Satu Dekade

MYXJ_20170717120351_save

Sampai dengan tanggal 17 Juni 2017 kemarin sebenarnya masih belum percaya bahwa kami telah menjalani satu dasawarsa hidup berumah tangga. Di usia yang digambarkan sebagai Perkawinan Timah ini sebenarnya sama saja ceritanya dengaan usia-usia perkawinan lainnya, pasti banyak suka dukanya.

Tapi sebenarnya berapapun usia pernikahan kita bukan sebuah hal yang penting, karena sama-sama bukan jaminan dan tolok ukur kematangan dan kebahagiaan. Sejatinya, pernikahan itu tentang kemampuan kita menyesuaikan diri dengan pasangan, dan usaha masing-masing dalam mempertahankan mahligai komitmen yang sudah dimulai.

Saya sadar sepenuhnya bahwa tidak semua pasangan bisa hidup bersama sampai ke usia pernikahan yang sama dengan saya, karena mempertahankan pernikahan, hidup bersama dengan orang yang sangat berbeda sifat dan karakter itu bukan perkara gampang. Di sepanjang waktu berjalan pasti akan ada friksi dan gesekan yang akan timbul.

Dulu, zaman masih belum menikah sementara sudah banyak teman yang menikah, pernah saya bertanya kepada salah satu dari mereka begini,

“menurut kamu, pernikahan itu apakah selalu berakhir bahagia? Maksudku gini, kan ketika orang udah pacaran nih, pengennya kan selalu berujung di pelaminan, hidup berkeluarga, bahagia selama-lamanya. Menurut kamu sebagai orang yang sudah menjalani perkawinan, gimana?”

Tapi, alih-alih menjawab pertanyaan lugu saya itu, dia justru tertawa. Lah, kok malah tertawa. Jujur ya, saya selalu mikirnya begitu. Kenalan, pacaran, menikah, happily ever after. Layaknya film-film Disney, begitulah.

“Perkawinan itu nggak sesederhana yang ada dalam pikiranmu, Dev. Nggak sama kaya cerita di film-film Disney yang hampir selalu berakhir bahagia; that marriage is everybody’s happy ending. Justru masalah-masalah yang sebenarnya itu baru akan muncul setelah kita menikah. Pikiran kita justru akan ‘pecah’ ya setelah menikah, bukan pada saat pacaran yang masih banyak indah-indahnya itu”

Flashback ke 10 tahun lalu ketika pertama memulai hidup dengan suami yang karakter dan sifatnya berkebalikan bak bumi langit dengan saya. Beberapa tahun setelah percakapan itu, saya pun akhirnya menikah. Singkat cerita, benar memang, saya harus menyesuaikan diri dengan status baru saya yaitu sebagai istri. Jujur, itu bukan hal yang mudah, apalagi kalau sudah menyangkut ego masing-masing.

Dan ketika sedang perang dingin dengan suami, teringat kalimat demi kalimat teman yang dulu pernah cerita ini-itu,

“Dalam hubungan nanti, pasti akan ada kelakuan pasangan yang akan menghantam ego kita, baik itu perkataan maupun perbuatan…”

Dan lagi-lagi itu memang nyata adanya. Baik sengaja atau tidak, bukan hanya suami, saya pasti pernah berlaku hal yang sama kepada suami. Hiks…

Seiring waktu dan banyaknya pengalaman yang menyadarkan kami berdua, kami pun ‘insaf’ dan mulai saling mengisi, saling mengingatkan, saling memperbaiki diri kami masing-masing, dan lebih memaafkan. Saya dan suami sama-sama belajar menemukan nilai-nilai berharga dari apa yang telah kami jalani selama 10 tahun ini. Tidak ada manusia yang sempurna, pun halnya dengan kehidupan pernikahan.

Sampai dengan sekarang, memang masih ada sifat, karakter, cara berpikir, dan cara kami masing-masing mengambil keputusan yang berbeda dan tidak mudah untuk diubah, tapi tetap berusaha kami terima. Kami sadar bahwa terlahir dari latar belakang keluarga yang berbeda, dan tumbuh di lingkungan yang berbeda, wajar bila faktor-faktor perbedaan itu pasti akan tetap mewarnai relasi kita dengan pasangan.

Sepuluh tahun hidup bersama, semakin membuat saya sadar bahwa kami adalah dua karakter berbeda yang secara emosional saling melengkapi.

Tough times don’t last, tough teams do. Happy 10th wedding anniversary, Dear Husband. Thanks for the decade of amazing time with you…

Love you!

