Busy November

Tak terasa bulan November sudah berlalu di depan mata, dan sekarang ‘tiba-tiba’ sudah masuk bulan Desember aja. Kalau dipikir-pikir waktu setahun itu kok ya cepet banget, ya?

November kemarin jadi bulan sibuk bukan hanya buat saya tapi juga buat kantor. Jadi kalau November kemarin saya sama sekali tidak posting apapun di blog ini harap dimaklumi ya, hiks…

Sejak awal bulan sudah digeber dengan diklat Kehumasan, dilanjut dengan dinas-dinas, ngemsi-ngemsi, dan lomba-lomba. Kalau soal penggunaan suara pokoknya di bulan November itu maksimal banget, ya MC indoor, ya MC outdoor, ya nyanyi indoor, ya nyanyi outdoor, ya MC acarA formal, ya acara lomba aerobik yang pakai teriak, “AYO SUARANYA MANAAAA?!’ Pokoknya MC serbagunalah, emang gedung doang yang serbaguna? Hahaha…

Eh, trus, kok tumben ada lomba-lombanya? Iya, sebenarnya setiap bulan November itu diperingati sebagai hari ulang tahun KORPRI. Kebetulan tahun ini KORPRI berulang tahun yang ke-44. Setelah dua tahun lamanya berhibernasi, dan jauh dari keriaan, tahun ini ulang tahun KORPRI kembali diperingati dan diramaikan dengan berbagai lomba olah raga dan seni.

Kalau dilihat dari jenis lombanya, sudah jelas saya bukan partisipan lomba olah raga. Lha wong senam rutin tiap hari Selasa dan Jumat saja saya skip melulu, apalagi ikut lomba olah raga beneran. Sudah bisa ditebaklah saya ikut lomba apa. Iya, saya memeriahkan lomba menyanyi saja. Itu pun alhamdulillah, nggak menang; cuma sampai 9 besar saja, hahaha. Eh, tapi jujur, saya malah bersyukur dengan kekalahan itu karena justru mengurangi beban saya sendiri. Bayangkan saja, saya di-booking sebagai MC acara puncak peringatan HUT KORPRI di lingkungan kantor saya sejak awal November, dan rencananya para pemenang lomba menyanyi harus tampil di atas panggung untuk memperdengarkan suaranya. Sedangkan saya dan teman-teman band saya pun sudah dimasukkan dalam list penampil. Masa iya, saya yang ngemsi, saya juga yang tampil menyanyi solo, plus tampil bersama teman-teman band saya. Kok rasanya eksis amat, ya? Itulah kenapa saya malah bersyukur ketika saya tidak dinyatakan sebagai pemenang lomba menyanyi.

Saya mau cerita sedikit tentang lomba menyanyi kemarin ya. Ini adalah lomba menyanyi kedua yang saya ikuti di lingkungan kantor. Anggap saja lomba tingkat abal-abal, karena memang yang ikut ya para pehobi nyanyi saja, bukan yang pro. Saya sebenarnya sudah tidak mau ikut, tapi berhubung ada disposisi atasan yang meminta saya untuk ikut jadi ya sudahlah, saya ikut saja, itung-itung memeriahkan.

Di babak semifinal/penyisihan, rencana yang ikut sih sekitar 90 peserta yang terbagi dalam 2 sesi lomba. Lomba pertama diadakan di hari Jumat, 19 November 2019, dan sesi kedua diadakan di hari Senin, 23 November 2015, yang masing-masing terdiri dari 45 peserta, walaupun pada kenyataannya banyak peserta yang mengundurkan diri karena kegiatan kedinasan. Jadi, sepertinya sih jumlah pesertanya tidak sampai 90 orang.

Dua hari menjelang hari H, saya masih galau mau menyanyikan lagu apa. Hingga akhirnya pilihan lagu saya jatuh pada My Cherrie Amour-nya Stevie Wonder. Entahlah, mungkin suara saya cocok menyanyikan lagu-lagu lawas nan klasik macam begitu, karena di lomba 2 tahun sebelumnya pilihan lagu saya pun tak jauh dari lagu lama, Somewhere Over The Rainbow.

Juri lomba kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini ada 3 juri yang diambil dari luar, jadi harapannya bisa lebih netral dalam menentukan para calon finalis dan pemenang nantinya. Ya sudahlah, nothing to lose saja, kalau sudah rezeki tak akan ke mana kok.

Dan, tadaaa! Saya dinyatakan masuk final dan harus memilih salah satu di antara 25 lagu pilihan. Saya kembali galau. Masalahnya adalah, lagu-lagu itu tidak ada yang saya suka, hihihihik. Tapi ya sudahlah, ketika sesi pengambilan nada, pilihan saya jatuh ke lagu Kaulah Segalanya milik Ruth Sahanaya, tapi kata panitia lagu itu sudah dua orang yang memilih, jadi mereka menyarankan untuk memilih lagu yang lain. Nah, rempong lagi nih judulnya, padahal jiwa raga saya sudah siap menyanyikan lagu Kaulah Segalanya. Sampai akhirnya, pilihan saya jatuh pada lagu lamanya Rafika Duri, Tirai. Beuh, lawas banget! Ya sudah, biar nggak lawas-lawas banget dan terdengar lebih catchy, saya meminta untuk diversikan bossanova saja, sama seperti lagu Tirai di album Rafika Duri yang bertajuk Romantic Bossas, yang diaransemen ulang oleh Tompi.

Di hari H, modal saya hanya do my best, karena tak disangka ternyata bapak-bapak saya beserta teman-teman semuanya hadir memberikan dukungan. Antara haru dan seru, karena ternyata sayalah satu-satunya yang mewakili satuan kerja Sekretariat Kementerian dan Kedeputian, selebihnya adalah perwakilan dari Sekretariat Militer Presiden, Sekretariat Kabinet, Sekretariat Presiden, Sekretariat Dewan Pertimbangan Presiden.

