Tentang Penerimaan Diri

Beberapa waktu lalu, ada obrolan menarik antara saya dan Alea. Tentang konsep penerimaan diri, dan tentang kalah atau menang. Wah, sepertinya sedikit berat ya untuk obrolan dengan anak TK. Mmmh, tapi tidak seberat yang disangka, kok.

Dulu, Alea bukan anak yang bisa menerima kekalahan. Apapun itu dia yang harus jadi pemenangnya. Kalau sampai kalah, dia akan ngambeg, nangis, atau justru blaming ke teman yang menang. Dan itu terjadi berkali-kali, sejak sebelum dia sekolah hingga awal TK nol besar. Awalnya kami mengira mungkin karena di rumah hanya dia sendiri yang anak-anak, belum ada ‘temannya’ alias adik.

Di sesi Parents & Teachers Meeting, saya dan suami selalu diberi tahu bagaimana perkembangan dan keseharian Alea di sekolah ketika bergaul dengan teman maupun guru. Dan hasilnya masih sama. Banyak cerita ngambegnya, masih kurang percaya diri, dan PR lainnya yang menjadi tugas kami sebagai orang tua untuk memperbaiki.  

Sampai akhirnya saya berkesempatan menjemput dia pulang sekolah, dan ngobrol banyak setelahnya. Iya, ngobrol bareng anak TK. Sebenarnya Alea itu anaknya enak kalau dinasihati asal suasana hatinya pas. Karena kalau kurang pas, pasti akan ada pembelaan sana-sini dulu sebelum akhirnya mengiyakan atau menerima nasihat dari saya, suami, atau eyangnya. 

Seperti misalnya ketika kami ngobrol soal kalah-menang di sekolah.

Kalah menang itu hal biasa, Alea. Apalagi kalau pas lomba, pasti ada yang kalah. Kalau menang semua, bukan lomba, dong.”

“Tapi Alea nggak suka kalau mereka yelling, Mommy!”

“Maksudnya bukan yelling kali, ya. Tapi itu ekspresi kegembiraan, saking happy-nya. Gapapa, semua juga pasti akan begitu kalau menang. Alea masih inget nggak pas Papa dan papanya temen-temen Alea ikut lomba tarik tambang di sekolah kapan hari? Kan mereka menang tuh, gimana? Happy, nggak?”

Dia mengangguk. Tapi matanya mulai memerah menahan tangis yang nyaris tumpah. 

Happy, kan? Terus papa-papa yang kalah gimana? Marah-marah? Nggak, kan? Biasa aja, kan? Malah ketawa-ketawa karena mereka jatuh rame-rame. Ya begitulah, namanya juga permainan. Trus, Alea masih inget nggak video pas Mama sama temen-temen choir Mama menang? Sampai jingkrak-jingkrak, teriak-teriak, dan sampai ada yang nangis juga, kan? Ya gitu emang ekspresi kalau kita menang. Saking happy-nya, Nak…”

Dia diam, walau air matanya masih mengalir di pipinya. 

“Trus, ada lagi… Alea inget kan pas Mama gambar-gambar desain baju buat ikut lomba? Itu Mama nggak menang, lho. Mama kalah. Tapi ya gapapa, Mama santai aja. Kan masih ada lomba-lomba lain yang bisa Mama ikuti nanti.”

Lagi-lagi dia diam, tapi saya percaya sedang ada proses mencerna dan berpikir di situ. Kadang kalau sedang ngobrol sama Alea ya seperti ngobrol biasa saja. Bukan seperti ngobrol dengan anak TK. Bedanya saya beri contoh-contoh sederhana yang mudah dibayangkan olehnya. 

Dan pernah suatu ketika, ketika saya baru pulang dari Pekan Kebudayaan Nasional di GBK, sambil menunjukkan video di handphone, saya (pura-pura) mengadu ke Alea. Sambil ingin tahu bagaimana responnya.

“Alea, tadi kan Mama ikut lomba bakiak. Tapi, Mama sama temen-temen Mama kalah. Mama sedih…”

Responnya adalah, 


“Jangan sedih, Mama. Kalah itu gapapa. That’s okay.”

Dia bangun dari duduknya, dan memeluk saya. Seolah memberi suntikan semangat supaya saya tidak sedih lagi. Hiks, jadi terharu 🙁 

Alhamdulillah, ternyata inti obrolan kapan hari sampai juga maksudnya ke Alea. 

Ada juga baiknya perlu disampaikan kepada anak-anak bahwa hidup itu bukan hanya tentang hal-hal yang menyenangkan saja. Sebaliknya ada kalanya kita akan akan mengalami pasang surut, kekecewaan, kesedihan, dan penolakan.