Continue Reading

Viral

go-viral

Beberapa waktu ini banyak sekali penggunaan kata ‘viral’ baik itu di media online maupun di kehidupan sehari-hari. Definisi viral kurang lebihnya adalah ‘sesuatu’ yang bisa jadi sangat cepat menjadi populer, seperti sebuah ‘virus’ yang menyebar salinan dirinya atau bermutasi.

‘Sesuatu’ di sini bisa berarti orang, tempat, foto, pikiran, trend, atau bahkan sebuah informasi. Kalau kita bicara tentang social media, viral lebih lekat kepada video, foto, atau cerita yang dimulai dari mereka sendiri, yang kemudian menyebar di semua lini platform social media. Bisa jadi yang awal mulanya cuma berupa status yang ditulis di social media, berhubung banyak yang menyebarluaskan, jadilah dia sebuah status viral. Kalau masih ingat, kita bisa ambil contoh kasus status Dinda yang awalnya cuma bermaksud curhat tentang kekesalannya terhadap para ibu hamil yang (menurut dia) manja karena selalu minta dikasihani dan minta tempat duduk, tapi berhubung status itu dia tuangkan di social media, dan ‘ndilalah’ ada yang me-repath statusnya, maka dengan cepat status itu tersebar, seketika menjadi berita viral, dan Dinda pun menjadi bahan bully-an massal di social media. Dinda dianggap kurang memiliki rasa empati.

Bagaimana dengan trend yang menjadi viral? Apakah kalian pernah menjadi bagian dari trend mannequin challenge, Harlem Shake, atau mungkin bagian dari trend pengunggah video parodi Pen Pinneaple Apple Pen-nya Piko Taro? Kalau iya, kalian adalah bagian dari trend viral itu. Mannequin challenge misalnya, dengan begitu banyaknya orang yang mengikuti trend ini, seolah seluruh dunia menjadi diorama hidup. Walaupun bagi sebagian orang itu konyol, tapi banyak juga yang melakukan itu, karena selain dianggap keren juga bagian dari hal yang kekinian. Padahal, kalau kalian menyadari, mannequin challenge itu sudah pernah dilakukan oleh salah satu artis Indonesia jauh sebelum trend ini mengemuka lho. Tidak percaya? Klik saja videonya Deasy Ratnasari yang berjudul Tenda Biru , hihihik.

Di dalam kehidupan sehari-hari pun kata viral sudah mulai banyak dipergunakan. Bahkan di tempat kerja saya, beberapa pejabat sering menggunakan kata “viralkan!” sebagai kata ganti sebar luaskan informasi kepada pejabat/pegawai lainnya di lingkungan kantor kami.

Di social media, banyak orang yang ingin dikenal banyak orang. Mereka melakukan segala cara untuk bisa terkenal, alias menjadi selebriti online. Wajar, karena menjadi lebih dikenal oleh orang lain adalah salah satu tujuan diciptakannya social media.

Tapi, benarkah semua orang berkeinginan untuk menjadi viral baik di dunia nyata maupun maya? Selama viral itu dalam konteks yang positif mungkin masih masuk akal. Tapi kalau konteksnya sudah negatif, rasanya tidak mungkin ada yang bercita-cita menjadi viral, ya.

Seseorang yang sedang menjadi ‘viral’ negatif di sebuah lingkungan tertentu ada kalanya dia sendiri tidak sadar kalau sedang jadi trending topic di lingkungannya. Mungkin ini lebih didasari karena kekurangpekaan orang tersebut terhadap lingkungan. Sekalipun ada pihak-pihak yang memberikan klarifikasi bahwa tidak sepenuhnya si objek yang menjadi viral itu senegatif yang disangkakan orang lain, tapi tetap akan kalah dengan asumsi yang sudah terlanjur beredar di lingkungan tersebut. Ya, namanya saja viral, virus, penyebarannya bisa sangat cepat, tanpa tahu dari mana asal muasalnya.

Belajar dari pengalaman orang lain (yang sempat jadi viral), kunci supaya kita tidak menjadi viral negatif adalah dengan menjadi lebih peka dengan lingkungan di mana kita berada; more overmenjaga lisan, pikiran, dan perbuatan, itu jauh lebih penting, karena tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Begitu, bukan? Bukaaaan….

Sebagai manusia toh nyatanya kita tidak selalu tahu apa yang ada di diri kita, sekalipun kita kerap mengklaim demikian. Sebagaimana tertera dalam teori 4 kuadran Johari Window yang mencerminkan tingkat keterbukaan seseorang yang dibagi dalam empat kuadran, yaitu open area, blind area, hidden area, dan unknown area. Johari Window ini dikenal sebagai jendela komunikasi melalui mana kita memberi dan menerima informasi tentang diri kita dan orang lain.