Beda dengan lomba terdahulu. Dulu, mau dengar pengumuman saja saya deg-degan luar biasa, hahaha. Sekarang, biasa saja. Mungkin karena tidak ada beban. Jadi ketika diumumkan bahwa yang menjadi juara 1 dari Sekretariat Militer Presiden, juara kedua dari Sekretariat Presiden, dan juara ketiga dari Sekretariat Kabinet, saya sangat-sangat legowo. Kalaupun kekalahan saya itu salah satunya karena lagu yang saya bawakan bukan versi aslinya, hmmm… dalam bayangan saya nih ya, selama saya tidak menyalahi ketentuan yang ada di dalam rule of the game, ya seharusnya sah-sah saja memodifikasi aransemen lagu. Toh, di berbagai lomba pencarian bakat juga lagu-lagunya selalu diaransemen ulang menjadi lagu yang punya sentuhan baru.

Tapi ya, bagaimana pun keputusan juri adalah mutlak, dan pastinya sudah ada pertimbangan tertentu kenapa Si A, Si B, Si C jadi juara. Walaupun keluar dari aula Pak Deputi ngomel-ngomel karena keputusan dewan juri yang dianggap aneh, saya cuma bisa cengengesan. Ya jelas ngomel dong, kan perolehan medalinya jadi makin ketat sama Setmil dan Setpres, hahaha…

Teman-teman band saya cuma haha-hihi saja melihat vokalisnya malah kalah, hahahaha. Nggak ding, mereka tetap support kok.

Him: Are you sad?

Me: Eh, nggak dong…

Him: Lomba nggak jelas itu. Juri yang bener itu ada di penonton. Lagian penyanyi yang bener itu bukan cuma suara, mental sama attitude juga. Lagian, kamu udah nggak levelnya ikut lomba-lomba kaya gitu, Mbak…

Eh, makasih lho support-nya. Sorenya pas ketemu mereka buat persiapan tampil tanggal 29 November 2015 di acara pucak peringatan HUT KORPRI, saya pun habis diledekin mereka.

“Eh, kamu ntar nyanyi Lost Star-nya Adam Levine aja… Bintang yang kalah…”

Asyem! Hahaha…

 

 

PS: foto-fotonya menyusul aja deh. Tapi kalau mau sekadar kepo bisa diintip di instagram ya..

Continue Reading

“Isteri itu tiga…”

Ustadz WijayantoSetiap bulan, di kantor saya hampir selalu diadakan pengajian bulanan yang diperuntukkan bagi seluruh pegawai. Penceramahnya pun berganti-ganti, mulai dari yang belum dikenal sampai yang sudah terkenal.

Dari sekian banyak ustadz yang pernah didatangkan ke kantor, tidak semuanya bisa memikat hati saya. Halah! Maksudnya, terkait dengan communication skill mereka gitu, Kak. Kan masing-masing pendakwah punya gaya masing-masing; dan tentu saja subjektif sekali tingkat kemenarikannya. Ada yang gaya berdakwahnya lurus, lempeng, nggak ada becandanya sama sekali. Ada juga yang lucu sampai sepanjang acara kita tertawa terus (jadi sebenarnya yang diundang ini ustadz apa komedian?). Atau, ada juga yang gaya bicaranya ceplas-ceplos dan ‘tanpa rasa bersalah’. Ya, intinya semua pendakwah punya gaya dan ciri khas masing-masing; toh intinya tetap sama, berdakwah. Nah, entah mungkin karena saya cenderung makhluk visual dan auditory makanya saya lebih bisa ‘masuk’ ketika diceramahi dengan gaya dan kalimat-kalimat yang menarik :mrgreen:.

Tapi di antara mereka ada satu ustadz yang sejak awal kemunculannya di televisi sudah saya sukai karena gaya berceramahnya yang ‘segar’, gaya bahasa yang digunakan sederhana, lucu, dan tidak lebay. Beliau juga datang dari kalangan akademisi; seorang pengajar program Magister Manajemen di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan pengisi acara di beberapa stasiun televisi. Beliau adalah Ustadz Wijayanto.

Nah kok ya ndilalah hari Rabu (18/09) kemarin seolah dream come true buat saya, ustadz yang saya kagumi itu diundang untuk memberi tausiyah di kantor saya. Ndilalahnya lagi, kok ya pas saya yang jadi MC-nya. Ya walaupun nggak ngaruh, tapi… ya nggak apa-apa sih, saya cuma seneng aja! 😆

Ceramah yang seharusnya sudah dimulai sejak pukul 12.30 ternyata baru bisa dimulai sekitar pukul 13.30-an, karena kami harus menunggu beliau selesai syuting untuk salah satu program televisi yang syutingnya dilakukan di Taman Mini. Ah, tak apalah Pak, yang penting Bapak bisa datang :mrgreen:

Ceramah baru saja masuk sesi preambule, tapi lobby sudah digemuruhkan dengan gelak tawa. Beliau dengan ekspresi datar menceritakan sebab mengapa beliau sampai datang terlambat.

“Maaf, menunggu lama. Tadi saya syuting dulu, jadi ke sininya agak terlambat. Sebenarnya yang lama itu bukan syutingnya, tapi nunggunya. Nunggu mbak-mbak hijabers pada dandan. Itu jilbab diuwel-uwel, dilapis kain warna-warni, dipenitiin sana-sini, dibikin tali-tali, dikasih kembang, trus di ujung kepala dikasih gembok. Nah, itu… makanya lama. Maaf ya, Pak/Bu…”

Digembok? Emangnya pager kos-kosan? 😆

Dari situ mulai mengalir kalimat-kalimat lucu dari bibir ayah 3 orang putra itu. Saya yang duduk di balik sketsel di samping meja sound system pun tertawa sendiri. Secara fisik beliau sama sekali jauh dari kesan lucu, sosok lelaki Jawa berperawakan sedang, berpenampilan kalem dan sederhana, berbaju koko warna putih yang dipadu dengan peci hitam dan celana panjang warna gelap itu ternyata mampu membius perhatian semua yang hadir di sana. Pilihan kata-katanya sederhana, mudah dipahami, tidak semua berisi ayat-ayat Quran, tapi lebih ke keseharian. Mungkin karena latar belakang beliau yang seorang pendidik sehingga menerapkan hal yang sama seperti ketika beliau sedang mengajar mahasiswa-mahasiswanya. Ya kali… :p

Sesekali beliau menyelipkan guyonan segar yang tak disangka-sangka, seperti beberapa kalimat di bawah ini.

