-nilai kami sendiri karena ingin membuat Papa-Mama bangga.

Kami juga sempat mengalami masa-masa menyedihkan ketika Mama sering pingsan dan pusing berkepanjangan selama sebulan lebih (sebenarnya memang sakit yang sudah lama diderita oleh Mama karena ada syaraf di kepala yang terganggu, biasanya akan kambuh kalau terlalu capek, berpikir berat/sedih). Sementara kami & Papa amat sangat tergantung sama Mama :(. Ketika masa pemulihan ternyata Mama mengalami vertigo, Mama jadi sering hilang keseimbangan. Seringkali ketika kami pulang sekolah menjumpai Mama tertidur dengan lutut dan kaki yang lecet-lecet atau memar kebiruan karena terjatuh akibat memaksakan diri membersihkan rumah atau pergi ke pasar padahal kondisinya masih belum pulih. Kalau kami tegur jawabannya begini,

“ya kalau Mama nggak ke pasar, trus nggak masak, nanti kalian makan apa?”
 Ya Tuhan , bahkan di saat sakit pun Mama masih memikirkan kami 🙁

Puncaknya adalah ketika Mama harus rela melepas adik perempuan saya menikah dan tinggal bersama suaminya di Jakarta, Mama bukan hanya sedih, tapi sampai nangis sesenggukan. Waktu perpisahan dengan saya dulu Mama juga sedih, tapi nggak sampai sesedih ini. Mungkin sekarang baru terasa kalau anak-anaknya ternyata sudah pada dewasa, sudah mulai punya kehidupan masing-masing, dan pasti si bungsu juga akan segera menyusul kalau sudah ketemu jodohnya.

Seringkali pagi-pagi beliau mengirim sebuah pesan singkat berisi, “Mama sayang kamu…” atau “Selamat bekerja ya, Sayang. Mama kangen sama kamu…” dan itu sudah cukup membuat airmata saya menggenang :((

Iya, aku juga kangen, aku juga sayang sama Mama…. :-s

“Ya Allah, semoga Engkau masih memberikan kesempatan kepada kami untuk memberikan yang terbaik dan membahagiakan kedua orangtua kami… Aamiin…”
 

 

Ilustrasi gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Like a Box of Chocolates

Disclaimer : Tulisan ini bukan bermaksud menggurui. Disarikan dari hasil perenungan, diskusi, dan curhat beberapa galauers tentang pasangan hidup. Postingan ini saya dedikasikan untuk semua masyarakat Republik Jomblo Happy Indonesia. I love you, Guys! :-*

———-
“Life is like a box of chocolates, you never know what your gonna get..”
— Forest Gump —
Beberapa waktu yang lalu saya dikejutkan oleh sebuah berita bahagia dari salah seorang sahabat yang setelah berkali-kali gagal dalam urusan percintaan namun akhirnya beberapa hari lagi akan segera melangsungkan pernikahan. Terharu sekaligus bahagia. Untuk pertama kalinya saya merasakan perasaan seemosional ini ketika mendengar seseorang yang berniat akan mengakhiri masa lajang. Sahabat saya ini termasuk istimewa. Dia baru menemukan jodoh di usia yang hampir masuk kepala lima. Sahabat terbaik yang dulu sering memercayakan kisah cintanya pada saya, baik suka, duka, jatuh cinta, atau ketika patah hati.

Uniknya kami belum pernah sekalipun bertemu. Pertemanan kami yang hampir berjalan 4 tahun itu berjalan sebagai kisah persahabatan murni. Tidak melibatkan perasaan sama sekali. Karena kami berdua memang merasa lebih nyaman dengan status hubungan yang seperti ini. Usianya yang terpaut jauh dari saya membuat saya juga nyaman bercerita tentang apa saja, seperti bercerita pada seorang kakak. Begitu pun sebaliknya. Dia sangat menghargai saya, tidak pernah sekalipun menganggap saya anak bawang yang opininya bisa saja diragukan kedewasaannya.

Saya sadar bahwa mungkin saya tidak selalu mampu memberikan solusi terbaik untuknya, hanya beberapa saran yang menurut saya masuk akal saja. Soal nanti akan diterapkan beneran dalam pengambilan keputusan atau tidak ya terserah dia. Kan yang menjalani hidup dia juga 😀

Nah, ngomong-ngomong masalah cinta & pasangan hidup memang selalu menjadi tema yang tidak akan pernah habis untuk dibahas, ya? Selalu saja ada energi untuk menuliskannya dalam berbagai versi & bahasa. Kita nyata diciptakan berpasang-pasangan namun kita tidak pernah tahu kapan & dimana akan bertemu dengan pasangan hidup kita.

