Wacana Bernama Kejujuran

“Indonesia ini mentalnya udah terpuruk bener ya, Dev…”
“Kok tiba-tiba bilang kaya gitu, Mbak?” :-?
“Duh, trenyuh aku… Hmm, ini masalah anakku, dia kan hari ini Ujian Nasional…”
“Trus?”
“Anakku di sekolah kan prestasinya lumayan, selalu 3 besarlah. Nah, semalem pas aku lagi nemenin dia belajar, dia curhat sama aku…”
“Cerita apa, Mbak?”

Lalu mengalirlah sebuah cerita yang boleh dibilang basi-basi mengenaskan. Saya bilang basi, karena ini bukan kasus pertama. Mengenaskan karena ironis, ketika orangtua dengan susah payah mengajarkan kejujuran pada anak, ternyata sekolah, yang notabene sebagai tempat pendidikan anak ternyata mengajarkan hal yang sebaliknya.

Anak teman saya itu “di-briefing” oleh guru-gurunya di sekolah supaya besok ketika ujian berlangsung, sekitar pukul 9 pagi diminta untuk pura-pura ke kamar kecil. Di sana nanti bertemu dengan si oknum guru, lalu Si Anak akan diberikan kunci jawaban yang harus dihafalkan. Nanti dia harus memberitahukan ke teman-teman di kelasnya

Read More

Memaafkan dengan Hati

The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong
– Mahatma Gandhi –

Sekitar tahun 2004-2005, saya pernah membaca trilogy David Pelzer true story, yang terdiri dari buku yang berjudul A Child Called It, The Lost Boy, dan A Man Named Dave. Sebuah trilogy mengharukan tentang runtutan kisah bagaimana seorang anak terbuang dan menderita yang mencoba bertahan hidup melawan child abuse yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri, hingga sampai pada kisah dia dewasa dan mulai menemukan jati dirinya. David Pelzer menuturkannya dalam bahasa yang sangat menyentuh, hingga kita bisa merasakan apa yang dialaminya dulu.

Dari ketiga buku itu yang paling berkesan adalah buku yang berjudul A Man Called Dave.

Read More

Tak ada yang namanya kebetulan

Di akhir pekan kemarin tumben-tumbenan saya nonton film secara marathon di HBO. Gara-garanya sih karena saya  ditinggal di rumah sendirian dan lagi nggak ada kerjaan. Jadi saya habiskan waktu dengan menonton film di rumah. Untung filmnya cukup menghibur. Walau agak bodoh-bodoh gimana, gitu ;))

Film Turn Left Turn Right dibintangi oleh aktor Jepang Takeshi Kaneshiro dan aktris Mandarin Gigi Leung. Kisah cinta yang dikemas secara ringan, konyol, dan menggemaskan. Btw, Takeshi Kaneshiro disitu keliatan kalem dan ganteng banget. Uhuk! ;;) Leung berperan sebagai seorang penerjemah dan Kaneshiro sebagai seorang pemain biola. Sewaktu kecil Kaneshiro menyukai gadis yang bahkan namanya saja dia tidak tahu. Setelah berpisah sekian lama, ternyata

Read More

Selamat Natal, Kawan!

Perayaan Natal selalu membuat saya flashback kepada kenangan masa kecil saya dulu, ketika masih tinggal di Lawang, sebuah kota kecil di Kabupaten Malang. Tentang hubungan harmonis yang terjalin antara keluarga kami dengan murid-murid kolintangnya Papa. Entah, kok rasanya di jaman saya masih kecil dulu kehidupan beragama sepertinya jauh lebih tenang, harmonis, dan penuh toleransi, ya? Tidak seperti sekarang yang kayanya mau ibadah aja dibikin ribet. Belum lagi keamanan ketika menjalankan peribadatan yang belum jelas terjamin. Trenyuh. Inikah negara yang katanya menjunjung tinggi azas kebebasan beragama itu? :(