Dalam hal berita viral (negatif) singkat saja, area/kuadran ‘blind‘ adalah area paling rapuh dalam diri kita, karena di kuadran ini berisikan apa yang orang lain ketahui tentang kita, tapi tidak kita ketahui. Dengan mengurangi blind area, selain akan meningkatkan kesadaran diri, juga akan meningkatkan hubungan interpersonal kita dengan orang lain.

Lumrah, kalau manusia seringkali tanpa sadar lupa/khilaf, tanpa sengaja telah melakukan hal-hal yang kurang bisa diterima oleh lingkungan tempatnya berada. Beruntung kalau kita cepat sadar, dan segera mengubah perilaku kita, tapi bagaimana kalau ternyata kita terlalu lama ‘pingsannya’, nggak sadar-sadar kalau ternyata selama ini sudah jadi bahan pembicaraan? Harus ada orang yang memberi tahu, karena kita sedang berada di blind area. Tapi bagaimana kalau ternyata walaupun orang lain tahu, tapi mereka segan menegur kita karena (di mata orang lain) kita adalah tipe manusia dengan ‘daya ledak tinggi’, emosian. Jadi dari pada cari masalah mending diamsajalah; malas ribut.

Jadi, tidak ada salahnya mulai berintrospeksi, lebih peka, coba mengubah cara pandang (point of view), dan mulai lebih luwes dalam menerima kritik selama itu membangun. Namanya manusia kan gudangnya luput dan salah ya. Bersyukur jika masih ada hati dan pikiran sehat yang menjadi filter pencari kebenaran yang sesungguhnya. Bersyukur kalau masih ada orang lain yang mau peduli, mengingatkan, bahkan rela menjadi bumper untuk kita, semata-mata karena mereka masih menganggap kita sebagai teman.

Last but not least, mencoba untuk melawan atau mengendalikan materi viral sama saja seperti berperang melawan flu. Kita bisa saja mengambil langkah-langkah untuk mencegah jangan sampai kita terkena flu, tapi sekali saja virus itu telah memasuki aliran darah kita, tidak akan ada yang bisa kita lakukan selain menunggu virus itu keluar dengan sendirinya.

Duh, sore-sore kok serius amat postingannya, ya? Ngopi dulu bisa kali, Kak!
*beberes meja sambil menunggu ojek online*

 

 

sumber ilustrasi dari sini

Continue Reading

Pamer di Sosial Media

sosial-media

Suatu siang, di sudut sebuah rumah makan cepat saji di daerah Pecenongan, saya melewatkan waktu makan siang dengan para sahabat saya. Seperti biasa, obrolan dengan topik random meluncur satu persatu dari mulut kami, kebanyakan sih memang ladies talk selain topik-topik lainnya yang ‘ghibahable’.

Sampai akhirnya salah satu dari kami membuka topik yang sedikit serius. Tentang pamer di sosial media, gara-gara ada salah satu teman mereka yang baru saja meng-instastory-kan bayar DP gedung buat resepsi, hahaha…

Seperti yang kita semua tahu, sosial media itu seperti sebuah show room yang sangat luas di mana kita bisa memamerkan tentang apapun. Mulai status, popularitas, prestasi, gaya hidup, hobi, kehidupan pernikahan/keluarga, bisnis yang sedang dijalankan, tempat hangout/liburan, dan lainnya, karena sosial media salah satunya memang dirancang secara sempurna untuk ‘memanipulasi’ keinginan kita untuk pamer/sharing/berbagi, keinginan untuk diperhatikan oleh orang lain, termasuk sebagai media yang bisa digunakan untuk membenci sesuatu/orang lain secara bersama-sama.

Contoh kecil, ketika seseorang berkesempatan pergi ke suatu tempat, mengunggah foto tempat itu secara online adalah sebagai bukti otentik pengalaman luar biasa yang dunia harus tahu, karena kalau tidak diunggah, sama saja dengan hoax.

Mungkin saja bagi si pemilik akun, apa yang mereka unggah itu bukan bermaksud untuk pamer, cuma ingin berbagi kebahagiaan misalnya, tapi toh nyatanya tidak semua orang bisa menerima maksud dan tujuan pemilik akun, bukan? Apalagi kalau yang diunggah itu mengandung hal-hal yang sensitif bagi orang lain; dan tingkat sensitivitas seseorang terhadap sesuatu pasti berbeda-beda, tergantung melihat dari sudut pandang yang mana.

Contoh lagi, sebuah kencan pertama yang sempurna itu wajib diunggah di sosial media, apalagi kalau pasangan yang kita kencani itu wajahnya memang ‘social media uploadable’, layak dipamerkan di sosial media. Pokoknya unggah saja dulu, soal kualitas dan kepribadian dia bagaimana itu urusan nanti.