Untuk anak-anak seusia Alea yang pemahamannya masih terbatas, bisa disampaikan dengan bahasa yang sederhana supaya bisa lebih mudah dicerna. Sekaligus disertai dengan contoh-contoh yang pernah kita alami, dan bagaimana kita menghadapi hal tersebut. Dengan demikian anak akan bisa melihat dua hal sekaligus. Pertama, hal ini memungkinkan mereka melihat kita sebagai role model positif. Kedua, menunjukkan kepada anak bahwa situasi yang sama juga bisa terjadi kepada orang lain.

Tidak perlu menuntut terlalu banyak agar anak berubah cepat sesuai seperti yang kita mau. Sama seperti orang dewasa, anak pun butuh waktu untuk mencerna apa yang kita inginkan, sifat apa yang harus dia ubah, atau bagaimana dia harus bersikap jika suatu hal terjadi. 

Satu hal penting yang kita perlu kita terima bahwa kita tidak sempurna, dan tantangan adalah bagian dari perjalanan hidup. Dan yang paling penting dari semua itu adalah bagaimana cara kita memandang dan merespon mereka.

— devieriana —

ilustrasi diambil dari sini

Continue Reading

Kecanduan Drama Korea

kdrama-2

Saya sebenarnya bukan orang yang suka nonton film. Jumlah film yang saya tonton di bioskop bisa dihitung dengan jari. Pokoknya kalau bukan film keluarga, ya film yang bergenre komedi, drama, atau komedi romantis. Selebihnya, wassalam. Apalagi ketika sudah ada anak, genre tontonan pun makin berubah menjadi film anak. Itu juga belum tentu kami tonton semua. Saya harus tahu dulu film itu bercerita tentang apa, dan sesuai tidak untuk anak usia 5 tahun. Intinya saya harus bisa menceritakan kembali isi film itu karena untuk anak seusia Alea pasti daya tangkapnya masih sepotong-sepotong, terlebih filmnya dalam bahasa Inggris.

Tapi semua itu berubah drastis dalam beberapa bulan ini. Apakah saya berubah jadi seorang movie freak? Setiap ada film baru langsung nonton? Oh, bukan begitu maksudnya. Saya jadi kecanduan nonton drama Cina dan Korea, Pemirsa. Padahal dulu saya adalah orang yang suka mempertanyakan di mana sih letak asyiknya binge watching drama Korea? Kok senggang amat. Bahkan banyak teman saya yang rela mengunduh drama-drama Korea supaya bisa ditonton secara offline. Tapi sekarang, saya harus menjilat ludah sendiri. Saya yang justru kepincut sama drama Korea, bahkan sampai rela instal Viu di handphone demi bisa menikmati drama-drama Korea terkini.

Tapi sebenarnya saya tidak langsung nonton drama Korea, tapi justru drama Cina yang kebetulan iklan tayangannya berseliweran di akun Instagram saya. Alasan kenapa sampai ingin nonton? Klise, pemainnya ganteng, dan ceritanya ringan (bahkan cenderung receh). Filmnya berjudul My Girlfriend Is An Alien, ditayangkan pertama kali di aplikasi We TV, pemainnya adalah Bie Thassapak Hsu dan Wan Peng. Sesepele itulah awal ketertarikan saya kepada drama Asia ini.

Dari situlah, saya yang awalnya lebih suka baca buku/novel, atau ya ngeblog saja, sekarang hampir setiap bulan sengaja membeli paket tambahan supaya bisa menonton film secara streaming tanpa mengganggu kuota internet reguler, dan juga apply keanggotaan premium, demi tontonan tanpa iklan, dan supaya lebih banyak pilihannya.

Setelah drama My Girlfriend Is An Alien usai, saya jadi seperti ketagihan ingin nonton film lainnya. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk menginstal aplikasi Viu, yang ternyata di sana ada banyak sekali drama Korea dengan cerita yang menggemaskan, Pemirsa. Baik, silakan menghujat saya kudet, kuper, dan bertanya, “kamu ke mana aja, kok baru install Viu?” Ya, namanya saja anak drakor newbie, mohon dimaklumi kalau baru tergugah menginstal Viu dan aplikasi sejenis lainnya. Total di ponsel saya saat ini ada 5 aplikasi streaming, yaitu Viu, Netflix, Iflix, We TV, Vidio, dulu sempat juga menginstal aplikasi iQiYi TV, tapi sudah saya hapus karena episode dramanya panjang-panjang, sementara saya pembosan.

