Bahagia Itu Sederhana

Tadi pagi, di kantor kedatangan teman yang sekarang sudah pindah tugas ke Malang. Kebetulan dia sedang tugas di Jakarta dan disempatkanlah untuk mampir. Ada banyak kisah yang dia ceritakan selama kurang lebih 2 jam (sejak saya datang pukul 07.00 sampai dengan pukul 09.00), ya pekerjaan, ya keluarga, ya lingkungan sekitarnya. Jadi selama 2 jam itu khusus buat dengerin dia cerita. Untungnya belum ada kerjaan yang turun atau perlu dinaikkan ke atasan ;))

Ada banyak perubahan drastis yang terjadi dengan si teman ini sejak menikah dan tinggal di Malang, mulai dari penampilan sampai dengan gaya hidup. Yang dulunya “apa sih yang nggak bisa kubeli?”, sekarang kalau mau beli apa-apa mikir dulu, bahkan sekarang pakai nawar. Kalau dulu nelepon bisa lama-lama, sekarang, “eh, udah dulu yak, pulsa gue mau abis nih…” Yang dulunya kalau handphone rusak tinggal beli lagi yang baru dan yang rusak nanti setelah diperbaiki tinggal dijual, sekarang mikir seribu kali mau beli gadget baru. Tas dan sepatu dengan brand apa sih yang nggak bisa dibeli? Sekarang, tasnya ya itu-itu melulu, dan hei… dia sekarang udah mau lho pakai sepatu yang harganya 80-100 ribuan. Intinya dia sudah berubah banget, lebih sederhana >:D<

Secara materi dia sangat jauh berkecukupan, semua perubahan yang terjadi sekarang karena semata-mata karena dia ingin menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal dan kantornya. Saya justru melihat semua perubahan ini sebagai hal yang positif  karena semua perubahan itu berasal dari keinginannya sendiri, bukan atas permintaan suami atau orang lain. Dan yang lebih penting adalah, dia terlihat jauh lebih bahagia, lebih tenang, lebih menikmati kehidupan dan perannya sekarang 🙂

Kebetulan di hari yang sama kok ndilalah saya juga sempat ngobrol dengan sahabat yang berbeda tapi dengan topik yang hampir sama. Benarkah kebahagiaan seseorang itu bisa diukur hanya dari materi? Topik yang sedikit berat kalau dibahas pagi-pagi, ya? Tapi toh tetap kami bahas juga.

Teman: “Aku ngerasa high society di Indonesa tuh emang rada aneh. Kalau di Jepang, high society itu sibuk dengan donasi, menjadi volunteer, atau ikut philantropic group. Well, they are rich, tapi nggak norak. Di TV juga nggak ada tuh yang namanya acara yang membahas top to toe fashion kaya disini. Kadang pengen tahu juga, gimana sih rasanya pakai semua barang branded, top to toe gitu. Berasa kaya manekin nggak, sih? Suka iseng sinis juga, emang harus dipakai semua ya, biar orang tahu itu mahal dan asli, gitu? Emang kalo nggak dipake takut dibilang KW? ;))

Saya: “hahaha, nggak kaya gitu juga kali. Tapi setahu aku memang di sini ada kaum-kaum yang bukan artis tapi gaya hidupnya memang mewah. Biasa disebut kaum “socialite”. Barang yang dipakai hampir semuanya high end. Kesibukannya selain berkegiatan sosial juga hadir di acara peresmian ini, gathering itu, arisan ini, seminar itu, dan beberapa kegiatan sejenislah… :D”

Ngomong-ngomong tentang barang bermerk dan mahal, pernah suatu ketika saya ngobrol dengan seseorang. Dia dan isterinya memang hobby beli barang-barang branded. Alasannya bukan untuk pamer, tapi justru untuk menghemat. Untuk beberapa alasan tertentu, dia bilang kalau umumnya, barang branded itu berkualitas dan lebih awet. Itulah alasan dia tidak pernah melarang isterinya membeli barang bermerk karena dia memperhatikan dari sisi kualitas dan daya tahannya. Daripada beli barang yang kualitas dan harganya dibawah itu tapi mudah rusak dan nantinya harus beli-beli lagi.

