Category Archives: film


The Backup Plan

Malam minggu ini terpaksa saya harus menghabiskannya sendiri karena si hubby keluar kota sampai dengan hari Senin. Tadinya sih rencana mau jalan sendiri kemana gitu ya, tapi berhubung mendung & hawanya kok lebih enak buat dirumah jadi ya akhirnya dirumah aja.

Kebetulan beberapa hari yang lalu sengaja beli 3 dvd buat di tonton di akhir pekan jadilah saya tonton film itu sendiri. Oh ya, film yang saya tonton malam ini adalah The Back Up Plan yang dibintangi oleh Jennifer Lopez & Alex O’Loughlin. Film yang rilis sekitar bulan April ini bergenre komedi romantis, kesukaan saya ;). Sepanjang film ini saya ngikik-ngikik sendiri & komentar-komentar sendiri, ya karena saya emang nonton sendiri. Poor me huh, no? :-? ;))

Cerita ini dibuka oleh Zoe (Jennifer Lopez) yang sedang berada di dokter untuk melakukan inseminasi buatan. What? Serius? Ya, dia memang sangat mendambakan hadirnya keturunan walaupun harus tanpa melalui hubungan pernikahan. Ternyata bukan hal yang mudah untuk mencari pria yang tepat untuk dinikahi sekalipun sudah mencoba berkali-kali. Di tengah keputusasaannya itulah  Zoe memutuskan untuk segera mencari cara lain atau dia tidak akan memiliki keturunan seperti yang dia inginkan.

Namun ironisnya ditengah program kehamilan buatan yang dia lalui itu dia bertemu dengan Stan (Alex O’Loughlin) saat berebut taksi, pria yang bisa jadi sudah ditunggunya selama ini. Dari sinilah cerita ini dibangun. Saat mereka mulai memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius, Zoe terjebak diantara rencana kehamilannya dan hubungan cinta yang dia cari selama ini. Apalagi ketika tes kehamilan menunjukkan dia positif hamil. Makin bingung antara bahagia & dilema untuk mengatakan ini pada Stan, kekasihnya.

Ketika Stan diberi tahu tentang kehamilan Zoe, tentu saja terkejut & sempat menuduh Zoe menipunya. Mereka sempat ragu antara meneruskan hubungan atau sampai disitu saja, alias putus. Namun toh akhirnya kebesaran hati Stan yang membuatnya mengerti bahwa bagaimanapun program kehamilan itu dilakukan tepat di hari pertemuan mereka & disaat yang tak pernah mereka rencanakan sebelumnya.

Banyak adegan lucu, absurd & bikin saya ketawa sendiri. Seperti misal adegan bulan-bulan pertama Zoe hamil & harus mengalami kesulitan ketika naik taksi. Adegan yang sukses bikin saya ngakak-ngakak sendiri. Lebay banget, sumpah :)). Atau adegan tengah malam saat Stan stress lalu ke dapur mau masak kaya orang lagi nggak sadar. Atau adegan water birth dengan berbagai ekspresi aktor-aktornya yang super kocak. Atau adegan pingsannya Stan ketika mengetahui bahwa bayi yang dikandung Zoe bukan hanya satu tapi kembar :)). Atau adegan Zoe mencari kembali gulingnya bulukan miliknya yang sudah dibuang Stan ke sampah yang menurut saya..aduh please deh ya, ngapain coba ibu hamil, malem-malem terjun ke bak sampah cuma buat nyari guling buluk? Udah gitu, pas hamil tua aja masih bisa jalan pakai high heels. Kalau saya yang hamil mah udah saya pensiunkan  dulu high heels-high heels saya. That’s so absurd! :)). Masih banyak adegan lucu lainnya yang lebay ala Hollywood =))

Yang membuat film ini layak ditonton selain pengemasan ceritanya yang ringan & lucu, adalah.. hey saya suka banget sama make up & dandanan rambut Jennifer Lopez yang dalam beberapa scene film ini rambutnya digelung asal-asalan itu. Oh ya satu lagi, badannya J-Lo bikin iri mampus (iyalah, J-Lo gitu lho), plus soundtrack filmnya yang bagus-bagus :

