Resign: Emosi Sesaat atau Keputusan Matang?

resign

Beberapa waktu yang lalu, adik saya didera galau luar biasa lantaran dia harus membuat keputusan besar dalam karirnya, yaitu resign. Mungkin buat sebagian orang, soal resign itu sebuah hal yang lumrah. Namanya kerja pasti ada enak-nggak enak, cocok-nggak cocok. Alasan resign pun bermacam-macam; ingin punya karir yang lebih baik, ingin situasi kerja yang lebih nyaman, dan punya penghasilan yang lebih tinggi, dll. Tapi banyak juga yang memutuskan untuk resign karena alasan-alasan di luar itu, misalnya ingin melanjutkan sekolah, mengurus keluarga, ingin berwiraswasta, dll. Tapi kalau resign dari tempat yang telah menerimanya sejak awal, telah membuatnya banyak pengalaman dan pembelajaran sehingga menjadi seperti sekarang, plus lama bergabungnya sudah hampir satu dasawarsa mungkin lain lagi ceritanya.

Ceritanya Si Adik memang sudah lebih dari 9 tahun berkarir di salah satu bank swasta di bilangan Tendean, Jakarta Selatan. Sejak masih sekolah dia memang dikenal di keluarga sebagai anak yang rajin, anak yang total ketika mempelajari sesuatu, anak yang teliti, dan seorang fast learner. Dia juga tak segan mempelajari hal-hal baru yang sekiranya bermanfaat untuk menunjang pekerjaannya. Maka tak heran, baik ketika dia masih di kantor cabang Surabaya sampai sekarang di kantor pusat Jakarta dia selalu dijadikan andalan perusahaan karena keseriusan, ketelitian, dan kedisiplinannya dalam bekerja. Eh, saya menulis hal-hal baik ini bukan karena mentang-mentang dia adik saya lho, ya 😆 . Tapi juga sebagai sebagai sesama pegawai kantoran saya benar-benar merasa salut dan bangga karena belum tentu saya bisa se-qualified dia :mrgreen:

Sampai akhirnya dia curhat galau gara-gara salah satu pimpinan ternyata tidak mengizinkan dia untuk resign dengan alasan saat ini dia adalah andalan perusahaan. Berbagai ‘rayuan’ digunakan oleh Sang Pimpinan agar adik saya memikirkan ulang rencana pengunduran dirinya, syukur-syukur kalau sampai membatalkan niatnya untuk bergabung dengan perusahaan lainnya. Saya cuma bisa menasihati agar Si Adik tetap konsisten dengan pilihannya. Di mana-mana risiko mengajukan resign memang begitu, ada yang langsung disetujui, tapi ada juga yang ditahan supaya jangan sampai resign. Semua tergantung pimpinan dan kualitas apa yang dimiliki oleh karyawan tersebut sehingga menyebabkan perusahaan jadi sedemikian ketergantungannya dengan Si Karyawan. Si Adik cerita, kalau banyak teman yang resign dan langsung disetujui, tapi giliran dia, harus menghadap pimpinan sebanyak 2-3x untuk bernegosiasi masalah posisi, dan gaji. Pun ketika di hari terakhir dia berkantor di sana pun Pimpinan Divisinya pun masih penasaran apa sebenarnya alasan adik saya resign dari bank tempat dia berkarir selama 9 tahun terakhir ini, padahal sudah diiming-imingi nominal gaji yang sama persis dengan tempat kerjanya yang baru nanti. Tapi syukurlah Si Adik tidak tergoda, dan tetap berkeinginan untuk memulai karir yang baru di tempat yang baru.

“Jadi, sudah beneran mantep buat resign nih? Saya itu sebenarnya heran dan penasaran banget sama kamu. Apa sih sebenarnya yang mendasari keinginanmu untuk resign? Padahal gajimu sudah saya naikkan sama dengan tempat kamu bekerja nanti, tapi kenapa kok kamu tetap pengen resign? Teman-teman kamu yang lain ketika diberi kenaikan gaji dengan nominal yang sama dengan tempat kerja yang baru mereka langsung memilih tetap bergabung di sini lho. Cuma kamu aja yang beda…”

Padahal alasan seseorang mengundurkan diri dari perusahaan kan bukan melulu karena uang, ya? Dan adik saya berseloroh di bbm:

“Aku ingin juga membuktikan sama pimpinanku, kalau aku bukan pegawai ‘murahan’ yang cuma bisa dinilai dari besaran rupiah 😆 “

Seperti ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari tempat kerja sebelumnya dan terdampar menjadi PNS, alasan utamanya juga bukan karena gaji dan posisi. Saya sadar kok, ketika saya menjadi PNS, karir saya akan dimulai dari nol lagi, dengan jabatan staf, dengan gaji pokok yang jauh di bawah gaji di perusahaan sebelumnya. Tapi kenapa saya mau? Ya, selain karena sudah terlanjur diterima, ada pertimbangan lain yang mendasari itu semua (dan kalau di-list banyak sekali), salah satunya sih dari segi ketersediaan waktu untuk keluarga.

