Balada Panitia CPNS 2017

seleksi cpns

 

Percaya atau tidak, sesungguhnya seleksi alam itu sudah mulai berlangsung sejak pelamar CPNS memilih kementerian/instansi mana kelak dia akan bernaung.

—–

Tahun ini jadi tahun yang istimewa bagi hampir semua kementerian/lembaga. Bagaimana tidak, setelah 3 tahun moratorium pengadaan CPNS, tahun ini penerimaan CPNS kembali digelar. Uniknya, di balik berbagai kenyinyiran beberapa di pihak di media sosial, toh info lowongan CPNS ini tetap menjadi trending topic dikalangan para job seeker.

Bagi para fresh graduaters, atau yang sudah punya pekerjaan tapi masih berstatus karyawan kontrak, atau mungkin ingin mencari pekerjaan tetap yang tidak mengandung ketar-ketir dengan PHK dadakan, para karyawan yang mendambakan adanya jenjang karier yang jelas, atau para pencari kesempatan beasiswa baik di dalam/luar negeri, adanya lowongan CPNS di ini bak oase di padang tandus. Peluang yang menyegarkan, sekali pun harus bersaing ketat dengan ribuan pelamar lainnya. Tsaaah…

Nah, tahun ini, kementerian tempat saya bernaung juga mengadakan rekrutmen CPNS. Banyaknya formasi yang ditawarkan sejumlah 191 formasi, terdiri dari 91 formasi untuk 30 jabatan di Kementerian Sekretariat Negara; 74 formasi untuk 18 jabatan di Sekretariat Kabinet; dan 8 jabatan untuk 13 formasi di Unit Kerja Presiden bidang Pembinaan Ideologi Pancasila.

Sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, penyelenggaraan CPNS tahun ini kami termasuk dalam 13 kementerian yang menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT) secara mandiri. Artinya, soal-soal dan sistem ujian tetap dikelola/diselenggarakan oleh Badan Kepegawaian Negara, hanya lokasi penyelenggaraannya ada di kementerian masing-masing.

Banyak hal unik seputar rekrutmen CPNS tahun 2017 ini. Gerbang utama pendaftaran CPNS dilakukan secara tersentral di http://sscn.bkn.go.id dan yang didaftarkan adalah Nomor Induk Kependudukan (NIK) peserta. Setelah peserta memilih kementerian yang diminati, mereka akan langsung diteruskan ke web kementerian yang dituju. Satu pelamar hanya berhak mendaftar di satu kementerian saja, kecuali pelamar-pelamar yang sempat mengikuti rekrutmen CPNS Tahap 1, di mana waktu itu rekrutmen hanya dikhususkan untuk Mahkamah Agung dan Kementerian Hukum dan HAM, mereka diperkenankan untuk mengikuti kembali rekrutmen CPNS Tahap 2 yang dibuka oleh multikementerian. Uniknya, seluruh proses rekrutmen ini dilakukan dalam sekali pilih/unggah. Ini dimaksudkan agar pelamar belajar teliti, memahami rincian pengumuman, dan mempersiapkan diri sebelum mengikuti rekrutmen.

Sebagai panitia yang ada di garda paling depan menghadapi para pelamar di sesi awal rekrutmen CPNS, dibutuhkan ekstra kesabaran dan ketenangan dalam menghadapi telepon dan email dari CPNS yang jumlah per harinya bisa puluhan, yang cenderung meningkat jumlahnya mendekati injury time batas akhir pendaftaran. Belum lagi melihat spam e-mail dari salah 1 alamat e-mail yang mengirimkan 21 e-mail dalam sehari dengan subjek e-mail yang sama. Hiks… Mbok ya yang sabar, nanti kami jawab, kok. Beruntung pernah menjadi call center officer dan customer service officer di pekerjaan sebelumnya, jadi ilmu, tips, dan trik cara menghadapi pelanggan sangat membantu saya dalam menghadapi pertanyaan para pelamar baik via telepon/e-mail.

