Sayembara Voice over MRT Jakarta Itu

Beberapa waktu lalu, Mass Rapid Transit Jakarta (MRT) Jakarta menggelar sayembara untuk mencari pengisi suara di stasiun dan kereta. Hadiahnya pun tak main-main. Bagi pemenang sayembara pengisi suara MRT Jakarta, akan mendapatkan hadiah berupa uang Rp 35 juta. Wow!

Nah, kebetulan saya ikut mengirimkan suara di sayembara itu. Walaupun agak nekat ya, karena sebelum membuat rekaman saya sudah sepenuhnya sadar kalau yang akan ikut sayembara ini pasti kebanyakan dari kalangan yang sudah berpengalaman di bidang kepengisisuaraan. Seperti contohnya penyiar, voice over talent, dan news anchor. Tapi ya namanya mencoba peruntungan, tidak ada salahnya dicoba. Siapa tahu rezeki, kan?

Namun sesungguhnya motivasi saya ikut sayembara bukan semata-mata karena ingin 35 jutanya. Tapi lebih ke menuntaskan rasa penasaran dan memberi tantangan kepada diri sendiri. Bagaimana sih rasanya suara kita bisa didengar oleh lebih banyak orang?

Jujur, hal rekam-merekam suara ini masih awam buat saya, pun halnya tentang jenis suara seperti apa yang diidealkan oleh MRT Jakarta, suara yang dianggap layak diperdengarkan di stasiun dan kereta. Sambil mereka-reka seperti apa dan bagaimananya, sayapun membuat standar sendiri tentang bagaimana suara yang seharusnya didengar oleh para penumpang MRT Jakarta. Dengan catatan standar suara saya bisa jadi berbeda dengan standar suara peserta lainnya.

Berhubung latar belakang pekerjaan saya dulunya di bidang pelayanan dan customer service, maka sebelum membuat rekaman, saya posisikan terlebih dahulu diri saya adalah sebagai pengguna layanan. Kira-kira suara seperti apa sih ingin didengar oleh para penumpang? Kalau menurut saya ya suara yang terdengar empuk, lembut tapi tidak menye-menye, ramah namun tegas, smiling voice, dan tetap informatif.

Nah, bicara soal smiling voice nih, saya sering menggunakannya ketika harus menginformasikan sesuatu yang tanpa harus bertatap muka. Tentu saja ini informasi yang netral dan bukan berita duka, ya.

Customer service terbagi menjadi dua. Customer service by online (callcentre) dan customer service offline (tatap muka). Kalau customer service tatap muka, pelanggan bisa melihat ekspresi wajah, intonasi suara, dan gesture kita secara langsung saat melayani mereka. Tapi tidak demikian dengan layanan di callcentre. Pelanggan hanya bisa mendengar suara kita. Suara yang ramah membuat pelanggan merasa dilayani dengan nyaman. Dari sanalah dasar saya membuat rekaman suara.

Kembali lagi ke proses perekaman suara hingga pengiriman e-mail. Saya melakukan proses perekaman suara di rumah (home recording) berdasarkan script yangs udah diberikan oleh MRT Jakarta. Yaitu Saya pastikan kondisi rumah dan lingkungan sekitar dalam keadaan tenang sehingga tidak ada noise yang masuk ke dalam rekaman.

Nah, berhubung sempat galau jadi ikut atau tidak, berdasarkan ketetapan hati akhirnya pengiriman rekaman dan video saat rekaman dilakukan 2 jam mendekati batas waktu akhir pengiriman rekaman. Deg-degannya setengah mati. File yang lumayan besar itu membutuhkan waktu tersendiri sampai berhasil terkirim ke alamat e-mail panitia.

Selang setelah sekian lama menunggu, akhirnya di 15 Januari 2021, 10 nama finalis pun diumumkan via akun Instagram MRT Jakarta. Nama saya memang tidak ada di sana. Tapi saya cukup berbesar hati kok menerima keputusan MRT Jakarta. Seperti yang saya sempat sebut di atas, mereka mungkin sudah punya standar suara sendiri yang dianggap ideal.

Nah, daripada file rekaman suara saya biarkan saja di HP, akhrnya saya iseng mengunggahnya di akun Instagram saya. Tak berharap banyak akan dapat respon seperti apa. Tapi ternyata semuanya di luar dugaan. Alhamdulillah banyak dukungan dan komentar positif yang saya dapatkan. Berarti sebenarnya suara saya tidaklah jelek-jelek amatlah, ya. Hanya saja memang belum rezeki saya.