Setiap pilihan memiliki konsekuensi masing-masing, ada sisi positif dan negatifnya. Tapi sebenarnya yang paling penting adalah jangan resign karena emosi sesaat, apalagi karena latah. Melihat teman-teman yang lain resign, eh jadi terpengaruh ikut-ikutan resign padahal alasannya juga belum tentu sama, cuma gara-gara alasan,

“Abisnya kalau nggak ada temenku yang itu, nggak enak. Suasana kerjanya jadi nggak asik lagi…”

Mungkin saja karena kalian kurang berteman jadi temannya cuma satu itu saja :mrgreen: .

Saya pernah berdiskusi dengan seorang teman yang juga menangani human resources di sebuah perusahaan, dia mengatakan kalau rasa tidak betah dalam bekerja dapat disebabkan karena ada harapan karyawan yang tidak dapat dipenuhi oleh perusahaan, sehingga ketika mereka memutuskan untuk mencari pekerjaan yang lain harapan mereka di tempat yang baru nanti mereka akan dapat mewujudkan impian mereka baik dari segi gaji, jenjang karir, reward, maupun fasilitas/kesejahteraan.

Selain semua itu, ada faktor lain yang menyebabkan mengapa seseorang memilih untuk resign, selain tekanan pekerjaan yang tinggi, dan adanya tawaran pekerjaan lain yang jauh lebih menarik, alasan lainnya adalah karena lingkungan kerja yang kurang kondusif, dan adanya ketidaksesuaian nilai-nilai perusahaan dengan diri pribadi. Kalau ini sih saya sempat mengalami sendiri. Dulu, saya sempat bekerja di sebuah perusahaan keluarga, di mana kata-kata kasar dan makian terdengar hampir setiap hari antaranggota keluarga; seolah tak peduli bahwa karyawan di sekitar mereka adalah orang di luar keluarga yang tidak pantas untuk ikut mendengarkan kata-kata tersebut sebagai sebuah hal yang lumrah apalagi di lingkungan kerja. Jujur, terasa sangat intimidatif, sekalipun kata-kata itu bukan ditujukan pada kami.

Tapi syukurlah, semua sudah berhasil saya lalui dengan baik, setidaknya saya sudah berhasil melalui masa-masa galau pindah-pindah tempat kerjalah 😆 . IMHO, tidak ada ilmu dan pengalaman yang tidak berguna. Semua ilmu dan pengalaman yang pernah kita dapat di masa lalu tetap akan bisa diaplikasikan di pekerjaan kita yang sekarang, tergantung waktu dan kesempatan saja.

Ngomong-ngomong, kalian sudah pindah tempat kerja berapa kali sampai sekarang? 😀
*nyeruput secangkir earl grey tea hangat*

sumber ilustrasi diambil dari sini

You may also like

48 Comments

  1. ini kerjaanku yang keempat sejak 6 tahun lalu, mbak. dua tahun kemarin masih galau mikir mau serius kerja di bidang apa, atau mending sekolah lagi aja. labil banget deh pokoknya. eh akhirnya terdampar dengan kontrak seumur hidup kayak gini membuatku gak galau lagi 😆

  2. Ya syukurlah kalau sudah lulus galau soal kerjaan, Kitin.
    Banyak temenku yang justru galau ketika sudah menjalani status jadi PNS, bahkan sekarang ada yang balik lagi kerja di swasta :mrgreen:

  3. Saya? Saya kerja ikut orang di 3 tempat berbeda.
    Yg pertama cuma sebulan doang, gajian pertama langsung minggat, hehehe. Jadi tidak sempat ada ikatan bathin dan sama boss ya dipersilakan resign begitu saja.
    Yg kedua saya kerja selama 2 tahun, kerjaannya saya senang sebenarnya tapi tidak menjanjikan karir dan gaji yg memadai, ya udah saya resign. Hubungan dengan boss dan karyawan lain tetap baik pasca resign.
    Yg ketiga, perusahaannya yg tutup :))))) Hubungan dengan boss tetap baik, bahkan hingga 10 tahun setelahnya masih membangun hubungan kerja sama

  4. Saya juga pernah diloloskan begitu saja pas ngajuin resign. Ya di perusahaan keluarga itu tadi. ya ada untungnya juga sih saya nggak ditahan-tahan, wong saya juga udah nggak pengen kerja di situ.

    Kalau yang kedua ya karena pekerjaan ketiga yang akan saya jalani itu memang jauh lebih baik ketimbang mereka, jadi ya buat apa saya ditahan-tahan, wong dapat pekerjaan yang lebih baik kok 😀

    Kalau yang ketiga, ya karena habis kontrak aja, kan kontrak putus selama 2 tahun. Yang keempat karena menikah dan harus pindah ke Jakarta ikut suami. Yang keenam karena diterima jadi PNS

    Sik tah, kok banyak ya resign-ku? 😯

  5. Kl aq resign belom pernah… Tp kl pindah pernah sekali…
    Bagus kak, tulisannya…. Inspiratif banget…hehehe

  6. Ya jelas belum pernah resign, lha wong kamu pas masuk PNS masih fresh graduate… 😥

    Makasih, Kak Win :mrgreen:
    Kapan main ke kantor? Katanya mau balik ke Protokol 😆

  7. Sejak tahun 2002 – 2014 sekarang saya sudah pindah kerja 4 kali. Dan merasa paling fit ya kerjaan yg sekarang, jadi dosen. Meski dari segi penghasilan ngga sebanyak waktu kerja sama Jepang, tapi dari segi waktu dan fleksibilitas jam kerja sangat menguntungkan. Ngerasa sik sekarang itu rewarding career banget buat aku.