Drama Korea pertama yang saya tonton adalah Her Private Life yang dibintang oleh Kim Jae-Wook dan Park Min Young, dan dilanjut dengan What’s Wrong With Secretary Kim yang dibintangi oleh Park Seo-Joon dan Park Min-Young. Sungguh sangat mainstream ya tontonannya, tapi setelah itu ya langsung mengalir saja, saya tonton apa yang menurut saya menarik, dan temanya tak jauh-jauh dari cinta, romantisme, komedi. Tema cerita yang ringan-ringan saja. Oh ya, selain itu aktornya harus ganteng karismatik, biar semangat nontonnya. Tapi definisi ganteng di sini tentu sangat relatif. Belum tentu aktor yang digilai perempuan lain itu juga termasuk dalam kategori aktor gantengnya saya, ya. Belum tentu juga drama yang jadi booming juga saya tonton. Seperti misalnya Goblin, Descendant Of The Sun, saya belum tonton hingga saat ini karena ceritanya (sepertinya) berat, dan ada perang-perangnya. Entahlah ya kalau Crashed Landing On You sudah ada di Viu, sepertinya akan saya tonton. Lah, katanya kurang suka film perang, kok ditonton juga? Sepertinya saya akan ngefans Hyun Bin.

Sejak bulan September 2019 hingga saat ini, sudah tak terhitung jumlah drama Korea yang sudah berhasil saya selesaikan episodenya. Bahkan kadang, saking ngefansnya saya sama salah satu aktor/aktrisnya, tidak cukup kalau cuma menonton filmnya sekali. Bisa berkali-kali, sampai saya menemukan drama Korea lain yang menarik perhatian saya. Semoga saya tidak dianggap aneh karena nonton film yang sama hingga berkali-kali.

Kalau ditanya, kenapa akhirnya saya suka dengan drama Korea, ya karena drama Korea berhasil menciptakan hubungan emosional dengan penontonnya. Karakter-karakternya dikembangkan dan dibawa melalui cobaan dan kesengsaraan sedemikian rupa sehingga penonton berhubungan dengan karakter tersebut dan merasakan emosi yang sama. Drama Korea bak angin segar di antara drama berat dan aksi. Para pelaku industri film Korea mengemas konsep imut dan lucu ke dalam sebuah paket komplit romansa, aksi, fantasi, dan drama berat, dengan memasukkan perasaan ringan di antaranya. Sehingga menjadikan pertunjukan jadi lebih menyenangkan untuk ditonton.

Satu hal yang saya perhatikan dalam drama Korea mereka benar-benar mempromosikan budaya mereka dan mereka sangat bangga dengan budaya mereka sendiri. Mereka juga tidak bertahan dengan cerita cinta yang sama berulang-ulang sehingga mereka selalu bisa memberikan rasa manis yang baru kepada pemirsanya. Drama Korea menyisipkan nilai-nilai kekeluargaan, dan hal lain yang bisa ditransformasikan dan diterima oleh negara Asia lainnya. Oh ya, saya juga paling suka menonton tayangan behind the scene masing-masing drama Korea yang saya tonton. Di sana kita dapat melihat bahwa mereka melakukan banyak upaya untuk setiap adegan yang mereka buat.

Ternyata setelah sekian bulan menonton drama Korea, saya bukan hanya mendapatkan hiburan semata, tapi juga mendapatkan pengetahuan baru. Misalnya tentang salah satu penyakit langka yang bernama Prosopagnosia, atau buta wajah. Prosopagnosia adalah ketidakmampuan untuk mengenali wajah seseorang. Orang dengan prosopagnosia dapat mengetahui bentuk wajah, mereka juga dapat mengidentifikasi setiap bagian dari wajah (misalnya, hidung, mulut, dll). Namun, mereka tidak tahu milik siapa wajah tersebut. Biasanya, seseorang dengan prosopagnosia akan mengenali orang dengan menghafal kebiasaan atau melalui ciri khas tertentu, misalnya aroma tertentu dari seseorang. Kasus prosopagnosia ini ada di 2 film yang kebetulan sudah saya tonton yaitu The Beauty Inside yang dibintangi oleh Lee Min Ki dan Seo Hyun Jin, serta secuplik adegan di film The Undateables yang dibintangi oleh Namkoong Min dan Hwang Jung-Eum.

Kalau ditanya adakah drama yang tidak ingin saya tonton sekalipun saya ngefans berat dengan aktornya? Tentu ada, yaitu Stranger From Hell. Saya ngefans dengan Lee Dong Wook –yang entahlah, dia sebenarnya manusia atau malaikat, saking beningnya– tapi berhubung dia (konon) berperan sebagai tetangga dengan karakter yang mengerikan, jadi dari pada rasa cinta saya kepadanya luntur berantakan, mending tidak saya tonton sekalian. Biarlah Lee Dong Wook tetap menjadi pria berkarakter manis saja di alam pikiran saya. Sama seperti Kim Jae Wook yang akan tetap menjadi direktur museum yang gentle dan romantis di Her Private Life, sekalipun sudah banyak karakter yang dia perankan.

Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga suka film Korea?

