Yakin Mau Jadi PNS?

 

“Keluarkan gadget kalian, dan coba tuliskan apa cita-cita kalian ketika masih SMA!”

Serentak, para CPNS yang sedang mengikuti kegiatan on boarding mengikuti perintah menteri mereka. Cita-cita semasa SMA dituliskan pada sebuah situs yang bisa diakses dari gawai masing-masing. Tak berapa lama, cita-cita itu tampil di layar proyektor lengkap dengan angka persentase. Hasilnya sedikit mencengangkan. Di antara sekian banyak bidang pekerjaan, PNS mendapat persentase paling besar.

Saya bertanya dalam hati, apakah jawaban mereka jujur atau hanya karena ditanya oleh seorang menteri? Apa iya, daya tarik PNS sebesar itu bagi kalangan remaja usia sekolah menengah sekarang? Apa benar, PNS menjadi pekerjaan impian millenials yang sedang —jika kata ini boleh dipakai secara longgar— idealis-idealisnya?

Entahlah.

Sedikit flashback ke masa SMA, saya sama sekali tidak pernah bercita-cita menjadi PNS. Terbersit pun tidak. Saya justru ingin berkarier sebagai bankir, public relation, atau psikolog. Walaupun akhirnya takdir berkata lain.

Tren memang bisa berubah kapan saja. Pekerjaan yang dulu diidolakan, bisa saja menjadi paling sedikit peminatnya. Sebaliknya, pekerjaan yang dulu dianggap remeh, justru menjadi karier impian anak muda.

***

Sejak terlibat sebagai panitia rekrutmen, saya jadi lebih paham karakter millenials ini. CPNS zaman sekarang tak bisa lagi diberi kurikulum pembekalan yang sama dengan angkatan sebelumnya. Era mereka berbeda jauh dengan generasi-generasi sebelumnya termasuk aneka problematika dan drama yang menyertainya.

Ada beberapa pengalaman unik mengenai CPNS millenials ini. Obrolan saya bersama Aji, misalnya. Sebelumnya, ia pernah menjadi karyawan di beberapa perusahaan swasta dengan core business berbeda-beda. Pekerjaan terakhirnya bahkan menjadi pengemudi angkutan online.

Long story short, sehari setelah menjalani program on boarding, ia mengirimkan pesan singkat melalui Whatsapp. Aji mengisyaratkan ketidaksanggupannya. Menjadi PNS menurutnya melelahkan, ditambah lagi jam kerja yang berantakan. Kalau boleh, ia ingin mengajukan mutasi ke daerah. Atau, kalau tidak boleh, lebih baik mengundurkan diri.

Selama saya menangani rekrutmen, rasanya baru kali ini ada CPNS yang belum sempat mendapat penugasan apa-apa, sudah mengeluhkan (bakal) pekerjaan. Ia galau setelah mendengar cerita dari senior-seniornya. Itulah yang membulatkan tekadnya untuk mundur.

Keesokan harinya, Aji minta izin bertemu. Mungkin supaya ngobrolnya lebih enak. Sebagai seorang kakak angkatan yang lebih dulu berkecimpung di dunia per-PNS-an, saya berbagi pengalaman sebisa saya. Saya berikan contoh-contoh umum dan sederhana sambil sesekali memberi motivasi dan semangat.

Saya berusaha membuka pikirannya bahwa pekerjaan apa pun pasti punya risiko. Ada enak dan enggaknya. Baik pegawai pemerintah maupun pekerja di sektor swasta, baik kantoran maupun freelancer. Harapan saya dari sharing session itu sederhana, ia mempertimbangkan ulang rencana pengunduran diri dan kembali fokus menjalani masa probation.

Rupanya obrolan dengan para senior di unit kerjanya merasuki otaknya lebih dalam ketimbang obrolan dengan saya. Sepanjang obrolan berlangsung, beberapa kali Aji menanyakan hal yang sama: apa saja syarat mutasi ke daerah, atau bagaimana prosedur pengunduran diri, alih-alih memperbaiki niat untuk kembali bekerja.

Alasan lain, Aji ingin menjaga ibunya di kampung halaman.

Lo, kalau memang niat awalnya ingin fokus merawat orang tua, kenapa sejak awal tidak mendaftar CPNS pemerintah daerah atau kementerian/lembaga yang memiliki kantor lebih dekat dengan domisili? Bukan kementerian/lembaga pusat yang sudah pasti bekerja di Jakarta?

Ia menambahkan passion-nya bukan di bidang pelayanan, apalagi keprotokolan. Aji lebih tertarik menjadi guru SD ketimbang petugas protokol. Ia mengaku tidak sanggup pulang larut malam, dinas ke luar kota atau luar negeri setiap hari, sehingga tak ada waktu berkumpul dengan keluarga. Omong-omong, ia belum berkeluarga. Usianya pun masih 25 tahun.