Okelah ya, tapi tanpa kita sadari ternyata tidak semua orang suka dengan unggahan kita. Misalnya saja orang-orang yang kebetulan belum memiliki pasangan, unggahan romantis yang muncul di newsfeeds mereka itu sama seperti sebuah ‘reminder‘ kalau mereka belum memiliki pasangan yang bisa dipamerkan ke sosial media, padahal semua orang sudah punya hubungan yang ‘sempurna’ dengan orang lain.

Jujur, dulu ketika saya belum hamil, saya paling sensitif kalau melihat ada teman yang sedang hamil. Kalau cuma hamil saja sih masih bisa saya terima, tapi kalau sudah mulai baca status keluhan selama kehamilan, yang mual, muntah, letih, lesu, dan segala hal yang menyangkut kehamilan, yang seolah-olah itu siksaan banget itu kok berasa lebay gimana ya. Yang namanya hamil pasti akan ada perubahan signifikan di kondisi badan, tapi ya wajar, karena ada janin yang sedang tumbuh berkembang dalam rahim kita. Silakan saja mengabarkan tentang status kehamilan, tapi (menurut saya) tidak perlu sampai ekstrem mengunggah status keluhan selama hamil tiap 5 menit sekali. Percayalah, saat-saat hamil itu justru saat yang paling precious bagi seorang perempuan, dan akan dirindukan ketika sudah lama tidak hamil, jadi ya sudah nikmati saja segala prosesnya, jangan terlalu banyak mengeluh. Bukan berarti jangan mengeluh, sewajarnya saja. Bawel banget ya saya? Hahaha… Tapi itu dulu, ketika saya masih suka sensi-sensian.

Ketika ahamdulillah akhirnya saya pun mendapat rezeki yang sama dari Allah berupa kehamilan yang sehat sampai dengan kelahiran, di situ saya banyak belajar arti menghargai perasaan orang lain. Sekalipun saya merasa amat sangat bahagia karena akhirnya hamil juga setelah menunggu selama lebih dari 5 tahun, tapi kebalikannya, saya justru lebih tertutup di sosial media. Jangankan menulis blog, up date status di gadget dan sosial media pun sengaja saya batasi. Kalau pun iya saya up date status, tidak ada hubungannya sama sekali dengan kehamilan saya. Biarlah mereka tahu dengan sendirinya, tanpa saya harus bereuphoria di sosial media, atau status di gadget saya, mengingat adik saya, beberapa kerabat, serta sahabat saya lainnya juga masih belum dikaruniai momongan hingga saat ini.

Nah, bagaimana dengan pamer lainnya, misalkan baru beli rumah, mobil, bayar DP gedung untuk resepsi, dan lainnya. Ya, di era sosial media, semua sah-sah saja, karena saat ini nilai-nilai yang dianut mayoritas orang memang ketenaran atau pengakuan diri oleh lingkungan sosial. Tidak ada yang salah dengan ketenaran atau sharing tentang sebuah pencapaian saat itu, karena bagi sebagian orang itu bisa memberikan kepuasan psikologi.

“Tapi kan kesel ya, Kak. Kan mereka baru pacaran, masa sudah pamer beli rumah? Biasa aja kali…”

Setiap orang punya motivasi berbeda ketika mengunggah sesuatu ke sosial media mereka. Tinggal kita melihat hal itu dari sudut pandang yang mana. Siapa tahu memang mereka sudah ada rencana akan menikah dalam waktu dekat, jadi ketika ada rezeki lebih, mereka menabungnya dengan cara membeli rumah secara patungan, biar ketika mereka sudah menikah beneran sudah ada rumah yang bisa mereka tempati.

Sosial media memang milik kita, tapi kita jugalah yang harus bijak menggunakannya, karena bagaimana pun sosial media masih memiliki berbagai manfaat di banyak hal, misalnya commerce, pembelajaran, penyebaran informasi, komunikasi, dan pariwisata.

Intinya, jangan sampai tampilan sosial media terlalu mempengaruhi pikiran kita. Ada banyak orang yang foto-fotonya tidak terlalu di-likes oleh banyak orang, atau jumlah followers-nya tidak banyak, tapi justru mereka punya lebih banyak teman yang real di kehidupan nyata. Ada juga pasangan yang jarang mengunggah foto-foto romantis, atau postingan-postingan manis yang menunjukkan betapa besar cinta masing-masing kepada pasangannya, tetapi secara real mereka justru lebih bahagia dari pada yang kita lihat di newsfeeds.

Ada orang yang tidak memamerkan gadget baru dan barang mahal lainnya, tapi ternyata mereka sudah punya rumah sendiri, punya rekening bank yang gendut, dan punya lebih banyak prestasi dalam hidup dibandingkan dengan mereka yang terus-menerus pamer tentang ‘ukuran’ kehidupan yang sempurna ala sosial media.