[devieriana]

sumber ilustrasi dari sini

Continue Reading

Hibernasi + Writer’s Block = Perfect

writers_block

Tak terasa saya sudah meninggalkan blog ini sudah lama sekali. Tak dipungkiri, selain pengaruh mood, juga kesibukanlah yang membuat saya sering beralasan tak ada waktu lagi untuk sekadar menulis, menumpahkan segenap uneg-uneg atau isi kepala yang kadang terlalu penuh. Padahal saya dulu pernah berikrar untuk meninggalkan tulisan di blog minimal satu per bulannya, bahkan menyinyiri mereka yang mengaku blogger namun enggan memutakhirkan halaman blog mereka. Kali ini saya harus menelan ludah saya sendiri.

Sampai akhirnya seorang teman menyadarkan saya untuk kembali menulis, apapun yang saya mau, apa yang saya bisa, sepunyanya waktu. Ayolah, segera!

Memang beberapa bulan terakhir ini ada banyak hal yang menyita waktu dan pikiran. Sebenarnya ingin sekali, sampai di rumah, leyeh-leyeh sebentar, nanti agak malam menulis sekadar sebaris dua baris. Tapi kenyatannya tak seperti yang dibayangkan. Sampai di rumah kadang sudah malam, sudah kehabisan energi duluan untuk sekadar buka laptop. Ada waktu sebentar saya manfaatkan untuk ngobrol atau bermain sebentar bersama Si Kecil. Tak lama kemudian pasti sudah masuk Waktu Indonesia Bagian Ngeloni Bocah, yang seringkali berujung saya pun ikut lelap hingga pagi.

Belum lagi di kantor selain menggarap pekerjaan rutin, ada tambahan pekerjaan yang berbau ekstrakurikuler yang membutuhkan keseriusan karena mengawalinya pun sudah butuh waktu dan tenaga. Ya, sekarang saya punya ‘mainan’ baru yaitu mengurus paduan suara. Setelah melalui sekian babak drama, akhirnya instansi saya pun memiliki paduan suara sendiri, setelah sebelumnya merupakan gabungan dari 2 instansi (Kemensetneg dan Setkab) yang tergabung dalam Paduan suara Lembaga Kepresidenan.

Long story short, tanpa disangka, paduan suara kami yang baru saja dibentuk itu ternyata berhasil memenangi Lomba Paduan suara Kepemiluan 2019 antarinstansi pemerintah beberapa waktu lalu. Jadi ya sayang kalau komunitas ini ditinggalkan begitu saja tak terurus. Alhasil saya pun yang awalnya cuma sekadar mengoordinasi para personel paduan suara, akhirnya ikut tercebur total di dalamnya. Ya menyanyi, kadang juga jadi dirijen, kadang jadi tukang sepik alias lobi-lobi, koreografer, sampai mengurus wardrobe. Ya, saya memang didaulat untuk mengisi posisi sapujagat. Tapi alhamdulillah, saya happy dengan apa yang saya lakukan, karena paduan suara masih masuk ranah passion saya. Itung-itung rekreasi jiwa.

Lalu apa lagi yang bikin saya sulit meluangkan waktu untuk menulis? Saya sedang menikmati quality time bersama Alea. Entahlah, rasanya dia tumbuh cepat sekali, tahu-tahu sebentar lagi sudah akan naik ke SD. Padahal sepertinya baru kemarin saya masih kebingungan akan menyekolahkan dia di TK mana. Alhamdulillah, dia happy dengan lingkungan sekolahnya, teman-temannya, guru-gurunya. Ya kalaupun ada drama-drama di sekolah masih wajarlah, namanya juga anak-anak yang sedang berusaha menyesuaikan diri.

Nah, hasil dari seringnya saya ber-quality time bersama Alea, ternyata kalau diperhatikan, ternyata dia suka menggambar. Gambarnya pun sudah mulai berbentuk, mewarnainya pun sudah tergolong rapi. Hal lain yang saya perhatikan dari Alea, dia juga cepat sekali menghafal lagu dan gerakan tari. Tak heran kalau dia sering diikutkan dalam kegiatan tari-menari di sekolahnya. Bahkan, tanggal 29 Juni 2019 lalu dia perform bersama teman-temannya di acara graduation di Bank Indonesia. Mungkin benar adanya pepatah yang mengatakan buah tak akan jatuh jauh dari gerobaknya. Saya sampai sekarang juga masih suka dengan dunia seni (tari, nyanyi, gambar). Bahkan sampai kemarin pun saya masih (iseng nekat) mengikutkan diri ke ajang lomba desain seragam Angkasapura, walaupun belum beruntung.

Jadi, itulah segenap alasan mengapa blog ini agak terabaikan, selain juga karena drama-drama lainnya yang tak perlu ditulis di sini saking recehnya. Semoga, ke depan saya tidak semalas ini untuk sekadar meluangkan waktu berbagi cerita, pemikiran, atau apapun di blog ini.