Kalau memang bercita-cita menjadi guru, kenapa tidak melamar formasi di Kemendikbud?

Ia menuturkan, rekrutmen CPNS tahun lalu tidak ada formasi di kementerian lain yang sesuai latar belakang pendidikannya. Ia lulusan D-3 Komunikasi.

Saya penasaran dengan semua alasan yang ia kemukakan, apa sih motivasinya melamar sebagai petugas protokol selain latar belakang pendidikan?

“Ya, karena dalam bayangan saya, jadi petugas protokol itu keren, Mbak…”

Duh!

Alasan lain yang tak kalah nggak nyambung adalah “saya juganggak menguasai public speaking”. Omong-omong, petugas protokol itu tidak pernah disyaratkan menguasai public speaking, lo! Justru seorang gurulah yang wajib punya skill public speaking.

“Ya, tapi kan cuma ngomong ke anak SD ini, Mbak. Lebih gampanglah. Beda kelas public speaking-nya dengan ke orang dewasa”, kilahnya.

Saya gemas meski akhirnya memaklumi. Apa pun itu, bagaimana pun itu, kalau pada dasarnya sudah tidak mau, enggan, tidak suka, alasan bisa dicari. Tak peduli logis atau tidak.

Beberapa CPNS lain yang sempat mengajukan surat pengunduran diri juga membuat alasan yang kurang masuk akal seperti ingin berkarier di swasta. Lo, kalau memang ingin kerja di swasta, kenapa ikut seleksi CPNS?

Ada juga yang beralasan akan mengikuti calon suami yang akan ditugaskan ke luar daerah. Eh, gimana? Calon suami? Calon?

Alasan yang tak kalah ajaib, seorang CPNS menyesal ikut seleksi karena sama saja membuka peluang korupsi. Menurutnya, PNS rentan dengan penyelewengan uang negara. Dia tak mau menjadi bagian penyelewengan itu.

Soal penyelewengan dan korupsi, sebenarnya, siapa saja berpeluang tanpa melihat status PNS atau karyawan swasta. Semua sejatinya tergantung iman, niat, kesempatan, dan kerja sama tim. Kalau memang ada niat, kesempatan bisa dicari, kerja sama bisa diupayakan, penyelewengan mungkin terjadi. Dan lagi, jika memang korupsi itu mudah, tentu banyak yang sudah kaya raya sejak masih CPNS.

***

Konon, millenials adalah generasi digital. Mereka lahir dan tumbuh besar dengan mengakrabi teknologi informasi. Jadi, kenapa sebelum melamar sebuah formasi pekerjaan, tidak googling dulu untuk mencari informasi? Setidaknya, supaya memiliki gambaran bagaimana bentuk, ritme, dan hal-hal teknis lain tentang formasi pekerjaan yang ingin dilamar.

Sebagai tambahan informasi, ketika seorang CPNS mengundurkan diri sebelum pemberkasan, panitia masih berhak mengajukan pengganti. Peserta dengan urutan satu tingkat di bawahnya masih punya peluang dimintakan Nomor Induk Pegawai (NIP) ke Badan Kepegawaian Negara. Namun, jika CPNS mundur setelah NIP jadi, formasi yang ia tinggalkan otomatis kosong sampai ada seleksi CPNS berikutnya. Itu pun kalau tak ada moratorium.

PNS memang tak selamanya enak. Ada kalanya mengalami hari sibuk penuh meeting seharian (baik internal maupun eksternal). Pulang larut malam karena deadline atau ada pekerjaan yang mendesak harus diselesaikan. Ada juga yang karena rumahnya jauh, pulang kemalaman, ia harus menginap di kantor. Pun tak sedikit yang terpaksa ngantor di hari libur karena tumpukan pekerjaan tak mungkin selesai di hari kerja.

Menjadi karyawan swasta pun saya kira sama. Bahkan pressure, standar, maupun target kerja di swasta bisa jadi lebih berat. Perusahaan dapat men-terminate-kan karyawan sewaktu-waktu karena performanya tak sesuai dengan harapan perusahaan. Sementara PNS, pemberhentiannya tidak semudah membalik telapak tangan karena rigiditas berbagai peraturan.

Tentu semua tergantung jenis pekerjaan dan unit kerja masing-masing. Tak semua atau setiap hari harus begitu juga. Intinya, pekerjaan apa pun pasti butuh kekuatan mental dan stamina. Itu yang belum tentu dimiliki oleh semua orang.