Sependek yang saya pahami, ada barang-barang yang memang sengaja dibuat untuk memenuhi kebutuhan dan fungsi tertentu. Pertama, biasanya barang-barang high end memang terbuat dari material berkualitas tinggi dengan proses pembuatan yang rumit, jadi tak heran kalau akhirnya barang-barang tersebut dapat bertahan hingga puluhan tahun tanpa berubah bentuk. Kedua, barang tersebut memang sengaja dicitrakan sebagai barang mewah, jadi dengan menggunakan barang tersebut secara otomatis akan menaikkan status sosial atau gengsi penggunanya. Jadi yang dijual selain dalam fisik barang juga psikologis (calon) pembeli 😀

Teman: “Aku boleh tanya, nggak? Pernah nggak sih kamu punya mimpi jadi salah satu mereka? Jadi mereka itu enak lho. Kamu bisa jalan-jalan kemana aja, bisa pake baju dan aksesoris mahal yang selama ini cuma bisa kamu lihat di halaman majalah fashion, mau kemana-mana tinggal dianter driver, mau beli apa-apa tinggal gesek. Kamu pasti senenglah, kan apa-apa serba keturutan :p”

Saya: “Mimpi jadi kaya mereka, bener-bener sosialita, gitu? Hmm, jujur belum pernah. Tapi kalau iseng-iseng berkhayal jadi orang superkaya sih pernah ;)) Eh, tapi emang kalau jadi orang superkaya itu menjamin kita pasti akan bahagia nggak sih?”

Nah, dari sini topik bahasan kami pun lama-lama makin berkembang. Dari urusan brand, berlanjut ke mimpi, dan lalu kebahagiaan yang hakiki. Beuh, beraaat… ;))

Memang, nggak ada orang yang bercita-cita jadi orang miskin. Semua pasti pengen punya kehidupan yang baik, layak, tercukupi seluruh kebutuhan hidupnya. Tanpa disadari sekarang pun manusia berlomba-lomba mengejar ke arah sana, but is it really promise you a complete happiness? Is it your true happiness?

Teman: “Eh, kalo nggak salah Prince Edward, kakaknya Ratu Elizabeth, menolak menjadi raja karena ingin menikah dengan orang biasa. Hei, ternyata ada ya yang nggak mau jadi raja, dan pengen cuma jadi rakyat biasa aja. Apa mungkin karena dia merasa kebahagiaan sejatinya adalah dengan menikmati kehidupan sebagai rakyat biasa, bukan menjadi raja, ya?”

Ada kalanya kebahagiaan manusia itu bukan melulu datang dari materi yang berlimpah ruah atau jabatan yang tinggi. Terkadang kebahagiaan hakiki itu justru lahir dari hal-hal kecil yang sederhana, bukan dari hal-hal yang sophisticated. Nah, terus apa sih sebenarnya inti tulisan panjang saya kali ini? ;))

Jadi teringat dengan salah satu scene My Best Friend’s Wedding:

A: “Okay, you’re Michael, you’re in a fancy French restaurant, you order… Creme Brulee for dessert, it’s beautiful, it’s sweet, it’s irritatingly perfect. Suddenly, Michael realises he doesn’t want Creme Brulee, he wants something else…”

B: “What does he want?”

A: “Jell-O”

B: “Jell-O?! Why does he want Jell-O? :-o”

A: “Because he’s comfortable with Jell-O! Jell-O makes him… comfortable. I realise, compared to Creme Brulee it’s… Jell-O, but maybe that’s what he needs!”

Mungkin kebahagiaan itu justru lahir ketika kita bisa makan nasi goreng kampung pinggir jalan bersama teman/keluarga, bukan steak dan makanan mahal di restaurant yang eksklusif. Mungkin kebahagiaan itu justru hadir ketika kita masih diberikan kesehatan dan umur panjang sehingga kita masih berkesempatan berkumpul dengan orang-orang tercinta. Bahagia itu mungkin ketika Anda pulang ke rumah disambut dengan tawa dan pelukan hangat sang buah hati. Atau mungkin ketika bisa kembali ke rumah dalam kondisi jalanan yang lancar dan tidak terjebak macet? 😉

Bahagia itu (sebenarnya bisa lahir dari hal-hal yang) sederhana, dan tiap orang bisa saja berbeda versi 😉

Apa sih bahagia menurutmu?

 

foto posterous saya

Continue Reading