Inilah mengapa kita tidak harus percaya dengan semua yang kita lihat di sosial media. Kehidupan tiap orang tidak sesempurna yang berusaha mereka tampilkan secara online kok, karena penampilan bisa saja sangat menipu.

Just my two cents…

 

picture source Pinterest

Continue Reading

Drama itu bernama Long Weekend

mood-swing

Seperti umumnya perempuan, pasti akan mengalami masa datang bulan. Dan, seperti biasa juga, pasti kita akan mengalami yang namanya mood swing alias mood senggol bacok a.k.a supersensitive. “Ah, siapa bilang? Aku lempeng-lempeng aja, kok…”. Sini, berantem sama saya, yok! Hahaha…

Seperti bulan ini misalnya, seminggu sebelum datang bulan, saya sudah ‘mengendus’ bau-bau sensi dan nafsu makan yang gila-gilaan. Sudah makan nasi, masih makan roti. Sudah makan roti masih juga ngembat buah. Istirahat sebentar, eh ngemil keripik singkong. Habis keripik singkok, dilanjut Belvita. Tidur. Bangun-bangun makan cincau. Habis itu nimbang. Eh, kaget sendiri karena jarum timbangan mengarah ke kanan menjadi 52 kg, setelah sebelumnya 48-49 kg. Itu kayanya yang 3 kg selain camilan, juga mengandung emosi deh, karena kalau sudah selesai datang bulan ya berat badan kembali ‘normal’.

Nah, 3 hari libur kemarin itu jadi masa yang penuh drama buat saya. Kami memang sengaja tidak pergi ke mana-mana selain ke Superindo untuk belanja bulanan, selebihnya di rumah saja, main sama Alea dan jadi ibu rumah tangga sejati. Ciyeee, sejati. Kaya ibu kita Kartini. Putri Sejati. Nggak ke mana-mana selama long weekend itu sebenarnya ada positifnya juga sih, saya jadi punya quality time sama keluarga, utamanya sih sama Alea. Mulai nonton youtube/film bareng, main masak-masakan bareng, bikin bubble dari air sabun, atau mainan play dough dari tepung terigu. Ada waktu juga buat masak ala kadarnya buat Alea dan papanya, beberes lemari yang selama ini cuma janji palsu. “Iya, tenang, nanti aku beresin…”. Tapi itu janji 6 bulan yang lalu dan baru sempat ‘kepegang’ kemarin, pas semua pada pulas tidur siang. Eh, jangan salah, beberes rumah atau lemari itu butuh niat dan tekad yang bulat, didukung dengan kesempatan dan waktu yang tepat.

Trus, kemarin cranky, nggak? Iya, biasalah, namanya juga perempuan mau datang bulan, kadang lebaynya suka berlebihan. Sudah lebay, berlebihan pula. Eh, tapi beneran deh, kemarin itu full kejadian yang menuntut kesabaran tingkat nasional. Suami saya itu tipe suami panikan. Kalau Alea nangis, atau merengek minta sesuatu, dan dia nggak ngerti apa maksudnya, pasti akan mengarahkan, “ya udah ke mommy aja ya… yuk, yuk…”. Kalau saya lagi nggak ngerjain apa-apa sih, ya nggak apa-apa. Lha kalau lagi banyak yang harus dikerjain ya kenapa nggak dibantu ngasuh dulu sih *usap peluh*. Nah, kemarin gara-garanya juga sepele banget, tapi berhubung sayanya juga lagi mood senggol bacok, makanya jadi agak ngambek-ngambekan sama suami. Cuma gara-gara, youtube di i-Pad lagi no connection, gara-garanya saya salah tekan apalah, nah saya yang lagi masak minta tolong ke suami buat setting ulang modem, atau benerin apalah biar internet lancar lagi. Ya kan saya lagi nyambi masak, nanti gosong dong masaknya, ya kan? Ndilalah Aleanya lagi baperan, maunya saya aja yang benerin internetnya, jangan papanya, karena katanya papanya nggak bisa benerin. Yaelah, Nak. Kamu ini nambahin PR mama aja. Duh, pokoknya lagi pada lebaylah serumah.

Itu pertama, kasus kedua. Pas lagi beberes dapur, mendadak rumah kaya kok berasa ada aromaterapinya ya, kaya wangi-wangi minyak gosok, gitu. Feeling saya agak nggak enak nih. Nah, bener deh, di kamar, Alea lagi asik menuangkan minyak gosok ke lantai sampai kecret ke mana-mana, sebagian lagi diolesin ke badan bonekanya. Jadilah itu boneka wangi minyak gosok, plus lantai-lantainya tentu saja. Antara geli, kesel, dan capek, numpuk jadi satu, tapi tetap lumer juga ketika melihat senyum tengil di wajah Alea yang innocent, demi melihat saya menyemprot lantai, mengepel, dan membereskan bonekanya yang wangi obat gosok.