    Kalau soal resign yang trakhir kerja di RS aku sempat ngga dikasih surat rekomendasi karena ngga disetujuin sama direktur RS-nya, tapi ya sudah aku nekat aja. Lha gimana, batin tersiksa Mbak, masak pulang kerja ngomel-ngomel mulu sama orang rumah. Kan kasihan juga, hehehehehe

  8. Ya syukurlah kalau sudah menemukan pekerjaan yang tepat. Kadang kerjaan itu jodoh-jodohan ya, Mbak. Sekalinya nggak cocok bisa pindah-pindah dan jadi kutu loncat. Tapi sekalinya cocok, sekalipun gaji nggak tinggi, tapi kalau secara pekerjaan dan kitanya ada chemistry ya bisa awet 😀

  9. Makasih buat tulisan tentang aku dan inspirasi resign… :mrgreen:
    Tulisanmu bagus, Kakakku. Salut sama setiap tulisanmu yang selalu asik dibaca 😆

  10. Hahahahak, yang diomongin ke sini juga 😆
    Makasiiih…
    Selamat memulai hari dan pengalaman baru hari ini. Semoga sukses berkarir di tempat kerja yang baru ya, Nduk 😀

  11. dari lulus kuliah sampai sekarang udah mau lima tahun kerja belum pernah pindah-pindah tempat kerja, mbak.
    udah 3 tahun minta pindah ke UPT gak dikasih, padahal jabfung saya ada di UPT. kalau di sini gak bakalan aku bisa naik pangkat/golongan. kalau kata orang surabaya, pancet ae. 😀
    so far, aku gak suka dengan sistem kerja di sini. maklum lah, kerja gak kerja, gaji sama. :))
    oiya, terima kasih untuk tulisannya, mbak.

  12. @ngKong Parto: lah, kenapa nggak dikasih? Bukannya selama di UPT/biro/bagian lain ada yang kosong, dan kualifikasi kita sesuai dengan yang ada di peta jabatan, bukannya boleh/bisa, ya? Ya tapi dengan izin pimpinan juga sih :mrgreen:

  13. Sebelum menjadi PNS seperti sekarang, saya sudah 4 kali berpindah tempat kerja. Memang setiap memutuskan untuk resign, saya berusaha menetapkan alasan kuat di dalam hati sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari. Ya walaupun ternyata di tempat kerja yang baru kadang muncul perasaan membanding-bandingkan dengan tempat kerja yang sebelumnya.

  14. @Made Wirautama: sama, aku juga bukan yang tipe-tipe kutu loncat. Lamanya aku kerja di sebuah tempat kerja nggak ada yang sebentar. Kalau soal membanding-bandingkan itu pasti ada. Tapi kalau untuk keinginan kembali ke tempat kerja yang lama sejauh ini belum pernah terpikir. Move on aja :mrgreen:

  15. saya jd ingat kalo sdh beberapa kali pindah kantor, walo tak seekstrim sampeyan tentunya. pernah tak punya kantor juga, jd pengen cepet2 ngantor lg, kelamaan nganggur euy *malah curcol* hihi

  16. Sebelum terdampar pakai NIP kayak mbak devi, saya sih cuma sekali resign. Dari PT itu pernah juga sih pindah, tapi statusnya mutasi ke lain kota. Sering banget menemukan orang yang pengen resign dengan alasan yang sepertinya kurang cukup kuat. Hehehe.
    Kalau di PNS mungkin statusnya terlanjur diterima kali ya? :p

  17. @ariesadhar: nggak juga, jadi PNS pun kita masih punya ‘hak’ untuk mengundurkan diri, kok. Beberapa temenku ada yang begitu. Sekali lagi, semua itu kembali ke jiwa kita. Nyamankah kita dengan pekerjaan itu, sudah sesuaikah dengan keinginan kita, dll. Kalau dipikir dan dirasakan memang nggak cocok ya ngapain dipaksakan jadi PNS? Jadi pegawai swasta aja, gajinya toh jauh lebih besar 😀

  18. Bolehkah saya minta masukkan?

    Saya bekerja di perusahaan kontraktor bagian administrasi, dan saat ini saya menangani proyek ke 3 saya.
    Situasi disini sangat berbeda, saya seolah-olah bekerja sendiri, manager saya sekarang arogan, gila jabatan, dan selalu menganggap remeh orang dan orang disekitar saya seperti menganggap saya “sok suci” untuk keuangan perusahaan.
    Belum lama ini, saya sempat ribut dengannya, karena suatu masalah.

    Saya ingin resign saat ini juga, tapi oang tua saya bilang tunggu sampai gaji keluar, dan belum lama saya dipromosikan untuk isi kekosongan di kantor pusat beberapa saat lagi.

    Apa yang harus saya lakukan?