Sejauh ini sih ikut sayembara voice over MRT Jakarta ini adalah kegiatan terseru selama tahun 2020 yang katanya suram ini.

Sehat-sehat ya, semuanya…. 🙂

  • devieriana –

ilustrasi gambar dari sini

Continue Reading

Upacara Daring? Kenapa Tidak?

Tahun 2020 menjadi tahun yang memprihatinkan namun sekaligus istimewa bagi bangsa Indonesia. Di tengah pandemi, ternyata kita masih bisa merayakan HUT Kemerdekaan sekalipun dalam keterbatasan.

Untuk pertama kalinya Indonesia melaksanakan upacara peringatan kemerdekaannya secara digital akibat pandemi Covid-19 yang hingga saat ini masih belum reda. Demi memeriahkan acara tersebut, panitia telah menyediakan 17845 undangan digital yang bisa didapatkan secara daring oleh para peserta upacara melalui link registrasi pandangistana.setneg.go.id. Bukan itu saja, para peserta upacara yang telah melakukan registrasi dapat mengikuti gladi bersih upacara dan upacara secara langsung via Zoom.

Presiden Joko Widodo hadir secara langsung dengan didampingi sejumlah pejabat dan pejabat negara di Istana Kepresidenan Jakarta pada Senin, 17 Agustus 2020. Dalam balutan pakaian adat Nusa Tenggara Timur, kain motif Berantai Kaif Nunkolo, Presiden Joko Widodo memimpin upacara peringatan HUT Ke-75 Kemerdekaan RI dalam suasana khidmat.

Rangkaian upacara pengibaran bendera yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 10.30 itu diawali dengan tayangan rekaman wawancara dengan mantan presiden Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono. Selain itu, ditampilkan pula pertunjukan musik pra-rekaman yang memberikan penghormatan kepada para pahlawan bangsa.

Dalam salah satu segmen video, penyanyi Raisa membawakan lagu “Indonesia Pusaka” dengan latar belakang tayangan sejumlah petugas medis yang tengah berjuang di garis terdepan dalam melawan penyebaran Covid-19.

Tidak seperti upacara di tahun-tahun sebelumnya, peringatan HUT RI Ke-75 ini tidak menampilkan susunan lengkap tim pengibaran bendera nasional (Paskibraka). Kalau biasanya ada 8 orang Paskibraka, tahun ini hanya ada 3 anggota Paskibraka Nasional 2020 yang bertugas untuk mengibarkan Sang Merah Putih. Semua dilakukan dalam jumlah terbatas, namun tidak mengurangi esensi dan kekhidmatan upacara itu sendiri.

Jika tahun sebelumnya seusai upacara di kantor saya langsung menuju ke Istana Merdeka untuk menyaksikan secara langsung upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI, tahun ini saya mengikuti secara daring bersama 17845 undangan lainnya.

Memang jujur rasanya pun berbeda. Karena upacara via daring ini sama seperti menyaksikan upacara secara langsung melalui televisi. Bedanya, karena ini dilakukan via aplikasi Zoom, maka para peserta di bagi ke dalam beberapa room dengan beberapa MC yang mendampingi para peserta upacara hingga upacara berakhir. Selain itu, selama menunggu upacara dimulai, MC menyampaikan beberapa informasi terkait hal-hal yang berhubungan dengan upacara, dan ada gimmick berupa kuis pertanyaan seputar acara dengan hadiah berupa souvenir upacara yang akan dikirimkan ke alamat peserta yang berhasil menjawab pertanyaan.

Oh ya, ada satu hal menarik pada pelaksanaan upacara peringatan HUT Ke-75 Kemerdekaan RI ini, yaitu diberikannya anugerah penghargaan oleh MURI yang diserahkan kepada Sekretariat Presiden, Kementerian Sekretariat Negara, sebagai pemrakarsa dan penyelenggara upacara peringatan HUT kemerdekaan secara daring dengan peserta terbanyak di dunia. Sebab belum ada negara yang menggelar upacara kemerdekaan secara daring yang diikuti oleh ribuan peserta secara langsung.

Dirgahayu Indonesiaku! Mari berjuang dan menjadi pahlawan sesuai dengan porsi dan posisi masing-masing. Tidak tertular dan tidak menularkan COVID-19 adalah cara berjuang terbaik untuk saat ini.

