information

Balada Tukang Pijat

massage
Sebenarnya saya pernah menulis tentang tema ini sebelumnya, tapi karena sesuatu dan lain hal yang terjadi pada blog saya, akhirnya postingan itu lenyap sebelum sempat saya back up :((

Ngomong-ngomong tentang tukang pijat, dulu saya sempat trauma sama tukang pijat. Bukan apa-apa, gara-gara habis dipijat, siklus bulanan saya mendadak jadi kacau balau, walaupun akhirnya kembali stabil setelah 4 bulan. Ya, meskipun nggak kenapa-kenapa namanya perempuan tetap khawatirlah. Sampai akhirnya setelah menetap di Jakarta, dan menemukan tukang pijat yang cocok, barulah saya mau dipijat lagi. Itu pun terpaksa karena saya habis jatuh; biasalah, kalau kebanyakan pecicilan kan begini, Kak. Ibu itu kalau mijat nggak langsung pakai minyak, Kak. Tapi seluruh badan dilemaskan dulu dengan pijatan tanpa minyak, baru kalau seluruh urat dirasa sudah lemas dia pijat pakai minyak khusus pijat.

Nah, suatu hari, ketika saya sedang butuh

Read More

Share
suggest

Tentang Oleh-Oleh

souvenir

Disclaimer: postingan ini mengandung sensitivitas tingkat RT, RW, kelurahan, dan kecamatan, Kak…

—–

 

“Kamu habis cuti, ya? Oleh-olehnya mana?”

Pasti pernah dapat pertanyaan seperti itu, kan? Entah di kondisi setelah kita cuti, atau perjalanan dinas. Sering heran sendiri, padahal kita mengambil cuti tahunan kan tidak selalu untuk tujuan pulang kampung, berlibur, atau jalan-jalan, ya? Ada kalanya kita mengambil cuti untuk mengurus hal lain yang tidak bisa ditunda, dan kebetulan di hari kerja. 

Kalau waktunya panjang, tenaganya ada, uang saku cukup pasti akan disempatkan untuk jalan-jalan sekalian beli oleh-oleh. Tapi kalau agendanya padat, waktunya sempit, dan tenaganya keburu habis karena sudah beraktivitas seharian

Read More

Share
podcast

“Ibu kota yang ideal itu…”

Jakarta dikepung banjir. Selama beberapa hari topik itu menghiasi headline berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Kalau banjir ‘biasa’ sih saya sudah pernah mengalami (walau tidak separah hujan di tahun ini), seperti di tulisan yang ini. Apalagi lalu lintas Jakarta yang hanya sepi kalau ada car free day itu membuat semakin parahnya kondisi lalu lintas ketika hujan turun.

Banjir kemarin benar-benar membuat saya melongo parah, inilah pertama kalinya saya mengalami langsung momentum banjir 5 tahunan. Beruntung tempat tinggal saya bukan daerah yang terkena banjir, tapi akses menuju kantor dan rumahlah yang banjir parah. Ya, pintar-pintarnya kita mencari jalur alternatif.

Di hari Kamis yang lalu, sepanjang jalan menuju ke kantor diguyur hujan lebat. Di

Read More

Share
information

Auld Lang Syne

Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang akhir tahun biasanya saya bikin semacam rangkuman perjalanan selama satu tahun ke belakang.

Kalau dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya, perjalanan di tahun ini relatif lebih anteng, mengalir, tidak ‘seheboh’ perjalanan di tahun-tahun sebelumnya. Tapi secara keseluruhan semua berjalan baik dan lancar.

Diawali di bulan Januari lalu, untuk pertama kalinya saya pergi agak jauh dari Jakarta, ke pulau paling luar Indonesia, Papua, untuk bertugas petugas protokol di acara pelantikan pejabat Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.  Ada pengalaman unik selama kami di sana, yang berlaku di Jakarta, kalau pelantikan diagendakan berlangsung mulai pukul 09.00 wib, biasanya tim protokol akan sudah stand by minimal satu jam sebelumnya untuk mempersiapkan segala sesuatunya termasuk gladi bersih. Pengalaman

Read More

Share
profile

Balada Macet

 

“Bukan Jakarta kalau nggak macet!”

Demikian kata-kata yang sering dilontarkan sebagai ‘pemakluman’ terhadap betapa padat dan parahnya lalu lintas di Jakarta. Mungkin sebenarnya bukan pemakluman, tapi sudah menjadi kepasrahan akut sebagian besar warga ibukota yang mau tidak mau harus berhadapan dengan kemacetan itu setiap hari.

Selama dua hari berturut-turut kemarin saya berhadapan dengan kemacetan  yang sungguh superb, perpaduan antara kepadatan menjelang long weekend ditambah dengan hujan deras disertai angin yang mendera Jakarta selama beberapa hari terakhir ini. Dan salah satu kemacetan itu menegangkan buat saya karena berhubungan dengan jam keberangkatan pesawat ke Surabaya.

Jumat lalu saya baru keluar kantor sekitar pukul 17.30. Cuaca di luar masih hujan gerimis setelah hujan

Read More

Share
address
suggest

Suara yang menggelegar itu…

Kalian pernah nggak ada dalam sebuah situasi di antara sekian banyak orang, lalu mendadak ada orang yang teleponan kenceng banget kaya pakai megaphone? Pernah? Saya juga mengalaminya beberapa hari yang lalu.