  19. @AW: kalau bagian keuangan bukannya memang harus strict, ya? Teliti gitu maksudnya. Karena kan yang diurusin keuangannya perusahaan, bukan akun pribadi. Kita kerja itu bukan cuma cari uang, kan? Buat apa gaji besar kalau kita kerjanya nggak nyaman. Ya coba dijalani dulu di kantor yang baru ini gimana? Siapa tahu suasana dan situasi jauh berbeda dengan tempat sebelumnya :). Baru nanti kalau sebulan, dua bulan dirasakan sama saja dan atau tidak lebih baik, membuat makin tertekan, dll. ya monggo coba apply pekerjaan di tempat lain yang lebih baik. Kan yang bisa membuat perbandingan dan merasakan kita nyaman atau tidak bekerja di sebuah tempat kan kita sendiri 🙂

  20. Lagi iseng-iseng browsing ttg resign, eh nemu blog ini. Isinya blognya sangat inspiratif mba, jadi membuka sudut pandang saya yang lagi ‘galau’ sama kerjaan 😀

    Kalo saya dari lulus kuliah thn 2012 udah kerja di perusahaan yg skrg mba, dari lulu sampai sekarang belum pindah kerja lagi. Jadi klo diitung saya kerja udah 2 tahun lebih 1 bulan mba.
    Temen2 seangkatan saya udah pada lulus alias resign dluan mba dengan alasan yang sama : di tempat ini tidak akan bisa berkembang (dari segi gaji, pemikiran, kenyamanan, tunjangan, bahkan keberadaan kita kadang ga dihargai). Tinggal saya aja yg masih ‘bertahan’ disini.
    Pekerjaan disini selalu terburu2, urgent, dadakan, tanpa perencanaan yang sudah menjadi budaya kerja & mendarah daging para karyawan & senior disini. Setiap meeting pagi selalu ada konflik dan saling menyalahkan satu sama lain.

    Update terakhir dari seseorang (temen baik saya) yang baru aja resign (karena alasan menikah & ikut dgn suami), dia jujur sama saya bahwa pimpinan diperusahaan sedang membangun CV sendiri dan pekerjaan selama ini yang saya kontribusikan utk perusahaan ternyata ga berarti apa2, karena sebagian dari petinggi2 & senior diperusahaann yang setiap hari datang ke kantor hanya utk memajukan CV pimpinan saya bukan utk kontribusi pada perusahaan. Miris bgt saya dengernya. 🙁

    Saya baru merencakan akan memberanikan diri utk resign awal tahun 2015 mba, utk pengganti ada anak baru yang sedang saya training 3 bulan ini. Krna kalo saya mau resign, saya perlu mempersiapkan orang pengganti diposisi saya (padahal klo menurut saya itu bukan tanggung jawab saya) ada Saya msh memikirkan alasan yang logis utk resign biar tetep ada hubungan baik antar saya, perusahaan dan karyawan lain.

    Minta saran dan masukkannya ya Mba. Kira2 alasan apa yang logis & ga menyinggung pimpinan saya. Mksh mba. 🙂

  21. @Rifa: been there, pernah ada di posisi yang hampir sama dengan kamu beberapa tahun yang lalu. Saya pernah bekerja di sebuah perusahaan keluarga yang bergerak di bidang garment. Agak ‘betah’ juga saya kerja di situ. Mmmh, lebih tepatnya dibetah-betahkan, karena saya waktu itu saya masih fresh graduate dan butuh pengalaman. Setelah 3 tahun saya jalani, akhirnya saya beranikan diri untuk keluar dari zona nyaman saya yang tidak nyaman itu, hihihik. Karena kalau semakin lama saya di sana, saya tidak akan berkembang. Alhamdulillah pilihan saya tidak salah. Setelah dipikirkan masak-masak lengkap dengan segala untung ruginya, setelah keluar dari sana saya mendapatkan pekerjaan-pekerjaan yang semakin baik (insyaallah). Ngelamarnya pas masih kerja di sana. Jadi nggak langsung keluar dari pekerjaan.

    Kadang kita cuma butuh keberanian untuk keluar dari zona nyaman, dan mulai lebih percaya diri bahwa di luar sana ada pekerjaan yang jauh lebih challenging, yang butuh kreatifitas kita, yang butuh kemaksimalan kemampuan kita, dll. Sometimes to think outside of the box we must be outside of the box 😀

  22. Saya lulus sma tahun 2004 begitu lulus langsung kerja di pabrik rokok,sekarang ini sudah 10 tahun saya bekerja dan masih staf biasa.sebenarnya 2 tahun lalu tahun 2012 saya dipromosikan oleh 2 atasan saya untuk menduduki jabatan kaunit.entah kenapa tiba2 distop oleh bos besar dan saya dipindah ke bagian lain dengan harapan agar bisa lebih berkembang dan maju,mendengar sk saya ditolak saya kecewa pada waktu itu.saat ini saya nyambi kerja dan kuliah.selang beberapa lama 3 perusahaan mengalami merger,dan 2 berdiri sendiri akhirnya sekarang ini saya ikut di salah satu anak perusahaan yang telah berdiri sendiri itu yang dipimpin oleh anak bos.bisa dibilang cukup besar perusahaan ini.akan tetapi saya sering konflik dengan anak bos dan juga selalu menuntut lebih dari saya.ingin rasanya saya resign saat ini karena sudah tidak nyaman dengan anak bos dan karir saya yang tidak berkembang.
    saya minta sarannya dari mba devi saya ingin resign tapi masih galau apakah ini emosi sesaat atau keputusan matang yg tepat.apakah karir saya masih bisa berkembang di sini atau sebaliknya karir saya mati di sini