Merdeka dari COVID-19, merdeka Indonesia!

Continue Reading

Catatan di Hari Ke-138

Tak terasa kita sudah 138 hari melakukan segala aktivitas dari rumah. Tahun yang lumayan berat bagi semua orang. Tentu masih segar dalam ingatan ketika pandemi melumpuhkan hampir seluruh negara di dunia, dan bagaimana pandemi mengubah seluruh tatanan sosial, ekonomi, budaya, hingga kepemimpinan politik.

Pandemi menjadikan semua terpaksa harus dilakukan dari rumah. Salah satunya adalah sekolah. Bukan sebuah hal yang mudah terutama bagi anak, yang nature-nya adalah bermain, menyentuk, memeluk, berinteraksi secara langsung dengan teman-temannya.

Demikian halnya dengan Alea. Anak yang baru senang-senangnya bermain bersama teman-temannya ini terpaksa harus bersekolah di rumah hingga menjelang akhir masa sekolah TK-nya. Zaman sekarang, berhubung level TK saja sudah mengenal istilah wisuda, maka wisuda TK Alea pun terpaksa harus dilakukan secara daring. Semua bahan untuk pembuatan video wisuda harus dikumpulkan secara digital melalui google drive sesuai dengan format yang telah ditentukan. Semua prosesi wisuda, pengalungan medali kelulusan dan pemberian ucapan selamat pun dilakukan oleh orang tua siswa. Ya, anak-anak wisuda sendiri di rumah.

Sekalipun mereka belum paham sepenuhnya makna dan tujuan wisuda, tapi saya yakin kelak era wisuda online ini akan menjadi kenangan tersendiri ketika mereka dewasa. Ketika pandemi telah usai, dan manusia bisa kembali beraktivitas dan berinteraksi dengan manusia lainnya secara normal.

Tahun 2020 juga menjadi tahun awal Alea masuk SD. Beruntung semua proses seleksi siswa sudah dilakukan di akhir tahun 2019. Jadi siswa yang dinyatakan lolos seleksi tinggal masuk dan mulai bersekolah di tahun ajaran baru. Tentu saja proses pembelajaran masih dilakukan jarak jauh secara daring. Berbekal pengalaman di masa TK yang sudah mengena pembelajaran daring, maka ketika beralih ke SD dan masih menggunakan cara belajar yang sama, Alea relatif lebih mudah menyesuaikan. Walau tentu tidak semua anak betah berada di depan PC/laptop dalam waktu yang lama, ya.

Sesekali siswa (didampingi orang tua) harus ke sekolah, sekadar untuk mengambil bahan pembelajaran atau memenuhi jadwal vaksin. Namun, walau hanya sebentar, dan tidak sempat bertemu dengan semua teman sekolahnya, Alea gembiranya bukan main. Serindu itu dia bersekolah.

Semoga semua anak era Covid-19 ini masih betah belajar daring hingga pandemi berakhir. Dan, yang lebih penting adalah semoga para orang tua masih punya stok sabar yang berlimpah dalam menemani anak-anak belajar di rumah, ya.

Selamat menjalani tahun ajaran baru, anak-anak. Tetap semangat belajar walau masih di rumah, ya. Semangat, semuanya!

Continue Reading

Tentang Penerimaan Diri

Beberapa waktu lalu, ada obrolan menarik antara saya dan Alea. Tentang konsep penerimaan diri, dan tentang kalah atau menang. Wah, sepertinya sedikit berat ya untuk obrolan dengan anak TK. Mmmh, tapi tidak seberat yang disangka, kok.

Dulu, Alea bukan anak yang bisa menerima kekalahan. Apapun itu dia yang harus jadi pemenangnya. Kalau sampai kalah, dia akan ngambeg, nangis, atau justru blaming ke teman yang menang. Dan itu terjadi berkali-kali, sejak sebelum dia sekolah hingga awal TK nol besar. Awalnya kami mengira mungkin karena di rumah hanya dia sendiri yang anak-anak, belum ada ‘temannya’ alias adik.

Di sesi Parents & Teachers Meeting, saya dan suami selalu diberi tahu bagaimana perkembangan dan keseharian Alea di sekolah ketika bergaul dengan teman maupun guru. Dan hasilnya masih sama. Banyak cerita ngambegnya, masih kurang percaya diri, dan PR lainnya yang menjadi tugas kami sebagai orang tua untuk memperbaiki.  

