Mendadak Dirigen

Paduan Suara Lembaga Kepresidenan

Menjadi dirigen sebenarnya bukan hal baru bagi saya. Sejak di Sekolah Dasar saya sering ditunjuk sebagai dirigen di setiap upacara bendera atau lomba paduan suara antarsekolah.

Saya pikir, menjadi dirigen sudah berhenti sampai di bangku sekolah saja. Tapi ternyata, sampai saat ini saya masih sering diminta untuk menjadi dirigen di acara-acara yang mengharuskan audience menyanyikan lagu Indonesia Raya secara acapella (tanpa iringan musik).

Sebenarnya saya sendiri bukan anak paduan suara. Dulu zaman masih sekolah, ketika diminta memilih ekstrakurikuler, sekalipun ada opsi paduan suara, saya selalu mengambil ekstra kurikuler lainnya. Bahkan di kantor pun, ada paduan suara (Paduan Suara Lembaga Kepresidenan), saya juga tidak pernah bergabung secara resmi di sana. Sampai akhirnya, di pertengahan November 2017, ada sebuah momen di mana secara tidak langsung mengajak saya bergabung dengan paduan suara kantor untuk yang pertama kalinya.

Jadi ceritanya, ada undangan lomba paduan suara antar kementerian/lembaga dalam rangka peringatan HUT Ke-46 KORPRI yang akan diselenggarakan di Balairung SoesiloSoedarman, Kementerian Pariwisata pada tanggal 21 November 2017. Sebenarnya dirigen reguler sih sudah ada, tapi karena alasan tertentu beliau memilih untuk menyanyi, sehingga teman-teman paduan suara meminta saya untuk men-support kegiatan ini dengan cara menjadi dirigen. Semacam dirigen caburtan, gitu.

Antara ragu dan yakin, saya mengiyakan. Ya, anggap saja tambah pengalaman. Walaupun sudah sering tampil di mana-mana, namun lomba ini merupakan lomba pertama yang diikuti oleh Paduan Suara Lembaga Kepresidenan.

Jujur, dalam hati sih, saya agak ragu melihat persiapan yang sangat minim ini. Bagaimana tidak, di tengah waktu latihan yang super mepet, ditambah dengan personel yang minimalis pula lanaran banyak yang sedang dinas luar kota, kita tetap harus tampil maksimal. Ya, walaupun tidak ada tuntutan tertentu dari kantor, tapi tetap saja, namanya pergi dengan membawa nama instansi pasti ada beban tersendiri.

Lagu yang wajib dibawakan di babak penyisihan adalah Mars Korpri. Pssst, walaupun saya sudah jadi PNS selama kurang lebih 9 tahun, belum pernah menghafalkan Mars Korpri, lho. Ya kalau sekadar dengar sih pasti pernah, ya. Setahun sekali, itu pun ketika upacara peringatan Hari Korpri di kantor.

Berbekal video di youtube, saya menghafal lirik dan lagu Mars Korpri di mana pun saya berada. Di mobil, di ruangan, di atas motor ojek online, di kamar mandi, di mana pun, demi mengejar ketertinggalan saya. Saya sempat berseloroh begini, “mungkin Tuhan ingin saya hafal Mars Korpri dengan cara seperti ini, ya. Hiks…” Hihihihik. Saking mepetnya waktu, Pemirsa.

Di hari H, kami tampil apa adanya, nyaris tanpa beban, menyanyi saja. Semacam sadar diri karena keterbatasan personel dan waktu yang kami miliki. Tapi tentu itu bukan alasan untuk tidak tampil maksimal, bukan?

Setelah menghitung komposisi nilai, dewan juri yang terdiri dari Marusya Nainggolan, Sujasfin Judika Dewantara Nababan, dan Joseph Suryadi, akhirnya mengumumkan 10 besar penampil yang berhak maju ke babak final, tanggal 23 November 2017.

Alhamdulillah, kami dinyatakan sebagai salah satu peserta yang masuk final. Keputusan yang sebenarnya dua sisi mata uang. Antara senang dan deg-degan. Senang karena masuk final, deg-degan karena kami belum tahu mau nyanyi lagu apa di 2 hari berikutnya, hahaha… Parah, ya? Emang…

Long story short, di babak final ini kami diminta untuk menyanyikan lagu daerah atau perjuangan. Setelah melalui perdebatan dan drama ini itu, akhirnya… taddaa… kami pun memilih lagu Indonesia Jaya, dengan menggunakan kostum baju adat berbagai daerah di Indonesia seperti dari Papua, Bali, Sumatra Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan,NTT, dan Aceh. Berasa mau ikut karnaval. Tapi seru, sih. Jarang-jarang pakai kostum begini, kan?

