Happy 3rd Birthday, Alea!

MYXJ_20170727125523_save
Ulang tahun Alea tahun ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya. Kalau tahun sebelumnya dirayakan bersama teman-teman di daycare, tahun ini dia merayakannya di rumah. Iya, sudah beberapa bulan ini Alea tidak lagi saya titipkan di daycare karena berbagai pertimbangan. Padahal sebenarnya daycare itu banyak membantu dan jadi bagian solusi ibu bekerja. Tapi ya sudahlah, sementara meninggalkan Alea di rumah kembali bersama eyangnya mungkin jadi solusi terbaik untuk saat ini.

Balik lagi ke ulang tahun, ide berbagi makanan ini sebenarnya justru datang dari mama saya yang beberapa hari menjelang tanggal 17 Juli 2017 sudah mulai mencicil belanjaan untuk bikin nasi kotakan buat teman-teman mainnya Alea yang tinggal di sekitaran rumah. Jadi ya sudah sekalian saya belikan bingkisan snack untuk dibagikan juga ke mereka.

Sehari menjelang ulang tahun, ada sedikit insiden yang agak bikin gondok sebenarnya. Setelah seharian ada acara di Cibinong, kami pulang agak kemalaman, hampir pukul 9 malam baru pulang ke Mampang, sementara kami belum membeli kue ulang tahun buat Alea. Kebanyakan toko sudah tutup transaksi pukul 21.00 atau paling lambat pukul 22.00. Akhirnya kami pun pasrah pulang dengan tangan kosong pukul 23.00 setelah berkeliling hingga ke Kemang yang notabene masih ada hidup kulinerannya hingga larut malam.

Keesokan harinya, Alea bangun dengan lebih semangat karena dia ingat kalau hari itu dia ulang tahun. Iya, beberapa hari sebelumnya memang sudah kami sounding kalau hari Senin, 17 Juli 2017 nanti dia akan berulang tahun yang ke-3. Apalagi malam sebelumnya dia juga ikut belanja kebutuhan ulang tahunnya. Tapi, berhubung kue ulang tahunnya belum ada, di kulkas kebetulan ada sepotong rainbow cake jadilah kue ulang tahun dadakan, cuma untuk prosesi tiup lilin. Hahaha, maaf ya Alea, tiup lilinnya pakai irisan rainbow cake dulu ya, Nak.

Sorenya, sepulang kantor, saya belikan kue ulang tahun yang beneran lengkap dengan lilin ulang tahun. Ketika melihat saya membawa kue ulang tahun betulan, wajah kecil itu pun terlihat sangat sumringah. Sama halnya ketika lagu Happy Birthday kami nyanyikan bersama, lilin ulang tahun yang menyala terang di atas kue, dan tentu saja ketika segala doa baik yang kami panjatkan untuknya sore itu. Ah, bayi papa dan mama sudah besar ya…

To my favourite cupcake in the world, happy 3rd birthday! You have been filling our lives with laughter and love for three years. Stay cute, smart, sholehah, and adorable!

We love you!

Continue Reading

Alea+Demam=Baper

20170410_151344

Jadi ceritanya, seminggu yang lalu (1/4/2017) Alea demam. Seperti biasa, saya sudah sedia obat penurun demam dan obat flu racikan dokter yang biasa saya minumkan kalau Alea demam, flu, batuk, pilek. Demamnya sempat turun, tapi cuma karena reaksi obat saja, sekitar 3-4 jam pasca minum penurun demam, tapi setelah itu demam lagi. Bahkan suhunya sempat mencapai 39 derajat celcius.

Hari Minggunya (2/4/2017) saya coba minumkan air kelapa hijau, Alea langsung berkeringat banyak sekali, dan suhu badannya langsung turun ke suhu badan normal 37 derajat celcius. Alhamdulillah, sedikit lebih tenang. Apalagi dia juga jadi mau makan dan minum susu, padahal sebelumnya dia menolak, dengan alasan rasa makanannya asin. Mungkin maksudnya pahit ya.