Sampai akhirnya saya berkesempatan menjemput dia pulang sekolah, dan ngobrol banyak setelahnya. Iya, ngobrol bareng anak TK. Sebenarnya Alea itu anaknya enak kalau dinasihati asal suasana hatinya pas. Karena kalau kurang pas, pasti akan ada pembelaan sana-sini dulu sebelum akhirnya mengiyakan atau menerima nasihat dari saya, suami, atau eyangnya. 

Seperti misalnya ketika kami ngobrol soal kalah-menang di sekolah.

Kalah menang itu hal biasa, Alea. Apalagi kalau pas lomba, pasti ada yang kalah. Kalau menang semua, bukan lomba, dong.”

“Tapi Alea nggak suka kalau mereka yelling, Mommy!”

“Maksudnya bukan yelling kali, ya. Tapi itu ekspresi kegembiraan, saking happy-nya. Gapapa, semua juga pasti akan begitu kalau menang. Alea masih inget nggak pas Papa dan papanya temen-temen Alea ikut lomba tarik tambang di sekolah kapan hari? Kan mereka menang tuh, gimana? Happy, nggak?”

Dia mengangguk. Tapi matanya mulai memerah menahan tangis yang nyaris tumpah. 

Happy, kan? Terus papa-papa yang kalah gimana? Marah-marah? Nggak, kan? Biasa aja, kan? Malah ketawa-ketawa karena mereka jatuh rame-rame. Ya begitulah, namanya juga permainan. Trus, Alea masih inget nggak video pas Mama sama temen-temen choir Mama menang? Sampai jingkrak-jingkrak, teriak-teriak, dan sampai ada yang nangis juga, kan? Ya gitu emang ekspresi kalau kita menang. Saking happy-nya, Nak…”

Dia diam, walau air matanya masih mengalir di pipinya. 

“Trus, ada lagi… Alea inget kan pas Mama gambar-gambar desain baju buat ikut lomba? Itu Mama nggak menang, lho. Mama kalah. Tapi ya gapapa, Mama santai aja. Kan masih ada lomba-lomba lain yang bisa Mama ikuti nanti.”

Lagi-lagi dia diam, tapi saya percaya sedang ada proses mencerna dan berpikir di situ. Kadang kalau sedang ngobrol sama Alea ya seperti ngobrol biasa saja. Bukan seperti ngobrol dengan anak TK. Bedanya saya beri contoh-contoh sederhana yang mudah dibayangkan olehnya. 

Dan pernah suatu ketika, ketika saya baru pulang dari Pekan Kebudayaan Nasional di GBK, sambil menunjukkan video di handphone, saya (pura-pura) mengadu ke Alea. Sambil ingin tahu bagaimana responnya.

“Alea, tadi kan Mama ikut lomba bakiak. Tapi, Mama sama temen-temen Mama kalah. Mama sedih…”

Responnya adalah, 


“Jangan sedih, Mama. Kalah itu gapapa. That’s okay.”

Dia bangun dari duduknya, dan memeluk saya. Seolah memberi suntikan semangat supaya saya tidak sedih lagi. Hiks, jadi terharu 🙁 

Alhamdulillah, ternyata inti obrolan kapan hari sampai juga maksudnya ke Alea. 

Ada juga baiknya perlu disampaikan kepada anak-anak bahwa hidup itu bukan hanya tentang hal-hal yang menyenangkan saja. Sebaliknya ada kalanya kita akan akan mengalami pasang surut, kekecewaan, kesedihan, dan penolakan.

Untuk anak-anak seusia Alea yang pemahamannya masih terbatas, bisa disampaikan dengan bahasa yang sederhana supaya bisa lebih mudah dicerna. Sekaligus disertai dengan contoh-contoh yang pernah kita alami, dan bagaimana kita menghadapi hal tersebut. Dengan demikian anak akan bisa melihat dua hal sekaligus. Pertama, hal ini memungkinkan mereka melihat kita sebagai role model positif. Kedua, menunjukkan kepada anak bahwa situasi yang sama juga bisa terjadi kepada orang lain.

Tidak perlu menuntut terlalu banyak agar anak berubah cepat sesuai seperti yang kita mau. Sama seperti orang dewasa, anak pun butuh waktu untuk mencerna apa yang kita inginkan, sifat apa yang harus dia ubah, atau bagaimana dia harus bersikap jika suatu hal terjadi. 