OK, berarti sudah aman ya, Kakak? Aman sih, sampai setengah jam kemudian hal yang sama terjadi berulang. Kali ini Alea kembali beraksi. Kali ini bukan dengan obat gosok, melainkan dengan minyak rambut kemiri. Minyak kemirinya tidak lagi dioleskan ke badan bonekanya, tapi dituang ke lantai, buat ngepel. Huhuhuhuhu…. Alea, huhuhuhu… Suami saya karena judulnya masih sensi, dia cuma menengok sebentar lalu sibuk dengan outstanding pekerjaannya. Pokoknya judulnya saya lagi dicuekin sama suami, ceritanya masih marah gara-gara kejadian tadi pagi yang menurut saya sih… come on,.. sudah kedaluwarsa.

Hingga puncaknya sore, menjelang maghrib, setelah seharian ‘tegangan tinggi’, pecah juga tangis saya, hanya gara-gara camilan yang tidak sengaja ditendang Alea hingga berhamburan ke lantai yang baru saja saya sapu dan pel. Alea, seperti merasa bersalah, langsung mendekati saya dan memeluk saya erat. Lah, saya ya jadi makin baper. Saya tahu dia tidak sengaja menumpahkan makanan di lantai, saya juga sedang dalam kondisi emosi yang ‘berantakan’ karena hormonal, ditambah dengan suasana yang emosi-emosian antara saya dan suami, walaupun saya sendiri sudah tidak marah. Saya itu kalau marah cuma 5 menit kok, habis itu ya sudah selesai. Enak lho kalau mau berantem sama saya, marahnya sebentar. Eh, gimana, gimana?

Tapi ada hal positif yang saya pelajari selama 3 hari kemarin. Tugas menjadi seorang perempuan, seorang ibu, seorang isteri, seorang perempuan bekerja, itu tidak pernah mudah. Dibutuhkan kesabaran luar biasa untuk memainkan 3 peranan itu secara bergantian. Menjadi orang tua itu juga tidak ada sekolahnya, begitu juga menjadi suami/isteri. Kita tiba-tiba saja ‘diceburkan’ dalam peran-peran itu tanpa terlebih dulu ditanya kesiapan kita. Karena kalau ditanya siap tidak siap ya selamanya akan tidak siap. Jadi anggap saja ini semua semacam pembelajaran seumur hidup.

Di situ, sebagai orang tua, saya bukan hanya belajar mengendalikan emosi, tapi saya juga belajar melihat bagaimana Alea mengelola emosinya, perasaannya, bagaimana dia menempatkan diri ketika ada salah satu orangtuanya yang sedang marah (entah itu marah kepada dirinya, atau ketika orang tua sedang bersitegang). Itulah kenapa saya dan suami berkomitmen untuk tidak bertengkar di depan anak. Kalaupun terpaksan kami sedang marahan, jangan sampai melibatkan/melampiaskan kepada anak. Karena bagaimana pun perasaan seorang anak itu sangat peka, melebihi kepekaan perasaan orang dewasa.

Sebagai seorang pasangan, saya juga masih terus belajar mengendalikan emosi, terutama lisan saya, jangan sampai lisan atau perbuatan saya mencederai perasaan suami saya atau orang-orang di sekitar saya. Terutama dalam kehidupan berumah tangga, karena bagaimana pun ridho suami adalah ridho Allah. Bukankah begitu, pemirsa? Tentu saja begitu!

Jadi, pesan moralnya apa? Sesungguhnya seminggu menjelang datang bulan adalah masa-masa berat bagi seorang perempuan. Bukan hanya berat di mengelola emosinya, tapi juga berat di sesi menahan nafsu makannya… hiks… 😐

 

 

sumber gambar dari : sini

Continue Reading

Selagi Masih Ada Waktu

myxj_20160919141103_save

Beberapa waktu lalu, sepulang dari kantor, di dalam sebuah taksi, Alea waktu itu sudah lelap dalam dekapan saya lantaran capek seharian beraktivitas di daycare, ngobrollah saya dengan pengemudi taksi sebut saja Pak Budi. Sebenarnya saya bukan tipikal orang yang sering membuka percakapan ketika di dalam taksi, tapi berhubung Pak Budi yang memulai percakapan duluan, dan kebetulan setelah ngobrol orangnya asik juga, jadi ya sudah lanjut saja. Tapi siapa sangka justru dari obrolan itu jadi membuat saya merenung sendiri.