Ada baiknya pertimbangkan baik-baik sebelum melamar sebuah pekerjaan, sebijaksana mungkin. Termasuk memilih CPNS. Jangan melamar karena tren semata atau sekadar memenuhi permintaan keluarga. Setiap orang berhak menentukan masa depan karena diri sendirilah yang akan menjalani. Jika merasa enggan atau sangsi, lebih baik tidak mengikuti seleksi sejak awal.

Pilihlah pekerjaan yang sesuai bakat dan minat sehingga dapat bekerja dengan gembira, potensi diri jauh lebih tergali, dan karier berkembang maksimal. Kebanyakan orang berpikir, kesuksesan di tempat kerja akan membuat mereka bahagia. Padahal, saya yakin yang benar justru sebaliknya: kebahagiaan terhadap pekerjaanlah yang mengantar kita pada kesuksesan. Esensi sebuah pekerjaan sesungguhnya adalah ketika pekerjaan itu memberi nyawa bagi yang menjalani.

Jadi, yakin masih mau jadi PNS?

 

Continue Reading

Drama Klenik dan Jimat CPNS

klenik

Jarum jam memang baru menunjuk angka 06.30 tetapi para peserta ujian sudah bergegas memadati Pusdiklat Kementerian Sekretariat Negara. Itu adalah hari pertama dari enam hari yang dijadwalkan sebagai hari Seleksi Kemampuan Dasar yang diadakan minggu lalu. Wajah-wajah kuyu mereka adalah komposisi antara gelisah, tegang, mata panda, dan lelah.

Namun, ada juga yang (mencoba) terlihat santai dan siap tempur. Sembari menunggu, beberapa terlihat khusyuk membenamkan diri pada buku Super Jitu Lolos Tes CPNS Sistem CAT. Beberapa yang lain mengalihkan ketegangan dengan scroll-scroll linimasa media sosial. Ada juga yang mengobrol melalui pesan singkat di gawai masing-masing. Tak sedikit juga yang menenangkan diri dengan merapal doa.

Ada lima sesi ujian dalam satu hari. Satu sesi membutuhkan kurang-lebih 90 menit. Masing-masing sesi diikuti oleh 120 peserta yang dibagi ke dalam 3 kelas. Peserta hanya diperkenankan membawa kartu peserta ujian dan KTP. Barang-barang yang tidak ada kaitannya dengan ujian, termasuk uborampe, kami minta peserta untuk menyimpannya sendiri di tas masing-masing.

Peserta tak perlu membawa alat tulis. Pensil dan kertas buram sudah disediakan oleh panitia di samping komputer masing-masing. Sebelum tes, peserta kami brief terlebih dahulu agar memiliki pemahaman dan persepsi yang sama tentang sistem ujian, terutama passing grade yang bagi sebagian besar peserta tentu masih asing.

***

Menjadi panitia rekrutmen kalau cuma begitu-begitu doang pasti akan sangat membosankan. Agar tetap semangat dan seru, kami pun memberi julukan kepada diri sendiri dengan tagar layaknya clicktivism di Twitter. Ada banyak julukan, sebenarnya, tetapi biar tulisan ini tak terlalu panjang, hanya sebagian yang akan disebut di sini.

#PanitiaMistis adalah julukan untuk panitia yang kebetulan diberi indra keenam. Mereka bisa melihat barang-barang halus yang tak terlihat oleh mata manusia biasa. #PanitiaMedis adalah julukan bagi paramedis. Berhubung sudah memasuki musim penghujan, harus ada #PanitiaOjekPayung yang siap sedia menjemput peserta yang terjebak di masjid sebelah.

#PanitiaWirausaha diberikan untuk panitia yang punya inisiatif membantu peserta ujian, seperti meminjamkan sepatu, mengelem sepatu peserta yang lepas solnya, meminjami sandal ketika ada peserta yang cedera kaki, sampai membayari tukang ojek yang ditinggalkan begitu saja oleh peserta yang lupa membayar karena saking gugupnya.

Dan #PanitiaRentalKostum untuk panitia yang rela meminjamkan kemeja putihnya bagi peserta yang salah kostum. Jangan salah, ada peserta yang mengenakan blus tanpa lengan. Mau ikut ujian atau ke mall, Non? Sayangnya, sebagian orang memang seolah terlahir dengan sense of belonging melebihi rata-rata manusia lain. Ada peserta yang seperti ini. Kemeja putih yang dipinjamkan oleh panitia, lupa dikembalikan. Biasanya kalau sudah nyaman memang suka begitu, pura-pura lupa.

body-screening-cpns

Banyak kejadian unik, seru, sekaligus emosional selama Seleksi Kemampuan Dasar ini. Berhubung yang paling menyita perhatian warganet adalah tagar #PanitiaMistis, cerita kali ini akan sedikit bercerita tentang hal-hal klenik yang dilakukan oleh peserta ujian CPNS.