  23. @Riko: resign itu butuh keberanian. Bukan cuma berani lantaran emosi doang, tapi dipikirkan juga masak-masak. Coba tanya ke diri Mas Riko sendiri, kerja itu selain cari uang, apa lagi sih yang Mas Riko harapkan? Atau udah nih, uang aja? :D. Pasti enggak, kan? Apalagi nanti kalau udah selesai kuliah, pasti kompetensi Mas Riko juga (semoga) makin bertambah seiring dengan bertambahnya ilmu yang didapat. Sepuluh tahun itu bukan waktu yang sebentar sih kalau untuk memutuskan pindah pekerjaan. Seperti yang saya tulis di postingan di atas (yang kebetulan pengalaman adik saya sendiri), kenyamanan dan perkembangan karir itu biasanya juga dicari oleh para pekerja seperti kita. Yang tahu seluk beluk perusahaan sekarang kan Mas Riko. Kalau memang 10 tahun ini sudah cukup memberikan ilmu dan pengalaman yang cukup untuk mengembangkan sayap ke pekerjaan lain yang jauh lebih berpotensi untuk pengembanagn karir ya ya nggak ada salahnya mencoba pengalaman di tempat lain. Itu kalau saya lho. Semoga membantu ya 🙂

  24. Mbak Dev, kata pertama yang harus kuucapkan adalah “KANGEN” (Big Hug for you). Jujur saja aku baru resign sekali, ya diperusahaan yang sama dulu kita belajar disana. Alasan resignku sebenarnya juga bukan masalah salary, tapi lebih ke alasan anak yang jauh disana (dititipin ortu) jadi harus ketemu seminggu sekali. Dengan alasan resign itu, aku juga berusaha malamar pekerjaan yang dekat dengan anakku. Dan Alkhamdulillah…niat pingin dekat ama keluarga malah dapat bonus berlipat-lipat, dapat kerjaan baru plus setahun kemudian diangkat pegawai tetap plus dapat bonus 2 anak lagi dalam 2 tahun (he2….) Subhanallah (skrg cm bisa bersyukur dan bersyukur, menikmati semua anugerah yang sudah diberikan). Dan yang pasti semua proses aku nikmati, termasuk juga diberi kesempatan mengenal sosok mbak “DEVI ERIANA” (Inspirative woman). Sukses terus ya mbak Dev….

  25. aq seorang pns, yg pertama kali penempatan sampai 14 tahun belum pernah dimutasi/dipindah, terkadang aku sangat boring dengan tempat kerjaku, pernah aku 3 kali menghadap ke kepala badan kepegawaian di daerahku sekedar untuk meminta untuk dipindah. tapi hasilnya zero…., sampai saat ini kujalani pekerjaanku dengan setengah-setengah dengan rasa malas yang begitu besar, haruskah aku seperti ini terus….., mbak dev..mahon sarannya….

  26. Mb, salam kenal. Sy sdh bkrja dit4 krj sy hmpir 4 thn, slm bkrja ini sy mrsa stagnan sj boleh dkta bkrja dpt gaji, krja dpt gji..bgtu terus. sedangkan setiap org psti mmliki keinginan untuk meningkatkan aktualisasi dirinya.
    Thn ini sy alhamdulillah akan mlnjutkan study (biaya mandiri) dislh stu kota diindonesia. Maslahnya adl, t4 krja sy hnya mmbrikn izin belajar artinya sy hrus kul smbil ttp mlkukn tugas sy dt4 krja. dan hal itu akn mnjdi sgat rumit, krn jrak t4 krja – kul jauh skli krn brbeda propinsi. belum lagi sy tiba2 disodorkan surat kontrak krja setelah sy mnyelsaikn prkuliahn nnti, sy bingug stau sy, sy tdk brkewjiban “mengabdi” pd t4 krja krn kul sy ats pembiayaan sy pribdi bukn t4 krja.
    Apa sy hrus resign mb? #galau . huff.. mohon sarannya mb.. trmksh.

  27. Mbak sangat inspiratif sekali.. sya udh hmpir 2 thn kerja diperusahaan konstruksi. saya jg mau resign dr kerjaan saya.. saya udh ajukan resign sampe 3x tapi atasan tdk menyetujui kmrn sya coba lagi hasil negoisasi yg panjang sya boleh dizinkan akhir tahun ini. Sekitar 5 bulan lagi… 😔 Menurut mbak gmn tuh? Kelamaan ga ya?? Alasan saya mau buka usaha. Tapi kata atasan mau sambil di training usaha sih ngomongnya. 😣. Bingung krna udh ga nyaman.

  28. Mbak, tulisan mbak sangat inspiratif sekali. Mbak, aku butuh solusi nih. Mohon dibantu yah yah hehe. Aku seorang fresh graduate teknik dan saat ini bekerja di bank bumn baru 1 tahun lebih. Tapi setelah udah nyemplung didalamnya eh ternyata apa yg diekspetasikan dan kenyataannya sangat jauh berbeda. Semakin hari semakin ga nyaman dan ga betah mbak. Saya udah ingin resign pas kontrak saya berakhir tahun 2016 nanti (krn terganjal pinalti hehehe) dgn alasan budaya perusahaan yg tidak bagus, beban pekerjaan yg ga sesuai gaji. Tp orang2 disekitar (seperti orangtua) malah menyayangkan dan meragukan mau bekerja dimana nanti setelah resign secara saya udah di bumn mbak yg kata org2 udah terjamin. Apalagi saat2 ini ekonomi kita lagi agak buruk. Padahal saya sudah meyakini orang2 disekitar mbak. Toh yg ngejalani hidup kita kan mbak. Aku mau kerja itu bahagia mbak. Gimana menurut mbak?