Pak Budi adalah seorang bapak berusia sekitar 60 tahun. Beliau seorang ayah dari 2 orang putri yang sudah dewasa dan keduanya tinggal di Amerika Serikat. Isteri beliau sudah meninggal dunia 2 tahun yang lalu karena kanker rahim. Dulu, sebelum menjadi pengemudi taksi, Pak Budi adalah seorang karyawan di sebuah BUMN yang sengaja mengambil pensiun dini demi menemani sang istri menjalani pengobatan/terapi. Namun takdir berkata sebaliknya, sang istri tercinta dipanggil Allah terlebih dulu meninggalkan Pak Budi bersama kedua buah hati mereka.

Setelah beberapa waktu, sepeninggal istrinya, Pak Budi pun mulai melamar pekerjaan demi mengisi waktu luangnya. Di antara beberapa pilihan pekerjaan, pilihannya jatuh menjadi seorang pengemudi taksi.

Him: “Sebenarnya saya juga nggak niat-niat banget cari kerja, Mbak. Wong usia saya juga sudah nggak muda lagi. Cuman ya namanya sendirian ya, Mbak…, anak jauh, istri sudah nggak ada, kalau saya di rumah aja tanpa ada kesibukan kok bosen amat. Makanya saya jadi supir taksi sajalah.”

Me: “Bapak biasa narik sampai jam berapa, Pak?”

Him: “Ah, habis nganter Mbak ini saya langsung ngembaliin mobil trus pulang kok, Mbak. Saya itu narik paling malam jam 7. Lagian ngapain juga saya ngoyo-ngoyo kerja, buat siapa lagi, coba? Kan cuma buat hidup saya sendiri…”

Lalu Pak Budi menceritakan betapa nelangsanya ketika Ramadan menjelang. Beliau yang biasanya melewatkan puasa Ramadan bersama sang istri, sekarang harus menghabiskan puasa Ramadan sendirian. Sahur sendiri, buka sendiri, ibadah sendiri, mengerjakan segala sesuatunya serba sendiri. Bahkan ketika Idul Fitri pun hanya dirayakannya sendirian. Kebetulan kedua putrinya tidak sempat pulang, hanya sempat menelepon mengucapkan selamat lebaran sambil meminta maaf karena belum bisa pulang ke Indonesia.

Me: “Kenapa mereka nggak pulang pas lebaran, Pak? Nggak bisa cuti emangnya?”

Him: “Mereka itu hanya bisa libur di bulan Juli aja, Mbak. Selain bulan itu mereka nggak bisa cuti. Ya tapi alhamdulillah Juli kemarin mereka sempat pulang walaupun nggak lama. Lumayan kesepian saya sedikit terobatilah, Mbak. Sebenarnya mereka itu mengizinkan saya untuk menikah lagi, biar saya ada temannya. Tapi namanya cari jodoh kan nggak segampang membalikkan telapak tangan ya, Mbak. Apalagi yang mau terima saya apa adanya gini kan ya nggak mudah…”

Me: “Oh, gitu. Kenapa Bapak nggak ikut aja ke Amerika, kan enak kumpul sama anak-anak, ada yang merawat, merhatiin…”

Him: “Ah, saya orangnya nggak seneng ngerepotin anak, Mbak. Memang sih saya pernah ke sana, gantian jengukin mereka, tapi ya nggak bisa lama-lama, kan mereka juga kerja, saya ngapain juga bengong di rumah nggak ke mana-mana kecuali sama mereka. Lagi pula kan mereka nggak tinggal satu kota, Mbak…”

Me: “Oh… gitu…”, jawab saya pendek.

Jujur sekelumit cerita Pak Budi tadi membuat saya mendadak sedih, baper sebagai orang tua.

Setiap keluarga pasti mendambakan kehadiran anak yang akan menyemarakkan kehidupan berumah tangga. Celoteh, tawa riang, dan tingkah lucu anak, pasti menjadi hiburan tersendiri bagi tiap orang tua. Anak adalah pelepas lelah yang paling mujarab. Selelah apapun orang tua, kalau sudah ketemu anak pasti lelahnya tak terasa. Walaupun sering kali setelah bekerja masih harus ditambah dengan membereskan rumah akibat ‘kekacauan’ yang diciptakan oleh si kecil, misalnya membersihkan tumpahan susu, remahan biskuit yang ada di mana-mana, membereskan pensil/crayon setelah mereka mencoret ‘karya masterpiece’ mereka di dinding-dinding rumah, membereskan mainan yang berserakan di mana-mana. Itu pun masih ditambah ketika si kecil tidak mau ditinggal sedetik pun oleh kita, alhasil mengerjakan apapun sambil menggendong si kecil. Been there done that.