Kita —utamanya para perempuan— semasa kecil pasti punya dong gambaran tentang sosok ideal seorang pasangan hidup. Nanti pengennya punya pasangan yang tipenya begini, begini, begini. Ingin yang sifatnya bla, bla, bla, bla. Secara fisik begini, begini, begini, dan sebagainya. Yang namanya keinginan ingin memiliki pasangan hidup yang sempurna itu wajar saja, bukan? Saya dulu juga begitu. Menikah kan niatnya cuma sekali seumur hidup, dan kalau bisa dapat yang sempurna sekalian. Begitu, kan? Iya, idealnya..

Saya punya beberapa sahabat perempuan yang kehidupannya nyaris sempurna. Hampir semua dia miliki. Pribadi yang hangat & menyenangkan, karir yang bagus, gaji dalam digit rupiah diatas enam, keluarga yang sangat mendukung, dan dikelilingi sahabat-sahabat yang menyenangkan. Hanya satu yang dia belum miliki, pria yang tepat sebagai pasangan hidup. Definisi pria yang tepat disini bisa disimplifikasi sebagai pria single, tidak sedang terikat hubungan & pernikahan dengan siapapun, mapan (setidaknya dia punya pekerjaan sehingga mampu menafkahi keluarga kelak, walaupun istri juga sebagai wanita bekerja), dan punya kepribadian yang baik. Soal wajah mungkin bisa nomor sekianlah, ya. Tapi misalnya Tuhan berbaik hati mau ngasih yang seganteng Bradley Cooper sih disyukuri (banget). Ah, ini sih saya juga mau! ;))

Siapa sih yang tidak ingin menemukan pasangan hidup sesegera mungkin? Kalau ada yang bilang “enggak” bisa kita artikan masih “pending”. Tapi bukan berarti “nggak mau”, kan? Nah, masalahnya kan jodoh itu tidak bisa dibeli layaknya kita ingin beli tomat di pasar. Tidak bisa asal comot sesuka hati, mana yang kelihatan matang lalu kita beli dan bawa pulang. Nanti bisa kita langsung makan atau dibikin jus. Hidup juga bukan jalan tol yang mulus dan bebas hambatan, dong? Begitu pula halnya proses dalam menemukan jodoh.

Kita tidak pernah mengira “path” apa yang sedang kita jalani. Urusan jodoh selalu jadi misteri terbesar Tuhan yang tidak pernah bisa ditebak kapan datangnya, layaknya takdir hidup & matinya manusia. Ada yang sudah ngoyo banget, tapi jodoh yang diharapkan belum datang juga (padahal usia sudah “layak” berkeluarga). Tapi ada juga yang santai-santai saja eh jodoh malah datang sendiri. Unik, ya? 🙂

Kalau bicara masalah usia, idealnya sebuah pernikahan bukanlah sebuah hal yang dilakukan karena emosi, sekedar pantes-pantesan, atau karena tuntutan usia. Menikah, selain masalah hati dan kesiapan mental, juga masalah waktu. Logikanya, seberapa ngoyonya kita kalau Yang Diatas belum bilang “ya”, ya kita belum akan bertemu dengan si dia. Tapi kalau Tuhan sudah mengizinkan, “voila!”, yakin deh, segala rencana akan dimuluskan oleh-Nya.

Saya juga punya sahabat yang sudah pacaran hampir 7–8 tahun lamanya, sudah berniat akan melanjutkan hubungan serius ke jenjang pernikahan. Namun sayangnya, menjelang acara lamaran salah satu diantara mereka justru memutuskan pertunangan dan memilih untuk menikah dengan orang lain :(. Ada juga kisah seorang sahabat yang sudah menanti pasangan hidup sedemikian lama, namun ketika kemudian hari dipertemukan dengan “the prince charming” ternyata sifatnya tak lebih baik dari tokoh Ja’far ( penasihat sekaligus penyihir jahat di film Aladdin) :|.