“Ibu-ibu suka poligami? | ENGGAAAK! | Kalau bapak-bapak, suka poligami? | SUKAAAA! | Sudah, jangan dibahas lagi. Karena sesungguhnya poligami itu bukan untuk dibahas, tapi untuk dilaksanakan!”

*pecah tawa se-lobby :lol:*

“Lha iya, ibu-ibu ini ya aneh, dulu Nabi pun waktu ditanya siapa yang paling diprioritaskan dan dihormati, beliau menjawab yang pertama adalah? | Ibumuuu… | Lalu? | Ibumuuu… | Lalu siapa lagi? | Ibumuuu… | Baru siapa? | Ayahmuu.. | Jadi, ibunya ada berapa? | Tigaaa… | Ayahnya? | Satuuu.. | Nah, kan? Ibu itu memang harus tiga, ayahnya satu aja cukup; karena ‘is-tri’ itu memang artinya kan 3. Kalau satu namanya ‘is one’. Dua itu ‘is two’. Kalau Eyang Subur itu ‘is seven’. Ibu ini gimana sih; udah nggak bisa matematika, nggak bisa bahasa Inggris pula. Kalau saya sih alhamdulillah, isteri saya tiga. Anaknya…”

*ngakak sambil up date twitter :lol:*

“Manusia itu kalau sudah mengalami ’10 B’ berarti dia harus segera tobat. Nah, ‘B’ apa saja itu? Buta/burem. Kalau Bapak/Ibu bbman aja milih font-nya ukuran 24, itu tandanya sudah harus berhati-hati. Budheg (tuli). Kalau Bapak/Ibu diajak ngomong sudah hah-heh-hah-heh, nanya berkali-kali, itu juga sudah harus waspada. Beser (sering ke toilet untuk buang air kecil), batuk-batuk, boyok (back pain, encok, pegel linu). Cirinya gampang, biasanya sering ditemui kalau pas lagi di pengajian, maunya sandaran di tembok melulu. Nah itu juga harus diwaspadai. Bau balsem/PPO/minyak kayu putih, nah itu apa lagi. Saya itu kalau ketemu sama orang yang bawaannya jaketan terus, kening kiri kanan ditempeli koyo, kalau tiap kali ketemu baunya minyak angin melulu udah pasti mikir, “wah, pasti udah ‘deket’ nih…” Trus, ‘B’ selanjutnya yaitu beruban, bingung (pikun), buyuten (gemetaran), dan bungkuk. Kalau bapak/ibu sudah banyak yang merasa begitu segeralah tobat…”

Sampai sini saja saya sudah terpingkal-pingkal; membayangkan bbm-an dengan font ukuran 24 itu handphone-nya segede apa coba? Talenan? :mrgreen: 😆

“Uban itu jangan dicabuti Pak/Bu, karena uban itu sebagai penanda. Jadi bagi yang sudah beruban… ya sudahlah, wabillahitaufiq wal hidayah, ya. Kemarin ada yang nanya ke saya, “Pak, gimana kalau ubannya saya semir aja?” Halah, ya pasti ketahuan tho ya, malaikat kok arep mbok apusi karo semir!”

Dikira malaikatnya dulu mantan kapster di Johny Andrean apa, ya?

“Bapak/ibu pasti punya panggilan untuk pasangan masing-masing, kan? Mulai sekarang berikan panggilan yang baik untuk pasangan masing-masing. Jangan mentang-mentang isterinya gemuk, terus bapak seenaknya manggil, “Mbrot! Sini, Mbrot!” Ya walaupun memang isteri bapak gemuk, tapi jangan terlalu jujur. Atau, mentang-mentang suami ibu kulitnya item, trus ibu kalau manggil suaminya, “Bleki, sini!””

Sampai sini saya ngakak tak tertolong. Bleki! Emangnya guguk? :mrgreen: 😆

“Saya itu ngapalin Qur’an butuh waktu lumayan lama; 6 tahun. Kalah jauhlah sama Bapak/Ibu. Kalau Bapak/Ibu kan ngapalinnya cepet, 3 bulan pasti sudah hafal… Qulhuallahu ahad sama Inna a’toina”

Pak! 😆

Di sepanjang acara yang berdurasi 1.5 jam itu kami bukan hanya mendapat tambahan pengetahuan tentang agama saja, tapi juga dibuat tergelak-gelak oleh celetukan-celetukan spontan ala beliau. Belum lagi melihat mimik muka beliau yang selalu tanpa ekspresi dan ‘tak bersalah’ itu membuat kami gemas sendiri.

Bahkan di ujung acara, sebelum doa bersama, beliau masih sempat melontarkan celetukan,

“Ini pengajian rutin bulanan? | Iyaa.. | Halah, kok kaya perempuan aja, bulanan. Hambok ya ceramah kaya gini ini diadakan 2 minggu sekali. Mau kan, saya ada di sini 2 minggu sekali?”

Tuh, kan? :mrgreen:

Ah, kalau saya sih mau-mau aja, Pak. Soalnya Bapak lucu… 😆

 
foto dipinjam dari sini

Continue Reading

Bincang Edukasi Meetup #6

Tanggal 20 Mei 2012 yang lalu, masih bertempat di At America – Pacific Place Jakarta, Bincang Edukasi Meetup #6 kembali digelar. Masih dengan MC yang sama, dan dengan format acara yang sama, kita menghadirkan 5 orang presentan yang akan berbagi ide, ilmu, dan pengalamannya dalam dunia pendidikan selama 17 menit tanpa sesi tanya jawab, dan di sesi berikutnya akan ada sesi diskusi pendidikan dengan penonton.