1. What is Love? – Jennifer Lopez

2. Say Hey (I Love You) – Michael Franti & Spearhead

3. Fallin’ for You – Colbie Caillat

4. Disco Lies – Moby

5. A Beautiful Day – India.Arie

6. Key to My Heart – Jessica Jarrell

7. Crabbuckit – k-os

8. Bottles – VV Brown

9. You, Me & The Bourgeoisie – The Submarines

10. Let’s Finish (Sinden Remix) – Kudu

11. Day Dream (Title theme from The Backup Plan) – Stephen Trask

12. She Drives Me Crazy – Raney Shockne f/ Barbara Perry

13. What a Wonderful World – Raney Shockne F/ Barbara Perry

Jadi buat yang belum nonton selamat menonton ya :)

The Hurt Locker : Drama Perang Irak

Sebenarnya genre film perang tidak termasuk dalam genre film favorit saya. Pun halnya seperti film horor maupun thriller. Namun kadang dalam case tertentu selera saya mendadak improvisasi secara tiba-tiba, seperti halnya ketika saya yang biasa menonton film-film komedi romantis dan “tertantang” untuk menonton film Final Destination kapan hari yang full darah sana sini X_X . Saya memang suka angin-anginan kalau nonton film ;)) . Tapi belum pernah berani menantang diri sendiri untuk sengaja nonton film horor. Udah deh, makasih banyak, sudah kenyang.. X_X

Film The Hurt Locker atau yang jika diterjemahkan secara “bahasa perang” adalah danger zone bukan hanya ingin menyampaikan pesan tentang superioritas Amerika yang (seperti biasa) selalu ber-image superb. Namun ada sisi kemanusiaan lain yang ingin disampaikan oleh Kathryne Bigalow sang sutradara & Mark Boal sebagai penulis skenarionya. Memang sih menurut banyak orang film ini kental sekali dengan “arogansi” ala Amerika ketika melakukan ekspansi ke Irak beberapa tahun lalu dengan misi menumpas rezim Saddam Hussein yang dituduh (katanya) memiliki senjata pembunuh massal yang akan membahayakan umat manusia di dunia itu lho. Padahal sampai saat ini tidak terbukti sama sekali tuh mereka punya senjata itu. Jadi kesimpulan sementara, film ini menang karena berusaha memamerkan kepada dunia bahwa ada sisi positif militerisme Amerika di Irak? Err, nggak tahu juga denk.. *takut dikeplak*  :-s

Ada beberapa sudut pandang yang (semoga) membuka hati kita sebelum memberikan judgement film ini begini, begitu, dsb. Coba ya, dari sudut pandang orang Amerika pro George Bush dulu (karena perang ini kan salah satu akibat dari kebijakan Mr. Bush beberapa waktu yang lalu kan ya?). Buat mereka pasti ini adalah salah satu film yang membanggakan. Ya betapa tidak, gambar-gambar di dalamnya seolah ingin menunjukkan bahwa Amerika adalah negara yang penuh sisi kemanusiaan, siap berkorban nyawa untuk keselamatan manusia, yang digambarkan melalui sosok tiga manusia pemberani yang mempertaruhkan nyawanya di tengah ancaman bom yang bisa saja meledak sewaktu-waktu. Demi apa? Ya demi nyawa masyarakat sipil-lah.. :>

Dari sudut pandang keluarga tentara Amerika yang keluarganya berangkat dan gugur di medan laga. Pasti sedih banget. Film ini seolah membuka luka lama mereka, memutar kembali memori detik-detik kematian keluarga mereka dalam misi militer itu :((  *sedih*

Dari sudut pandang orang Irak, tentu juga sangat memilukan bila disuguhi dengan film ini. Perang, selalu saja identik dengan kehilangannya keluarga mereka. Bukan hanya dari keluarga militer, tapi juga rakyat sipil. Saya saja nangis waktu lihat adegan yang memperlihatkan seorang warga yang menghiba minta dibebaskan dari bom bunuh diri yang dililitkan dibadannya oleh seorang teroris dan akhirnya meledak  :(( . Disini sang lakon digambarkan sebagai seorang pragmatis ketimbang jagoan yang siap mengorbankan segalanya. Takut mati juga sebenernya. Tapi masih ingin mati dengan cara yang “layak” , seperti yang dibilang oleh sersan William James,  “There’s enough bang in there to blow us all to Jesus. If I’m gonna die, I want to die comfortable..”