Satu hal penting yang kita perlu kita terima bahwa kita tidak sempurna, dan tantangan adalah bagian dari perjalanan hidup. Dan yang paling penting dari semua itu adalah bagaimana cara kita memandang dan merespon mereka.

— devieriana —

ilustrasi diambil dari sini

Continue Reading

Kecanduan Drama Korea

kdrama-2

Saya sebenarnya bukan orang yang suka nonton film. Jumlah film yang saya tonton di bioskop bisa dihitung dengan jari. Pokoknya kalau bukan film keluarga, ya film yang bergenre komedi, drama, atau komedi romantis. Selebihnya, wassalam. Apalagi ketika sudah ada anak, genre tontonan pun makin berubah menjadi film anak. Itu juga belum tentu kami tonton semua. Saya harus tahu dulu film itu bercerita tentang apa, dan sesuai tidak untuk anak usia 5 tahun. Intinya saya harus bisa menceritakan kembali isi film itu karena untuk anak seusia Alea pasti daya tangkapnya masih sepotong-sepotong, terlebih filmnya dalam bahasa Inggris.

Tapi semua itu berubah drastis dalam beberapa bulan ini. Apakah saya berubah jadi seorang movie freak? Setiap ada film baru langsung nonton? Oh, bukan begitu maksudnya. Saya jadi kecanduan nonton drama Cina dan Korea, Pemirsa. Padahal dulu saya adalah orang yang suka mempertanyakan di mana sih letak asyiknya binge watching drama Korea? Kok senggang amat. Bahkan banyak teman saya yang rela mengunduh drama-drama Korea supaya bisa ditonton secara offline. Tapi sekarang, saya harus menjilat ludah sendiri. Saya yang justru kepincut sama drama Korea, bahkan sampai rela instal Viu di handphone demi bisa menikmati drama-drama Korea terkini.

Tapi sebenarnya saya tidak langsung nonton drama Korea, tapi justru drama Cina yang kebetulan iklan tayangannya berseliweran di akun Instagram saya. Alasan kenapa sampai ingin nonton? Klise, pemainnya ganteng, dan ceritanya ringan (bahkan cenderung receh). Filmnya berjudul My Girlfriend Is An Alien, ditayangkan pertama kali di aplikasi We TV, pemainnya adalah Bie Thassapak Hsu dan Wan Peng. Sesepele itulah awal ketertarikan saya kepada drama Asia ini.

Dari situlah, saya yang awalnya lebih suka baca buku/novel, atau ya ngeblog saja, sekarang hampir setiap bulan sengaja membeli paket tambahan supaya bisa menonton film secara streaming tanpa mengganggu kuota internet reguler, dan juga apply keanggotaan premium, demi tontonan tanpa iklan, dan supaya lebih banyak pilihannya.

Setelah drama My Girlfriend Is An Alien usai, saya jadi seperti ketagihan ingin nonton film lainnya. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk menginstal aplikasi Viu, yang ternyata di sana ada banyak sekali drama Korea dengan cerita yang menggemaskan, Pemirsa. Baik, silakan menghujat saya kudet, kuper, dan bertanya, “kamu ke mana aja, kok baru install Viu?” Ya, namanya saja anak drakor newbie, mohon dimaklumi kalau baru tergugah menginstal Viu dan aplikasi sejenis lainnya. Total di ponsel saya saat ini ada 5 aplikasi streaming, yaitu Viu, Netflix, Iflix, We TV, Vidio, dulu sempat juga menginstal aplikasi iQiYi TV, tapi sudah saya hapus karena episode dramanya panjang-panjang, sementara saya pembosan.

Drama Korea pertama yang saya tonton adalah Her Private Life yang dibintang oleh Kim Jae-Wook dan Park Min Young, dan dilanjut dengan What’s Wrong With Secretary Kim yang dibintangi oleh Park Seo-Joon dan Park Min-Young. Sungguh sangat mainstream ya tontonannya, tapi setelah itu ya langsung mengalir saja, saya tonton apa yang menurut saya menarik, dan temanya tak jauh-jauh dari cinta, romantisme, komedi. Tema cerita yang ringan-ringan saja. Oh ya, selain itu aktornya harus ganteng karismatik, biar semangat nontonnya. Tapi definisi ganteng di sini tentu sangat relatif. Belum tentu aktor yang digilai perempuan lain itu juga termasuk dalam kategori aktor gantengnya saya, ya. Belum tentu juga drama yang jadi booming juga saya tonton. Seperti misalnya Goblin, Descendant Of The Sun, saya belum tonton hingga saat ini karena ceritanya (sepertinya) berat, dan ada perang-perangnya. Entahlah ya kalau Crashed Landing On You sudah ada di Viu, sepertinya akan saya tonton. Lah, katanya kurang suka film perang, kok ditonton juga? Sepertinya saya akan ngefans Hyun Bin.