Penyelenggaraan Bincang Edukasi Meetup #6 ini sengaja kita pindahkan menjadi di akhir pekan untuk mengetahui perbandingan animo penonton antara Bincang Edukasi yang diselenggarakan di hari kerja dan di akhir pekan. Ternyata, acara yang kemarin ini jumlah yang hadir jauh lebih banyak dari pada acara sebelumnya, karena hampir semua bangku di At America terisi penuh. Yaay! \:D/. Nah, siapa sajakah pembicara kita kali ini? Check it out! 😉

Sebagai pembicara pertama kita menghadirkan Nia Daianti dari Education USA, yang mengambil topik tentang tata kelola workshop di sekolah-sekolah di Amerika (semacam mengajar dengan metode lokakarya). Dalam slide pembukanya, Nia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan workshop ini adalah sekelompok kecil siswa yang berkumpul dalam waktu tertentu dan mendiskusikan hal tertentu dengan tema tertentu yang dalam kelompok itu siswa bisa berdiskusi, berbagi ide, saling memberi masukan kepada rekan lainnya dalam kelompok tersebut. Jadi sebelum bertemu, siswa sudah harus mempersiapkan diri dan mempelajari materi yang akan didiskusikan. Metode ini menitikberatkan siswa sebagai pusat proses belajar mengajar (student centrered). Sedangkan fokus pembelajaran workshop ini adalah konteks/materi pembelajarannya.

Untuk mempersiapkan sebuah workshop, sebelumnya siswa harus mempelajari dulu semua materi dan teori-teori yang akan dibahas dalam workshop tersebut. Guru juga harus membuat pedoman (guidelines) yang jelas bagi siswa, sekaligus membuat handout. Sedangkan siswa wajib menulis semacam resume, yang merupakan respon mereka terhadap materi yang sedang menjadi fokus bahasan.

Tujuan dari metode pembelajaran ini adalah untuk memotivasi siswa agar berani mengemukakan pendapat, dan meningkatkan wawasan mereka. Selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk berbagi ide dengan rekan sekelasnya guna menjembatani perbedaan antara teori dan praktik, sekaligus mengajak siswa untuk belajar berpikir kritis, dan membangun hubungan antarsiswa. Manfaat lain yang lebih besar dari metode workshop ini adalah ingin membuat siswa merasa dibutuhkan, membangun sense of ownership, membangun komunitas yang berbasis lingkungan, belajar mengekspresikan constructive critism, mempraktikkan kemampuan berpikir secara kritis dan analitis, serta membangun self confidence.

Inspiring, ya? 😉

—–

Presentan kedua, ada 3 orang ganteng, karena kebetulan semuanya laki-laki ;)). Ada Petrus Briyanto Adi (Adoy), Iga Massardi, dan Ruchul Ma’ani dari Kursus Gitar Gratis (KGG), yang akan berbagi tentang inisiatif kelas gitar mingguan gratis. Menarik, ya? Pencetusan ide Kelas Gitar Gratis ini bermula dari obrolan santai antara Iga Massardi dan Adoy yang menginginkan adanya kelas gitar gratis yang bisa diikuti oleh siapa saja yang mau belajar. Dari situlah ide kelas gitar gratis bagi semua orang terwujud. Ruchul Ma’ani yang awalnya ingin belajar gitar justru ditawari menjadi salah satu pengajar, karena sejak awal masuk mungkin sudah terlihat cukup expert, ya? ;))

Kelas Gitar Gratis (KGG) ini pertama kali diselenggarakan di Taman Suropati, sekitar bulan Agustus 2011, pukul 16.00 s.d. pukul 17.00. Siapa saja yang boleh ikut KGG ini? Siapa saja boleh, asalkan niat dan punya gitar (boleh punya sendiri, boleh pinjam temannya), yang penting datang ke sana sudah membawa gitar. Ingat ya, gitar! Bukan suling!

Tujuan diadakannya pembelajaran di ruang terbuka semacam ini supaya belajar gitar terasa jauh lebih menyenangkan, rileks, dan tidak membosankan. Cara pendaftarannya pun cukup mudah, sambil promosi akun, biar sekalian nambah follower sih ini namanya, cukup follow akun twitter @KGGJkt, @igamassardi, @pbadi, dan @pinknista. Gampang, kan? ;))

Nah, bagaimana membuat supaya proses belajar bisa terfokus sesuai dengan tingkat kemampuan siswa? Tentu saja siswa akan “disaring” terlebih dahulu untuk mengetahui grade kemampuan mereka. Selanjutnya akan dibentuk cluster-cluster kecil sesuai dengan grade masing-masing siswa.

Nah, bagi yang ingin belajar musik secara gratis, bisa langsung follow akun tersebut di atas, dan mulai ikuti kelasnya setiap hari Minggu di Taman Suropati Menteng, pukul 15.00.

—–

Pembicara yang ketiga ada Lyra Puspa dari Pillar Business, yang siang itu berbagi tentang pentingnya pendidikan kewirausahaan bagi anak. Beliau mengatakan bahwa kewirausahaan itu tidak selalu identik dengan masalah kaya, dan atau masalah uang. Kewirausahaan menurut dia adalah kemandirian (ekonomi, politik, berpendapat, mengatur hidup dengan lebih baik), kesejahteraan (bukan kekayaan), ketika menjadi seorang enterpreuner kita tidak lagi menyalahkan pemerintah, membuka lowongan kerja bagi diri sendiri dan orang lain, memberi solusi bagi diri sendiri, orang lain dan bangsa. membangun jati diri dan kemandirian kita.