Ah tapi sudahlah, kalau kita berkutat dengan opini masing-masing ya nggak akan pernah menjadikan film sebagai hiburan, malah debat kusir nantinya (saya sosok yang netral rupanya ya? ;)) ). Karena buat saya nonton itu ya buat hiburan, bukan buat menjadikannya perdebatan. Kalau buat saya yang penting ada nilai moral yang bisa diambil dari sebuah film. Mau ada nilai politisnya, mau ada khayalnya, mau ada ini itunya, buat saya nonton itu bagian dari meng-entertain diri. Itu aja sih. Ya yang beda pendapat sih monggo ya, masih dihalalkan lho.. ;). It’s a movie not a documentary..

Tagline film ini adalah : War is a drug. Kutipan dari buku War Is A Force That Gives Us Meaning ini menjadi pembukaan bagi The Hurt Locker. Heran? Sama seperti saya ketika berusaha menerjemahkan bagaimana mungkin sebuah pengalaman di tengah medan perang menjadi sesuatu yang diinginkan. Wah, pasti dia punya beberapa lembar nyawa kalau sampai bicara begitu. Karena buat saya, perang itu selalu saja menimbulkan efek traumatis, ketakutan, dan phobia bagi yang pernah terlibat didalamnya. Tapi di film yang dibintangi oleh Jeremy Renner, Anthony Mackie, Bryan Geraghty, dan Evangeline Lily ini berbeda. Berada dalam gabungan tim elit penjinak bom Amerika Serikat, Explosive Ordnance Disposal (EOD) dan bertugas di medan perang Irak, tempat yang layak disebut sebagai “hell on earth” sama saja artinya dengan mempertaruhkan nyawa kita setiap harinya. Hidup biasa-biasa saja di kota Baghdad bagi tentara Amerika sudah sangat berbahaya, apalagi masuk dalam regu penjinak bom? Arisan nyawa itu namanya. Hidup dalam medan dimana semua orang terlihat sebagai musuh dan setiap benda adalah bom mematikan.. :-ss

Hidup para tentara berubah saat atasan yang baru, Sersan William James ternyata mengabaikan semua prosedur untuk menjinakkan bom. Dia adalah seorang serdadu muda yang tampil mencuri perhatian para seniornya. Nekat mengambil alih usaha penjinakan salah satu bom paling berbahaya. Aksinya, langsung membuat kedua seniornya, Sanborn dan Eldridge kebat-kebit, ulahnya yang seenaknya itu tentu saja menimbulkan friksi, hingga salah seorang dari tentara ini berniat membunuhnya. Namun friksi internal itu mereda setelah sebuah peristiwa terjadi. Sikap James memang “tidak biasa”, cenderung nyeleneh dan berperilaku seolah-olah dia tak gentar dengan kematian, tapi justru itu yang membuat dia makin disegani. Bila yang lain takut, ia justru selalu merangsek maju. Menjinakkan lebih dari 873 bom selama karirnya, membuatnya selalu merasakan adanya ketegangan tersendiri yang hanya bisa ia puaskan apabila ia berhasil menonaktifkan bom itu. “War is a drug”.

Pertama kali saya lihat karakternya saya nyaris berpikir, “nih orang kayanya “sakit” deh”. Masa iya menjadikan ladang yang penuh dengan ranjau bom dimana-mana sebagai hal yang “menyenangkan”, medan perang yang justru buat dia “feels like home”. Sinting, pikir saya. Adrenaline junkie bener nih orang. Tapi setelah saya ikuti lagi ceritanya, ah ironic banget ternyata. Ada pertempuran batin & tuntutan pekerjaan yang membuatnya harus berada dalam tiga pilihan yang sulit. Perang, misi sosial, dan kehidupan nyata sebagai suami/ayah dalam keluarganya.