Selamat berakhir pekan, ya….

[devieriana]

gambar dipinjam dari sini

Continue Reading

Bioskop: Antara Ego dan Basic Courtesy

baby in teathre.jpg

Sejak menjadi orang tua, ada hal-hal yang tidak selalu bisa kita lakukan. Selalu ada pertimbangan tersendiri kenapa kita memilih untuk sengaja tidak melakukannya, atau menunda hingga waktu yang tepat.

Kalau dulu, bisa saja kegiatan yang relatif sederhana seperti jalan-jalan ke mal, perawatan diri ke salon, atau menonton filmdi bioskop menjadi hal biasa/rutin dilakukan. Tapi sebaliknya, sejak menjadi orang tua ternyata kegiatan itu berubah menjadi sebuah kemewahan. Alpalagi bagi orang tua yang baru punya bayi, bulan-bulan awal kelahiran Si Kecil pasti menjadi tantangan tersendiri yang harus ditaklukkan. Jam istirahat yang tidak teratur, jadwal kegiatan harian yang berubah total, termasuk kebiasaan-kebiasaan yang dulu bisa dengan santai dilakukan, sekarang menjadi hal yang ‘istimewa’.

Cerita yang sama juga terjadi pada seorang ibu bekerja, sebut saja Amel, 35 tahun, ibu bayi berusia 5 bulan bernama Nasywa. Beberapa waktu lalu dia sempat bercerita panjang lebar tentang banyaknya perbedaan sebelum dan sesudah menjadi ibu.

“Intinya sih, kalau dulu gue bisa kalap mata belanja make up, skincare, atau bisa kapan pun pergi ke bioskop buat nonton film terbaru, sekarang… boro-boro. Apa yang jadi kebutuhan bayi ya itu yang jadi prioritas gue. Jangankan buat nonton ke bioskop, seringnya gue udah nggak ada energi duluan buat ngerjain hal-hal receh kaya dulu. Jam 7 malem kadang gue udah tepar duluan ngikutin jadwal tidurnya Nasywa. Jadi, ngemal, nyalon, nonton, sekarang jadi kegiatan tersier buat gue. Lo bisa lihat kan, mata panda gue kaya apa sekarang ini. Belum sempat ke salon buat perawatan pula ini…” Ceritanya sambil terkekeh.

Ketika menjadi orang tua, ada ego dan kebutuhan diri yang kadang harus kita kalahkan untuk sementara waktu. Walaupun sebenarnya sama dengan manusia lainnya, orang tua pun tetap butuh waktu untuk diri sendiri guna menjaga kewarasan, karena menjadi orang tua juga perlu bahagia dan relaks supaya bisa mendidik dan menjaga anak-anak dengan hati dan pikiran yang gembira.

Lain halnya dengan Maya, 32 tahun, pekerja kantoran dengan 3 orang anak. Menjadi ibu bekerja dengan kondisi long distance marriage lantaran suaminya lebih sering berada di luar kota untuk menjalankan bisnis, mengharuskan Maya harus melakukan segala sesuatunya sendiri. Memang selama ini Maya juga dibantu oleh asisten rumah tangga, tapi tetap saja untuk pengambilan kebijakan yang berhubungan dengan anak ya tetap harus Maya yang ambil kendali.

Tentu kita masih ingat kalau beberapa waktu lalu orang sedunia demam film Avengers: Endgame. Di seluruh kanal media sosial hampir semuanya membahas film tersebut. Tak heran demi status kekinian, orang berbondong-bondong ke bioskop untuk menonton film tersebut. Tak terkecuali Maya yang waktu itu bayinya baru berusia 6 bulan. Demi memenuhi hasrat menonton yang sangat tinggi, Maya pun berangkat ke bioskop dengan membawa bayinya. Dia mengklaim anaknya aman-aman saja selama film berlangsung, karena dia sudah menyediakan earplug/earmuff untuk melindungi telinga bayinya dari tingginya volume suara bioskop.

Orang tua seperti Maya tentu bukan cuma satu, dua orang saja, tapi banyak. Terlepas dari banyaknya perdebatan di luar sana tentang urgensi mengajak anak/balita ke bioskop, orang tua tetap harus memperhatikan kesesuaian konten film dengan usia anak.

Berdasarkan Undang-undang No. 33 tahun 2009 tentang Perfilman, Pasal 7 disebutkan, “Film yang menjadi unsur pokok kegiatan perfilman dan usaha perfilman disertai pencantuman penggolongan usia penonton film yang meliputi film:
• Untuk penonton semua umur (SU)
• Untuk penonton usia 13 (tiga belas) tahun atau lebih (R)
• Untuk penonton usia 17 (tujuh belas) tahun atau lebih (RBO)
• Dan untuk usia penonton 21 (dua puluh satu) tahun atau lebih (D).