Motivasi saja tidak cukup, tapi perlu didukung strategi yang tepat, pendidikan kewirausahaan yang berkesinambungan, dan pendampingan. Seperti contohnya di Amerika, sebuah enterpreunership yang dilakukan tanpa pendampingan, usaha kecil rata-rata gagal 50% dalam 5 tahun pertama. Itu menunjukkan betapa pentingnya pendidikan kewirausahaan. Ketika seorang mulai membuka usaha, dia diibaratkan seperti bayi, belum bisa apa-apa, yang penting punya dulu – bagaimana dia penetrasi pasar dan survive – ketika sudah survive bagaimana dia bisa profitable dan tumbuh berkembang – ketika dia sudah profitable bagaimana dia bisa mengelola secara profesional – ketika sudah bisa mengelola secara profesional bagaimana dia bisa menduplikasi. Kewirausahaan tidak hanya diajarkan tapi ditularkan. Di dalam pendidikan kewirausahaan ada mentoring: training (technical dan strategic), coaching (menggali apa yang ada dalam diri mereka), advising (menularkan dari pengalaman yang sudah ada lebih dahulu), therapy (menghilangkan rasa takut gagal), leveraging melalui integrasi, dan publikasi berbasis data.

Enterpreunership bukan hanya bermodal semangata saja tapi juga dibutuhkan riset. Hingga akhirnya enterpreunership adalah habit dan lingkungan.

—–

Pembicara berikutnya adalah Nisa Faridz dari Sampoerna School of Education yang akan membahas tentang konsep pendidikan bagi calon guru yang diterapkan oleh Sampoerna School of Education. Di awal paparannya Nisa menyampaikan sebuah cerita uniknya tentang bagaimana dia mendapatkan banyak pelajaran berharga saat di lapangan softball. Dari situlah dia memandang apa itu pendidikan, pendidikan bisa didapatkan di mana saja.

Ketika dia selesai S2 dia ingin kembali ke sekolah, dia ingin menjadi praktisi pendidikan, punya sekolah sendiri, sekecil apapun itu, dia akan membangun sekolah sesuai dengan idealismenya dalam mendidikn murid2nya nanti. Menjadi dosen itu diluar rencananya, dari apa yang dia ketahui jabatan dosen adalah jabatan yang berorientasi pada jabatan akademik dan struktural, dan itu sama sekali bukan cita-cita dia. Dia hanya ingin berkarya dan berkontribusi nyata bagi pendidikan dengan mengajar secara langsung atau punya sekolah sendiri.

Di Sampoerna School of Education, Nisa mengajar tentang Metode Penelitian. Tapi ketika sampai di bab Etika penelitian dia tidak ingin menceramahi bagaimana meneliti dengan etis, dia hanya meminta mereka menceritakan melalui drama, melalui gambar/poster, bagaimana penelitian itu dilakukan secara etis. Karena jiwa Nisa yang ingin selalu ingin dekat dengan sekolah, guru, dan siswa, ketika menyelesaikan S2-nya dia bergabung dengan Sampoerna Foundation Teacher Institute.

Dengan bergabung dengan Sampoerna Foundation Teacher Institute dia benar-benar merasakan bagaimana sebuah institusi berusaha walk the talk, benar-benar mencoba menjalankan sebuah teori. Mereka menginginkan bahwa semua pengajar lulusan Sampoerna School of Education adalah educators yang bisa mengajar dengan pendekatan pembelajaran aktif. Artinya dosennya juga wajib paham dan bisa menjalani proses pembelajaran yang aktif itu seperti apa.

Etika Profesional Guru adalah salah satu mata kuliah yang jarang ditemui di kampus lain tapi diajarkan di Sampoerna Foundation Teacher Institute. Tantangan guru Indonesia di abad 21 adalah guru yang punya etika. School Experience Program merupakan program yang dijalankan setiap semester. Sejak semester 1 mahasiswa praktikum di sekolah rekanan Sampoerna Foundation Teacher Institute, semacam lab school. Bagusnya, ketika akan skripsi mereka sudah tahu akan mencari topik apaapa, karena mereka sudah terbiasa dihadapkan dengan isu-isu yang real terjadi di dunia pendidikan seperti apa. Mahasiswa juga diajak berpikir ilmiah sejak awal.
School is cultural landscape where the community members share their knowledge skills, interests, and beliefs, it is an organics place where fresh culture may be cultivated (Butcher, 2010)

—–

Pembicara terakhir kita adalah Bapak Nurrohim dari Sekolah Masjid Terminal Depok, yang akan berbagi kisah tentang inisiatif sekolah berbasis kecerdasan majemuk bagi anak jalanan di Depok. Sekadar informasi, Sekolah Master (Masjid Terminal) ini mendapatkan penghargaan sebagai Sekolah Alternatif Terbaik Se-Jawa Barat \m/

Sekolah Master ini adalah sekolah alternatif untuk masyarakat marjinal, anak-anak tidak mampu yang awalnya didirikan di sekitaran Depok, yang pertama kali didirikan di Depok oleh Pak Nurrohim tahun 2000. Siapa saja yang bisa bergabung dengan Sekolah Master ini? Pak Nurrohim sambil berseloroh mengatakan, “persyaratannya cuma 3, miskin, hidup, mau. Udah, bisa diterima!” Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum berbasis kebutuhan. Awalnya Sekolah Master ini kelasnya terbuat dari kontainer bekas. Sampai dengan sekarang sudah ada 10 Sekolah Master, diantaranya ada 4 pesantren yang berbasis enterpreuner, yang menghasilkan santri-santri siap guna.

Jika kita berbicara tentang kesejahteraan sosial anak, kita bukan hanya bicara tentang pendidikan, tapi jug bicara tentang hak-hak mereka yang terampas. Rata-rata anak jalanan tidak punya akte kelahiran dan kartu keluarga, yang merupakan prasyarat diterimanya masuk sekolah formal. Tapi tidak di Sekolah Master, mereka bisa tetap mendapatkan hak mendapatkan pendidikan, di mana mereka bisa mengikuti ujian nasional sebanyak 4x dalam setahun, dan bisa diikuti dari jalur mana pun. Kalau pemerintah ada program wajib belajar 9 tahun, kalau di Sekolah Master belajar tidak mengenal usia, bisa sampai kapan saja, selama hayat dikandung badan :D.