Sosok karakter Jeremy Renner memang menjadi fokus utama dalam film ini, namun keberadaan Anthony Mackie dan Brian Geraghty juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Chemistry ketiganya dalam sebuah tim menghasilkan sebuah kolaborasi nyata yang terasa mengalir tanpa terkesan dibuat-buat. Keren sekali.. =D>

Efek yang ditampilkan di film ini terlihat sangat realistis. Untuk mendapatkan setting perang Irak yang “hidup”, film ini memilih tempat syuting di Yordania dan Kuwait, hanya beberapa kilometer dari perbatasan negara tersebut dengan Irak sehingga suasana perang benar-benar terasa, setelah sebelumnya dipindahkan dari Pangkalan Militer AS di Kuwait karena tidak mendapatkan ijin. Semua adegannya, mulai dari menonaktifkan bom sampai duel sniper, setiap adegan perang dalam film ini terasa mencekam. Keren sekali penyutradaraan wanita satu ini :-bd .

Sekali lagi terlepas dari opini positif-negatif dari film ini, pesan utama the Hurt Locker yang saya tangkap adalah :
1. Perang bisa menjadikan sebuah candu. Seorang tokoh pernah berkata, “syukurlah perang itu begitu mengerikan bila tidak, manusia akan lebih suka berperang”.
2. Tak peduli peralatan semodern apapun, tak peduli sehebat apapun dirimu, semuanya takkan bisa menyelamatkanmu bila maut memang mengancam dan menjemputmu dari setiap penjuru.


” You love playing with that. You love playing with all your stuffed animals. You love your Mommy, your Daddy. You love your pajamas. You love everything, don’t ya? Yea. But you know what, buddy? As you get older… some of the things you love might not seem so special anymore. Like your Jack-in-a-Box. Maybe you’ll realize it’s just a piece of tin and a stuffed animal. And then you forget the few things you really love. And by the time you get to my age, maybe it’s only one or two things. With me, I think it’s one..”


(Staff Sergeant William James, speaking to his son)

gambar dipinjam dari sini

Dressed in Black by Chance : Neri Per Caso

Lama sekali saya tidak mendengarkan lagu-lagunya Neri Per Caso yang artinya Dressed in Black by Chance, atau ada juga yang mengartikan Black by Chain. Kenapa black? Karena tampilan fashion grup musik acapella asal Italia itu selalu berwarna hitam.

Kelompok ini terbentuk sekitar tahun 90-an dari kota kecil Salerno di Italia. Padahal acapella sendiri biasanya dinyanyiin oleh orang negro.  Pertama kali dengar lagu mereka Quello Che Vuoi, nggak pernah bosen sama dengarkan berkali-kali.. ;)) . Bukan hanya suara , tapi performance mereka dari dulu sampai sekarang stabil banget lho..

Saya bukan hanya tergila-gila sama suaranya, tapi juga.. uhuk.. personilnya :”>. Kangen dengar suara mereka lagi setelah sekian lama terlupakan. Sebenernya nggak terlupakan, hanya saja semua kaset & CD Neri Per Caso saya ada di Surabaya semua.

Mendadak tadi pagi saya “temukan” mereka dengan video klip yang digarap dengan (menurut saya) sangat artistik. Simple, tapi keren banget ;) .