Dibanding kementerian lain yang kleniknya cenderung ekstrim, di kementerian kami kleniknya nisbi lebih halus. Saking halusnya, kebanyakan klenik tersebut bahkan tak kasat mata. Mungkin para peserta klenik (sebut saja begitu) sudah belajar dari pengalaman, jimat pasti akan disita oleh panitia. Mereka pun membawa varian lainnya.

Seperti ketika membantu panitia di bagian penitipan barang, saya mengangkat salah satu tas peserta dan berkomentar tas mereka berat-berat. Selain rata-rata berasal dari luar kota, sebagian dari mereka memang pekerja. Barangkali ada yang sengaja membawa pekerjaannya di dalam tas. Ndilalah, panitia lain nyeletuk, “Ya iyalah berat, wong bawaannya pada disimpen di dalam tas.”

Butuh loading selama beberapa detik sebelum saya memahami ‘bawaan’ yang dimaksud adalah barang-barang klenik. Saya meletakkan tas-tas itu kembali ke tempatnya. Kali itu tanpa komentar lagi.

Di salah satu sesi body screening, ada peserta yang kedapatan membawa kain kasa putih. Kain selebar dua ruas jari tangan itu dijahit rapi dan dimasukkan ke dalam saku kemeja.

“Ini apa, Mbak?”

“Oh, cuma kertas biasa, kok.”

“Boleh dikeluarkan?”

“Hm, ini sebenarnya cuma kertas aromaterapi aja, Kak.”

“Tadi katanya kertas biasa, sekarang aromaterapi. Silakan dikeluarkan, kamu simpan di dalam tas. Nggak perlu dibawa ke dalam kelas, ya.”

Aromaterapi yang lain berupa uang Rp100 ribu dengan wangi yang kebangetan. Bagi panitia yang awam, pasti lebih mudah untuk berbaik sangka. Mungkin uangnya tertumpahi minyak nyong-nyong. Tak begitu bagi panitia yang dikaruniai ketajaman mata batin. Hal-hal semacam itu jelas menyangkut bentuk yang di luar kewajaran. Jimat-jimat itu bisa ditemukan di beberapa tempat: ujung sepatu, gesper, ujung kemeja, saku, dan lokasi lain yang (harapannya) sulit dijangkau mata panitia.Di antara peserta yang ditemukan membawa jimat, ada yang keukeuh tak ingin gelangnya dilepas.

“Ini gelang adat, Mbak. Kalau boleh, saya ingin tetap pakai”, katanya.

“Ya silakan saja kalau mau dipakai. Paling nanti juga nggak boleh ikut ujian”, kata panitia body screening.

Mendengar itu, gelang tersebut dilepas juga walau dengan wajah bersungut-sungut.

Gila! Yang tadi gede banget! kata panitia A.

Apanya? tanya panitia B.

Leaknya!

Buset!

Beberapa panitia memang kebetulan bisa melihat apa saja wujud yang dibawa atau menyertai peserta. Bahkan ada drama perang tak kasat mata antara salah satu panitia dan makhluk bawaan peserta yang tidak mau meninggalkan tuannya. Dan ndilalah, peserta itu kok yang sedang saya body screening. Duh! Untungnya tak terjadi apa-apa.

Sempat ada guyonan di antara para panitia, “Sebenernya yang ujian ini bukan cuma pesertanya, dukunnya pun sedang ujian. Semacam uji kompetensi antardukun yang akan menentukan karier dukun itu selanjutnya di bidang perklenikan.”

Kepala Biro kami kebetulan juga dikaruniai penglihatan halus. Sebelum sesi body screening, tumben beliau meminta para petugas mengenakan gloves latex yang biasa dipakai oleh panitia medis. Alasannya supaya tangan tetap steril. Namun, apa yang terjadi seusai sesi body screening adalah horor. Gloves latex salah satu panitia berubah warna menjadi hijau kecokelatan. Sementara gloves panitia lain baik-baik saja.

“Ini karena aku tadi ngelepas bawaannya peserta. Selain kertas aromaterapi tadi, di sesi ini ada juga yang (kleniknya) disimpan di kunciran rambut. Tadi aku sempat raba rambut peserta, kan? Karena ada sesuatu yang sengaja diletakkan di situ.”

Yassalam, sampai segitunya!