Berhubung nomor yang dinyatakan sebagai ‘call center‘ adalah nomor yang ada di meja saya, mau tidak mau sayalah yang menjawab hampir seluruh telepon para pelamar. Berbeda dengan tim helpdesk dan verifikator yang bekerja dalam 1 tim, kalau ‘call center‘ ala-ala ini ya saya terima telepon sendiri; kecuali peneleponnya ‘nyasar’ ke nomor yang lain, mau tidak mau teman yang mengangkat telepon itulah yang akan menjawab pertanyaan seputar rekrutmen CPNS. Tidak masalah, briefing-nya sama kok. Insyaallah info yang diberikan juga tidak ada perbedaan. Satu guru, satu ilmu.

Tapi entah kenapa, tipikal pelamar zaman sekarang itu berbeda dengan pelamar-pelamar CPNS di tahun-tahun sebelumnya. Sering kali, apa yang sudah tertera jelas di laman pengumuman masih ditanyakan ulang baik via telepon maupun via email. Kalau mereka saya edukasi cek ulang di web malah saya yang ditanya ulang, “oh, ada ya, Kak? Di sebelah mana ya, kok saya nggak nemu?”. Atau, ada juga beberapa penelepon yang sudah dijawab via telepon masih menanyakan pertanyaan yang sama via email. Berhubung saya juga petugas helpdesk-nya, maka saya lagi yang jawab pertanyaan mereka, “Saya tadi sudah telepon ke pusat informasi, apakah info yang diberikan oleh petugas pusat informasi tentang blablabla itu benar dan valid?”.

Hiks… Nggak dipercaya…

Beberapa di antara mereka juga ada yang lucu. Seperti misalnya, ada pelamar dengan logat Suroboyoan yang medok, tanya begini, “Mbak, maksud kalimat pelamar harus datang sendiri tidak boleh diwakilkan itu berkasnya dikirim lewat pos gitu, ta?”. Lho, gimana sih, Mbak? Hiks, seketika, saat itu juga saya jadi pengen uwel-uwel jilbab.

Atau ada juga yang mengajak ngobrol basa-basi di akhir sesi bertanya via telepon, “mmh, dulu Kak Devi juga menjalani prosedur yang sama kaya kami gini, ya? Ngelamar dan verifikasi berkas, gitu?”. Inginnya sih saya jawab, “Enggaklah, saya dulu dicabut aja dari kebon, kaya ubi gitu. Trus… tadaaa! Dikasih deh SK PNS!”

Sebagai panitia kalau harus punya kesabaran berlipat ganda itu memang benar adanya. Ada lho yang di e-mail gaya bertanya dan jawabnya layaknya sedang berkomunikasi via pesan instan seperti ini.

Pertanyaan CPNS

Jadi, kalau panitianya tidak sabar ya paling-paling minta pensiun dini

Ada juga yang sengaja mencari akun instagram saya, lalu mem-follow, dan mengirim pesan, “Halo, Kak. Tolong jelasin tentang rekrutmen CPNS, dong…” Pertanyaan seperti ini seharusnya bisa diminimalisasi lho, adik-adikku sayang. Bisa dong kalian cari info sendiri tentang rekrutmen CPNS 2017 di internet, atau coba follow akun-akun media sosial resmi kementerian/ lembaga yang kalian maksudkan. Zaman sudah maju, segala informasi bisa ditemukan via internet, seharusnya sudah sangat mudah mencari informasi seperti ini.

Nah, ternyata masalah ketidaktelitian para pelamar ini bukan cuma terjadi di kementerian saya saja, hampir di semua kementerian mengalami masalah yang sama. Umumnya pelamar kurang teliti dalam membaca dan memahami pengumuman. Jadi, setiap hari ada saja keluhan tentang salah input data, salah unggah berkas, salah baca tanggal pengumuman, bahkan parahnya ada yang sampai tidak tahu kalau sudah keluar jadwal Seleksi Kemampuan Dasar. Ujung-ujungnya, ada pelamar yang menelepon sambil menangis, memohon kepada panitia agar mereka diizinkan mengikuti tahapan yang terlewat. Kalau panitianya diminta untuk fair play dan taat dengan aturan main, ya seharusnya pelamar pun melakukan hal yang sama. Ya, kan? Ya, dong…

Ada banyak alasan kenapa mereka salah baca atau terlewat informasi, seperti misalnya, “saya kan kebetulan kerja di bank nih, Mbak. Jadi saya tuh sibuk banget, konsentrasi saya kemarin sempat terbagi-bagi, gitu. Jadi pas waktunya pengumuman verifikasi berkas online, saya jadi terlewat. Boleh nggak kalau saya verifikasinya hari ini aja?”. Kejadian ini selang 2 hari setelah jadwal verifikasi berkas dinyatakan usai. Ya sudah, mungkin lebih baik tahun ini Mas konsentrasi saja ke pekerjaan yang sekarang. Toh, sudah kerja juga, kan? Kalau memang masih berminat jadi PNS, silakan ikut di sesi rekrutmen tahun berikutnya saja, ya…

Kalau ada.