Hari Seninnya (3/4/2017) suhu badannya kembali naik pelan-pelan, padahal Alea harus saya titipkan di daycare. Sedih lho ninggalin anak di daycare tuh, apalagi kalau anak lagi sakit, sementara kita tidak ada pilihan lain selain menitipkannya di daycare. Walaupun sudah saya bekali obat-obatan tetap kondisi Alea saya pantau dan meminta bunda-bundanya di sana untuk secara berkala mengecek kondisi Alea dengan memeriksa suhu badannya dan meminumkan obat sehabis makan siang. Tapi toh badan Alea tetap demam ditambah batuk pilek yang lagi hebat-hebatnya karena flunya baru mulai. Makin baperlah saya.

Tanpa berlama-lama, saya segera membuat janji konsultasi dengan Prof. dr. Soepardi Soedibyo, Sp.A(K) di RS Metropolitan Medical Centre (MMC), Rasuna Said. Sengaja saya pulang lebih cepat karena saya dapat nomor antrean 6, yaitu pukul 16.00.

Eyang Dokter (demikian beliau memanggil dirinya sendiri untuk para pasien kecilnya) melakukan pemeriksaan dengan seksama. Selain batuk, pilek, ternyata penyebab demamnya adalah virus. Jadi kalau virus obatnya bukan dengan antibiotik, tapi kekebalan si anaklah yang akan bekerja melawan virus tersebut. Eyang Dokter hanya meresepkan obat penurun demam dan obat racikan untuk batuk pileknya saja.

Sehari, dua hari, tiga hari, kok Alea masih demam? Duh, kenapa ya? Berarti sudah lebih dari 4 hari dia demam tinggi, tidak biasanya Alea demam sampai selama ini. Mulai deh tuh bermunculan berbagai kekhawatiran di kepala saya. Bagaimana kalau Alea kena demam berdarah? Bagaimana kalau thypus? Mengingat salah satu teman di daycare-nya juga ada yang didiagnosa typhus dan harus rawat inap selama 3 hari di rumah sakit. Nah, kan saya jadi makin baper ya.

Daripada saya baper sendiri, akhirnya saya konsul lagi via whatsapp (untung lho Eyang Dokter ini berkenan ditanya-tanya via whatsapp), sekadar tanya, kalau masih demam, kapan Alea harus kembali lagi ke dokter? Jawabannya, “Kamis, kalau masih panas”.

Dan ternyata sampai dengan hari Kamis (6/4/2017) suhu badan Alea masih tinggi. Panik? Lebih ke khawatir sih ya, karena Alea sudah tidak mau makan, hanya minum saja, kalaupun iya mau makan hanya 1 -2 sendok saja, alasan rasanya asin (pahit). Otomatis kondisi badannya makin drop, lemah, dan hanya mau tidur saja. Itu juga tidak nyenyak, hanya mau bobo gendong.

Tapi #MamaKuduSetrong , hari Kamis (6/4/2017) setelah maghrib, saya dan eyangnya membawa Alea ke dokter, naik taksi, dan ternyata harus menghadapi kemacetan luar biasa parah di sekitar Mampang akibat adanya pengerjaan underpass yang memangkas jalur menjadi lebih sedikit. Pukul 18.45 saya masih parkir manis di Mampang belum bergerak sama sekali. Sementara dokter hanya praktik sampai pukul 20.00. Perjalanan jadi begitu lama karena macet yang luar biasa tadi.

Tik. Tok. Tik. Tok. Tik. Tok.

Sepertinya driver taksi yang saya tumpangi itu membaca pikiran saya. Dia pun segera melesat sesegera mungkin setelah terbebas dari ujung kemacetan di Gatot Subroto, dan sampai dengan selamat di RS MMC tepat pukul 19.20. Alhamdulillah akhirnya sampai juga. Baru kali ini jarak Mampang-Rasuna Said yang biasanya tinggal ngegelundung doang sekarang harus ditempuh dalam waktu hampir 1.5 jam.

Tapi untunglah kami tidak perlu menunggu terlalu lama. Alea pun diperiksa dengan seksama. Dan diagnosa dokter masih tetap sama, penyebab demamnya ‘hanya’ karena virus, bukan demam berdarah atau typhus seperti yang saya khawatirkan. Tapi namanya ibu, tetap saja saya ‘ngeyel’. Kok diagnosanya ‘cuma gitu aja’? (woalah, Profesor kok dieyeli, hihihik). Lhaaah, terus maunya gimana? Ya, berasa kurang mantep gimana gitu ya. Penyakit kok dimantep-mantepkan…

Eyang Dokter menjelaskan tentang berbagai penyebab demam, salah satunya jika demam disebabkan oleh virus. Bagaimana dengan typhus pada balita? Beliau menjelaskan bahwa tidak ada typhus yang menyerang anak-anak usia di bawah 5 tahun. Kebanyakan demam yang menyerang anak-anak dikarenakan oleh virus, jadi kekebalan anaklah yang akan melawan virus itu, bukan dengan antibiotik. Bisa jadi kondisi badan si anak sedang drop, dengan mudah virus memasuki tubuh si anak. Ketika kondisi anak sedang kuat, virus akan lebih mudah dilawan. Tapi sebaliknya, ketika kondisi anak sedang drop, virus akan bertahan lebih lama di tubuh anak.

Bagaimana dengan demam berdarah? Beliau menjelaskan, demam berdarah ‘zaman sekarang’ tidak lagi menampakkan diri dengan bintik-bintik merah, tapi harus melalui tes darah.

Me: “Jadi, anak saya demamnya cuma karena virus aja, Dok?”

Dokter: “Iya, virus. Tapi ya sudah, coba kita cek darah sederhana aja ya. Makan dan minumnya gimana? Masih mau, nggak?”

Me: “Kalau minum sih dia mau, Dok. Makan yang dia nggak mau, alasannya rasanya asin… hehehe”

Dokter: “Kalau masih mau minum, itu bagus. Karena pada saat flu/demam, anak harus banyak minum supaya tidak dehidrasi. Sudah pup belum?”

Me: “Sudah, Dok. Malah sempat pup yang cair gitu, semacam diare”

Dokter: “Bagus, gapapa. Sekali aja, kan?”

Me: “Iya, sekali aja”

Dokter: “Itu tandanya tubuhnya sedang berusaha mengeluarkan racun. Gapapa. Jadi, sekarang kita coba ambil darah sambil sekalian diinfus aja ya…”

Saya pun mengangguk sambil trenyuh sendiri membayangkan tangan mungil batita saya untuk pertama kalinya disentuh jarum infus. Baper. Tapi sekali lagi, kan #MamaKuduSetrong , jadi ya harus kuat!

Percayalah, tidak ada seorang ibu pun yang tega melihat batitanya menangis panik ketakutan melihat dirinya dikelilingi para petugas medis yang mulai melakukan penanganan. Dengan tangis yang keras, Alea saya peluk sambil tiduran, sementara tangan kirinya mulai dibebat untuk dicari urat nadinya, diambil darahnya, dan disusul dengan cairan infus.

Alea diinfus selama kurang lebih 2 jam, mulai pukul 20.00-22.00. Suhu badannya berangsur-angsur normal, 37.5 derajat celcius. Hasil cek darahnya pun menyatakan bahwa demam yang diderita Alea ‘hanya’ virus, bukan demam berdarah atau typhus seperti yang saya khawatirkan. Alhamdulillah. Sekitar pukul 23.00 kami pun pulang ke rumah dengan perasaan sedikit lebih lega ketimbang sebelumnya.

Sekarang tinggal batuk pileknya saja yang belum sembuh, tapi insyaallah berangsur-angsur membaik, walaupun nafsu makannya masih belum pulih seperti semula.

Semoga cepat sehat ya, Nak. Jangan sakit-sakit lagi ya. Mwach!

 

 

ilustrasi: koleksi pribadi

Continue Reading

Membawa Alea Ke Kantor Itu…

Jadi ceritanya hari Selasa minggu yang lalu sampai dengan hari Senin kemarin, Eyangnya Alea (Mama saya) pulang ke Surabaya karena Eyang Kakungnya Alea (Papa saya) lagi kurang sehat. Alhasil, karena selama ini yang menjaga Alea sehari-hari itu Mama saya, jadilah selama 3 hari kemarin Alea ‘ngantor’ bareng saya.

Ini pengalaman kedua, mengajak Alea ngantor seharian. Sedikit ribet memang, tapi sejauh ini saya masih menikmatinya, walaupun ada rasa kasihan karena jadwal anak yang biasanya tertib jadi kurang tertib karena ada part-part yang terpaksa harus di-skip. Tapi ya itulah yang namanya hidup, tho? Selalu saja ada adjustment yang harus kita lakukan, termasuk dengan mengajak anak ke tempat kerja.

Untuk sementara waktu lupakanlah soal busana yang modis, hijab yang tertata rapi seharian. Memilih baju pun yang penting breast feeding friendly, karena Alea masih ASI. Risiko mengajak bayi/batita ke tempat kerja itu yang pasti barang bawaan jadi jauh lebih banyak. Barang bawaan Alea saja bisa satu tas sendiri. Isinya baju ganti, pampers, perlengkapan mandi, perlengkapan setelah mandi, jaket, topi kupluk, boneka, snack, dan jeruk. Kebetulan Alea sudah bisa makan segala, sehingga saya tidak perlu membawa makanan khusus bayi, Alea bisa berbagi makanan dengan saya, yang penting tidak spicy/pedas karena lidahnya masih sensitif.

perlengkapan Alea yang harus dibawa selama ikut ke Mama ke kantor

Untunglah lingkungan kerja memungkinkan saya dan teman lainnya yang kebetulan juga tidak punya pengasuh, bisa membawa anak ke kantor. Jadi membawa anak ke kantor itu sudah jadi pemandangan yang biasa. Membawa anak ke kantor sudah jadi risiko ibu bekerja ketika para support village atau yang biasa menjaga anak sedang berhalangan mengasuh. Ndilalah, dalam minggu kemarin atasan sedang banyak tugas/dinas di luar kantor, sementara pekerjaan juga sedang tidak terlalu hectic; hanya pekerjaan yang sifatnya rutin saja.

Membawa bayi/batita yang lagi senang-senangnya jalan juga tidak mudah. Alea adalah anak yang tidak betah diam, ada saja yang ingin disentuh, dipegang, diutak-atik, dan ditarik ke sana-sini. Jadi sambil bekerja, saya juga harus tahu di mana ‘titik koordinat’ Alea saat itu dan sedang apa, karena dia suka jalan-jalan sendiri ke kubikel lainnya dan lalu asyik mainan sendiri di sana, misalnya kertas, printer, atau apapun yang menarik perhatiannya. Disetelkan film kartun di youtube pun kadang suka tidak betah. Jadi untuk amannya, kadang suka saya alihkan perhatiannya dengan cara menggendong dan menyetelkan Big Hero, film favoritnya di youtube, terutama di jam-jam dia seharusnya istirahat. Sejauh ini sih, it works, bahkan sampai ngantuk sendiri.

Untungnya di ruangan ada juga teman yang selalu membawa balitanya ke kantor, jadi Alea punya teman main. Dia seorang anak laki-laki berusia 4 tahun yang sudah bersekolah di TK. Alea jadi lumayan terhibur karena ada teman main, tapi tetap saja harus diawasi, karena teman mainnya pun masih kecil.

Alea dan teman baru
Alea dan teman baru

Ada sisi positif/negatifnya membawa anak ke kantor. Negatifnya, konsentrasi bekerja jadi kurang maksimal karena harus berbagi perhatian ke anak dan pekerjaan. Positifnya, ada bonding yang jauh lebih kuat antara ibu dan anak karena ibu bekerja yang biasanya baru bertemu anak di sore/malam hari sepulang kantor, sekarang mulai anak bangun tidur sampai dengan tidur malam menjadi tugas dan tanggung jawab ibu. Sedikit lebih capek memang, tapi sejauh ini saya merasa fun kok.

Ada perasaan haru ketika malam hari melihat Alea tidur nyenyak setelah seharian ikut saya bekerja. Di usianya yang baru menginjak 15 bulan dia ternyata bisa menyesuaikan diri dengan cepat, pun halnya dengan fleksibilitas. Seolah dia tahu mamanya sedang sibuk, jadi dia tidak pernah rewel, kalau pun menangis sesekali wajarlah, paling kalau ngantuk atau tidak sengajak jatuh/kepentok sesuatu, ya namanya juga masih bayi. Tapi secara keseluruhan dia anak yang lovable.

Hari ini Alea tidak ikut ke kantor lagi seperti 3 hari yang lalu, sekarang dia ada di rumah bersama Eyangnya, dan sudah kembali menjalani aktivitas dan rutinitas seperti biasa.

To my lovely Alea, I love you dearly and always…

Buat para ibu bekerja di luar sana, tetap semangat ya! 🙂

Continue Reading

Imaginary Friends

bing bong

Minggu lalu saya baru nonton Inside Out. Kebetulan Alea sedang senang-senangnya menonton film animasi. Tapi berhubung Eyangnya Alea agak kurang setuju kalau Alea menonton film ini, dengan alasan ada muatan film yang belum pas kalau ditonton Alea di usianya yang sedang senang-senangnya meniru apapun yang dia lihat. Jadi, ya sudahlah, saya tonton sendiri dulu kali ya.

Di sepertiga film itu itu ada adegan yang mengingatkan saya ke masa kecil dulu. Ketika tokoh Joy dan Sadness terlempar ke daerah Ingatan Jangka Panjang; saat mereka bertemu dengan sesosok makhluk yang bentuknya merupakan gabungan antara permen kapas, kucing, gajah, lumba-lumba dan memperkenalkan dirinya sebagai Bing Bong . Dia adalah teman khayalan masa kecil Riley, tokoh utama film ini.

Bicara tentang teman khayalan, dulu saya juga punya teman khayalan yang bernama Vikung. Vikung ini adalah sosok yang punya kepribadian abu-abu. Tidak selamanya baik, tapi juga tidak selalu jahat. Pokoknya manusiawi, walaupun lebih banyak ngeselinnya daripada menyenangkannya. Tapi di balik ‘ngeselinnya‘ itu Vikung tetap sosok yang baik, suka menemani saya main dan ngobrol. Sosok Vikung itu saya ‘gambarkan’ sebagai anak perempuan yang seusia saya. Rambutnya sebahu, suka dikuncir dua, berponi, agak kurus, pipi kiri kanannya masing-masing ada jerawat 3 biji, dan suka pakai kaos kaki panjang, sepintas mirip sosok Pippi Longstocking. Entah kenapa sosok Vikung mirip dengan Pippi Longstocking, apakah karena waktu itu saya lagi suka-sukanya baca buku-buku fiksi anak, macam Lima Sekawan, Pippi Si Kaus Kaki Panjang, dan sejenisnya ya?

teman khayalan - Pippi Longstocking
teman khayalan versi saya

Kurang pasti kapan Si Vikung ini hadir menemani hari-hari saya, tapi yang jelas seiring dengan semakin bertambahnya usia saya, semakin sibuknya saya di sekolah, dan semakin banyaknya teman yang saya miliki, lambat laun sosok Vikung ini ‘menghilang’ dengan sendirinya. Dulu sempat mikir, apa saya saja ya yang punya teman khayalan? Saya aneh nggak sih karena punya teman khayalan? Gimana nggak ‘aneh’ kalau saya main sendiri, ngobrol sendiri, ‘berantem-berantem’ sendiri, kadang seolah berebut sesuatu dengan ‘seseorang’ padahal ya saya sedang sendiri. Ngeri, ya? Hahaha…

manfaat-teman-imajinasi

Tapi sebenarnya sebagian besar anak kecil yang berusia antara 3-5 tahun wajar kalau memiliki teman khayalan dengan bentuknya masing-masing. Usia di mana mereka mulai membentuk identitas diri dan mulai tahu batas mana dunia khayal dan dunia nyata.

Tapi ada kelegaan juga, karena kalau merujuk pada salah satu artikel di Parents Indonesia, menyatakan:

“Penelitian menyebutkan bahwa anak yang memiliki teman khayalan punya kemampuan berempati lebih baik dibandingkan teman sebaya yang tidak punya sahabat imajiner. Studi lain juga menyatakan anak-anak tersebut memperoleh nilai tes bahasa yang lebih tinggi, mampu bersosialisasi dengan baik, dan yang paling penting punya lebih banyak teman.”

Begitu juga ketika saya iseng baca di The Verge :

“children who keep imaginary friends, eventually develop better internalized thinking, which separately has been found to help children do better with cognitive tasks like planning and puzzle solving.”

Jadi, kalau kebetulan kita punya anak yang punya teman imajiner, jangan terburu-buru mengecap anak kita aneh. Karena justru dari situlah perkembangan emosi dan cara berpikir anak dimulai. Anak yang punya teman khayalan akan tumbuh menjadi anak yang penuh rasa ingin tahu, mudah berteman, kaya kosakata, dan kreatif.

Menurut saya, selama anak tidak banyak menghabiskan waktunya setiap hari berbicara dan bermain dengan teman khayalannya, dalam artian dia masih mau berbicara dan bermain dengan teman nyata (non-imajiner), berarti masih dalam taraf normal. Tapi kalau ternyata sebaliknya, anak lebih suka menghabiskan kesehariannya untuk ngobrol dan bermain dengan teman khayalannya dibandingkan dengan teman nyatanya, mungkin ada baiknya orang tua mulai berkonsultasi dengan ahli perkembangan anak.

Kalau kalian, dulu pernah punya teman khayalan nggak?

 

sumber ilustrasi: Disney dan TemanTakita

 

Continue Reading

Demam, Mau Pinter?

Sebenarnya saya kurang percaya sama yang namanya mitos. Ada hal-hal yang selama masih bisa dilogikakan, saya akan cenderung lebih percaya logika ketimbang mitosnya. Seperti mitos-mitos kehamilan dan perawatan anak, selalu saya usahakan untuk membandingkannya dengan opini dokter atau pakar yang lebih paham, bukan apa-apa, supaya kita tetap menjadi orangtua yang logis, smart, dan tetap aware. Namanya juga orangtua yang anaknya lahir dan hidup di era internet jadi mau tidak mau kita juga harus menyesuaikan diri.

Seperti misalnya ketika Alea tiba-tiba demam tinggi, ada yang bilang, “Udah, gapapa. Tenang aja, itu berarti anak kamu mau pinter…” Saya sih mengamini, semoga begitu adanya. Memang, konon, kalau anak tiba-tiba demam tinggi tandanya mau pinter, atau ada kebisaan baru, atau ada suatu perubahan yang terjadi dalam tubuhnya. Mitos ini sudah ada sejak zaman nenek moyang kita. Tapi apa iya seorang anak yang ‘mau pinter‘ itu harus didahului dengan demam/sakit?

Alea selama ini alhamdulillah jarang sakit. Ketika akan bisa tengkurap atau tumbuh gigi pun biasa saja, tidak disertai demam terlebih dahulu. Memang ada, bayi-bayi yang ketika akan tumbuh gigi badannya demam karena terjadi radang di gusinya. Kalau Alea demam/flu sih pernah, namanya kondisi badan manusia pasti ada up and down-nya, seperti orang dewasa kan juga begitu. Apalagi kondisi badan bayi/balita yang masih rentan terhadap virus, kondisi lingkungan yang tidak selamanya bersahabat, dan aktivitas bayi/balita yang cenderung meningkat. Jadi kalau bayi/balita mulai demam/batuk/pilek itu bagian dari tumbuh kembang mereka.

Nah, ceritanya saya ada dinas ke Bogor. Sepulang dinas, ketika Alea sedang memeluk saya, kok agak badannya terasa agak ‘anget‘ ya? Ketika saya ukur dengan termometer, memang benar ada sedikit kenaikan suhu badan, menjadi 38 derajat celcius. Tapi berhubung Alea tidak mengalami penurunan aktivitas, tetap semangat merangkak ke sana-ke mari, dan makannya pun lahap seperti biasa, jadi saya tidak seberapa khawatir. Jadi treatment-nya hanya saya beri minum air putih yang lebih sering, plus ASI kapan pun dia minta, plus sedia obat penurun demam anak yang diberikan oleh dokter just in case demamnya makin tinggi.

-----------Alea memang tidak rewel, tapi dia jadi lebih manja. Maunya dekat dengan saya. Hingga tidur pun dia tidak mau tidur di tempat tidur, maunya tidur di gendongan. Hingga akhirnya semakin malam, saya rasakan kok suhu tubuhnya semakin tinggi, dan puncaknya sekitar pukul 12 malam suhu tubuhnya mencapai 39.3 derajat celcius. Jujur, saya mulai panik. Tidak biasanya Alea demam setinggi ini. Paniknya karena obat penurun panasnya tidak bereaksi, dan suhu tubuhnya semakin tinggi, sementara dokter spesialis anak pasti tidak ada yang buka kalau Sabtu/Minggu. Masa iya harus ke UGD? Jangan dulu deh. Selain mengompres dahinya dengan air hangat suam-suam kuku, saya juga mencoba metode skin to skin, untuk menurunkan demam pada bayi. Hingga akhirnya saya ikut tertidur dalam kondisi duduk setelah berjaga sampai hampir pukul 4 pagi.

Ketika saya bangun, Alea masih dalam keadaan tidur pulas. Saya raba dahi, badan, dan telapak kakinya. Alhamdulillah suhu badannya mulai turun. Ketika saya ukur, suhu badannya sudah turun menjadi 37.9 derajat celcius. Sedikit lega, walaupun badannya masih terasa agak panas.

Hari itu Alea menjalani aktivitas seperti biasa. Dia makan dengan porsi seperti biasa, minum vitamin seperti biasa, tapi untuk air putih saya berikan lebih sering supaya dia lebih sering pipis jadi demamnya bisa lebih cepat turun lagi. Dan siangnya suhu badannya berangsur-angsur menjadi normal, terakhir saya ukur suhunya 36.7 derajat celcius. Alhamdulillah. Keesokan harinya saya sengaja ambil cuti dadakan untuk stand by, jaga-jaga kalau suhu badannya naik lagi. Tapi syukurlah suhu badannya stabil, jadi hari Selasa saya bisa kembali ngantor.

Percaya/tidak percaya, seminggu setelah kejadian demam tinggi itu dia mulai bisa jalan. Awalnya 1-3 langkah, lalu jatuh. Hari berikutnya menjadi 5 langkah, dan seterusnya hingga akhirnya lancar dengan sendirinya. Ah, saya jadi terharu… *kecup Alea*.

----------Jadi entahlah, ada hubungannya atau tidak antara demam dan ‘mau jadi pinter‘ itu tadi kok ndilalah pas habis demam dia bisa jalan. Padahal sih kalau menurut pemeriksaan dokter, waktu demam kemarin dikarenakan oleh virus. Tapi berhubung daya tahan tubuhnya bagus, jadi demamnya tidak terlalu lama.

Kalau yang pernah saya baca, demam itu semacam alarm dalam tubuh yang ‘menginformasikan’ bahwa sedang terjadi ‘sesuatu’ dalam tubuh (anak) kita. Jadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan ‘mau pinter‘. Kalau memang habis demam kebetulan dia nambah kebisaan ya memang sudah waktunya.

Kalau kata dokter, penyebab demam anak itu banyak sekali, tetapi kalau demam yang terjadi pada bayi/balita/anak kebanyakan disebabkan oleh infeksi virus atau flu yang disertai batuk/pilek. Kebetulan waktu itu Alea memang juga pilek. Pada umumnya, penyakit yang disebabkan oleh virus ini bersifat self limiting disease, atau akan sembuh dengan sendiri oleh kekebalan/pertahanan tubuh dirinya. Jadi memang tidak perlu obat khusus. Ketika ada virus/kuman yang masuk ke dalam tubuh, secara otomatis tubuh akan memberikan reaksi dengan cara menghasilkan zat yang menyebabkan suhu tubuh naik. Dengan suhu tubuh yang naik ini akan membuat sel pertahanan tubuh dapat bekerja lebih optimal. Begitulah penjelasan dokter yang menangani Alea waktu itu.

Mitos itu antara percaya dan tidak percaya sih. Ada teman yang ketika hamil sama sekali tidak diperbolehkan makan lele, karena lele dipercaya dapat membuat kepala bayi membesar sangat cepat sama seperti kepala ikan lele sehingga akan menyulitkan proses persalinan. Dia juga tidak makan belut karena belut kan licin, khawatir anaknya tidak bisa diatur. Padahal belut dan lele itu kandungan nutrisinya bagus, kolesterolnya rendah, mengandung lemak baik yang bisa mencegah kelelahan pada ibu hamil, dan juga mengandung protein dan mineral yang baik untuk pertumbuhan janin. Dulu, oleh dokter saya malah disuruh makan apa saja yang enak-enak, hehehe…

Jadi, ini tips dari dokternya Alea, kalau anak tiba-tiba demam, selama dia masih riang, masih beraktivitas seperti biasa, orang tua tidak perlu terlalu panik. Level aktivitas anak kita adalah indikator yang jauh lebih akurat daripada angka pada termometer. Kecuali dia mengalami dehidrasi dan kejang, itulah saat kita mulai waspada.

Jadi, benarkah demam itu tanda anak mau pinter?

 

 

Continue Reading