Dulu, selain menjadi PNS, Papa mengisi waktu luangnya sebagai pengajar kolintang (alat musik tradisional asal Manado). Kebetulan dulu memang Papa aktif di kegiatan bermusik, dan kebetulan juga bisa bermain kolintang, sehingga  Papa sering diminta mengajar disana-sini. Murid Papa

Read More

Unconditional Love

“A mother’s love is instinctual, unconditional, and forever…”
– Unknown -

Beberapa hari yang lalu sebenarnya saya di-mention untuk ikut #Edustory di twitter. Kebetulan temanya adalah kisah yang paling berkesan tentang Ibu. Tapi berhubung saya kelupaan dan baru bergabung ketika waktu untuk #Edustory tinggal 15 menit, maka saya hanya sempat share sedikit sekali tentang cerita masa kecil dengan Mama. Nah, baru hari ini, tepat tanggal 22 Desember (terlepas dari peringatan Hari Ibu yang salah kaprah), seperti janji saya di twitter kemarin, saya akan berbagi cerita tentang Mama, sebagai penyeimbang tulisan tentang Papa beberapa waktu yang lalu. Mama adalah sosok yang

Read More

Like a Box of Chocolates

Disclaimer : Tulisan ini bukan bermaksud menggurui. Disarikan dari hasil perenungan, diskusi, dan curhat beberapa galauers tentang pasangan hidup. Postingan ini saya dedikasikan untuk semua masyarakat Republik Jomblo Happy Indonesia. I love you, Guys! :-*

———-
“Life is like a box of chocolates, you never know what your gonna get..”
– Forest Gump –
Beberapa waktu yang lalu saya dikejutkan oleh sebuah berita bahagia dari salah seorang sahabat yang setelah berkali-kali gagal dalam urusan percintaan namun akhirnya beberapa hari lagi akan segera melangsungkan pernikahan. Terharu sekaligus bahagia. Untuk pertama kalinya saya merasakan perasaan seemosional ini ketika mendengar seseorang yang berniat akan mengakhiri masa lajang. Sahabat saya ini termasuk istimewa. Dia baru

Read More

Jiwa-Jiwa Yang Tulus

Remember, if you ever need a helping hand, you’ll find one at the end of your arm….
As you grow older you will discover that you have two hands. One for helping yourself, the other for helping others.

- Audrey Hepburn -

Pernahkah kalian berada dalam sebuah keadaan panik, “sibuk” menyelamatkan nyawa seseorang yang tidak pernah kalian kenal sebelumnya? Jangankan kenal, bertemu face to face pun juga belum pernah. Kalian ikut panik, ikut deg-degan, seolah-olah ikut berada dalam sebuah ruangan ICU bersama orang yang akan kalian tolong itu, menunggu detik demi detik terlewati, menyaksikan seseorang yang barangkali saja saat itu tengah berjuang melawan maut.

Saya pernah, dan mungkin itu juga yang dirasakan oleh sebagian besar anggota milis Blood For

Read More

Bitter or Better?

“It’s a lie to think you’re not good enough. It’s a lie to think you’re not worth anything...”
– Nick Vujicic -

Saya adalah salah satu pengguna alat transportasi umum Transjakarta. Selain Transjakarta, saya juga menggunakan Kopaja 57 atau Metromini 75 untuk mengantar saya pulang ke Mampang. Sebagaimana pemandangan yang lazim dijumpai di setiap terminal, selain pedagang asongan yang pasti ada yaitu yaitu pengemis. Selama ini saya hampir tidak pernah ada masalah dengan mereka, tapi jika kelakuan mereka sudah mengganggu tentu lama-lama akan menimbulkan rasa kurang nyaman.

Seperti contohnya sore itu, saya naik Kopaja 57. Belum jauh laju bus dari terminal, sudah ada seorang pria yang sengaja mengedrop seorang anak kecil dari gendongan punggungnya, dan memasukkannya ke dalam bus yang saya

Read More

Pencari Amal

Pernahkah pertanyaan dan doa kalian dijawab Tuhan hanya dalam beberapa jam saja sejak kalian mengucapkannya? Saya, kemarin malam.. :-s

Malam itu, saya bersama suami akan makan malam di daerah Tebet. Baru saja kami memarkir kendaraan di seberang tempat makan yang kami tuju, ketika persis di samping pintu mobil sudah berjajar 3 bocah lelaki usia tanggung yang salah satunya menyodorkan kotak mirip kotak semir sepatu. Saya yang saat itu hanya menggunakan sandal jepit terpaksa menolak halus karena memang tidak butuh semir.