  29. Hai Mba, Salam kenal banget. Aku lagi memasuki masa yang sangat galau banget dikantor. Aku kerja di kantor pemerintahan yang lagi jadi impian semua orang banget. Juju aku pun ga nyangka waktu tahun 2012 keterima disini. Saat itu aku keterima sebagai seorang sekretaris untuk seorang pejabat di negeri ini. (Perempuan). Yang kalau kata si Ibu Bos waktu setiap marah sama saya “Saya ini selevel menteri ya mia”.
    2 tahun saya kerja dengan si Ibu dan akhirnya menyerah. Sebelumnya, sekretaris2 sebelum saya katanya sih belum ada yang mencapai tahan sampai 1 tahun dengan si Ibu Ini.
    Lalu saya mengajukan resign, tapi ga dikasih oleh seorang direktur yang mengepalai kesekretariatan dikantor saya ini. setelah ngobrol dengan Bapak Bapak Hati ini sekitar hampir 3 bulan, maka saya pun bisa pindah bagian. Saya Bahagiaaaaa sekali kerja dengan bapak ini. Karena si Bapak ini sangat membela anak buahnya.
    Setelah 6 bulan pindah bagian, si bapak baik hati ini di mutasi dan terjadilah pergantian direktur di direktorat saya. Sekitar hampir 2 tahunan saya dibagian ini. Saya pun semakin ga betah. Bosnya pada keliatan banget cari muka dan bermuka duanya. Pura2 baik, padahal ngomongin buruk dibelakang kita. bahkan saya pun sering mendengar kalau katanya saya ga ada kerjaan. Mau teriak dan nabok itu orang rasanya. Di SK pengangkatan saya sebagai pegawai tetap, saya keterima di Direktorat B, tapi saya ditahan oleh si pak bos dengan alasan “Kalau ga ada kamu, nanti siapa yang ngurusin, tunggu dong sampai transfer knowledge”. Dari februari 2015, hingga sekarang Oktober 2015, ko ga ada transfer knowledge, malah semakin menjadi-jadi kerjaan saya.

    Untuk gaji dan fasilitas sih kantor saya udah bagus banget, Kawan2 saya dikantor juga baik ko. Itulah yang membuat saya labil.

    Tapi jujur saya ga bahagia. Basic saya adalah sekretaris. Dan saya harus mengurus 9 pejabat negara yang seperti dewa pengusaha bumi dan langit yang mana adalah harus segera ga boleh engga. Keteteran?? banget. Karena saya siapin urusan semua, dari yang kecil sampai besar yang mana langsung menyangkut ke anggaran uang negara dan itu aselik ribet banget.

    kalau mau jujur2an ya nilai itung2an saya jaman sekolah itu jelek banget. dan itung2an yang saya pegang sekarang adalah termasuk pajak2nya sedangkan saya saja ga pernah sekolah pajak. saya juga ga pernah tuh di ikutsertakan dalam pelatihan kantor. dengan alasan “kalau kamu ga ada, nanti siapa yang mengerjakan kalau ada yang dadakan.”

    Sekian curhat saya, terima kasih

  30. Saya mau resign karna udah bener2 ga betah sama ambiencenya, saya belum mengajukan resign tapi saya mau langsung kabur aja, tapi saya takut dikejar , klo ajuin resign harus sebulan :(, gimana dong

  31. @mbak dwi pratiwi..

    Setuju mbak.. kabor aja udah..

    Kalo udah bosen en benci,, kenapa tidak kabor ajahh… Hehehe.. maap, hanya emosi sesaat…

    Yg jelas.. Alhamdulillah.. saya masih mensyukuri nikmatNya.. dan masih bertahan sampai 5 tahun kerja dan merupakan tempat kerjaku yg pertama dari lulus kuliah…

    Mungkin ada keinginan untuk pindah, tapi sampai saya pikir dan pertimbangan ulang2.. saya belum memutuskan untuk resign…karena memang butuh pemikiran dengan resiko resign yg malah jadi negatif nantinya… walupun … karir masih sama saja sampai saat ini.

    Denger2 dari temen sekuliahan seneng rasanya, mereka bisa dapat gaji 2x dari saya..tapi katanya ada pepatah, rambut di kepala temen lebih hitam,, ya akhirnya saya liatin aja rambut mereka.. Alhamdulillah, rambut saya masih menutupi kepala dengan sempurna.. hehehe…

    By: asanoer.com

  32. Terima kasih tulisannya menginspirasi saya.. saat ini saya sedang galau. Karna teman kerja saya ada yang akan pindah. Saya bekerja di sebuah perusahaan yang mengedepankan konsep kerja team. Dan teman yang akan resign itu teman satu team dengan saya.. saya sedih karna akan berpisah dengannya. Sepertinya saya hanya butuh Dan penyesuaian saja..