Hal yang berbeda diungkapkan oleh Tara, 30 tahun, ibu rumah tangga dengan balita usia 3 tahun.

“Aku tuh nggak ngerti ya sama orang tua yang sebegitunya sama bioskop. Emang bakal mati ya kalau nggak nonton Avengers, Deadpool, John Wick, Annabelle, Aladdin, Lion King, Dua Garis Biru, dan film-film hits lainnya? Aku sengaja nggak ke bioskop sejak punya anak. Karena ya buatku nggak penting, dan nggak perlu memaksakan diri juga kalau anakku nggak ada yang jagain.”

Menurutnya, banyak orang tua yang ignorance bukan hanya dengan lingkungan di mana mereka berada, tapi justru dengan anak mereka sendiri. Salah satu contohnya dengan mengajak balita mereka ke bioskop dan menonton film R rated atau PG Rated, atau membiarkan anak mereka ribut hingga mengganggu kenyamanan penonton lainnya, dengan dalih, “ya udah sih, biar aja, toh sama-sama bayar ini…”

Sebagaimana kita ketahui, kode R adalah “Restricted” atau dibatasi. Anak yang berumur di bawah 17 tahun tidak diizinkan menonton film dengan rating “R”, tanpa pengawasan orang tua. Karena biasanya film ini berisikan materi-materi adegan “orang dewasa” dan adegan “kekerasan”. Sementara PG adalah “Parental Guidance.” Jika kita melihat film dengan rating ini sebaiknya orang tua ikut mendampingi anak-anak, karena film ini mungkin berisi materi yang tidak sesuai untuk anak-anak, termasuk adegan-adegan yang “kurang senonoh”.

Sebagai catatan tambahan, Badan Keselamatan Kerja Amerika Serikat, National Institute for Occupational Safety and Health (NIOS), Occupational Safety and Health Association, serta WHO, menerapkan batas aman paparan suara di level 85 desibel. Kalau di bioskop itu baru untuk sebatas suara percakapan standar, belum termasuk adanya kenaikan desibel yang bisa berkali-kali lipat saat aktor berteriak, suara tembakan, hingga ledakan. Padahal bayi dan anak-anak memiliki pendengaran yang lebih sensitif ketimbang orang dewasa.

Selain itu, kita juga harus mempertimbangkan sensitivitas bayi kita terhadap kebisingan di lingkungan sekitar. Jika mereka sangat sensitif, bisa jadi nantinya justu kita yang akan lebih banyak menghabiskan waktu di luar bioskop untuk menenangkan anak yang menangis daripada menonton film.

Cari teater yang menawarkan pertunjukan sensorik khusus. Beberapa bioskop sekarang menawarkan film ramah indra selama sore hari. Di mana kondisi tata cahaya studio bioskop yang dibuat lebih temaram, tata suara yang sedikit lebih rendah, dan istimewanya anak bebas untuk bergerak semau mereka, dan tentu saja mereka diizinkan untuk menangis jika mau. Rasanya ini adalah pilihan tepat untuk membawa bayi ke bioskop ini, karena memang sudah dikondisikan sedemikian rupa untuk keluarga. Walaupun sayangnya fasilitas studio ramah indra ini tidak selalu ada setiap hari, di semua jam pertunjukan, dan untuk semua pilihan film yang sedang tayang. Tapi setidaknya ini bisa jadi alternatif menonton bersama anak.

Jadi pandai-pandailah mengelola ego. Jangan hanya untuk mengejar status kekinian atau demi konten media sosial, hingga akhirnya mengabaikan kesehatan pendengaran anak, perkembangan psikologis anak karena harus mendengarkan/melihat tayangan yang bukan untuk konsumsi mereka, atau lebih lagi mengorbankan waktu istirahat anak (karena ada lho orang tua yang memilih jam pertunjukan midnite sambil membawa anak-anaknya).

In my super humble opinion, membawa bayi ke bioskop rasanya bukan ide yang tepat. Lebih ke basic courtesy kepada penonton film lainnya. Jika ada orang tua yang masih bilang kalau anaknya baik-baik saja selama diajak ke bioskop, pastikan bahwa film yang disuguhkan memiliki material yang sesuai dengan rentang usia anak. Akan lebih baik jika orang tua juga mencari tahu lebih dulu muatan konten film itu tentang apa. Karena tidak semua film superhero atau kartun itu identik dengan film anak.

Perlu diingat juga bahwa kita bukan satu-satunya orang yang membutuhkan hiburan dengan menonton bioskop. Jadi ketika anak-anak sudah terlihat tidak betah, janganlah bersikap egois dengan bertahan di dalam bioskop, dan mengorbankan kenyamanan penonton lainnya.