Si kecil pun agaknya tahu makna quality time bersama kedua orang tuanya. Di hari Sabtu/Minggu atau hari libur lainnya, ketika kedua orang tuanya ada di rumah, si kecil seolah seperti menagih haknya. Dia hanya mau main, disuapi, dimandikan, dan dikeloni cuma sama orangtuanya. Jangankan ke salon untuk me time, lha wong ke kamar mandi saja ditungguin di depan pintu.

Pernah tak sengaja saya mengeluh betapa capeknya membereskan rumah setelah pulang kerja, sepertinya kok tidak beres-beres, karena satu selesai, satunya masih ada. Nanti yang ini beres, kerjaan berikutnya sudah menunggu. Apalagi saya dan suami memang belum sepakat untuk menggunakan jasa support village (pengasuh) bagi Alea, dan juga jasa asisten rumah tangga untuk sekadar membereskan rumah. Rumah cuma sepetak ini, masa iya pakai jasa asisten rumah tangga.

“wis tho, ini cuma soal waktu kok. Nanti akan ada masa di mana rumahmu akan tampak seperti rumah-rumah yang ada di majalah-majalah itu, bersih, rapi, wangi. Akan ada masanya juga nanti kamu bisa menikmati waktumu sebebas-bebasnya tanpa ada yang mengganggu. Akan ada saatnya juga capekmu akan berkurang, nanti pas anak-anak mulai beranjak besar. Sekarang ini, nikmati saja semua kebersamaan dan waktu ‘ribet’ bersama mereka, karena percaya sama Mama, keribetan itu nggak akan lama…”

Di situ saya langsung baper.

Iya, semua cuma masalah waktu. Nanti, ketika anak-anak mulai besar, belum tentu mereka mau kita ajak ke mana-mana seperti sekarang; mereka akan mulai bisa memilih acara mereka sendiri, teman-teman mereka sendiri. Selama masih bisa uyel-uyel, cium-cium, dan peluk-peluk mereka, lakukan sepuas hati, karena akan ada suatu masa ketika mereka risih kita cium dan peluk, apalagi di depan umum/teman-teman mereka. Suatu saat nanti mereka akan meminta kamar sendiri, terpisah dari orang tuanya. Privacy. Seketika itu pula peran kita tak lagi ‘sepenting’ ketika mereka masih bayi/anak-anak.

Kelak, ketika mereka sudah mulai dewasa, akan ada saat di mana mereka pergi meninggalkan kedua orang tuanya untuk menggapai cita-cita mereka, dan mungkin hanya sesekali pulang untuk melepas rindu. Bahkan terkadang untuk sekadar menanyakan kabar ayah ibunya saja tidak mungkin mereka lakukan setiap hari. Kitalah yang akan gantian menunggu telepon mereka. Kitalah yang akan menyiapkan cerita-cerita ‘tak penting’ hanya supaya bisa mengobrol bersama mereka lebih lama.

Sebagai orang tua kadang kita kelepasan, membiarkan ego kita berjalan begitu saja di masa-masa anak-anak sedang membutuhkan kehadiran utuh kita sebagai orang tua dalam kehidupan mereka.

“Yah, Dev… gue juga butuh gaul sama temen-temen gue kali, masa iya ngendon aja di rumah. Masa iya jalur gue rumah-kantor-rumah, gitu melulu. Sesekali gue juga butuh ngopi-ngopi cantik bareng sama temen-temen gue. Gue butuh refreshing dan me time juga selepas pening di kantor. Gue yakin lo juga gitu, kan?”

Dulu, ketika belum ada Alea, saya masih bisa begitu. Tapi ketika sudah anak, rutinitas dan aktivitas saya berubah 180 derajat. Rute saya hanya rumah-kantor-rumah. Hari libur saatnya jadi ‘upik abu’ dan waktunya full untuk anak. Kalaupun iya saya bisa me time, itu juga kalau Aleanya sudah tidur, atau ada yang bantu jagain Alea. Kalau tidak ada, waktu dan kesempatan saya bersama Alea itulah yang menjadi me time saya, mengingat saya seorang ibu bekerja yang harus membagi waktu antara menjadi seorang ibu sekaligus perempuan bekerja.

Selagi masih ada waktu, sayangilah anak-anak kita dengan sepenuh hati, karena waktu dan kebersamaan dengan mereka tak akan pernah bisa ditarik mundur. Sekalipun itu cuma sedetik.Begitu pula sebaliknya, sayangilah kedua orang tua kita selagi mereka masih ada, karena waktu kita untuk mereka pun tidak lama.

 

 

 

Foto: koleksi pribadi

Continue Reading
1 2 3 28