  33. mau sharing dan minta pendapat teman teman, saya sudah berganti empat perusahaan dan perusahaan yang terakhir ini adalah perusahaan jepang dan saya sangat sedih bgt karna tekanan yang tinggi dan lingkungan kerja yang tidak kekeluargaan. saya baru empat bulan kerja disini dan memang secara gaji dan fasilitas lebih dari cukup tapi kebahagian dan waktu untuk keluarga sangatlah sedikit. pengen rasanya keluar dari kerjaan dan mulai darii bawah lagi tapi jika memikirkan tagihan dan anak rasanya ga tega. biarlah saya menderita di bully dan direndahkan di kantor asal keluarga bahagia. sedih bgt rasanya. mohon masukan dari rekan rekan

  34. Keren pembahasan blognya mbak hehehe..

    Wah jadi pengen curhat juga hahahaa..
    Saya seorang pns, sudah 5 tahun jd pegawai, saya mulai bekerja pada usia 22 tahun. Pas kuliah dulu mikirnya akan bekerja di bidang yg sesuai dengan jurusan saya, tapi nyatanya hahaa..

    Saya juga memikirkan untuk resign dri pns, dengan alasan bidang kerja saat ini kurang saya sukai. Lingkungan kerja saat ini oke2 aja, gaji dan tunjangan juga gede hehee..status saya saat ini masih single, cicilan bank juga gak ada 😀

    Saya pernah mencoba peruntungan di salah satu perusahaan minyak, tapi cuma nyampe wawancara, hiks.. *luka lama

    Saya juga berniat untuk melanjutkan pendidikan. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan tempat kerja saat ini, kesempatan melanjutkan pendidikan dengan beasiswa bahkan ke luar negeri juga terbuka lebar. Tapi saya pribadi lebih berminat untuk mendapatkan beasiswa dari lembaga non pemerintahan.

    Rencana resign sudah saya sampaikan ke keluarga. Sebagian tanggapan mengatakan terserah kepada saya. Sebagian lain mnyatakan kalau sekarang nyari kerjaan sulit. Kalo udh dapet pengganti baru bisa resign.

    Saya juga mendengar cerita beberapa teman kantor gimana rasanya sebelum jd pns, ada yg merasakan menjadi honorer, ada juga yg mantan pegawai bank tetapi kontrak. Akhirnya memutuskan jadi pns.

    Jujur saya bingung, tapi saya juga bosan bekerja disini. Kadang saya mikir, apa saya kurang bersyukur..

  35. Pertama, menurut saya orang resign itu orang yg kurang bersyukur, itu yg paling penting.
    Kedua, orang yg resign itu tidak mengenal siapa dan apa potensi dirinya.
    Dan ketiga, orang resign itu orang yg tidak loyal.
    Dari poin di atas saya bisa mengasumsikan bahwa perusahaan yg memerlukan fresh graduate biasanya cenderung memberi jabatan yg strategis bagi mereka, karena masih memiliki idealisme. Contoh jalur karir di BUMN, posisi saat ini dihuni oleh kaum yg dulunya fresh graduate, dan bukan kutu loncat.
    Serupa juga dengan BUMN, PNS kementerian pusat/lembaga negara yg bonafide lebih membutuhkan SDM yg memiliki integritas mumpuni, sehingga pemerintah pusat benar2 menghargai mereka dengan tunjangan yg lebih besar dari BUMN agar mereka tidak menjadi kutu loncat, sebab sekali seseorang masuk menjadi PNS maka ia akan mengetahui rahasia publik dan rawan membocorkan kepada pihak yg berkepentingan, disinilah letak integritas itu.
    Lanjut ke swasta, bagi karyawan swasta bekerja berarti kerja keras, kontrak ataupun tetap karyawan selalu dituntut bekerja keras karena itulah faktor utama performance sebuah perusahaan swasta, semua karyawan dituntut memberikan yg terbaik, persaingan menjadi tidak sehat antar karyawan, namun disinilah mentalitas yg sebenarnya diuji, bagi yg tidak bersifat kutu loncat maka perusahaan akan dan pasti memberikan kompensasi yg luar biasa, namun bagi yg lemah mental pasti akan menyerah.
    Sifat manusia selalu melihat rumput tetangga lebih hijau, pada kenyataannya kita jua lah yg menjalani, apa yg dirasa baik bagi kita tiada yg tahu selain Tuhan dan diri sendiri. Namun sebenarnya bukan itu tujuan hidup, tujuan seseorang hidup adalah beribadah kepada Tuhan dan bermanfaat bagi sesama manusia, dan kaitan dengan pekerjaan adalah dimana kita mampu memberikan nilai positif bagi tempat kita kerja, berusaha memperbaiki keadaan, dan beradaptasi. Bukan jawaban untuk resign dan mencari pekerjaan yg more than before.
    NB: Saran di atas untuk para lelaki. Untuk wanita yg berumah tangga, amat disarankan menjadi ibu rumah tangga adalah prioritas utama.