Judul lagunya What A Fool Believes, by Neri Per Caso feat Mario Biondi :

He came from somewhere back in her long ago
The sentimental fool don’t see
Tryin’ hard to recreate
What had yet to be created once in her life

She musters a smile
For his nostalgic tale
Never coming near what he wanted to say
Only to realize
It never really was

She had a place in his life
He never made her think twice
As he rises to her apology
Anybody else would surely know
He’s watching her go

But what a fool believes he sees
No wise man has the power to reason away
What seems to be
Is always better than nothing
And nothing at all keeps sending
him…

Somewhere back in her long ago
Where he can still believe there’s a place
in her life
Someday, somewhere, she will return

She had a place in his life
He never made her think twice
As he rises to her apology
Anybody else would surely know
He’s watching her go

But what a fool believes he sees
No wise man has the power to reason away
What seems to be
Is always better than nothing
There’s nothing at all
But what a fool believes he sees…

You guys, are awesome as always.. ;)

 

ilustrasi dipinjam dari http://www.rockol.it/artista/Neri-per-Caso

Berbagi Cerita Berbagi Cinta

Judul Buku : Berbagi Cerita Berbagi Cinta
Penulis : Sahabat Ngerumpi
Penerbit : Inspiring
Jumlah Halaman : 166 Halaman

Sebenarnya buku ini sudah beberapa waktu yang lalu beredar di pasaran. hanya saja sayanya yang belum kepikiran bentuk reviewnya kaya apa. Padahal buku-buku saya sendiri lho, hasil menulis secara berjamaah maksudnya ;))

Kalau perempuan lagi ngerumpi biasanya isinya rumpiannya tentang apa sih? Arisan, gosip, cowok, keluarga, curhat, trus apa lagi? Banyaklah pastinya ya. Tapi pernah kebayang nggak bagaimana menyatukan rumpian para perempuan itu untuk dijadikan dalam satu buku? Belum kepikiran tho? Sama, saya juga dulunya nggak pernah mikir bahwa rumpian & tulisan saya disitu bersama teman blogger yang lain bakal dibukukan.. ;;)

Berawal dari situs http://www.ngerumpi.com, situs berkumpulnya tulisan dari para blogger yang berbasis web 2.0, dimana penulisnya bisa memposting & mengelola artikel-artikelnya. Dari sanalah lahir banyak tulisan seru yang pastinya selalu segar karena selalu saja ada tulisan baru yang di-publish disana. Topiknya pun bermacam-macam. Ada tema yang dikelompokkan dalam kategori living single, relationship, family, x&y, dan oot. Gaya penulisannya pun bermacam-macam. Jelas. Karena ditulis oleh banyak kepala & hati.

Ternyata menulis dengan hati itu tidak selamanya mudah (karena seharusnya pakai tangan? *eh*) ;)). Artikel-artikel yang di-publish disini merupakan sebagian tulisan yang (dianggap) mewakili pikiran perempuan (walaupun penulisnya ada yang lelaki juga lho). Tapi setidaknya akan membuat banyak orang yang sadar bahwa isi kepala perempuan itu kurang lebih ya sama kaya yang ada di buku ini.

Endorsment

“Yang remeh, yang enteng, yang cemen, juga bisa mencerahkan. Dari
kegamangan setiap akan mendatangi pesta reuni, soal klasik status
jomblo, sampai ledekan bahwa perempuan masa kini masih percaya mitos
superioritas lelaki. Potret sosial kita ada di sini. Potret yang
merekam sikap dan perilaku warga Ngerumpi dalam menjalani kehidupan
pada suatu masa. Kita lihat apakah sepuluh tahun mendatang masyarakat
kita sudah berubah. Pembandingnya ya ada di Ngerumpi hari ini.”

Antyo Rentjoko, blogger, antyo.rentjoko.net


“Unik. Personal. Inspiring. Tentang perempuan, cinta, dan lelaki:
trilogi yang tak ada habis-habisnya ditulis. Kumpulan senandika yang
menghadirkan cakrawala baru tentang relasi Mars dan Venus.

Wicaksono, wartawan Majalah Tempo, narablog (www.ndorokakung.com), penulis buku “Ngeblog dengan Hati”

“Bukan perempuan, gak masalah, yang penting ngerumpi. Begitulah, ngerumpi ternyata tak cuma wadah bagi perempuan. Lelaki pun bisa berbagi pengalaman pribadi yang nyenggol hasrat, sakit hati sampai berpuisi. Saya menduga inilah salah satu inidikasi hadirnya sebuah
“peradaban” baru. Pertemanan, persahabatan, keterikatan emosi,
persetruan, umpatan sampai “rasa” yang sama, tak cuma di dunia maya,
tapi juga terbawa di dunia nyata. Seseorang akan mempunyai “saudara”
begitu banyak secara nyata bukan maya. Dan di ngerumpi itu bisa
ditemukan dan dibangun.”