—–

Dari beberapa kali saya mengikuti acara Bincang Edukasi, hingga akhirnya dipercaya sebagai salah satu kurator Bincang Edukasi Jakarta bersama Dana Oktiana (walaupun masih belum maksimal) ambience yang dibangun terasa sangat menyenangkan. Pembicaraan yang awalnya terasa akan berat buat saya yang bukan berkutat di dunia pendidikan, ternyata acara ini dikemas secara ringan, serius tapi santai. Senang rasanya bisa jadi bagian dan memiliki semangat yang sama dengan para education evangelist, para inisiator pendidikan.

Intinya adalah pendidikan adalah hak setiap manusia. Belajar bisa dilakukan kapan saja, dan di mana saja, asalkan kita punya kemauan.

Sampai jumpa di Bincang Edukasi Meetup #8 di Atamerica, Pacific Place sekitar bulan Juli 2012 :-h

 

Continue Reading

Dongeng Kebun Nutrisi

Hari Sabtu, 28 Januari 2012, pukul 15.00-16.00 kemarin Tim Indonesia Bercerita Jakarta kembali tampil menghibur anak-anak. Kali ini @IDceritaJKT  bersama Sari Husada tampil mendongeng dalam Dongeng Kampung Gizi: Dongeng Kebun Nutrisi – Kidfest & Edufair 2012 di panggung utama Istora Senayan. Yaaay! \m/ \:D/

Seperti biasa, beberapa minggu sebelum tampil kami sudah berdiskusi dengan anggota lainnya via milis. Kami memang lebih banyak berkoordinasi secara online ketimbang offline demi efektifitas waktu dan tenaga, karena hampir semua anggota @IDceritaJKT adalah pekerja yang tidak bisa sering-sering ketemu kalau tidak sedang ada event, karena lokasi kerja kami terpencar jauh-jauh. Setelah berdiskusi sana-sini akhirnya saya, Dauz, Dana, dan Rika memutuskan untuk ketemu dulu dengan teman-teman dari Lotus PR yang merupakan EO dari Sari Husada yaitu Mbak Zadana dan Mas Bagus di Plaza Semanggi sepulang kami dari kantor.

Setelah acara meeting malam itu menghasilkan materi berupa PR untuk kami. Pihak klien menginginkan kami  meng-create sebuah pertunjukan dongeng yang ceritanya merupakan penggabungan ide antara nutrisi, gizi dan juga berkebun. Hmm, sepertinya harus menulis dongeng baru nih, karena stok dongeng yang sudah ada kebetulan belum ada yang memenuhi tema itu 😕

Setelah berjibaku, gedebugan sana-sini, akhirnya lahirlah sebuah dongeng yang berjudul Nubi dan Rakuza yang naskah aslinya ditulis oleh Kak Rudi Cahyo, dan dikembangkan oleh Tim @IDceritaJKT .  Setelah itu gimana? Sudah selesai? Satu setengah minggu menjelang pertunjukan dan kami belum siap dengan pemain… Baguus! Bukan karena nggak ada yang mau, tapi memang personil inti (yang sudah biasa manggung bersama) memang kurang karena banyak yang tidak bisa tampil di hari yang sama, ditawarkan ke beberapa alumni workshop Mendidik Melalui Cerita kapan hari pun kebetulan kok ya banyak yang nggak bisa :-s

Akhirnya, saya, Rika, Dana, Dauz pun memutuskan untuk meeting lagi di Plaza Semanggi. Alhamdulillah malam itu ada tambahan satu anggota baru yang siap bergabung, yaitu Deni. Halo, selamat bergabung bersama @IDceritaJKT , Kak Deni :D. Di meeting malam itu kami juga membuka penawaran di twitter. Siapa saja yang bersedia bergabung dan siap tampil bersama kami untuk acara tanggal 28 Januari 2012 dengan senang hati akan kami terima tanpa syarat. Soalnya memang kami lagi butuh banget 😀

Banyak mention yang saya terima malam itu, ya karena memang saya yang awalnya iseng membuka tawaran untuk tampil bergabung tampil di acara Kidfest & Edufair 2012 itu sih. Sampai akhirnya peran-peran tersebut satu persatu terisi dan tinggal beberapa peran saja yang belum terpenuhi karena setelah saya konfirmasi ulang ternyata di hari H nanti Si A masih ada yang di Bandung, Si B ada ujian, Si C ternyata harus tampil di acara lain, dll. Tapi syukurlah, menjelang hari H justru banyak yang menawarkan diri untuk bergabung. Ah, akhirnyaa…. >:D<

latihan di TIM

Singkat cerita, setelah bagi tugas ini itu, kami pun memutuskan untuk melakukan reading, pembagian peran, sekaligus langsung latihan di Taman Ismail Marzuki. Sebenarnya ada kejadian kurang mengenakkan siang itu karena mobil saya ditabrak dari belakang di daerah Grand Indonesia ketika akan beli konsumsi untuk latihan hingga penyok, hiks :(.  Tapi ya sudahlah, itu sekarang masih dalam penyelesaian dengan pihak penabrak deh.

Hari Jumat malam, kami berkumpul di Istora untuk rehearsal. Seperti biasa, kami tuh kalau rehearsal memang selalu begitu banyak cekikikannya, terkesan kurang serius, kurang meyakinkanlah pokoknya. Tapi alhamdulillah kalau sudah menjelang tampil tanggung jawab masing-masing langsung muncul. Pernah kok kami berbagi peran dan latihan hanya beberapa jam sebelum manggung 😉

briefing sebelum tampil

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu itu tiba. Pukul 12.00 kami sudah berkumpul dengan manis di belakang panggung. Enam set kostum dengan karakter buah, sayur, dan raksasa sudah disiapkan oleh Kak Deny. Hai, Kak Deny, terima kasih ya sudah mau susah payah mengangkut kostum-kostum itu ke Istora, hmmm… ternyata lumayan berat ya :p *nyeret plastik kostum dari pintu depan ke belakang panggung utama*. Di belakang panggung kami mulai berganti kostum dan… mulai cekakakan ketika melihat Rakuza yang tinggi besar itu harus memakai wig. Terlontar celetukan si pemeran raksasa  yang membuat perut kami kaku, “baru kali ini lho ada raksasa pake hair extension!” :)) .