***

Klenik sebenarnya bukan hal baru yang harus disikapi berlebihan. Faktanya, kepercayaan terhadap jimat bukan hanya terjadi di Indonesia. Studi yang secara periodik dilakukan di negara-negara Barat tentang hal berbau superstitious/mistis menyatakan, orang Amerika dan Eropa pun melakukan hal yang sama. Artinya, lelaku mistis bukan hanya monopoli orang Indonesia. Bedanya, irasionalitas di negara Barat tidak ditunjukkan/didemonstrasikan ke luar secara terang-terangan walaupun di akar rumput tetap percaya dan melakukannya. Berbeda dengan di Indonesia yang jauh lebih terbuka.

Ketika ada lowongan CPNS, jasa klenik menjadi peluang bisnis musiman yang cukup menjanjikan. Pasar persaingan sempurna dalam bidang perklenikan terbuka lebar. Segmen pasarnya tentu para peserta tes CPNS. Komoditasnya apa lagi kalau bukan janji jaminan lolos tes CPNS tanpa mumet melalui media bernuansa mistis. Ya, the name is also effort, siapa tahu ada yang percaya. Eh, ternyata banyak. Alhamdulillah ya, laku.

Ada salah satu follower di Twitter berkomentar, “Kenapa jimat nggak boleh dibawa ke dalam ruangan ujian, Mbak? Biar aja, sih. Kan jimat termasuk kearifan lokal. Emangnya ngaruh?”

Nah, same question goes to you: kenapa harus membawa jimat, emangnya ngaruh?

Umumnya, orang masih percaya jimat karena jimat memberi efek sugesti, ketenangan, percaya diri. Negatifnya, kepercayaan terhadap hal-hal klenik bisa menimbulkan kemalasan.

Nggak perlu ngoyo usahalah, udah ada jimat ini.

Sistem seleksi CPNS itu sudah sangat rasional, objektif, dan terukur. Seharusnya jimat dan hal-hal klenik supranatural tidak perlu dilibatkan. Selama kita berusaha dan berdoa secara maksimal, apa pun hasil akhirnya, serahkan saja kepada Tuhan. Rasanya itu jauh lebih fair.

Analoginya, kalian pasti akan jauh lebih nyaman dengan pasangan yang mencintai dan menerima apa adanya ketimbang pasangan yang didapat dengan memakai pelet, bukan? Bayangkan saja kalau peletnya kedaluwarsa, belum tentu gambaran asli kalian akan seindah yang dia lihat selama ini. Sama halnya dengan pekerjaan yang diperoleh dengan bantuan jimat. Bagaimana kalau jimat habis masa berlakunya? Karier apa kabar?

Bagi kalian yang serius ingin menjadi Aparatur Sipil Negara, tak perlulah bawa-bawa taring babi, leak, batu akik, kain kafan, biji tanaman ditusuk peniti, atau mengerahkan kekuatan supranatural lain baik yang license maupun yang open source. Modal buat berkarier sebagai ASN adalah kompetensi. Sudah bukan zamannya mengandalkan koneksi, katebelece, apalagi jimat. Memangnya kalau sudah diterima, jimat-jimat itu yang akan menyelesaikan pekerjaan kalian? Terus kalian ngapain? Main Zuma?

Ada hal-hal yang memang perlu dan layak diperjuangkan. Namun, kita tetap harus percaya dengan kemampuan diri sendiri dan kuasa Tuhan. Mencari kerja itu serupa mencari jodoh. Kalau memang pekerjaan itu ditakdirkan dan baik untuk kita, ya be it. Kalau tidak, there will be the one yang memang terbaik untuk kita.

 

sumber ilustrasi dari sini dan dokumentasi pribadi

Continue Reading

Balada Panitia CPNS

Halo, ada yang kangen sama saya nggak? ;;). Haduh, sebelumnya maafkan saya kalau lama sekali tidak meng-update blog lantaran kesibukan menjelang pengadaan CPNS. Sebenarnya ada ide buat nulis tapi namanya nulis kalau nggak  konsen hasilnya malah kurang nendang. Halah ;)). Iya, jadi mulai awal bulan November 2010 ini sampai dengan puncak pengadaan CPNS tanggal 15 November 2010 kemarin biro saya memang lagi sibuk-sibuknya. Maklum, ini memang hajatan tahunannya biro saya. Selama beberapa hari kami pulang diatas pukul 19.00 untuk mempersiapkan segala sesuatu berkenaan dengan pengadaan CPNS. Pegel? Iyalah.. :-< . Tapi seru kok 😉

Pengadaan CPNS tahun ini memang sedikit berbeda dengan waktu penerimaan CPNS jaman angkatan saya. Kalau sebelumnya semua masih serba manual termasuk pendaftarannya, tahun ini sudah dilakukan via online. Hanya saja untuk pengambilan kartu ujian peserta yang dinyatakan lulus verifikasi berkas memang harus datang sendiri. Jaman saya kemarin juga begitu, tapi seluruh proses pendaftarannya masih manual, jadi harus datang sendiri. Bisa dibayangkan betapa hiruk pikuk dan sibuknya sibuknya Pusdiklat waktu itu kalau ada hajatan tahunan penerimaan CPNS.