Ventura Elisawati ,Blogger (www.vlisa.com), digital communication specialist.

Jadi, tunggu apa lagi? Segera dapatkan bukunya di toko buku terdekat yah.. :).
Makasiiih.. ;)

Serem, ah!

Dari dulu saya nggak pernah hobby nonton film horror maupun thriller. tapi kalau thriller masih bisa saya ikuti, masih bisa saya tonton walaupun nggak ngefans samasekali. Tapi kalau horror, walaupun dibayarin, nggak bakal saya mau nonton. Wong waktu kecil saya lihat film unyil atau film kartun yang ada adegan nenek sihir aja saya takut kok :)). Kalau habis nonton film bernenek sihir pasti kalau mau tidur lihat ke kolong tempat tidur dulu :)). Itu baru cerita anak-anak ya, apalagi film beneran yang melibatkan manusia. Makasih deh, mending enggak, ha5x. Konyol kan? Ya, emang ;))

Kalau dulu nih yang namanya film bergenre horror ya sudah horror aja. “Tugasnya” adalah bikin penonton merinding, ketakutan, ngeri dan jejeritan. Ada sih jamannya Suzana, memang masih agak-agak dibumbui adegan seksi-seksi yang di jaman itu dianggap agak vulgar. Lha tapi kalau film itu ditonton lagi sekarang jelas nggak ada apa-apanya. Film horror sekarang itu itu seksi. Horror itu vulgar. Horror itu semi xxx. Setidaknya itu kesimpulan awam saya tentang film horror yang lagi “trend” disini.

Kenapa nggak strict kalau memang genrenya horror ya sudah main horror aja. Kenapa harus dicampuradukkan dengan adegan film xxx? Nonton film horror kok jadi berasa nonton film semi bokep. Para hantu seharusnya tersinggung karena kengerian mereka harus dicampuraduk dengan keseksian para pemainnya yang umbar adegan “bupati” & “sekwilda”.

Pertama kali saya dengar ada film yang judulnya Suster Keramas saja saya sudah geli. Maksudnya ingin menyajikan “sekuel” Suster Ngesot yang ngeri habis itu kali ya. Jadi dibuatlah judul serupa tapi nggak pakai ngesot, melainkan keramas. Sempat saya becandain, “abis ini ada film Suster Mandi Junub deh kayanya..” ;)). Herannya kenapa lagi-lagi harus profesi suster sih? Nggak adakah yang bisa dibuat lebih menyeramkan lagi? Misalkan calak, kondektur, mantri suntik, atau apalah situ? Yang setelah ditonton ternyata.. menyeramkan sih iya. Agak. Tapi kehadiran bintang jav Rin Sakuragi yang beberapa kali di syut dalam dalam keadaan setengah telanjang itu membuat kadar kengeriannya menurun drastis.

Itu pertama, film berikutnya yang seolah tidak mau kalah menghorrorkan diri adalah Diperkosa Setan & Hantu Puncak Datang Bulan. Ini apa sih maksud & motivasi pembuatan filmnya? Heran deh. Ketika iseng saya tonton trailernya kok banyak adegan begitu-begitunya. Ini sebenarnya niat nggak sih bikin film horror? Apa iya bikin film hanya untuk alasan memenuhi permintaan/selera pasar? Bikin film hanya untuk mengeruk untung sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan muatan moral bagi penontonnya? Masa iya orang-orang kita lebih suka nonton film horror kamuflase macam begitu sih? *thinking*

Kalau biasanya saya suka menyertakan video/youtube. Untuk kali ini saya nggak mau menyertakan videonya ah. Males.. :p

gambar dari sini

Next page →
← Previous page