  36. Mba/mas Eren.
    Yg pertama , Tidak semua orang yang resign itu tidak bersyukur, banyak alasan orang memutuskan untuk resign coba baca semua artikelnya. Seperti mba Anna yg resign karena harus ketemu dengan anaknya.
    Kedua banyak juga yg berpotensi dan mengenal dirinya kalo tidak dihargai untuk apa? kalo ditempat lain dia lebih dihargai.
    ketiga, banyak juga orang yg bertahun2 kerja dan sudah sangat loyal tapi tidak di apresiasi.
    Bekerja juga bagian dari ibadah bertebaran dimuka bumi untuk nafkah keluarga dan anak.
    bagaimana jika tempat kita bekerja ternyata susah untuk beribadah ada juga loh…
    Jadi jangan dianggap bahwa orang yg resign itu kurang bersyukur.

  37. nimbrung boleh? aku fresh graduated,,kerja di pt, bidang realestate/// pt ini baru merintis buangeet… saya kerja sudah 10 bulan..kontrak 1 tahun… dan selama 8 bulan itu sudah 2 bulan ini saya gak aa kerjaan,,temen kerja g ada,,, tunjangan kesehatan pun tidak ada,, yang paling mengganggu sya adalah,,setiap hari gak ada yang bisa saya kerjakan,,tpi gaji tetep mengalir,tekanan batin,,, mau resign tp jujur takut nganggur lama kek dulu lagi stress dan masih trauma dengan sulitnya mencari pekerjaan sekarang,,, ini aku udah buat surat resign ? tp mikir,,nunggu kontrak habis atau resign sekarang? gak enak sama bos,,gak ada kerjaan tp digaji,,, ditambah berasa gak bakal bisa maju disini,,,

  38. Aq pengin banget resign Dan istirahat kurleb 1 mingguan, tp gak dibolehin ma ibu.
    Ibu malu kali ya punya anak perawan nganggur di rumah.
    Akhirnya sambil nglamar sana sini dibetahi betahin kerja di t4 lama…daripada nganggur ibu aq senewen…kesiksa juga sich, tp Mau piye maneh ???

  39. Tidak semua orang ingin resign kerja krn masalah ketidakpuasaan atau tidak bersyukur. Ada orang yg resign krn ingin lebih dekat dengan keluarga,atau ingin fokus mendidik anak…

  40. selamat malam mbak..
    saya mau saran donk..
    begini..
    saya bekerja di bank posisi sekretaris baru 2 hari tapi saya tidak nyaman..
    disisi lain, saya tinggal menunggu panggilan dari perusahaan swasta lain dan sudah pasti utk bekerja dan selama training, saya nyaman bget ..
    saya bingung mau gimana, tinggalin di bank skrg sebelum ttd kontrak dan menunggu panggilan kerja ditempat lain atau saya
    tahan2kan saja disini meskipun tdak nyaman?
    mohon bantuan sarannya
    pliss
    saya buntu

  41. Saya Bantu jawab:
    Lakukan yang menurut anda nyaman dan tenteram, kenyamanan setiap orang berbeda-beda

    Saya sudah resign dari pekerjaan yang cukup membesarkan nama saya selama 5 tahun, dan 2 tahun yang lalu saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan dan keluar dari zona nyaman karena saya memiliki impian yang begitu besar untuk memiliki usaha sendiri. Setelah saya resign, saya berdagang dengan rela membuang status karir saya yang sebelumnya dikenal sebagai karyawan dengan level manager. Saya merelakan diri untuk berpanas-panasan, berjualan, tidak berpakaian layaknya eksekutif. Alhamdulillah setelah 2 tahun saya fokus berdagang, bisnis saya semakin lancar…

    Sekedar cerita sedikit dari saya 😀

  42. Saya Sudah berkerja disini baru 1 tahunan,
    Saya berkerja di perusahaan keluarga,
    Saya sebahagia resepsionis,
    Di perusahaan tempat saya berkerja ada 3 cabang, kita bergerak di bidang jasa,
    Saya di tempatkan di tempat Yang paling ramai, dengan banyak customer Dan karyawan. Sementara itu karyawan sangat2 rewel2 Dan bawel2 membuat saya tidaklah nyaman, saya Sudah satu bulan ini kerja 12 jam Tanpa di hitung jam lembur, sementara di cabang Yang lain, resepsionis hanya berkerja 6 jam Saja, Dan customer nya sedikit. Sementara gaji Kami Sama, ini sangat2 tidak Adil, saya ingin Minta mutasi tapi gal itu tidaklah mudah, Karna meningat bos saya Yang ribet orangnya. Mohon solusinya, dengan Alasan apa saya bisa pindah ke cabang Yang lain, Tanpa menyinggung perasaan orang lain Dan bos saya bisa mengerti. Terimakasih

  43. Mba dev, aku lagi galau bgt.. aku mau resign, karena berbagai alasan yg sama, tapi disini aku posisinya sangat dibutuhkan atasan2an saya. Aku udah ngajuin resign, ternyata bos saya lagi promosiin saya jadi asisten manager, yg nantinya membawahi rekan2 saya, tapi kenapa saya tidak senang, malahan saya khawatir, saya belum merasa cukup pengalaman saya, dan alesan saya resign salah satunya karena punya partner yg aneh, baperan, ngambekan, protes mulu, suka nyirnyir.. kalo saya jadi atasan mereka, mungkin tidak akan ada rasa segan sama saya, saya malah pikir wah bisa2 saya tambah stress, selain tanggung jawab saya bertambah.. gaji pasti naik tapi saya gak jamin naik gede, apakah saya ambil tawaran atau resign lebih baiknya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *