Tentang Oleh-Oleh

Disclaimer: postingan ini mengandung sensitivitas tingkat RT, RW, kelurahan, dan kecamatan, Kak…

—–

 

“Kamu habis cuti, ya? Oleh-olehnya mana?”

Pasti pernah dapat pertanyaan seperti itu, kan? Entah di kondisi setelah kita cuti, atau perjalanan dinas. Sering heran sendiri, padahal kita mengambil cuti tahunan kan tidak selalu untuk tujuan pulang kampung, berlibur, atau jalan-jalan, ya? Ada kalanya kita mengambil cuti untuk mengurus hal lain yang tidak bisa ditunda, dan kebetulan di hari kerja. 

Kalau waktunya panjang, tenaganya ada, uang saku cukup pasti akan disempatkan untuk jalan-jalan sekalian beli oleh-oleh. Tapi kalau agendanya padat, waktunya sempit, dan tenaganya keburu habis karena sudah beraktivitas seharian ya harap dimaklumi kalau tidak sempat bawa oleh-oleh. Sering kali di sela perjalanan dinas itu justru kita sendiri yang mencuri waktu untuk bisa jalan, sekadar untuk beli oleh-oleh keluarga dan teman kantor; dan umumnya dari anggaran pribadi. Ya iyalah, mana ada beli oleh-oleh dibiayai kantor? [-(

Cuma sebelnya kalau yang dikasih oleh-oleh ternyata masih komentar ini itu kalau kebetulan yang pergi ‘cuma’ memberi oleh-oleh gantungan kunci, “jiah, cuma gantungan kunci?”. Well, memang sih pernah ada yang bilang sih gantungan kunci itu oleh-oleh paling desperate, tapi bukan berarti nggak boleh kasih oleh-oleh gantungan kunci, kan? Atau seperti kejadian kemarin; ketika ada yang baru pulang dari negara lain dan memberi oleh-oleh sumpit lucu warna-warni dengan motif suatu negara, ada saja celetukan, “yah, kalau cuma sumpit mah di abang-abang yang jualan mie tek-tek juga ada, kali…”. Duh, jadi pengen ngelus dada… nya abang-abang penjual mie tek-tek nggak sih, Kak? ūüėź

Saya kebetulan bukan orang yang ‘oleh-oleh minded‘ ; yang setiap ada teman/keluarga yang bepergian ke dalam/luar negeri selalu minta oleh-oleh. Sama seperti ketika seorang teman yang akan dinas ke Bali untuk mempersiapkan event Pertemuan Panel Tingkat Tinggi Agenda¬† Pembangunan Pasca 2015 di Bali kemarin bertanya, saya pengen dibeliin oleh-oleh apa sepulang dia dari Bali. Saya cuma jawab, “terima kasih banyak, oleh-olehnya terserah kamu aja, sesempatnya dan senemunya kamu beli, pasti aku terima kok… :D”.

Sebenarnya bukan mau sok nggak mau dikasih oleh-oleh ya; namanya dikasih ya pasti maulah ya. Tapi saya paham namanya perjalanan dinas dan kebetulan mengurus event tingkat internasional seperti itu pasti ribet. Jangankan sempat untuk jalan-jalan, tidur pun cuma sempat beberapa jam saja, dan pagi-pagi buta sudah harus ke venue untuk mengurus acara.

Buat saya yang namanya oleh-oleh atau buah tangan itu terserah yang memberi, karena saya paham tidak semua orang menyediakan budget khusus untuk membeli oleh-oleh, tidak semua orang sempat membeli oleh-oleh, dan tidak semua berkenan dititipi ini itu sebagai bentuk oleh-oleh.