Nah, sebenarnya saya nggak langsung terjun jadi petugas verifikasi, karena saya harus standby di kantor. Tapi ada kesempatan ketika saya harus ke Krida Bhakti (venue tempat melakukan verifikasi dokumen) dan sempat bantu-bantu sedikit disana. Ada hal menarik ketika melakukan proses verifikasi kemarin. Datanglah seorang peserta untuk verifikasi berkas asli ke meja kami berdua (kebetulan saya bagian yang stempel kartu ujian, teman saya bagian verifikasi berkas) :

Peserta : “Pak, kan fotonya seharusnya 3 lembar, tapi saya hanya punya 2 lembar, yang 1 lembar kaya gini boleh nggak, Pak?” –> dia mengulurkan sebuah foto dengan beberap bekas cap stempel dibawah dan disamping foto.

Teman : “Lho, lha kok foto bekas gini? Yang masih baru emang nggak ada?”

Peserta : “Nggak ada Pak. Tapi kalau hitam putih saya bawa sekarang. Boleh nggak, Pak?” –> sambil membuka tas ransel lusuhnya.

Saya : “Kan di persyaratannya kemarin disebutkan kalau foto berwarna dan berlatar belakang merah, Mas..”

Peserta : “Iya, Mbak.. Tapi saya nggak punya.. 🙁 “

Saya : “Atau gini aja, masnya coba afdruk dulu ke depan situ, kita disini masih sampai jam 15.00 kok..”

Peserta : “Mmmmh.. iya, tapi gini Mbak, Pak.. uang saya ngepres, tinggal sepuluh ribu..” —> dia mukanya memelas banget, sambil menatap kami bergantian.

Saya : “Emang Mas ini rumahnya dimana?”

Peserta : “Rumah saya di Pekalongan, saya baru datang tadi pagi dan langsung kesini..” –> nunduk 🙁

Makjleb! Andai saya ke Krida Bhakti bawa dompet, insyaallah saya akan bantu tapi sayangnya kok ya pas nggak bawa :(. Untunglah teman saya memberikan kebijakan boleh mengumpulkan  kekurangan fotonya nanti sebelum ujian tanggal 15 November 2010.

Nah, entah dimana salahnya sepanjang siang sampai sore saya layaknya petugas callcentre yang menerima telepon dari mana-mana menanyakan sampai jam berapa bisa mengambil kartu ujian dan verifikasi dokumen. Padahal sebenarnya di website sudah ada. Tapi ternyata ada banyak calon peserta yang missed dengan tanggal yang telah ditentukan sementara posisi mereka masih ada yang di Surabaya, Bandung, Yogyakarta, bahkan ada yang masih di Riau padahal waktu sudah menunjukkan pukul 14.15 wib, yang berarti tinggal 45 menit lagi menuju pukul 15.00 wib (waktu terakhir verifikasi & pengambilan nomor ujian) #-o.

Sebagaimana penyelenggaraan test CPNS di tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan kali ini pun diadakan di Tennis Indoor Senayan. Pukul 07.00 wib venue sudah mulai disibukkan dengan mulai hadirnya peserta dan tentu saja kami, para panitia yang hari itu ber-dress code batik tampak sudah mulai hilir mudik di arena & tribun, berkumpul untuk melakukan briefing sebelum penyelenggaraan ujian.

sebagian kecil panitia.. (yang narsis saja tentunya) :p

Alhamdulillah, penyelenggaraan ujian yang diadakan mulai pukul 08.30 – 13.30 wib berjalan lancar. Jumlah peserta yang mengikuti ujian sekitar 980 peserta dari total 4430 pelamar, yang terdiri dari S-1, D3 dan SMK. Walaupun di awal-awal ujian sempat ada beberapa calon peserta yang ternyata datang tapi belum melakukan verifikasi dokumen sehingga sayang sekali mereka tidak dapat mengikuti ujian, walaupun mereka dinyatakan lolos seleksi administratif tapi kalau ternyata missed di salah satu tahapan tentu akan membuat mereka jadi kurang memenuhi syarat.


persiapan

pelaksanaan ujian CPNS

Jadi, demikianlah teman-teman, kesibukan saya selama hampir sebulan ini. Ceritanya cuma “segini” ya, padahal kalau dijabarkan lagi bisa lebih lho :D. Nah, kalau saya nggak update selama beberapa minggu ini bukan karena saya males posting, tapi memang lagi sibuk beneran.. –> gaya ;)) *pijit-pijit kaki*. Jadi, siapa yang mau bantuin pijit tangan sama kaki saya? *tetep pakai high heels* :p

 

 

dokumentasi pribadi

Continue Reading

Namanya Juga Usaha..

Cara penerimaan pegawai itu ada beberapa macam. Ada yang secara manual : kirim lamaran via pos, atau datang langsung sekaligus interview dengan user (walk in interview). Ada juga yang secara online dengan mengisi form via internet. Untuk seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) kebanyakan sudah melalui sistem online, hanya waktu pemberkasan saja yang memang diharuskan untuk datang langsung.

Proses penerimaan calon pegawai negeri sipil memang berbeda dengan swasta yang bisa sewaktu-waktu bisa memasukkan aplikasi lamaran. Kalau penerimaan cpns hanya dilakukan di waktu-waktu yang telah ditentukan oleh masing-masing kementerian/departemen saja. Tapi itu pun masih sering seseorang yang tetap mengirimkan lamaran walaupun belum ada penerimaan lagi. Via pos dan tak jarang juga disampaikan secara langsung ke Biro Kepegawaian. Kalau di instansi tempat saya bekerja, banyak surat lamaran yang ditujukan langsung ke Presiden RI atau Menteri. Bahkan ada lho seorang teman yang saya baru ngeh kalau itu teman saya di Telkomsel gara-gara baca surat lamaran & lihat fotonya, ternyata dia mengirimkan ke alamat.. Cikeas ;)). Lha ya ngapain coba? Ya jawaban yang kita berikan pun akan standar, para pelamar yang terlanjur mengirimkan lamaran akan diminta mengikuti prosedur penerimaan calon pegawai negeri sipil jika formasi yang dibutuhkan sudah ada.

Tapi kemarin saya sempat baca surat lamaran yang lumayan membuat trenyuh. Surat lamaran seorang bapak yang telah mengabdi menjadi seorang pelayan di sebuah instansi di Surabaya selama 10 tahun & berstatus sebagai pegawai outsource yang kontraknya diperpanjang setiap tahun. Kalau dia bukan seorang lulusan sarjana mungkin orang akan maklum ya. Lha tapi ini dia kebetulan adalah seorang sarjana strata 1 yang seharusnya bisa mendapatkan karir yang jauh lebih baik daripada menjadi seorang pencuci piring kan? Itu yang membuat saya heran sekaligus penasaran. Apa ya yang membuat dia bertahan menjadi seorang pencuci piring selama puluhan tahun? Skill? Kemauan? Percaya diri? Saya yakin selama itu dia bukan nggak pernah berusaha. Pasti dia sebelumnya sudah mencoba mencoba kesana kemari sebelum akhirnya dia “mengabdikan diri” sebagai seorang pelayan.

Saya nggak bilang kalau profesi pelayan itu nggak layak lho ya. Tanpa mereka kadang pekerjaan kita juga keteter. Tapi kalau dibandingkan dengan latar belakang pendidikannya kok sayang ya. Bukankah akan lebih baik jika dia memilih karir yang sesuai dengan tingkat pendidikannya? Apalagi dia sudah berkeluarga & memiliki 1 anak. Seharusnya ada lebih banyak peluang yang bisa dia dapatkan di luar sana. Sebenarnya ada banyak pemikiran yang melintas di pikiran saya waktu membaca surat lamaran itu. Ada banyak kenapa & kalimat tanya disana. Hmm… 😕

Kalau mau, kita nggak harus jadi pegawai. Banyak ahli yang menyarankan kita untuk berwirausaha, karena (kalau kita niat & ulet) hasilnya akan lebih besar daripada jadi pegawai kantoran. Tapi sayangnya memang nggak semua bisa menjalani itu dengan sempurna. Karena selain dibutuhkan waktu, kemauan, keuletan, juga modal yang cukup (lihat-lihat jenis usaha yang dibuka). Nah, kalau kebetulan ada peluang usaha yang bisa dikembangkan jadi usaha yang lebih besar kenapa nggak dicoba?

Terlepas dari itu semua, selain tetap berusaha untuk meraih kehidupan yang lebih baik tentu harus tetap bersyukur dengan apa yang telah kita dapatkan & jalani sekarang. Karena di luar sana ada banyak sekali yang kehidupannya jauh dibawah kita..

Continue Reading

Selamat Ulang Tahun!