“Ya sudah Tante, kami boleh minta tolong belikan nasi sebungkus aja, Tante? Biar nanti kami makan bertiga..”, tutur anak lelaki yang paling kecil.

Mereka nampak kurus, kumal dan lusuh, mungkin karena sudah seharian di jalanan. Masing-masing memegang kotak kayu seukuran kardus sepatu, dengan baju yang sudah tidak jelas warnanya. Diam-diam saya jadi merasa iba. Sudah berapa banyak orang yang menyemirkan sepatunya pada mereka hari ini, ya? Sudah berapa lembar rupiah yang mereka dapatkan untuk menyambung hidup mereka hari ini? Tanpa berpikir lama, saya pun mengiyakan permintaan mereka untuk membelikan

Read More

#indonesiajujur : Tip of An Iceberg

“Dek, kamu nggak belajar? Kan besok ujian..”
“Tenang aja, Pa.. Aku udah tahu jawabannya kok..”
“Maksudnya kamu sudah dikasih kisi-kisi soal sama gurumu?
“Bukan kisi-kisi, Pa.. Tapi jawabannya. Kita itu udah dikasih tau jawabannya jadi besok tinggal jawab aja..”

Kawan saya bercerita dengan ekspresif tentang jawaban anaknya yang akan menjalani ujian. Mungkin zaman memang sudah berubah, dan perkembangan kegiatan contek menyontek yang klasik itu pun sudah mengalami metamorfosa dalam prosesnya. Demi sebuah nilai bagus, peringkat/ranking, kredibilitas, dan pengakuan tentang kemampuan diri, akhirnya anak didik dan sekolah pun seolah menghalalkan segala cara untuk meraihnya.

Membahas

Read More

Takut Tak Sempurna..

Di pagi yang sibuk itu, handphone di atas meja – yang hampir selalu diaktifkan dalam modus vibrate/silent itu – kembali bergetar. Sedikit memecah konsentrasi saya pagi itu. Melihat sebentar ke layar handphone, sekedar mengecek adakah mungkin email, sms, atau kabar penting lainnya yang masuk. Ternyata BBM dari seorang teman yang menanyakan kabar.

Ok, sepertinya bisa ditunda dulu ya, biar saya ngebut dulu deh kerjanya. Dengan cepat ibu jari saya mengetik sebaris kalimat di layar handphone. “Jeng, aku lagi sibuk dikit nih, aku kelarin bentar ya. Seperempat jam lagi kita sambung. Ok, Bebih? :D”. Enter. Tak berapa lama dia pun membalas dengan singkat, “Ok”.

Tak lama setelah selesai berkutat dengan berkas-berkas saya pun memenuhi janji untuk meluangkan waktu ngobrol dengan si teman. Menarik, karena dari sana mengalir sebuah obrolan yang bukan sebatas basa-basi

Read More

A Reason, A Season or A Lifetime

Salah satu project menulis di awal tahun ini yang menurut saya cukup unik dan spektakuler adalah menulis surat untuk mantan yang nantinya akan dibukukan via @nulisbuku yang deadline-nya adalah kemarin tanggal 8 Januari 2011. Project unik ini berawal dari idenya Naluri yang berniat untuk membukukan kumpulan surat untuk mantan. Dia mengundang para penulis yang berminat untuk berbagi cerita dalam sebuah buku. Bagi penulis perempuan bisa menulis dengan tema Surat Terakhir Untuk Penghuni Mars (STUPM), sedangkan para lelaki bisa menulis dengan tema Surat Terakhir Untuk Penghuni Venus (STUPV).

Jujur awalnya saya antusias untuk ikut project ini. Mengingat ada penggalan cerita mirip sinetron yang pernah terjadi dalam hidup saya

Read More