Sejak bulan September 2019 hingga saat ini, sudah tak terhitung jumlah drama Korea yang sudah berhasil saya selesaikan episodenya. Bahkan kadang, saking ngefansnya saya sama salah satu aktor/aktrisnya, tidak cukup kalau cuma menonton filmnya sekali. Bisa berkali-kali, sampai saya menemukan drama Korea lain yang menarik perhatian saya. Semoga saya tidak dianggap aneh karena nonton film yang sama hingga berkali-kali.

Kalau ditanya, kenapa akhirnya saya suka dengan drama Korea, ya karena drama Korea berhasil menciptakan hubungan emosional dengan penontonnya. Karakter-karakternya dikembangkan dan dibawa melalui cobaan dan kesengsaraan sedemikian rupa sehingga penonton berhubungan dengan karakter tersebut dan merasakan emosi yang sama. Drama Korea bak angin segar di antara drama berat dan aksi. Para pelaku industri film Korea mengemas konsep imut dan lucu ke dalam sebuah paket komplit romansa, aksi, fantasi, dan drama berat, dengan memasukkan perasaan ringan di antaranya. Sehingga menjadikan pertunjukan jadi lebih menyenangkan untuk ditonton.

Satu hal yang saya perhatikan dalam drama Korea mereka benar-benar mempromosikan budaya mereka dan mereka sangat bangga dengan budaya mereka sendiri. Mereka juga tidak bertahan dengan cerita cinta yang sama berulang-ulang sehingga mereka selalu bisa memberikan rasa manis yang baru kepada pemirsanya. Drama Korea menyisipkan nilai-nilai kekeluargaan, dan hal lain yang bisa ditransformasikan dan diterima oleh negara Asia lainnya. Oh ya, saya juga paling suka menonton tayangan behind the scene masing-masing drama Korea yang saya tonton. Di sana kita dapat melihat bahwa mereka melakukan banyak upaya untuk setiap adegan yang mereka buat.

Ternyata setelah sekian bulan menonton drama Korea, saya bukan hanya mendapatkan hiburan semata, tapi juga mendapatkan pengetahuan baru. Misalnya tentang salah satu penyakit langka yang bernama Prosopagnosia, atau buta wajah. Prosopagnosia adalah ketidakmampuan untuk mengenali wajah seseorang. Orang dengan prosopagnosia dapat mengetahui bentuk wajah, mereka juga dapat mengidentifikasi setiap bagian dari wajah (misalnya, hidung, mulut, dll). Namun, mereka tidak tahu milik siapa wajah tersebut. Biasanya, seseorang dengan prosopagnosia akan mengenali orang dengan menghafal kebiasaan atau melalui ciri khas tertentu, misalnya aroma tertentu dari seseorang. Kasus prosopagnosia ini ada di 2 film yang kebetulan sudah saya tonton yaitu The Beauty Inside yang dibintangi oleh Lee Min Ki dan Seo Hyun Jin, serta secuplik adegan di film The Undateables yang dibintangi oleh Namkoong Min dan Hwang Jung-Eum.

Kalau ditanya adakah drama yang tidak ingin saya tonton sekalipun saya ngefans berat dengan aktornya? Tentu ada, yaitu Stranger From Hell. Saya ngefans dengan Lee Dong Wook –yang entahlah, dia sebenarnya manusia atau malaikat, saking beningnya– tapi berhubung dia (konon) berperan sebagai tetangga dengan karakter yang mengerikan, jadi dari pada rasa cinta saya kepadanya luntur berantakan, mending tidak saya tonton sekalian. Biarlah Lee Dong Wook tetap menjadi pria berkarakter manis saja di alam pikiran saya. Sama seperti Kim Jae Wook yang akan tetap menjadi direktur museum yang gentle dan romantis di Her Private Life, sekalipun sudah banyak karakter yang dia perankan.

Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga suka film Korea?

[devieriana]

sumber ilustrasi dari sini

Continue Reading
1 2 3 55