Langsung tergambar setting raksasa dengan rok dan rambut yang berkibar-kibar terkena blower diiringi  backsound lagu Anang – Syahrini:

“…jangan memilih aku, bila kau tak mampu setia. Kau tak mengerti aku, diriku yang pernah terlukaaa…”

Rakuza ber-hair extension

pengisi acara (masyaalloh Rakuzaaaa! :-o)

MC

Taraaaa.. pukul 15.00 adalah jatah slot kami untuk tampil. Saya membuka acara sore itu bersama Dana. Penonton yang awalnya berjubel setelah menyaksikan penampilan Kak Bimo yang suara dan cara mendongengnya keren itu terlihat meninggalkan tempat satu-persatu. Sempat agak khawatir kalau show dongeng kami yang bertajuk Nubi dan Rakuza itu nanti bakal sepi. Tapi ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti. Satu persatu penonton kembali memadati arena depan panggung. Anak-anak kecil terlihat antusias berebut duduk di tangga panggung, ingin menyaksikan kami lebih dekat. Ah, senangnya :)

kerumunan pada Bunda

menyimak dongeng bersama Bunda masing-masing

anak-anak yang khusyuk menyimak dongeng Nubi dan Rakuza

Sepanjang dongeng Nubi dan Rakuza saya bacakan, anak-anak terlihat menyimak dengan seksama. Bukan hanya anak-anaknya saja, ternyata para ayah dan bunda yang ada disitu pun betah menyimak hingga akhir cerita. Ada satu sesi dimana sempat saya hampir tidak bisa menahan tawa, yaitu ketika scene wig Rakuza mendadak lepas di panggung dan… taraaa… Rakuza mendadak mengalami problem kerontokan rambut  :))

Rakuza mengalami problem kerontokan rambut

Si Kecil ini tiba-tiba menghampiri saya sambil bilang, “namaku Lana…”

Ada berbagai kelucuan yang terjadi sepanjang acara. Apalagi di sesi berbagi goodie bag dari Indonesia Bercerita dan Sari Husada. Anak-anak berebut mengacungkan tangan padahal pertanyaannya saja belum kami ajukan, ih lucu banget sih kalian :-*. Ada pula yang belum pakai celana sudah naik ke atas panggung. Saking antusiasnya ada juga yang tiba-tiba mendekati saya sambil berbisik menyebutkan namanya (padahal ditanya juga enggak) :))

Kak Ahim rupanya sukses memerankan peran Rakuza, karena anak-anak ketakutan beneran sama dia. Sampai saya dengan konyol membujuk, “jangan takut, Sayang… anggap aja ini Syahrini, ya…”  Tapi lama-lama mikir juga, Syahrini kok segede bagong gini, berwarna hijau pula. Mungkin inilah yang disebut totalitas. Kak Ahim telah berhasil mewujudkan karakter raksasa yang sebenar-benarnya ;)). Yang lucu lagi ada yang waktu pertanyaan belum selesai dilontarkan tapi dia sudah mengacungkan tangan lebih dulu, giliran menjawab malah nanya ke temen yang ada di bawah panggung sambil mengode pakai kaki, berbisik, “eh, jawabannya apaan? heh.. heh… psst, apaan?” ;))

goodie bag IDceritaJKT

“salam bahagia, salam Indonesia Bercerita”

Bukan hanya itu, kami juga menantang 3 bunda yang berani tampil menyanyikan lagu yang kami nyanyikan sepanjang cerita Nubi dan Rakuza. Ternyata ada yang berani tampil menyanyi ke depan lho. Terima kasih buat spontanitas dan antusiasmenya ya, Bun >:D<

para Bunda yang menyanyikan OST Nubi dan Rakuza

di backstage bersama kru MetroTV

Yang paling seru adalah di backstage ternyata kami sudah ditunggu oleh crew dari Wide Shot MetroTV untuk diliput dan di-interview. Bukan hanya itu, ternyata ada Kak Pitra yang memotret kegiatan kami, dan Kak Goenrock yang mengabadikan penampilan kami dalam bentuk video. Nah, pas sesi interview sama Kak Goen ini yang lucu. Ketika saya sudah selesai direkam untuk video profile, dan hasilnya sedang dilihat ulang (review), kok ya pas di sudut sana ada penampakan Rakuza sedang ganti baju dan pakai singlet tho ya… Jyaaan, Kak Ahim ini memang merusak pemandangan  kok… ;))

Terima kasih Sari Husada yang sudah mengajak @IDceritaJKT untuk tampil di acara Kidfest & Edufair 2012. Acara yang seru! \m/. Semoga lain waktu akan ada tawaran kerja sama lain yang juga tak kalah menariknya ya 😉
*ngarep*

 

Foto: dokumentasi pribadi, Kak @Pitra dan Kak @denald

Continue Reading

Berani Berinovasi?