Ada juga yang sengaja datang langsung ke kantor sambil membawa berkas lengkap, padahal lokasi verifikasi berkas bukan di kantor, tapi di Pusdiklat. Mereka pun beralasan pengumuman tidak bisa diakses di smartphone mereka, sehingga mereka terlewat informasi. Hmm, bukankah handphone para pelamarzaman now itu sudah canggih-canggih, ya? Jadi, logikanya, kalau browsing semua situs saja bisa, seharusnya buka pengumuman juga bisa, dong. Tanpa berlama-lama, saya pun minta izin untuk meminjam handphone mereka dan membuka situs setneg.go.id. Hasilnya? Baik-baik saja, bisa terbuka, dan informasinya pun terpampang nyata di depan mereka. Jadi sebenarnya tidak ada alasan situs tidak bisa diakses, atau pengumuman tidak bisa dibuka, kecuali web kami sedang down. Seketika wajah pelamar seolah menggunakan blush on merata di seluruh wajah, “Kok kemarin-kemarin saya nggak nemu informasi ini ya, Mbak?”

Iya, barusan saya memang sulapan, kok.

Bukan itu saja, ada yang beralasan pengumuman terlalu panjang, tidak simple, dan cenderung membingungkan. Kenapa pengumumannya tidak dibikin infografis saja agar lebih mudah dipahami oleh pelamar. Ok, saya tanya deh. Dulu, zaman kalian kuliah, apakah semua materi perkuliahan disampaikan dalam bentuk infografis agar mudah dipahami oleh mahasiswa? Apakah diktat sudah tidak lagi diperlukan karena semua materi sudah lengkap tersaji dalam bentuk infografis warna-warni?

Nyatanya tidak begitu, kan? Kita tetap memerlukan diktat, bahkan juga tetap berkunjung ke perpustakaan mengakses e-library untuk mencari referensi berkaitan dengan materi perkuliahan, kan? Kenapa? Ya karena tidak semua hal bisa disampaikan dalam bentuk infografis. Saya yakin, panitia rekrutmen CPNS di setiap kementerian pasti juga sudah membuat pengumuman versi infografis. Tapi tentu saja info yang ada di sana hanya inti-intinya saja, untuk informasi lebih rinci ya adanya di website kementerian, yang bisa dibaca/dibuka/dipelajari kapan saja oleh pelamar. Panitia juga tidak akan menyampaikan informasi secara mepet-mepet. Selalu ada jeda waktu yang kita berikan agar para pelamar bisa mempersiapkan diri dan menyediakan dokumen apa saja yang dibutuhkan untuk sesi berikutnya.

Kalau sejak jadi pelamar saja tidak biasa membaca rincian pengumuman, bagaimana nanti kalau sudah jadi PNS, yang notabene pekerjaannya akan lebih akrab dengan surat, memorandum, Keppres, Kepmen, Perpres, Permen, dan lampiran-lampiran lainnya? Jadi, latihannya ya mulai dari sekarang, supaya ketika sudah jadi CPNS nanti kalian tidak terlalu kaget dengan pekerjaannya masing-masing.

Nah, kalau soal kerajinan, pelamar zaman now itu terbagi dalam 2 golongan. Golongan yang rajinnya kebangetan, dan golongan yang selow-nya overdosis. Golongan yang rajinnya kebangetan itu, hari masih pagi, pengumuman belum diunggah, pukul 07.00 wib sudah ada yang telepon ke kantor untuk menanyakan, “pengumumannya belum diunggah ya, Kak? Kan ini sudah tanggal ‘sekian’…”. Tanggal ‘sekian’ sih tanggal ‘sekian’, tapi harap dipahami tanggal ‘sekian’ itu batasnya sampai dengan pukul 23.59 wib, lho. Jadi, mohon kesabarannya untuk menunggu, dan cek secara berkala di web masing-masing kementerian, panitia pasti akan mengumumkan di hari dan tanggal yang sudah disepakati sebagai hari pengumuman, kok.

Sedangkan golongan yang selow-nya overdosis, sampai dengan batas waktu yang ditentukan dia sama sekali tidak ada aktivitas apapun apalagi terlihat batang hidungnya. Tapi ketika kegiatan sudah selesai dan closed by system eh dia baru muncul sambil pasang wajah dan gesture penuh iba, dengan harapan panitia akan memberikan kesempatan kedua. Bahkan ada yang sampai mengajak orang tuanya untuk menghadap ke panitia agar mereka diberikan izin mengikuti tahapan seleksi yang terlewat. Padahal, FYI, di hari terakhir penutupan sesi kegiatan, biasanya panitia stand by sampai malam, just in case kalau masih ada pelamar yang akan datang menyerahkan dokumen untuk diverifikasi, jadi pelamar akan tetap kita terima, selama masih di hari yang sama dengan yang sudah dijadwalkan. Kecuali kalau sudah masuk jadwal ujian, ya. Kalau sudah masuk sesi ujian sih sudah tidak ada lagi toleransi, karena kita sudah memberikan briefing awal di sesi verifikasi berkas agar peserta ujian datang lebih awal di hari pelaksanaan ujian.

Saking padatnya pekerjaan, membagi waktu antara mengerjakan tugas rutin, jadi call centre dadakan, ditambah jadi petugas helpdesk, sampai terbawa ke alam mimpi lho. Iya, di dalam mimpi saya sudah menjawab ratusan e-mail yang masuk. Absurdnya, keesokan paginya pikiran saya menjadi agak ringan, karena menyangka beban pekerjaan sudah sebagian terselesaikan.

Dalam mimpi.

Jadi panitia CPNS itu bukan hal yang mudah, selain dibutuhkan tenaga ekstra, juga dibutuhkan kesabaran dan mental yang tahan uji. Teruntuk para panitia CPNS di kementerian/lembaga mana pun, semangat jangan sampai kendor hingga proses rekrutmen ini selesai, ya! *dadah-dadah*

 

 


ilustrasi dipinjam dari sinidan twitter @devieriana

PS: Btw, berhubung sesi rekrutmen CPNS ini masih panjang, tulisan tentang sesi ujian akan diposting di tulisan
berikutnya, ya…

Continue Reading

Dignity and Respect

what-i-know-dignity-and-respect

Pada suatu sore menjelang pulang kantor, sebuah pesan singkat muncul di gawai saya. Dari seorang teman yang kebetulan membatalkan janji temu dengan saya dan beberapa teman lainnya dengan alasan kesibukan kantor.

“Dear, sori ya, gue kayanya nggak bisa gabung lagi nih, hiks. Kerjaan gue aja belum kelar sampai jam segini, kuatir nggak keburu kalau gue harus maksain ketemuan sama kalian. Jam 5 aja gue masih ada agenda meeting sama BoD. Sori banget, ya. Kalian tahu kan gimana kerjaan budak korporat kaya gue? Next time gue bakal usahain buat kumpul sama kalian yaa… Selamat ngumpul-ngumpul ya, kalian. Miss you all… “

Ketika membaca pesan singkat itu, entah kenapa, ada sedikit perasaan kurang nyaman. Semacam ada penggunaan istilah yang kurang pas di hati.

Sampai sekarang saya masih sering mendengar teman/kerabat yang membahasakan dirinya sebagai ‘kacung kampret’, ‘kuli kantor’, budak korporat, dan sebutan sejenis lainnya sebagai penggambaran betapa berat/sibuknya pekerjaan yang mereka lakukan; semacam penggambaran adanya ‘kesamaan’ beban pekerjaan yang mereka lakukan dengan kuli kasar. Bedanya, berhubung mereka adalah orang kantoran, maka sebutannya kuli kantor.