So really, its up to the parents to recognize what they are doing, and allow others to enjoy the movie instead of listening to a noise that isn’t part of the show.

Just my two cents.

 

 

[devieriana]

ilustrasi gambar pinjam di sini

Continue Reading

Haruskah Bisa Memasak?

Beberapa waktu lalu, linimasa Twitter diramaikan oleh postingan status dari akun @selphieusagi yang mengatakan, “Udah 2018, masih complain cewek ga masak. Coba ngaca aja, lo bisa dan mau benerin atap bocor, nggak? Keran rusak? Listrik korslet? TV ga bisa nyala? Apa ujung-ujungnya panggil tukang juga?”

Tentu saja cuitan ini mengundang reaksi dan respon warganet. Sebagian menanggapi positif, sebagian lainnya bereaksi sebaliknya. Kalau saya ditanya ada di pihak yang mana, saya tidak ada di pihak manapun. Karena saya sendiri ada di kedua pendapat itu.

Dulu, saya adalah anak perempuan yang paling tidak menyukai dapur. Kalaupun saya terlihat ada di dapur ya karena diminta Mama saya membantu menyiapkan bahan masakan. Itupun tidak setiap hari, dan tentu saja bukan saya yang masak. Jadi, pengetahuan saya dalam bidang masak memasak sangat minim.

Beruntung sejak menikah suami juga tidak menuntut saya harus memasak untuk dia. Sebelum menikah dia sudah di-brief untuk menerima keterbatasan saya dalam hal masak-memasak. Itulah kenapa di awal pernikahan, kami lebih sering beli makanan di luar. Oh ya, bukan cuma di awal pernikahan saja, hingga beberapa tahun berikutnya pun saya masih berada di level mood yang sama kalau diminta ke dapur.

Kalau ada yang melihat saya sedang di depan penggorengan, itu sekadar membuat telur dadar atau mie instan. Kalau saya sedang mau sedikit repot ya paling bikin nasi goreng. Itu pun pakai bumbu siap saji yang tinggal campur semua bahan, langsung jadi. Iya, dulu kehidupan dapur saya semalas itu.

Tapi semuanya berubah sejak ada anak dan saya harus mengurus semuanya sendiri. Jiwa keibuan saya mulai muncul. Rasa malas tergantikan dengan rasa tanggung jawab. Kalau sayanya semalas ini, nanti anak saya makan apa? Dan ternyata perubahan itu juga berdampak kepada keinginan memasak untuk suami.

Kalau dulu saya paling anti ke dapur, sekarang justru paling rajin. Di akhir pekan, kalau mood sedang bagus, saya bisa memasak 3x sehari, pagi, siang, dan malam. Di hari kerja saya juga sempat memasakkan bekal makan siang untuk dibawa suami ke kantor. Kebetulan suami saya sedikit picky dalam hal makanan. Hanya masakan tertentu saja yang dia sukai. Tapi tidak mungkin saya memasak masakan yang itu-itu saja setiap hari. Saya pun ‘memaksa’ dia agar suka makan sayur dan buah.

Buat orang lain yang sudah terbiasa memasak hal seperti ini termasuk hal yang wajar dan biasa saja. Tapi buat seorang pemalas seperti saya tentu ini hal yang istimewa dan luar biasa.

Sedikit flashback, dua hingga tiga dekade yang lalu, perempuan harus tahu cara memasak makanan yang lezat untuk keluarganya, bahkan sebelum menikah. Mereka diajari dan dipersiapkan untuk mengurus pekerjaan domestik kerumahtanggaan yang lekat dengan stereotype gender. Ibu adalah guru alam yang menurunkan resep kepada putri mereka, yang kemudian akan memasak untuk suami mereka.

Berbeda dengan zaman sekarang, di mana perempuan merasa wajar dan biasa saja kalau tidak bisa memasak. Apalagi banyak perempuan yang hidup sebagai wanita karier, sehingga waktu untuk memasak lebih sempit lagi (baca: tidak sempat, karena harus berkejaran dengan waktu). Ditambah dengan adanya berbagai dukungan aplikasi dalam mencari/membeli makanan favorit via online. Zaman sekarang para pengguna aplikasi serba dimanjakan dan dimudahkan. “Kalau bisa beli kenapa harus masak?”, “kalau ada yang gampang, kenapa harus ribet?”, menjadikan memasak bukan lagi suatu syarat mutlak untuk menjalani kehidupan berumah tangga.

Sebenarnya memasak itu tidak terlalu sulit, semua bisa dipelajari. Apalagi zaman sekarang mencari resep online masakan apapun sangat mudah, lengkap dengan cara pembuatannya. Soal enak tidak enak itu kembali ke soal selera. Alah bisa karena biasa.