Saya sendiri sebenarnya tipikal orang yang suka nggak tegaan sama orang lain; kalau kebetulan saya pergi ke luar kota saya sempatkan untuk membeli oleh-oleh; walaupun tidak banyak tapi ada yang dibawa sebagai buah tangan; dengan catatan kalau waktu, tenaga, dan budgetnya ada, ya. Jadi membeli oleh-oleh memang tidak saya paksakan atau menjadi hal yang harus dan wajib. Beberapa kali saya terpaksa¬†skip membeli oleh-oleh (terutama untuk teman kantor) karena situasi dan kondisi tertentu. Walau setelahnya saya harus siap menebalkan telinga mendengar pertanyaan, “oleh-olehnya mana? Masa habis mudik nggak bawa oleh-oleh?” Ya sudahlah, biar saja, toh mereka kalau habis cuti atau pergi ke mana-mana juga belum tentu bawa oleh-oleh, kok. Kenapa saya harus bawa oleh-oleh? [-(

Sama seperti kejadian ketika saya terpaksa cuti mendadak hari Jumat kemarin karena Mama saya datang ke Jakarta. Berhubung tidak ada keluarga yang bisa menjemput di bandara, akhirnya sayalah yang harus menjemput beliau ke sana. Kebetulan Mama datang ke Jakarta karena ingin membantu adik saya pindah rumah. Ya, namanya ibu, sering nggak tega kalau mendengar ada anaknya yang lagi repot ini itu, maunya membantu, maunya datang langsung, dsb.

Dan anyway, pagi ini, saya kembali mengantor seperti biasa. Sambil meneliti berkas yang akan maju ke pimpinan, tiba-tiba saya dihampiri oleh salah satu teman.

Teman: “hai, Kak… kok kamu baru keliatan? Jumat kemarin kamu ke mana?”

Saya: “oh, aku cuti, Mbak…”

Teman: “oh, pulang kampung, ya? kok diem-diem aja sih, oleh-olehnya mana nih?” *celingukan ke arah meja*

Saya: “aku bukan mudik, Mbak. Mama aku dateng ke sini, berhubung nggak ada yang bisa jemput makanya aku ambil cuti…”

Teman: “oh, gitu… Tapi Mama kamu bawa oleh-oleh, kan?”

Sampai di sini saya langsung speechless, Kak. Baiklah, anggap saja saya yang lagi sensi deh, ya. Tapi memangnya ada ya teori yang bilang kalau selesai cuti harus bawa oleh-oleh; atau, ketika ada orang  tua yang datang mengunjungi anaknya harus bawa oleh-oleh untuk teman-teman anaknya? Untuk  kami-kami saja beliau tidak sempat bawa apa-apa selain kompor gas dan gordyn untuk dipasang di rumah baru Si Adik. Itu pun sudah berat banget, apalagi beliau datang sendirian; boro-boro bawa oleh-oleh.

Masih di hari yang sama, kebetulan salah satu teman juga cuti di hari Jumat kemarin. Begitu datang langsung disambut dengan pertanyaan oleh teman yang lain, “Jiyee… yang baru cuti ke Bandung… oleh-olehnya mana, nih?” Langsung dijawab oleh si teman dengan jawaban yang saya yakin ‘makjleb’ buat teman yang bertanya. “Bu, aku ke Bandung itu buat melayat, ada kerabat aku yang meninggal; bukan liburan… :(“. Sontak ekspresi wajah teman yang nanya tadi berubah (sok) sedih. Tuh! Makanya jangan suka berasumsi orang yang lagi cuti itu pasti pergi berlibur… ~X(

Terkadang pertanyaan, “oleh-olehnya mana?” itu punya dua arti; serius, dan basa-basi. Tapi mau serius atau basa-basi tetap bikin keder. Ya syukur-syukur sih kalau ‘cuma basa-basi’, tapi kalau ternyata ditagih beneran? Kedernya lagi kalau ternyata sudah dioleh-olehin, tapi masih dikomentarin,

“Jiah pergi jauh-jauh oleh-olehnya cuma begini doang?”

Yaelah Kak, ‘cuma begini doang’ juga dibelinya pakai uang kali; bukan pakai menyan! #-o

Doh! #-o

 

 

 

Continue Reading