“Tapi bete kali Dev kalau ditanyain melulu soal kapan gue nikah? Perasaan baru kemarin deh ketemu di acara kondangan, masa pas ketemu lagi di acara reunian dia nanya beginian lagi, sih?:((“

Oh, ya udah berarti yang nanya emang nggak ada kerjaan, sih. Gampar aja. sih! ;)). Euh, jadi inget sama Bude saya deh kalau begini, bedanya sekarang saya lagi sering dikejar-kejar sama pertanyaan, “kamu sudah hamil lagi, belum?” :|. Arrggh! *makan kuaci biji kedondong*. Curhat! :))

Saya juga sudah pernah merasakan betapa tidak nyamannya ketika dihujani teror pertanyaan “kapan menikah?”, “sudah ada calonnya, kan?”, dll. Capek memang kalau didengerin, ya. Tapi ya itulah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa kita memang hidup diantara kultur masyarakat yang “terlalu peduli dengan urusan pribadi orang lain”. Tapi kalau mau berpikir posistif nih, mungkin tujuan mereka tanya ini itu tentang “the kapan things” itu sebenarnya untuk menunjukkan saking sayangnya mereka sama kita. Oh, bukan? Ya sudah, anggap saja karena mereka ingin jadi wedding organizer, penyandang dana, atau penyedia katering. Nah, siapa tahu kan? :-”

Nah, buat yang sedang galau menanti jodoh yang tak kunjung datang, percaya deh.. someday, somehow, somewhere, you’ll find your life mate soon! Banyak orang yang sudah menikah saja belum tentu bahagia (even they pretend to be happy). So, as long as you are happy with your own life, surrounded by fun-loving friends, you’ll be just fine. Jangan menikah hanya karena desakan orang lain, masalah usia, atau jabatan yang sudah dimiliki, yang sehingga justru akan membuat kita —terutama para perempuan— membuat pilihan yang salah. Juga jangan pernah memutuskan untuk menikah karena orang lain sudah menikah lebih dulu. Menikah itu bukan masalah kalah atau menang diantara teman, siapa yang bakal menikah atau dapat jodoh duluan. Nikmati saja semua alur proses pencarian itu, tidak ada salahnya kok untuk berhati-hati. Kan kita juga inginnya hanya menikah sekali untuk seumur hidup ya. Boleh kok agak keluar sedikit dari lingkungan yang ada, siapa tahu “si dia” itu justru nyempil di tempat-tempat yang tidak pernah kita duga sekalipun ;).

“Aduh, tapi kalau nggak ada pacar itu hidup terasa hampa, tau! Masa yang lain pacaran, gue galau aja tiap malam minggu? 🙁 *ngemut sofa*

Eh, pernah dengar kisah Margareth Maxwell istri John C Maxwell seorang pembicara & pakar kepemimpinan yang memberikan statement bahwa suaminya tidak pernah memberikan kebahagiaan yang dia cari, belum? Bayangkan nih ya, seorang pakar, pembicara, yang sering “menguliahi” orang tentang hidup, kebahagiaan, kepribadian, dan kepemimpinan, ternyata dia tidak cukup ahli untuk memberikan kebahagiaan kepada istrinya sendiri. Oh, no! 😮

Namun apa jawaban sebenarnya dari Margareth Maxwell ini?

“Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri”
Jadi intinya, tidak ada orang lain yang bisa membuat kita bahagia, baik itu pasangan hidup kita, sahabat kita, hobi, maupun harta/uang kita. Pola pikir kitalah yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar. Kebahagiaan yang hakiki itu sebenarnya ada dalam diri kita sendiri kok.

Pernah nonton film He’s Just Not That Into You? Ada sebuah pesan moral yang saya dapatkan ketika menonton film itu. Kebahagiaan bukan hanya tergantung pada status apakah kita “menikah” atau “single”, melainkan apakah hati dan pikiran kita bahagia? Happiness is entirely a state of mind. Ada banyak hal yang bisa kita bagi bersama orang lain yang justru akan menimbulkan kebahagiaan tersendiri untuk kita.

Tidak ada kata terlambat untuk menikah. Kalau memang harus menunggu sedikit lebih lama, ya kenapa tidak? Toh semua itu untuk sesuatu yang sangat berharga dalam hidup, kan? Sampai datangnya seseorang yang tidak akan pernah menjadi sebab penyesalan kita karena telah salah memilih. Percaya deh, segala sesuatu akan indah pada waktunya kok 😉

“Soul mates. It’s extremely rare, but it exists. It’s sort of like twin souls tuned into each other”
– Serendipity –

 

picture taken from here

Continue Reading
1 2 3 7