Nah, di babak final inilah kami pasrah sepasrah-pasrahnya. Apapun keputusan dewan juri pastilah itu yang paling baik dan paling objektif. Di sesi ini banyak peserta yang tampil bagus dan all out! Sepertinya mereka memang sudah mempersiapkan ikut kegiatan ini sejak jauh hari, sudah terbiasa ikut lomba, dan tampil dimana-mana. Jadi kalau peserta lainnya sudah siap dengan materi yang nyaris sempurna sepertinya tidak perlu terlalu heran, ya.

Di setiap pertandingan/perlombaan pasti akan ada yang menang dan ada yang kalah. Dan setiap usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Tahun 2017 masih belum menjadi tahun keberuntungan bagi Paduan Suara Lembaga Kepresidenan di ajang lomba paduan suara. But, it is a good start. Tetap bisa kami terima dengan besar hati, kok. Berhasil masuk final tanpa latihan yang maksimal itu saja sudah bonus luar biasa bagi kami. Jadi kalau misalnya belum menang karena keterbatasan ini itu ya harus mau tidak mau harus diterima dengan legawa. Mungkin tahun depan bisa lebih baik lagi, asalkan persiapannya jauh lebih baik dan lebih matang lagi dari pada tahun ini.

Saya juga bersyukur mendapatkan kesempatan, ilmu, dan teman-teman baru di Paduan Suara Lembaga Kepresidenan ini. Sebuah kehormatan juga bagi saya dipercaya menjadi seorang dirigen.Bayangkan saja, saya bukan anggota paduan suara, yang jelas tidak pernah ikut latihan sama sekali, lagunya pun saya baru tahu menjelang lomba, tapi tiba-tiba dipercaya untuk memimpin teman-teman yang sudah senior, dan sudah sering latihan sebelumnya. Kalau bukan karena percaya, saya tidak akan berdiri di panggung yang sama bersama mereka.

Sekali lagi, terima kasih untuk kepercayaan kalian, guys! Semoga paduan suara ini kelak menjadi paduan suara yang lebih solid dan keren lagi ke depannya. Aamiin…

 

 

Foto: Humas Setkab

Continue Reading

Busy November

Tak terasa bulan November sudah berlalu di depan mata, dan sekarang ‘tiba-tiba’ sudah masuk bulan Desember aja. Kalau dipikir-pikir waktu setahun itu kok ya cepet banget, ya?

November kemarin jadi bulan sibuk bukan hanya buat saya tapi juga buat kantor. Jadi kalau November kemarin saya sama sekali tidak posting apapun di blog ini harap dimaklumi ya, hiks…

Sejak awal bulan sudah digeber dengan diklat Kehumasan, dilanjut dengan dinas-dinas, ngemsi-ngemsi, dan lomba-lomba. Kalau soal penggunaan suara pokoknya di bulan November itu maksimal banget, ya MC indoor, ya MC outdoor, ya nyanyi indoor, ya nyanyi outdoor, ya MC acarA formal, ya acara lomba aerobik yang pakai teriak, “AYO SUARANYA MANAAAA?!’ Pokoknya MC serbagunalah, emang gedung doang yang serbaguna? Hahaha…

Eh, trus, kok tumben ada lomba-lombanya? Iya, sebenarnya setiap bulan November itu diperingati sebagai hari ulang tahun KORPRI. Kebetulan tahun ini KORPRI berulang tahun yang ke-44. Setelah dua tahun lamanya berhibernasi, dan jauh dari keriaan, tahun ini ulang tahun KORPRI kembali diperingati dan diramaikan dengan berbagai lomba olah raga dan seni.

Kalau dilihat dari jenis lombanya, sudah jelas saya bukan partisipan lomba olah raga. Lha wong senam rutin tiap hari Selasa dan Jumat saja saya skip melulu, apalagi ikut lomba olah raga beneran. Sudah bisa ditebaklah saya ikut lomba apa. Iya, saya memeriahkan lomba menyanyi saja. Itu pun alhamdulillah, nggak menang; cuma sampai 9 besar saja, hahaha. Eh, tapi jujur, saya malah bersyukur dengan kekalahan itu karena justru mengurangi beban saya sendiri. Bayangkan saja, saya di-booking sebagai MC acara puncak peringatan HUT KORPRI di lingkungan kantor saya sejak awal November, dan rencananya para pemenang lomba menyanyi harus tampil di atas panggung untuk memperdengarkan suaranya. Sedangkan saya dan teman-teman band saya pun sudah dimasukkan dalam list penampil. Masa iya, saya yang ngemsi, saya juga yang tampil menyanyi solo, plus tampil bersama teman-teman band saya. Kok rasanya eksis amat, ya? Itulah kenapa saya malah bersyukur ketika saya tidak dinyatakan sebagai pemenang lomba menyanyi.

Saya mau cerita sedikit tentang lomba menyanyi kemarin ya. Ini adalah lomba menyanyi kedua yang saya ikuti di lingkungan kantor. Anggap saja lomba tingkat abal-abal, karena memang yang ikut ya para pehobi nyanyi saja, bukan yang pro. Saya sebenarnya sudah tidak mau ikut, tapi berhubung ada disposisi atasan yang meminta saya untuk ikut jadi ya sudahlah, saya ikut saja, itung-itung memeriahkan.

Di babak semifinal/penyisihan, rencana yang ikut sih sekitar 90 peserta yang terbagi dalam 2 sesi lomba. Lomba pertama diadakan di hari Jumat, 19 November 2019, dan sesi kedua diadakan di hari Senin, 23 November 2015, yang masing-masing terdiri dari 45 peserta, walaupun pada kenyataannya banyak peserta yang mengundurkan diri karena kegiatan kedinasan. Jadi, sepertinya sih jumlah pesertanya tidak sampai 90 orang.

Dua hari menjelang hari H, saya masih galau mau menyanyikan lagu apa. Hingga akhirnya pilihan lagu saya jatuh pada My Cherrie Amour-nya Stevie Wonder. Entahlah, mungkin suara saya cocok menyanyikan lagu-lagu lawas nan klasik macam begitu, karena di lomba 2 tahun sebelumnya pilihan lagu saya pun tak jauh dari lagu lama, Somewhere Over The Rainbow.

Juri lomba kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini ada 3 juri yang diambil dari luar, jadi harapannya bisa lebih netral dalam menentukan para calon finalis dan pemenang nantinya. Ya sudahlah, nothing to lose saja, kalau sudah rezeki tak akan ke mana kok.

Dan, tadaaa! Saya dinyatakan masuk final dan harus memilih salah satu di antara 25 lagu pilihan. Saya kembali galau. Masalahnya adalah, lagu-lagu itu tidak ada yang saya suka, hihihihik. Tapi ya sudahlah, ketika sesi pengambilan nada, pilihan saya jatuh ke lagu Kaulah Segalanya milik Ruth Sahanaya, tapi kata panitia lagu itu sudah dua orang yang memilih, jadi mereka menyarankan untuk memilih lagu yang lain. Nah, rempong lagi nih judulnya, padahal jiwa raga saya sudah siap menyanyikan lagu Kaulah Segalanya. Sampai akhirnya, pilihan saya jatuh pada lagu lamanya Rafika Duri, Tirai. Beuh, lawas banget! Ya sudah, biar nggak lawas-lawas banget dan terdengar lebih catchy, saya meminta untuk diversikan bossanova saja, sama seperti lagu Tirai di album Rafika Duri yang bertajuk Romantic Bossas, yang diaransemen ulang oleh Tompi.

Di hari H, modal saya hanya do my best, karena tak disangka ternyata bapak-bapak saya beserta teman-teman semuanya hadir memberikan dukungan. Antara haru dan seru, karena ternyata sayalah satu-satunya yang mewakili satuan kerja Sekretariat Kementerian dan Kedeputian, selebihnya adalah perwakilan dari Sekretariat Militer Presiden, Sekretariat Kabinet, Sekretariat Presiden, Sekretariat Dewan Pertimbangan Presiden.