“A dream with courage is innovation. A dream without courage is a delusion”
Anonymous

—–

Pernah nggak sih kita membayangkan dan coba flashback ke masa-masa sebelum ada teknologi? Ke jaman teknologi belum secanggih sekarang, ketika kita harus menjalankan segalanya secara manual dan serba memakan waktu. Wih, nggak bisa membayangkan bagaimana ribetnya, ya? Kalau mau kirim kabar mesti pakai kurir atau burung merpati. Kalau kemana-mana mesti jalan kaki, naik kuda, atau naik naga-naga (haiyah, berasa sinetron yang itu dong? ;)))

Nah, pernah membayangkan juga nggak sih kalau kita menjadi seorang penemu atau bahasa kerennya inovator, gitu? Enggak? Nggak mungkin? Hei, istilah penemu itu nggak selalu harus yang berbau dengan teknologi canggih lho. Nggak perlulah kita jauh-jauh membayangkan bikin robot, menemukan listrik, atau pesawat terbang seperti halnya Thomas Alva Edison atau Wright Bersaudara. Inovasi itu bisa saja idenya lahir dari hal-hal yang sederhana. Intinya, kalau kita peka, mau peduli, dan mau menciptakan sesuatu yang baru, belum pernah ada sebelumnya, dan ternyata setelah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari manfaatnya bisa dirasakan secara nyata oleh lingkungan sekitar kita ya kita sudah bisa disebut inovator. Iya semudah itu :)

Sebut saja R. Kamir Brata, Dosen Ilmu Tanah, Air, dan Konservasi lahan Fakultas Pertanian IPB sebagai inovator teknologi pembuatan lubang resapan biopori. Pernah denger biopori, kan? Nah, apakah beliau menciptakan sebuah inovasi secara heboh dengan teknologi tinggi? No, cara kerja biopori yang beliau temukan itu sangat sederhana dan  bisa dibuat di mana saja. Tanah cuma dilubangi dengan diameter 10 sentimeter sedalam satu meter, air dituang hingga tanah jadi lembek dan mudah dilubangi. Kemudian, sampah organik dijejalkan ke dalamnya. Semacam sumur resapan, gitu. Saat ini teknologi biopori telah mengurangi kekhawatiran akan ancaman banjir di daerah-daerah yang curah hujannya tinggi dan rawan banjir.

Atau, sebut saja inovator asal Indonesia yang lainnya yaitu Tirto Utomo. Beliau adalah founder air minum dalam kemasan bermerk AQUA. Memprakarsai sebuah ide inovatif dari pemikiran yang sederhana. Coba kalau nggak ada Pak Tirto Utomo,  kebayang nggak sih betapa ribetnya kita kalau kemana-mana harus bawa termo, botol kaca, atau jerigen? Woogh, sekalian buat nimba dong…

Nah, ngomong-ngomong masalah inovasi, bisa nggak sih kita-kita jadi seorang inovator? Hei, nggak ada yang nggak mungkin lho. Hmm, caranya?

1. Kalau kita punya hobby tertentu dan apalagi sudah bisa menemukan passion kita, tekuni hobby dan passion kita itu secara serius dan mendalam.
2. Asah kepekaan. Coba deh cari tahu masalah apa sih yang paling sering dipermasalahkan orang-orang di lingkungan kalian tapi sampai saat ini belum ada solusinya.
3. Pikirkan dan cari tahu, ide kreatif apa yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah tersebut.
4. Nah, kalau sudah nemu idenya apa, langsung action. Segera wujudkan ide tersebut menjadi sebuah inovasi baru.

Dari tadi ngomongin inovasi, inovasi, ada apa sih? Gini lho, saya itu mau kasih tau, kalau sekarang ada  sebuah program yang bisa membantu kita untuk menjadi seorang penemu, istilah kerennya inovator. Namanya Lenovo DoNetworkID Program. Siapa tahu nanti salah satu dari kita bisa jadi seorang inovator, seorang yang bisa menubah peradaban dunia menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Kalau kalian tertarik, coba deh bentuk tim dari sekarang. Karena program ini memang mengharuskan seperti itu. Lalu kalian rundingkan kira-kira ide gila dan proyek inovatif apa yang akan diikutsertakan dalam program ini. Setelah itu, silakan langsung bergabung dengan Lenovo DoNetworkID Program. Trus kita disuruh ngapain? Ada 3 tantangan yang bisa kalian pilih untuk dijadikan fokus dalam grup kalian yang bisa dilihat di sini . Nah, gimana? Sudah mulai ada pancingan ide kreatif?

Menariknya para peserta akan langsung dipandu oleh 3 mentor handal di Indonesia, yaitu:
1. Budi Putra (konsultan teknologi);
2. Nurdiansyah (peneliti dan pemerhati pendidikan);
3. Onno W Purbo (independent IT writer).

Mereka bukan hanya akan sekadar mengedukasi, tapi juga mendampingi para peserta untuk mewujudkan ide-ide dan inovasi kreatif mereka.

Nah, buat kalian yang berminat ikut program ini, coba simak beberapa info berikut ini ya. Penting!
* Pendaftaran sudah bisa tanggal 8 Desember 2011 s.d 25 Januari 2012  (mumpung masih lama tuh, buruan daftar sekarang deh);
* Pemilihan peserta favorit dilangsungkan pada tanggal  5 s.d 25 Januari 2012;
* Pengumuman finalis pada tanggal 26 Januari  s.d. 29 Februari 2012.
Udah, itu aja? Belum dong… Puncak acara dan pengumuman pemenang akan dilangsungkan pada tanggal 1 Maret 2012.

Tim yang terpilih mewakili Indonesia akan berkompetisi denganTim dari Rusia dan India lho. Wow! Yang lebih menariknya lagi nih, ada hadiah senilai USD 25.000 sudah menunggu kalian, lho! \m/  Kalau kalian tertarik dan mau tahu info lebih lanjut mengenai program ini bisa langsung baca-baca di Lenovo Do Network  deh, dan jangan lupa untuk dukung program Do Network ini dengan menggunakan twibbon di http://t.co/Yae7e1Dt  ini ya 😉

Mumpung masih ada waktu sampai dengan 25 Januari 2012 tuh, buruan  deh submit ide keren kalian untuk diikutkan dalam program ini. Siapa tahu inovator handal Indonesia bahkan dunia, berasal dari kontestan Indonesia, dan itu adalah… kamu! \:D/

Selamat menjadi calon-calon inovator baru bersama Lenovo DoNetworkID Program ya.
Good luck!

 

sumber gambar: panitia Lenovo Do Network

Continue Reading
1 2 3 5