Seperti biasa, saya pulang kantor menggunakan Transjakarta yang banyak penggemarnya itu. Ketika saya datang, kondisi antrian di halte Harmoni memang sudah mengular, tapi belum terlalu panjang. Di depan saya berdiri seorang wanita paruh baya, berjilbab, berperawakan sedang, yang tengah sibuk smsan. Beberapa saat kemudian dia terdengar sedang menghubungi seseorang dalam bahasa Padang yang kental. Awalnya sih belum terlalu ‘mengganggu’, tapi beberapa saat kemudian entah kenapa mendadak suara ibu itu mendadak naik satu oktaf lebih tinggi.

“OOOH, JADI ANAKNYA IDA LEMAN LAHIRAN? KAPAN? OH, HARI INI? OKE, OKE… YA UDAH… YUK,

Read More

Share

Lomba karaoke itu…

Jadi ceritanya begini, dalam menyambut ulang tahun KORPRI yang jatuh setiap tanggal 29 November ini, sejak beberapa minggu yang lalu kantor saya sudah menyelenggarakan berbagai perlombaan yang bisa diikuti oleh seluruh pegawai di lingkungan Sekretariat Negara dan Sekretariat Kabinet. Ya selain buat seru-seruan juga agar lebih mempererat tali persaudaraan di antarkaryawan.

Di suatu siang, pas saya mau ke kantin, berpapasanlah saya dengan salah satu panitia lomba yang tanpa tedeng aling-aling langsung menodong saya untuk ikut lomba karaoke. Hah? Lomba karaoke? Demi apa saya diminta ikut lomba karaoke? Lha, wong ngomong aja saya fals, kok malah disuruh nyanyi, wah… penghinaan tingkat internasional ini. Kalaupun iya saya sering nyanyi-nyanyi sendiri itu juga cuma sebatas teritorial kamar mandi, pantry, ruang makan, dan sekitarnya. Tentu saja tawaran ajaib itu tidak saya iyakan saat itu juga. Saya

Read More

Share
information

Kompasianival 2012

Jumat sore kemarin (16/11) Mas Bukik mem-bbm saya, meminta tolong untuk hadir mewakili Indonesia Bercerita menerima penghargaan dari Kompasiana di hari Sabtu (17/11). Acara yang bertajuk Kompasianival 2012 ini merupakan rangkaian acara ulang tahun Kompasiana yang ke-4, yang tahun ini diadakan di Skeeno Hall – Gandaria City lantai 3.

Saya berangkat dari rumah sekitar pukul 18.00, sampai di sana sekitar pukul 19.00. Baru saja saya mendaratkan kaki memasuki ruangan yang penuh dengan booth-booth komunitas itu kok ya tepat pas acara pengumuman pemenang \:D/. Jadi semacam baru bangun tidur; nyawa belum genap, sudah diminta untuk berbaris ;)). Tapi bagus juga sih, jadi saya kan nggak perlu menunggu terlalu lama untuk menerima penghargaan itu. Bukan apa-apa, soalnya di sana nggak ada yang saya kenal; saya juga tidak

Read More

Share
profile

“Dear Transjakarta…”

 

Hari Selasa kemarin, di tengah mood swing dan ke-cranky-an akibat PMS, ternyata masih harus ditambah dengan kejengkelan dan keletihan luar biasa akibat menunggu bus Transjakarta selama kurang lebih 2 jam ~X(. Saya keluar kantor sekitar pukul 16.00 wib. Dengan semangat ’45 karena ingin segera sampai di umah untuk istirahat ditambah langit yang sudah gelap saya maka pun bergegas menuju ke halte Harmoni, halte busway terdekat dengan kantor saya. Ketika tiba di halte, kondisi antrean penumpang masih berjumlah 6 orang, tapi semakin sore semakin bertambah, dan makin mengular.

Biasanya sih saya naik Transjakarta yang ke arah Blok M, tapi sejak jurusan Ragunan-Kota dibuka saya pun memilih jurusan ini karena lebih praktis, tinggal sekali kali naik saja dan langsung turun di halte Duren Tiga. Memang pintu antrean ini tidak selalu dibuka, ada kalanya mas-mas petugas Transjakarta

Read More

Share
address

Cerita Sepanjang Jalan

Seorang ibu berbaju merah berpenampilan rapi menaiki Kopaja yang saya naiki di bilangan Gunawarman. Dia duduk di sebelah saya sambil menggengam selembar uang dua ribuan. Matanya celingukan ke sana-ke mari seolah mencari seseorang/sesuatu. Kalau boleh saya artikan sepertinya ibu itu mencari kenek bus yang biasanya sudah menagih ongkos sesaat setelah penumpang naik. Tapi kebetulan memang Kopaja yang kami naiki itu tidak ada keneknya, jadi semua penumpang yang akan turun dan membayar harus langsung ke sopirnya. Entah kalau yang duduk di belakang, apakah mereka sempat maju ke depan untuk sekadar membayar, atau memilih langsung turun begitu saja.

Ternyata benar apa yang saya perhatikan, ibu itu mencari kenek yang sedari tadi tidak menagih ongkos padanya.

Ibu X: “Eh Mbak, serius ini bus ini nggak ada keneknya, ya?”

Saya: “Sepertinya nggak ada, Bu. Soalnya sejak saya naik dari terminal Blok M semua penumpang bayarnya langsung ke sopirnya”

Ibu X: “Waduh, berarti ribet banget dong, ya? Kenapa nggak dibikin sistem kaya di luar negeri, ya? Begitu penumpang naik, mereka

Read More

Share
podcast