Beda dengan lomba terdahulu. Dulu, mau dengar pengumuman saja saya deg-degan luar biasa, hahaha. Sekarang, biasa saja. Mungkin karena tidak ada beban. Jadi ketika diumumkan bahwa yang menjadi juara 1 dari Sekretariat Militer Presiden, juara kedua dari Sekretariat Presiden, dan juara ketiga dari Sekretariat Kabinet, saya sangat-sangat legowo. Kalaupun kekalahan saya itu salah satunya karena lagu yang saya bawakan bukan versi aslinya, hmmm… dalam bayangan saya nih ya, selama saya tidak menyalahi ketentuan yang ada di dalam rule of the game, ya seharusnya sah-sah saja memodifikasi aransemen lagu. Toh, di berbagai lomba pencarian bakat juga lagu-lagunya selalu diaransemen ulang menjadi lagu yang punya sentuhan baru.

Tapi ya, bagaimana pun keputusan juri adalah mutlak, dan pastinya sudah ada pertimbangan tertentu kenapa Si A, Si B, Si C jadi juara. Walaupun keluar dari aula Pak Deputi ngomel-ngomel karena keputusan dewan juri yang dianggap aneh, saya cuma bisa cengengesan. Ya jelas ngomel dong, kan perolehan medalinya jadi makin ketat sama Setmil dan Setpres, hahaha…

Teman-teman band saya cuma haha-hihi saja melihat vokalisnya malah kalah, hahahaha. Nggak ding, mereka tetap support kok.

Him: Are you sad?

Me: Eh, nggak dong…

Him: Lomba nggak jelas itu. Juri yang bener itu ada di penonton. Lagian penyanyi yang bener itu bukan cuma suara, mental sama attitude juga. Lagian, kamu udah nggak levelnya ikut lomba-lomba kaya gitu, Mbak…

Eh, makasih lho support-nya. Sorenya pas ketemu mereka buat persiapan tampil tanggal 29 November 2015 di acara pucak peringatan HUT KORPRI, saya pun habis diledekin mereka.

“Eh, kamu ntar nyanyi Lost Star-nya Adam Levine aja… Bintang yang kalah…”

Asyem! Hahaha…

 

 

PS: foto-fotonya menyusul aja deh. Tapi kalau mau sekadar kepo bisa diintip di instagram ya..

Continue Reading

The Final Result!

Sebelumnya maafkan saya yang hampir sebulan belum mengupdate blog. Kali ini bukan karena alasan malas ataupun sibuk, melainkan masalah teknis di blog. Jadi, berhubung blog saya yang di http://devieriana.com sedang mati suri jadilah saya posting di blog lama saya di http://devieriana.wordpress.com dulu. Mumpung ceritanya belum basi-basi banget jadi ya disempatkan share deh. Yang jelas saya ingin berbagi cerita tentang apa yang sudah saya lalui dalam sebulan ini 😀

Tentu teman-teman masih ingat dengan postingan One Step Closer menuju Grand Final Desain Seragam Pramugari Citilink yang lalu, kan? Nah, tanggal 7 November kemarin adalah acara puncaknya. Acara itu diadakan di Planet Hollywood dan dihadiri oleh para undangan, manajemen Garuda Indonesia, Citilink, awak media cetak dan elektronik.

Saya sengaja mengambil cuti, khusus untuk mempersiapkan acara itu, karena memang nggak mungkin kalau hanya izin masuk setengah hari atau baru join di acara pas sudah pulang kantor. Beberapa hari sebelumnya saya masih ribet dengan pembuatan storyboard bersama Gum. Ah, saya harus banyak berterima kasih pada Gum yang sudah bersedia meluangkan waktu seharian penuh bersama saya di Kopitiam Oey dekat rumah saya untuk menyelesaikan konsep storyboard yang sesuai dengan apa yang saya mau. Padahal awalnya masih bingung, storyboard ini mau dibikin kaya apa. Tapi last minutes akhirnya kepikiran juga konsepnya mau seperti apa. Makasih ya, Gum *hugs*. Kapan-kapan kita bikin storyboard lagi ya ;))

Acara Grand Finalnya sendiri berlangsung pukul 19.00, tapi pukul 9 pagi seluruh kru dan pendukung acara wajib hadir untuk persiapan dan General Repetition/Rehearsal (GR). Kami, para finalis, berkumpul pukul 11.00 untuk melakukan latihan tampil diatas panggung bersama para model dan pramugari. Baru kali ini saya merasakan tampil bersama model beneran diatas panggung. Dulu, saya hanya menangani persiapan di backstage, dan memastikan semua model tampil sesuai dengan konsep yang ingin ditampilkan.

Jangan tanya apa yang berkecamuk dalam pikiran saya hari itu, yang jelas semua sudah saya pasrahkan sama Yang Diatas untuk apapun hasilnya nanti. Karena sampai 4 besar saja buat saya sudah keajaiban banget, mengingat saya sama sekali belum pernah ikut lomba desain semacam ini. Kalau pun dulu pernah ikut hanya sampai tahap penyisihan saja, nggak sampai ke tahap perwujudan desain dalam bentuk mock up.

Sekitar pukul 15. 00 saya, Rico, dan Dinda, keluyuran di Plaza Semanggi untuk merapikan rambut dan lalu kembali ke lokasi untuk mengadakan persiapan lebih lanjut. Ternyata Tina sudah rapi dengan tampilan make up yang soft hasil karya Mbak Irey, salah satu anggota tim Fortune PR :D. Sementara Dinda yang gantian ditangani oleh Mbak Irey, saya memilih untuk merapikan make up saya sendiri, biar sama-sama selesai tepat waktu, gitu 😀

Sekitar pukul 16.00 Mbak Era Soekamto beserta tim datang membawa revisi mock up kami dalam keadaan sudah fix dan rapi terseterika lengkap dengan gantungan yang bertulis nama masing-masing pramugari/model yang akan membawakan rancangan kami.

Jujur saya gugup, dan nyali saya langsung ciut ketika melihat hasil revisi teman-teman finalis yang lain yang mendadak langsung jadi ok. Hingga akhirnya muncul kepasrahan dalam diri saya. Posisi apapun yang akan saya raih malam ini, akan saya terima dengan besar hati. Sama sekali nggak berani berharap apa-apa, karena sudah ciut nyali duluan 😀 Whatever will be, will be, deh…

Hingga akhirnya satu jam sebelum acara, dan dentuman musik itu dimulai, kami berempat pun mulai merapat ke tempat perhelatan acara. Kami berempat duduk di pojok, depan panggung, dekat dengan meja dewan juri. Acara di awali dengan pemutaran video profile para finalis. Gimana rasanya melihat wajah sendiri tampil di giant screen? Aneh dan malu ;)) Dilanjutkan dengan sambutan dari Mr. Con Corfiatis tentang acara ini. Makin deg-degan ketika kami berempat dipanggil untuk segera ke belakang panggung, menyiapkan diri untuk tampil bersama para model dan pramugari diatas panggung. Dari layar LCD di backstage kami melihat Bapak Elisa Lumbantoruan, Mbak Era Soekamto, dan Mr. Con Corfiatis dengan mengadakan sesi tanya jawab sekaligus press conference dengan awak media cetak dan elektronik yang hadir disana.

And, here we go! Satu persatu nama kami pun dipanggil. Diawali oleh penampilan Dinda Pertiwi bersama 3 modelnya, dilanjutkan dengan saya, Rico Tuerah, dan Nurlaela Tinambunan. Ini adalah untuk pertama kalinya saya tampil kembali diatas panggung selain untuk pementasan tari. Setelah fashion show, kami pun kembali duduk di tempat kami masing-masing untuk menyaksikan kembali acara selanjutnya, yaitu peragaan flight safety demo yang diperagakan oleh para pramugari Citilink dalam balutan busana yang kami rancang.

Acara selanjutnya adalah final meeting by judges, yang terdiri dari Mr. Con Corfiatis, Bapak Elisa Lumbantoruan, Mbak Era Soekamto, dan Mbak Flo dari Citilink. Saat itu saya sudah pasrah. Apapun hasil yang akan saya dapatkan di atas panggung nanti pasti itu yang terbaik yang berhak saya terima. FYI, desain yang masuk ke panitia sejak pendaftaran dibuka hingga pendaftaran ditutup adalah sebanyak 132 desain. Seperti Mbak Era bilang pada kami sesaat sebelum acara dimulai,

“kalian itu sebenernya sudah menang. Bayangkan dari 132 desain yang masuk, kalian mampu lolos hingga ke tahap 4 besar. That was so great! So, good luck for all of you! ;)”

Oh ya, malam itu pemenang favorit pilihan media jatuh pada Rico Tuerah yang kebetulan jumlah vote-nya sama persis dengan saya dan Tina. Namun berdasarkan tepuk tangan yang paling meriah akhirnya pilihan media jatuh pada Rico. Jiyeee, Rico.. menang deh! \:D/

Detik-detik yang menegangkan itu pun akhirnya tiba. Kami berempat kembali ke backstage untuk berkumpul dengan para model yang semua badannya sudah tertutup jubah hitam bertuliskan tanda tanya besar berwarna putih. Terkesan misterius, ya? 😀 Akhirnya kami berempat pun kembali diatas panggung untuk mulai deg-degan. Hyuk mari…

Saat juri mengumumkan juara ke-4 dan mulai berputar-putar mengelilingi kami, saya sudah GR bahwa mungkin sayalah yang akan menyandang sebagai gelar juara ke-4. Tahu nggak, rasanya deg-degan banget, jadi ikut merasakan, “oh, ternyata gini ya kalau pemilihan Puteri Indonesia, kan jurinya juga muter-muter” :)) . Ketika Mbak Flo membuka salah satu jubah model dan terdengar tepuk tangan riuh ternyata juara 4 jatuh pada desain Tina, dan Tina berhak atas hadiah plakat dan 3 free ticket kemana saja by Citilink berlaku selama 3 bulan. Selamat ya, Tina ;). Nah, tinggallah kami bertiga, saya, Dinda, dan Rico yang mules di atas panggung.

Untuk menentukan juara ke-3 Mbak Era Soekamto yang kali ini berputar-putar, menelusup, berjalan diantara kami bertiga. Dan akhirnya.. TARAAAA! Salah satu jubah model Rico ternyata yang dibuka, dan dengan demikian Juara ke-3 Lomba Desain Seragam Pramugari Citilink jatuh kepada Rico Lambert Tuerah, dan Rico berhak atas 3 free ticket selama 3 bulan. Waah, selamat ya, Rico! Am proud of you! 😀

Tinggallah saya dan Dinda yang diatas panggung beserta keenam model kami yang melanjutkan kemulesan. Yang berkenan membuka jubah salah satu model kami adalah Mr. Con Corfiatis dan Bapak Elisa Lumbantoruan. Jangan ditanya gimana dinginnya tangan saya diatas panggung. Diantara kilatan blitz yang menyambar kami berdua, saya yakin Dinda juga sama deg-degannya sama saya :-s. Siapa yang jubahnya dibuka terlebih dahulu, itulah yang juara pertama, dan desainnya berhak dipakai sebagai seragam baru pramugari Citilink.

Ternyata! Bapak Elisa Lumbantoruan membuka jubah salah satu model-nya Dinda, disusul oleh Mr. Con Corfiatis yang membuka salah satu jubah model saya, tepat saat confetti berhamburan diatas kepala kami. Yaay! Selamat buat Dinda yang karyanya sudah terpilih sebagai juara pertama Lomba Desain Seragam Pramugari Citilink dan berhak atas unlimited ticket selama 6 bulan. Ikut seneng! \:D/

Demikianlah akhir kisah perjalanan panjang dan penuh liku-liku itu. Halah ;)) Oh ya, ada yang unik disini. Susunan juaranya sama persis urutannya dengan ketika kita mengambil nomor urutan pas panjurian di Garuda kapan hari. Amazing, ya?

Terima kasih untuk semua pihak yang sudah membantu hingga saya masuk ke dalam tahap ini. Terima kasih untuk Citilink, tim Fortune PR, dan juga Mbak Era Soekamto and crew yang memberikan kami kesempatan untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman yang tak akan kami lupakan ini. Terima kasih juga untuk Goenrock, Cah Ndableg, dan Gum, yang sudah mau saya repotin bikin sample batik Megamendung dan storyboard *>:D<. Juga teman-teman kantor dan komunitas Bloggerngalam yang sudah memberikan dukungan penuh pada saya *ciumin satu-satu*. Tak lupa ucapan terima kasih terbesar untuk keluarga, dan seseorang yang tidak mau disebut namanya tapi sudah memberikan dukungan yang tak kalah luar biasanya 😉

You guys, thank you >:D< :-*

I love you all!

 

 

Continue Reading

Pemenang Rose Heart Writing Competition 2009

By : Risa Amrikasari

Tak mudah untuk menentukan manakah tulisan yang “layak “masuk dan mana yang tidak. Tak mudah karena tema yang dibahas tak tunggal. Masing-masing penulis muncul dengan temanya masing-masing. Apa yang diangkat dan dibahas pun sangat eksperiensial. Sangat tergantung pada konteks dan latar belakang pendidikan.

Tak mudah juga karena gaya penulisan masing-masing penulis berbeda. Ada yang bermain dengan cerita, tuturan. Ada yang mencoba bermain dengan opini atau konsep. Dan ada yang betah dengan refleksi. Perbedaan itu menentukan mutu sebuah tulisan. Perbedaan itu menentukan menarik-tidaknya sebuah tulisan. Perbedaan itu menentukan dalam-tidaknya sebuah tulisan.

Meskipun demikian, kebanyakan penulis berbicara tentang perempuan, baik itu sebagai tokoh sentral (pencerita), maupun sebagai objek (bercerita tentang orang lain). Persoalan-persoalan perempuan diangkat di sini. Seks, gender, tubuh, stigma, dan lain-lain. Ada yang mengangkat persoalan itu dengan cara yang menarik dan tegas. Ada yang sedikit lebih dalam. Tapi ada juga yang biasa-biasa saja.

Karena ketaksamaan tema, gaya penulisan, dan ketajaman pembahasan, catatan dari saya ini bukanlah kata akhir. Kriteria yang saya pakai adalah tema yang diangkat, gaya penulisan, ketajaman eksplorasi dan eksplanasi, dan kedekatannya dengan pengalaman atau kekonkretan.

Mungkin ada tema yang kelihatannya menarik dan ”berisi” (berbunyi akademik atau intelektual). Tetapi jika yang diangkat adalah konsep, bukankah sebaiknya kita membaca buku atau artikel yang panjang ulasannya daripada sebuah tulisan yang pendek, yang pada gilirannya meninggalkan pertanyaan yang tak selesai? Bukankah yang kita butuhkan adalah penerjemahan konsep?

Mungkin ada tema yang kelihatannya sederhana dan biasa-biasa saja. Tanpa ditulis dan dibukukan pun orang sudah tahu. Tapi mengapa diangkat dan dibukukan? Karena persoalan yang diangkat itu “dekat sekali” dengan pengalaman nyata. Gaya penyampaiannya pun ”dekat sekali” dengan pengalaman nyata. Sehingga ada keterwakilan emosi di situ. Bukan sebuah konsep yang jauh di atas sana. Bukan sebuah konsep yang untuk memahaminya orang membutuhkan waktu yang tak sedikit. Sederhananya begini. Kita sudah capek menghadapi berbagai kerumitan persoalan hidup. Otak kita sudah dijejali dengan berbagai hal rumit. Sehatnya, segera setelah itu kita ”istirahat”. Dan ”istirahat” yang cocok adalah yang ringan-ringan saja.

Sementara persoalan penulisan yang baik dan benar, alias mengikuti aturan ejaan yang disempurnakan, tak saya persoalkan. Walaupun para penulis tak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tak memperhatikan konstruksi kalimat yang benar, dan tak menaruh perhatian pada logika dan rasa bahasa, saya tak persoalkan.

Berdasarkan penilaian dan keputusan para juri yang terdiri dari :
1. R. Dwiyanto Prihartono, SH – Praktisi Hukum dan Aktifis HAM
2. Gabriel Goran – Redaktur Tabloid Genie
3. Dino Musido – Jurnalis Harian Merdeka

Maka dengan ini diputuskan :

Juara Pertama:
The Transformed Me – karya Devi Sutarsi

Pemenang berhak mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp. 1,500,000,- (Satu Juta Lima Ratus Ribu Rupiah).

Ini cerita yang layak dibaca orang. Judul itu sangat padat dan indah (saya yakin, itu bukan sekadar berindah-indah). Mengapa indah? Karena transformasi. Dan saya berharap si penulis ini sadar bahwa dia bertransformasi dan bukan sekadar berubah. Bahwa dia bisa mempertanggungjawabkan mengapa dia menggunakan kalimat “The Transformed Me” dan bukan “The Changed Me”. To be transformed dan to be changed adalah dua hal yang berbeda. Jangan kira itu sama.

Omongan Gadamer (filsuf besar) dalam bukunya yang berjudul Truth and Method berikut ini bisa memperjelas keduanya. “Tranformation is not change. A change always means that what is changed also remains the same and is held on to. But transformation means that something is suddenly and as a whole something else…what existed previously no longer exists. But also that what now exists is what is lasting and true.” Kalimat terakhir dari penulis ini, Aku pernah menjadi ibu yang lalai. Dan aku ingin menebusnya, adalah sebuah ungkapan transformatif. Ungkapan itu adalah klimaks dari sebuah rangkaian transformasi.

Juara Kedua:
Dimana Pria Saat Wanita Membutuhkannya? (catatan hati seorang suami) – karya Kahar S. Cahyono

Pemenang berhak mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp. 1,250,000,- (Satu Juta Dua Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah).

Ini sebuah renungan yang sangat sederhana. Tampak seperti biasa-biasa saja. Tak ada yang baru. Tak ditulis dan diterbitkan pun tak apa. Tapi tulisan ini menarik. Yang menarik di sini adalah ketulusan dan kerendahan hati. Sebuah ungkapan saling menghormati. Dalam rumusan yang lain, cerita ini menunjukkan apa artinya sebuah komunitas. Keluarga adalah sebuah komunitas. Prototipe sebuah komunitas dunia. Komunitas itu selalu berdiri di atas komunikasi. Dan komunikasi itu, dalam metafisika William Desmond—ahli metafisika—adalah ”being with”. Itulah artinya intimasi.

Juara Ketiga:
A Beautiful Mind – karya Devi Eriana Safira

Pemenang berhak mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp. 1,000,000,- (Satu Juta Rupiah).

Judulnya menarik. Saya tidak tahu apakah penulis lebih dahulu menonton film Beautiful Mind yang dibintangi Russel Crowe sebelum menulis curahan hatinya ini atau tidak. Saya anggap sudah. Kalau dia sudah menonton film He’s Just Not That Into You, besar kemungkinan dia sudah menonton film Beautiful Mind. Tapi saya tidak akan mempersoalkan keterkaitan isi film dan judulnya (Beautiful Mind) dengan isi tulisan dan judulnya (A Beautiful Mind). Bukankah ada lagu yang tak nyambung dengan judulnya? Yang menarik di sini adalah keberanian untuk membongkar diri dan menunjukkan kehadirannya yang total berbeda dengan orang lain di tengah arus umum. Kata Paul Tillich, salah seorang teolog, mesti ada courage to be untuk mempertegas diri dan merangkul nilai. Jika tidak, orang akan jatuh ke dalam anonimitas dan keseragaman. Dalam anonimitas dan keseragaman itu, orang bukan lagi pribadi. Orang sudah menjadi massa. Padahal, orang mesti menjadi pribadi. Tulisan ini, lebih tepatnya, adalah sebuah refleksi atas apa artinya menjadi “pribadi”.

Sedangkan untuk Pemenang Favorite yang juga merupakan hasil pilihan para juri adalah :

1. Destined to be A Woman – karya Ekawati Indriani P

2. Saya – karya Lala Novrinda

3. Wanitakah Pemicu Korupsi – karya Dewi Susanti

Pemenang berhak mendapatkan hadiah hiburan masing-masing Rp. 300,000 (Tiga Ratus Ribu Rupiah).

Congratulations to all the winners! You did a great job!

Buat sahabat yang belum berhasil menjadi pemenang dalam kompetisi ini, jangan putus asa, mari kita berlatih lebih giat lagi agar karya kita menjadi lebih baik lagi.

Seperti janji saya sebelumnya, semua karya yang masuk akan dibukukan dan diterbitkan dengan catatan segala perbaikan yang harus dilakukan akan dilaksanakan dan di dalam milist RHW 2009 (rhw2009@yahoogroups.com) anda akan dibimbing oleh Bang Gabriel Goran dan Bang Jacobus yang akan menjadi editor dari buku kita ini, agar artikel anda semua lebih menarik dan ‘layak jual’!

Mohon maaf atas keterlambatan pengumuman ini, Jakarta gitu loh! Kalau hari Jumat dan hujan, macetnya waduuuuuhh… parah! Selain itu, kepadatan jadwal kerja saya hari ini membuat saya hanya bisa mengakses internet atau facebook dari blackberry saya. Kepada para pemenang, silahkan kirim nomor rekening anda untuk pengiriman hadiah.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, saya akan mengadakan Launching buku ‘Especially for You’, saya berharap para peserta yang berada di Jakarta bisa hadir di acara tersebut karena saya juga akan berbicara mengenai kompetisi dan rencana penerbitan buku kita ini.

Thank you and love you, all! Muach!

sumber tulisan dari sini

Continue Reading