Malas ke pasar pun bukan lagi alasan. Sudah ada situs belanja bahan makanan online yang sangat membantu ketika kita sedang tidak ingin ke mana-mana tapi tetap ingin membuat sesuatu di dapur. Tapi lagi-lagi semua terpulang pada niatnya.

Sama halnya tentang perdebatan tiada akhir antara sufor dan ASI, working mommies atau stay at home mom, lahiran normal atau caesar, dan hal lain yang sebenarnya cuma masalah pilihan hidup. Pun tentang haruskah perempuan bisa memasak atau tidak, ikut dalam topik yang diperdebatkan. Padahal semuanya tergantung pribadi masing-masing. Istri bisa masak alhamdulillah, tidak pun seharusnya tak apa-apa. Selama ada yang memasakkan, atau mampu membeli makanan secara online, dan yang penting keluarga bisa menerima, ya seharusnya tidak ada masalah.Life is full of choices, right? Choose it wisely.

Kalau saya sendiri berpendapat, seorang perempuan tidak harus jago masak layaknya seorang chef, tapi minimal bisa. Hal itu akan sedikit menguntungkan, apalagi yang hidup dalam kondisi serba pas-pasan. Seorang istri yang bisa memasak akan sangat membantu melonggarkan urusan keuangan, karena tidak perlu membeli makanan di luar. Lebih dari itu, kelak salah satu hal yang akan dikenang oleh anggota keluarganya dari seorang ibu adalah masakannya.

Jadi teringat sebuah film yang berjudul Ratatouille. Bicara tentang film ini tak bisa melewatkan begitu saja adegan di mana Remy Tikus menyajikan hidangan untuk Anton Ego, seorang kritikus restoran. Tak disangka-sangka ternyata sajian itu mengantarkan memori Ego ke masa kecilnya. Kenangan ketika dia jatuh dari sepeda, ibunya menciumnya, dan memberikan semangkuk besar Ratatouille yang ternyata memiliki rasa yang sama dengan yang dinikmatinya kini. Selalu ada respon emosional yang mendalam di balik masakan seorang ibu.

Saya pun sempat mengalami hal yang hampir sama dengan adegan Anton Ego itu. Pernah saya iseng memasak nasi goreng dengan resep ala Mama yang kerap dimasak zaman saya dan adik-adik masih kecil dulu. Hasilnya, yang tersaji bukan sekadar nasi goreng semata, tapi juga kenangan yang hadir menyertainya. Spontan berlompatan kenangan saat di mana kami tak sabar menunggu masakan matang. Saat kami makan dengan lahap, hingga tandas tak bersisa.

Wajar jika sebagai seorang ibu saya pun mencita-citakan hal yang sama. Kelak, ketika anak saya sudah dewasa dan hidup berumah tangga, semoga ada masakan ibunya yang menjadi favorit, yang akan dia tunggu, kenang, dan rindukan. Seperti halnya saya yang selalu rindu masakan Mama, di setiap kali mudik.

Memasak bukan semata-mata bicara tentang ego seorang ibu. Bicara tentang masakan ibu, kita juga akan bicara tentang sentimental value. Selalu ada respon emosional yang mendalam di balik masakan seorang ibu. Ada memori yang akan menguasai indera penciuman, indera perasa, dan alam bawah sadar orang-orang terkasihnya. Cita rasa yang tak akan mampu tergantikan oleh berbagai masakan restoran, atau yang dipesan melalui aplikasi online.

Sebuah perenungan mengantarkan saya pada sebuah pemikiran. Seorang ibu yang tidak suka/pernah memasak untuk keluarganya bukan berarti ibu yang tidak sempurna di mata keluarganya. Bukan pula ibu yang tidak sayang pada anak dan suaminya. Semua ibu sejatinya sempurna, karena wujud cinta seorang ibu bukan melulu dari masakan semata, tapi dari banyak hal yang tak mampu dijabarkan secara rinci satu persatu. Saya pernah menjadi ibu di fase itu, dan saya tak pernah kehilangan cara untuk mewujudkan rasa sayang dan kepedulian saya untuk keluarga.

Soal memasak juga bukan perkara suka tidak suka, mau tidak mau, sempat tidak sempat, mampu tidak mampu, atau saling tuding ini lebih layak menjadi tugas dan kewajiban siapa. Lebih dari itu. Tidak akan ada yang bisa mengalahkan kelezatan masakan yang dimasak dengan sepenuh hati. Apalagi yang disiapkan oleh orang yang mencintai kita tanpa syarat.

Tak peduli sesederhana apapun makanan yang disajikannya, tapi itulah salah satu cara seorang ibu mengekspresikan cintanya pada keluarga.

Love in a bowl, care of Mom.

Just my two cents….

 

[devieriana]

 

gambar dipinjam dari sini

Continue Reading
1 2 3 55