Kita pasti pernah ada di sebuah kondisi harus membatalkan sebuah janji temu karena memang sedang sibuk di kantor, lembur, atau ada urgent matters yang berhubungan dengan pekerjaan. Kenapa tidak bilang saja apa adanya, tanpa harus membubuhkan embel-embel, “ya namanya juga kacung kampret, mana bisa menikmati liburan dan kumpul-kumpul kaya kalian”, atau “ya beginilah nasib budak korporat, dijalanin aja…”

‘Sehina’ apapun pekerjaan kita, seremeh apapun pekerjaan yang kita lakukan, atau untuk menggambarkan betapa rumit dan ruwetnya detail pekerjaan yang kita lakukan sehingga hanya kita yang dianggap sanggup melakukan itu, atau kasarannya tidak ada orang yang mau ada di posisi kita; apapun itu, hargai. Di luar sana ada banyak sekali orang yang belum mendapatkan pekerjaan, dan mungkin saja menganggap kalau pekerjaan kita itu jauh lebih baik, lebih enak, lebih menyenangkan dari pada pekerjaan mereka.

Dulu, orang tua saya pernah bilang begini, “kita akan menjadi apa yang kita pikirkan, apa yang kita ucapkan. Jadi, hati-hati kalau bicara, karena ucapan itu sama saja dengan doa”. Nasihat itulah yang masih saya pegang hingga sekarang.

Sugesti positif itu juga saya terapkan dengan cara berpakaian. Walaupun semua kembali lagi ke soal pilihan, apakah kita lebih suka berpakaian rapi, atau asal-asalan, saya pribadi lebih suka berpenampilan rapi dan pantas. Rapi dan pantas itu tidak harus mahal, lho. Cukup berbusana sesuai dengan tempat, acara, dan kebutuhan. Sepele ya, tapi sesungguhnya cara berbusana kita itu merupakan salah satu bentuk penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain, lho.

Mungkin ini cuma soal kebiasaan, karena semua berawal dari lingkungan. Terlahir dalam sebuah keluarga yang dalam beberapa hal masih memegang teguh ajaran Jawa dengan segala pernak- perniknya, salah satu ajaran yang masih diterapkan di keluarga saya adalah “ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana”. Ungkapan itu memiliki makna bahwa bahwa berharganya diri kita berasal dari ucapan (lidah) kita, sedangkan berharganya badan (raga) kita dillihat dari bagaimana cara kita berbusana.

Gambaran ungkapan ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana tersebut mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang kita pakai, penampilan kita, tutur kata kita, serta ucapan-ucapan kita pasti akan menimbulkan reaksi timbal balik penghargaan/sikap orang lain kepada kita.

Contoh paling sederhana adalah tahu kapan harus menggunakan sepatu/sandal selama di kantor. Selama di kantor, selama jam kerja, saya berusaha konsisten menggunakan sepatu, bukan sandal. Apalagi ketika menerima tamu (baik pegawai dari kantor sendiri maupun dari luar), karena ada juga teman yang membedakan kapan ‘boleh-boleh saja’ pakai sandal selama itu pegawai kantor sendiri (dengan alasan, “ah, udah kenal ini”), dan kapan harus pakai sepatu (karena tamunya dari luar instansi). Mungkin saya satu-satunya orang yang paling sebal ketika ada teman yang menerima tamu dengan hanya menggunakan sandal jepit. Bukan mau sok idealis ya, apa yang saya sebutkan di atas, bukan berarti sama sekali kita tidak boleh pakai sandal selama di kantor, silakan saja menggunakan sandal ketika akan ke kamar kecil, atau akan wudhu/shalat. Tapi apakah tidak akan lebih baik ketika sedang di kantor ya gunakan sepatu sebagaimana mestinya, bukan sandal. Tamu saja kalau mau berkunjung ke kantor kita mereka berusaha tampil rapi/pantas, masa iya kita sebagai tuan rumah menerima mereka asal-asalan? Di mana bentuk penghargaan kita kepada orang lain, padahal mereka sebisa mungkin berusaha menghargai kita sebagai tuan rumah?

Last but not least, mulai belajar menghargai diri sendiri sebelum menghargai orang lain, yuk! Mulai mengurangi juga penggunaan julukan ‘kacung kampret’, ‘budak korporat’, ‘kuli kantor’, atau sebutan negatif lainnya kepada diri sendiri atau orang lain.

Be grateful that we actually have a decent job; something to be proud of. If we don’t have dignity, then what are we?

 

 

 

picture source: here

Continue Reading