Sepertinya ulang tahun saya yang kesekian ini jadi moment yang langka & cukup bersejarah dalam kehidupan saya deh. Bagaimana tidak, saya merasakan yang namanya ulang tahun di kantor orang & dalam moment yang bersejarah dalam sejarah karir saya. Ya, tepat di tanggal 2 Juni kemarin saya memasuki usia yang ke 17 tahun. Uhuk!! ;;). Kalau kata teman saya, “heu, 17 tahun? Maksudnya 17 tahun cahaya?”. Buset dah :)). Ya baiklah, usia saya bertambah 1 tahun & mengurangi jatah usia hidup saya di dunia selama 1 tahun juga.

Awalnya saya pengen banget merahasiakan ulang tahun saya, karena kalau kata senior-senior saya di kantor, siapa yang ulang tahun tepat pas prajabatan bakal dikerjain habis-habisan. Ya jelas jiper dong saya. Terbukti saya berdoa melulu di twitter.. maksudnya berharap semoga nggak akan dikerjain terlalu heboh aja. Kualat deh yang ngerjain saya, secara saya senior disitu, kecuali sama fasilitator/trainer BPS sih. mereka jelas jauh lebih tua daripada saya ;)). Tapi kok ya beberapa hari sebelumnya para widyaiswara (sebutan untuk trainer) sudah notice kalau saya berulang tahun tanggal 2 Juni nanti. Jadi ya sudahlah ya saya pasrah aja, apalagi sudah diumumkan pula di depan kelas.

Pagi harinya saya ya seperti biasa aja gitu. Suami & beberapa teman sudah mengucapkan secara spesial tepat di pukul 12 malam. Kalau keluarga saya sih biasanya pagi. Pas di kelas pun juga nggak yang terlalu heboh gimana gitu, paling mereka pada ngucapin, “Selamat Ulangtahun ya mbak..semoga..bla3x”. Udah itu doang. Tapi ada 1 sesi yang mengharukan. Ketika salah satu widyaiswara hari itu mengajak teman-teman sekelas untuk menyanyikan lagu Happy Birthday buat saya, wogh..asli saya pengen nangis. Nggak nyangka kalau lagu Happy Birthday terasa begitu sakral & mengharu biru buat saya saat itu.

Saya juga nggak menyangka bakal ada kejutan-kejutan lain yang disiapkan oleh teman-teman. Wong siang sampai sore mereka berlaku wajar. Hanya saja ada satu hal yang mengherankan & sempat membuat saya sedikit curiga :D.Biasanya kalau makan malam, semua pasti kumpul di ruang makan secara lengkap, nggak ada satu pun yang keluar asrama. Lha ini kok pada ngilang satu-satu. Kalau ditanya ada yang mau beli satelah, beli sabunlah, belanjalah, ke ATM-lah. Intinya jumlah teman saat itu yang makan malam di ruang makan berkurang drastis. Heran banget dong. Tapi saya nggak mau GR ah, secara saya juga sedang menunggu kiriman kue tart dari suami saya yang mau kita makan bersama-sama, gitu.. ;;)

Tak lama setelah makan malam, suami saya datang membawakan sebuah kue tart lengkap dengan lilinnya, plus 3 kotak donat J-Co. Akhirnya saya merayakan ulangtahun saya secara sederhana dengan makan tart blackforest dan anek donat bersama teman-teman. Setelah makan tart & foto-foto kita kembali ke alam..eh kamar masing-masing. Saya pun siap tidur. Tapii, sekali lagi ada yang aneh dengan gerak-gerik teman sekamar saya. Yang satu keluar kamar, katanya mau ke kamar sebelah, yang satu lagi mendadak mandi. Intinya saya sendiri yang siap mau tidur.

Tiba-tiba, pas sudah mau merem, terdengar ketukan pintu didepan kamar saya. Ah males banget deh aslinya, soalnya kan sudah PW (posisi wenak) banget itu. Akhirnya ya sudahlah saya buka pintunya..dan..

“HAPPY BIRTHDAAAAYY..!! <:-P, seru semua teman di depan kamar saya.

Satu pan pizza ukuran besar ada di depan saya. Saya pun diberi mahkota balon khas ala Pizza H*t & ketigapuluh sembilan teman saya lengkap menyanyikan lagu Happy Birthday lagi buat saya. Wow, lagi-lagi saya surprise banget <;D. Nggak nyangka mereka menyempatkan untuk merencanakan sebuah kejutan manis buat saya.

Makasih buat kejutan indahnya ya teman-teman. Makasih juga buat doanya. Semoga hal baik yang sama juga buat kalian semua ya.. Yang jelas, kenyang sekali saya malam itu. Sumpah ;))

Love you all, guys.. :*. Lagu favorit saya ini buat kalian yah.. 😉

dokumentasi pribadi

Continue Reading